29.1 C
Bogor
Sunday, August 2, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 710

Kepergok, 2 Pelaku Curanmor Babak Belur Dikeroyok Warga

0

Curi Sepeda Motor Milik Guru TK

Gunung Putri | Jurnal Bogor 

Dua orang pelaku pencurian sepeda motor di Desa Bojongkulur, Gunung Putri, Kabupaten Bogor, babak belur dikeroyok warga, Rabu (22/2/23) pagi.

Pelaku yang sudah berhasil membawa kabur sepeda motor korban, dihentikan warga, meski salah satu pelaku sempat kabur dan bersembunyi disemak belukar hingga kedua pelaku dibawa ke Pos Polisi Bojongkulur. 

“Awalnya saya sedang ngopi di warung, terus mendengar ada yang teriak, maling, maling, maling. Saya dan warga mengejarnya, akhirnya salah satu pelaku yang lari disemak-semak berhasil ditangkap, dan langsung dibawa ke pos polisi,” ucap Sumardi kepada wartawan. 

Sementara, Kapolsek Gunung Putri Kompol Bayu Tri Nugraha menyampaikan, sebelumnya pelaku ini tertangkap oleh warga, saat berhasil membawa kabur sepeda motor milik seorang guru, yang sedang diparkir didepan sekolahan taman kanak-kanak. 

“Pelaku sudah membongkar motor menggunakan kunci leter T, di salah satu TK di Desa bojongkulur. Namun aksinya ketahuan sama orang tua murid,” paparnya.

“Akhirnya kedua pelaku ditangkap, dan  diamankan ke pos polisi yang tidak jauh dari lokasi kejadian. Setelah polisi datang kedua pelaku dibawa ke Polsek Gunung Putri,” jelasnya. 

Kompol Bayu menyampaikan, saat ini kedua pelaku yang diduga pencurian sepeda motor telah diamankan di Mapolsek Gunung Putri bersama barang bukti dua unit sepeda motor

“Korban sudah membuat laporan polisi di Mapolsek Gunung Putri. Dan kedua pelaku ini dijerat dengan pasal 363 KUHP dengaan ancaman hukuman 5 tahun penjara,” pungkasnya.

** Nay Nur’ain

Siswa SMP Kosgoro Dilatih Kemandirian Melalui Home Stay dan Study Tour

0

Bogor | Jurnal Bogor

SMP Kosgoro Kota Bogor melaksanakan kegiatan Home Stay dan Study Tour ke daerah istimewa Yogyakarta pada 13-16 Februari 2023 di Desa Nglanggeran, Gunung Kidul. Kegiatan ini untuk melatih kemandirian siswa jauh dari orangtua dan mengenal budaya Jawa.

“Home stay ini dimaksudkan anak terbiasa hidup tinggal dengan orang lain yang bukan keluarganya sendiri dengan maksud untuk lebih mandiri, lebih menghargai orang lain  dan lebih bersyukur dengan kehidupannya sendiri, dan kita memilih Desa Nglanggeran, Gunung Kidul, Yogyakarta sebagai tujuan wisata dan program Home Stay ini,” ujar Kepala Sekolah SMP Kosgoro, Didik Sulaksono, S.Pd., Kamis (23/2/2023).

Selain melaksanakan Study Tour, para siswa lebih difokuskan ke kegiatan Homestay di rumah warga di desa wisata tersebut. Selain menginap para siswa juga diajarkan cara membatik dan membuat makanan khas yaitu Dodol Coklat.

“Ini merupakan agenda 2 tahunan, sebanyak 140 siswa yang mengikuti kegiatan  kali ini adalah siswa kelas 7 dan 8. Kegiatan Homestay dan Study-tour juga untuk mereka belajar budaya Jawa, seperti membatik dan membuat makanan jenis Dodol Coklat. Setiap rumah penduduk diisi oleh 4- 5 siswa kita,” jelas Didik.

Selain belajar budaya Jawa, siswa SMP Kosgoro pun mengunjungi beberapa tempat yang menjadi ikon Yogyakarta diantaranya Pantai Indrayanti, Tebing Breksi, Goa Pindul, Tour Jeep Merapi, dan Malioboro.

Sementara SMP Kosgoro yang berlokasi di Jl. Pajajaran No. 217A Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat ini pernah disematkan sebagai sekolah para juara. Banyak prestasi yang telah ditorehkan oleh para siswa siswi sekolah ini dan menjadikannya sekolah gudangnya juara.

SMP Kosgoro sendiri sejak awal berdiri memposisikan diri sebagai sekolah swasta dengan ciri khas disiplin siswa, berwawasan kebangsaan, dan berkeunggulan teknologi. SMP Kosgoro dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan ditunjang pula dengan fasilitas laboratorium komputer dan IPA, juga ditunjang perpustakaan, musholla, akses internet dan fasilitas penunjang lainnya. Tenaga pendukung kegiatan belajar terdiri dari 26 tenaga pendidik, 2 tenaga administrasi, dan 8 pelatih kegiatan ekstrakurikuler.

** Prast

Respons Laporan IPSM, Pemerintah Kecamatan Leuwisadeng Kunjungi Shalma

0

Leuwisadeng | Jurnal Bogor 

Pemerintah Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor mengaku optimistis untuk kesembuhan bayi berusia empat bulan yang didiagnosis hidrosefalus yang dialami Shalma, warga Kampung Babakan Sirna RT 02 RW 01, Desa Sadeng.

Meski demikian, Shalma anak kedua dari pasangan Siti Istianah (28) dan Burhanuddin itu masih membutuhkan penanganan yang cukup lama. 

“Karena penyakit ini butuh penanganan sedikit lama. Karena operasi pun informasi dari pihak keluarga dan dari dokter harus lebih dari tiga kali operasi. Ini butuh kesabaran, tetapi kami tetap optimis Shalma bisa selesai ditangani sampai sembuh,” kata Staf Kecamatan Leuwisadeng Dede kepada Jurnal Bogor saat berkunjung ke kediaman keluarga Shalma, Kamis (23/02/23).

Menurut dia, dalam kunjungan ini pihaknya menindak lanjut dari asesmen Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM). 

“Ini tindak lanjut dari IPSM untuk melihat kondisi bayi hidrosefalus,” kata Dede.

Shalma yang baru menjalani operasi satu kali itu, pihak kecamatan menjanjikan akan mengupayakan kebutuhan sang bayi. 

Saat ini yang dibutuhkan oleh keluarga pasien kebutuhan sehari-hari sang bayi seperti susu dan pampers. 

“Insya Allah kami upayakan semua kebutuhan, terutama bayi. Adapun pembiayaan BPJS mandiri yang sempat terkendala keuangan kita usahakan masuk ke PBI,” katanya.

Selain itu, Shalma yang membutuhkan biaya sebesar Rp80 juta untuk jalani operasi ini pun mendapat simpati dan dukungan dari berbagai pihak. Salah satunya Unit Pelaksana Teknis (UPT) Sentra Galih Pakuan Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI) yang juga datang langsung berkunjung ke kediaman Shalma.

** Andres

Warga Cikahuripan Sambut Positif Program PTSL

0

Klapanunggal | Jurnal Bogor

Program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSl) di Desa Cikahuripan, Klapanunggal, Kabupaten Bogor, direspons positif oleh warga. Pasalnya, masih banyak warga yang sudah bertahun-tahun memiliki lahan namun belum memproses kepemilikan lahan menjadi sertifikat. Warga berharap, program ini dapat berjalan dengan baik dan pemilik lahan dapat segera memiliki sertifikat.

“Kalau saya sangat senang adanya program PTSL ini, karena memang tanah milik saya sudah lama ingin dibuat sertifikat tapi karena gak ada uang jadi gak bisa buat sertifikat,” kata salah satu warga Desa Cikahuripan, Adit kepada Jurnal Bogor, Kamis (23/02/23).

Menurutnya, warga asli Desa Cikahuripan pada umumnya memang belum memiliki sertifikat sebagai bukti atas kepemilikan lahan. Pasalnya, warga menganggap jika proses pembuatan sertifikat itu mahal sehingga harus menyiapkan anggaran khusus. Sementara warga juga banyak yang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Jangankan untuk mengurus pembuatan sertifikat yang harus mengeluarkan biaya. Untuk keperluan sehari-hari saja kadang masih pas-pasan. Makanya para pemilik tanah disini, khususnya warga asli belum pada punya sertifikat,” ucapnya.

Dirinya berharap, program PTSL ini benar-benar dapat bermanfaat bagi warga dan tidak disalahgunakan oleh oknum yang ingin mencari keuntungan pribadi dengan adanya program ini.

“Ya kami berharap dapat meringankan warga jangan dikenakan biaya yang besar, karena informasinya kan program ini gratis. Tapi biasanya kan tetap aja ada biaya buat operasional atau apalah,” terangnya.

Sementara itu, Sekretaris Desa Cikahuripan, Encin mengatakan, Desa Cikahuripan mendapat alokasi sebanyak 1500 berkas untuk program PTSL. Untuk saat ini, pihaknya masih melakukan pendataan dan pemberkasan terhadap warga/pemilik lahan yang nantinya menerima program tersebsut.

“Saat ini masih pendataan dan pematokan lahan yang datanya sudah lengkap. Kalau untuk jumlah, kami mendapat alokasi sebanyak 1500 berkas yang nantinya akan dijadikan sertifikat,” pungkasnya.

** Taufik/ Nay 

Mengantuk, PJU di Jalan Jambu Ditabrak Rush

0

Leuwisadeng | Jurnal Bogor 

Tiang penerangan jalan umum (PJU) di jalan raya Jambu, Leuwisadeng, Kabupaten Bogor ditabrak mobil Rush bernomor polisi F 1034 FG. Akibatnya, bagian depan mobil rusak berat dan tiang PJU ringsek.

Beruntung dalam peristiwa kecelakaan itu tidak ada korban jiwa, namun kemacetan panjang sempat terjadi.

Menurut pengemudi Ega, mobil melaju di jalan dari arah Leuwiliang menuju Nanggung. Setibanya di tempat kejadian, dia mengantuk tanpa disadari mobil yang dikendarainya sudah menabrak tiang penerangan.

“Kejadiannya sekitar pukul 5:00 wib pagi, Iya ngantuk saat mengendarai mobil, sehingga tidak terkendali,” katanya, Kamis (23/02/23).

Pada kejadian ini pihak Dishub Jabar, Dishub Kabupaten dan anggota lantas Polsek Leuwiliang langsung turun mengevakuasi mobil dan mengatur arus lalu lintas di jalan tersebut.

“Evakuasi langsung dilakukan, untuk diderek, karena ini kerusakan mobil cukup parah di bagian depan, dan kita juga langsung tangani kerusakan tiang PJU yang rusak akibat tertabrak mobil ini,” tungkas kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dishub wilayah Jasinga Dedi. 

** Andres 

AHY: Kami Ingin Kapal Koalisi Ini Berlayar dan Menang

0

Kunjungan Surya Paloh ke Demokrat

Jakarta | Jurnal Bogor

Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyatakan optimistisnya Koalisi Perubahan dapat menarik hati masyarakat hingga bisa menang pada Pilpres 2024 mendatang. Hal ini diungkapkan AHY saat Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (NasDem), Surya Paloh bersilaturahmi ke kantor DPP Partai Demokrat, Rabu (22/2).

“Yang jelas kami ingin kapal koalisi (Koalisi Perubahan) ini bisa berlayar, dan mudah-mudahan tidak hanya berlayar, tapi bisa menang. Memenangkan suara, hati dan pikiran masyarakat kita untuk perubahan menuju Indonesia lebih baik ke depan,” kata AHY dalam keterangannya yang disampaikan Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP/Koordinator Juru Bicara DPP Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra.

AHY juga menegaskan bahwa sikap dan posisi politik Partai Demokrat untuk mengusung Anies Baswedan sebagai bacapres sebagaimana yang disampaikan pada 26 Januari 2023 lalu bukan hanya sekadar test the water. Sikap Demokrat telah melewati proses, konsultasi, komunikasi yang intensif di internal dan struktur Demokrat dari pusat hingga daerah.

“Kami sepakat bahwa untuk mengusung perubahan dan perbaikan, kita juga harus bisa memberikan ruang kepada Saudara Anies Baswedan untuk bisa menjadi calon presiden, atau bakal calon presiden yang juga diyakini bisa membawa atau merepresentasi gerakan perubahan,” jelas AHY.

Sementara kedatangan Surya Paloh di tengah guyuran hujan itu disambut hangat, dan dipayungi langsung oleh AHY. Dalam konferensi pers bersama seusai makan siang, AHY memaparkan kesamaan pandangan Demokrat dan NasDem dalam menyikapi berbagai isu nasional, salah satunya terkait wacana sistem pemilu proporsional tertutup. Demokrat dan Nasdem sepakat menolak upaya mengembalikan demokrasi yang sentralistik.

“Sejatinya, kita yang terus mengalami perubahan-perubahan sepanjang zaman telah meyakini bahwa sistem pemilu proporsional terbuka adalah yang terbaik, yang relevan, yang dibutuhkan dalam demokrasi semajemuk dan sedinamis Indonesia ini. Kalau kita kembali lagi ke sistem proporsional tertutup, artinya kita set back, mundur sekian belas tahun ke belakang,” jelas AHY.

Terkait Koalisi Perubahan, AHY menegaskan, bahwa komunikasi Demokrat , Nasdem dan PKS makin baik dan intensif. Menurut AHY, ketiga parpol telah memiliki semangat yang sama untuk mendorong perubahan dan perbaikan demi masa depan Indonesia yang lebih baik ke depan.

AHY juga menyampaikan kedekatan antara Partai Demokrat dan Surya Paloh yang sudah terjalin lama. Tepatnya, ketika Surya Paloh berjuang bersama SBY pada Pilpres 2004.

“Sebagai sahabat dan juga sebagai negarawan, beliau berdua  (SBY dan Surya Paloh) ingin terus meyakinkan bahwa regenerasi terjadi dengan baik, dan tentunya semua bertanggung jawab untuk menyiapkan masa depan Indonesia yang lebih baik,” kata AHY.

** Asep Saepudin Sayyev|*

Dewan Tolak Komersialisasi GOM

0

Bogor | Jurnal Bogor

Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mengkomersilkan Lapangan Taman Manunggal serta Gelanggang Olahraga Masyarakat (GOM) Kecamatan Bogor Utara dan Selatan, terus mendapat sorotan DPRD ‘Kota Hujan’.

Hal itu lantaran pemkot berencana mempihakketigakan pengelolaan sarana prasarana tersebut, serta mematok biaya sewa yang dinilai memberatkan, yakni Rp500 ribu per jam.

Wakil Ketua Komisi II DPRD Kota Bogor, Jatirin mengatakan bahwa legislatif menolak apabila fasilitas olahraga tersebut dipihakketigakan. Terutama untuk Lapangan Taman Manunggal. “Lapangan Manunggal sebelumnya memang lapangan bola, lagipula fungsinya kan taman jadi jangan dipungut biaya, mesti dikembalikan ke fungsi awal,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (22/2).

Menurut dia, berdasarkan hasil rapat dengan Dinas Perumahan dan Pemukiman (Disperumkim), apabila tidak dipungut biaya otomatis Pemkot Bogor harus menyiapkan anggaran Rp500 juta per tahun untuk biaya pemeliharaan.

“Kami di DPRD tak masalah, kita siap mendorong anggaran Rp500 juta untuk pemeliharaan. Kalau dijadikan sumber PAD salah besar, sebab kita tak punya fasilitas olahraga yang mumpuni,” jelas Jatirin.

Politisi PKB ini juga meminta agar area parkir di Taman Manunggal dan pedagang dikenakan retribusi dan ditata. “Jadi itu untuk membantu biaya pemeliharaan,” ucapnya.

Sementara mengenai komersialisasi GOM, Jatirin menegaskan bahwa Komisi II bersepakat bila pengelolaan dua GOM dilakukan secara swakelola oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora). “GOM itu bukan sarana mencari PAD, tetapi merupakan kewajiban pemerintah menyediakan fasilitas olahraga kepada warga,” katanya.

Jatirin menuturkan, berdasarkan hasil rapat dengan Dispora terdapat opsi biaya sewa GOM, yakni sebesar Rp350 ribu per dua jam. Dengan biaya pemeliharaan Rp390 juta per tahun, sementara profit yang didapat dengan opsi tersebut adalah Rp420 juta.

“Artinya Kota Bogor masih mendapatkan Rp30 juta per tahun dari penyewaan itu. Sehingga dewan mendorong agar pengelolaan kedua GOM dilakukan secara swakelola,” ucapnya.

Jatirin menegaskan, opsi swakelola dan tarif Rp350 ribu per dua jam sudah sangat tepat. Sebab, lapangan yang dibangun menggunakan APBD bertujuan untuk menyediakan fasilitas olahraga bagi masyarakat. “Lapangan sepakbola yang representatif sudah tidak ada di Kota Bogor. Jadi kalau pemerintah menjadikan GOM ajang mencari PAD ya salah,” tandasnya.

Sebelumnya, Kepala Dispora Kota Bogor Herry Karnadi mengatakan bahwa pihaknya sedang membuat kuiesioner mengenai kemampuan klub sepakbola lokal menyewa lapangan.

“Kami menambah variabel kemampuan klub lokal di menyewa lapangan, kita bakal lihat hasil analisanya,” ujarnya kepada wartawan, Senin (20/2).

Menurut dia, kuesioner yang dibuat merupakan usulan dari Wali Kota Bogor Bima Arya untuk menambah variabel dalam penentuan tarif sewa lapangan bola.

“Waktu itu baru dua variabel yang sudah kami analisis. Variabel pemeliharaan dan variabel perbandingan dengan stadion lain. Jadi kami tambah kajiannya,” ungkapnya.

Menurut Herry, usai dilaksanakan kajian penambahan satu variabel, pihaknya tengah menghitung besaran tarif ideal. Tarif itu, nantinya hanya berlaku untuk penggunaan lapangan bola menggunakan rumput sintetis.

“Waktu itu disampaikan Rp500 ribu, dan itu dilihat dari dua variabel. Memang kalau dilihat lapangan sejenis lain memang harga Rp500 ribu itu lebih murah. Lapangan Asiop Sentul, atau di Pancoram Soccer Field saja sampai Rp2 juta setiap dua jamnya,” jelasnya.

Herry menyatakan bahwa usulan tarif Rp500 ribu yang dibuka publik menimbulkan pro kontra. “Karena itu kajiannya ditambah variabel untuk kita teliti lagi,” tegasnya.

Kata dia, tarif yang dibebankan tersebut sebenarnya dilakukan agar memberikan rasa tanggungjawab kepada penyewa, dan saat ada pendapatan yang yang dihasilkan tentunya akan dimanfaatkan untuk pemeliharaan lapangan.

“Lapangan memang tahun pertama kondisinya bagus. Tapi, tahun kedua dan ketiga itu kalau revenuenya nggak balik yang rugi masyarakatnya,” ucapnya.

Kendati demikian, usulan besaran tarif sewa hingga hasil analisa dan kajian termasuk kuesioner yang telah dilakukannya tersebut disampaikan ke DPRD.

Lebih lanjut, sambung dia, kebijakan sewa lapangan harus dilakukan agar berkelanjutan dalam melakukan pengelolaan lapangan. “Kalau digratiskan dengan halnya Jakarta. Kan kalau digratiskan kita coba hitung aja. Pemeliharaan lapangan itu Rp400 juta per tahun. Lapangan besar dan ada foodcourtnya,” imbuhnya.n Fredy Kristianto

Fatimah Azzahro Butuh Perhatian Pemkab Bogor

0

Cileungsi | Jurnal Bogor

Fatimah Azzahro (16), warga Desa Dayeuh, Cileungsi, Kabupaten Bogor sampai saat ini masih terbaring menerima perawatan dari dokter RSUD Cileungsi. Sudah hampir dua minggu dirawat, kesehatan anak yatim piatu tersebut belum juga menunjukan perubahan.

Bahkan, Fatimah harus menjalani operasi untuk mengeluarkan cairan yang ada di paru-parunya. Dari hasil pemeriksaan dokter, Fatimah diklaim menderita penyakit pada bagian jantung, paru dan liver.

“Kata dokter penyakitnya itu, jantung, paru dan liver jadi sudah komplikasi. Bahkan harus dioperasi juga untuk mengeluarkan cairan di paru-parunya,” kata Ujang yang merupakan paman Fatimah.

Menurut Ujang, sebelum dioperasi, selama dirawat di RSUD Cileungsi, Fatimah harus melakukan terus transfusi darah dan perawatan intensif di ruang ICU. Namun, meski sudah hampir dua minggu dirawat, kesehatannya belum juga menunjukan perkembangan.

“Ya mudah-mudahan habis operasi kesehatannya bisa lebih baik. Karena selama transfusi darah dan dua minggu perawatan ini belum ada perubahan yang signifikan,” ujarnya.

Selain mengkhawatirkan kondisi keponakannya, Ujang juga was-was karena belum mendapat solusi terkait biaya perawatan dan operasi Fatimah selama dirawat di RSUD Cileungsi. Pasalnya, dua bulan sebelumnya, Fatimah juga sempat dirawat di RSUD Cileungsi selama satu minggu. 

“Sebelumnya kan pernah dirawat di RSUD Cileungsi juga hampir 10 hari. Tetapi waktu itu gak sampai operasi, jadi perawatan biasa. Itu pun kami tidak ada biaya dan harus menggunakan Jamkesda,” ujarnya.

Untuk saat ini, Ujang mengaku bingung memikirkan pembiayaan rumah sakit, karena kartu BPJS belum bisa digunakan lantaran baru dibuat dan belum aktif. Karena kalau mengandalkan keluarga, Fatimah sudah tidak memiliki keluarga lain yang dapat membantu.

“Saya sebagai pamannya juga tidak punya apa-apa, saudara hanya ada adik dan kakaknya Fatimah karena mereka memang sudah yatim piatu. Jadi benar-benar bingung. Apalagi kemarin pihak RSUD menyampaikan jika biaya selama masa perawatan sebelum operasi sudah habis Rp 13 juta,” tukasnya.

Ujang saat ini hanya bisa berharap adanya bantuan dari Pemerintah Desa Dayeuh atau Pemkab Bogor untuk membantu atau membebaskan biaya perawatan Fatimah selama di RSUD termasuk biaya operasi. Karena jika dibebankan kepada pihak keluarga, maka keluarga tidak akan mampu membayar semua biaya tersebut.

“Jangan kan untuk membayar biaya segitu banyak sampai puluhan juta. Untuk sehari-hari juga pas-pasan. Makanya saya sangat berharap adanya bantuan dari desa atau Pemkab Bogor,” tandasnya. \

** Taufik / Nay 

Gurandil Cariu Pindah ke Tanjungsari

0

Tanjungsari | Jurnal Bogor 

Aktivitas galian tanah di wilayah Bogor Timur seakan tidak ada hentinya. Jika beberapa waktu lalu fokus para penambang liar (Gurandil) berada di wilayah Cariu, kini para penambang tersebut bergeser ke Kecamatan Tanjungsari. Salah satunya adalah aktivitas galian tanah di Desa Sirnarasa, Tanjungsari, Kabupaten Bogor.

Meski kerap mendapat keluhan dari warga karena aktivitas galian yang menyebabkan jalan menjadi licin dan rusak, namun hal itu sepertinya tidak digubris oleh para pengusaha galian. Pasalnya, aktivitas kerap beroperasi meskipun kondisi cuaca hujan.

“Lumayan sudah lama galian ini buka. Ya begini kondisinya, apalagi kalau hujan jalan jadi kotor dan licin jadi kalau bawa motor harus pelan-pelan,” kata Umar, salah satu warga Sirnarasa kepada Jurnal Bogor, Rabu (22/02/23).

Menurut dia, keberadaan galian tanah clay tersebut mungkin bermanfaat bagi sekelompok orang. Namun bagi warga umumnya keberadaan galian tersebut justeru malah membuat persoalan baru. Selain kondisi jalan yang dipenuhi tanah dan membahayakan para pengguna jalan. Kondisi jalan juga akan mengalami kerusakan. Karena setiap hari dilintasi truk dengan muatan berat.

“Kondisi jalan ini kan kecil dan ngepas kalau truk lewat. Jadi kalau ada mobil papasan jadi gak bisa lewat. Belum lagi jalannya nanti jadi rusak karena setiap hari dilewati puluhan kendaraan tronton,” ujarnya.

Umar berharap, ada tindakan tegas dari pemerintah setempat atau Pemerintah Kabupaten Bogor agar melakukan tindakan tegas dan segera menghentikan aktivitas galian tanah tersebut. Karena, warga merasa sangat dirugikan akibat keberadaan galian tersebut.

“Mending ditutup aja. Manfaat sama kerugian lebih banyak kerugian yang dirasakan warga. Yang merasakan manfaat paling sekelompok orang aja,” cetusnya.

Menurutnya, galian tersebut merupakan lokasi baru yang merupakan perpindahan dari lokasi lama yang berada di cariu. “Mungkin di sana sudah tidak boleh gali lagi maka pindah ke sini,” tandasnya.

Sementara itu, Camat Tanjungsari, Totok Supriyadi yang dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp belum memberikan tanggapan terkait keberadaan lokasi galian di Desa Sirnarasa tersebut.

** Taufik/Nay 

Jelang 2024, Polda Jabar Optimalkan Kinerja Bhabinkamtibmas

0

Gunung Putri | Jurnal Bogor

Menyambut perhelatan politik 2024, Polda Jabar melalui Subdit Bhabinkamtibmas menggelar pilot project optimalisasi kinerja Bhabinkamtibmas di wilayah Bogor. Untuk wilayah Bogor kegiatan pertama digelar di Aula Desa Gunung Putri yang dihadiri oleh seluruh Kepala Desa dan Bhabinkamtibmas se – Kecamatan Gunung Putri. Melalui asistensi tim supervisi tersebut diharapkan adanya sinergitas antara Babinsa, Bhabinkamtibmas dan kepala desa dalam menciptakan kondusifitas wilayah jelang Pemilu 2024.

“Kegiatan ini merupakan pilot project Direktrorat Bimas Polda Jabar dimana kami akan menilai wilayah mana yang diunggulkan dalam mendongkrak ekonomi masyarakat, mendukung Harkamtibmas menjelang Pemilu 2024,” kata Kasubdit Babinmas Polda Jabar, AKBP Wawan Hermansyah kepada wartawan.

Menurutnya, tiga pilar yakni Babinsa, Bhabinkamtibmas dan Kepala Desa merupakan tiga unsur yang tidak bisa dipisahkan dan saling bersinergi dalam mewujudkan keamanan, ketertiban di masyarakat. Oleh karena itu diperlukannya komunikasi dan sinergitas diantara ketiga pilar tersebut termasuk dengan Muspika agar keamanan dan ketertiban dapat benar-benar terwujud.

“Kegiatan ini juga merupakan salahsatu bagian dari program Polda Jabar untuk menyambut pelaksanaan Pemilu 2024,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Wawan, pihaknya akan mengunjugi beberapa lokasi untuk melihat produk unggulan masyarakat, baik ibu-ibu PKK atau komunitas yang nantinya dapat dijadikan contoh bagi pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia.

“Nanti akan kami sampaikan kepada pimpinan jika ada produk unggulan yang bisa dibawa ke tingkat provinsi atau nasional yang merupakan program kreativitas masyarakat,” jelasnya.

Terkait kendala dalam program keamanan dan ketertiban di masyarakat, Wawan menilai sejauh ini tidak ada kendala yang krusial. Dari laporan sejumlah kepala desa, ia melihat kendala hanya pada aspek sarana dan pra sarana.

“Kendala hanya di sarana dan prasarana pendukung saja. Kalau untuk kerjasama saya melihat sudah sangat baik,” tandasnya.

** Taufik / Nay