Warga Cicadas Fokus Kembangkan Pertanian Hidroponik

0

Gunung Putri | Jurnal Bogor 

Program ketahanan pangan di Desa Cicadas, Gunung Putri, Kabupaten Bogor, mendapat respons positif dari warga. Pasalnya, program tersebut sangat dirasakan manfaatnya, khususnya bagi para kelompok tani yang tidak lagi memiliki lahan.

Dengan memanfaatkan perkarangan dan lahan terbuka yang tidak terlalu luas, warga di Desa Cicadas kini terus fokus untuk mengembangkan pertanian hidroponik beberapa komoditi yang menjadi kebutuhan masyarakat, khususnya jenis sayuran.

“Untuk di RW 5 ini pertanian hidroponik yang kami tanam ada beberapa jenis, dari mulai pakcoy, sawi, selada dan kangkung. Jenis tanaman sayur ini memiliki masa panen yang hampir sama jadi bisa dapat ditanam secara bersamaan,” kata Ketua RT 03/05 Desa Cicadas Jaya kepada Jurnal Bogor, Senin (16/01/23).

Menurutnya, di Desa Cicadas ada tiga kelompok tani yang fokus mengembangkan pertanian hidroponik dengan komoditi sayuran yang sama. Hal itu lantaran, di wilayah Desa Cicadas sulit sekali ditemukan lahan luas untuk pengembangan sektor pertanian. Oleh karena itu, pilihan untuk mengembangkan pertanian hidroponik merupakan pilihan yang paling tepat.

“Apalagi kami mendapat support dari salah satu perusahaan di Desa Cicadas yang membantu untuk sarana dan prasarana pertanian hidroponik ini jadi sangat terbantu,” ungkapnya.

Pengembangan pertanian hidroponik, sambung Jaya, cukup memberikan keuntungan bagi para kelompok tani, terlebih jika lahan hidroponik semakin banyak yang otomatis akan meningkatkan produksi. Untuk saat ini, kata dia, dalam setiap masa tanam hingga panen, hasil dari pertanian hidroponik sudah dapat dinikmati oleh kelompok tani. Sementara untuk sisa anggaran disisihkan untuk tabungan yang akan dibagikan pada akhir tahun.

“Kalau untuk pemasaran hasil pertanian ini kami biasanya jual langsung ke warga Cicadas. Biasanya kami memberikan pengumuman kepada masyarakat jika pertanian ini sudah panen sehingga warga dapat langsung membeli ke lokasi,” tuturnya.

Jaya menuturkan, untuk satu lahan pertanian hidroponik, modal yang dibutuhkan untuk bibit dan pupuk mencapai Rp 1 juta. Modal itu diluar kebutuhan peralatan seperti rak dan sistem penyiraman otomatis.

“Kalau untuk bibit dan pupuk paling habis Rp 1 juta. Namun kalau pupuk itu bisa digunakan untuk beberapakali masa tanam,” ujarnya.

Terkait kendala yang dihadapi para kelompok tani di Desa Cicadas, Jaya menegaskan jika kendala utama dalam pengembangan pertanian hidroponik ini adalah hama dan cuaca yang cepat berubah. Diluar kedua hal tersebut, para petani tidak mengalami banyak kendala, lantaran proses menanam sayuran-sayuran tersebut cukup mudah.

“Kendala utama adalah hama dan cuaca. Kalau untuk teknik pertanian kami juga sudah dibekali pelatihan jadi tidak terlalu mengalami kendala,” pungkasnya.

** Taufik/Nay 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here