Obesitas Konten Islami, Dari Tidak Bijak Hingga Minim Referensi

0

Bogor | Jurnal Bogor

Perkembangan teknologi yang semakin membuat akses informasi semakin mudah dan cepat. Begitu juga dengan konten Islam, kini baik media massa digital maupun media sosial ramai membuat konten Islami.

Ustadz, Kyai, bahkan siapapun kini dapat memproduksi konten di media sosialnya masing-masing. Dampaknya, kita dengan mudah untuk belajar dan menambah khazanah pengetahuan.

Mungkin bukan hal asing jika kita ingin tahu informasi terbaru, cukup mengakses Google untuk artikel yang perlu kita baca atau YouTube untuk penjelasan berupa video.

Hal tersebut berdampak positif bagi masyarakat Muslim yang kian meningkatkan pengetahuan dan ibadahnya. Tren hijrah pun kini menjadi gaungan bagi anak-anak muda.

Bukan hal aneh jika kita mendengar dan melihat diskusi keagamaan yang tak sebatas di masjid. Namun di tongkrongan seperti kafe atau angkringan bersama teman.

Hampir semua orang dapat mengakses konten dasar seperti tata cara membaca Al-Quran hingga pembahasan yang cukup dalam seperti fiqih ataupun tafsir.

Di sisi lain, mudahnya akses dan banyaknya produksi konten Islami menyebabkan obesitas konten. Konten menjadi terlalu banyak hingga obesitas berdampak negatif bagi masyarakat.

Berikut ini dampak yang harus diketahui:

1. Tidak Dalam Memahami Konten

Dalam belajar Islam, tentu tidak semua teks yang dibaca, hadits bahkan Al-Quran dapat dipahami langsung.

Itu mengapa banyak tafsir dan penjabaran berjilid-jilid buku yang ditulis ulama terdahulu untuk mencoba mengurai dari pengertian sebuah penyataan berupa hadits Nabi ﷺ dan penjelasan dari sebuah firman Allahu Subhanahu Wa Ta’ala.

Banyak pula konten ustadz di media sosial yang mencoba menjabarkan secara ringkas bagaimana pemahaman dari konteks pada hukum maupun pengertian hadits maupun ayat.

Namun kerapkali, informasi apa yang sudah didapat dijadikan pengertian sendiri dan mengabaikan penjabaran ulama dan berbagai referensi lainnya.

2. Tidak Objektif

Informasi yang diterima harus diverifikasi dan dilihat dari berbagai referensi, khususnya konten Islam.

Kita belajar dari hadits bagaimana detail terkait sanadnya. Namun, seringkali ketika kita mendapatkan informasi, maka kita kurang memvalidasi dan melihat berbagai referensi lainnya.

Kurangnya melihat berbagai referensi membuat kita jadi tidak objektif. Sebagai penuntut ilmu, perlunya kita mengambil informasi seluas-luasnya dan melihat dari referensi mana saja yang tentunya tetap bersandar pada kebenaran.

Terbelenggu Pada Putaran Soal, Bukan Dasar

Bukan hal baru jika sering kita lihat di media sosial terjadi perdebat pelik terkait perbedaan cara dan pandangan dalam memahami suatu konteks Islam.

Padahal, terkadang perdebatan terkait suatu kebenaran konten dari berbagai pandangan tersebut masih perlu kajian dan referensi dari ulama maupun kitab-kitab.

Di sisi lain, kemudahan akses konten juga memicu kita belajar pada hal yang menarik saja, bukan pada dasar dari belajar. Misalkan, dalam tahap penuntut Ilmu sebaiknya kita mengutamakan bacaan Al-Quran, menyimak dan menelaah dari ulama.

Bukan justru berdebat untuk mendapatkan legitimasi pembenaran dari perbedaan pandangan orang lain.

3. Tidak Bijak

Perlu dipahami bahwa ikhtiar dari sahabat dan ulama terdahulu untuk sama-sama menjalankan sunnah Nabi ﷺ begitu besar. Mulai dari kitab-kitab yang ditulis, pendidikan, hingga ijtihad ulama masa kini untuk merumuskan kebaikan dari sebuah soal.

Namun, dampaknya obesitas konten digital membuat kita tidak bijak dalam menghargai pendapat diri dan orang lain ketika memahami suatu informasi.

Bahkan, seringkali kita memaksakan orang lain untuk sama dengan pandangan yang kita punya. Padahal, Nabi ﷺ sudah mengajarkan kita bahwa perbedaan itu menjadi rakhmat selama tetap berpegang teguh pada Al-Quran dan hadits.

Wallahu A’lam Bishowab…

**Fitrah Aditya Chandra/fr-mg

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here