32.2 C
Bogor
Monday, May 11, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 869

Soal Eks Holywings, RK Hingga Gus M Minta Bima Tegas,

0

JURNAL INSPIRASI – Polemik promosi minuman beralkohol (minol) gratis bagi warga yang bernama Muhammad dan Maria terus menggelinding. Bahkan, Gubernur DKI Anies Baswedan telah mencabut izin 12 outlet Holywings yang ada di wilayahnya.

Sementara Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (RK) menyatakan tidak bisa menutup Holywings di Jawa Barat seperti halnya di DKI Jakarta, karena tidak memiliki kewenangan tersebut. Atas dasar itu, ia meminta Wali kota Bogor Bima Arya dan Bandung untuk bertindak tegas soal perizinan operasional perusahaan itu.

“(Perizinan) Holywings kalau Jakarta ada di gubernur, kalau di luar Jakarta kewenangan izin hiburan hotel restoran ada di bupati dan wali kota. Jadi saya harapkan di Bandung dan Bogor untuk ambil tindakan tegas,” ujar Ridwan Kamil seperti dikutip dari Merdeka.com, Selasa (28/6).

“Jika secara aspek hukum dan kepatutan ada pelanggaran. Imbauan saya pada Bima Arya dan Pak Yana (tindak tegas),” katanya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Anggota Komisi I DPRD Kota Bogor, Akhmad Saeful Bakhri. Menurutnya, wali kota harus menunjukan komitmennya dengan tidak memberikan izin kepada kafe atau tempat usaha yang menjual minol di atas 5 persen.

“Pak Wali mengizinkan Holywings yang kini berubah menjadi Elvis untuk buka dengan tidak menjual minol di atas 5 persen, dan menyediakan bajigur, bandrek dan makanan serta minuman yang menunjukan kearifan lokal,” kata politisi PPP ini.

Namun, sambung dia, saat wali kota sidak ke Elvis (eks Holywings) pada Sabtu (25/6) lalu, ditemukan bila kafe itu menjual minol di atas 40 persen. “Saat itu wali kota juga menyebut bila Elvis masih berafiliasi dengan Holywings. Artinya ini kan ada pelanggaran yang dilakukan, pengusaha tidak menjalankan komitmennya,” tegas pria yang akrab disapa Gus M ini.

Dengan demikian, kata Gus M, wali kota harus bertindak tegas dengan menutup permanen kafe tersebut, dan tidak hanya sekedar membekukan perizinannya.

“Kau yang memulai, kau juga yang harus mengakhiri. Pemkot juga harus tegas terhadap semua tempat yang menjual minol di atas 5 persen,” ungkapnya.

Sebelumnya, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) menyegel Elvis (eks Holywings) lantaran kedapatan menjual minuman beralkohol (minol) dengan kadar alkohol di atas 40 persen.

“Penyegelan dilakukan selama 14 hari kedepan,” ujar Wali Kota Bima Arya kepada wartawan, Sabtu (25/6).

Bima juga menegaskan bahwa pihaknya bakal mencabut izin Elvis yang masih berafiliasi dengan Holywings.

“Izin yang diberikan ini bukan untuk menjual alkohol di atas 5 persen, tetapi dari pengecekan kami, ditemukan alkohol di atas 5 persen rata-rata 40 persen,” ucap dia.

Bima menyanyangkan sikap Elvis yang masih menjual alkohol diatas 5 persen.

“Saya kira ini sudah keterlaluan, tidak paham, tidak mau memahami, tidak mau menaati aturan dan juga kearifan lokal kita. Karena itu sesuai dengan prosedur Elvis yang terafiliasi dengan Hollywings Jakarta kami segel, sekaligus dibekukan IMB,” ungkapnya.** Fredy Kristianto

Polsek Leuwiliang Beri Bantuan Korban Banjir

0

Leuwiliang | Jurnal Bogor

Jajaran Polsek Leuwiliang menyalurkan bantuan sembako untuk korban terdampak banjir bandang di wilayah Kampung Cisarua, Desa Purasari, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Senin (27/0/22).

“Bantuan sembako telah diterima oleh Kepala Desa Purasari dan anggota BPBD Kabupaten Bogor,” kata Kapolsek Leuwiliang Kompol Agus Suprianto dalam keterangannya, ,Rabu (29/06/22).

Adapun bantuan yang disalurkan tersebut berupa 20 kardus mie instan, 21 karung beras 50 kilogram dan 10 dus air mineral. Tak hanya itu, jajaran Polsek Leuwiliang juga sekaligus memantau kondisi korban terdampak banjir bandang di wilayah tersebut.

“Selama kegiatan berlangsung kondusif,” pungkasnya.

Seperti diketahui, banjir bandang melanda wilayah Kecamatan Leuwilang, Kabupaten Bogor pada Rabu 22 Juni 2022. Dalam bencana ini, sejumlah rumah, jalan dan area persawahan dan lainnya rusak.

Bukan hanya kerugian materi, dalam banjir bandang ini terdapat satu orang meninggal dunia karena terseret air. Korban ditemukan di wilayah Tangerang.

**nay

Obesitas Konten Islami, Dari Tidak Bijak Hingga Minim Referensi

0

Bogor | Jurnal Bogor

Perkembangan teknologi yang semakin membuat akses informasi semakin mudah dan cepat. Begitu juga dengan konten Islam, kini baik media massa digital maupun media sosial ramai membuat konten Islami.

Ustadz, Kyai, bahkan siapapun kini dapat memproduksi konten di media sosialnya masing-masing. Dampaknya, kita dengan mudah untuk belajar dan menambah khazanah pengetahuan.

Mungkin bukan hal asing jika kita ingin tahu informasi terbaru, cukup mengakses Google untuk artikel yang perlu kita baca atau YouTube untuk penjelasan berupa video.

Hal tersebut berdampak positif bagi masyarakat Muslim yang kian meningkatkan pengetahuan dan ibadahnya. Tren hijrah pun kini menjadi gaungan bagi anak-anak muda.

Bukan hal aneh jika kita mendengar dan melihat diskusi keagamaan yang tak sebatas di masjid. Namun di tongkrongan seperti kafe atau angkringan bersama teman.

Hampir semua orang dapat mengakses konten dasar seperti tata cara membaca Al-Quran hingga pembahasan yang cukup dalam seperti fiqih ataupun tafsir.

Di sisi lain, mudahnya akses dan banyaknya produksi konten Islami menyebabkan obesitas konten. Konten menjadi terlalu banyak hingga obesitas berdampak negatif bagi masyarakat.

Berikut ini dampak yang harus diketahui:

1. Tidak Dalam Memahami Konten

Dalam belajar Islam, tentu tidak semua teks yang dibaca, hadits bahkan Al-Quran dapat dipahami langsung.

Itu mengapa banyak tafsir dan penjabaran berjilid-jilid buku yang ditulis ulama terdahulu untuk mencoba mengurai dari pengertian sebuah penyataan berupa hadits Nabi ﷺ dan penjelasan dari sebuah firman Allahu Subhanahu Wa Ta’ala.

Banyak pula konten ustadz di media sosial yang mencoba menjabarkan secara ringkas bagaimana pemahaman dari konteks pada hukum maupun pengertian hadits maupun ayat.

Namun kerapkali, informasi apa yang sudah didapat dijadikan pengertian sendiri dan mengabaikan penjabaran ulama dan berbagai referensi lainnya.

2. Tidak Objektif

Informasi yang diterima harus diverifikasi dan dilihat dari berbagai referensi, khususnya konten Islam.

Kita belajar dari hadits bagaimana detail terkait sanadnya. Namun, seringkali ketika kita mendapatkan informasi, maka kita kurang memvalidasi dan melihat berbagai referensi lainnya.

Kurangnya melihat berbagai referensi membuat kita jadi tidak objektif. Sebagai penuntut ilmu, perlunya kita mengambil informasi seluas-luasnya dan melihat dari referensi mana saja yang tentunya tetap bersandar pada kebenaran.

Terbelenggu Pada Putaran Soal, Bukan Dasar

Bukan hal baru jika sering kita lihat di media sosial terjadi perdebat pelik terkait perbedaan cara dan pandangan dalam memahami suatu konteks Islam.

Padahal, terkadang perdebatan terkait suatu kebenaran konten dari berbagai pandangan tersebut masih perlu kajian dan referensi dari ulama maupun kitab-kitab.

Di sisi lain, kemudahan akses konten juga memicu kita belajar pada hal yang menarik saja, bukan pada dasar dari belajar. Misalkan, dalam tahap penuntut Ilmu sebaiknya kita mengutamakan bacaan Al-Quran, menyimak dan menelaah dari ulama.

Bukan justru berdebat untuk mendapatkan legitimasi pembenaran dari perbedaan pandangan orang lain.

3. Tidak Bijak

Perlu dipahami bahwa ikhtiar dari sahabat dan ulama terdahulu untuk sama-sama menjalankan sunnah Nabi ﷺ begitu besar. Mulai dari kitab-kitab yang ditulis, pendidikan, hingga ijtihad ulama masa kini untuk merumuskan kebaikan dari sebuah soal.

Namun, dampaknya obesitas konten digital membuat kita tidak bijak dalam menghargai pendapat diri dan orang lain ketika memahami suatu informasi.

Bahkan, seringkali kita memaksakan orang lain untuk sama dengan pandangan yang kita punya. Padahal, Nabi ﷺ sudah mengajarkan kita bahwa perbedaan itu menjadi rakhmat selama tetap berpegang teguh pada Al-Quran dan hadits.

Wallahu A’lam Bishowab…

**Fitrah Aditya Chandra/fr-mg

Buntut Demo Sopir Angkot, CBA Minta Menteri Eveluasi Kinerja WIKA

0

Megamendung | Jurnal Bogor

Paska aksi demo para sopir angkutan umum (Angkot) trayek Pasir Muncang-Ciawi, ke lokasi pembangunan proyek Bendungan Sukamahi-Gadog, Selasa (28/06), menjadi perhatian Center for Budget Analysis (CBA),

Koordinator CBA, Jajang Nurjaman mengatakan, aksi protes sopir angkot yang merasa dirugikan itu, merupakan bentuk kecewa terhadap pelaksana proyek yang dibiayai uang rakyat tersebut.

Jajang menilai, proyek pembangunan Bendungan Sukamahi dengan anggaran fantastis hingga mencapai Rp 436,9 miliar, merupakan proyek strategis nasional. Seharusnya, bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar, bukan malah menambah masalah bahkan membuat sengsara.

“Adanya keluhan warga yang setiap harinya menjadi sopir angkot, menandakan terjadinya ketidak beresan dalam perencanaan, pengawasan serta pekerjaan mega proyek itu. Tentunya ini

harus menjadi perhatian serius Menteri PUPR. Evaluasi kinerja anak buahnya di lokasi proyek Bandungan Sukamahi-Gadog,” tegasnya.

Aksi para sopir angkot trayek Ciawi-Pasir Muncang itu, dipicu karena lambannya perbaikan jalan yang rusak  akibat hilir mudik kendaraan truk pengangkut material untuk pembangunan proyek Bendungan Sukamahi-Ciawi oleh pihak WIKA-BRP.

Seharusnya, kata dia, proyek strategis yang dikerjakan BUMN ini, memperhatikan dampak lingkungan sebelum melakukan pembangunan, terlebih proyek Bendungan Sukamahi-Gadog ini, merupakan proyek unggulan era kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Hal itu bertujuan, sambung Rahmat, agar tidak ada kepentingan umum yang dirugikan, apalagi dampak positif bagi masyarakat di Kabupaten Bogor dengan keberadaan bendungan tidak terlalu signifikan.

“Bendungan ini bukan untuk kepentingan masyarakat Bogor. Jadi pembangunannya jangan sampai merugikan masyarakat lokal,” tegasnya.

Sementara, Camat Megamendung, Kabupaten Bogor, Acep Sajidin membenarkan aksi demo sopir angkot itu dipicu karena lambatnya perbaikan jalan yang rusak, sehingga berdampak kepada pendapatan para sopir angkot.

Meski begitu, Acep mengungkapkan, aksi tersebut berjalan kondusif karena pihak Forkompimcam Megamendung bisa menampung aspirasi pendemo dan akan disampaikan ke pelaksana proyek, yakni WIKA-BRP.

 “Alhamdulillah semua berjalan lancar.  Memang karena pendapatan menurun, sopir angkot berdemo,” tukasnya.

** Dede Suhendar

Nasdem Targetkan Enam Kursi Legislatif di Kabupaten Bogor

0

Caringin|Jurnal Bogor

Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Nasional Demokrat (NasDem) Kabupaten Bogor, menargetkan pencapaian keterwakilan kursi di DPRD Kabupaten Bogor pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2024 mendatang. Hal itu dibuktikan dengan melaksanakan kaderisasi dan pendidikan politik para pengurus partai yang ada di setiap daerah pemilihan (Dapil) di Kabupaten Bogor.

“Pelatihan politik bagi kader sangat penting, hal itu bertujuan untuk mengoptimalkan mesin partai. Pelatihan hari ini khusus wilayah dapil 3 dan merupakan kegiatan terakhir, karena Dapil yang lain sudah melaksanakan kegiatan ini,” ujar Ketua DPD NasDem Kabupaten Bogor, Friedrich M.R kepada wartawan di Kinasih Resort, Rabu (29/06).

Ia menambahkan, untuk pencapaian target di Pileg 2024, partai besutan Surya Paloh yang dipimpinnya itu menargetkan 6 kursi DPRD Kabupaten Bogor, sehingga setiap Dapil ada keterwakilan anggota legislatif dari NasDem. Terkait Pilpres, sambungnya, kader NasDem ditingkat DPD, masih menunggu instruksi DPW Jawa Barat maupun DPP Pusat.

“Pileg 2019 menjadi evaluasi bagi kami agar tidak terulang lagi di 2024. Kami optimis, di Pileg 2024 setiap Dapil ada keterwakilan legislatif dari partai kami,” tegas Friedrich M.R.

Untuk mencapai target itu, Friedrich mengaku, sudah memboyong berbagai strategi politik untuk dikalangan internal partai dan kader, juga untuk konstituen. Misalnya, untuk kader akan dibuatkan e-KTA, serta jaminan asuransi untuk keluarga, sedangkan konstituen berbagai program kerakyatan sudah berjalan.

“Strategi politik jelas sudah kami rancang dalam upaya pemenangan, salah satunya adalah pendidikan politik yang sekarang dilaksanakan,” imbuhnya.

Sementara, Ketua DPW Partai NasDem Jawa Barat, Saan Mustofa menuturkan, keyakinannya bahwa Partai NasDem akan menjadi partai besar, cita-cita partai di Pileg dan Pilpres 2024 pun akan terwujud.

Untuk itu, Saan mengajak semua kader  dan simpatisan agar tetap solid dalam menggapai tujuan partai untuk dipersembahkan kepada rakyat.

“Saya yakin semua akan tercapai di Pileg maupun Pilpres 2024 nanti. Target kami, ada perwakilan legislatif di Dapil Kabupaten Bogor, DPR RI satu, DPRD Provinsi Jabar satu dan DPRD Kabupaten Bogor, enam kursi legislatif,” tukasnya.

** Dede Suhendar

Diduga Jadi Bancakan, KPK Diminta Sikapi Samisade

0

Ciawi|Jurnal Bogor

Program Satu Miliar Satu Desa (Samisade) yang digagas Ade Yasin dan Iwan Setiawan saat menahkodai Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor periode 2019-2024, terus menjadi sorotan berbagai kalangan. Indikasi dan adanya dugaan hanya dijadikan ajang bancakan para kepala desa (Kades) dalam penyerapan anggaran program politik Bupati dan Wakil Bupati Bogor itu pun, dilontarkan Jaringan Advokasi Masyarakat Jangkar Pakuan Pajajaran (JPP).

Ketua JPP, Saleh Nurangga mengagungkan, indikasi terjadinya kecurangan dalam pelaksanaan program Samisade dapat dilihat dengan terjadinya berbagai persoalan, seperti ambruknya Tembok Penahan Tebing (TPT) di Desa Bendungan Kecamatan Ciawi, dan TPT di Desa Galuga, Kecamatan Cibungbulang yang diduga akibat kesalahan kontruksi.

Saleh pun mengancam bakal melaporkan oknum-oknum kepala desa (Kades), yang mencoba mencari keuntungan pribadi dalam pelaksanaan program Samisade ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Kami sudah lakukan penelitian di setiap titik pembangunan dibeberapa desa yang anggarannya dari Samisade, sesuai aduan masyarakat. Intinya, JPP akan melaporkan oknum Kades yang kedapatan mencari keuntungan ke KPK,” ujar Saleh saat ditemui wartawan di kantornya, Rabu (28/06).

Menurutnya, program Samisade yang baru berjalan satu tahun anggaran, tidak memiliki landasan hukum kuat, padahal program itu digadang-gadang sebagai program unggulan untuk percepatan pembangunan serta pemulihan ekonomi desa di Kabupaten Bogor.

Sehingga, lanjut Saleh, anggaran yang digelontorkan untuk tahun 2021 sekitar Rp372,9 miliar diberikan kepada 415 desa, dan terealisasi sekitar Rp368,4 miliar di 413 desa. Sedangkan pada tahun 2022, Pemkab Bogor menyiapkan anggaran sekitar Rp395,7 miliar untuk 415 desa.

“Uang rakyat yang digunakan tidak sedikit nilainya. Jadi sudah sepantasnya KPK melakukan penyelidikan, karena ada dugaan kuat program Samisade itu hanya jadi ajang bancakan Kades saja,” tegasnya.

Terpisah, Pengamat Kebijakan Publik, Andika Pakpahan menilai, program Samisade terkesan dipaksakan dan di mata masyarakat berbau pencitraan politik pemimpin Kabupaten Bogor.

Andika juga mengkritisi perencanaan, pelaksanaan, pelaporan hingga monitoring program yang hanya dipayungi Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 tahun 2021 itu.

“Kalau tahun sekarang penyaluran Samisade masih dipaksakan, sebaiknya program itu ditunda dan anggarannya direcofusing ke kegiatan lain yang lebih bermanfaat,” tukasnya.

** Dede Suhendar

Komitmen Turunkan Stunting, Danone Indonesia Edukasi Gizi “Isi Piringku” di Kabupaten Bogor

0

Jakarta | Jurnal Bogor

Stunting merupakan permasalahan kesehatan yang secara jangka panjang dapat menghambat tumbuh kembang dan aspek kognitif pada anak. Dalam mencapai target penurunan angka stunting di Indonesia sebesar 14% pada 2024, dibutuhkan komitmen dari berbagai pihak baik dari sisi pemerintah, masyarakat maupun sektor industri. Percepatan penurunan angka stunting menjadi prioritas dikarenakan menurut data hasil SSGI tahun 2021 angka stunting secara nasional sebesar 24,4% di tahun 2021, sedangkan Kabupaten Bogor menunjukkan data wilayah dengan prevalensi yang cukup tinggi yaitu 28,6 %.

Untuk itu, Danone Indonesia berkolaborasi dengan Yasmina Foundation melalui Program Isi Piringku tahun 2022 melaksanakan edukasi gizi di seluruh PAUD di Kabupaten Bogor dan secara khusus melakukan pendampingan dan monitoring di 40 PAUD terpilih yang bertemakan Gizi Seimbang untuk Generasi Emas.

PLT Bupati Bogor Iwan Setiawan yang diwakilkan oleh drg Mike Kaltarina Mars – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, mengatakan “Stunting telah menjadi permasalahan yang mempengaruhi identitas generasi kini dan masa mendatang. Untuk itu, memang sudah menjadi tugas kita bersama dalam menekan angka stunting melalui fokus utama pada perkembangan edukasi, gizi, dan kesehatan anak yang juga harus mampu bersinergi dengan para orangtua untuk mengembangkan pola asuh yang efektif di era disrupsi. Kami sangat mengapresiasi inisiatif yang dilakukan oleh Danone Indonesia dan Yasmina Foundation dalam menjalankan program Isi Piringku yang berfokus pada edukasi, gizi, dan pola asuh untuk anak usia dini, semoga dapat terus bersinergi dan berkolaborasi bersama pemerintah Kabupaten Bogor.”

Karyanto Wibowo – Sustainable Development Director Danone Indonesia menyampaikan bahwa pencegahan stunting menjadi salah satu fokus dari Danone Indonesia. “Danone Indonesia sendiri memiliki program integrasi bernama Bersama Cegah Stunting yang didalamnya termasuk kampanye edukasi Isi Piringku. Program Isi Piringku ini bertujuan tidak hanya untuk membentuk gizi dan nutrisi yang seimbang namun juga turut mempersiapkan anak untuk menjadi generasi emas. Upaya kami ini sejalan dengan  misi kami

“Danone One Planet One Health” dan misi kami yakni membawa kesehatan melalui makanan dan minuman yang sehat ke sebanyak mungkin orang. Danone Indonesia terus berkomitmen mendukung kesehatan anak-anak Indonesia untuk menjadi generasi maju dengan target kami di 2022 ini ialah, untuk memperluas Program Isi Piringku, selain kepada guru PAUD dan orangtua, akan diperluas kepada TP PKK zona Tengah, dengan tujuan memperkuat pemahaman gizi seimbang di masyarakat dalam upaya pencegahan stunting khususnya di wilayah Kabupaten Bogor.”

Program “Isi Piringku” yang dikembangkan Danone Indonesia bersama Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB sejak 2017 berfokus pada pemberian panduan edukasi gizi yang dapat digunakan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) atau TK (4-6 tahun). Melalui program ini, Danone Indonesia telah berhasil menjangkau 130,276 siswa dan 10,848 guru di 5,111 PAUD/TK yang berlokasi di 27 Kabupaten/Kota di 9 provinsi.

Pemahaman akan pentingnya penyediaan makanan yang seimbang agar si kecil memiliki metabolisme yang baik, sehingga proses berpikir atau tumbuh kembang anak tidak terhambat dan terhindar  dari stunting, sangat berkaitan dengan berbagai pihak. Halimatu Sadiyah – Ketua TP PKK Kabupaten Bogor menyatakan bahwa penekanan stunting perlu dilakukan dari berbagai sisi termasuk dalam institusi pendidikan anak usia dini.

“Dengan menekan angka stunting mulai dari jenjang PAUD diharapkan sumber daya manusia bisa menjadi maju. Dalam hal penekanan angka stunting diperlukan usaha dari multidimensi dengan edukasi gizi, kesehatan, dan pola asuh pada guru dan orangtua. Anak usia dini merupakan anak usia emas dalam tumbuh kembang sehingga dapat menjadi investasi usia dini merupakan investasi yang tinggi dalam peningkatan Sumber Daya Masyarakat (SDM). Untuk itu  pencegahan stunting ini harus dimulai dari usia dini dan dimulai dari menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan baru pada anak, salah satunya adalah dengan pemenuhan gizi seimbang, mencuci tangan menggunakan sabun, minum air putih 6 gelas sehari ,beraktivitas fisik,dan olahraga. Peran perusahaan sangat penting dalam mendukung pencegahan stunting”

Iis Istiqomah – Direktur Yasmina Foundation memaparkan bahwa kegiatan Program Isi Piringku yang berisi edukasi gizi, kesehatan, dan pola asuh ini terus dijalankan dan disesuaikan dengan kebutuhan para penerima manfaat sehingga semakin banyak pihak yang teredukasi. “Sesuai dengan target perluasan program kami di tahun ini, kami menyasar Kabupaten Bogor dengan harapan dapat memberikan pemahaman akan aspek pentingnya pemenuhan gizi seimbang yang berdampak pada pengurangan stunting di wilayah Bogor. Pada kesempatan ini juga, saya berterima kasih kepada Danone Indonesia yang telah mendukung kegiatan ini, semoga melalui program ini bisa membawa perubahan bagi anak-anak generasi emas kita, yang tentunya harus sehat agar dapat tumbuh dan menjadi penerus bangsa kita.”

“Terima kasih atas kepercayaan terus menerus yang diberikan kepada Danone Indonesia, sehingga kami dapat terus berkontribusi memberikan edukasi hidrasi sehat, nutrisi dan kebersihan lingkungan yang bermanfaat untuk anak anak dan juga keluarga. Kedepannya, Danone Indonesia ingin terus mendukung kesehatan dan pertumbuhan anak Indonesia menuju Generasi Emas 2045 dengan menghadirkan produk bernutrisi, program berkelanjutan, hingga kerjasama multipihak untuk mendukung pemenuhan gizi dan kesehatan anak-anak Indonesia.” tutup Karyanto.

**ass/rls

Waduh, Sapi di Pasar Hewan Jonggol Belum Dapat Vaksin dari Pemerintah 

0

Jonggol | Jurnal Bogor 

Sejumlah pedagang sapi di Pasar Hewan Jonggol, Desa Jonggol, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor mengaku, ratusan sapi yang ada di pasar tersebut belum mendapatkan vaksin penyakit mulut dan kuku (PMK) Aftopor Boehringer.

Salah seorang pedagang sapi Rondhi menuturkan, sejauh ini pedagang yang berada di Pasar hewan Jonggol belum mendapatkan informasi apapun terkait vaksinasi hewan.

“Jangankan pemberian vaksin, untuk sosialisasinya aja tidak ada. Malah pedagang nungguin adanya vaksin,” ucap Rodhi kepada Jurnal Bogor, Rabu (29/06/22).

Ia mengatakan dalam seminggunya bisa merogok kocek 5 sampai 6 juta rupiah untuk berbagai jenis obat obatan untuk hewannya.

“Kita para pedagang disini mengantisipasi terkena PMK, sapi-sapinya diberikan vitamin hingga obat obatan untuk menjaga imun tubuh sapi itu sendiri,  walau harganya lumayan mahal tetap kita beli. Ya mau gimana lagi demi keamanan,” paparnya.

Dengan adanya PMK ini, dia mengaku omset penjualan menurun hingga 80 persen dibandingkan tahun kemarin. “Makin sepi gara-gara isu PMK ini, padahal PMK sudah ada dari tahun 1989, kenapa baru ramainya sekarang, pedagang jadi yang dirugikan juga, ratusan sapi yang adapun belum kejual,” keluhnya.

Dia berharap adanya vaksin yang diberikan pemerintah daerah guna meringankan beban obat-obatan. “Kalau sudah vaksin siapa tahu kekebalan tubuhnya semakin bagus,” cetusnya.

Diketahui Pasar Hewan Jonggol merupakan pasar sapi terbesar di Jabodetabek, setiap tahunnya ribuan sapi dijual ditempat itu. Namun akibat adanya PMK, pedagang pun mengeluhkan terjadinya penurunan penjualan.

Sementara itu, Kepala UPT Dinas Peternakan wilayah Jonggol  Nanang, mengaku hingga saat ini pihaknya masih melakukan vaksinasi ke sejumlah sapi bukan dari pedagang namun peternak. “Masih di ring 1 wilayah peternak dahulu,” jelas Nanang.

Pihaknya pun mengaku akan melakukan vaksinasi hewan di Pasar Hewan Jonggol menunggu situasi aman dan tidak ada yang terinveksi kembali. “Kalau sebelumnya ada 14 ekor yang terinveksi, nanti semuanya rata akan divaksin, dan diberikan sosialisasi terlebih dahulu,” pungkasnya.

** Nay Nur’ain

Pemeliharaan Berkala Jalur Provinsi Jonggol Sudah Bergelombang dan Mengelupas

0

Jonggol | Jurnal Bogor 

Kondisi ruas jalan Jonggol – Cariu baru saja seminggu diaspal hotmix  sudah mulai terlihat  bergelombang dan beberapa bagian mulai mengelupas lapisan aspalnya.

Warga Kujang, Desa Jonggol Saefudin mengatakan, usia aspal ini masih tergolong baru, tapi sudah bergelombang dan ada beberapa bagian titik jalan aspalnya mengelupas. Padahal saat baru dihotmix itu jalannya mulus dan tidak bergelombang.

“Saya kurang paham apa yang menyebabkan aspal tersebut cepat bergelombang bak ombak-ombak kecil, jadi kalo jalan ndul-ndulan kaya naek kuda,”  ucap Saefudin kepada Jurnal Bogor, Rabu (29/06/22).

Ia menambahkan, dengan kondisi jalan yang bergelombang membuat dirinya dan beberapa pengguna jalan lain tidak nyaman.

“Setiap pembenahan jalan di lajur Jonggol – Cariu ini pasti usianya gak akan lama, mau dibeton atau diaspal  pasti hitungan minggu atau bulan lamanya udah terlihat tanda-tanda kerusakan,” paparnya.

Harusnya, kata dia, dinas terkait mencari penyebabnya, apakah karena kontur tanahnya yang labil atau karena pekerjanya yang asal-asalan sehingga warga Jonggol dan pengguna jalan lainnya bisa menikmati jalan bagus dalam jangka waktu yang lama.

“Mending kalo seumur jagung, ini mah usia rumput kali udah rusak lagi bae,” ujarnya.

Pengamat infrastruktur Herry HK mengatakan, kondisi bangunan jalan yang bergelombang itu ada beberapa faktor, apakah dari kontur tanah, atau gelar aspal yang langsung dilindas oleh kendaraan bertonase besar.

“Jika penyebabnya ada di kontur tanah, disini pemerintah harus mencarikan solusiny , seperti apa caranya agar tanah yang labil tetap bisa digelar aspal atau beton,” ujarnya.

Namun, jika persoalannya ada di pelaksanaan pekerjaan atau kontraktor yang asal – asalan dalam menggelar beton dan aspal harus ada tindakan dari instansi terkait, karena itu anggaran pemerintah pertanggungjawabannya harus jelas apalagi dengan nominal yang fantastis.

“Ya kalo kesalahan ada di kontraktor, instansi terkait jangan main mata, tindak dan blacklist perusahaan yang membuat aspal dan beton jadi tidak awet karena jika pada umumnya setelah dari uji, usia beton itu bisa mencapai 15 tahun dan aspal itu 5 tahun kualitasnya , kalo baru seumur jagung udah berubah bentuk itu harus dipertanyakan,” pungkasnya.

** Ramses / Nay 

Ancam Keselamatan, Tebing Sungai Cibeureum Longsor

0

Jasinga | Jurnal Bogor 

Tebingan yang berada di bibir sungai Cibeureum, Kampung Ngasuh, Desa Curug, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor mengalami longsor akibat luapan sungai saat hujan deras, Rabu (8/06/22) lalu.

Akibatnya, kondisi ini mengancam permukiman dan keselamatan warga. Sebab tebingan sepanjang 70 meter dan tinggi 10 meter tersebut cukup membahayakan.

Kepala Desa Curug Anton membeberkan, pihak pemerintah desa sudah melaporkan bencana alam tersebut ke pihak terkait. Namun, sangat disayangkan pihak terkait dalam hal ini PUPR dan UPT pengairan terkesan tutup mata dan telinga.

“Kami sudah melaporkan ke PUPR dan UPT pengairan, bahwa di desa kami ada longsor akibat luapan air yang menyebabkan bantaran sungai mengalami longsor. Tapi rupanya mereka pura-pura tidak melihat dan mendengar. Sekarang kami hanya berharap ada mukjizat dari Allah SWT,” ungkapnya saat dihubungi Jurnal Bogor, Rabu (29/06/22).

Padahal, kata dia, pemdes hanya butuh minimal ada tindakan dari pihak terkait agar tidak terjadi yang tidak diinginkan. Sebab, selain dekat dengan permukiman jalan lingkungan tersebut adalah akses anak-anak sekolah dan mengaji.

“Saya berharap pihak terkait mengambil langkah cepat, mau dibronjong atau dibangunkan TPT, kan itu masuknya Sungai Cibeureum anak sungai Cidurian,” jelasnya. 

“Mudah-mudahan segera ada perbaikan dari dinas terkait karena ini sangat mengancam keselamatan warga sekitar,”tukasnya.

** Andres