32 C
Bogor
Tuesday, May 12, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 804

Mau Dibangun Pedestrian, 300 Lapak PKL Bogor Barat Dibongkar

0

JURNAL INSPIRASI – Sebanyak 300 lapak pedagang kaki lima (PKL) dk kawasan Bubulak, Kecamatan Bogor Barat dibongkar aparat gabungan dari unsur Satpol PP, TNI dan Polri, Selasa (27/9).

Kepala Bidang Trantibum Linmas Satpol PP, Andry Sinar Wahyudianto mengatakan bahwa lapak PKL yang dibongkar dimulai dari Jalan Raya Cifor, Bubulak-Simpang Situ Gede.

“Pembongkaran ini dilakukan karena ini merupakan aset dari pemkot bogor karena direncanakan ke depan bakal ada penataan wilayah kawasan jalan cifor atau situgede,” ujarnya kepada wartawan.

Menurut dia, pembongkaran sudah dilakukan sesuai tahapan mulai dari sosialisasi hingga peringatan 1 sampai 3. “60 persen PKL sudah membongkar secara swadaya, 40 persennya belum,” ucapnya.

Kata dia, PKL menempati lahan milik Jementerian Kehutanan, namun sudah diserahterimakan ke pemkot dan sekarang menjadi milik pemkot. “Kedepan akan dibangun pedesterian dan jalur hijau disini,” ucapnya.

Ia menegaskan bahwa ratusan PKL sudah melalui prosedur yang berlaku. Mulai dari tahapan sosialisasi, pemberian peringatan 1-3 hingga pelaksanaan penertiban.

“Awal dari tahun 2019, terakhir tahun 2021 sudah dilakukan rapat penataan kawasan Jalan Cifor. Jadi memang sudah sesuai tahapan sampai hari ini dan sesuai prosedur juga,” ungkapnya.

Andry menambahkan, dalam penertiban kali ini pihaknya menurunkan 300 petugas.

Sementara itu, Camat Bogor Barat, Abdul Rahman mengaku tengah mengupayakan tempat relokasi bagi ratusan PKL ini, terutama kepada para pemilik lahan di kawasan Situgede.

“Kami akan koordinasikan untuk relokasi. Tapi, butuh waktu memang, tidak langsung. Kita koordinasikan dengan dinas terkait, tokoh masyarakat, yang punya lahan untuk bisa relokasi penampungan PKL, kita akan kooedinasi dengan pengelola Situ Gede,” jelasnya.** Fredy Kristianto

Diduga Lakukan Pelecehan, Polisi Periksa Oknum Guru

0

JURNAL INSPIRASI – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Bogor Kota memerika H, oknum guru yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap mantan muridnya berinisial S (15).

Kasat Reskrim Polresta Bogor Kota, Kompol Dhoni Erwanto mengatakan, dalam laporan kasus dugaan pelecehan seksual itu, pihaknya sudah meminta keterangan dari enam orang saksi. Bahkan, sudah mendatangi lokasi kejadian.

“Sudah enam orang diperiksa, dan kani sudah datangi ke sana untuk cek TKP,” ujar Kompol Dhoni kepada wartawan, Selasa (27/9).

Diketahui, pelajar setingkat SMK asal Kota Bogor berinisial S (15) diduga mengalami kejadian pelecehan seksual yang dilakukan mantan gurunya, H (70).

Kasus dugaan tindak pelecehan seksual sendiri dilaporkan terjadi pada Jumat (26/8) lalu. Ketika itu korban diketahui pergi ke sekolah lamanya setingkat SMP yang berada di kawasan Kecamatan Bogor Barat, untuk melakukan penyelesaian pengambilan ijazah dengan stempel tiga jari.

Saat korban sudah sampai ke sekolah dan selesai melakukan proses stempel tiga jari, tiba-tiba dirinya ditarik mantan gurunya tersebut.

Saat tangannya ditarik terjadi tindak pelecehan seksual, di mana mantan gurunya ini memegang bagian anggota tubuh korban.

Tak hanya sampai situ, ketika korban memberontak dengan cara melepas genggaman oknum guru ini, H malah bersikeras memegang anggota tubuh S sambil merangkulnya.

Kemudian, korban pulang dan mengadukan hal ini kepada orangtuanya. Merasa tak terima, ibu korban akhirnya memutuskan untuk melaporkan kejadian ini ke aparat kepolisian.

“Memang disini ada jangka waktu, dikarenakan memang anak ini sudah kena psikologinya. Sehingga dia perlu kekuatan menyampaikan keterangan ini di hadapan orang tuanya,” ungkap kuasa hukum korban, R Anggi Triana Ismail.

Namun, korban memberanikan diri untuk berbicara. “Anak ini masih di bawah umur, psikologinya belum kuat,” pungkasnya.** Fredy Kristianto

Gaet Suara Perempuan, PUAN Bentuk Kepengurusan Hingga ke Kelurahan

0

JURNAL INSPIRASI – Sebagai organisasi sayap (orsap) Partai Amanat Nasional (PAN), Perempuan Amanat Nasional (PUAN) Kota Bogor berkomitmen untuk memenangkan partai berlambang matahari itu pada kontestasi Pemilu 2024 mendatang.

Ketua PUAN Kota Bogor, Hakana mengatakan bahwa target 10 kursi di legislatif harus dibarengi dengan berbagai upaya dan kerja keras, termasuk meraih suara dari perempuan. Atas dasar itu, PUAN tengah membentuk kepengurusan hingga ke tingkat kelurahan.

“Sekarang pembentukan sedang dilakukan. Nantinya tiap pengurus kelurahan akan diisi oleh tujuh orang,” ujar Hakana kepada wartawan, Senin (26/9).

Menurut dia, PUAN akan beranggotakan perempuan berusia 20 hingga 45 tahun. Selain itu, kehadiran orsap tersebut diharapkan bisa membuat keterwakilan perempuan di parlemen.

“Keterwakilan perempuan harus ada, tentunya jadi keterwakilan itu kita harapkan,” ucap Hakana.

Ia pun menargetkan agar setiap daerah pemilihan (dapil) akan ada kader PUAN yang maju sebagai calon legislatif. “Kami berharap satu dapil PAN bisa meraih dua kursi,” ucapnya.** Fredy Kristianto

Nasdem Bagikan 140 Liter Pertalite Gratis

0

JURNAL INSPIRASI – DPD Partai Nasdem Kota Bogor membagikan Bahan Bakar Minyak (BBM) gratis kepada pengemudi ojek online (ojol) di Jalan Djuanda, Kelurahan Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, Senin (26/9).

Kegiatan itu bertujuan untuk membantu meringankan beban pelaku transportasi yang terdampak kenaikan harga BBM bersubsidi.

Ketua DPD Partai Nasdem Kota Bogor Benninu Argoebie mengatakan bahwa pembagian BBM gratis dilakukan setelah memperhatikan kebijakan kenaikan harga BBM dalam beberapa minggu kebelakang. Dari hasil itu, pihaknya mendapati, bila ojol sangat berpengaruh penghasilan ojol bahkan hingga 40 persen.

“Kami mencoba mengevaluasi apa yang bisa diperbuat Partai Nasdem, dan kami coba mengumpulkan teman-teman ojol untuk membantu memberikan BBM gratis. Nah, kegiatan hari ini adalah wujud nyata dari Partai Nasdem untuk meringankan beban ojol,” ungkapnya kepada wartawan, Senin (26/9).

Menurut dia, awalnya pembagian BBM gratis dalam bentuk voucher, sehingga pengemudi ojol nantinya melakukan pengisian BBM di SPBU. “Disayangkan, padahal kami beli langsung biar nanti teman ojol-ojol mengisi di SPBU, namun di beberapa SPBU tidak diperbolehkan, makanya kami beli eceran dibagikan di sini,” ungkapnya.

Kata dia, sebanyak 140 liter BBM bersubsidi jenis pertalite dengan, djbagikan per dua liter bagi pengemudi ojol.

“Para pengemudi ojol yang menerima BBM gratis ini sebagian besar beroperasi di wilayah Bogor Tengah dan dari wilayah Bogor Timur, Bogor Selatan, Bogor Barat dan Bogor Utara,” katanya.

Secara terpisah, Wakil Ketua DPD Partai Nasdem Kota Bogor, Tri Ryanto A.P menambahkan bahwa pembagian BBM gratis merupakan program Sababat Ojol. Ia berharap kehadiran Partai Nasdem di tengah kenaikan harga BBM dapat meringankan beban pengemudi ojol.

Kata diia, kegiatan ini akan menjadi rutinitas kedepannya dengan pembagian BBM gratis dilakukan per kecamatan dalam rangka menyambut HUT Nasdem.

Dalam kesempatan yang sama, salah satubpengemudi ojol, Asep Saeful Rahman merasa terbantu dengan adanya BBM gratis ini. “Kenaikan harga BBM sangat berpengaruh sekali, biasanya Rp15 ribu itu bisa dari pagi sampai malam, sekarang hanya setengah hari saja. Terimakasih banyak dari kami ojol untuk Partai Nasdem, terutama kepada Bapak Tri Riyanto,” tandasnya.** Fredy Kristianto

Rudi Susmanto: Ini Bukan Kesalahan Hitung, Tapi Kesalahan Perencanaan

0

Salah Hitung BHPRD, Puluhan Kades Ngadu ke DPRD

  

Cibinong | Jurnal Bogor 

Puluhan kepala desa beserta perwakilan lembaga dan staf desa mendatangi gedung DPRD Kabupaten Bogor untuk audiensi perihal Perbub No.70 soal BHPRD (Bagi Hasil Pajak Daerah dan Retribusi Daerah) yang menjadi polemik dan memanas, Senin (26/09).

Dalam audiensi tersebut, 29 kades yang terkoreksi turun nilai BHPRD-nya diterima oleh Ketua DPRD Kabupaten Bogor Rudi Susmanto, Wakil Ketua 1 KH.Agus Salim, Wawan Haikal Kurdi, Daen, Ade Sanjaya, H.Sulaeman, serta Kepala Dinas DPMD (Dinas Pemberdayaan dan Desa) Reynaldi, Sekretaris Badan Bappenda (Badan Pengelolaan Pendapatan Daerah) Adi, dan Kepala Badan BPKAD (Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah) Teungku Mulya.

Dalam penjelasannya Adi menyampaikan permohonan maaf kepada para kades yang merasa tidak nyaman akan perubahan angka dalam nilai BHPRD yang tertuang dalam Perbub No.70 tersebut. Namun hal tersebut dilakukan agar kepala desa pada tahun kedepannya tidak menjadi temuan, karena memang diakui terjadi kesalahan hitung pada Perbub No.59 yang ditandatangani oleh Bupati Ade Yasin.

“Kami mengetahui adanya kesalahan hitung karena adanya surat masuk dari Desa Singajaya Kecamatan Jonggol perihal turunnya angka BHPRD, ditambah lagi kami masih melakukan penghitungan secara manual. Manual dalam arti kami belum mamakai sistem aplikasi sehingga terjadi kesalahan hitung,” papar Sekban Bappenda dalam audiensi di Gedung Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Bogor, Senin (26/09).

Menurutnya, pihak Bappenda sudah memberikan solusi dan tertuang dalam Perbup No.70 jika Kades tidak perlu mengembalikan uang. Tapi, kelebihan salur tersebut akan dipotong pada anggaran tahun berikutnya. ” Kami salah, dan kami akui itu, tapi kami belum bisa memberikan solusi karena Kaban (kepala badan) sedang cuti,” ujar Adi.

Ketua DPRD Kabupaten Bogor Rudi Susmanto setelah mendengar penjelasan dan mempelajari persoalan BHPRD, dia menilai bukan kesalahan hitung, melainkan kesalahan perencanaan dalam anggaran. Meskipun punya slogan Kabupaten termaju, masa masih menghitung secara manual. Harusnya direncanakan dari awal dan kalau pun ada kenaikan atau penurunan tidak terlalu signifikan hingga tidak anjlok terjun bebas.

” Apalagi kepala desa itu sanksi sosialnya lebih tinggi karena bersentuhan langsung dengan warga. Misal, mereka dapat BHPRD Rp1,2 miliar, mereka akan membuat jadwal kerja selama 1 tahun, tahap pertama cair Rp400 juta untuk bulan Januari-April, berarti mereka menganggarkan kegiatan program Rp100 juta/bulan. Dan saat tahap kedua, Mei-Agustus dan September akan cair mereka sudah punya ancang-ancang dan perkiraan dari Perbub No.59 tadi, sebagian besar dari mereka pasti berpikir talangin aja dulu entar juga cair.”

“Nah, tiba-tiba saat pencairan beda nilai dari Perbub No.59 ke Perbub.70, anjlok dan jomplang wajar jika mereka protes dan ngamuk karena perubahan ini dipertengahan disaat mereka sudah menganggarkan semua program kegiatan, jika perubahan diawal mungkin mereka tidak akan semarah ini,” pungkas Rudi biasa disapa.

“Saya sangat menyayangkan hal ini terjadi, harusnya adakan sosialisasi dulu sebelum adanya perubahan apalagi anjloknya sangat jauh, beri penjelasan kepada para kades dan Bappenda pun harus memaparkan apa yang membuat berkurang dan naiknya BHPRD, berikan catatan dan uraian lengkap agar mereka paham. Ini kan kepala desa terkaget-kaget dari Rp1,2 milair tiba-tiba turun ke angka Rp400 juta bahkan mengembalikan di Perbub yang terbaru,” jelasnya.

Sementara untuk Perbub yang dibuat Plt Iwan Setiawan sendiri, kata dia, kondisinya diisi oleh Plt tentu segala kebijakan strategis sebelum keluar surat edaran kemarin itu harus dikonsultasikan kepada Kementrian Dalam Negri (Kemendagri), jika pada saat dipimpin oleh Bupati definitif tentu kewenangan penuh Bupati dan jajarannya untuk menentukan suatu kebijakan.

“Ini menjadi tanda tanya besar juga buat kami, apalagi ini sudah kuartal ketiga. Kenapa tidak saat termin pertama ini dibahas. Diperbubnya jelas tadi kita pelajari tahap 1, tahap 2, tahap 3, dan ini sudah mau masuk tahap 3. Kenapa ini baru muncul untuk mencarikan solusi, tentunya eksekutif, legislatif harus duduk bersama. Dan kami pun berharap SKPD untuk menyampaikan kepada Plt agar nanti mengundang kami dan mengundang 29 desa. Kali ini kita harus jemput bola jangan sampai menimbulkan kegaduhan baru,” beber Rudi Susmanto.

** Nay Nur’ain

BHPRD Ngaco, Kantor Desa Jonggol Terancam Mangkrak

0

 

Jonggol | Jurnal Bogor 

Yofie Muhammad Safri Kepala Desa Jonggol, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, kecewa terkait munculnya Peraturan Bupati Nomor 70 tahun 2022 yang ditanda tangani oleh Plt Iwan Setiawan. Lahirnya Perbup tersebut mengakibatkan pembatalan terhadap Perbup sebelumnya yaitu Perbup No 59 tahun 2022.

“Pada Perbup No 59 Tahun 2022 yang di tandatangani oleh Bupati Ade Yasin nilai BHPRD Desa Jonggol mencapai Rp.1,1 M. Namun, pada Perbub No 70 yang ditandatangani oleh Plt Bupati Iwan Setiawan nilai BHPRD kami hanya 400 jutaan, dan justeru kami harus mengembalikan 39 juta rupiah karena kesalahan hitung Bappenda Kabupaten Bogor, ” ujar Yofi biasa disapa kepada Jurnal Bogor, Senin (26/09).

Menurutnya, akibat dari revisi nilai BHPRD dari Perbub No 59 ke No 70 mengakibatkan 29 desa di Kabupaten Bogor dan salah satunya Desa Jonggol harus mengubah RAPBDes yang sudah diinput dalam Siskeudes. Mengingat penghitungan dari Bappenda untuk BHPRD berkurang dan untuk Desa Jonggol sendiri berkurang sebesar Rp.703 juta. Hal tersebut berpotensi tidak berjalannya pelayanan pemerintahan di Desa Jonggol.

“Karena kesalahan Bappenda dalam perencanaan anggaran tersebut, mengakibatkan Desa Jonggol tidak menerima lagi bantuan BHPRD tahap 2 dan tahap 3, justeru malah berhutang, sedangkan  operasional Desa Jonggol sudah dijapankan sampai bulan Desember 2022, artinya hampir 90% sudah dijalankan program di Desa jonggol dan sebagian dari kegiatan ada beberapa yang menggunakan dana talang,” keluh Yofi.

Perbub 70 ini sangat menyulitkan Desa Jonggol, sambungnya, oleh karena itu pihaknya datang ke DPRD untuk melakukan audiensi agar Perbub No 70 itu tidak merugikan kepala desa. Adapun yang sangat mengganggu yaitu uraian dari Rp703 juta ini yang  menghambat beberapa item terancam dikeluarkan dari anggaran. Didalam BHPRD itu ada untuk tunjangan dan ATK, dan masalahnya tidak mungkin melakukan pelayanan di desa jika tidak ada ATK.

“Belum lagi insentif untuk Puskesos yang sudah berperan aktif di masyarakat, honor guru ngaji, LPM, MUI, marbot masjid, petugas kebersihan, amil, operator desa yang sudah menginput data dan merubah data, honor perjalanan dinas, baik yang sudah di lakukan atau yang akan dilakukan, operasional pembina desa seperti Babinsa dan Babinmas. Belum lagi belanja yang mengikat, seperti belanja listrik dan air,” paparnya.

Dia berharap, kunjungan ke DPRD dan diterima langsung oleh Ketua DPRD Rudi Susmanto bisa menjadikan pertimbangan soal Perbub No.70 tersebut. Apalagi Desa Jonggol sudah 2 tahun tidak punya Kantor Desa, dan selama 2 tahun ini merasakan seperti di panggang karena panas dan berkantor di Lapangan Bulutangkis yang beratapkan spandek. Padahal Desa Jonggol dikeliling  kantor Pemerintahan megah, dekat dengan alun-alun Jonggol yang menjadi ikon warga Jonggol tapi untuk membangun kantor desa saja tidak mampu.

“Kami sudah berencana untuk meneruskan pembanguan kantor dari anggaran BHPRD yang semula dianggarkan oleh Banprov. Mengingat kita gak bisa bangun kantor dari anggaran DD, ADD, maupun Samisade. Sudah senang mendapat BHPRD Rp.1,1 M tiba-tiba berubah membuat pembangunan mangkrak,” bebernya.

Dia berharap mendapat perhatian dari Plt Bupati yang sudah menandatangani Perbup No.70, dan pertanggungjawaban serta solusi dari Bappenda Kabupaten Bogor terkait kesalahannya. “Jangan hanya minta maaf, karena ini urusannya soal angka, dan selisih angka tersebut tidak sedikit. Kami tidak butuh maaf dari Bappenda, kami butuh solusi dan transparansi,” kesal Yofi.

** Nay Nur’ain

Korban Tanah Bergerak Bojong Koneng Mulai Terserang Ispa 

0

Babakan Madang | Jurnal Bogor

Sejumlah penyakit mulai menyerang para pengungsi di pos-pos pengungsian  bencana tanah Bergerak di Kampung Curug, Desa Bojong Koneng,Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Sedikitnya ratusan warga terjangkit penyakit Infeksi Saluran Pernafasan (Ispa).

Kepala Puskesmas Cijayanti Dokter Fitri mengatakan, pihaknya tengah melalukan pengobatan rutin kepada ratusan warga yang terdampak bencana tanah bergerak dipos pengungsian. 

“Pengobatan rutin dilakukan mulai kepada balita hingga lansia dipos pengungsian bencana tanah Bergerak di Kampung Curug,” jelasnya, Senin (26/09).

Adapun jenis penyakit yang dikeluhkan warga yakni sakit kepala atau pusing, Ispa, demam hingga gatal-gatal. 

“Hasil pemeriksan Puskesmas Cijayanti selama seminggu ini tercatat ada 180 warga umumnya lansia terjangkit penyakit Ispa, atau infeksi saluran pernafasan akut,”terangnya.

Mencegah penyakit ini menular, pihaknya bersama Badan Penanggulangan bencana Daerah (BPBD) memisahkan pengungsi. 

“Jadi untuk lansia sendiri tendanya dipisahkam dari anak-anak hingga balita, mencegah adanya penularan penyakit ispa,,”jelasnya

Menurutnya, ada 302 kepala keluarga terdampak bencana tanah bergerak di Kampung Curug, Desa Bojong Koneng yang tinggal di tenda pengungsian.

“Untuk pengobatan rutin maupun ketersediaan tenaga kesehatan dilokasi bencana sudah dilakukan. Bagi warga yang tidak bisa ditangani di pos pengungsian akan dibawa kerumah sakit terdekat. Untuk  obat-obatan hingga pempers disediakan  bagi para pengungsi dan warga yang terdampak bencana,” paparnya.

Sementara itu, Yuyun salah seorang warga mengatakan sudah hampir seminggu dirinya tinggal di pos pengungsian, rumahnya nyaris ambruk diterjang bencana tanah bergerak. 

“Sudah seminggu saya disini, sama anak saya dan keluarga lainnya,” ujarnya.

Dia mengaku selama dipengungsian mengalami demam hingga sakit kepala. “Sudah diperiksan sama dokter jaga di pos pengungsian, katanya Ispa, sudah dikasih obat juga,” ungkapnya.

** Nay Nur’ain

Proyek Belum Selesai Ditinggalkan, Warga Protes CV Nusantara Sentosa

0

Caringin | Jurnal Bogor
CV Nusantara Sentosa, pelaksana proyek betonisasi Jalan Cikereteg, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, diprotes warga. Sebab, pengusaha jasa kontruksi yang memenangkan pengerjaan proyek dengan nilai 1,49 miliar lebih itu, dinilai tidak bertanggungjawab.

Kepala Dusun (Kadus) Kampung Ciletuh, Desa Ciderum Didin Subandi mengatakan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Bogor, harus menindak tegas CV Nusantara Sentosa. Pasalnya, pengusaha tersebut sudah melalaikan pengerjaa nya dengan meninggalkan proyek yang kondisinya belum selesai.

“Saya minta pengusaha yang melaksanakan proyek Jalan Cikereteg, dicoret hitam agar tidak lagi mendapatkan pengerjaan pembangunan konstruksi di Kabupaten Bogor,” tegasnya kepada wartawan.

Menurutnya, apa yang sudah dilakukan pelaksana proyek, sangat merugikan warga maupun pengguna jalan. Karena, akibat kondisi jalan yang belum selesai pembangunannya, mengakibatkan terjadi kemacetan arus lalulintas.

“Gara-gara macet, banyak anak sekolah yang telat masuk kelas. Kalau sudah parah, macetnya bisa nyampe satu jam bahkan lebih,” jelas Didin.

Didin minta, ruas Jalan Cikereteg segera diselesaikan pengerjaannya, sehingga kemacetan tidak lagi terjadi terutama disaat pagi hari maupun menjelang hari libur. Terlebih hampir semua warga di Desa Ciderum dan Desa Pancawati maupun Desa Cileungsi Kecamatan Ciawi, melintasi Jalan Cikereteg sebagai akses utama mereka beraktivitas.

“Belum lagi saat memasuki hari libur, banyak kendaraan dari luar daerah yang akan berwisata ke Desa Pancawati, pastinya dengan kondisi jalan yang belum selesai akan menambah parah kemacetan,” tegasnya.

Senada dengan Didin, Herman Pelani, ojek Cikereteg pun mengeluhkan kondisi jalan yang belum selesai dibangun, tetapi sudah tidak ada lagi pengerjaan oleh pihak pelaksana.

“Jangan-jangan pengusahanya kabur dan tidak akan menyelesaikan pengerjaannya,” ujarnya.

Ia melihat, ada beberapa titik yang menjadi penyebab terjadinya macet, mulai dari awal masuk Cikereteg, sebelum jembatan dan pertama kali pelaksanaan betonisasi di Kampung Anyar. 

“Selesaikan saja ketiga titik itu pembangunannya, saya kira tidak akan lagi terjadi kemacetan yang parah,” ungkap Herman.

Herman pun mengaku, selama kondisi jalan macet, pendapatannya dari hasil ngojek turun drastis dari biasanya. Bahkan, untuk kebutuhan sehari-hari keluarganya tidak tercukupi.

“Biasa sehari dapat 75 ribu sampai 100 ribu, sekarang paling juga 30 ribu. Makanya agar kebutuhan keluarga bisa tercukupi, setelah adanya pembangunan jalan saya ngojek dari pagi sampai malam hari,” tukasnya.

Sementara, perwakilan CV Nusantara Sentosa, Muhamad Zukni menyatakan, dirinya sudah tidak lagi bekerja di proyek Jalan Cikereteg.
“Saya sudah tidak kerja di proyek itu lagi, silahkan saja konfirmasi ke yang lain. Dan pelaksanaan betonisasi jalan akan dilanjutkan,” tukasnya.

** Dede Suhendar  

Pengungsi Korban Tanah Bergerak Dibayangi Pembongkaran Tenda Darurat

0

Babakan Madang | Jurnal Bogor 

Tenda darurat bencana tanah bergerak di Kampung Curug, Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor yang diisi oleh ratusan warga akan berakhir pada Rabu (28/09) mendatang. Belum adanya instruksi perpanjangan waktu tenda darurat ini menghantui warga.

“Kalau tidak diperpanjang tenda daruratnya, mau tinggal dimana kami warga yang mengungsi,” keluh Yuyun, salah seorang warga yang terdampak bencana tanah bergerak di pos pengungsian, Senin (26/09).

Ia menceritakan, akibat tanah bergerak tersebut kondisi rumahnya nyaris ambruk dan dirinya takut untuk menempatinya. “Rumah saya nyaris ambruk, akses jalannya pun tidak bisa dilalui, apalagi kalau hujan kalau maksain saya bertahan di rumah, takutnya ada bencana susulan bisa ngancam nyawa juga,” paparnya.

Ia meminta kepada Pemerintah agar disiapkan hunian sementara, sampai adanya perbaikan tempat tinggalnya.

“Kalau sudah ada perbaikan akses jalan hingga rumah baru tidak apa-apa tenda darurat berakhir, saya mohon agar diperpanjang dahulu untuk sementara sampai warga yang mengungsi sudah memperbaiki rumahnya,” harapnya.

Sementara itu staf Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bogor, Jalal menyebutkan tenda darurat akan berakhir pada Rabu (28/09) mendatang.

“Kalau untuk tenda darurat bencana sih batasnya 14 hari, namun menunggu instruksi pemerintah apakah diperpanjang atau tidaknya,” pungkasnya.

** Nay Nur’ain

Jalan Cibungbulang Amblas Bahayakan Pengendara

0

Cibungbulang | Jurnal Bogor

Jalan Provinsi Jabar di Cibungbulang nyaris amblas dan bahayakan pengendara. Jalan tersebut tepatnya berada di Desa Cimanggu Dua, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.

Menurut warga sekitar, amblasnya jalan tersebut sudah satu bulan dan akhir-akhir ini jalan tersebut semakin parah sehingga para pengendara harus ekstra berhati-hati.

“Sudah sekitar satu bulan jalan ini mengalami amblas, makin kesini makin parah. Bahkan ada beberapa pengendara yang oleng karena tidak tau jalan itu amblas. Soalnya berada di jalur cepat,” kata Eneng, salah satu warga sekitar yang mendiami rumah tepat berada di depan jalan tersebut, kemarin.

Amblasnya jalan tersebut diduga karena penyangga besi yang sudah tidak lagi kuat menahan beban atau bisa juga sudah dimakan usia yang cukup lama. Karena, jalan tersebut berada di bawah saluran air yang cukup sempit sehingga banyak tumpukan sampah yang menyangkut atau mengendap.

“Tapi kemarin udah ada yang ngontrol sih dua orang dari PU, katanya sih akan segera diperbaiki,” katanya.

Selain itu jalan tersebut juga diperparah banyaknya kendaraan yang melintas dengan tonase melebihi kapasitas atau melebihi muatan (overload).

“Siang malem juga masih sering banyak yang lewat sih kendaraan-kendaraan besar seperti tronton. Saya khawatir aja, kalo amblas atau roboh takutnya beberapa rumah warga kena dampaknya, soalnya makin kesini makin parah harus segera diperbaiki,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan banyaknya suara kendaraan yang terdengar sangat berisik pada saat melintasi jalan yang amblas tersebut.

“Kalau malem tuh suka kedengaran kencang, bruug gitu pas kendaraan yang lewat disitu. Karena mungkin gak tau kalau jalan itu amblas,” jelasnya.

Sementara Kepala Desa Cimanggu Dua Senan menjelaskan, pihaknya sudah menyampaikan surat kepada pihak yang terkait yaitu UPT Jalan dan Jembatan (Jajem) wilayah Cibungbulang.

“Kemarin saya sudah sampaikan melalui surat ke UPT supaya ada tembusan ke pusat. Karena itukan jalan provinsi jadi itu kewenangannya provinsi, kami hanya menyampaikan agar jalan tersebut supaya segera diperbaiki,” jelas Senan via WhatsApp.

** Andres