28.5 C
Bogor
Thursday, May 7, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 706

Warga Cicadas Fokus Kembangkan Pertanian Hidroponik

0

Gunung Putri | Jurnal Bogor 

Program ketahanan pangan di Desa Cicadas, Gunung Putri, Kabupaten Bogor, mendapat respons positif dari warga. Pasalnya, program tersebut sangat dirasakan manfaatnya, khususnya bagi para kelompok tani yang tidak lagi memiliki lahan.

Dengan memanfaatkan perkarangan dan lahan terbuka yang tidak terlalu luas, warga di Desa Cicadas kini terus fokus untuk mengembangkan pertanian hidroponik beberapa komoditi yang menjadi kebutuhan masyarakat, khususnya jenis sayuran.

“Untuk di RW 5 ini pertanian hidroponik yang kami tanam ada beberapa jenis, dari mulai pakcoy, sawi, selada dan kangkung. Jenis tanaman sayur ini memiliki masa panen yang hampir sama jadi bisa dapat ditanam secara bersamaan,” kata Ketua RT 03/05 Desa Cicadas Jaya kepada Jurnal Bogor, Senin (16/01/23).

Menurutnya, di Desa Cicadas ada tiga kelompok tani yang fokus mengembangkan pertanian hidroponik dengan komoditi sayuran yang sama. Hal itu lantaran, di wilayah Desa Cicadas sulit sekali ditemukan lahan luas untuk pengembangan sektor pertanian. Oleh karena itu, pilihan untuk mengembangkan pertanian hidroponik merupakan pilihan yang paling tepat.

“Apalagi kami mendapat support dari salah satu perusahaan di Desa Cicadas yang membantu untuk sarana dan prasarana pertanian hidroponik ini jadi sangat terbantu,” ungkapnya.

Pengembangan pertanian hidroponik, sambung Jaya, cukup memberikan keuntungan bagi para kelompok tani, terlebih jika lahan hidroponik semakin banyak yang otomatis akan meningkatkan produksi. Untuk saat ini, kata dia, dalam setiap masa tanam hingga panen, hasil dari pertanian hidroponik sudah dapat dinikmati oleh kelompok tani. Sementara untuk sisa anggaran disisihkan untuk tabungan yang akan dibagikan pada akhir tahun.

“Kalau untuk pemasaran hasil pertanian ini kami biasanya jual langsung ke warga Cicadas. Biasanya kami memberikan pengumuman kepada masyarakat jika pertanian ini sudah panen sehingga warga dapat langsung membeli ke lokasi,” tuturnya.

Jaya menuturkan, untuk satu lahan pertanian hidroponik, modal yang dibutuhkan untuk bibit dan pupuk mencapai Rp 1 juta. Modal itu diluar kebutuhan peralatan seperti rak dan sistem penyiraman otomatis.

“Kalau untuk bibit dan pupuk paling habis Rp 1 juta. Namun kalau pupuk itu bisa digunakan untuk beberapakali masa tanam,” ujarnya.

Terkait kendala yang dihadapi para kelompok tani di Desa Cicadas, Jaya menegaskan jika kendala utama dalam pengembangan pertanian hidroponik ini adalah hama dan cuaca yang cepat berubah. Diluar kedua hal tersebut, para petani tidak mengalami banyak kendala, lantaran proses menanam sayuran-sayuran tersebut cukup mudah.

“Kendala utama adalah hama dan cuaca. Kalau untuk teknik pertanian kami juga sudah dibekali pelatihan jadi tidak terlalu mengalami kendala,” pungkasnya.

** Taufik/Nay 

Pria Diduga Gantung Diri di Pohon Manggis Gegerkan Warga

0

Leuwiliang| Jurnal Bogor 

Warga Kampung Angsana RT 03 RW 07 Desa Cibeber II, Leuwiliang, Kabupaten Bogor digegerkan oleh pria yang gantung diri di sebuah pohon manggis. 

Kapolsek Leuwiliang Kompol Agus Supriyanto mengatakan, jasad korban ditemukan pukul 08.00 WIB. Awalnya, terdapat salah satu saksi yang sedang beristirahat di saung yang tidak jauh dari tempat kejadian.

Polisi juga mengidentifikasi, bahwa mayat pria yang bergantung diri tersebut berinisial D (30) merupakan warga Kecamatan Leuwiliang. Dugaan sementara, pria tersebut nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri.

“Awalnya saksi bermaksud menuju Panorama Bukit Bintang dan sebelumnya beristirahat di saung kebun manggis,” katanya.

Ketika di saung tersebut, kata dia, saksi terkejut melihat sosok pria dalam kondisi sudah tergantung di atas pohon manggis. Dari situ, saksi melaporkan temuannya kepada ketua RT setempat dan pihak kepolisian.

“Diduga korban tersebut meninggal dunia akibat gantung diri. Hasil olah tempat kejadian perkara di tubuh korban tidak ditemukan bekas luka akibat benda tumpul maupun benda tajam,” tukasnya.

** Andres

Pedagang Pasar Bogor Ngadu ke Dewan

0

Bogor | Jurnal Bogor

Forum Pedagang Pasar Bogor menyampaikan aspirasinya kepada Wakil Ketua II DPRD Kota Bogor, Dadang Iskandar Danubrata, Senin (16/1). Hal tersebut dikarenakan mencuatnya wacana pembongkaran gedung Pasar Bogor dalam waktu dekat ini.

Sekretaris Forum Pedagang Pasar Bogor, Abas menyampaikan, munculnya wacana tersebut, membuat para pedagang resah. Sebab, belum ada kepastian kapan Pasar Bogor akan dibongkar dan bagaimana nasib mereka jika pasar tersebut dibongkar.

“Kami sebagai pedagang, ingin berjuang dan kami tidak ingin dipindahkan. Karena Pasar Bogor ini merupakan bagian dari sejarah, dari jaman Belanda sudah ada itu. Saya saja berdagang sejak tahun 80an,” ujar Abas.

Lebih lanjut, Abas juga mengeluhkan terkait penagihan iuran dari kartu kuning yang sampai saat ini masih menjadi beban para pedagang. Sebab, tunggakan sejak puluhan tahun silam masih ditagih oleh pihak pasar.

“Kami merasa kartu kuning ini menjadi beban karena banyaknya iuran yang harus kami bayar. Sehingga kami minta, untuk kartu kuning ini bisa dihapuskan atau diberikan pemutihan,” ungkap Abas.

Menjawab aspirasi pedagang, Dadang memastika akan menindaklanjuti keluhan tersebut dengan merencanakan pemanggilan Dirut Perumda Pasar Pakuan Jaya dalam waktu dekat ini. Namun, ia menyampaikan kepada para pedagang, bahwa dalam waktu dekat ini hanya Plaza Bogor yang akan direvitalisasi.

“Sejauh ini yang saya dapat informasi, baru Plaza Bogor saja yang akan direvitalisasi. Jadi untuk bangunan belakang (Pasar Bogor, red) belum ada kepastian dan rencananya. Tapi nanti akan saya panggil Dirut pasar,” kata pria yang akrab disapa Kang DID ini.

Kang DID berharap, dari pertemuannya nanti, pihak Pemerintah Kota Bogor dan Perumda Pasar Pakuan Jaya bisa memberikan perhatian lebih kepada para pedagang Pasar Bogor.

“Saya harap pemerintah harus bisa memperhatikan nasib pedagang ini, disamping kita mendukung program pemerintah,” tegas Kang DID.

Lalu, terkait kartu kuning, Kang DID juga memastikan akan mengangkat isu tersebut agar para pedagang bisa mendapatkan dispensasi. Mengingat banyaknya iuran atau retribusi yang harus dibayar pedagang.

Berdasarkan informasi yang Kang DID terima, para pedagang Pasar Bogor, setiap bulannya membayar iuran kurang lebih sebanyak Rp250 ribu. Dengan total jumlah kios yang mendapai 1000, ia menilai deviden yang diberikan oleh pihak Perumda Pasar Pakuan Jaya tidak masuk akal.

“Ini menjadi informasi yang penting bagi kami. Saya akan menanyakan hal ini juga agar ada kejelasan, karena deviden yang diberikan oleh Perumda Pasar Pakuan Jaya sangat rendah di tahun lalu,” pungkasnya.* Fredy Kristianto

Dispora Kaji Besaran Sewa GOM

0

Bogor | Jurnal Bogor

Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Bogor saat ini masih mematangkan mengenai besaran tarif sewa Gelanggang Olahraga Masyarakat (GOM) Kecamatan Bogor Utara dan Selatan.

Nantinya besaran biaya sewa akan dibawa ke DPRD untuk dibahas dan dimasukan dalam perda retribusi.

Kepada wartawan, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Bogor, Herry Karnadi mengatakan bahwa pengenaan tarif penggunaan dua GOM tersebut baru akan diusulkan melalui revisi Perda Retribusi ke DPRD Kota Bogor.

“Kami baru masukin Perda retribusi ke dewan dalam waktu dekat ini,” ujar Herry Karnadi, Senin (16/1).

Kata dia, besaran tarif yang diusulkan, minimal Rp500 ribu, dan tarif maksimalnya Rp 1 juta per dua jam. Tarif ini nantinya hanya berlaku untuk penggunaan lapangan bola dengan rumput sintetis.

Sementara mengenai penggunaan lapangan basket, voli, bulutangkis indoor akan menerapkan tarif yang telah diberlakukan dengan GOR Pajajaran.

“Minimalnya Rp500 ribu hingga Rp1 juta, sedangkan Rp50 ribu per jam untuk in door, sedangkan untuk out door dikisaran Rp30 ribu per jam,” ungkapnya.

Herry menyatakan, apabila mengacu kepada lapangan sintetis yang sejenis di kawasan Sentul, Kabupaten Bogor, biaya sewa yang diusulkan pihaknya ini tergolong sangat murah.

Di sana, biaya yang ditetapkan senilai Rp2 juta perdua jam, bahkan pada jam-jam tertentu bisa mencapai Rp3 juta.

Namun, karena ketiga lapangan bola ini diperuntukan bagi seluruh masyarakat Kota Bogor, sehingga penerapan biaya sewa akan disesuaikan dengan kemampuan masyarakat Kota Bogor.

“Kalau diterapkan angka segitu (Rp2 juta perjam), kan kasian, dan orang gak ada yang bisa manfaatin nanti,” paparnya.

Herry menuturkan bahwa pengelola akan dilakukan oleh pihak profesional. Tetapi lantaran sampai saat ini belum ada pengelolanya, sehingga ketiga lapangan bola ini masih belum dikenakan biaya alias gratis.

“Kalau dari sisi kami, ketika belum muncul (pengelola) ya kita masih free-kan dulu, masyarakat belum ditarif,” paparnya.

Ia menuturkan, biaya sewa yang diusulkan nantinya masih berubah, tergantung dari pihak ketiga, mengingat mereka akan dibebankan dengan pemeliharaan, gaji pegawai dan segala macam.* Fredy Kristianto

Polisi Amankan Puluhan Botol Miras di Lokasi Berbeda

0

Bogor | Jurnal Bogor

Polresta Bogor Kota Polda Jabar melaksanakan kegiatan cipta kondisi operasi minuman keras yang ada di wilayah hukum Polsek Bogor Tengah, Minggu (15/1).

Lokasi razia tepatnya berada di seputaran Jalan Paledang dan Jalan Dewi Sartika, Kota Bogor.

Pada operasi miras tersebut anggota dari Polsek Bogor Tengah berhasil mengamankan puluhan minuman keras dari berbagai macam merk dan minuman keras oplosan jenis ciu.

Adapun rinciannya, 4 botol merk intisari, 4 botol merk anggur kolesom, 2 botol anggur putih dan 3 botol miras oplosan jenis ciu

Kapolresta Bogor Kota Kombes Pol Bismo Teguh Prakoso meminta kepada seluruh Jajaran hingga polsek untuk menciptakan kondusifitas wilayah. Termasuk menggelar Operasi Cipta kondisi, utamanya operasi minuman keras secara rutin.

“Ini bertujuan mencegah terjadinya gangguan Kamtibmas dan gangguan keamanan lainnya yang di akibatkan pengaruh dari minuman keras,” jelas Kombes Bismo, Senin (16/1/2023).

Terpisah Kapolsek Bogor Tengah Kompol Dede kasmadi menjelaskan, razia miras sudah rutin dilakukan di wilayah hukum Polsek Bogor Tengah.

“Diharapkan dengan adanya razia rutin ini mampu menekan angka kriminalitas, utamanya di wilayah hukum Polsek Bogor Tengah,” ucapnya.* Fredy Kristianto

700 Pesepeda Ikuti Reboan Pakansari Series 15

0

Bogor | Jurnal Bogor
Tak kurang dari 700 lebih pesepeda ambil bagian dalam ‘Reboan Pakansari Series 15’ pada Sabtu, (14/1/2023). Event yang diikuti peserta dari beberapa daerah ini mengambil rute lingkar Stadion Pakansari.
Dikatakan Ketua Panitia Event Reboan Pakansari, yang sekaligus founder Reboan mengatakan, Reboan Pakansari sendiri merupakan komunitas sepeda yang sering melakukan latihan bersamanya di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor.

“Nama kegiatan ini adalah Criterium REBOAN Pakansari Special Edition 15’th Series. Jadi Reboan seri 15 kemarin adalah seri special untuk memperingati event Reboan pertama di 2023, dengan acara yang lebih besar dan total hadiah 35 juta rupiah dengan peserta kurang lebih 700 pesepeda. 300 peserta race terdiri dari atlet sepeda, mantan atlet sepeda dan para penghobis yang memang senang mengadu kemampuan sepedanya,” kata Teguh Widodo.

Untuk nomor yang dipertandingkan kata Teguh, sebanyak delapan nomor, yakni kelas Star Men Elite – 41 peserta (15 Lap), Star Men Open – 61 peserta (10 Lap), Star Men Master C – 19 peserta (5 Lap), Star Men Master Up – 34 peserta (10 Lap), Star Women Open – 19 peserta (5 Lap), Star Fixie Open – 32 peserta (5 Lap), Star MTB Open – 48 peserta (5 Lap) dan Star Kadet – 19 peserta (5 Lap).

“Sebenarnya Tarkam Reboan Criterium diciptakan untuk sarana silaturahmi para pesepada dengan berbagai macam jenis sepeda yang dihadiri berbagai cycling club dari berbagai kota seperti ECC, KGB, KLCC, MBC, Tarkam Mozia, ZZZ, Fietsen Bouwer, ACC Coffee monster dan Goessbintaro. Tapi banyak juga pesepeda yang datang dari berbagai kota seperti Garut, Cilegon, Surabaya, Banjarmasin, Pontianak, Bandung, Bogor, Jakarta, Bekasi dan Karawang.

Selain itu, sambung Teguh, sebelum pelaksanaan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Pengcab Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI) Kabupaten Bogor, Dispora, serta unsur lainnya.

“Alhamdulillah, Pengcab ISSI Kabupaten Bogor dan Dispora Kabupaten Bogor sangat mensuport kegiatan yang kita gelar ini. Reboan Pakansari juga sudah mendapat penghargaan dari Plt. Bupati sebagai “The Inspiring Sport Community 2022” tutur Teguh.

Disinggung soal rencana Reboan ke depan, dengan tegas Teguh memastikan, rencana kedepan akan menggelar event yang lebih meriah, pada saat Hari Jadi Reboan, yang jatuh pada 14 Juni 2023.

“Rencanannya, dihari jadi RCC kita akan menggelar event yang sama. Bahkan dengan hadiah yang lebih besar,” pungkas Teguh yang didampingi founder lainnya diantaranya Tedy Jabrik, Helmy, Rusty dan Rheinanda social media IG @reboan_pakansari,” pungkasnya.
 
Handy Mehonk

Awas, Janji Manis Pengusaha Kavling di Bogor Timur

0

Sukamakmur | Jurnal Bogor
Praktik jual beli kavling kebun di wilayah Bogor Timur semakin hari semakin berani. Hal itu ditandai dengan semakin banyak bermunculannya usaha kavling yang menawarkan berbagai janji manis kepada calon konsumen. Mulai dari fasilitas jalan, penerangan, pemandangan alam, hingga gratis biaya surat menyurat.

Namun yang paling ironis dari itu semua adalah proses penjualan kavling hanya sampai akta jual beli sebagai salah satu bukti transaksi dan bukan bukti kepemilikan lahan, walaupun konsumen telah membeli kavling tersebut secara tunai.

Selain itu, tidak adanya perizinan resmi dari Kabupaten Bogor yang dimiliki oleh para pelaku usaha kavling, harus menjadi perhatian tersendiri bagi para konsumen sebelum menentukan untuk memiliki kavling di Bogor Timur.

Kepala Satpol PP Kabupaten Bogor, Cecep Imam Nagarasid menegaskan, sesuai Perda Kabupaten Bogor untuk usaha kavling tidak diperbolehkan.

“Jadi kalau ada yang menjual  kavling kebun  dan sebagainya ketika dia memproses perizinan tanpa bangunan itu tidak diizinkan. Kata siapa? Ya kata Perda, yaitu Nomor 3 tahun 2018,” jelas Cecep Imam kepada Jurnal Bogor, Minggu (15/01/23).

Kemudian, sambung Cecep Imam, kepada mereka yang masih melakukan usaha jual beli kavling, maka pihaknya akan melakukan pemanggilan terhadap pengusaha untuk memeriksa perizinan.

“Ketika tidak memiliki perizinan ya akan kita hentikan kegiatan. Untuk kavling yang sudah dijual silahkan saja, tapi nantinya akan terbentur dengan proses perizinan ketika akan membangun,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, jika kavling itu berada di satu hamparan, misalkan dalam 2 hektar dijual kavlingnya 200 atau 300 meter itu tidak diperbolehkan karena nanti akan mentok di perizinannya.

“Tidak boleh si pengembang baik perorangan atau berbadan hukum, itu harus memproses perizinannya untuk perumahan,” katanya.

Maraknya usaha penjualan kavling kebun di wilayah Timur Kabupaten Bogor berada di beberapa kecamatan mulai dari Kecamatan Sukamakmur, Jonggol, Cariu, hingga Kecamatan Tanjungsari jadi perhatian.

Sementara, Ketua Komisi 1 DPRD Kabupaten Bogor Usep Supratman yang pernah mengunjungi perkavlingan di wilayah Bogor Timur, dan Komisi 1 pun pernah menjanjikan kelengkapan perizinan sesuai spanduk dan brosur yang beredar.

“Hasil dari kunjungan kami ke lapangan ternyata izin dasar seperti IPPT mayoritas dari para pengusaha penjual kavling belum dimiliki, dan yang paling dikhawatirkan oleh kami adalah Rencana Tata Ruang dan Wilayahnya untuk tanah kavling yang dijual berada di lahan basah atau LP2B sehingga sangat sulit untuk mendapatkan izin,” kata Usep Supratman.

Dia memaparkan, saat dirinya dan Komisi 1 melakukan kunjungan di beberapa kavling kebun diwilayah timur ditemukan beberapa kejanggalan, mulai dari kejanggalan izin dan berubahnya bentuk kebun menjadi bangunan permanen.

** Taufik/Nay

Masyarakat Malasari Tanam Pohon, Protes Jalan Rusak. Dewan: Tahun Ini Akan Dibangun 

0

Nanggung | Jurnal Bogor 

Sebagai bentuk protes terhadap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor masyarakat Desa Malasari, Nanggung menanami pohon di tengah jalan yang kini kondisinya rusak berat, Sabtu (14/1/2023).

Tokoh masyarakat setempat H Usep kecewa kepada Pemkab Bogor yang terkesan ada pembiaran dengan kondisi rusaknya jalan tersebut. 

“Saya sebagai masyarakat Malasari merasa terkucilkan dan merasa diacuhkan. Karena infrastruktur di desa kami tertinggal. Ini salah satu bentuk kekecewaan kami, jalan yang sudah tidak layak untuk diinjak,” katanya.

Dia menjelaskan, bahwa akses jalan tersebut sangat membahayakan bagi pengendara mengingat sudah rusak berat.

“Kami mohon, khususnya kepada dinas terkait untuk segera membangun dan menindaklanjuti keluhan kami ini, mengingat akses jalan di desa kami sudah sangat membahayakan bagi pengendara apalagi saat kondisi hujan sehingga membuat akses jalan menjadi licin,” paparnya.

Sementara anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bogor Nurodin menyatakan sangat mendukung langkah masyarakat dengan melakukan upaya melakukan penanaman pohon di tengah jalan itu.

Kendati, kata Nurodin bahwa titik ruas jalan tersebut akan dibangun pada tahun 2023 ini.  

Ruas Jalan Curugbitung Malasari Nirmala batas Sukabumi, kata dia sejak tahun 2019 sudah masuk dalam list pembangunan. Namun akibat defisit anggaran dan disamping karena ada refocusing.

“Tahun 2023 ini akan dibangun, saya sudah usulkan untuk mendapatkan anggaran peningkatan sebesar 9 miliar. Namun hanya dapat realisasi 7,9 miliar jadi tahun ini itu progres lanjutan,” katanya.

Dia menjelaskan, di tahun 2023 di wilayah Desa Malasari akan menjadi titik fokus pembangun. Karena hal ini harus menjadi perhatian serius, bagaimana pun Malasari ini adalah sebuah sejarah perjuangan Kabupaten Bogor dimana pernah berpusat pemerintahannya di Desa Malasari. 

“Sebetulnya progresnya terus dilanjut jadi pertama tahun 2019, disetreking tersebut ada perbaikan sepanjang 2 kilo terus lanjut di tahun 2020 ada juga peningkatan sepanjang 2 kilo, dan tahun ini peningkatan sepanjang kurang lebih 2 kilo hanya saja di tahun 2021 ruas jalan tersebut terhenti karena terkena refocusing,” tandasnya.

** Andres 

Soal Minuman Keras Dalam Study Tour di Bali, Adi Suwardi Pertanyakan Pengawasan SMAN 01 Cileungsi

0

Cileungsi | Jurnal Bogor
Menanggapi insiden yang dialami 7 siswa SMAN 01 Cileungsi yang diminta mengundurkan diri usai Study Tour ke Bali, Anggota DPRD Kabupaten Bogor, Adi Suwardi mempertanyakan pengawasan pihak sekolah serta tujuan dari study tour tersebut.

Menurutnya, study tour itu adalah bagian dari kegiatan sekolah untuk memberikan wawasan siswa dengan tempat tujuan yang dipilih, baik sejarah ataupun wawasan lain yang nantinya menjadi bekal untuk siswa.

“Yang pasti study tour itu tujuannya apa?, harus jelas. Misalnya, kita study tour di suatu tempat, disana tuh ada sejarah ini, sejarah itu, nah itu yang benar, diberikan arahan dan dikasih panduan yang dilakukan oleh pihak sekolah,” ujar Adi Suwardi kepada Jurnal Bogor, Minggu (15/1/23).

“Artinya, itu bagian dari ekstrakurikuler, nah tujuan dari study tour itu untuk menambah wawasan diluar sekolah. Karena kegiatan itu bagian dari kegiatan sekolah, artinya itu semua jadi tanggung jawab sekolah,” sambungnya.

Politisi Partai Gerindra itu juga menegaskan, ketika pihak sekolah mengadakan study tour keluar, dan terjadi pelanggaran pada muridnya akibat minum-minuman keras, berarti pelanggarannya pun masih dibawah pengawasan pihak sekolah.

“Pertanyaan saya, siapa yang mengawal kesana dari pihak sekolah, dan bentuk kegiatan tersebut seperti apa, artinya kalau memang ini bagian dari pada pelanggaran yang dilakukan oleh siswa itu udah jelas ya, namanya minum-minuman itu jelas melanggar, tapi pengawalannya itu seperti apa?”, ungkapnya.

Politisi yang berangkat dari Dapil II itu mengatakan, setiap pelanggaran memang harus diberikan sanksi. Akan tetapi jangan sampai sanksinya bisa mematikan anak untuk berprestasi, apalagi menyangkut masa depannya. Pihak sekolah harus ada regulasi yang bijak.

“Tapi kalau sampai dengan pemecatan, atau meminta siswa untuk mengundurkan diri, ini mohon dipertimbangkan, karena ini lebih ke masa depan siswa. Apalagi siswa tersebut sudah kelas tiga, dia punya kesempatan di tahun ini untuk lulus. Harusnya pihak sekolah melakukan pembinaan terlebih dahulu, mungkin pembinaannya seperti apa nanti dilakukan oleh pihak sekolah,” jelasnya.

Dengan begitu, wajar dari pihak sekolah tidak mengeluarkan para siswa tersebut, karena kalau dia mengeluarkan itu sanksinya ada. Tapi kalau mengundurkan diri pastinya kemauan murid itu sendiri.

“Ya pastinya pihak sekolah kena sanksi lah, kalau siswa itu dikeluarkan. Tapi kalau disuruh mengundurkan diri pihak sekolah aman, dan semua ini harus ada kajian dulu dengan dirapatkan oleh Komite Sekolah dan para wali kelas serta wali muridnya,” cetusnya.

Dengan terjadinya peristiwa ini, ia berharap agar orang tua siswa dapat berkomunikasi dengan pihak sekolah agar menemukan solusi yang terbaik.

“Saya berharap wali murid dan pihak sekolah berkomunikasi baiklah, diskusikan jangan sampai terjadi ada keputusan yang merasa ada yang dirugikan. Serta wibawa dan nama baik SMAN 1 Cileungsi ini harus terjaga. Apalagi sekolah itu tempat belajar, bukan tempat belajar untuk minum-minuman keras, yang terpenting ada komunikasi baik,” pungkasnya.

** Nay Nur’ain

Remaja Asal Kota Bogor Tewas Terlindas Dump Truk Saat Bikin Konten Stop Truk Exit Tol Gunung Putri

0

Gunung Putri | Jurnal Bogor
Demi konten di media social, remaja asal Kota Bogor harus meregang nyawa, usai tertabrak dump truk tepat di dekat pintu keluar Tol Gunung Putri menuju Desa Nambo yang berada di Desa Gunung Putri, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Sabtu (14/1/23).

Terlihat, dari video yang beredar memperlihatkan 2 remaja yang diperkirakan berusia 17 tahun sedang menghentikan mobil dump truk yang sedang melintas. Lantaran mobil dump truk sedang melaju kencang dan tidak berhenti, akhirnya korban tertabrak dan masuk ke bagian kolong mobil dan terlindas. Sedangkan temannya berhasil menghindar.

Teman korban, Muhammad Ilham mengatakan, awalnya lagi berada dibawah tol pojok, mau ke Muhara. Namun, temannya malah ngajak bikin konten buat gaya-gayaan.

“Tadinya sih mau ke Muhara, eh temen saya yang ketabrak malah ngajakin bikin konten, dengan menstop mobil truk yang sedang melaju,” ucap Muhamad Ilham kepada Jurnal Bogor, Sabtu (14/01/23).

Ia menjelaskan, awalnya ia dan temannya sedang asyik nongkrong, cuaca panas dan duduk dibawah pohon pisang. Kemudiam ada mobil lewat dan temennya yang sedang duduk bawah pohon pisang memvideokan aksi korban.

“Temen saya langsung videoin, dia saya tarik, eh ayo gw ikutan, ya udah saya ikutan, langsung dia ketabrak, kelindes, saya ga sampai berani melihat awalnya, tapi langsung saya bawa ke pinggir,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Desa Gunung Putri, Daman Huri membenarkan di exit tol Gunung Putri telah terjadi musibah akibat dari anak-anak remaja membuat konten menghadang truk besar dan akhirnya terlindas.

“Pada dasarnya, Pemerintah Desa Gunung Putri, sudah berikhtiar maksimal dari terakhir dua bulan ini, kami terus memantau exit tol Gunung Putri, bahkan rencananya CCTV juga akan kita tambah, agar kejadian ini tidak terulang kembali,” jelas A heri sapaan akrabnya.

“Biasanya petugas desa selalu kontrol pada malam hari, ternyata siang hari  juga para remaja-remaja tanggung melakukan kegiatan seperti itu, dan akhirnya menimbulkan korban meninggal satu orang,” sambungnya.

A Heri menyampaikan, dua bulan terakhir sudah melaksanakan razia-razia diatas jam dua belas malam, dan bila ada yang melakukan konten, atau lainnya. Maka akan  dipanggil dan diberikan pembinaan terhadap remaja yang melakukan hal tersebut.

“Konten ini memang konten yang sangat membahayakan, mereka menghadang truk dan dibuatlah on timenya, kejadian ini memang tidak terduga sampai terlindas dan meninggal dunia. Rata-rata dilakukan anak anak remaja yang masih berumur 12 sampai 16 tahun,” jelasnya.
“Informasinya remaja tersebut bukan warga Gunung Putri, melainkan warga dari Kota Bogor, Yasmin,” tandasnya.

** Nay Nur’ain