27.5 C
Bogor
Tuesday, May 12, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 854

Tingginya Minat Warga, Kelas Jauh SMPN 3 Citeureup Tambah 1 Rombel 

0

Citeureup | Jurnal Bogor 

Warga rupanya antusias ingin memasukan anaknya ke sekolah negeri membuat kelas jauh SMPN 3 Citeureup yang berada di Desa Leuwinutug, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor menambah lagi rombongan belajar (rombel) atau ruang kelas.

Hal tersebut disampaikan inisiator kelas jauh SMPN 3 Citeureup yang juga menjabat sebagai Kepala desa Leuwinutug Deden Saipul Hamdi. ” Awalnya hanya diizinkan 3 rombel, namun sampai hari ini minat warga masih terus berdatangan, hingga kami akhirnya meminta kebijakan dan tambahan ruang kelas hingga menjadi 4 ruang kelas untuk kegiatan belajar mengajar Kelas Jauh SMPN 3 Citeureup ini,” kata kades muda tersebut kepada Jurnal Bogor, Senin ( 18/07/22).

Menurutnya, hal tersebut terjadi karena memang Desa Leuwinutug, Hambalang, dan Desa Sanja jauh dari sekolah negeri dan kalaupun dibuat sistem zonasi tidak akan masuk jaraknya. Maka dari itu setelah tahu ada kelas jauh SMPN 3 Citeureup di Desa Leuwinutug para orang tua berbondong-bondong mendaftarkan anak mereka.

“Saya minta kebijakan untuk penambahan rombel dan alhamdulilah saat ini jadi 4 kelas , awalnya kami kuotakan 120 karena masih tinggi minat warga akhirnya ditambah 40 jadi 160, itu pun sudah termasuk kelas kegemuk,” jelas Kang Denz.

Dia merasa senang, akhirnya di Leuwinutug ada SMPN tinggal yang menjadi PR adalah mewujudkan agar kelas jauh ini menjadi SMP Negeri 4 Citeureup.

“Kini kita terfokus kepada tenaga pengajar, walaupun menginduk ke SMPN 3 Citeureup tapi kami hanya diberikan 2 tenaga pengajar , dan kita harus mencari tambahan tenaga pengajar untuk melengkapi kebutuhan belajar mengajar siswa,” paparnya.

Dia berharap adanya partisipasi baik dari CSR atau perusahaan sekitar untuk biaya honor tenaga pendidik sebelum masuk dan dianggarkan melalui dana BOS, karena tenaga pendidik tambahan ini tidak masuk ke administrasi SMP Negeri 3 Citeureup.

** Nay Nur’ain

Warga Limusnunggal Demo PT Indesso Aroma, Galih Rakasiwi: Perusahaan Harus Ikuti Aturan

0

Cileungsi | Jurnal Bogor

Puluhan warga Desa Cileungsi dan Limusnunggal, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, menggelar unjuk rasa di depan PT Indesso Aroma, Rabu (13/7/2022). Warga yang demo tersebut diketahui tidak dipekerjakan meskipun berada warga lingkungan perusahaan.

Dalam aksi itu warga menuntut pertanggungjawaban perusahaan atas dugaan pencemaran lingkungan yang dilakukan perusahaan tersebut.

Kepala Desa Limusnunggal, Galih Rakasiwi turut berkomentar dengan aksi demo yang dilakukan warganya kepada PT Indesso Aroma yang berada di perbatasan di wilayahnya.

“Itu adalah aksi spontan warga yang mungkin geram dengan sulitnya pekerjaan,”ujarnya Galih pada Jurnal Bogor, Minggu  (17/7/2022)

Menurutnya,  terkadang memang perusahaan tidak pernah melibatkan lingkungan terkait perekrutan dan lain-lain. “Apakah masih ada warga yang nganggur, atau kasih quota berapa untuk bekerja saat rekrut untuk lingkungan atau desa, selama ini terkadang banyak perusahaan yg mengabaikan itu,” terangnya.

Galih pun menjelaskan, padahal CSR sudah diatur warga sekitar 40% dan mereka yang terkena dampaknya dan lain-lain. “Bukan hanya pekerjaan, perusahaan punya tanggung jawab sosial (TJSL) dulu namanya CSR kepada lingkungan, nah itu juga perlu diperhatikan oleh perusahaan,” tuturnya.

Dia juga berharap kepada pemerintah pusat, aturan-aturan terkait perizinan perusahaan harusnya dari bawah dulu baru ke atas.

“Jangan dari atas ke bawah itu terkadang membuat kita agak sulit mengontrol perusahaan, apalagi sekarang SKDU banyak perusahaan yang tidak memperpanjang karena ada kebijakan yang katanya dari pusat, itu membuat kami Pemdes sulit mengontrol dan perusahaan terkadang merasa tidak butuh desa,” keluhnya.

Selanjutnya, dia akan berkomunikasi dalam waktu dekat untuk memanggil pihak perusahaan, dan warga terkait permasalahan tersebut.

“Saya akan coba komunikasi dalam waktu dekat akan saya panggil ke desa, dan saya akan sampaikan ke inginan warga dan perusahaan pun perlu memenuhi kewajibannya terhadap warga,” tutupnya.

Sebelumnya warga berinisial H mengaku, warga di dua desa merasa terganggu atas bau tak sedap yang ditimbulkan oleh hasil produksi dari pabrik penyulingan minyak cengkeh tersebut dan  berharap perusahaan memperhatikan warga sekitar, seperti membuka lapangan kerja bagi warga maupun kompensasi lainnya.

“Cuma kebagian baunya doang. Kita maunya perusahaan menunaikan janjinya kalau mau menerima warga sekitar kerja di perusahaan itu,” ucapnya.

Sekedar diketahui, sampai berita ini diterbitkan belum ada pihak perusahaan yang bisa dikonfirmasi.

** Wisnu / Nay 

Hasrat Pisah Menguat, Muksin Optimis DOB Wilayah Selatan Terwujud

0

Megamendung | Jurnal Bogor

Hasrat untuk memisahkan diri dari kabupaten induk dan menjadi Daerah Otonomi Baru (DOB), semakin kuat diinginkan warga selatan Kabupaten Bogor. Itu setelah terjadi untuk kali kedua, Bupati Bogor tersandung kasus hukum melalui operasi tangkap tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).



Ketua Umum (Ketum) Aliansi Masyarakat Bogor Selatan (AMBS), Muhamad Muksin menjelaskan, pasca tertangkapnya Bupati Bogor periode 2019-2024 oleh KPK, menjadi penilaian buruk dari warga khususnya yang ada di wilayah selatan.

“Kasus hukum bupati sekarang kan sama dengan yang sebelumnya, tertangkap OTT oleh KPK. Jadi kami merasa sudah tidak percaya lagi dengan Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Bogor. Dan wilayah selatan menjadi DOB, harus terwujud,” tegasnya kepada wartawan.

Selain kasus hukum bupati, lanjut Muksin, adanya informasi terkait akan dicabutnya moratorium DOB tahun 2023 nanti oleh pemerintah, membuatnya optimis keinginan pisah semakin terbuka lebar.

“Informasi pencabutan moratorium itu bagi kami sangat dinantikan. Bila presiden benar akan mencabut moratorium, kemungkinan besar Kabupaten Bogor Selatan dapat terealisasi,” ungkapnya.

Muksin mengatakan, untuk persyaratan menjadi DOB, saat ini sudah dipersiapkan para pengurus yang tergabung didalam AMBS, terutama persoalan legalitas hukum wadah pergerakan.

“Legalitas wadah pergerakan sudah selesai dibuat. Tinggal kami semua melakukan langkah selanjutnya dengan meminta dukungan semua pihak, mulai dari kepala desa, BPD, para tokoh, para wakil rakyat yang ada di daerah pemilihan (Dapil) selatan dan unsur lainnya,” paparnya.

Muksin pun dengan tegas menolak wacana yang digulirkan Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR, terkait pembangunan Jalan Tol Puncak yang membentang dari wilayah Caringin hingga Gunung Mas sepanjang 18 kilometer.

“Jangan sampai setelah terealisasi wilayah selatan menjadi DOB, kondisi lingkungan yang selama ini kita jaga, rusak akibat pembangunan jalan bebas hambatan,” tegasnya.

Muksin mengungkapkan, program strategis nasional memang harus didukung semua pihak, tetapi tidak boleh merugikan masyarakat lokal dan merusak lingkungan hidup.

Untuk mengatasi kemacetan, sambung Muksin, bisa dilakukan dengan cara lain tanpa harus melakukan perusakan lingkungan, seperti membangun underpass di titik-titik kemacetan, mulai dari  simpang Gadog, Pasir Angin, Megamendung, Cipayung dan Cisarua serta memaksimalkan jalur alternatif yang sudah ada.

“Biaya membangun underpass di titik kemacetan, saya rasa tidak berlalu besar jika dibandingkan membangun Jalan Tol. Disisi lain, tegakan aturan terhadap pihak-pihak yang melanggar garis sempadan jalan,” jelas Ketum AMBS tersebut.

Penolakan pembangunan Jalan Tol Puncak, sebelumnya dilontarkan Manajer Advokasi dan Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat, Wahyudin Iwang.

Iwang menyebutkan, rencana pembangunan Jalan Tol Puncak yang membentang dari Caringin hingga Gunung Mas, dinilai akan mempercepat kerusakan lingkungan dan memicu terjadinya bencana. Alasannya, karena akan mengalihfungsikan lahan hijau  menjadi jalan raya.

“Wacana pembangunan Tol Puncak sebaiknya tidak diteruskan. Itu hanya akan merusak lingkungan dan memicu terjadinya bencana,” imbuhnya.

Iwang melihat, lahan hijau di sepanjang kawasan hutan, Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP) serta HGU yang dikelola PTPN VIII Gunung Mas, selama ini berfungsi sebagai wilayah resapan air dan konservasi alam saat ini serta  kondisinya sudah memprihatinkan.

“Kondisi Kawasan Puncak sudah rusak, jangan lagi dirusak. Apapun dalihnya, tetap saja pembangunan Jalan Tol akan merusak Kawasan Puncak,” tukasnya.

** Dede Suhendar  

Duel, Dua Pelajar di Citeureup Masuk Rumah Sakit 

0

Citeureup | Jurnal Bogor 

Pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kabupaten Bogor masuk IGD, usai duel dua lawan dua, Sabtu (16/7/2022). Empat pelajar asal Kecamatan Citeureup terlibat ‘bertarung’ di jalan Puspanegara, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor pada Pukul 18.00, Jumat (15/7). 

Menurut Kanitreskrim Polsek Citeureup, Iptu Yayan Sofian, 4 pelajar yang terlibat tersebut berasal dari dua sekolah yang berbeda, yaitu SMK yang ada di Kecamatan Cibinong dengan SMK yang ada di Kota Bogor. 

“Kronologinya memang mereka janjian. Tapi kejadiannya dua orang lawan dua orang,” jelasnya.

Ia menegaskan, kendati para pelajar tersebut berasal dari sekolah di luar wilayah hukumnya, namun para pelajar tersebut adalah warga Kecamatan Citeureup. 

“Jadi basis Citeureup dengan basis Citeureup gitu. Makanya kejadiannya cuma berapa orang. Itu juga ada temannya yang cuma nonton doang,” paparnya. 

Kendati memasuki masa Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), Yayan menegaskan, aksi dua lawan dua tersebut bukanlah penataran murid baru yang kerap terjadi. 

“Enggak (bukan tataran), cuma ngetren-ngetrenan gitu, pake video-video gitu tadinya. Cuma jadi posisi anak sekolah asal Cibinong kalah, dia kena sabetan akhirnya masuk Rumah Sakit (RS),” ujarnya. 

Yayan menyebut, dua remaja yang terkena luka bacok adalah pelajar yang sekolah di salah satu Kecamatan Cibinong. 

“Dua-duanya yang kena pelajar yang sekolah di Cibinong, yang satu kena luka sabetan di pinggang, satu lagi di tangan, mereka dibawa ke RS Helsa oleh warga dan temannya, terus sama keluarganya dibawa ke RSUD Cibinong,” jelasnya. 

Hingga saat ini, kasus ini masih dalam penyelidikan pihak Kepolisian Sektor Citeureup. “Kita mengamankan celurit pada saat kejadian, temen-temennya yang nonton itu sempat ngamanin celuritnya. Nah, dibawa sampai ke RS. Kemudian ketahuan sama security. Sajamnya kita amanin,” paparnya lagi. 

Selain sajam yang diamankan, Polsek Citeureup pun berhasil mengamankan satu rekan dari korban untuk dimintai keterangan. 

“Diamanin 1 orang dari teman-temannya itu. Pengakuan yang diamanin itu, sajamnya punya salah satu korban yang kena sabetan,” ucap Yayan.

** Nay Nur’ain

Pilkada Mendatang, Warga Diminta tak Pilih Pemimpin Korup

0

Gunung Putri | Jurnal Bogor 

Masyarakat di Kabupaten Bogor diminta untuk memilih pemimpin yang tidak terindikasi melakukan tindak pidana korupsi pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Bogor 2024 mendatang. Hal tersebut disampaikan Ketua Himpunan Pengusaha Bogor Timur (HPBT) H Edi Rohman.

Dia mengatakan, walau masih jauh, namun tidak salah untuk diingatkan kepada warga untuk memilih pemimpin yang tidak korupsi.

“Pilkada adalah proses demokrasi memilih pemimpin yang akan menitipkan amanah mampu menghadapi semua tantangan, salah satunya tantangan dalam memberantas korupsi,” papar Edi Rohman dihubungi melalui WA oleh Jurnal Bogor, Minggu (18/07/22).

Ia mengatakan, pemberantasan korupsi adalah cita-cita besar di era reformasi seiring dengan berjalannya waktu dan selama Pemerintahan Presiden Jokowi dan Ma’ruf Amin, juteru puluhan  kepala daerah terjerat kasus korupsi.

“Hal tersebut  menjadi satu pelajaran penting bagi masyarakat Kabupaten Bogor agar tidak salah dalam memilih figur calon Bupati pada tahun 2024  mendatang, agar rakyat Kabupaten Bogor bisa lebih baik dan  menuju sejahtera,” ujarnya.

Ia berharap agar masyarakat Kabupaten Bogor dapat memilih pemimpin yang terbebas dari indikasi korupsi.

“Dampak yang dihasilkan dari korupsi yang dilakukan oleh oknum kepala daerah jelas menyengsarakan rakyat, dan itu telah berlangsung cukup lama,” katanya.

“HPBT mengharapkan calon Bupati Kabupaten Bogor benar-benar bersih yang tidak menyengsarakan masyarakat,” pungkasnya.

** Ramses / Nay 

Kerap Macet, Warga Pertanyakan Perbaikan Jalan Cikereteg

0

Caringin | Jurnal Bogor
Warga Desa Ciderum, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, mempertanyakan pelaksanaan perbaikan Jalan Cikereteg-Ciderum. Sebab, sampai saat ini kondisi jalan utama menuju kawasan wisata di Desa Pancawati itu, belum juga ada pengerjaan.

Eneng, warga Kampung Cikereteg, Desa Ciderum mengaku heran dengan kondisi Jalan Cikereteg yang sudah rusak parah namun belum juga ada perbaikan.

“Banyak warga yang menanyakan kondisi Jalan Cikereteg, kapan dilakukan perbaikan,” ujarnya kepada wartawan.

Perempuan yang merupakan staf di Desa Ciderum itu mengatakan, rusaknya jalan menjadi salah satu penyebab kemacetan di jalur menuju tempat wisata. Karena, para pengendara yang melintas, mengendarai kendaraannya secara perlahan.

“Mungkin tingkat kerusakan jalan  yang parah, semua pengendara memilih untuk mengendara mobilnya pelan,” ungkapnya.

Eneng berharap agar Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Bogor, menegur pihak ketiga atau pemborong yang memenangkan lelang perbaikan Jalan Cikereteg ini.

“Kalau memang sudah ada pemborong yang memenangkan proyek jalan ini, dinas terkait harus menegur nya,” tegasnya.

Jajat, yang setiap hari mengais rezeki sebagai ojek di Cikereteg mengeluhkan dengan kondisi jalan rusak tersebut. Karena, dirasakan sangat berpengaruh terhadap pendapatan nya sebagai ojek.

“Sekarang paling juga sehari itu dapat uang 50 ribu. Biasanya sehari, saya dapat uang itu mencapai 100 ribu,” akunya.
Selain jalan rusak, kata bapak empat anak tersebut, banyaknya volume kendaraan yang akan berwisata ke wilayah Pancawati, itu juga menjadi penyumbang kemacetan.

“Masih mending hanya kendaraan pribadi, sekarang sudah banyak lagi kendaraan bus yang masuk ke jalur ini. Kalau sudah ada bus melintas, pasti ujung-ujungnya macet,” jelas Jajat.

Sementara Kepala Sub Bagian Tata Usaha (Kasubag TU) pada Unit Pelaksana Teknis (UPT) Infrastruktur Jalan dan Jembatan Kelas A Wilayah II, Ade Sa’ban menegaskan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pemborong atau pelaksana yang menangkan proyek pembangunan Jalan Cikereteg.

“Kami sudah tanyakan kepada pemborong terkait pelaksanaan pembangunan. Mudah-mudahan dalam waktu beberapa hari ini sudah ada pengerjaan,” tukasnya.

** Dede Suhendar  

Permudah Akses Menuju Pasar, Kades Sukanegara Akan Bangun Jalan Sukanegara-Cibodas 

0

Jonggol | Jurnal Bogor 

Pemerintah Desa Sukanegara, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor gencar melakukan pembangunan infrastruktur jalan di desanya. Hal ini dilakukan guna memberikan kelancaran dalam transportasi, salah satunya untuk mempermudahkan akses warga Cibodas menuju Pasar Sukanegara.

Kepala Desa Sukanegara Achmad Yani mengatakan, dengan melanjutkan  membangun jalan Sukanegara -Cibodas  akan mempermudah warga Cibodas untuk berbelanja ke Pasar Sukanegara. Rencananya pembangunan jalan tersebut akan  menggunakan Dana Samisade yang dikucurkan oleh Pemerintah Kabupaten Bogor. 

“Dengan disambungkannya akses jalan 2 desa ini kami berharap ekonomi masyarakat sini bisa lebih meningkat, minat masyarakat Cibodas untuk belanja ke Pasar Sukanegara bisa bertambah, mengingat Pasar Sukanegara lebih dekat dibandingkan Pasar Jonggol,” papar Achmad Yani kepada Jurnal Bogor, Sabtu (16/07/22).

Menurutnya, pembangunan jalan  Sukanegara -Cibodas tidak lepas dari dukungan dan keinginan dari para pedagang pasar, serta warga Desa Cibodas sendiri. “Oleh karena itu, saya mengucapkan terimakasih atas masukan masyarakat Desa  Sukanegara -Cibodas mudah-mudahan pada tahun ini akan terealisasi,” pungkasnya.

** Ramses / Nay 

Hujan Lebat, Lapak Pedagang di Bojong Kulur Amblas ke Sungai Cileungsi

0

 

Gunung Putri | Jurnal Bogor

Hujan deras yang mengguyur wilayah Bogor dan sekitarnya membuat sejumlah bangunan lapak pedagang yang berada di pinggir sungai Desa Bojong Kulur, Kecamatan Gunungputri, Kabupaten Bogor, amblas.

Anggota GPS (Gerak Pungut Sampah), Angga mengatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu (16/7) pagi

“Lokasi tepatnya dekat Curug Parigi, Desa Bojong Kulur, tadi pagi kejadiannya,” ucapnya saat dikonfirmasi oleh Jurnal Bogor.

Hujan deras yang terjadi semalaman itu , kata dia  membuat tanah yang ditempati oleh bedeng-bedeng  pedagang tersebut amblas hingga jatuh ke Sungai Cileungsi.

“Terdapat juga beberapa diantaranya bangunan permanen dan semi permanen ” papar Angga.

Sementara itu Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C), Puarman mengungkapkan bahwa peristiwa itu terjadi di dekat jembatan Pasar Pocong.

“Jembatan antara penghubung Bojongkulur dan Bantar Gebang Bekasi,” jelasnya.

Menurutnya, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 06.30 WIB. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut karena tempat itu memang tidak dihuni.

“Pada waktu malam, saat hujan besar Sungai Cileungsi berada pada level siaga 1, dan hulu Sungai Cikeas terpantau normal, update tersebut terpantau melalui CCTV KP2C sekitar pukul 21.00 WIB,” pungkasnya.

** Wisnu / Nay 

Warga Gotong-Royong Buka Jalan Baru Penghubung Ciguha ke Cimanganten-Nunggul

0

Nanggung | Jurnal Bogor 

Mimpi warga Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor ingin dibukanya akses jalan akhirnya terwujud. Insfratruktur jalur penghubung dari  Kampung Ciguha menuju Kampung Cimanganten – Nunggul itu mulai dibuka.

Willy Suhendi

Pada Sabtu (16/07), sejumlah masyarakat dibantu pemerintah desa dan musyawarah pimpinan kecamatan (Muspika) Nanggung bergotong royong membuka akses jalan sepanjang enam kilometer.

Pembukaan akses jalan baru di wilayah  kawasan hutan Taman Nasional Gunung Halimun ini sudah direncanakan sejak puluhan tahun lalu, namun baru terealisasi.

Antusias masyarakat untuk membuka akses mobilitas ke wilayah Kampung Ciguha itu cukup tinggi. “Dulu bukan tidak akan terealisasi tetapi ada ketentuan yang harus di tempuh, karena jalan Kampung Nunggul Cimanganten menuju Ciguha ini melintasi kawasan Taman Nasional yang tidak bisa digunakan,” ungkap tokoh masyarakat Nanggung, Willy Suhendi.

Seiring dengan perubahan dalam kebijakan pemerintah, kata dia, maka yang diharapkan masyarakat adanya jalan umum yang bisa dilintasi saat ini terwujud. “Semoga sesuai dengan keinginan masyarakat terjawab atas kerja samanya antara masyarakat dan pemerintah,” ujarnya.

Willy menjelaskan, dibukanya akses jalan baru menuju Kampung Ciguha tersebut adalah akses yang sangat vital. Selain untuk menumbuhkan sumber daya di wilayah wisata yang telah diberikan SK oleh Kementerian Hutan Kemasyarakatan dengan Kelompok Tani Ciguha River.

Dengan kesungguhan masyarakat yang begitu semangat untuk berdirinya ekonomi kedepan dalam ekonomi kerakyatan. 

“Selain itu dengan dibukanya jalan ini bisa bersilaturahmi dengan mudah, dan bisa mengembangkan pendidikan, baik kesehatan yang mana itu adalah salah satu bentuk kebutuhan didalam kehidupan masyarakat,” paparnya.

Sementara, Kepala Desa Bantarkaret  Khotib membenarkan, bahwa perencanaan pembukaan jalan tersebut sejak tahun 1997. 

“Ini salah satu sudah menjadi perencanaan kami, memang kendalanya pada saat itu ini masih masuk dalam kawasan Taman Nasional Halimun Gunung Salak  (TNHGS). Upaya yang dilakukannya pun bahkan   sudah bersurat kepada pihak-pihak terkait, baik Pemerintah Daerah (Pemda)  maupun ke Taman Nasional.

“Pada kesempatan kali ini sudah ada terintegrasi Hak Kemasyarakatan (HKM) yang sudah ada SK,” tukasnya.

** Andres / Arif Ekon

5 Lokal Dibangun Swadaya, 1 Ruang Kini Rusak Berat

0

MI Lamping PUI Luput Perhatian Pemerintah

Nanggung l Jurnal Bogor

Gedung sekolah Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS)  Persatuan Umat Islam (PUI) Lamping di Desa Sukaluyu, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor luput perhatian pemerintah. Pasalnya, gedung sekolah MI  yang sudah puluhan tahun berdiri itu, terdapat 6 lokal berikut kantor, namun 1 ruangan  kini tak  dipungsikan lantaran hampir seluruh bangunannya rusak berat.

“Dari 6 lokal, satu ruangan belajar sudah lama tidak digunakan, karena kondisinya rusak parah,” kata Kepala sekolah MI PUI Lamping Iwan Nasution kepada Jurnal Bogor, baru baru ini.

Iwan menjelaskan, gedung sekolah  MI Lamping PUI sempat porak poranda  karena kondisi bangunan sekolah hampir seluruhnya sudah lapuk dimakan usia. Tahun 2002,  5 lokal  sekolah MI PUI ambruk. Namun pascaambruknya, waktu itu sejumlah warga secara swadaya berupaya membangun kembali  gedung sekolah tersebut.

“Perbaikan gedung MI, selain dibantu para donatur warga sekitar, termasuk Pondok Pesantren Darul Najah yang beralamat di Jalan Argapura, Desa Argapura, Kecamatan Cigudeg juga turut berpartisipasi,” terang Iwan.

Kondisi 1 ruang yang rusak berat itu, persisnya berada di bibir tebing. Menurut Iwan, selain harus dibangun permanen dan dibangun dinding penahan tanah (DPT).

“MI PUI termasuk sekolah MI lainnya menurut kami luput dari perhatian pemerintah,” imbuh Iwan.

Pasalnya, ratusan siswa yang bersekolah di  MI PUI Lamping kekurangan ruang belajar. Kegiatan belajar pun dibagi menjadi 2 sift, pagi siswa MI sedangkan siangnya siswa SMP PUI.

** Arip Ekon