33.8 C
Bogor
Thursday, August 27, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 1224

82 Orang dari Klaster Ponpes di Harjasari Sembuh

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

Jumlah pasien Covid-19 yang sembuh dari klaster Pondok Pesantren (Ponpes) Bina Madani di Kota Bogor, terus bertambah. Hingga Jumat (25/6/2021), jumlah pasien positif Covid-19 dari klaster ponpes yang sudah dinyatakan sembuh sebanyak 82 orang. Sisanya 11 orang masih menjalani perawatan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, Sri Nowo Retno mengatakan, sampai dengan 25 Juni 2021 konfirmasi masih sakit ada 11 orang dan konfirmasi selesai/sembuh 82 orang dari total 93 kasus.

“Dari 11 orang konfirmasi masih sakit, 4 orang isolasi di rumah dan 7 orang dirawat. Kemudian dari 7 orang yang dirawat, 5 orang di BPKP Ciawi dan 2 orang di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta,” katanya, Sabtu (26/6).

Tercatat, Senin (21/6), tidak ada penambahan kasus konfirmasi. Pemulangan 3 orang santri putra dan 2 orang santri putri dari BPKP Ciawi.

Selasa (22/6), tidak ada penambahan kasus konfirmasi. 2 orang santri putri yang diisolasi di rumah dinyatakan sembuh. Pemulangan 1 orang santri putra dan 2 orang santri putri dari BPKP Ciawi.

Rabu (23/6), tidak ada penambahan kasus konfirmasi. Pemulangan 1 orang santri putri dari BPKP Ciawi. Kamis (24/6), tidak ada penambahan kasus konfirmasi. Pemulangan 9 orang santri putri dari BPKP Ciawi.

Jumat (25/6) tidak ada penambahan kasus konfirmasi. Sementara ada pemulangan 3 orang santri putra dan 10 orang santri putri dari BPKP Ciawi.

Satgas Penanganan Covid-19 Kota Bogor terus melakukan pemantauan pelaksanaan protokol kesehatan (prokes) di Ponpes Bina Madani.

** Fredy Kristianto

Covid Menggila, Dewan Desak RS Lapangan Kembali Diaktifkan

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

Jumlah positif Covid-19 di Kota Bogor semakin mengkhawatirkan. Pada Minggu (27/6) telah terjadi penambahan 262 kasus, dengan total kasus aktif sebanyak 3.03. Dengan demikian, sejak awal pandemi pada Maret 2020 hingga kini totalnya sudah mencapai 19.568.

Wali Kota Bogor, Bima Arya mengatakan, Bed Occupancy Ratio (BOR) rumah sakit di Kota Bogor per Sabtu (26/6) sudah mencapai 81,6% atau ada sebanyak 782 bed terisi dari kapasitas 958 unit, atau tersisa hanya 176 tempat tidur.

“Jumlah total nakes dan tenaga pendukung di RS atau faskes yang terpapar Covid-19 sudah menembus 336 orang,” ujar Bima kepada wartawan, Minggu (27/6).

Untuk jumlah faskes yang sempat ditutup lantaran adanya temuan kasus Covid-19, sambung Bima, hingga kini jumlahnya mencapai delapan fasilitas. “Persentase kenaikan kasus terkonfirmasi positif minggu ini mencapai 78%,” kata Bima.

Selain itu, kata Bima, lonjakan jumlah positif covid pun berimbas terhadap meningkatnya angka kematian akibat virus corona, dimana jumlahnya pada minggu ini naik hingga 125 persen.

Sementara itu, Anggota Komisi IV DPRD Kota Bogor Devie Prihartini Sultani mendesak Pemkot Bogor segera mengaktifkan kembali RS Lapangan, dibarengi dengan membuka tempat isolasi lain.

“Situasi ini membuat RS di Kota Bogor sudah tidak lagi mampu menangani pasien yang datang karena keterbatasan tempat tidur dan nakes. Sudah seharusnya RS Lapangan kembali dibuka,” ungkap Devie.

Devie mengaku bahwa setiap hari sejak pekan lalu, ia selalu menerima aduan dari pasien Covid-19 yang membutuhkan tempat tidur di rumah sakit dan alat bantu pernafasan.

“Keluarga pasien sudah panik, namun ketersediaan ruangan dan tempat tidur atau bed tidak ada. Saya sudah kontak kesana sini, jawabannya sana kamar penuh,” katanya.

Devie juga meminta pemerintah mengeluarkan aturan tegas untuk meredam cepatnya penularan Covid 19. “Masih banyak warga yang melanggar prokes, pemkot harus serius menghadapi ini,” jelasnya.

Tak hanya itu, pemkot juga mesti memperhatikan keperluan pangan bagi warga yang sedang isolasi mandiri dan tenaga kesehatan yang merawat pasien Covid-19 juga sudah banyak yang terpapar. “Apabila banyak nakes terpapar, lantas siapa yang akan menangani pasien,” tukasnya.

** Fredy Kristianto

Wali Kota Bogor Minta Pusat Keluarkan Kebijakan Lebih Ketat

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

Wali Kota Bogor Bima Arya meminta pemerintah pusat untuk mengeluarkan kebijakan yang lebih ketat dalam mengendalikan laju kasus Covid-19 yang makin tak terkendali. Alasannya, kata Bima, terlihat dari data tingginya angka kasus positif, meningkatnya angka kematian, hingga tenaga kesehatan yang bertumbangan karena terpapar.

“Situasi Covid-19 sudah sangat mengkhawatirkan. Sudah nyaris melampaui kapasitas kita semua untuk menangani kalau tidak ada langkah-langkah yang luar biasa. Data di Kota Bogor, lonjakannya luar biasa. Sudah di kisaran 300-an kasus per hari, yang masih sakit 3.023 kasus. BOR kita di banyak rumah sakit hampir full. Di RSUD sendiri sudah hampir 100 persen,” ungkap Bima Arya usai meninjau RS Marzoeki Mahdi di Jalan Semeru, Bogor Barat, Minggu (27/6).

“Kemudian persentase kenaikan kasus konfirmasi positif minggu ini sebesar 78 persen. Sedangkan kasus kematian naik 125 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Sementara tenaga kesehatan di Kota Bogor yang terpapar dan masih sakit sampai saat ini ada 336 orang dari total 11.214 orang. Dan ini kasus aktif, persentasenya terus naik. Jadi sekali lagi, angka-angka ini mengkhawatirkan,” tambahnya.

Artinya, lanjut Bima Arya, asumsi dan perhitungan tidak akan sama lagi karena kemungkinan berubah. “Varian baru bermunculan, kecepatan penyebaran dengan segala variannya mungkin tidak bisa diimbangi dengan vaksinasi, termasuk juga penambahan kapasitas tempat tidur ini tidak bisa mengimbangi jumlah nakes yang terpapar,” tandas Bima.

Bima menjelaskan, kebijakan reaktif dan insidental seperti pelarang mudik, pembatasan mobilitas, realitanya memang sulit dijalankan dengan maksimal di lapangan. “PPKM yang kita terapkan sekarang ini terlihat belum maksimal untuk mengatasi persoalan yang semakin berat. Akan lebih efektif apabila diterapkan bersamaan dengan pembatasan yang lebih ketat lagi dalam kebijakan yang lebih makro,” imbuhnya. 

Persoalannya, kata Bima, dalam skala wilayah kewenangan Pemerintah Daerah sangat terbatas dalam memperkuat kebijakan pembatasan yang dimaksud. “Kita tidak mungkin bisa melakukan pembatasan jam operasional, jam kantor, dan lain-lain karena itu kewenangan pusat. Tanpa instrumen kebijakan di tingkat nasional, maka kita akan sulit mengupayakan langkah-langkah yang masif dalam membatasi mobilitas warga,” jelas Bima.

Bima menyatakan, Pemkot Bogor sudah melakukan beberapa langkah strategis seperti penambahan tempat tidur minimal 30 persen di seluruh RS, dan dalam beberapa hari lagi akan mengaktivasi RS Lapangan dan mengaktivasi pusat isolasi berbasiskan masyarakat di tiap kelurahan.

“Pemkot juga memutuskan untuk melakukan kebijakan WFH 100 persen bagi ASN. Seluruh kantor-kantor pemerintahan distop dulu. Kecuali sektor-sektor atau dinas yang langsung berfungsi untuk melayani publik, seperti Dinkes dan lain sebagainya. Ini sedang kita siapkan,” katanya.

“Tapi sekali lagi mungkin itu tidak akan maksimal ketika tidak diiringi oleh kebijakan yang lebih tegas, lebih ketat dalam hal pembatasan aktivitas warga di tingkat yang lebih makro. Saya kira pemerintah pusat harus berani mengambil langkah-langkah kebijakan yang lebih ketat, mungkin tidak dipukul rata secara nasional tapi bisa diberlakukan sesuai kedaruratan wilayahnya. Misalnya, pembatasan lebih ketat di Jabodetabek, pembatasan yang lebih ketat di Bandung Raya, pembatasan lebih ketat di Gerbangkertosusila dan sebagainya. Jadi sifatnya berbasiskan regional yang paling terdampak dengan status zona yang kebanyakan merah,” beber Bima.

Mengenai konsekuensi logistik atau pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat, Bima Arya mengatakan bahwa setiap pemerintah kota atau daerah pasti bisa mengambil langkah sebagai konsekuensi dari kebijakan nasional tersebut. “Misalnya dengan melakukan refocusing, realokasi anggaran, alokasi bansos dan lain sebagainya dalam keadaan darurat, termasuk juga saya yakin solidaritas sosial kita masih sangat tinggi,” ujar Bima.

“Jadi, kalau kita berikan waktu bagi warga untuk bersiap-siap, jadi tidak serta merta kita umumkan besok pembatasan berskala besar, tetapi kita lakukan dalam waktu yang bisa dipersiapkan dulu. Kita bisa melakukan pendataan, buruh harian lepas yang kehidupannya sangat tergantung dari kerja harian. Kemudian kita bisa memobilisasi dana dari warga mengaktivasi dapur umum, lumbung pangan dan lain sebagainya,” kata dia. 

“Jadi saya kira semuanya perlu diperhitungkan dengan cermat, tetapi poinnya adalah dari data menunjukan bahwa kita harus mengambil langkah kebijakan yang lebih tegas, lebih ketat, di tingkat yang lebih makro. Kalau tidak maka korban akan semakin banyak berjatuhan,” pungkasnya.

** Fredy Kristianto

Peserta Antusias, Ping TV Robog Digelar di Venue Zuko

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

Turnamen internal Tenis Meja internal Ping TV Rombongan Bogor (Robog) kembali berlangsung. Setelah Serie-1 berlangsung pada awal tahun lalu,  series-2 berlangsung pada Sabtu 26-27 Juni hingga 4 Juli 2021 mendatang di Venue Zuko, Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor. ‘’Meski pandemi kami berusaha untuk tetap melakukan turnaman internal, karena antusias peserta begitu membludak,’’ kata Koordinator Lapangan (Korlap) Ping TV, Robog, Deni Hermawan dalam siaran persnya yang diterima Jurnal Bogor, Minggu (27/5).

Menurut dia, seperti pada serie-1, turnamen kali ini juga menerapkan protokol kesehatan (Prokes) ketat. Misalnya saja pengaturan yang begitu ketat, peserta wajib menggenakan masker dan mencuci tangan sebelum masuk  venue. Selain itu, pengecekan suhu para pemain sebelum masuk area pertandingan. ‘’Kami berusaha menghindari kerumunan dengan meminta pemain yang sudah bertanding agar meninggalkan venue,’’ jelas Deni.

Bahkan panitia selalu mengingatkan dan menegur bila pemain dan pelatih yang mendampingi pemain mengabaikan prokes.

Sekadar diketahui,  Ping TV adalah komunitas berupa grup di sebuah media sosial, yakni Facebook yang anggotanya sudah mencapai 1700 orang, dari seluruh pelosok Indonesia. Ping TV dibidani oleh beberapa penggiat tenis meja, yaitu Yuditia Novianto asal Lampung, Ahmad Beni asal Kaltim dan Yana Husain asal Garut, serta sejumlah figur lainnya yang mempunyai semangat dan jiwa sosial yang tinggi untuk memajukan olah raga tenis meja di seluruh lapisan masyarakat di Indonesia.

** ass/rls

Cibungbulang Zona Kuning, 5 Nakes Terpapar Covid

0

Cibungbulang | Jurnal Inspirasi

Angka Covid 19 di Kabupaten Bogor terus bertambah, Kecamatan Cibungbulang yang beberapa bulan lalu sudah berada di wilayah zona hijau, namun kini kembali berada di zona kuning. Bahkan sebaran Covid 19 yang semakin menggila, 5 orang tenaga kesehatan di Puskesmas Cibungbulang terkonfirmasi positif Covid-19.

Akibatnya pelayanan kesehatan di Puskesmas Cibungbulang ditutup sementara untuk beberapa hari kedepan. Hal itu dilakukan untuk mencegah penyebaran Covid-19. “Ditutup sementara dari 26- 29 Juni karena ada yang terpapar Covid-19 ada 5 orang nakes,”kata Kepala Puskemas Cibungbulang, drg Doni Arya saat dikonfirmasi, Minggu malam (27/6).

Doni mengatakan  pada Senin (28/7/2021) seluruh ruangan di Puskesmas akan dilakukan sterilisasi. “Dan juga seluruh nakes akan dirapid antigen hal itu dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19 setelah pelayanan kesehatan untuk masyarakat Kembali dibuka,” kata Doni.

Doni mengatakan masyarakat agar maklum kondisi tutupnya puskesmas karena akan sterilisasi ruangan sekalian cek rapid antigen semua staf. “Menghimbau agar tetap disiplin protokol kesehatan karena kasus Covid sudah mulai naik,”pungkasnya.

** Cepi Kurniawan

Acang Suryana, ‘Robin Hood’ Gunung Putri

0


Dukung Program Bupati Bogor

Gunung Putri | Jurnal Inspirasi

Tokoh masyarakat sekaligus pengusaha muda Acang Suryana mendukung program Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor dalam pembangunan Prasarana, Sarana dan Utilitas (PSU) di Desa Tlajung Udik, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor.

Acang Suryana mengatakan, pembangunan dilakukan dengan mengutamakan azas kepentingan masyarakat dan pemerintah daerah.

“Saya lakukan pematangan lahan yang akan dijadikan jalan akses masuk ke PSU terpadu. Ada pemasangan penerangan jalan juga di lokasi tersebut,” ujar Acang kepada Jurnal Bogor, Minggu (27/6).

Putra asli Tlajung Udik itu menerangkan, pihaknya sangat mendukung rencana Pemkab Bogor dalam mewujudkan sejumlah pembangunan di lokasi PSU tersebut.

“Lokasi itu akan Pemkab Bangun sejumlah gedung yang menunjang program Bupati Bogor yakni Pancakarsa seperti SMPN 4 Gunung Putri untuk Karsa Cerdas dan Puskesmas untuk Karsa sehat,” terangnya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Bogor, Lestia Irmawati mengungkapkan, bahwa tahapan pewujudan PSU terpadu tersebut ada pada Bidang Pertanahan.

“Kalau perkembangan tanya ke Kabid Pertanahan Pak Eko, saya belum dapat laporan terkini proses pembanguna di lokasi PSU itu,” kata perempuan yang akrab disapa Irma itu.

Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Pertanahan pada DPKPP Kabupaten Bogor, Eko Mujiarto menegaskan, pihaknya mengapresiasi langkah tokoh masyarakat sekaligus pengusaha muda di Gunung Putri, Acang Suryana.

“Selama ini mendukung program Pemkab Bogor dalam mewujudkan PSU terpadu di Desa Tlajung Udik, kami sangat senang. Artinya itu bagian dari mendukung nawacita Bupati Bogor yang dituangkan dalam Pancakarsa,” tegas Eko.

Eko menjelaskan, bahwa pemkab Bogor mesti langsung merespon langkah awal dalam membangun akses jalan menuju lokasi PSU terpadu.

“Sudah dilakukan tahap awal oleh tokoh masyarakat setempat, tinggal Pemkab Bogor melakukan pengaspalan akses jalan tersebut. Insya Allah akan dilakukan secepatnya oleh instansi terkait,” jelas Eko.

Senada, Kades Tlajung Udik, Yusuf Ibrahim mengatakan, pihaknya juga mengapresiasi langkah tokoh masyarakat di wilayah yang dipimpinnya tersebut.

“Alhamdullilah, ada tokoh masyarakat kami yang mau mendukung program pemerintah dalam pembangunan. Selama itu untuk mendukung program masyarakat, saya akan dukung,” kata Yusuf.

Terpisah, Kadus 2 Desa Tlajung Udik yakni lokasi PSU Terpadu itu, Arsan memaparkan, langkah Acang Suryana tersebut sangat bermanfaat bagi masyarakat.

“Kami sangat berterima kasih, selain membuka akses dan melakukan tahap awal untuk askes ke PSU terpadu itu, ada juga penerangan jalan. Jelas ini sangat bermanfaat bagi masyarakat khususnya setempat. Saya atas nama masyarakat sangat berterima kasih kepada Acang Suryana,” papar Arsan.

** Noverando H

Ormas dan LSM di Bogor Barat Sikapi Ucapan Bupati dengan Tenang

0

Leuwiliang | Jurnal Inspirasi

Adanya pandangan berbeda dari oknum yang diduga tak terima atas ucapan Bupati Bogor Ade Yasin perihal ‘wartawan bodrex’ hingga berujung aksi demo, ormas dan LSM di wilayah Bogor Barat justeru mengajak untuk tetap tenang dan menyikapinya dengan jernih.

Hal itu diungkapkan oleh satu  LSM Laskar Anti Korupsi (Laki) yang mengajak untuk semua rekan yang tersinggung dengan ucapan Bupati tetap tenang dengan hati yang jernih.

Dalam acara konferensi pers itu juga selain LSM Laki, turut hadir juga GPK, BPPKB Banten, PSI dan perwakilan advokat. “Kami disini melihat dari sisi positifnya saja yah, bukan hanya dari pihak kepala daerah yang mengungkapkan itu, kalaupun tukang becak yang menyatakan itu kami sebagai orang yang cerdas, sebagai orang yang disiplin juga harus bisa memahami lebih jauh apa arahan mereka,” kata Ketua LSM Laki di wilayah Bogor Barat, Joy.

Lebih lanjut kata Joy, kalaupun memang statment yang dari bupati menyebutkan diduga oknum wartawan bodrek, tentu jika tidak merasa tidak akan jadi masalah dan persoalan yang berkepanjangan.

“Misalkan kami sebagai lembaga ormas, kalaupun kami tidak melakukan itu dan legitimalisasi kami itu jelas sebetulnya tidak ada ketersinggungan,” katanya.

Joy berpandangan,  intinya yang bahwa apapun yang dilontarkan Bupati Bogor bagian dari memberikan nilai kedewasaan untuk profesinya masing-masing agar  bisa dijaga secara profesional secara baik dan santun.

“Mari kita membangun Kabupaten Bogor ini secara bersama sama, dengan damai tanpa ada ekses, dan tidak ada gesekan tanpa melupakan marwah dan etika lembaga masing masing,” pungkasnya.

** Cepi Kurniawan

Tingkatkan Herd Immunity, Polsek Parung Gelar Vaksinasi Massal untuk Masyarakat

0

Parung | Jurnal Inspirasi

Terus berupaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di wilayah Kabupaten Bogor, khusus wilayah hukum Polsek Parung, jajaran Polsek Parung Resor Bogor melakukan percepatan vaksinasi  yang diselenggarakan di Puskesmas Ciseeng.

Kegiatan itu juga dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara yang ke-75 di wilayah Hukum Polsek Parung. Kapolsek Parung Kompol Puji Astono mengatakan, dalam pelaksanaan percepatan vaksinasi itu jajaran Polsek Parung, Camat Ciseeng  dibantu pihak Puskemas, Koramil, Dishub dan Security serta Pol PP.

“Kegiatan sendiri dilaksanakan pada Sabtu tanggal 26 Juni 2021 jam 08.00 Wib, dalam rangka kegiatan percepatan vaksinasi gratis sekaligus menyambut Hari Bhayangkara yang ke-75 di wilayah hukum Polsek Parung,”kata Kapolsek Parung Kompol Puji Astono.

Puji mengatakan dalam kegiatan vaksinasi tahap pertama itu sasaran yang akan divaksin sebanyak 300 orang yang terdiri lansia, pedagang dan pelayan publik. “Alhamdulillah masyarakat begitu antusias melebihi target,” katanya.

Kapolsek pun terus mengimbau agar masyarakat meksipun sudah divaksin tetap disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. “Terus pakai masker, tidak berkerumun mengurangi aktivitas diluar karena saat ini covid kembali meningkat,” katanya.

Sementara itu Camat Ciseeng Adi Setiyabakti selaku Ketua Gugus Tugas Kecamatan Ciseeng mengucapkan banyak terimakasih atas kegiatan vaksinasi gratis yang dilaksanakan pihak kepolisian ini.

“Semoga dengan percepatan vaksinasi ini wilayah Ciseeng segera terbebas dari Covid-19,” pungkasnya.

** Cepi Kurniawan

Warga Serbu Desa Srogol Untuk Disuntik Vaksin

0

Cigombong | Jurnal Inspirasi

Ratusan warga Desa Srogol, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor  antusias mengikuti kegiatan vaksinasi Covid-19 di halaman kantor Desa Srogol. Kegiatan yang digelar Pemerintah Desa Srogol pada Sabtu (26/6) ini cukup ramai didatangi warga, bahkan banyak petugas yang mengatur jalannya antrean dengan menjaga jarak aman sesuai aturan protokol kesehatan.

Salah satu warga sekitar, Eli (39) mengaku antusias dirinya dapat ikut pada pelaksanaan vaksinasi di desa tersebut. “Saya senang bisa ikut divaksin, sehingga dapat lebih percaya diri untuk datang. Apalagi kan vaksin ini untuk menjaga diri dari penularan Covid,” ujarnya.

Sementara, Kepala Desa Srogol, Asep Irawan Kuswara menerangkan jika yang dilakukan Pemerintah Desa Srogol adalah merupakan bentuk perhatian dan kepedulian khususnya kepada warga Srogol.

“Kita harus peduli kepada warga kita sendiri, apalagi disituasi saat ini yang masih pandemi Covid-19. Makanya kita adakan vaksinasi, tujuannya agar warga kita minimal terhindar dari penularan covid disamping harus tetap jaga protokol kesehatan,” katanya.

Dikatakan Asep, warga Srogol sendiri sudah sadar terhadap pentingnya melakukan vaksinasi diri. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya warga yang datang sejak pagi hari untuk mendapatkan vaksin.

“Intinya, kita bersyukur dapat melaksanakan vaksinasi kepada warga dan mudah -mudahan melalui kegiatan vaksinasi ini kita semua bisa tercegah dari penularan atau penyebaran Virus Corona kedalam tubuh. Harapannya, semoga tidak ada warga kami yang terpapar Covid-19,” pungkas Asep.

** Deny

Walhi Jabar Sebut Dampak Buruk Pengeboran Panas Bumi Star Energy Bisa Terjadi Getaran

0

Pamijahan | Jurnal Inspirasi

Rencana pengeboran energi  panas bumi atau drilling yang  dilakukan oleh PT star Energy Geothermal Salak Endah (SEGS) LTD di beberapa titik di Kecamatan Pamijahan Kabupaten Bogor,  kini sampai ke telinga  Walhi atau Wahana Lingkungan Hidup Indonesia.

Hal itu langsung ditanggapi langsung bagian hukum Walhi Provinsi Jawa Barat menurut Manager Advokasi dan Kampanye, Wahyudi Iwang, rencana tersebut tentu harus ada pengkajian yang matang. “Meksipun pihak perusahaan mengklaim tidak ada dampak tentu pasti ada dampaknya,” kata Iwang saat dikonfirmasi, baru- baru ini.

Iwang mengatakan, selain itu proses-proses partisipasi dokumen perizinan harus melalui proses partisipasi dan  masyarakat sekitar harus paham, mengerti, mengetahui dan aspirasinya harus tertuang dalam dokumen perizinan dan dalam Permen LH Nomer 7 Tahun 2012 terkait partisipasi publik.

“Karena poin poin  itu termasuk dalam kebijakan lainnya seperti kebijakan Peraturan Presiden (PP), Undang-undang Hak Asasi Manusia (HAM), Undang-undang No 32 tahun 2009 terkait (PPLH), itu diatur dalam segala kegiatan harus diketahui oleh masyarakat sekitar lokasi, dan harus melibatkan masyarakat,” katanya.

Bahkan menurutnya perusahaan Geothermal ini melakukan ekspansi atau perluasan, baik kecil maupun besar perluasan itu harus melalui mekanisme adendum dokumen perizinan.

“Sementara itu, pembuatan adendum tersebut harus melalui dokumen partisipatif, bagaimana mereka membuat adendum, membuat tim konsultan, pemerintah membuat komisi Amdal, sehingga proses-proses pembuatan Amdal tersebut harus melibatkan masyarakat sekitar,” tegasnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, dampak negatif terhadap masyarakat adalah getaran, semakin dalam pengeboran semakin tergantung kestabilan tanah, dan daya tampung di wilayah tersebut, sehingga jika itu tidak terprediksi dalam dokumen Amdal maka getaran tersebut akan dirasakan oleh masyarakat.

Lanjut Iwang, tidak hanya dampak getaran secara langsung yang dirasakan oleh masyarakat sekitar, akan tetapi dampak lain pun dirasakan seperti pasokan cadangang air berkurang, karena dirinya menilai ketika aktivitas itu berlangsung akan menebang  pohon di sekitar lokasi pengeboran.

“Maka ketika pembuka akses maka pohon-pohon pun pasti akan ditebang, sehingga resapan air pun berkurang, nah dalam adendum tersebut arus diketahui berapa hektar yang dilakukan oleh perusahaan, kalo di atas 1 hektar atau 5 hektar itu harus tukar guling, dimana turkar gulingnya sehingga masyarakat pun harus ikut tahu,” jelasnya.

Dalam hal ini, tentunya komisi Amdal harus mengukur daya tampung adendum ekspansi perusahaan di kawasan tersebut, lokasi tersebut mendukung dan mengukur daya tampungnya sehingga menjadi penilaian, jika tidak layak jangan mendukung adendum dokumen tersebut.

Tentunya dalam hal pencemaran, karbon di lokasi tersebut akan melebihi karbon yang ada di lokasi tersebut, ketika sudah melebihi maka akan berdampak pencemaran lingkungan, pencemaran udara, termasuk pencemaran air.

” Seramah-ramahnya perusahaan Geothermal yang dikatakan negara itu tetap berbahaya, jika pipa gas itu meledak tentu akan membahayakan masyarakat sekitar, tidak hanya itu, karena mungkin dalam proses pengeboran itu menggunakan bahan-bahan kimia yang akan mempengaruhi kontur tanah, kestabilan tanah, dan juga air bawah tanah, yang juga air tersebut digunakan selama ini oleh masyarakat,” tegasnya.

Iwang mengatakan, pencemaran udara pun tentu akan dirasakan karena karbon di lokasi tersebut menjadi meningkat, seperti perubahan iklim,  jika hal tersebut terjadi maka pihak perusahaan harus menyelamatkan permasalahan tersebut, tentunya kegiatan drilling harus jauh dari pemukiman dengan radius lima kilometer dari pemukiman warga sekitar.

“Ya memang tidak di atur secara spesifik tetapi biasanya kalo mengikuti Permen LH Tahun 2012, paling dekat itu jarak lima kilometer dari lingkungan masyarakat untuk aktivitas pengeborannya,” jelasnya.

Sementara itu Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan  Adian Napitupulu akan mempelajari terlebih dahulu rencana drilling yang akan dilakukan oleh PT Star Energy yang saat ini menjadi polemik ditengah  masyarakat Pamijahan.

“Akan dipelajari  terlebih dahulu permasalahannya yang saat ini terjadi,” singkatnya.

** Cepi Kurniawan