30.9 C
Bogor
Tuesday, May 5, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 676

Harlah ke-3, IKBPC Santuni 160 Anak Yatim 

0

Cibinong | Jurnal Bogor 

Memperingati hari lahir yang ke-3 sekaligus Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, Ikatan Keluarga Besar Pedagang Pasar Cibinong (IKBPC) mengadakan santunan anak yatim di halaman Pasar Tohaga Cibinong, Jalan Raya Mayor Oking Jayaatmaja Cibinong, Minggu (19/2).

Hadir dalam acara tersebut, Babinmas Cirimekar, Danramil Cibinong Kapten Inf Muhamad arifin, Kepala Tata Usaha Pasar Tohaga Cibinong Elis Nurhayati, Lurah Cirimekar Irwan Sajarudin, tokoh agama dan masyarakat, dan beberapa tamu undangan lainnya.

Ketua Panitia Ahmad Maulana menyampaikan, sedikitnya 163 anak yatim yang menerima santunan, dan diutamakan anggota pasar dan warga sekitar Pasar Cibinong seperti wilyah Tapos, Cirimekar, Pabuaran, dan Ciriung  yang mendapatkan santunan dengan mekanisme pembagian sistem kupon dan ditukar ke panitia kemudian diberi sembako dan uang.

“Alhamdulillah, hari ini kami sudah menyelenggarakan kegiatan santunan kepada kurang lebih 163 anak yatim yang tersebar di sekitar Pasar Cibinong. Hal ini kami lakukan sebagai wujud kepedulian kami sebagai pedagang, terhadap sesama, khususnya anak yatim,” ujar Ahmad Maulana kepada Jurnal Bogor, Senin (20/02).

Dengan kegiatan ini, sambung Ahmad Maulana, dirinya mencoba merubah image negatif menjadi image yang positif. Dimana penilaian masyarakat tentang orang pasar yang identik dengan hal yang negatif, melalui kegiatan sosial ini kami menunjukkan bahwa orang pasar bisa juga berbuat baik yang positif.

” Alhamdulilah dari awal berdiri, anggota IKBPC hanya 18 orang, dan kini sudah mencapai 500 orang anggota. Semoga kedepannya makin solid, sukses selalu,” harapnya.

Sementara, Babinmas Cirimekar mengapresiasi kegiatan sosial yang dilakukan IKBPC tersebut, dimana kegiatan ini menjadi kegiatan rutin IKBPC di setiap harlahnya.

“Saya berharap dengan kegiatan seperti ini, akan terjalin silaturahmi yang baik antara pengunjung dan pedagang pasar itu sendiri. Semoga kegiatan ini, terus  selenggarakan, di tahun-tahun berikutnya,” ucapnya.

Hal senada disampaikan, Danramil Cibinong Kapten Inf. Muhamad Arifin yang juga  Mengapresiasi kegiatan yang diadakan oleh IKBPC. Menurutnya, berbagi dengan yatim bisa sedikit meringankan beban mereka yang sudah tidak memiliki orang tua.

“Harapanya semoga berlajut tidak sampai disini aja dan lebih besar dari ini, hingga bisa menyentuh kaum dhuafa, fakir miskin,” katanya.

Ditempat yang sama, Lurah Cirimekar Iwan Tajarudin mengucapkan selamat harlah yang ke-3, dan berharap kedepannya IKBPC lebih baik lagi dan memberikan manfaat terhadap masyarakat lingkungan pasar terutama warga pedagang dan baru warga lingkungan sekitarnya.

“Terimakasih kepada keluarga besar Pasar Cibinong yang telah peduli terhadap warga saya, pesan saya selalu  jaga kebersihan jangan buang sampah ke kali seperti dilakukan pedagang yang viral kemarin, jaga keamanan dan ketertiban di lingkungan pasar,” pungkasnya.

** Nay Nur’ain

Setu Cigudeg Dibangun Zaman Belanda yang Terjaga Keasriannya

0

Cigudeg | Jurnal Bogor 

Masyarakat Kabupaten Bogor mungkin sudah tak asing dengar nama Setu Cigudeg yang terletak di Desa Cigudeg, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor. Keberadaan danau yang berada di pinggir jalan raya penghubung Kota Bogor dengan kota-kota lain di Provinsi Banten, seperti Cipanas, Rangkas Bitung dan Pandeglang.

Bagi sebagian orang mungkin belum mengetahui asal-usul danau yang berada di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit tersebut. Kini kondisi Setu Cigudeg tersebut telah asri dan bersih tak banyak lagi sampah-sampah seperti sebelumnya.

Bahkan pemerintah setempat telah mempercantik area tersebut dengan membangun Letter Sigen yang bisa digunakan oleh masyarakat untuk berfoto. Tempat tersebut juga sangat cocok buat menenangkan hati dan pikiran terlebih di saat cuaca sedang panas, adanya pohon beringin dan kelapa sawit dengan udara semakin sejuk ditambah jajanan es kelapa.

Tempat tersebut juga jadi pavorit para pemancing ikan dan warung-warung dipinggir danau, membuat para pengunjung bisa berhenti berlama-lama.

Dikutip dari laman Pemerintah Kecamatan Cigudeg danau yang luasnya kurang dari 1,5 hektar ini merupakan danau buatan yang diperkirakan dibangun pada masa pemerintah kolonial Belanda pada pertengahan abad ke-19 setelah Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels selesai membangun Jalan Raya Pos (de Groote Postweg) Anyer-Panarukan pada tahun 1808.

Danau ini terbentuk oleh adanya pembangunan dam atau tanggul sepanjang 300 meter dimana diatasnya dibuat jalan yang menghubungkan Kota Bogor (Buitenzorg) dengan Rangkas Bitung dan Pandeglang.  

Air yang tertampung di danau ini pada saat itu dipergunakan untuk irigasi pesawahan dan pembangkit listrik untuk keperluan sendiri oleh sebuah pabrik pengolahan teh yang kemudian beralih ke karet milik pengusaha perkebunan bangsa Belanda yang berada di sekitar Cigudeg.

Pada awalnya, danau ini memiliki kedalaman 0,5 sampai 20 meter yang memegang air dari dua mata air yang terletak di sisi timur dan selatan. 

Waktu berlalu dan Setu Cigudeg hampir satu abad telah menciptakan ekosistem baru yang terbentuk secara alami dan menciptakan habitat yang lebih baik bagi tanaman dan hewan air di sana pada waktu itu, dengan berbagai ikan dan udang sampai tahun 1942, ekosistem di sini disimpan baik dan tidak terganggu.

** Andres

Peringati Isra Mi’raj, Warga Bellina Adakan Lomba Azan 

0

Klapanunggal | Jurnal Bogor

Memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1444 H dengan tema “Bershalawat Mengetuk Pintu Langit bersama Habaib dan Asatidz”, warga Perumahan Coco Garden Cluster Bellina, Desa Klapanunggal, Klapanunggal, Kabupaten Bogor. meriahkan dengan kegiatan lomba azan dan siraman rohani yang diisi oleh Habib Alwi Bin Hasan Al – Jufri.

Ketua Panitia Hadi Prasetyo mengatakan, kegiatan seperti ini merupakan rutinitas warga Cluster Bellina dalam setiap memperingati hari besar keagaman. Adanya lomba azan yang diselenggarakan untuk anak tingkat TK sampai dengan SMP.

“Ini kegiatan rutin yang selalu kami lakukan dalam setiap acara besar keagamaan, dimana selain untuk memperkenalkan kepada anak akan sosok Nabi Besar junjungan kita. Kita juga mengajarkan kepada anak cara azan dan membaca Al- Qurán yang baik dan benar, ” ujarnya.

Menurutnya, dengan diadakannya lomba, anak akan lebih semangat untuk mengikuti kegiatan ini, apalagi dengan disediakannya hadiah oleh panitia. “Alhamdulilah antusias warga sangat tinggi, sehingga bisa hadir diacara yang kita buat untuk kita sendiri,” ujarnya.

Sementara Ketua RT 005/014 Nur Wiwik Andhani mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang terlibat dalam kegiatan Isra Mi’raj ini sehingga acara bisa terselenggara dengan baik dan sesuai yang diharapkan.

“Saya berharap, kedepannya warga Cluster Bellina ini semakin kompak, tingkat kepedulian semakin tinggi. Sehingga program-program lingkungan selanjutnya bisa berjalan. Saya ucapkan teriamakasih kepada seluruh panitia khususnya, umumnya untuk semua warga hingga acara kita dari kita dan untuk kita ini bisa terselenggara dengan baik,” pungkasnya.

Sementara juara pada peringatan Isra Mi’raj tersebut yakni juara lomba azan anak, juara 1 Galuh, juara 2 Muhamad Ihram Rocky Prasetyo dan juara 3 Ghifari.

** Nay Nuráin

Impor Beras Bisa Hancurkan Ekonomi Petani

0

Bogor | Jurnal Bogor

Rencana pemerintah melakukan impor beras menjelang panen raya mendapat sorotan Kepala Departemen IV DPP Partai Demokrat yang membidangi Pertanian, Kelautan Perikanan, dan Pangan, Amal Alghozali. Pasalnya, keputusan impor beras tidak didasarkan pada data yang akurat.

“Bagaimana mungkin keputusan impor diumumkan langsung oleh Presiden hanya karena mendapat laporan sepihak dari Bulog. Seharusnya keputusan itu dasarnya adalah neraca pangan. Sampai hari ini kita belum membaca neraca pangan yang dikeluarkan Badan Pangan Nasional. Ini bisa berakibat fatal,” kata Amal dalam keterangannya dikutip Jurnal Bogor, Senin (20/2/2023).

Amal mengatakan, rencana impor beras yang disampaikan langsung oleh Presiden Joko Widodo  adalah rencana yang tidak didasarkan pada data yang akurat. Presiden Jokowi terlalu reaktif ketika melakukan inspeksi gudang Bulog dan mendapat laporan bahwa stok beras milik Bulog hanya 600 ribu ton.

Menurut Amal, gudang Bulog kosong bukan berarti produksi gabah petani berkurang. “Itu  disebabkan karena baru sebagian wilayah saja yang panen.  Akhir Februari dipastikan akan panen serentak di Jawa.  Gudang kosong juga akibat bulog tidak punya cukup uang untuk belanja gabah petani secara kontan sehingga bulog kalah dengan pedagang swasta,” tegasnya.

Saat ini sebagian wilayah sentra produksi beras sudah mulai panen. Diperkirakan akhir Februari akan panen raya di daerah-daerah lumbung pangan di pulau Jawa.

“Baru diumumkan rencana impor saja harga gabah di tingkat petani langsung anjlok. Bayangkan bagaimana menderitanya petani ketika impor beras itu benar dilaksanakan dan barangnya masuk ke Indonesia pas panen raya,”  kata Amal Alghozali.

Kenaikan harga beras dua bulan terakhir ini menurut Amal Alghozali, penyebab utamanya adalah kenaikan biaya input produksi.  Kenaikan harga BBM berakibat pada kenaikan seluruh biaya, termasuk biaya tenaga kerja. Kondisi ini diperburuk oleh keputusan pemerintah mengurangi subsidi pupuk.

“Bahwa pasokan dan harga pangan harus stabil, tentu kita semua juga sepakat. Tetapi stabilisasi pasokan dan harga itu apakah harus mengorbankan petani kita?,” tambahnya.

Untuk diketahui, ada sekitar 23 juta rumah tangga petani yang terlibat dalam produksi pangan, termasuk petani padi.  Kegiatan ini melibatkan tenaga kerja yang sangat banyak.

Dari pernyataan Presiden Jokowi tentang rencana impor itu menggambarkan bahwa pemerintah memang kurang berpihak kepada petani.

“Politik pangan kita tidak ramah kepada petani.  Itu bisa kita lihat dari alokasi anggaran subsidi pupuk yang dikurangi dan rencana impor menjelang panen raya,” tegasnya.

Pemerintah seharusnya berpikir dan mengambil langkah strategis membenahi kebijakan di hulu produksi pangan.  Seharusnya fokus kebijakannya untuk peningkatan produksi, bukan hanya mengambil jalan pintas melalui impor untuk stabilisasi harga.

** Asep Saepudin Sayyev

Sarasehan Karang Taruna Desa Tapos I, Bahas Peran Pemuda Dalam Pembangunan Desa

0

Bogor | Jurnal Bogor

Bertempat di Kampung Sinar Wangi, Desa Tapos I, Kecamatan Tenjolaya, para pemuda setempat yang tergabung dalam wadah Karang Taruna (Katar) menggelar sarasehan atau diskusi bertema tentang peran pemuda sebagai penopang pembangunan berkelanjutan dan pemuda pelopor tanggap bencana.

Sarasehan yang digelar Sabtu (18/02/2023) itu menghadirkan sejumlah narasumber dari Pemerintah Kabupaten Bogor yang berkompeten di bidangnya, seperti Ade Yana Mulyana, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH), perwakilan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Dedi Humaedi, serta Kepala Kepala Biro Badan Narkotika Nasional (BNN) Brigjen, Pol. Sulistyo Pudjo Hartono, S.I.K, M. Si.

Ketua Karang Taruna Desa Tapos 1 Sony Arwan mengatakan, sarasehan banyak membahas mengenai pentingnya peran serta kepemudaan, khususnya para pemuda didesanya dalam membangun dan memajukan desa, khususnya di Tapos I, serta menumbuhkembangkan rasa kepedulian.

“Sebagai desa yang memiliki potensi pertanian, peran pemuda, khususnya yang tergabung dalam wadah Karang Taruna sangat dibutuhkan. Sektor pertanian dengan bantuan pemuda harus digarap agar mampu memberika kesejahteraan kepada para petani, tentunya dengan tidak melupakan kearifan lokal yang berlaku di tengah masyarakat,”kata Sony, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (19/02/2023).

Selain itu, sarasehan juga untuk menumbuhkembangkan rasa kepedulian kepada sesama, apalagi Desa Tapos I ini termasuk salah satu desa di Kecamatan Tenjolaya, sebagai desa rawan bencana alam tanah longsor dan angin kencang.

“Desa Tapos 1, merupakan wilayah rawan bencana, makanya sangat penting bagi para pemuda desa untuk mendapat pemahaman dan pelatihan tanggap darurat penanggulangan bencana, ” ujarnya.

Selain itu sambungnya, potensi lain yang dimiliki Desa Tapos I banyaknya potensi obyek wisata yang belum terkelola. Makanya, perlu sekiranya pemuda desa juga bisa ikut andil dalam pengelolaannya.

“Pemuda desa bisa menjadi pelopor pembangunan pariwisata wilayah Tapos 1 yaitu berbasis kearifan lokal. Akan tetapi, semua ini membutuhkan sinergitas dengan lintas sektoral kedinasan Kabupaten Bogor, agar terbina dengan baik”, tukasnya.

Kepala Dinas Pariwisata Deni Humaedi mengapresiasi, keinginan pemuda Desa Tapos I yang ingin mengembangkan potensi pariwisata alam yang ada di desanya. “Partisipasi pemuda desa dalam membangun sektor pariwisata berbasis kearifan lokal sangat dibutuhkan, kami (Disbudpar) siap berkolaborasi dan mendukung kiprah pemuda Desa Tapos I,”kata Deni.

Kepala Biro BNN Brigjen, Pol. Sulistyo Pudjo Hartonosecara rinci mengingatkan bahaya penyalagunaan Narkoba, karena menurut Sulistyo, Narkoba menghambat pembangunan dan merusak masa depan generasi bangsa yakni para pemuda.

“Semua aktifitas positif yang dilakukan pemuda, pastinya pemuda itu akan terhindar dari penyalahgunaan Narkoba dan hal-hal yang bersifat negatif lainnya,”tegas Brigjen Pol Sulistyo menutupi.

** Mochamad Yusuf

Menilik Strategi Camat Baru Benahi Bogor Tengah

0

Setiap Hari Kunjungi Satu RW, Petakan Masalah dan Potensi

Setelah sempat berkiprah sebagai Lurah muda Sukasari, kini Dicky Iman Nugraha menerima amanah lebih besar yakni Camat Bogor Tengah. Dirinya siap menata etalase Kota Hujan dengan strateginya yaitu “Berlari”

Setelah Wali Kota Bogor Bima Arya melantik menjadi Camat Bogor Tengah pada Jumat (3/2/2023), Dicky Iman Nugraha langsung tancap gas. Dia  membenahi segala permasalahan yang terjadi di wilayahnya. Putra daerah asli Bogor Tengah ini langsung memetakan potensi, keunggulan dan permasalahan untuk melancarkan program Berkunjung Wilayah Setiap Hari (Berlari).

CAMAT MUDA: Dicky Iman Nugraha semakin giat bekerja sejaak menerima amanah besar menjadi Camat Bogor Tengah. Dirinya melayani warganya dan menjaga serta membenahi etalasenya Kota Bogor.

Setiap hari, dirinya menyambangi dan blusukan ke 1 rukun warga (RW) untuk membedah masalah-masalah prioritas yang ada di masyarakat. Fokus utamanya yaitu reduksi angka stunting, pengurangan titik Buang Air Besar Sembarangan (BABS), percepatan bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), dan penanganan warga miskin.
Selain pengentasan masalah program Berlari, Dicky juga menggali potensi-potensi yang ada di wilayahnya seperti usaha mikro kecil menengah (UMKM) dan potensi usaha dan bidang lainnya.

Pria kelahiran Ciwaringin 22 November 1988 ini juga berkomitmen membantu Pemerintah Kota Bogor menyelesaikan program prioritas yang berada di Bogor Tengah.
“Kami sadar Bogor Tengah itu adalah wajahnya Kota Bogor. Makanya kami akan membantu penuh soal penataan kota yang akan dibangun. Prioritasnya antara lain revitalisasi Jembatan Otto Iskandardinata, pembangunan skybridge Paledang, dan pembangunan sejumlah jalur pedestrian,” bebernya.

Dirinya menegaskan akan setia memonitor dan memastikan seluruh pekerjaan sesuai dengan jadwal dan terjaga kualitasnya. Dicky akan mengikuti tempo kerja Pemkot Bogor yang bergerak secara all out dan ikut aktif dalam strategi total football.

Sementara untuk menjaga kenyamanan warganya Dicky menggelar patroli rutin yang dilakukannya bersama Seksi Ketentraman dan Ketertiban dan didukung juga Satpol PP. Setiap hari mereka menyisir objek strategis seperti Jalan Dewi Sartika, Alun-alun, Pasar Kebon Kembang, Bilangan Merdeka, Sempur dan kawasan pecinan Suryakencana.
“Kami kunjungi seluruh kawasan untuk memeriksa kebersihannya, Pedagang Kaki Lima, dan vandalisme yang terjadi. Itu semua kemudian akan ditindaklanjuti. Kami berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup, Tim Tangkas, dan untuk vandalisme bekerja sama dengan warga sekitar serta Dinas terkait sehingga masalah kecil tidak membesar,” terangnya.

Dicky juga siap membuka mata dan telinga untuk menampung keluhan warganya. Pihaknya juga membuka dua platform yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk menyampaikan keluhan yaitu Instagram Kecamatan Bogor Tengah dan aplikasi Sibadra.(**)

SBY Pertanyakan Urgensi Sistem Pemilu Diubah

0

Rakyat Perlu Diajak Bicara

Bogor | Jurnal Bogor

Presiden Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan pendapatnya perihal isu penggantian sistem pemilu, dari sistem proporsional terbuka menjadi sistem proporsional tertutup yang segera diputuskan Mahkamah Konstitusi (MK).

Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat  ini memastikan harus punya urgensi dan alasan kuat untuk mengubah sistem pemilu. SBY bahkan mempertanyakan benarkah sebuah sistem pemilu diubah dan diganti ketika proses pemilu sudah dimulai, sesuai dengan agenda dan time-line yang ditetapkan oleh Komisi  Pemilihan Umum (KPU).

“Tepatkah di tengah perjalanan yang telah direncanakan dan dipersiapkan dengan baik itu, utamanya oleh partai-partai politik peserta pemilu, tiba-tiba sebuah aturan yang sangat fundamental dilakukan perubahan? Ini tentu dengan asumsi bahwa MK akan memutuskan sistem proporsional tertutup yang mesti dianut dalam pemilu 2024 yang tengah berjalan saat ini,” kata dia dalam keterangan yang diterima Jurnal Bogor, Minggu (19/2/2023).

SBY juga menanyakan apakah saat ini, ketika proses pemilu telah berlangsung, ada sebuah kegentingan di negara kita, seperti situasi krisis tahun 1998 dulu misalnya, sehingga sistem pemilu mesti diganti di tengah jalan. Mengubah sebuah sistem tentu amat dimungkinkan. Namun, di masa “tenang”, bagus jika dilakukan perembugan bersama, ketimbang mengambil jalan pintas melakukan judical review ke MK.

“Sangat mungkin sistem pemilu Indonesia bisa kita sempurnakan, karena saya juga melihat sejumlah elemen yang perlu ditata lebih baik. Namun, janganlah upaya penyempurnaannya  hanya bergerak dari terbuka – tertutup semata,” ungkapnya.

Menurutnya, dalam tatanan kehidupan bernegara yang baik dan dalam sistem demokrasi yang sehat, ada semacam konvensi baik yang bersifat tertulis maupun tidak. Jika hendak melakukan perubahan yang bersifat fundamental, misalnya konstitusi, bentuk negara serta sistem pemerintahan dan sistem pemilu, pada hakikatnya rakyat perlu diajak bicara.

“Perlu dilibatkan (rakyat). Ada yang menggunakan sistem referendum yang formal maupun jajak pendapat yang tidak terlalu formal. Menurut saya, lembaga-lembaga negara, baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif tidak boleh begitu saja menggunakan kekuasaan (power) yang dimilikinya dan kemudian melakukan perubahan yang sangat mendasar yang berkaitan dengan hajat hidup rakyat secara keseluruhan,” jelasnya.

SBY berpandangan, mengubah sistem pemilu itu bukan keputusan dan bukan pula kebijakan (policy) biasa, yang lazim dilakukan dalam proses dan kegiatan manajemen nasional (kebijakan pembangunan misalnya). Dia kembali menegaskan, bagaimanapun rakyat perlu diajak bicara dan harus membuka diri dan mau mendengar pandangan pihak lain, utamanya rakyat.

“Itu urusan saya dan saya yang punya kuasa, untuk semua urusan, tentu tidaklah bijak. Sama halnya dengan hukum politik yang kuat dan besar mesti menang, yang lemah dan kecil ya harus kalah, tentu juga bukan pilihan kita. Hal demikian tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila yang kita anut bersama. Consensus building yang sering diwujudkan dalam musyawarah untuk mufakat, berdialog dan berembuk, take and give, itulah nilai-nilai yang diwariskan oleh para pendiri republik dahulu,” jelasnya.

SBY mempelajari secara mendalam, bagaimana dengan cerdas dan arifnya, founding fathers Bung Karno, Bung Hatta, Yamin, Supomo, Ki Bagus dan lain-lain, bersedia untuk berembuk dan saling mendengar untuk merumuskan dasar-dasar negara baru (Republik Indonesia) yang dinilai paling tepat.

Dengan demikian, kata SBY, rakyat memang sangat perlu diberikan penjelasan yang gamblang tentang rencana penggantian sistem pemilu itu. Apanya yang berbeda antara sistem terbuka dengan sistem tertutup. Mereka harus tahu bahwa kalau yang digunakan adalah sistem proporsional tertutup, mereka harus memilih parpol yang diinginkan. Selanjutnya partai politiklah yang hakikatnya menentukan kemudian siapa orang yang akan jadi wakil mereka.

Sementara, jika sistem proporsional terbuka yang dianut, rakyat bisa memilih partainya, bisa memilih orang yang dipercayai bisa menjadi wakilnya, atau keduanya partai dan orangnya.

“Rakyat sungguh perlu diberikan penjelasan tentang rencana penggantian sistem pemilu ini, karena dalam pemilihan umum merekalah yang paling berdaulat. Inilah jiwa dan nafas dari sistem demokrasi,” kata dia.

SBY juga mengingatkan bahwa perkara besar yang tengah ditangani oleh MK ini adalah isu fundamental, hakikatnya salah satu fundamental consensus dalam perjalanan sebagai bangsa. Apalagi, putusan MK bersifat final dan mengikat. Bagaimana jika putusan MK itu keliru? Tentu bukan sejarah seperti itu yang diinginkan oleh MK, maupun generasi bangsa saat ini.

Bahkkan kata SBY, mungkin ada yang bicara, “tidak ada yang tidak bisa diubah di negeri ini”. Konstitusi pun bisa saja diubah. Demikian juga sistem pemilu. Pendapat demikian tidaklah salah, dan SBY pun amat mengerti.

“Saya hanya mengingatkan dengan cara menyampaikan pertanyaan seperti ini. Kalau sebuah konstitusi, undang-undang dan juga sistem pemilu hendak diubah; mengapa dan bagaimana semua itu diubah? Bangsa yang maju dalam tatanan kehidupan yang baik, mesti mengedepankan pentingnya what, why, how,” ungkapnya.

Dalam perjalanan ke depan, kata SBY, negeri ini harus memiliki budaya untuk selalu mengedepankan the power of reason. Begitulah karakter bangsa yang maju dan rasional. Permasalahan bangsa mesti dilihat secara utuh dan seraya tetap berorientasi ke depan, serta untuk memenuhi aspirasi besar rakyatnya.

“Bukan pikiran dan tindakan musiman, apalagi jika bertentangan dengan kehendak dan pikiran bersama kita sebagai bangsa,” tandasnya.

** Asep Saepudin Sayyev

Harga Beras Bulog di Pasar Tradisional Bogor Meroket, Genpar Laporkan Spekulan ke Satgas Pangan RI

0

Nanggung | Jurnal Bogor 

Perum Bulog Sub Divre (Divisi Regional) Cianjur dan mitra distributor toko Budi Daya yang beralamat di Bogor Tengah RT 04 RW 02 Pabaton, Kota Bogor terindikasi melakukan kegiatan monopoli penjualan beras.

Hal itu tertulis dalam surat laporan aduan yang dilayangkan oleh Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Swadaya Masyarakat (DPP LSM) Genpar kepada Kasatgas Pangan Dirtipideksus Bareskrim Polri.

Ketua Umum LSM Genpar Sambas Alamsyah membenarkan, terkait pihaknya melayangkan surat pengaduan kepada Satgas Pangan Bareskrim Polri.

“Iya benar, itu kita laporkan sehubungan dengan temuan tim investigasi kami, perihal dugaan adanya tindakan perbuatan melawan hukum kolusi dan nepotisme,” kata Sambas saat dihubungi oleh Jurnal Bogor, kemarin.

Sambas menjelaskan, Perum Bulog Sub Divre Cianjur terindikasi memberikan kuota order lebih kepada mitra distributor bulog Toko Budi Daya tanpa analisa dan kajian teknis downline. Sementara mitra distributor bulog toko Budi daya mendistribusikan dan menjual beras melampaui batas wilayah.

“Kegiatan mereka itu mengakibatkan terjadinya praktik monopoli atau persaingan usaha tidak sehat. Padahal saat ini ketersediaan Bulog dalam keadaan kritis ternyata di sana ada oligarki yang sudah terstruktur dengan rapi, pemain hebat ini diduga menjual beras Bulog ini dengan harga di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) padahal sudah jelas kalkulasi formulasi harga untuk distributor,” jelasnya.

Jadi kata Sambas, dampak negatif dari kegiatan tersebut menimbulkan inflasi di pasaran dan menggangu stabilitas perekonomian masyarakat kurang mampu sehingga kesulitan mendapatkan beras berkualitas yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.

“Salah satunya harga beras Bulog di pasar tradisional di Kabupaten Bogor, harga eceran tertinggi (HET) Rp.520 000/50 Kg itu jelas  tidak sesuai dan telah melanggar ketentuan atau ketetapan pemerintah dikisaran Rp.472.500/ 50 Kg,” ucap Sambas.

Sambas berharap Kasatgas Pangan Dirtipideksus Bareskrim polri agar segera menindak dan memproses seusai dengan hukum yang berlaku.

“Saya berharap dalam hal ini Kasatgas pangan Dirtipideksus Bareskrim polri segera mengatasi pengaduan kami. Karena tidak menutup kemungkinan kasatgas pangan Jawa Barat sudah mengetahui permasalahan ini dan terkesan menutup-nutupi ,” tungkasnya. 

** Andres

Masuk Dalam Plotingan Yasbhum, Warga Jonggol Minta BPN Tinjau Lapangan Kembali Sebelum Perpanjang SHP No.17

0

Jonggol | Jurnal Bogor

Lagi – lagi persoalan sengketa tanah kembali mencuat kepermukaan, kali ini dialami beberapa warga di Desa Jonggol, Jonggol, Kabupaten Bogor, yang plotingan tanahnya masuk kedalam Sertifikat Hak Pakai (SHP) milik Yayasan Sosial Bhumyamca (Yasbhum). Hal tersebut disampaikan oleh salah satu warga pemilik tanah, sebut saja Oyin yang menyampaikan bahwa tanah miliknya berkisar 9000 meter yang masuk kedalam plotingan lahan milik Yasbhum.

Menurutnya, dirinya baru mengetahui jika tanahnya masuk plotingan Yasbhum saat ingin bertransaksi jual – beli. Sertifikat yang dimilikinya ternyata tercatat sudah atas nama milik Yasbhum, sedangkan dirinya tidak pernah menjual tanah tersebut kepada siapa pun.

“Saya ini ahli waris dari ayah saya, saat ingin jual tanah tersebut ternyata sudah tercatat di BPN atas nama Yasbhum. Sontak saya kaget, karena pihak keluarga tidak pernah menjual tanah tersebut kepada siapapun,” ujar Oyin kepada Jurnal Bogor, Minggu (19/02/23).

Menurutnya, dirinya dan pihak Pemerintah Kecamatan Jonggol sudah melakukan mediasi dengan pihak Yasbhum, bahkan diundang ke Jakarta. Yang saat itu bicara dengan pengurus Yasbhum, dan akan dilakukan secara kekeluargaan, karena sertifikat yang dia miliki usianya lebih tua dibandingkan sertifikat milik Yasbhum.

“Saat datang kesana sertifikat milik kami dicek oleh pihak Yasbhum, dan memang asli yang kami punya, begitupun sertifikat yang dimiliki oleh Yasbhum. Tapi yang saya heran kenapa sertifikat kami tidak muncul hanya Yasbhum  yang muncul, dan saat saya bertanya history warkah yang dimilik oleh Yasbhum pihaknya tidak menunjukan,” katanya.

Padahal, sambung Oyin, jika dikeluarkan bukti warkah atau alas hak oleh pihak Yasbhum, da bisa mengetahui siapa yang menjual tanahnya. “Saya sih menginginkan untuk dilakukan plotingan ulang oleh BPN, agar yang menjadi hak tanah warga bisa kembali ke warga, karena cuma itulah yang kami punya. Padahal sedari dahulu tanah itu kami pakai jualan ternak dan tidak ada yang mengusik, kami kaget dan baru tahu kalo tanah kami masih plotingan Yasbhum saat mau dijual karena kebutuhan,” bebernya.

“Ada hikmahnya juga sih kita mau jual tanah, jadi kita jadi tahu kalo ternyata tanah kami ada yang memasukan kedalam plotingan Yasbhum,” sambungnya.

Sementara, Kepala Desa Jonggol Yofie Muhammad Safri mengatakan, terkait sengketa itu memang informasinya ada beberapa hak warga dengan luas kisaran 15 hektare. Secara fisik memang masih dikuasai oleh warga, dan  warga yang menguasai secara fisik tersebut mengantongi bukti kepemilikan beraneka ragam, ada yang Sertifikat Prona, ada yang Akta, ada yang Girik, dan ada yang hanya terpacu kepada Leter C yang ada di desa.

“Namun warga yang memilki sertifikat maupun akte, sampai saat ini tidak mempunyai SPPT. Sekian puluh tahun tidak memilki SPPT karena itu masuk kedalam plotingan sertifikat Yasbum. Jadi SPPT itu muncul atas nama Yasbhum, global kalo gak salah sertifikat No.17, “ papar Yofie sapaan akrabnya.

Untuk persoalan ini, lanjut Yofie, harusnya ada mediasi antara BPN, pihak Yasbum dan pemilik tanah. Sehingga bisa diketahui bagaimana dulu prosesnya. Jika sudah terjadi pembebasan atau pernah terjadi transaksi jual beli, kenapa surat yang dimilki oleh warga masih dipegang oleh warga, sementara sertifikat Yasbum sudah jadi.

“ Pertanyaannya, ini pembuatan sertifikatnya bagaimana?,  sedangkan untuk  menembus Yasbum itu tidak mudah,  untuk minta ketemu Yasbum juga tidak mudah. Bahkan orang lapangan Yasbum pun tidak mudah untuk bisa dimintai keterangan yang sebenarnya,” keluhnya.

Harusnya ada keterangan resmi dari pihak Yasbum. Yang dia ingat, sehabis dirinya dilantik menjadi Kepala Desa Jonggol, pernah dari pihak  Yasbum datang  untuk  membuat surat pernyataan. Surat pernyataan tersebut dibutuhkan oleh Yasbum untuk kebutuhan perpanjangan SHP. Karena saat  itu tahun 2019,  SHP Yasbhum habis.

“Saat itu berkas tidak langsung saya tanda tangani, mereka minitipkan berkasnya dulu karena saya harus mempelajarinya. Menurut pihak Yasbhum saat itu dirinya diminta BPN ke desa untuk meminta surat keterangan dari desa sebagai syarat perpanjangan SHP. Karena saya mendengar ada  sengketa dengan warga,  saya bilang kepihak Yasbum yang datang saya lupa namanya, saya harus verifikasi dulu sebelum saya tanda tangan,” bebernya

Kemudian, sambung Yofie, dirinya mengumpulkan warga, ada beberapa warga yang menyatakan kepemilikiannya dilahan yang masuk dalam plotingan Yasbhum tersebut. Namun warga tidak memilki SPPT. Semenjak itu, pihak Yasbhum tidak kembali lagi padahal saya belum memberikan tanda tangan dan surat pernyataan.

“Jadi, saya tidak tau apakah sertifikatnya sudah diperpanjang yang habis ditahun 2019 atau belum, karena dari pihak Yasbhum tidak pernah lagi kembali ke desa, saat saya katakan saya akan kordinasi dengan warga dan akan memverifikasi terlebih dahulu,” pungkasnya.

Sementara, pihak Yasbhum saat dimintai keterangan via pesan singkat WhatsApp belum bersedia memberikan tanggapan apapun. “Maaf nanti kami hubungi, “ singkatnya.

** Nay Nur’ain

Isra Mi’raj Saung Riyadhoh Sadulur  Dihadiri Ribuan Masyarakat 

0

Bogor Timur | Jurnal Bogor 

Ribuan masyarakat dari berbagai elemen tumpah ruah ikut memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1444 hijriah yang digelar Saung Riyadhoh Sadulur, Kampung Cikeas, Kelurahan Katulampa, Bogor Timur, Kota Bogor, Jumat (17/2/2023).

Acara ini juga untuk mempererat silaturahmi dari berbagai elemen masyarakat.  “Dalam rangka Isra Mi’raj, silaturahmi untuk mempersatukan hubungan baik antara ormas, LSM dan perguruan supaya tidak ada perbedaan,” kata Pimpinan Saung Riyadhoh Sadulur, M.Isa Ansori, kepada wartawan.

Diakui Ansor karena dalam Isra Mi’raj menyejukkan hati, sehingga pihaknya mengangkat tema dengan tajuk telaga Rasulullah kesejukan cinta ada di Isra Mi’raj.

“Karena dalam Isra Mi’raj Baginda Nabi, buah tangannya bukan hanya shalat tapi shalawatnya juga, perjalanan dari Mekah ke Madinah itu ada historisnya,” jelasnya.

Ia pun berharap dalam hal ini umat Islam bisa bersatu menjaga negara kesatuan Republik Indonesia, dan dia ingin menunjukkan kepada semua pihak bahwa perpecahan itu adalah hal yang tidak baik.

“Ini bukti kalau kami ini cinta persatuan,” ucapnya. 

Hal tersebut turut diapresiasi oleh Yayasan Pendidikan Pusat Persatuan Olah Raga Silat Kebatinan (Poskab) Sapu Jagat.

“Kami dari keluarga besar Poskab sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Saung Riyadhoh Sadulur,” kata Guru Besar Paguyuban Sapu Jagat Ustad Mahmudin Bangbara.

Dia menjelaskan, dengan Isra Mi’raj yang menimbulkan silaturahmi itu adalah bagian dari keluarga besar Sapu Jagat.

Bahkan, perguruan Sapu Jagat sendiri tidak memandang latar belakang seseorang, dengan harapan semua elemen masyarakat dalam riyadhoh bisa tetap bersatu dalam menjalankan syiar Islam.

“Mudah-mudahan dengan silaturahmi ini bisa mempersatukan persaudaraan yang lebih erat lagi,” jelasnya.

Terlihat dalam Isra Mi’raj tersebut tak hanya masyarakat, sejumlah organisasi kemasyarakatan dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat, Camat Bogor Timur, Lurah Katulampa mengikuti kegiatan hingga akhir.

Pengajian diisi oleh para tokoh agama diantaranya Ustadz Abuya Deni Anwaruwah, Guru Besar Sapu Jagat Pusat, KH. Wahyudin S.Sos, Jujun Muda dan Habib Rahmi Al Athos.

** Andres