Covid Menggila, Dewan Desak RS Lapangan Kembali Diaktifkan

0
Devie Prihartini Sultani

Bogor | Jurnal Inspirasi

Jumlah positif Covid-19 di Kota Bogor semakin mengkhawatirkan. Pada Minggu (27/6) telah terjadi penambahan 262 kasus, dengan total kasus aktif sebanyak 3.03. Dengan demikian, sejak awal pandemi pada Maret 2020 hingga kini totalnya sudah mencapai 19.568.

Wali Kota Bogor, Bima Arya mengatakan, Bed Occupancy Ratio (BOR) rumah sakit di Kota Bogor per Sabtu (26/6) sudah mencapai 81,6% atau ada sebanyak 782 bed terisi dari kapasitas 958 unit, atau tersisa hanya 176 tempat tidur.

“Jumlah total nakes dan tenaga pendukung di RS atau faskes yang terpapar Covid-19 sudah menembus 336 orang,” ujar Bima kepada wartawan, Minggu (27/6).

Untuk jumlah faskes yang sempat ditutup lantaran adanya temuan kasus Covid-19, sambung Bima, hingga kini jumlahnya mencapai delapan fasilitas. “Persentase kenaikan kasus terkonfirmasi positif minggu ini mencapai 78%,” kata Bima.

Selain itu, kata Bima, lonjakan jumlah positif covid pun berimbas terhadap meningkatnya angka kematian akibat virus corona, dimana jumlahnya pada minggu ini naik hingga 125 persen.

Sementara itu, Anggota Komisi IV DPRD Kota Bogor Devie Prihartini Sultani mendesak Pemkot Bogor segera mengaktifkan kembali RS Lapangan, dibarengi dengan membuka tempat isolasi lain.

“Situasi ini membuat RS di Kota Bogor sudah tidak lagi mampu menangani pasien yang datang karena keterbatasan tempat tidur dan nakes. Sudah seharusnya RS Lapangan kembali dibuka,” ungkap Devie.

Devie mengaku bahwa setiap hari sejak pekan lalu, ia selalu menerima aduan dari pasien Covid-19 yang membutuhkan tempat tidur di rumah sakit dan alat bantu pernafasan.

“Keluarga pasien sudah panik, namun ketersediaan ruangan dan tempat tidur atau bed tidak ada. Saya sudah kontak kesana sini, jawabannya sana kamar penuh,” katanya.

Devie juga meminta pemerintah mengeluarkan aturan tegas untuk meredam cepatnya penularan Covid 19. “Masih banyak warga yang melanggar prokes, pemkot harus serius menghadapi ini,” jelasnya.

Tak hanya itu, pemkot juga mesti memperhatikan keperluan pangan bagi warga yang sedang isolasi mandiri dan tenaga kesehatan yang merawat pasien Covid-19 juga sudah banyak yang terpapar. “Apabila banyak nakes terpapar, lantas siapa yang akan menangani pasien,” tukasnya.

** Fredy Kristianto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here