26.3 C
Bogor
Saturday, April 25, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 1626

Aksi Solidaritas Peduli Covid-19, Kementan Bagikan Sembako

0

Ciawi | Jurnal Inspirasi

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL)  menyatakan rasa bangganya atas kepedualian, empati dan rasa kebersamaan pegawai lingkup Kementerian Pertanian (Kementan) dalam membangun solidaritas kepada sesama yang dituangkan dalam Aksi Solidaritas Peduli Covid-19, Mentan meminta semua pihak untuk tetap menjaga kekompakan di tengah banyak terpaan tantangan seperti saat ini. 

Menteri mengakui Pandemi Covid-19 mengejutkan dunia, menyerang banyak negara di dunia.  Akan tetapi, Mentan senantiasa menegaskan bahwa pertanian tidak boleh surut karena wabah. Pertanian tidak mengenal krisis sehingga harus terus berproduksi karena ada pangan masyarakat yang  ketersediannya harus dijamin oleh Kementan.

Mentan juga berpesan pada seluruh karyawannya untuk menjaga  kesehatan, imunitas karyawan dan anggota keluarganya melalui asupan vitamin, jamu dan rutin menjaga kebugaran dengan berolahraga.  “Pegawai Kementan harus jadi contoh di masyarakat dalam menjaga suasana covid-19,” ujarnya, Jum’at (17/4).

Ia berharap aksi tidak berhenti, bulan berikutnya hal serupa, dapat kembali dilakukan. Ia menyerukan seluruh ASN  bergerak membantu yang membutuhkan.  “ Saya berharap tidak saat ini saja hal ini dilakukan tapi bulan berikutnya kita lakukan hal serupa. Mari bergerak bantu Saudara-Saudara penyuluh THL ataupun yang belum berstatus ASN lainnya,” seru Mentan.

Di lingkup Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) hal ini sejalan dengan penegasan Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi, bahwa pertanian tidak diam di saat wabah Covid-19.

 Aparatur Sipil Negara (ASN) Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP)  turut ambil bagian dalam aksi yang  digagas Kementan, bekerjasama dengan Dewan Pengurus KORPRI Kementan ini dengan melakukan pengumpulan dana. Dana tersebut dibagikan dalam bentuk sembako kepada 73 orang THL PPMKP, terdiri dari cleaning service, tenaga keamanan, petugas kebun, pramu asrama dan 111 keluarga terdampak Covid 19 dilingkungan sekitar PPMKP.

Penyerahan paket sembako kepada sasaran oleh Kepala PPMKP Heri Suliyanto  dilakukan bersamaan dengan penyerahan secara simbolis kepada perwakilan penerima sumbangan langsung oleh Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo yang didampingi  Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian sekaligus Dewan Pengurus KORPRI Kementan Momon Rusmono.  Dalam acara yang dilaksanakan di Ruang AWR Kantor Pusat Kementan ini turut hadir beberapa Pejabat Eselon I dan 2.  Dan  UK/UPT lingkup Kementan menyaksikan melalui video conference (vicon). 

Tujuan aksi solidaritas ini selain bagian dari pengamanan di lingkungan Kementan dalam rangka mengurangi dampak Covid-19, juga  sebagai bentuk inisiatif  ASN di lingkungan Kementan baik pusat maupun daerah untuk memberikan bantuan kepada pegawai lingkungan Kementan dan masyarakat sekitar UK/UPT Kementan yang rentan secara ekonomi terdampak pandemi Covid-19. .

RG/PPMKP

Mudik pun Dilarang

0

Jakarta | Jurnal Inspirasi

Presiden Joko Widodo melarang mudik untuk semua kalangan. Larangan itu sebelumnya hanya untuk anggota TNI dan Polri, ASN dan pegawai BUMN. Larangan mudik pada bulan Ramadhan dan Idul Fitri berlaku mulai 24 April 2020, dan penerapan sanksi bagi yang melanggar akan efektif mulai 7 Mei 2020. Larangan mudik tersebut tidak memperbolehkan lalu lintas orang keluar masuk dari dan ke wilayah Jabodetabek, namun lalu lintas logistik masih diperbolehkan.

Dengan demikian, maka untuk mudik yang biasa dilakukan setiap tahun jelang Lebaran Idul Fitri, maka untuk tahun 2020 ini sudah tidak bisa lagi dilakukan oleh masyarakat seluruh kalangan. “Pada rapat hari ini, saya ingin menyampaikan juga bahwa mudik semuanya akan kita larang,” kata Jokowi dalam rapat kabinet terbatas, Selasa (21/4).

Sebelumnya, Jokowi memang mengatakan belum bisa melarang mudik untuk semua kalangan sebelum adanya bantuan dari pemerintah. Sekarang, bantuan-bantuan sudah disalurkan baik itu bansos ke 1,2 juta warga Jakarta dan menyusul Bodetabek, bansos tunai hingga Kartu Pra Kerja. Dengan bantuan-bantuan tersebut yang mulai disalurkan, maka pemerintah memiliki alasan kuat untuk melarang mudik masyarakat. Teknisnya, Jokowi meminta untuk dibahas. Teknis mudik yang dimaksud seperti apa mengingat mudik tidak hanya terjadi dari Jabodetabek ke daerah-daerah lain. 

Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan yang jadi Menteri Perhubungan Ad Interim mengatakan, pelarangan mudik adalah untuk warga yang berasal dari daerah zona merah dan sudah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB. “Jadi diputuskan untuk larangan mudik Ramadhan 1441 H di Jabodetabek, di wilayah PSBB dan zona merah corona,” jelas Luhut, dalam keterangan pers usai rapat kabinet terbatas, Selasa (21/4).

Dengan begitu, maka akses keluar dan masuk ke daerah-daerah tersebut tidak diperbolehkan. Namun, selain tenaga medis dan atau barang logistik, maka dilarang untuk masuk dan keluar. “Larangan mudik ini nanti tidak boleh lalu lintas orang dari dan keluar Jabodetabek. Logistik boleh, tapi lalu lintas orang masih boleh atau istilah aglomerasi,” katanya.

Sementara anggota Komisi II DPR RI, Mardani Ali Sera, menilai kebijakan tersebut sangat terlambat diberlakukan. Sebab, dari semenjak polemik boleh atau tidaknya mudik Lebaran beberapa waktu lalu, sejumlah warga sudah terlebih dahulu melakukan mudik. Masyarakat yang sudah terlebih dahulu mudik juga berpotensi untuk menjadi penyebar virus Covid-19. “Pertama larangannya sangat terlambat. Sudah banyak yang mudik. Dan peluang menjadi spreader sangat besar,” kata Mardani.

Kebijakan yang telah dikeluarkan Presiden tersebut, perlu dibarengi dengan langkah konkret dari kementerian untuk membuat kebijakan ini efektif. Pemerintah diharapkan dapat memperhatikan warga sampai yang ada di daerah tujuan mudik. Politikus PKS ini juga mengatakan, biasanya warga yang datang dari kota untuk mudik, itu memberikan bantuan kepada warga yang berada di kampung halaman. Jika melarang warga untuk mudik, Mardani meminta pemerintah meng-cover bantuan yang biasa diberikan masyarakat untuk keluarga di kampung halamannya.

“Larangan ini mesti diikuti dengan apa yang mesti dilakukan pemerintah. Biasanya yang mudik itu bawa bantuan untuk mereka yang di kampung. Pastikan bahwa ada bantuan yang diberikan dapat di-cover pemerintah,” ujarnya.

Pemerintah juga perlu membentuk tim pengawas yang memastikan warga tidak mudik. Sebab, jika tidak ada pengawasan, larangan ini dikhawatirkan tidak akan berjalan efektif. “Ketiga, tanpa ada tim yang mengawal larangan ini akan ompong. Seperti apa yang terjadi dengan PSBB,” tuturnya.

Asep Saepudin Sayyev |*

Tak Ada Tarawih di Masjid Raya

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

Wabah Covid-19 yang hingga kini belum mereda, membuat DKM Masjid Raya Bogor meniadakan sementara shalat tarawih berjamaah dan buka puasa bareng pada bulan Ramadhan tahun ini. “Di Masjid Raya Bogor sesuai hasil rapat pengurus, karena saat ini belum ada keputusan kondisi kondusif dari pihak berwenang, maka off tidak ada kegiatan,” ujar Ketua DKM Masjid Raya Bogor, Ahmad Fathoni kepada wartawan, Selasa (21/4).

Menurut dia, kedua kegiatan tersebut ditiadakan karena berpotensi menimbulkan kerumunan orang di tengah bahaya penularan virus Corona. “Kami kan nggak bakal bisa menjamin kondisi kesehatan orang yang datang nanti. Apakah mereka sehat dan tak terinfeksi Covid-19 atau tidak,” ucapnya.

Sementara itu, Anggota Komisi IV DPRD Kota Bogor, Endah Purwanti mengatakan bahwa kebijakan meniadakan tarawih berjamaah dan buka puasa bersama merupakan langkah yang tepat dalam mencegah semakin meluasnya pandemi Covid-19.

“Dalam kondisi darurat seperti ini lebih baik dilakukan di rumah masing-masing bersama keluarga. Hal serupa pun pernah terjadi saat zaman sahabat Nabi Muhammad saw, dimana ada wabah penyakit mematikan yang menyebabkan banyak manusia meninggal. Bahkan dalam Sirah sahabat sampai tidak ada hajian,” ujar Endah.

Politisi PKS ini menyatakan bahwa ibadah di rumah takkan menghilangkan esensi utama dalam beribadah. “Ini demi kebaikan bersama. Pengambil keputusan tertinggi dalam ijtima ulama adalah MUI dalam hal peribadatan, dan putusan itu disetujui pemerintah. Jadi wajib mengikuti keputusan pemerintah,” paparnya.

Endah menambahkan, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor harus bekerjasama dengan MUI dan kepolisian serta TNI untuk terus melakukan sosialisasi dan imbauan agar warga menjalankan ibadah di rumah masing-masing.n

Fredy Kristianto

Daun Pepaya Si Penangkal Nyeri

0
Oleh:
Neng Sri Nurhasanah
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Maju (STIKIM) Program Studi / Prodi: S1 Keperawatan

Pernahkah Anda merasa nyeri?. Pastinya, tentu kita semua pernah merasakan nyeri apapun penyebabnya dan rasanya. Tentulah sangat tidak nyaman sehingga ingin mencari jalan pintas apapun caranya agar rasa nyeri tersebut segera hilang.

Ada 5 jenis nyeri yang harus kita ketahui, supaya kita bisa menentukan penyebab dari nyeri itu sendiri yaitu: Nyeri akut: patah tulang, melahirkan, operasi; Nyeri kronis: sakit kepala,kanker, radang sendi ; Nyeri nonsiseptif : batu ginjal, usus buntu, nyeri seperti ditusuk-tusuk; Neuropati : infeksi, kecelakaan; dan Phantom pain: misal pada pasien yang diamputasi.

Untuk menentukan seberapa nyeri yang kita rasakan, maka nyeri bisa dinilai menggunakan skala nyeri. Cara yang digunakan untuk menentukan tingkatan nyeri yaitu dengan penilaian skala numerik (Numeric Rating Scale) atau skala analog visual (Visual Analog Scale).

Untuk mengatasi nyeri biasanya kita meminum atau menggunakan obat – obatan analgetik seperti paracetamol, asam mefenamat, tramadol, ketorolac dan sebagainya. Akan tetapi disamping efeknya yang dapat segera meredakan nyeri, pada obat ini juga mempunyai efek samping yang tinggi, seperti perdarahan saluran cerna, tukak lambung, anoreksia (tidak nafsu makan), diare, mual muntah dan sebagainya.

Saat ini ada alternatif lain yang bisa menjadi pilihan untuk mengatasi nyeri yaitu dengan menggunakan obat yang berbahan herbal salah satunya adalah daun pepaya (Carica Papaya). Daun pepaya mempunyai efek anti nyeri atau analgetik karena pada daun papaya tersebut mengandung zat alkaloid karpain.

Berdasarkan uji farmakologi, diketahui bahwa alkaloid karpain ini mempunyai efek anti nyeri, sehingga pada zaman dahulu daun pepaya ini sering digunakan untuk meringankan nyeri haid. Adapun caranya sangat mudah yaitu  ambil 1 sampai 2 helai daun papaya yang masih muda. Cuci sampai bersih, setelah itu buang tangkai daunnya. Tumbuk daunnya sampai cukup halus. Kemudian tambahkan air masak ke dalam tumbukan tersebut, lalu peras dan saring. Air perasan ini boleh ditambahkan sedikit garam dengan tujuan untuk mengurangi rasa pahitnya. Air perasan pepaya ini siap untuk diminum. Namun kalau sakit masih berlanjut, lakukan pengobatan secara medis.

Mari kita kurangi penggunaan obat-obatan yang tentu mempuya efek samping yang dapat merusak tubuh, dan beralih pada obat herbal yang sudah disediakan oleh alam untuk kita. Semoga artikel ini dapat memberikan manfaat yang positif untuk kita semua.

  • Dikutip dari berbagai sumber

Menyambut Ramadhan di Tengah Wabah Corona

0

Oleh: Cokky Guntara

Pembicaraan tentang Covid-19 atau virus corona memang belum usai. Hampir di banyak negara masih dihantui dan di lelahkan lantaran virus yang mengerikan ini. Virus yang muncul di Kota Wuhan, China ini seolah-olah begitu semangat dan tak lelah menyebar ke penjuru dunia. Tak tanggung-tanggung, ia telah menularkan ke jutaan orang. Bahkan tak sedikit juga yang meninggal karena virus ini.

Di indonesia, korban yang tercatat terinfeksi virus corona ini semakin bertambah. Sebagaimana yang diumukan oleh juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona atau COVID-19, Achmad Yurianto. Ia mengatakan jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia kembali bertambah hingga mencapai 6.760 orang

Karena penyebarannya begitu massif, pemerintah pun terus berupaya mencari solusi untuk mengurangi dan memberantas virus ini. Mulai dari kebijakan sosial distancing hingga kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Dengan diberlakukannya aturan ini, maka segala bentuk aktifitas yang mengumpulkan banyak orang akhirnya dikurangi bahkan ditiadakan.

Di tengah-tengah pandemi virus corona, tak lama lagi, umat Islam akan memasuki bulan suci Ramadan. Bagi pemeluk agama Islam, ramadhan adalah bulan dimana mereka diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa.

Semua umat muslim pasti gembira menyambut bulan yang mulia ini. Bagaimana tidak, bulan ramadhan adalah bulan dimana diturunkannya kitab suci Al-Qur’an. Sebagaimana Allah SWT berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah: 185)

Banyak mufassir yang menerangkan kemuliaan bulan ramadhan ini. Salah satunya adalah Ibnu Katsir yang menafsirkan ayat mulia ini dengan mengatakan, “Allah Ta’ala memuji bulan puasa, yaitu bulan Ramadhan, dari bulan-bulan lainnya. Allah SWT memuji bulan ini karena Ia menetapkannya sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an dari bulan-bulan lainnya”.

Selain karena diturunkannya Al-Qur’an, umat muslim juga gembira dengan kehadiran bulan yang penuh ampunan ini. Karena puasa merupakan ibadah yang memang kebaikan dan ganjaran serta pahalanya hanya Allah SWT yang tahu. Maka tak heran jika umat muslim belomba-lomba menjalankan puasa dengan sebaik mungkin.

Sebagaimana hadits Rasulullah yang berbunyi “Semua amalan anak Adam akan dilipatgandakan (balasannya), satu kebaikan akan dibalas dengan 10 sampai 700 kali lipat. Allah Swt. berfirman: Kecuali puasa, sesungguhnya itu untuk-Ku, dan Aku yang langsung membalasnya. Hamba-Ku telah meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku.” (HR. Muslim)

Namun puasa ramadhan tahun ini mengundang banyak tanya. Bagaimana mengisi bulan puasa ramadhan di tengah pandemi virus corona? Bagaimana meraih amalan-amalan baik seperti silaturahmi? Atau bisakah kita berkumpul dan mengaji bersama di masjid-masjid atau mushala? Sedangkan pemerintah menganjurkan masyarakat untuk mengurangi aktifitas di luar rumah dan berkumpul-kumpul. Bahkan ada anjuran yang dikeluarkan oleh PBNU untuk sholat tarawih yang biasa dilaksanakan secara berjamaah di masjid atau mushala, kini dilaksanakan dirumah masing-masing.

Tentunya pertanyaan-pertanyaan ini harus dijawab agar umat muslim mempunyai jalan keluar dan solusi. Perlu adanya edukasi terutama untuk masyarakat awam bahwa menjalankan amalan-amalan yang baik di bulan ramadhan ini tetap bisa dilakukan meskipun di rumah saja.

Di antara banyak amalan, yang paling digandrungi oleh umat muslim saat Ramadan adalah Salat Tarawih dan tadarus Al-quran. Dua amalan tersebut banyak dipraktekan kaum muslim. Karena selain berbuah pahala, juga selaras dengan anjuran baginda Nabi Muhammad SAW.

Abu Hurairah RA meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang memeriahkan bulan Ramadan dengan ibadah/qiyamu ramadan; (dan dilakukan) dengan penuh keimanan dan keikhlasan, maka akan diampuni segala dosanya yang telah lalu”. (Shahih Bukhari, h.1870)

Memetik Hikmah

Puasa di bulan suci ramadhan hanya dilakukan selama satu tahun sekali. Walaupun ramadhan tahun ini di warnai dengan situasi pandemi covid-19, namun kegembiraan dan semangat untuk menyambutnya tak boleh surut. Umat muslim harus tetap meningkatkan keimanan dan memperbanyak ritual ibadah yang bisa dilakukan walaupun hanya di rumah. Seperti tadarus Al-Qur’an, qiyamul lail, atau shalat tarawih.

Sejenak, mari kita refleksikan momentum ramadhan di tahun-tahun lalu. Kesibukan di luar rumah yang menjadi rutunitas kita, seperti bekerja, berbisnis, atau berpergian sering kali menghabiskan waktu. Sehingga tak jarang juga melupakan atau meninggalkan amalan-amalan baik di bulan puasa ramadhan. Padahal sangat disayangkan melewatkan momentum per satu tahun sekali ini.

Akan tetapi ada hikmah di balik pandemi situasi pandemi ini. Apa itu? Yakni umat muslim bisa punya banyak waktu untuk menjalaknan amalan baik seperti membaca Al-Qur’an. Hal tersebut sering abai lantaran masyarakat disibukan dengan banyak aktifitas duniawi yang dilakukan di bulan puasa. Namun kali ini tidak, karena masyarakat dianjurkan untuk tetap dirumah saja.

Membaca Al-Quran bukan hanya berhenti di satu waktu. Setiap saat dan setiap hari tentunya kita diperintahkan Allah SWT untuk membacanya dan menjadikannya sebagai pedoman. Membaca Al-Quran di bulan Ramadhan tentu memiliki keutamaan tersendiri bagi seorang muslim.

Pahala bagi yang membaca Al-quran pun luar biasa besar dan dilipatgandakan. Sebagai mana sabda Rasulullah “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka ia akan mendapatkan satu kebaikan dengan huruf itu, dan satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidaklah mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan Mim satu huruf.” (HR Tirmidzi).

Jika membaca Al-Qur’an akan menuai kebaikan dan pahalanya dilipatgabdakan, bagaimana jika dibaca di bulan yang penuh keberkahan ini? Tentu akan lebih banyak lagi kebaikan serta ganjaran yang akan diraih bagi siapa yang membacanya.

Kemudian selain membaca Al-Qur’an, situasi seperti ini justru memberikan kesempatan kepada umat islam untuk menjaga kualitas puasanya. Sebab ada beberapa hal yang membuat kualitas atau pahala puasa berkurang. Diantaranya adalah ghibah (gosip), menatap lawan jenis (yang bukan mahramnya) dengan syahwat dan berkata dusta.

Tak hanya yang disebutkan diatas, ada juga hal yang perlu dijaga saat berpuasa selain makan dan minun, yaitu berkata Lagwu dan Rafats atau sia-sia dan porno(Baca:Fathul bhari). Hal ini dijelaskan dalam hadits, dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ

Artinya : “Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rafats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.

Hal-hal yang membuat kualitas atau pahala puasa berkurang itu sering terjadi lantaran dipengaruhi aktifitas diluar rumah. Seperti berkumpul dengan teman, seringkali terlontar perkataan buruk secara spontan serta pembicaraan yang tidak penting. Bahkan tak jarang pula terlontar perkataan atau kalimat yang berbau porno.

Kemudian aktifitas diluar rumah pun membuat masyarakat bebas bertemu dan melihat siapapun, tak terkecuali lawan jenis yang tentu saja bisa menimbulkan hawa nafsu.

Namun karena aktifitas diluar rumah berkurang dan masyarakat dihimbau untuk tetap berada dirumah saja, hal-hal yang dapat mengurangi kualitas puasa bisa dihindarkan. Dengan demikian, kita bisa mengambil hikmah ramadhan disaat pandemi corona ini, yaitu fokus menjalankan ibadah puasa yang diirngi dengan amalan baik dan terhindar dari perbuatan merusak pahala berpuasa. Wallahu a’lam.

Penulis adalah Ketua Cabang PMII Jakarta Selatan, Alumni Institut PTIQ Jakarta.

Kelompok Tani Al Fata Siap Pasok Kebutuhan Bawang Putih di Bulan Ramadhan

0

Ciawi | Jurnal Inspirasi

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengapresiasi hasil panen bawang putih petani di Kabupaten Temanggung. Ia menuturkan komoditas bawang putih di Temanggung akan dikembangkan maksimal dan diharapkan menjadi penyangga nasional. Lahan Kelompok Tani (Poktan) Al Fata yang diketuai Bangun Sugito di Desa Petarangan Kecamatan Kledung Kabupaten Temanggung Provinsi Jawa Tengah termasuk bagian yang dipanen Mentan pekan lalu dan masih akan panen hingga awal Mei mendatang.

Bawang putih yang ditanam dilahan seluas 386 hektar adalah varietas Lumbu Kuning dan Lumbu Hijau dengan hasil 12 ton per hektar siap ramaikan pasar bawang putih jelang Ramadhan 2020. “Hasil panen bawang putih di Petarangan cukup menggembirakan, walaupun ada hama tetapi bisa dikendalikan” kata Heriyanto Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Kledung, Senin (20/4).

Kledung Kata Heriyanto siap memasok bawang putih ke pasar guna memenuhi kebutuhan bawang putih jelang Ramadhan. Heriyanto melanjutkan dalam pendampingan kepada poktan Ia bersinergi dengan petugas POPT Lab melakukan Gerakan Pengamatan hama Pengendalian Hama Terpadu (Gerdal). Pengendalian dilakukan rutin terutama dibulan Januari karena curah hujan yang tinggi.

Kata Dia bawang putih lokal dari sisi ukuran kini sudah bisa bersaing dengan bawang putih dari luar (impor), bahkan memiliki keunggulan aroma yang lebih kuat. “ Aroma bawang putih lokal lebih kuat, dan ukuran sekarang bisa bersaing,“ ujarnya. Luas lahan bawang putih secara keseluruhan di Kecamatan Kledung 1134 ha, 45 ha diantaranya dibiayai APBN 2019 dan 50 hektar pembiayaannya difasilitasi oleh PT Food Station Jakarta.

Untuk menjaga mutu Penyuluh terus memberi informasi penyuluhan pasca panen yang baik, mendorong penangkar untuk bisa menyerap panenan bawang putih untuk benih musim tanam November – Desember dan membantu petani mencari pesanan langsung dari konsumen serta mengusulkan harga dasar ke Dinas untuk diteruskan ke Pusat. Harga dasar yang diusulkan ke Dinas untuk cabut basah all grade dengan kadar air 80% Rp. 12 ribu dijual dengan daun dilahan langsung, magel dengan daun Rp. 18 ribu kadar air> 30% siap simpan dan protolan Magel Rp. 21 ribu tanpa daun dengan kadar air . 30% siap dipasarkan dan menjadi konsumsi pasar. Sementera Untuk protolam kering harganya Rp. 35 ribu kadar air , 25% dan sudah diikat (kering benih) Rp. 45 ribu kadar air , 25%.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi menuturkan dalam mengatasi virus covid-19 ini pertanian merupakan garda terdepan. Sebab, pemenuhan kebutuhan pangan juga berperan penting untuk menjaga imunitas tubuh. “Kegiatan tidak boleh berhenti, bahkan peran penyuluh justru menjadi sangat penting untuk meningkatkan produksi pertanian,” kata Dedi.

Ia menyemangati para penyuluh untuk tetap aktif dan produktif mendampingi petani, agar proses budidaya di lahan masing-masing panen dan pemrosesannya berjalan dengan baik.

RG/PPMKP

PSBB Belum Maksimal

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Bogor hingga hari keempat dinilai belum maksimal. Bahkan, Wakil Walikota Bogor, Dedie A. Rachim memiliki tiga catatan penting dalam PSBB ini.

“Ada tiga catatan penting dalam pelaksanaan PSBB ini. Ada yang harus dievaluasi, sebab kebijakan tersebut belum mampu menurunkan jumlah orang yang terkonfirmasi posiif Covid-19,” ujar Dedie kepada wartawan, baru-baru ini.

Menurut dia, sejak PSBB diberlakukan masih banyak masyarakat yang belum menggunakan masker ketika ke luar rumah. “Kita harus evaluasi. Terutama bagi masyarakat yang belum tahu pentingnya penggunaan masker,” ungkapnya.

Selain itu, sambung dia, pengusaha dan para pedagang masih melakukan kegiatan seperti biasa. Padahal bidang itu, kata Dedie, tak masuk dalam pengecualian PSBB. “Ya, contohnya berjalan toko dan usaha yang tak dikecualikan masih buka usaha,” katanya.

Dedie menegaskan, Pemkot Bogor akan menggalakan kembali mengedukasi masyarakat mengenai pelaksanaan PSBB. “Kami sudah menginstruksikan agar kelurahan dibantu Babinsa dan Babinkamtibmas mengimbau para pelaku usaha,” ucapnya.

Dedie juga mengakui bahwa mobilitas masyarakat dan kegiatan transportasi jasa angkutan umum masig tinggi. “Ini akan kami evaluasi. Sebab ada angkutan umun masih beroperasi di luar jam operasional. Kami sering menemukan angkutan umum yang masih beroperasi dengan daya muat lebih dari 50 persen,” paparnya.

Atas dasar itu, Pemkot Bogor bakal melakukan evaluasi pada beberapa lokasi penyekatan yang dirasa kurang tepat. Jadi satu sampai dua hari kedepan kami bakal eauasi,” tegasnya.

Sementara itu, Anggota DPRD Kota Bogor asal PKB, Jatirin mengatakan bahwa agar pelaksanaan PSBB maksimal, pemerintah mesti memikirkan dampak ekonomi bagi masyarakat bawah. “Kalau mau maksimal harus dibarengi dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat. Selain itu, aparat yang bertugas juga diberi BOP dan menggandeng ulama guna memberikan pemahaman kepada warga,” ungkapnya.

Jatirin menyatakan, apabila sistem PSBB tak segera dievaluasi, maka akan sulit untuk memutus mata rantai penyebaran wabah Covid-19 di Kota Bogor yang notabenenya merupakan zona merah.

“Untuk memutus wabah Corona memang tergantung masyarakat, dan bila begini terus dampak sosialnya bakal makin besar. Tapi susah kalau hanya meminta warga diam di rumah tanpa dipenuhi kebutuhannya. Banyak warga yang ngadu ke saya. Kalau kita diam di rumah terus, lantas dapur kami bagaimana?,” paparnya.

Jatirin menuturkan bahwa wabah Covid-19 sudah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) di Kota Bogor, sehingga penanganannya mesti dengan strategi yang luar biasa. “Misalnya, “Gerakan Sejuta Masker” yang digaungkan bagus. Tapi alangkah baiknya bila masker itu didistribusikan langsung ke warga melalui RW,” ucapnya.

Lebih lanjut, kata dia, apabila kebutuhan masyarakat sudah dapat dicover pemerintah, maka penegakan disiplin dapat dilakukan dengan mudah. Contohnya, kata dia, apabila ada sopir angkot yang nekat tak pakai masker, langsung diberi sanksi berupa pelarangan operasi. “Atau ‘kandangin’ langsung angkotnya. Jadi intinya bantuan bagi warga harus segera didistribusikan,” tegasnya.

Terpisah, Camat Bogor Tengah, Agustian Syah mengaku bahwa hingga kini masih banyak pelanggaran PSBB yang terjadi di wilayahnya, terutama oleh para pelaku usaha yang tetap menekat membuka tokonya. Padahal, mereka tidak masuk dalam daftar usaha yang dikecualikan.

“Ya, seperti toko baju, ATK dan bengkel. Semuanya kami data dan melaporkannya ke Gugus Tugas Covid-19. Soal dicabut atau tidak izin usahanya, kami masih menunggu rekomendasi,” ucapnya.

Dalam kesempatan berbeda, Paur Humas Polresta Bogor Kota Ipda Desty Irianti mengatakan bahwa sedikitnya terdapar 193 surat terguran sudah dikeluarkan Polresta Bogor Kota terhadap para pengendara yang melanggar PSBB. “193 durat tilang itu adalah data tanggal 15 sampai 16 April,” ungkapnya.

Ia menyatakan, pelanggaran paling banyak dilakukan adalah tidak menggunakan masker oleh pemotor. Kemudian, pemotor berboncengan berbeda alamat KTP. “Kemudian untuk penumpang mobil pribadi, mereka tak jaga jarak,” paparnya.

Ipda Desty menyatakan bahwa sejauh ini belum ada tindakan sanksi lanjutan bagi pelanggar PSBB. “Sementara belum ada sanksi lanjutan,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, dalam penerapan PSBB, Pemkot Bogor bersama kepolisian akan menggunakan KUHP Pasal 212, 216 dan 218 bagi para pelanggar PSBB. Khususnya mereka yang menyelenggarakan kegiatan yang menyebabkan berkumpulnya banyak orang.

Selain itu, para pelanggar juga akan dikenakan Tindak Pidana Ringan (Tipiring) Pasal 93 Undang Undang Nomor 6 Tahun 2018 Tentang Karantina Kesehatan dengan denda Rp100 juta hingga pencabutan izin bagi pengusaha yang melanggar.

Fredy Kristianto

Hadits Hari Ini

0

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Ibnu Basysyar mereka berdua berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, aku mendengar Abu Ishaq bercerita dari Al A’raj Abu Muslim bahwasanya dia berkata; Aku bersaksi atas Abu Hurairah dan Abu Sa’id Al Khudri bahwasanya keduanya menyaksikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Tidaklah suatu kaum yang duduk berkumpul untuk mengingat Allah, kecuali dinaungi oleh para malaikat, dilimpahkan kepada mereka rahmat, akan diturunkan kepada mereka ketenangan, dan Allah Azza Wa jalla akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para makhluk yang ada di sisi-Nya.

Dan telah menceritakannya kepadaku Zuhair bin Harb, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman, telah menceritakan kepada kami Syu’bah dalam sanad ini dengan hadits yang serupa.

HR Muslim No. 4868.

HARUSKAH MENGGUNAKAN MASKER?

0

Hari ini siapa yang tidak kenal dengan kata CORONA VIRUS. Ya, Beberapa bulan ini mendadak popular. Entah berapa ratus atau ribu  kali kita mendengar kata ini diucapkan. Namun setiap kali diucapkan menimbulkan perasaan kawatir, galau, atau sejenisnya. Mengapa? Karena itu adalah nama penyebab penyakit. WHO telah menetapkan namanya yaitu CoronaVirus Desease-19 atau COVID-19. Dan lebih galau lagi karena  WHO juga telah menetapkan sebagai pandemi dunia.

 Salah satu komponen penting dalam memahami pademi virus corona yang sedang kita hadapi saat ini, yang masih ada kesalahan pahaman adalah proses penularannya. Cara penularan utama virus ini yang sudah diketahui banyak orang adalah dari orang ke orang lain melalui tetesan atau percikan dari pernapasan, bersin atau batuk (droplet infection). Beberapa bagian percikan ini akan mendarat di permukaan bahan-bahan atau barang-barang dan bertahan beberapa lama bahkan beberapa hari. Beberapa bagian lagi karena ukurannya yang kecil akan tetap melayang di udara selama beberapa jam. Beberapa bagian lagi mungkin terbawa oleh orang lain disekitar  tanpa terlihat dan bisa memulai proses penularannya. Tetesan bisa mencapai sekitar satu hingga dua meter. Ini adalah alasan mengapa jarak social  minimal satu meter.

Namun jika batuk sangat kuat, bersin atau tertawa keras percikan bisan mencapai tiga setengah meter. Oleh Karen aitu kita perlu menghentikan penyebaran percikan-percikan dari orang-orang yang sedang sakit, untuk dapat menghentikan penyebaran virus ini. Namun tidak semua orang yang mengandung virus secara fisik terlihat sakit. Beberapa diantaranya hanya pembawa atau carier, mereka tidak menunjukkan gejala-gejala sakit. Beberapa lagi, baru sakit bebrapa hari setelah melewati masa inkubasi.

Apa itu masa inkubasi? Masa inkubasi adalah waktu dari ketika virus memasuki tubuh sampai orang itu bermanifestasi dengan tanda-tanda dan gejala. Masa inkubasi ini berkisar dari satu hingga 12 hari, tetapi untuk keseragaman ditentukan 14 hari. Masa sakit berkisar tujuh hingga empat belas hari, mungkin bisa sampai 20 hari atau lebih lama lagi.  Jadi perjalanan penyakit ini rata-rata berjalan kurang lebih  satu bulan.  

Waktu perjalanan penyakit ini perlu diketahui, supaya kita bisa memperkirakan waktu untuk mengisolasi diri. Ini penting karena kita tidak bisa mengetahui orang-orang disekitar kita  siapakah yang sedang benar-benar sehat, atau siapakah yang mungkin sedang membawa virus kecuali mereka yang sudah dinyatakan positif. Namun untuk mengetahui betul bahwa seseorang positif tentu memerlukan waktu yang lama.

Jadi dengan cara penyebaran seperti itu sangat sulit untuk mengontrol penyebaran virus ini.satu-satunya cara yang bisa kita lakukan adalah menghindarinya. Masker adalah satu-satunya cara yang bisa digunakan. Bukan melindungi diri dari virus, tetapi melindungi percikan orang-orang yang sedang membawa virus. Saat ini masker sulit ditemukan dipasaran. Jika tidak ada masker, gunakan apapun yang dapat melindungi, mungkin saputangan, handuk, kerudung atau apapun yang dapat menahan percikan agar tidak keluar.

Dari mana seseorang dapat terinfeksi virus? Kemungkinan terbesar adalah dari seseorang yang telah terinfeksi tetapi tidak menunjukkan gejala, kemudian meninggalkan tetesan atau percikan pada suatu tempat hingga berpindah ke orang yang sehat. Virus hanya bertahan hidup didalam tubuh inang (manusia atau hewan). Jika berada  diluar tubuh inang dia akan mati dalam beberapa saat.  Namun jika masuk ke dalam tubuh Dia bisa berkembang, dan ini terjadi terus menerus.

Semua orang bisa terinfeksi virus ini. Sebagian bisa diselamatkan, namun sebagian lagi tidak akan bisa bertahan. Siapa yang akan meninggal dan siapa yang akan sembuh kita tahu. Kita juga tidak tahu siapa orang disekitar kita yang sedang membawa virus. Jadi kita perlu hati-hati dan waspada. Kita harus berasumsi bahwa setiap orang terinfeksi dan membawa virus. Jadi kita harus tetap melindungi dengan masker.

Jika setiap orang, minimal orang-orang yang tinggal di kota bogor menggunakan masker jumlah yang tertular akan turun secara signifikan. Dampaknya adalah sistem pelayanan kesehatan, Rumah sakit yang merawat pasien-pasien covid-19 tidak lagi kewalahan dan dapat mengelola kasus dengan lebih mudah dibandingkan dengan sebelumnya. Penurunan kasus ini pada akhirnya dapat menghentikan virus secara alamiah.

Jika ini dapat dilakukan kita mendapatkan banyak kemanfaatan , diantaranya adalah penghematan yang luar bisa dari pengeluaran obat dan alat-alat kesehatan lainnya, yang tentu harganya sangat mahal. Hal baik lain yang bisa kita peroleh adalah minimalnya efek samping penggunaan obat.

Belajar dari sejarah, pandemi yang kurang lebih sama terjadi tahun 1918 yaitu pandemic flu spanyol, dimana berjuta-juta orang meninggal karenanya.  Pada perjalanan pandemic itu baru disadari perlunya penggunaan masker setelah akhir-akhir masa pandemi, setelah berjuta-juta orang meninggal. Pada saat itu orang dipaksa menggunakan masker bahkan dibawah todongan senjata. Sejak itulah masalah bisa dikendalikan. Belajar dari peristiwa itu, tidak berlebihan jika mulai saat ini semua orang harus menggunakan masker. Pilihannya adalah menggunakan masker atau menunggu semua orang terinfeksi. Jika pilihan kedua yang pilih, bisa dibayangkan berapa juta (di Indonesia saja) yang akan dikuburkan tanpa diantar keluarga. Berapa yang di Jawa Barat? Berapa yang di Bogor?

Jadi, bukankah mencegah lebih baik dari mengobati? Mari kita mulai menggunakan masker daripada menunggu lebih banyak orang terinfeksi.

0