28.7 C
Bogor
Sunday, May 3, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 650

Korban Mutilasi Dibuang Dalam Koper Merah di Tenjo

0

Berjenis Kelamin Laki-laki, Tanpa Kepala dan Kaki

Tenjo | Jurnal Bogor 

Warga RT 02 RW 02, Desa Singabangsa, Tenjo, Kabupaten Bogor digegerkan oleh koper merah berisi mayat korban mutilasi yang ditemukan di pinggir jalan. Ketua RW 02 Dendi mengatakan, koper merah berisi mayat mutilasi tersebut dilaporkan oleh warga yang sedang melintas sekira pukul 05.00 WIB, Rabu (15/3/2023).

“Kronologinya ada warga ada yang ngeliat koper, entah isinya apa, katanya dibuka ditemukan mayat dimutilasi, akhirnya dia kaget lapor pada pihak RT dan RW,” ungkapnya.

Mendapatkan laporan tersebut, kata Dandi, ia pun langsung menuju ke lokasi penemuan mayat dalam koper tersebut. “Saya kesini jam setengah 8, ternyata udah ramai. Kita pun sudah lapor ke polisi,” singkatnya.

Sementara Kapolsek Tenjo, Iptu FX Suyadi membenarkan penemuan mayat dalam koper tersebut. Saat ini, kata dia, pihak kepolisian tengah mengidentifikasi mayat tersebut dari tim Inafis (Indonesia Authomatic Fingerprint Identification System) dari Polres Bogor.

“(Hasil) Kita tunggu tim Inafis dulu, sementara kita pasang police line sambil mengamakan TKP,” terangnya. 

Polisi langsung melakukan identifikasi dan evakuasi penemuan mayat tersebut untuk diselidiki. Mayat dalam koper merah itu berjenis kelamin laki-laki tanpa kepala dan kaki serta ada beberapa luka di bagian tubuhnya.

Sementara itu Aktivis Sosial Kabupaten Bogor, Aceng Miftahulumudin mendorong pihak kepolisian untuk segera mengungkap kasus tersebut. “Pihak kepolisian harus gercep dalam kasus ini agar ini tidak abu-abu dan pelakunya harus segera ditangkap,” tandasnya.

** Andres

Polsek Nanggung Edukasi Pelajar SMAN 1 Nanggung Cegah Pelanggaran Hukum

0

Nanggung | Jurnal Bogor 

Dunia pendidikan di Kabupaten Bogor saat ini tercoreng kasus pembacokan terhadap pelajar. Beberapa pekan terakhir ini ada tiga kasus pelajar jadi korban pembacokan oleh pelaku yang tercatat sebagai pelajar.

Atas kejadian kontradiktif itu, pihak kepolisian dari Polsek Nanggung, Polres Bogor mendatangi Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Nanggung untuk melakukan penyuluhan hukum terhadap pelajar.

Kegiatan penyuluhan hukum yang berlangsung di ruangan kelas itu turut dihadiri Wakil Kepala Sekolah Drs.Agus Nurohman, staf guru Solihin S.Pd, Bhabinkamtibmas Desa Nanggung Bripka Tantan Gerhana dan ratusan pelajar SMAN 1 Nanggung.

Kanit Binmas Polsek Nanggung Aiptu Muslim mengatakan, para pelajar harus paham hukum yang mencelakai sesama pelajar.  

“Hindari tindakan kekerasan terhadap sesama pelajar dalam bentuk tawuran antarpelajar,” katanya. 

Jadi kata dia, pelajar juga harus menghindari provokasi sesama pelajar di media sosial (medsos). “Hindari provokasi dari IG maupun FB,” paparnya.

Dia mengajak, para pelajar untuk tidak terlibat kenakalan remaja dan pelanggaran hukum yang dapat merusak masa depan.

“Selesai jam pelajaran, siswa siswi diharapkan langsung pulang ke rumah dan tidak nongkrong di warung-warung pinggir jalan. Gunakan waktu luang dengan hal-hal yang positif dan jauhi narkoba,” ucapnya.

Selain itu, pihak sekolah diharapkan agar  terlibat dalam pergerakan anak-anak sekolahnya untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

“Kepada para guru pembina, pendidik dan pengajar juga Satgas Pelajar SMA Negeri 1 Nanggung juga di mohon untuk selalu melakukan monitoring di jalanan umum,” pungkasnya. 

** Andres 

Lagi, BPD se-Kabupaten Badung Bali Kunjungi Desa Gunung Putri

0

 Gunung Putri | Jurnal Bogor 

Pemerintah Desa (Pemdes) Gunung Putri, Gunung Putri, Kabupaten Bogor, kembali mendapat kunjungan dari Badan Permusyawratan Desa (BPD) se-Kabupaten Badung, Provinsi Bali, Rabu (13/03/23).

Kepala Desa Gunung Putri Daman Huri mengatakan, sebanyak 336 BPD se-Kabupaten Badung ini hadir ke Desa Gunung Putri dalam rangka orientasi lapangan.

“Kami kedatangan BPD Kabupaten Badung, sebanyak 336 anggota dalam rangka orientasi lapangan mereka sudah berkunjung ke RW 11, RW 4 dan RW 5,” katanya kepada Jurnal Bogor.

Target sasarannya, lanjut A Heri sapaan akrabnya, adalah tentang pengolahan sampah organik maupun anorganik dan desa digital, termasuk ketahanan pangan.

“Tujuan mereka kesini adalah mempelajari tentang pengolahan sampah dan ketahanan pangan, juga tentang desa digital. Saya ajak mereka ke 3 titik dan mereka sangat antusias terutama mereka melihat program-program inovasi Desa Gunung Putri yang disebut oleh mereka sangat luar biasa,” ungkapnya.

A Heri mengaku bangga karena para tamu yang berkunjung terlihat cukup antusias mendengar paparan setiap program yang ada di Desa Gunung Putri.

“Mereka semua tampak gembira dan senang mendengar pemaparan di lapangan untuk melihat program-program selanjutnya di Desa Gunung Putri, saya rasa ini sangat fenomenal dengan kedatangan tamu sebanyak ini sekelas desa dikunjungi oleh tamu se-Kabupaten Badung,” paparnya.

Senada Ketua BPD Desa Gunung Putri, Jaenudin mengaku heran dengan antusiasme para tamu yang notabene sudah berhasil di bidang wisata. Namun, kesan berbeda setelah mereka melihat program yang dimiliki Gunung Putri.

“Kalo bicara BPD, saya merasa tamu ini lebih senior dari kita, akan tetapi kita lebih percaya diri dengan melihat Bali yang identik dengan wisata bersih dan segalanya tapi ternyata mereka malah mau belajar ke Desa Gunung Putri. Dimata mereka Desa Gunung Putri ternyata lebih wah, akhirnya terbalik pola pikir saya,” katanya.

Di satu sisi, lanjut Jaenudin, mereka melihat Desa Gunung Putri dari media dan ditutup dengan tahun yang manis mendapat berbagai macam penghargaan.

“Mungkin mereka melihat dari media, di tutup tahun yang manis mendapat penghargaan pemimpin inspiratif dari bupati, sehingga dilihat masyarakat luas diluar sampai nasional,” pungkasnya.

** Nay Nur’ain

Antisipasi Tawuran Pelajar, SMK Pelita Helat Jalan Sehat Diikuti Ribuan Siswa SMP

0

Dramaga l Jurnal Bogor 

Belakangan ini aksi tawuran pelajar kerap terjadi di Bogor, bahkan hingga menelan korban jiwa. Prilaku negatif pelajar ini telah meresahkan masyarakat dan mengundang keprihatinan dari berbagai sekolah.

Kini, untuk mengantisipasi kejadian tawuran tersebut, SMK Pelita Ciampea menggelar jalan sehat yang diikuti puluhan sekolah SMP di Bogor Barat.

Kepala Sekolah SMK Pelita, Riris Chairunnisa mengungkapkan dirinya sangat prihatin akan adanya tawuran pelajaran hingga merenggut jiwa. 

Menurutnya, persoalan tersebut menjadi tugas bersama pihak orang tua dan tenaga pendidikan di sekolah.  Untuk itu perlu ada langkah kongkrit di sekolah agar tidak terjadi tawuran pelajaran, salah satunya  dengan  menggelar expo pendidikan yakni turnamen futsal, pameran karya anak dan puncaknya kegiatannya jalan sehat yang diikuti 27 sekolah SMP.

“Dengan jalan sehat, jiwa siswa sehat dan bisa terbangunnya  tali silaturahmi antar siswa. Intinya, saluran kreativitas anak bisa tersalurkan yakni lewat kegiatan yang positif sehingga tidak ada waktu untuk tawuran dan hal yang negatif,” ujarnya (15/3)

Riris mengungkapkan tawuran pelajar kerap terjadi diluar jam sekolah, tentunya perlu adanya pengawasan.  Ketika banyak kegiatan positif yang diadakan oleh sekolah, secara otomatis  daya  inovasi anak semakin terpacu dan siswa bisa memanfaatkan waktu luangnya ke hal yang positif.

“Sebagai pendidik kita ingin memberikan pelayanan kepada siswa yang terbaik, dan siswa menyalurkan bakatnya di sekolah dengan kegiatan -kegiatan yang positif,” tukasnya.

** Arip Ekon

Program Ketahanan Pangan Masih Terkendala Produksi dan Pemasaran

0

Nanggung | Jurnal Bogor 

Program ketahanan pangan yang bersumber dari Dana Desa (DD) tahun 2022 dengan besaran 20 persen dari total pagu yang diterima desa, hingga kini berjalan di atas kesulitan. Pasalnya, selain proses produksi yang begitu menyulitkan para pengelola, harga jual pun tak sebanding dengan pengeluaran. 

Di Desa Parakanmuncang, Nanggung, Kabupaten Bogor misalnya, merealisasikan program ketahanan pangan dalam bidang hewani dan nabati diantaranya peternakan dari berbagai macam ikan dan budidaya jamur tiram.

Kepala Desa Parakanmuncang Mauludin menjelaskan, di wilayahnya program ketahan pangan di desanya bukan hanya untuk ketahanan pangan nabati, namun termasuk ketahanan pangan dengan hewani.

“Yang hewani di bagi menjadi 7 titik di beberapa kampung dengan budaya macam-macam ikan. Sementara satu titik untuk induk  jamur tiram anggotanya dari berbagai kampung,” jelasnya.

Mauludin mengatakan,  sudah enam bulan berjalan, namun  belum bisa memberikan dampak yang besar terhadap pengelola, tapi hingga kini mereka masih bertahan.

Diceritakannya, bahwa budidaya jamur tiram gampang-gampang susah, sebab penjualan hasil panen yang dihasilkan  kurang dari sepuluh kilo perhari  ketika dibawa ke pasar akan berat diongkos. 

Kemudian, kata dia,  disebar di daerah sekitar tidak bisa habis terjual, ketika ditunda satu atau tiga hari jamur tiram akan menjadi sampah.

“Walaupun tingkat kesulitan hal-hal permasalahan tersebut, mereka (pengelola) tetap berjalan. Melakukan produksi, melakukan pemeliharaan, pemanenan setiap hari dengan kesulitan-kesulitan yang ada,” paparnya.

Jadi kata dia, bahwa budidaya jamur tiram untuk pengelola pemula tingkat kegagalannya masih tinggi. Karena proses dari mulai proses pengadukan bahan baku itu keahliannya harus dimiliki oleh pengelola.

Pasalnya, dalam proses budidaya jamur  saling keterkaitan, ketika dalam salah satu proses terdapat sebuah kegagalan itu akan merembet ke semua prosesnya dan akan terjadi tidak akan tumbuh jamur yang dikelolanya. 

Kendati, dengan berbagai macam cara  setelah dilakukan kegiatan tersebut sehingga proses kegagalan itu masih bisa diminimalisir.

“Pengelola hingga saat ini masih bisa bertahan walaupun dengan macam proses kegagalan. Namun, dengan proses bertahan tersebut kendala yang memberatkan adalah harga produksi semakin tinggi tapi harga jual tetap begitu saja. Bahkan dengan adanya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) itu biaya produksi semakin tinggi, pengeluarannya semakin tinggi, tapi daya beli masyarakat  ataupun pasar itu begitu saja, akhirnya dari beberapa anggota ada yang bongkar pasang,” kata dia.

Namun, pihak Desa Parakanmuncang tidak menyerah begitu saja. Terkait dengan dampak dari harga jual yang murah pihak desa selalu berkomunikasi dengan para pengelola untuk berinovasi agar hal ini terus berkelanjutan.

“Nanti kita akan coba untuk tidak menjual mentah, tetapi dengan cara diolah supaya mendapatkan margin yang sesuai dengan harapan. Meski untuk melakukan inovasi perlu membutuhkan biaya dan pengorbanan,” katanya.

“Kita selalu berkomunikasi dengan pengelolaan agar mereka bisa berinovasi supaya bisa menghasilkan sebuah produk dengan margin yang lebih tinggi,” tambah dia.

Mauludin berharap program ketahanan pangan ini bisa menjadi program yang berkelanjutan dan terus dikembangkan guna menciptakan kemandirian pangan dan membangkitkan potensi perekonomian di masyarakat.

“Saya berharap program ini terus berlanjut sampai sejauh mana para kelompok ini bisa melakukan inovasi dan tidak menyerah begitu saja  mengalami berbagai kesulitan berbudidaya,” pungkasnya.

** Andres

Fatimah Masih Ditangani Spesialis Jantung Anak

0

Cileungsi | Jurnal Bogor 

Fatimah Azzahra (15) yang menderita komplikasi masih harus mendapat penangan rutin dokter spesialis jantung anak. Usai pengobatan di RSUD Cileungsi selama tiga minggu, kini anak yatim piatu ini masih harus rutin memeriksakan kesehatannya ke RSUD Hasbullah Bekasi. Hal itu lantaran dokter spesialis jantung anak hanya ada di RSUD Hasbullah.

“Waktu itu dikasih dua pilihan rumah sakit. Karena ini rumah sakit yang terdekat, maka kami periksakan rutin Fatimah ke sini sesuai dengan arahan dari dokter RSUD Cileungsi,” kata perwakilan keluarga, Ujang kepada Jurnal Bogor.

Ujang mengatakan, kondisi Fatimah yang merupakan keponakannya tersebut memang belum sembuh total. Hal itu terlihat dari kondisi fisik yang masih lemas dan kerap mengeluhkan rasa sakit di bagian paru-paru dan jantung.

“Kondisinya memang belum sembuh total tapi sudah tidak perlu dirawat. Jadi hanya periksa rutin dan minum obat dari dokter. Masih suka ngeluh sesak dan sering batuk.” ujarnya.

Ia berharap, kondisi Fatimah dapat segera pulih dan dapat melakukan aktivitas. Karena semenjak sakit, keponakannya tersebut sudah tidak melakukan kegiatan termasuk kegiatan belajar di pesantren. 

“Ini sudah lama gak sekolah karena sakit. Saya hanya bisa berharap cepet bisa sembuh dan bisa sekolah lagi,” tuturnya.

Ujang juga menyampaikan terima kasih atas perhatian dan kepedulian berbagai pihak selama Fatimah mendapat perawatan di RSUD Cileungsi sampai keluar dari RSUD hingga saat ini yang harus rawat jalan. 

“Saya hanya bisa berterimakasih kepada semua pihak yang sudah peduli dan mau membantu Fatimah selama dirawat di RSUD Cileungsi sampai sekarang yang masih harus bolak balik untuk periksa rutin ke RSUD Hasbullah Bekasi,” tandasnya.

** Taufik/Nay 

Petani Sukamakmur Diajak Pahami Cuaca

0

Sukamakmur | Jurnal Bogor

Stasiun Klimatologi Jawa Barat mengadakan Sekolah Lapang Iklim (SLI) yang diikuti oleh petani di Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor. Kegiatan SLI tersebut merupakan salahatu program rutin BMKG yang dilaksanakan sejak 2011 di provinsi yang merupakan sentra pangan Indonesia sebagai bentuk pendekatan literasi iklim guna mengurangi resiko iklim ekstrem.

“SLI memberikan literasi iklim berbasis pembelajaran modul serta mengawal pemanfaatannya di sektor pertanian selama satu musim tanam pada komoditas sesuai daerah dan berbasis kebutuhan riil informasi iklim pada sektor pertanian atau dinamakan SLI Operasional (SLI-O). Literasi berguna sebagai respons adaptasi terhadap perubahan iklim dengan meningkatkan kapasitas para penyuluh petani terhadap kondisi iklim dan cara mengatasinya,” kata Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Indra Gustari kepada wartawan.

Menurut dia, kegiatan SLI bagi para petani di Sukamakmur berfokus pada komoditas tanaman cabai, dimana tanaman cabai merupakan komoditas strategis dan memiliki nilai ekonomis tinggi serta ketersediaan dan harganya sangat berpengaruh pada inflasi dan perekonomian nasional.

“SLI-O Bogor diikuti oleh 30 peserta yang terdiri atas gabungan kelompok tani, PPL/POPT dan LSM yang berasal dari 7 Desa Sinarjaya, Sukadamai, Sukamulya, Wargajaya, Sukamakmur, Pabuaran dan Desa Sukamaju,” ujarnya.

Ia mengatakan, kegiatan sekolah lapang diawali dengan pemaparan materi oleh Arifin Tasrif dari Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor dimana Peserta diberikan pemahaman berupa mitigasi pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) terkait dengan budidaya tanaman cabai.

“Sedangkan pemateri dari Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Dhiyaur Rohman memberikan pemaparan tentang alat ukur cuaca disertai praktik pengukuran jumlah curah hujan, paparnya.

Indra mengatakan, kegiatan SLI diharapkan mampu menciptakan petani yang konsisten menghasilkan produk pertanian tanda adanya hambatan cuaca. Sehingga hasil pertanian dapat secara konsisten mengirim pasokan ke pasar dan konsumen. 

“Peran SLI-O lebih luas dengan menggandeng stakeholder yang relevan terkait pertanian mulai dari hulu hingga hilir seperti sektor air, teknologi praktis pertanian, sektor market menuju entrepreneur,” pungkasnya.

** Taufik/Nay 

Perbaikan Jalan Transyogi Mendesak

0

Jonggol | Jurnal Bogor

Warga Kecamatan Jonggol mendesak agar Pemerintah Provinsi Jawa Barat segera melakukan perbaikan ruas Jalan Transyogi yang kondisinya rusak parah. Pasalnya, ruas jalan tersebut sudah cukup lama rusak dan belum tersentuh perbaikan. Padahal, akses Jalan Transyogi merupakan akses vital bagi masyarakat Cianjur, Bogor dan Jakarta.

“Kalau Jalan Transyogi dari Cileungsi ke Cariu itu banyak yang rusak. Tapi kalau dari Cileungsi ke Cibubur itu kondisinya sangat bagus. Rusak sedikit juga langsung diperbaiki,” kata salah satu warga Jonggol, Dae kepada Jurnal Bogor, Rabu (15/03/23).

Menurut dia, rusaknya jalan tersebut juga mengakibatkan terjadinya kecelakaan kendaraan bermotor karena menghindari rusaknya jalan. Terlebih pada saat hujan dimana jalan rusak tergenang air dan ruas jalan yang berlobang tidak terlihat.

“Itu beberapa kali kejadian tabrakan karena menghindari jalan rusak, sehingga sering terjadi kecelakaan, saya menyarankan untuk perbaikan, alangkah baiknya jangan diaspal karena tekstur tanahnya labil, kalau bisa dibeton lalu dicor,” ungkapnya. 

Menanggapi hal itu, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Achmad Ru’yat mengatakan dirinya akan menyampaikan keluhan masyarakat ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat agar segera dilakukan perbaikan.

“Saya mewakili dari masyarakat Sukamaju, saya mengusulkan jalan provinsi perbatasan antara Jonggol dan Cariu, lebih tepatnya di Mengker, Desa Sinargalih, titik kedua di Sukamaju juga di depan bekas pabrik tabung gas,” ujar politisi PKS ini.

Achmad Ru’yat mengatakan, dirinya akan segera mengambil langkah taktis untuk melakukan komunikasi secara intens dengan Pemerintah Daerah Provinsi (Pemdaprov) Jawa Barat karena memang jalan Transyogi menjadi kewenangan pemerintah provinsi. 

“Jalan perbatasan antara Jonggol dan Cariu ini menjadi prioritas dilakukan, bukan hanya perbaikan tapi jalan pembangunan yang memang harus dibeton karena kondisi lahannya labil kalau diaspal baru dua bulan sudah rusak lagi,” jelas Achmad Ru’yat.

** Taufik/Nay 

Warga Klapanunggal Keluhkan Pelayanan PLN

0

Klapanunggal | Jurnal Bogor

Warga Desa Klapanunggal, Kabupaten Bogor mengeluhkan pelayanan PLN yang kerap melakukan pemadaman listrik. Apalagi proses pemadaman tersebut tidak ada konfirmasi dan pemberitahuan kepada masyarakat. Selain mengganggu aktivitas warga, pemadaman secara tiba-tiba tersebut juga dapat mengakibatkan perangkat elektronik milik warga menjadi rusak.

“Sudah dua hari ini PLN rutin melakukan pemadaman listrik. Di sini memang sering listrik padam tanpa pemberitahuan. Kalau sudah padam juga lama sehingga mengganggu aktivitas warga,” kata Andre, salah satu warga Desa Klapanunggal kepada Jurnal Bogor, Rabu (15/03/23).

Menurut dia, kinerja PLN dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat seharusnya dapat lebih baik. Paling tidak, jika ada pemadaman harus memberitahukan kepada warga, sehingga warga dapat mengantisipasi dan melakukan persiapan.

“Kita bukan menolak adanya pemadaman kalau itu memang menyangkut kinerja PLN. Tapi paling tidak jangan terlalu sering dan harus ada pemberitahuan. Jadi kami bisa siap-siap,” tukasnya.

Andre mengatakan, kondisi sekarang memang tengah musim hujan jadi warga maklum jika ada pemadaman, karena biasanya kalau hujan memang sering ada gangguan. Namun, lanjut Andre proses pemadaman listrik justru terjadi pada saat cuaca sedang cerah dan tidak hujan.

“Kalau hujan mungkin ada gangguan. Tapi ini kadang-kadang lagi cerah listriknya tiba-tiba padam. Jadi warga kadang mengeluh dengan pelayanan PLN,” ujarnya.

Andre berharap, PLN dapat meningkatkan kinerja dan lebih membangun komunikasi dengan masyarakat. Sehingga jika ada proses pemadaman, PLN dapat berkomunikasi dengan perwakilan masyarakat yang akan memberitahukan kepada warga lainnya.

“Paling tidak ada informasi yang diterima warga sehingga warga ada persiapan,” tandasnya.

** Taufik / Nay 

Gerak Cepat, Dadang Bantu Korban Longsor Empang

0

Bogor | Jurnal Bogor

Hujan deras yang terjadi pada Selasa (14/3) malam, membuat tebingan setinggi 30 meter di Empang, Kecamatan Bogor Selatan longsor. Bencana itu menyebabkan rel di Jalur Kereta Api (KA) Bogor-Sukabumi menggantung pada pukul OO.40 WIB.

Parahnya dalam peristiwa longsor itu menimpa enam rumah warga dan menimbun enam orang yang berada di dalam rumah menjadi korban. Dia diantaranya meninggal dunia, empat lainnya masih dalam pencarian.

Dalam kejadian itupun, sebanyak 11 warga berhasil di evakuasi dalam keadaan selamat.

Wakil Ketua DPRD Kota Bogor Dadang I Danubrata setelah mendapat laporan ada longsor yang menimbulkan korban jiwa, dan rumah warga, langsung turun dan memimpin apel bersama tim BPBD, kapolsek, camat dan para relawan untuk mencari korban longsor yang belum ditemukan.

“Saya juga langsung memberikan bantuan sembako untuk dapur umum dan santunan uang kerohiman untuk 6 keluarga yang anggota keluarganya meninggal dunia. Penyerahan bantuan disaksikan langsung pak Wakil Walikota Bogor, Kapolresta Bogor Kota, Dandim dan jajaran lain yang diterima langsung oleh keluarga korban serta ketua RW14. Hadir juga lurah Empang dan Camat Bogor Selatan,” papar Dadang yang juga Ketua DPC PDIP Kota Bogor ini, Rabu (15/3/2023).

Dadang menambahkan, jika Ambulans PDI Perjuangan juga disiapkan untuk membawa korban bencana.

“Mari kita doakan semoga korban segera bisa ditemukan dan yang kena musibah kita doakan diberi ketabahan serta kekuatan. Aamiin YRA,” ujarnya.

Terpisah, Kapolresta Bogor Kota, Kombes Polisi Bismo Teguh Prakoso mengatakan, kejadian longsor di Empang terjadi di dekat rel kereta Bogor-Sukabumi sekira pukul 23.30 WIB.

“Selain berdampak pada rel KA Bogor Sukabumi, imbas longsor juga menimpa enam rumah warga di RT 7/4 yang berada persis di bawahnya. Ini sudah dikomunikasikan dengan Bagian Dalops Kereta untuk tidak digunakan sebagai jalur aktivitas kereta mulai hari ini,” ungkap Bismo.

Bismo melanjutkan, pihaknya akan berkomunikasi dengan Pemkot Bogor melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan intansi terkait terkait dengan penerapan proses tanggap darurat bencana.

“Nanti kami komunikasikan sama BPBD dan instansi terkait, saya sudah laporkan ke Pak Wali Kota juga lewat WhatsApp, dan terus kami pantau tanggap darurat dengan korban,” katanya

Diketahui, hujan deras yang mengguyut Kota Bogor sejak Selasa (14/3) malam mengakibatkan Kota Bogor dilanda beberapa bencana. Salah satunya adalah bencana tanah longsor yang terjadi di Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor Selatan. Longsor menimpa 6 rumah warga di RT 7 RW 4.* Fredy Kristianto