24.1 C
Bogor
Wednesday, April 8, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 1147

Samisade Desa Ciampea Bangun Jalan yang Rusak Parah Sejak Zaman “Siti Nurbaya”

0

Ciampea | Jurnal Inspirasi

Kepala Desa Ciampea Maman Suparman merealisasikan bantuan Samisade (Satu Miliar Satu Desa) dari Pemerintah Kabupaten Bogor untuk pembangunan di dua titik jalan penghubung antarkampung. Seperti pada Selasa (13/7/2021), Kades langsung meninjau pembangunan jalan di Kampung Mekarjaya, RT 02 RW 01 yang dikerjakan oleh Tim Pelaksana Kerja (TPK) yang melibatkan RT dan RW juga masyarakat sekitar.

Kades Ciampea menjelaskan, memilih jalan Mekar Jaya menjadi titik dibangun oleh anggaran Samisade karena jalan tersebut sudah sejak zaman ‘Siti Nurbaya’ tidak bangun dan merupakan akses yang sering digunakan warga.

“Kita untuk Samisade ini dibangun dua titik titik pertama kampung Lebak Sirna RT 02,03 RW 06 dan titik kedua Kampung Mekarjaya RT 02 RW 01 dengan panjang 350 meter, tinggi 18 cm dan lebar 3 meter dengan betonisasi,” kata Maman kepada wartawan.

Maman mengatakan akses jalan yang dibangun menggunakan dana bantuan Samisade itu merupakan akses yang biasa digunakan sebagai aktivitas warga, baik yang menambang maupun pertanian. “Dengan dibangunnya jalan ini menggunakan anggaran Samisade kami berharap bisa lebih meningkatkan perekonomian warga apalagi akses yang di kampong,” katanya.

Sementara Ketua RT 02 RW 01 Kampung Mekarjaya, Suhardi mengatakan, jalan tersebut memang sudah puluhan tahun tidak dibangun. “Alhamdulillah sekarang dibangun saya mewakili warga mengucapkan banyak terimakasih untuk Kepala Desa dan Bupati Bogor yang telah merealisasikan bantuan Samisade ini,” ucapnya.

Diketahui Bantuan Samisade ini merupakan bantuan dari Pemerintah Kabupaten Bogor yang digelontorkan untuk desa yang ada di Kabupaten Bogor dengan anggaran per desa 1 miliar rupiah yang diprioritaskan untuk pembangunan infrastruktur seperti jalan.

** Cepi Kurniawan

Pemdes Cihideung Udik dan Ibu PKK Buat Dapur Umum untuk Warga Isoman

0

Ciampea | Jurnal Bogor

Mencegah warga yang sedang isolasi mandiri (isoman) mengalami kelaparan dan mengantisipasi terjadinya hal yang tidak diinginkan, Pemerintah Desa Cihideung Udik, Kabupaten Bogor bersama ibu PKK membuat dapur umum untuk warga yang sedang isoman.

Diketahui sampai saat ini, di Cihideung Udik, Kecamatan Ciampea, sejak beberapa waktu hari lalu ada 15 orang yang melakukan isoman, baik di tempat isolasi di Kawaluyaan (sebuah vila yang dijadikan tempat isolasi) maupun yang sedang melakukan isoman di rumah masing-masing.

Menurut Sekdes Cihideung Udik, Gunawan Setiawan, pihaknya atas instruksi kepala desa selaku Gugus Tugas tingkat desa, selain menyediakan rumah isolasi untuk warga yang terpapar, juga telah menyediakan dapur umum guna memenuhi asupan makanan bergizi untuk mereka yang sedang melakukan isoman.

“Ini bentuk kepedulian Pemerintah Desa Cihideung Udik dibantu ibu PKK, kami menyediakan dapur umum dan yang memasak itu ibu-ibu PKK dibantu gugus tugas desa,” kata Sekdes Cihideung Udik, Gunawan Setiawan kepada wartawan, Selasa (13/7/2021).

Gunawan juga mengatakan di dapur umum itu, ibu-ibu PKK memasak setiap pagi mengolah masakan yang memiliki gizi tinggi seperti sayur-mayur dan tempe untuk warganya yang terpapar Covid-19. “Mereka setiap pagi diberi makanan yang bergizi agar pasien yang sedang melakukan isoman segera pulih,” katanya.

Setelah menu makanan untuk warga isoman selesai dimasak, dan dimasukan kedalam bok, gugus tugas langsung membagikan makanan tersebut ke rumah warga yang sedang isoman dan ditempat isolasi.

Lebih lanjut pihak desa untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 telah melakukan berbagai cara dan upaya, selain melakukan himbauan juga melakukan penyemprotan disinfektan di berbagai titik. “Kami juga terus mengimbau masyarakat untuk melakukan vaksinasi guna meningkatkan herd Immunity guna mencegah penyebaran Covid-19,” pungkasnya. 

** Cepi Kurniawan

Terdampak PPKM Darurat, Penjualan Hewan Kurban Anjlok

0

Dramaga | Jurnal Inspirasi

Sejumlah pedagang hewan kurban di wilayah Bogor, khususnya di wilayah perbatasan yang menerapkan penyekatan PPKM Darurat mengalami penurunan omset. Kondisi ini membuat pedagang sapi dan kambing hanya bisa geleng-geleng kepala. Meksipun ada penjualan, namun tidak seramai sebelum pandemi.

Hal itu diungkapkan pedagang hewan kurban asal Cibinong, Kharisma. Dia mengatakan kondisi saat ini berjualan hewan kurban terbilang lesu. Meskipun untuk dirinya tidak begitu parah karena sudah memiliki beberapa langganan atau konsumen tetap. Namun dampak buruk justru dirasakan oleh rekan-rekannya yang baru saja merintis berjualan hewan kurban disaat pandemi saat ini.

“Kalau untuk saya tidak begitu terdampak, selain saya sebagai suplayer juga saya sudah memiliki beberapa konsumen tetap  jadi penurunan penjualan ada, tapi tidak begitu besar. Lain hal dengan rekan-rekan saya yang baru mencoba atau baru beberapa tahun menggeluti usaha ini tentu mereka banyak yang mengeluh,” tuturnya.

Alasannya kata dia, karena saat ini jalur yang biasa ramai dikunjungi atau dilewati banyak orang saat adanya pemberlakuan PPKM Darurat seperti ini banyak titik penyekatan. “Rekan-rekan saya yang berjualan di Pakansari contohnya, saat adanya penyekatan PPKM Darurat saat ini jalur tersebut sepi,” katanya.

Ditambahnya, apalagi mereka yang tidak tahu bakal adanya PPKM Darurat  telah membeli sapi dari Jawa dengan harga murah. Namun karena adanya PPKM Darurat pelanggan jadi sepi. “Turunya sekitar 30 persen kalau untuk yang di Pakansari, biasa kan jalur tersebut ramai karena sepi ya penjualan menurun bahkan harga pun ikut anjlok. Biasa sapi ukuran standar itu Rp 25 juta rupiah, namun sekarang 23 juta, untuk kambing harganya relatif normal sekitar Rp 3 juta,” kata Kharisma.

Tidak hanya pedagang yang membuat lapak di sekitaran pusat perkotaan, untuk di wilayah Kabupaten Bogor bagian barat seperti di Dramaga hingga Leuwiliang, penjualan hewan kurban ikut anjlok. Seperti yang diungkapkan oleh Beni (35), saat ini jelang beberapa hari Idul Adha dirinya baru menjual 3 ekor kambing. Biasanya  jelang sepekan lagi  Idul Adha sudah 10 ekor kambing yang dijualnya.

“Bener bener berdampak penjualan hewan kurban saat ini, sangat terasa ya mudah-mudah jelang hari H bisa banyak pembeli,” pungkasnya.

** Cepi Kurniawan

Ibu Hamil Jadi Korban Pencopetan di Pasar Leuwiliang

0

Leuwiliang | Jurnal Inspirasi

Seorang ibu hamil asal Nanggung, Yana (30) yang berniat menjual perhiasan untuk selamatan 7 bulanan menjadi korban pencopetan saat sedang berbelanja di Pasar Leuwiliang, Selasa (13/7/2021), pukul 10.00 WIB. Ibu rumah tangga asal Kampung Ciketug, Desa Pangkaljaya, Kecamatan Nanggung ini mengatakan, kejadian pencopetan itu terjadi saat ia sedang membeli bawang.

“Pas saya mau bayar bawangnya ternyata isi dompet sudah sudah tidak ada, emasnya belum kejual terus pas saya periksa tas sudah gak ada,” ungkap Yana saat dikonfirmasi.

Berdasarkan pengakuan Yana, beberapa barang berharga miliknya diambil pelaku dari tasnya berupa kalung 7 gram, liontin satu gram, cincin dua gram, cincin anaknya satu gram dengan total kerugian sekitar Rp 4 jutaan.

“Niat jual emas untuk slametan hamil tujuh bulanan, kejadian sekitar pukul 10.00 Wib, kalau handphone dibawa karena ada di bawah,” kata Yana.

Kemudian, kata Yana, dia langsung melaporkan kejadian tersebut kepada pihak keamanan pasar Leuwiliang. “Terus ini juga saya dikasih uang 15 ribu sama pak Satpam pasar buat ongkos,” ucapnya.

Sementara itu Kepala PD Pasar Leuwiliang Aldino membenarkan kejadian pencopetan yang menimpa ibu rumah tangga. “Ya benar, kami sudah menerima laporannya, dan saat ini pihak keamanan pasar sedang mencari (pelaku-red),” ujarnya.

Aldino menambahkan, kejadian pencopetan baru kali terjadi lagi, terakhir kejadian semenjak Ramadhan 2021. “Nanti kita cari dulu 2 x 24 jam, kalau memang tidak ketemu, kalau mau kita seriusin nanti kita buat laporan ke Polsek,” tandasnya.

Di lokasi terpisah Kanit Intelkam Polsek Leuwiliang AKP Idang Sutarlan mengimbau kepada masyarakat untuk lebih berhati-hati terlebih saat sedang berbelanja di lingkungan pasar.

“Kalau bisa jangan bawa uang banyak, bawa secukupnya saja, nanti kalau memang tidak ketemu juga silakan untuk membuat laporan ke kantor untuk bahan kita (tindaklanjuti) karena ini sudah meresahkan warga,” pungkasnya.

** Cepi Kurniawan

Diduga Stres, Warga Cileungsi Bakar Rumah Sendiri

0

Ciawi | Jurnal Bogor

Diduga stres, warga Kampung Cipaok RT 02 RW 04 Desa Cileungsi, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, membakar rumahnya sendiri hingga habis dilalap si jago merah. Kebakaran itu terjadi pada Selasa (13/7) pagi atau sekitar pukul 08.40 WIB.

Beruntung dalam peristiwa tersebut, tidak ada korban jiwa dan pemilik rumah yang bernama Ujang, langsung diamankan warga.

Entis, staf Desa Cileungsi membenarkan kejiwaan Ujang terganggu atau stres. Dan itu dikatakannya, setelah mendapatkan laporan dari RT dan RW maupun BPD yang tempat tinggalnya tidak jauh dari Ujang.

 “Informasinya memang benar warga tersebut stres. Bahkan, di rumahnya banyak sekali barang rongsokan yang dikumpulkan,” ujarnya kepada Jurnal Bogor saat dihubungi melalui telepon selulernya.

Namun, Entis tidak tahu semenjak kapan warga bernama Ujang mengalami depresi. “Kalau stres dari kapannya sih saya tidak tahu,” ungkap Entis.

Sementara, berdasarkan laporan yang masuk ke Markas Komando (Mako) Dinas Pemadam (Damkar) Kabupaten Bogor Sektor Ciawi pada pukul 08.45, petugas Damkar langsung berangkat pukul 08.50 WIB dan tiba di lokasi kejadian kebakaran jam 09.00 WIB.

“Dalam waktu 1 jam 20 menit atau pukul 10.20 WIB, api bisa dipadamkan oleh petugas kami,” papar Kepala Damkar Sektor Ciawi, Nendri.

Untuk memadamkan api yang berasal dari lilin itu, lanjut Nendri, Damkar Sektor Ciawi menurunkan regu tiga dengan dua unit kendaraan Damkar. Dalam proses pemadaman berjalan dengan lancar, tanpa adanya kendala. “Hanya satu rumah yang terbakar,” imbuhnya.

Nendri pun membenarkan, kejadian kebakaran itu bersumber dari lilin dan langsung membakar rumah milik Ujang yang bangunannya menggunakan bilik bambu. “Dan pemilik rumah dari informasi tetangganya sih memang stres,” tukasnya.

** Dede Suhendar

Cegah Penularan, Ribuan Warga Jonggol Divaksin Covid

0

Jonggol | Jurnal Inspirasi

Pemerintah Kecamatan Jonggol melakukan vaksinasi massal Covid-19 untuk warganya yang mencapai 2000 orang lebih di GOM Jonggol, Senin (12/7). Upaya ini sebagai ikhtiar untuk mencegah penularan Covid-19 yang saat ini sedang menggila dengan meningkatnya jumlah kematian.

Camat Jonggol Andri Rahman mengatakan, vaksinasi massal ini didominasi oleh usia di bawah 50 tahun dan remaja yang baru menginjak dewasa. Diakui Camat, mereka yang semula enggan untuk divaksin karena khawatir dengan isu-isu yang ada, akhirnya dengan kesadarannya mendaftarkan diri untuk mengikuti vaksinasi massal ini.

“Vaksinasi ini kita buka dari pukul 08.00 pagi sampai dengan pukul 17.00 WIB, dengan vaksin dosis 1 dan dosis 2,” kata Andri Rahman kepada Jurnal Bogor, Selasa (13/7).

Masih kata dia, jumlah orang yang divaksin ada sekitar 1.780 orang dari 2017 orang yang datang untuk divaksin karena ada sekitar 237 orang yang tidak bisa divaksin karena komorbid. “Vaksinasi ini kita buka untuk dosis 1 dan 2, karena memang ada warga yang sama sekali belum divaksin dan ada yang sudah di vaksin, namun belum yang kedua, untuk vaksin dosis 1 ada sekitar 1.032 orang dan untuk vaksin dosis 2 ada 457 orang,” jelasnya.

Dia berharap masyarakat untuk terus menjaga kesehatan walaupun sudah divaksin agar tetap patuh protokol kesehatan. Dalam kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Muspika Jonggol, Puskesmas Jonggol, Puskesmas Balekambang, Puskesmas Sukanegara, RS Permata Jonggol, RS Harapan Mulia Cibarusah, IBI Ranting Jonggol, Klinik AL Sukamanah, Klinik swasta seputar Jonggol, para guru SD / SMP / operator se Kecamatan Jonggol, karang taruna, relawan, pramuka dan unsur lainnya yang turut mengkondusifkan kegiatan vaksinasi massal tersebut.

** Nay Nur’ain

Antusiasme Warga Gunung Putri Divaksin Covid Bertambah

0

Gunung Putri | Jurnal Inspirasi

Pemerintah Desa Gunung Putri, Kabupaten Bogor kembali melakukan vaksinasi massal Covid-19 untuk warganya yang sudah berlangsung selama 2 hari lalu yang dilakukan di aula kantor desa. Kepala Desa Gunung Putri Daman Huri mengaku vaksinasi kali ini sangat kondusif karena masyarakat diatur jadwal kedatangannya ke kantor desa untuk divaksin, begitupun antusiasme masyarakat juga makin bertambah.

“Sebelumnya masyarakat agak sulit jika diajak untuk divaksin, tapi saat ini justeru malah kita kewalahan banyak yang minat,” jelas A Heri sapaan akrabnya kepada Jurnal Bogor, Selasa (13/07).

Menurutnya, kembali masuknya Desa Gunung Putri menjadi zona merah harus menjadi perhatian khusus , mengingat sudah tembus ratusan warga yang melakukan isolasi mandiri (isoman), ditambah dengan warga yang juga meninggal dunia.

“Kuota saat ini kami mendapat 300 orang untuk divaksin dengan didominasi usia 50 tahun kebawah, kami bagi menjadi 2 hari Senin dan Selasa agar tidak terjadi kerumunan,” katanya.

Diaberharap dan menghimbau kepada masyarakat walaupun nantinya sudah divaksin bukan berarti harus mengabaikan protokol kesehatan, tetapi harus tetap menjaga kesehatan dan banyak mendekatkan diri kepada Sang Pencipta karena dialah pemilik alam semesta dan isinya ini.

“Saya tak lelah untuk terus menghimbau kepada masyarakat agar jaga jarak, pakai masker, rajin cuci tangan, rutinkan berjemur di pagi hari, dan jangan lupa tingkatkan ibadah kepada Sang Pencipta disertai shadaqoh,” pungkasnya penuh harap.

** Nay Nur’ain

Sektor Hotel dan Restoran Anjlok

0

60 Persen Karyawan Dirumahkan Tanpa Digaji

Bogor | Jurnal Inspirasi

Penerapan PPKM Darurat ternyata berdampak besar bagi beberapa sektor perekonomian. Di Kota Bogor, sektor pendapatan perhotelan anjlok hingga 15,73 persen. Akibatnya, beberapa hotel mengambil langkah merumahkan karyawannya tanpa digaji.

Kepada wartawan, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia PHRI Kota Bogor, Yuno Abeta Lahay mengatakan, selama PPKM Darurat okupansi hotel hanya delapan persen. “Normalnya diantara 60-65 persen per bulan dari 35 hotel dari kelas melati hingga bintang 4 empat,” ujar Yuno di Puri Begawan, Senin (12/7).

Selain itu, kata dia, sejumlah penginapan terpaksa merumahkan 60 persen karyawannya lantaran okupansi hotel anjlok hingga di bawah 15,73 persen. Sedangkan 40 persennya tetap bekerja, tetapi tak setiap hari.

“Ya, itu sudah terjadi dari dua pekan lalu. Semua hotel dan restoran sekarang menerapkan kebijakan dirumahkan tanpa dibayar,” katanya.

Lebih lanjut, sambung dia, restoran pun turut terdampak akibat tidak boleh ada konsumen yang makan di tempat. “Pegawai yang bekerja sebagai pelayan yang paling banyak tidak terpakai. Sekarang kami sedang berupaya untuk bisa bertahan bagaimana caranya,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, pihaknya sedang meminta Pemkot Bogor menunda pembayaran pajak selama tiga bulan. “Kami sudah minta keringanan ke Bapenda untuk yang bulan lalu tidak kita setorkan bulan ini. Mudah-mudajan bisa ada penundaan tiga bulan seperti tahun lalu,” jelasnya.

Ia menambahkan, bila PHRI Pusat sedang mencoba meminta pelonggaran dari sisi tagihan listrik dan BPJS untuk ditunda pembayarannya. Termasuk kompensasi bagi hotel yang menggunakan rekening industri, seperti rekening bisnis PLN, agar biaya abudemen bisa dihapuskan.

** Fredy Kristianto

Bupati Copot Kepala Puskesmas Situ Udik

0

Cibinong | Jurnal Inspirasi

Bupati Bogor Ade Yasin resmi mencopot Kepala Puskesmas Situ Udik dan dua staf dari jabatannya usai viral video sedang asik karaoke di jam kerja. Padahal pada waktu kejadian, ada ibu hamil datang yang akan berobat tapi malah tutup pelayanan.

“Hari ini dicopot, Kepala Puskesmas (Situ Udik) dan dua staf yang karaoke di jam kerja,” kata Ade Yasin kepada wartawan, Senin (12/7).

Bahkan, dirinya telah memberi sanksi teguran secara langsung saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi pada Sabtu, 10 Juli 2021.

“Tadinya kalau ada alat karaokenya mau saya sita, tapi hasil sidak ternyata tidak ada tapi menggunakan sound system untuk memanggil pasien,” tegasnya

Bahkan, Ade menjelaskan apapun alasannya itu salah, karena dilakukan pada saat jam kerja. Bahkan, pihaknya meluruskan narasi yang beredar mengenai ibu hamil tersebut tidak positif Covid-19, melainkan ada perekam videonya yang reaktif.

“Ini ada simpang siur informasi, untuk perekam video viral yang positif itu sudah ditangani oleh Satgas Covid-19 ke Wisma Kemang untuk diisolasi,” kata Ade Yasin.

** Cepi Kurniawan

Pemeriksaan STRP, tak Sedikit Calon Penumpang KRL Stasiun Bojonggede Kembali Pulang

0

Bojonggede | Jurnal Bogor

Hari pertama pemeriksa Surat Tanda Registrasi Pekerja (STRP) di Stasiun KRL Commuter Line Bojonggede, Kabupaten Bogor pada Senin (12/7/2021), didapati tidak sedikit calon penumpang KRL yang kembali pulang.

Calon penumpang KRL Anggi (28) yang bekerja di Jakarta mengatakan, dia terpaksa harus kembali pulang karena tidak bisa masuk stasiun karena ada pemeriksaan STRP oleh petugas. Ia mengaku belum tahu adanya syarat wajib mulai tanggal 12 Juli 2021 selama PPKM Darurat ada keharusan SRTP.

“Kecewa sih, mana banyak kerjaan lagi terpaksa pulang lagi mau lewat angkutan lain ada penyekatan juga, paling nanti telepon bos dulu agar dibuatkan STRP,” katanya.

Hal serupa diungkapkan Agus (40), ia mengaku tidak bisa naik KRL commuter line di Stasiun Bojonggede lantaran dirinya tidak bisa menunjukan surat sebagai syarat untuk naik KRL. “Saya mau vaksin di Caringin tapi ini gak bisa katanya harus bawa surat keterangan dari pihak desa dan RT,” katanya.

Sementara menurut Edi Nursalam, Direktur Prasarana BPTJ Jabodetabek Kementerian Perhubungan, antrean calon penumpang untuk saat ini cukup kondusif. Edi menambahkan hari pertama pemeriksaan SRTP di Stasiun KRL Commuter Line Bojonggede memang tidak sedikit calon penumpang yang kembali pulang.

Mereka yang pulang karena tidak menunjukkan STRP yang bekerja di sektor esensial dan kritikal. Memang lanjutnya tidak jarang calon penumpang yang bekerja di sektor informal. “Kami pun sempat kebingungan karena masih banyak calon penumpang KRL yang ingin naik kereta itu di sektor informal,” katanya.

Kapolsek Bojong Gede, AKP Dwi Susanto mengatakan, situasi di Stasiun Bojonggede, Kabupaten Bogor, Senin (12/7/2021) saat pemberlakuan PPKM Darurat berlangsung kondusif dan tidak ada penumpukan calon penumpang pengguna KRL Commuter Line.

Dwi Susanto  mengatakan, tertibnya calon penumpang tidak terlepas dari evaluasi penumpukan massa yang terjadi pada pekan lalu. Dari sana, imbuh Dwi, petugas gabungan, TNI, Polri, Pol PP, Dinas Perhubungan, langsung bergerak cepat melakukan pengawasan dan penegakan disiplin.

“Jadi Senin pagi hari ini kita sudah antisipasi pembelajaran dari minggu kemarin, kita lihat juga yang tidak memiliki STRP tidak bisa naik kereta, untuk itu kami bersama tiga pilar kami melakukan penyekatan di Stasiun Bojonggede,” pungkasnya. 

** Cepi Kurniawan