28.6 C
Bogor
Monday, July 27, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 574

Pemilik Pabrik di Desa Weninggalih Diberikan Sosialisasi Izin dan Dampak Pengeboran untuk Air Tanah

0

Jonggol | Jurnal Bogor

Sejumlah pengusaha yang mendirikan pabrik di Desa Weninggalih, Jonggol, Kabupaten Bogor diberikan pemahaman terkait izin dan cara melakukan pengeboran sumur untuk perusahaan mereka. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Desa Weninggalih, Mamat Rahmat yang mengatakan adanya pemahaman ini berharap pihak perusahaan bisa mengikuti aturan sesuai yang diarahkan.

“Saya hadir disini hanya sebagai kepala desa saja, memang sejauh ini kendala di Desa Weninggalih adalah air. Mengingat, bukan hanya kering, tapi air yang ada kadang itu hitam dan tidak layak sekali untuk dipakai,” ungkap Mamat kepada Jurnal Bogor, Senin (24/7/23).

Menurutnya, hal yang sama pasti dirasakan oleh para pengusaha yang berada di Desa Weninggalih. Dia hanya berharap agar adanya ubah fungsi status desa menjadi kawasan industri bisa membantu warga yang kesulitan air bersih.

“Kepada Pemda Bogor saya sudah mengajukan berkali-kali, untuk dibangunkannya embung sebagai penampungan air, tapi sampai saat ini belum direalisasikan, bahkan beberapa kali dicoret dari anggaran,” bebernya.

Pernah saat itu pihak dinas mengatakan, sambung Mamat, bahwa alasan tidak dibangunkannya embung karena tidak ada sumber air. Tapi menurutnya, justeru karena tidak ada air dibuat embung untuk menampung air hujan yang nantinya akan disalurkan kepada masyarakat.

“Namun menurut Pemda itu tidak efisien, dan sejauh ini solusi satu satunya adalah dengan memakai saluran air dari PDAM,” cetusnya

Lebih lanjut Mamat mengatakan, dengan adanya sosialisasi dari Dinas ESDM ini berharap pihak perusahaan tidak hanya terfokus membuat sumur untuk kepentingan mereka saja, melainkan juga memikirkan nasib warga yang juga pasti akan kesulitan air jika mereka membuat pengeboran dengan kedalaman diatas rata-rata.

“Saya sih berharap, pihak perusahaan turut memikirkan nasib warga, mereka memang punya modal untuk membangun apapun, terlepas itu ada izinnya atau tidak. Tapi warga saya yang hanya berpenghasilan menengah kebawah, belum tentu bisa mengebor sumur dengan kedalaman seperti mereka,” tandasnya.

” Sudah pasti, nantinya akan berdampak kurang baik kepada warga. Oleh karena itu, pihak ESDM Provinsi Jabar saya harapkan untuk mendatangi perusahaan satu persatu agar mengetahui kedalaman sumur yang mereka gali sekaligus dampaknya kepada lingkungan,” tambah Mamat.

** Nay Nur’ain

Optimis Selesai Lebih Cepat, Warga Diminta Bersabar

0

Proyek pergantian Jembatan di Jalan Otto Iskandardinata (Otista) kini sudah berjalan selama 2,5 bulan. Pemkot terus mewanti-wanti pihak ketiga agar menyelesaikan pembangunan tepat waktu. Hal ini karena dampak dari penutupan ini adalah kemacetan lalu lintas.

Deru mesin alat berat terus berbunyi. Begitu juga pekerja siang malam tak pernah berhenti untuk mengerjakan tugas di masing-masing bagiannya. Seakan bekerja tak mengenal lelah, baik manusia maupun alat-alat berat mulai membangun pondasi untuk melabarkan atau merevitalisasi jalan Otista yang terletak di Kecamatan Bogor Tengah.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Bogor Rena Da Frina hingga pertengahan Juli ini proyek revitalisasi jembatan Otista ini sudah berjalan sebanyak 23,75 persen.
Jumlah itu memang masih lebih dulu dibanding yang ditargetkan pada pertengahan Juli 2023 ini, sebesar 23,50 persen. Namun, deviasi positif itu sangat tipis, hanya 0,25 persen saja.
Meski begitu Rena menyatakan, proyek tersebut masih berjalan sesuai dengan yang dijadwalkan oleh pihaknya. “Masih on schedule, dan on the track. Ada deviasi positif, hanya saja kurang dari 1 persen,” ucapnya saat dihubungi Radar Bogor, Sabtu (15/7).
Dirinya berharap pekerjaan tersebut bisa terus berjalan sesuai jadwal.
Rena optimis pihak ketiga yakni PT Mina Fajar Abadi masih bisa mencapai target mempercepat pekerjaan lebih awal, dibanding yang diharapkan. Para pekerja saat ini tengah berfokus pads pengeboran jembatan trem.
Masih ada dua titik pengeboran, yang mesti diselesaikan. Sementara titik di sisi kanan, atau pada Kelurahan Baranangsiang sudah rampung. “Tinggal pile clapnya, hari Minggu besok pengecoran. Sisanya di sisi kiri (Warung Bogor) ada dua titik lagi untuk pengeboran,” beber Rena.
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat (Jabar), Ridwan Kamil meminta warga Bogor tetap bersabar, menunggu pengerjaan revitalisasi jembatan di Jalan Otista yang masih berlangsung.
Permintaan Emil, sapaan Gubernur, disampaikan saat dirinya meninjau langsung proyek pergantian Jembatan Otista pada Jumat (21/7). Dalam sambangannya tersebut, ia memeriksa progres pembangunan jembatan yang didanai oleh Pemerintah Provinsi Jabar sebesar Rp 49.066.819.311,00.
Emil berharap, perbaikan Jembatan Otista bisa memperlancar lalu lintas yang awalnya tersendat, serta meningkatkan ekonomi Warga Kota Bogor. “Jembatan Otista akan menjadi ikon baru Kota Bogor, dan semakin menggalakkan wisatawan untuk datang ke kota ini,” ucap Emil.

DIKEBUT: Pihak ketiga mengerjakan proyek revitalisasi Jembatan Otista dari pagi dan malam.
Gubernur Jabar Ridwan Kamil saat meninjau proyek Jembatan Otista didampingi Wali Kota Bogor Bima Arya, Jumat (21/7/2023)

Proyek pergantian Jembatan Otista ditargetkan rampung pada akhir tahun 2023 mendatang, ketika Emil tak lagi menjabat sebagai Gubernur. Meski demikian, ia mengatakan tetap ingin menyaksikan jembatan itu selesai. “Walaupun akhir tahun tidak lagi jadi Gubernur, tapi sebagai warga biasa saya ingin menyaksikan selesainya ikhtiar-ikhtiar (pembangunan) untuk masyarakat,” ujarnya.
Emil berharap, ketika proyek itu selesai masyarakat bisa menerima Jembatan Otista. Emil ingin masyarakat Kota Bogor bisa bersabar menunggu proyek tersebut selesai.
“Prediksinya akhir tahun selesai, bahkan bisa lebih cepat beres. Setelah itu, perekonomian meningkat, pembangunan lancar. Oleh karena itu mohon bersabar,” tutur Emil. (fat)

Manfaatkan Samisade, Puraseda Bangun Jalan dan TPT

0

Samisade Diharapkan BERDAMPAK PADA SEKTOR PARIWISATA dan Hidupkan Ekonomi Masyarakat

Leuwiliang l Jurnal Bogor

Sumber anggaran bantuan keuangan infrastruktur melalui program Satu Miliar Satu Desa (Samisade) di Desa Puraseda, Leuwiliang, Kabupaten Bogor direalisasikan pada dua titik pembangunan.

Kepala Desa Puraseda Asep Ruhiyat menjelaskan, dua kegiatan Samisade tahun 2023 itu untuk peningkatan jalan desa dengan betonisasi dan hotmix.

“Lalu dilaksanakan pembangunan berupa Tembok Penahan Tanah (TPT),” ujar Kepala Desa Puraseda Asep Ruhiyat kepada wartawan, Senin (24/7)

Dari beberapa kegiatan pembangunan yang tengah dalam pengerjaan diharapkan dapat meningkatkan sektor ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan  sektor pariwisata.

Peningkatan jalan hotmix dilakukan di sepanjangn jalan Desa Ciateul – Kampung Sabrang. Sedangkan pembangunan betonisasi terlebih dilakukan untuk pelebaran jalan desa.

Kades menerangkan pengerjaan hotmix jalan sepanjang 1300 meter dengan lebar 2,5 meter dan ketebalan 0,3 centimeter.

Ditambah betonisasi dengan lebar 1 meter  dikerjakan disisi badan jalan untuk pelebaran jalan dengan ketebalan 10 centimeter.

“Anggaran untuk pembangunan hotmix dan betonisasi itu sebesar Rp 650.000.000,” ungkap Asep Ruhyat.

Selain itu kata Asep Ruhyat, anggaran Samisade tahun 2023 juga untuk pembangunan TPT yang berlokasi di Kampung Sabrang RT 02 RW 09 dengan volume panjang 120 meter dan tinggi 2,5 meter dengan anggaran sebesar Rp 350 juta.

“Kami fokus karena Desa Puraseda ini banyak potensi alam termasuk wisata juga, untuk itu pembangunan peningkatan jalan desa ini perlu dilakukan karena  jalan ini selain untuk memperlancar akses ekonomi, pendidikan, pertanian juga untuk meningkatkan sektor pariwisata,” katanya.

Jadi  kata dia, saat ini jalan desa yang berada di Kampung Ciateul menuju Kampung Sabrang dilakukan pelebaran lantaran saat ini sudah banyak warga yang menghibahkan sebagian tanahnya untuk pelebaran jalan tersebut.

“Untuk pelebaran jalan kami prioritaskan, jadi mereka (warga) menghibahkan tanah itu dan kami langsung melaksanakan pengerasan dan betonisasi,” katanya.

Selain itu Asep Ruhiyat menambahkan, pascadilantik menjadi Kepala Desa Puraseda periode 2023-2029 secara otomatis pihaknya juga harus menyelesaikan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes).

“Rencana pembangunan menengah yang akan dilaksanakan tahap kedepan ini salah satu realisasi yang kita harapkan oleh masyarakat di bidang infrastruktur untuk meningkatkan ekonomi dan segi potensi wisata,” katanya.

Sementara Ketua BPD Puradesa, Hermanto mengatakan pembangunan peningkatan infrastruktur baik itu jalan maupun TPT diharapkan dapat menunjang aktivitas masyarakat sehingga dapat mempermudah jangkauan warga dalam kegiatan sehari-hari.

“Alhamdulillah di tahun 2023  ini meski kepala desanya baru menjabat beberapa bulan semua anggaran yang masuk dari Kabupaten Bogor dapat direalisasi untuk masyarakat Desa Puraseda terutama dalam bidang infrastruktur,” katanya.

Pembangunan Infrastruktur bersumber dari anggaran Samisade ini mendapat sambutan baik dari warga Desa Puraseda salah satunya disampaikan Nurhasan (42). Dia berharap, pembangunan di desanya terus dilakukan demi kemajuan dan  kesejahteraan warga.

“Alhamdulillah karena ini ada kepala desa yang baru berjalan dengan bagus intinya sedang dikerjakan alhamdulillah mudah-mudahan saja selanjutnya bisa sebagus ini,” tukasnya.

** Arip Ekon

Budayawan Gelar Sasadu Buhun, Proyek Bumi Ageung Dimulai

0

jurnalinspirasi.co.id – Masyarakat peduli Bumi Ageung Pakuan Pajajaran menyelenggarakan Sasadu Buhun di Bumi Ageung Batutulis, Kelurahan Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan, Minggu (23/7).

Sasadu Buhun ini menjadi pertanda bakal dibangunnya Bumi Ageung Batutulis yang sempat tertunda.

Dimulainya pembangunan Bumi Ageung Batutulis ini karena adanya kesepakatan dengan musyawarah mufakat antara budayawan dan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor.

“Akhirnya Pemkot Bogor menerima masukan-masukan keinginan dari para kesepuhan, inohong dan masyarakat terkait pembangunan Bumi Ageung Batutulis ini,” ucap Ketua Masyarakat Peduli Bumi Ageung Pakuan Pajajaran, Putra Sungkawa kepada wartawan.

Ia mengungkapkan, masukan dari kasepuhan, inohong, budayawan dan masyarakat itu adalah bentuk bangunan Bumi Ageung sesuai dengan ciri kebudayaan dan kearifan lokal  yang mencirikan jati diri Sunda dan marwah kesundaan.

“Alhamdulillah Pemkot Bogor bijaksana menerima masukan masukan dari kami,” katanya.

Nantinya, kata Putra Sungkawa,  Bumi Ageung Batutulis ini akan menjadi tempat peninggalan orang tua terdahulu. Dimana didalamnya memiliki ruang-ruang seperti  balai pustaka, balai waditra, balai alat musik, balai atik, dan menjadi tempat berkesenian dan berkebudayaan.

“Nantinya setiap bangunannya berbentuk rumah adat sunda, fungsi dan penggunaannya ada leuit, jadi saat kita masuk ke area ini terlihat museum banget,” jelasnya.

Sementara, pelaksana pembangunan Bumi Ageung Batutulis, PT. Titian Usaha Graha Utama, melalui Project Managernya Umar menjelaskan, bahwa Pemkot Bogor melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) telah menemui kesepakatan terkait desain Bumi Ageung Batutulis ini.

“Alhamdulillah hari ini kita ada selamatan atau Sasadu Buhun. Insya Allah kami pihak pelaksana sudah bisa memulai pembangunan Bumi Ageung Batutulis setelah 1 bulan tertunda,” ujar Umar.

Namun, sambung dia, pembangunan Bumi Ageung Batutulis ini masih menunggu perubahan desain dari perencana. 

“Senin ini, kita sudah mulai pemagaran dan dilanjutkan dengan pembongkaran sambil menunggu hasil perubahan desain tersebut,  karena pembangunan harus memenuhi secara aturan, sebab nanti akan menjadi adendum pekerjaan,” katanya.

Ia mengaku, pihaknya akan mengajukan penambahan adendum waktu, karena pembangunan Bumi Ageung Batutulis ini sudah memiliki keterlambatan  hampir satu bulan 

“Kalau di SPK (surat perintah kerja) kita harus mulai pekerjaan pada 27 Juni hingga 27 November 2023,” katanya.

Ia menyatakan, bahwa anggaran pembangunan Bumi Ageung diatas lahan 3.248 meter ini tidak berubah yaitu Rp16 miliar, karena menyesuaikan dengan kontrak yang sudah ada.

“Mungkin hanya desain saja yang berubah, kalau anggaran tetap yang sudah ada dan sudah dipastikan tidak melebihi pagu,” pungkasnya.* Fredy Kristianto

Anies Syaratkan Cawapresnya ‘Kriteria 0’

0

Bogor | Jurnal Bogor

Anies Baswedan menyatakan ada syarat khusus ‘Kriteria 0’ yakni tidak bermasalah dan berani. Bacapres Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) yang diusung Partai NasDem, Demokrat dan PKS ini awalnya membeberkan sejumlah kriteria cawapres menghadapi Pilpres 2024.

Anies pada Sabtu (22/7) tampak akrab dengan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat nonton bareng Asia V League 2023 di Padepokan Voli Jenderal Polisi Kunarto, Sentul, Kabupaten Bogor. Lalu apakah ‘Kriteria 0” yang dimaksud Anies adalah AHY. Namun Anies enggan menjelaskan. “Kita nonton bareng,” tutur Anies.

Sebelumnya, Anies telah mengemukakan syarat cawapres. “Saya mencoba dalam keputusan itu pakai kriteria supaya predictable, if you make decision, you really have kriteria itu, jadi 1, dia bisa membantu kemenangan. Masa pasangan yang malah buat kalah gitu, iya kan, nomor 1 dia bisa membantu kemenangan,” kata Anies, Kamis (20/7) lalu.

Kemudian, Anies memerlukan cawapres yang bisa membuat koalisi solid. Lalu menurutnya, harus punya visi yang sama dan membantu dalam proses pemerintahan.

“Kedua, dia bisa membuat koalisi solid, ketiga, dia bisa membantu di dalam proses pemerintahan bila ditakdirkan menang. Keempat, dia punya visi yang sama. Jangan sampai visinya beda nanti rutenya beda,” ucap Anies.

Kriteria terakhir, Anies juga ingin didampingi oleh sosok yang punya kepribadian baik. Selain itu, chemistry dengan dirinya juga harus baik.

“Yang kelima adalah lebih pada kepribadian, apa chemistry-nya baik. Boleh kan punya chemistry yang baik sehingga bisa jadi dwitunggal, bener kan kira-kira gitu. Lima kriteria itu, dalam proses ini sedang menjalani ini,” ujarnya.

“Saya rasa dalam perjalanannya kelihatannya ada kriteria nomor 0, yaitu dulunya saya memasukkan itu, yaitu tak bermasalah, tak bermasalah dan berani. Karena, kalau ada masalah, mudah sekali kesandung sekarang ini,” jelas Anies.

“Jadi kriterianya lima terus muncul kriteria ke-0, (yakni) tak bermasalah. Ternyata itu faktorial sangat penting karena, kalau tidak kepleset-kepleset sepanjang, siapa namanya, ini dia, mudah-mudahan beberapa waktu ke depan bisa selesai, tapi sekarang lagi dibahas kalau yang limanya kelihatannya mudah, yang 0 ini yang lagi dicari supaya aman, cari yang tidak bermasalah,” sambung dia.

Sebelumnya AHY mengaku optimististis bersama Anies bisa memenangi pilpres tahun depan. AHY mengungkapkan dirinya adalah pribadi yang optimistis dan selalu mempersiapkan diri untuk hasil yang terbaik, termasuk bagi KPP yang mengusung Anies.

“Insya Allah saya adalah orang yang selalu optimistis dan ingin terus mempersiapkan diri. Saya merasa harus terus bekerja karena kita (koalisi) tidak hanya ingin berlayar, tapi ingin menang,” kata AHY.

Oleh karena itu, kata AHY performance harus ditingkatkan, semakin baik diterima oleh masyarakat, semakin jelas narasi yang juga akan diperjuangkan. “Substansinya harus jelas,” tuturnya.

AHY juga menyinggung soal berbagai hasil survei yang menempatkan namanya dalam jajaran teratas figur pendamping Anies di Pilpres nanti. Baginya, itu menjadi sebuah modal dasar.

“Kalau tadi disampaikan ada sejumlah lembaga survei yang memotret pasangan ini (Anies-AHY) juga punya kans yang baik, saya pikir pertama harus kita nilai atau tempatkan sebagai sebuah potensi, sebuah modal dasar,” ujarnya.

Kendati demikian, bagi AHY hasil survei tersebut tak berarti apa-apa jika waktu coblosan nanti tak mampu mendulang suara yang signifikan.

“Kita kan nggak mau hanya unggul di survei, kita ingin benar-benar unggul di lapangan artinya survei itu terkonversi menjadi suara riil rakyat di TPS-TPS,” ujar AHY lagi.

Seperti diketahui Partai Demokrat telah membangun Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) bersama NasDem dan PKS. Mereka mendukung Anies Baswedan sebagai bakal calon presiden di Pilpres 2024.

Hasil kesepakatan parpol pengusung, keputusan penentuan sosok cawapres sepenuhnya ada di tangan Anies Baswedan selaku capres.

** Asep S Sayyev

Proyek Lahan Parkir Penangkaran Rusa Cariu Disoal, Ini Penjelasannya

0

Tanjungsari | Jurnal Bogor

Pembanguan lahan parkir wisata alam Penangkaran Rusa  yang berada di Desa Buana Jaya, Tanjungsari, Kabupaten Bogor yang menelan anggaran dari APBD sebesar Rp4,5 miliar yang dikerjakan oleh CV.Zeemah Karya Utama menuai pertanyaan warga, mengingat kondisi wisata Penangkaran Rusa Cariu saat ini sangatlah sepi dari pengunjung.

Bukan hanya itu saja, adanya pembangunan yang lebih penting dan urgent serta bermanfaat untuk masyarakat banyak seolah tidak diutamakan. Selain itu, adannya hembusan isu terkait penggunaan material batu yang diambil dari kali turut menambah pertanyaan keberadaan proyek yang terkesan dipaksakan tersebut.

Namun salah satu pengawas lapangan pekerjaan parkiran Penangkaran Rusa Cariu, Dadang Goci membantah bahwa isu penggunaan material dari kali itu tidak benar. Karena pada kenyataannya, batu berasal dari tanah yang digali, hingga dimanfaatkan untuk dipakai menambah material. Namun demikian, tetap saja menggunakan material batu dari luar karena kondisi batu yang ada setelah tanah digali itu ukurannya sangat besar-besar.

“Batu yang ada diatas ini berasal dari bekas galian tanah, karena ukuran batu itu sangat besar-besar, jadi kami berdayakan masyarakat sekitar untuk melakukan pemecahan batu. Tapi kita tetap beli batu dari luar untuk kabutuhan pemasangan bronjong. Karena memecahkan batu ini kan perlu proses,” ungkap Dadang kepada Jurnal Bogor, Minggu (23/7/23).

Dadang menyebut, pemberdayaan masyarakat dilakukan karena adanya permintaan dari mereka untuk bekerja di proyek ini. Maka dia berinisiatif untuk memperkerjakan mereka sebagai pemecah batu. Terkait fungsi dari pembangunan lahan parkir di wisata Penangkaran Rusa Cariu sendiri, sejak dulu itu merupakan mimpi Sekda Kabupaten Bogor saat dirinya menjadi Plt Camat Tanjungsari yang menginginkan adanya wisata yang akan menjad selter di Bogor Timur.

“Memang rencana perapihan untuk kawasan wisata Penangkaran Rusa Cariu ini sudah lama direncanakan, mungkin baru saat ini terealisasi. Dan rencana kedepannya nanti, pintu masuk akan dipindahkan, memang pengunjung masih tergolong sepi. Mungkin Pemda ingin merapikan dulu fasilitasnya untuk menarik minat pengunjung,” bebernya.

“Terkait isu-isu yang ada kami sebetulnya enggan untuk menanggapi, mungkin mereka berkeinginan sesuatu tapi tidak terwujud sehingga membuat isu yang kurang baik. Sejauh ini, kami sedang mengejar progres untuk melakukan pemasangan paving blok. Dan untuk diketahui, jika dalam pembangunan lahan parkir ini ada hibah tanah warga untuk wisata Penangkaran Rusa Cariu ini,” tambahnya.

Sementara, Sekretaris Komisi 3 DPRD Kabupaten Bogor, Ferry Roveo Chechanova mengatakan untuk pembangunan area wisata Penangkaran Rusa Cariu memang menjadi bahan perbincangan dalam rapat dewan. Mengingat, ada revitalisasi  waduk Cibeet yang lebih penting karena menyangkut kepantingan petani.

“Tapi karena ini sudah berjalan, tinggal kita pantau bersama, dan saya harap kedepannya untuk pengembangan infrastruktur wisata digunakan dari anggaran Samisade. Yang memang dialokasikan tujuan awalnya untuk mendongkrak ekonomi infrastruktur jalan menuju wisata,” cetus Pio sapaan akrabnya.

Pio menekankan ada hibah tanah dari warga sekitar untuk area wisata Penangkaran Rusa Cariu tersebut sebaiknya dinas terkait segera untuk mengurus surat hibahnya. “ Jangan sampai setelah dibangun oleh pemda, karena tidak ada suratnya diakui kembali,” pungkasnya.

** Nay Nur’ain

Sekolah Hang Tuah Gunakan Lahan Fasos Fasum, Andri Rahman: Kami Sudah Bersurat ke Pemda Minta Penjelasan

0

Jonggol | Jurnal Bogor

Kisruh pengakuan lahan fasos fasum dari Perumahan Angkatan Laut yang hampir sebagian besar lahannya digunakan oleh Yayasan Sekolah Hang Tuah yang berada di Desa Sukamanah, Jonggol, Kabupaten Bogor, membuat Camat Jonggol Andri Rahman angkat bicara.

Andri menyebut, sampai saat ini belum ada kepastian hukum bahwa lahan yang ditempati oleh Sekolah Hang Tuah itu betul fasos fasum dari Perum AL atau bukan. Sehingga memang perlu diadakannya mediasi gelar data yang juga harus dihadiri oleh dinas-dinas terkait.

“Jika berbicara fasos fasum, itu sudah masuk kedalam ranah kewenangan Pemda Bogor, dan untuk saat ini saya sendiri tidak mengetahui apakah lahan yang dipakai Sekolah Hang Tuah itu fasos fasum atau bukan, “ ungkap Andri kepada Jurnal Bogor, Minggu (23/7/23).

Mengingat, sambung Andri, penyerahan fasos fasum di Perumahan AL itu sudah dari sekitar tahun ’90-an, dan berkas atau histori Pemcam Jonggol sendiri tidak punya itu. Hanya ada siteplan, yang belum bisa dikuatkan keabsahannya, karena produk site plan sendiri bisa saja berubah untuk penetapan posisi lahan fasos fasum itu ada dimana.

“Sedikit saya perjelas soal fasos fasum, sekalipun itu lahan dari perumahan bukan berarti hanya pihak perumahan saja yang bisa menikmati. Karena, saat lahan itu sudah diserahkan ke Pemkab, sudah secara otomatis kewenangan itu ada di tangan Pemkab. Siapapun bisa memohon lahan yang sudah menjadi milik pemda tersebut dengan ketentuan yang berlaku,” papar Andri.

Andri menyebut, untuk persoalan perebutan lahan fasos fasum antara Sekolah Hang Tuah dengan Pemdes Sukamanah sedang dicarikan titik temunya, dan dirinya pun sudah melayangkan surat kepada BPKAD Kabupaten Bogor, karena pihaknya yang lebih faham status lahan tersebut benar fasos fasum atau bukan.

“Karena ini masih belum ada kejelasan, jadi saya minta kepada pihak Hang Tuah untuk menghentikan sementara kegiatan pembangunan  untuk sekolah tingkat SMA-nya. Biarkan ini diproses dulu untuk pembuktian, dan untuk Pemdes Sukamanah diharapkan bisa menahan diri terlebih dahulu sampai ada penjelasan dari dinas terkait. Karena apa yang diperjuangkan oleh Pemdes Sukamanah pun semata-mata untuk kepentingan masyarakatnya,” tandas Andri.

Sementara, salah satu warga Perumahan AL, Agung Priyono (48) mengatakan dirinya berharap adanya sekolah negeri di lingkungan tersebut yang memang bisa terjangkau oleh masyarakat pada umumnya. Sekolah swasta mungkin punya fasilitas sendiri yang lebih bagus, hingga bayarannya pun seimbang dengan fasilitas yang dimilikinya.

“ Tapi untuk kami, sekolah negerilah yang menjadi incaran. Bukan hanya itu saja, jika betul ini fasos fasum dari Perumahan AL yang diserahkan ke Pemda, kenapa harus pihak swasta yang membangun sekolah di lahan pemda, sedangkan sekolah itu komersil. Apakah ada hitung-hitungan persentase dengan pemda untuk penggunaan lahan. Kami sebagai warga pun ingin mengetahui itu,” cetusnya.

Agung menyebut, saat terjadi pemasangan patok yang dilakukan oleh Pemdes Sukamanah, dirinya baru mengetahui jika sekolah Hang Tuah itu memakai lahan pemerintah.

“Pengawasan yang harus dipertanyakan, jika kami tahu dari dulu itu lahan fasos fasum, kami yang akan menggunakan untuk sarana yang bisa dinikmati warga secara gratis. Sekolah itu swasta, sudah pasti tujuannya bisnis. Saya mendukung Pemdes untuk melanjutkan kejelasan lahan itu, betul fasos fasum atau bukan,” pungkasnya.

Sampai diturunkannya berita ini belum ada keterangan resmi dari pihak Sekolah Hang Tuah.

** Nay Nur’ain

Maju Jadi Caleg DPR dari Partai Golkar, Alzier Dianis Tabrani ‘Banjir’ Dukungan

0

Lampung | Jurnal Bogor
Keputusan M. Alzier Dianis Tabrani, mencalonkan diri menjadi bakal calon anggota DPR – RI, dari daerah pemilihan (Dapil) I, Provinsi Lampung, mencakup Kabupaten Lampung Barat, Lampung Selatan, Pesawaran Pesisir Barat, Peringsewu, dan Tanggamus, sangat tepat. Pasalnya, warga lima kabupaten di provinsi yang ada diujung Pulau Sumatera itu, mengenal sosok Alzier sebagai pejuang dan pekerja keras memajukan Provinsi Lampung.

Mengetahui Alzier Dainis Tabrani nyalon anggota DPR lagi, sejumlah kalangan, mulai dari ketua ada, petani, nelayan dan pemuda ramai-ramai mendukung Alzier dan siap memenangkannya pada pemungutan suara 14 Februari 2024 mendatang.

“Saya sudah lama mengenal sosok Alzier beliau sangat layak mewakili kami di DPR RI, Alzier, orangnya pekerja keras dan cukup pengalaman dibidang politik sewaktu menjadi Ketua Golkar Provinsi Lampung, banyak masyarakat yang dibantu beliau yang luput dari perhatian publik, “ kata ungkapkan Pangeran Kepasian Pugung Ahmad, dalam keterangan tertulisnya kepada Jurnal Bogor, Minggu (27/07).

Ahmad menegaskan, kesiapannya berjuang mendukung penuh Alzair untuk Duduk di DPR RI, untuk Kabupaten Tanggamus dan Pesawaran. “InsyaAllah kami Kepala adat akan silaturahmi memberi dukungan penuh ke beliau,” terang Pangeran.

Dukungan untuk Alzier, datang dari masyarakat Kabupaten Peringsewu dari pemilih pemula sampai pensiunan, Riska, pemilih pemula siap memberikan suaranya untuk kemenangan Alzier.

“Sebagai pemilih pemula sebenernya bagi kami sangat mudah menilai siapa calon DPRyang layak, kita tinggal lihat saja di google, disitu akan terlihat jelas rekam jejaknya, kalau belum ada disitu artinya belum bebuat apa apa, apalagi pengalaman di bidang politik kalau Pak Alzier jelas rekam jejaknya sangat berpengalaman dan sangat layak untuk memperjuangkan aspirasi kami di DPR RI,” terang Riska.

Sementara masyarakat yang ada diperantauan yang ada di pulau jawa masih mempunyai KTP Dapil I jumlahnya ribuan siap pulang kampung saat pemilihan untuk memberi suara ke Alzier, seperti diungkapkan Tursina.

“Kami siap pulang saat pemilihan nanti memberi dukungan penuh dan memberi suara ke Bang Alzier. Alhamdulilah bang Alzier masih mau berjuang terus untuk mewakili suara kami di DPR RI pendek kata kami siap pulang dan berjuang memenangkan Alzair,” kata Tursina menutupi. N Mochamad Yusuf

Samisade Lebih Dulu Dicairkan dari BHPRD, Ini Ungkapan Hati Kades Gunung Putri

0

Gunung Putri | Jurnal Bogor

Kepala Desa Gunung Putri Damanhuri mengutarakan kekecewaannya terhadap sistem di Pemerintah Kabupaten Bogor. Mengingat sudah menginjak 7 bulan anggaran Bagi Hasil Pajak dan Retribusi Daerah (BHPRD) tak kunjung cair, padahal banyak staf yang harus menerima gaji dari anggaran tersebut.

“Saya kecewa dengan sistem yang saat ini terjadi di Kabupaten Bogor, kini anggaran Samisade sudah ada yang cair. Bagus memang, tapi kenapa tidak BHPRD yang diutamakan, padahal banyak perut orang banyak dari anggaran tersebut,” ungkap A Heri sapaan akrabnya, Minggu (23/7/2023).

A Heri menyebut, Pemerintah Kabupaten Bogor seolah-oleh tidak peka, padahal Pemdes sangat senang saat Perbup itu sudah keluar. Secepat mungkin buat laporan dan persyaratannya untuk mencairkan anggaran BHPRD. Namun nyatanya, malah kabar buruk yang diterima dengan alasan masih mandek di BKAD.

“Dari informasi via WhatsApp Group itu tersebar, infonya menunggu perintah pimpinan. Padahal, Perbup sudah keluar, jadi menunggu pimpinan siapa lagi,” tandasnya.

Lebih lanjut, Kepala Desa peraih penghargaan  Desa Terbaik tingkat Provinsi Jawa Barat tersebut mengaku stafnya mungkin sudah kebal dengan kondisi saat ini. Mereka teriak, tapi apa yang mereka bisa lakukan, hanya berharap kebijakan itu berpihak dan tidak dimainkan oleh kepentingan seseorang.

“ Saya tidak tahu ya, ada kepentingan apa, ada politik apa, saat Samisade sudah ada yang cair tapi BHPRD seolah-olah ditahan pencairannya. Kalaupun ada kepentingan para inohong, jangan mengorbankan gaji rakyat yang tidak seberapa. Penghasilan mereka itu hanya berharap dari itu saja, tidak ada pendapatan lain, “ keluhnya.

Dia mengaku senang jika Samisade sudah cair, walaupun hanya di sebagian kecil desa. Namun, alangkah lebih baiknya dibarengkan dengan anggaran BHPRD. Jadi, infrastruktur jalan dan staf desa pun bisa makan. Harusnya anggaran BHPRD itu sudah tahap 2 untuk pencairan, namun pada kenyataannya saat ini, tahap satunya saja masih menjadi pertanyaan.

“ Jika dirapel 2 tahap sekaligus mungkin desa akan sumringah saat turun nanti, ini sudah telat, ditunda tahap 1 pula yang baru turun,” kesalnya.

Dirinya berharap kepada Pemerintah Kabupaten Bogor untuk yang kesekian kalinya, agar sesegera mungkin bisa mencairkan anggaran yang sangat dibutuhkan dan dinantikan banyak orang tersebut. Jangan sampai perut orang banyak dikorbankan untuk kepentingan segelintir orang.

“ Mungkin staf ini dan semua yang berhak atas anggaran BHPRD jika diiyakan oleh kades bisa demo ke Pemkab. Tapi, sejauh ini, kami para kades masih berupaya mengkondusifkan situasi. Tapi jangan diabaikan juga, untuk staf di Desa Gunung Putri sendiri, sudah numpuk hutangnya di BUMDes. Mudah-mudahan aja BUMDes masih kuat modalnya untuk tetap bisa membantu mereka,” pungkasnya.

** Nay Nur’ain

Puluhan Siswa SD Geruduk Kantor Desa Leuwinutug

0

Citeureup | Jurnal Bogor

Kantor Desa Leuwinutug, Citeureup Kabupaten Bogor digeruduk puluhan siswa kelas 1 SDN Leuwinutug 03. Kedatangan puluhan siswa tersebut turut mengagetkan segenap staf dan penghuni yang ada di Desa Leuwinutug. Guru kelas 1, SDN Leuwinutug 03, Ida mengatakan, kedatangan siswa didiknya yang berjumlah 75 orang tersebut untuk silaturahmi dan mengenal seperti apa kantor desa.

“ Jadi, hari ini kami sedang memperkenalkan lingkungan sekitar sekolah kepada siswa kelas 1 yang baru, dan kebetulan kantor desa dekat dengan sekolah kami, serta siswa pun banyak yang bertanya itu kantor apa. Jadi, sekalian aja kami mampir,” ungkap Ida kepada Jurnal Bogor, Minggu (23/7/23).

Ida menyebut, pentingnya memperkenalkan lingkungan sekitar terhadap siswa baru, agar minimal mereka bisa mengingat dan mengetahui ini bangunan gedung apa, walaupun belum tentu mereka faham tapi kami memperkenalkan bagaimana caranya masuk dengan sopan kedalam perkantoran atau gedung.

“Dalam metode pengenalan lingkungan ini kami lebih mengajarkan etitude kepada siswa, bagaimana carannya mengucap salam jika masuk ke rumah/tempat orang lain dengan sopan. Juga bagaimana, cara kita bertamu di tempat orang lain, karena sejatinya penanaman etitude itu sangat perlu di tanamkan sejak dini kepada siswa, agar nantinya mereka terbiasa,” paparnya.

“ Silaturahmi ini memang mendadak, dan kami juga tidak memberitahu pihak desa terlebih dahulu, jadi agak sedikit mengagetkan pihak desa,” tambahnya.

Sementara Sekretaris Desa Leuwinutug Faisal Abu Bakar mengucapkan terimakasih atas kunjungan siswa kelas 1 SDN Leuwinutug 03, karena bisa dibilang sedikit mengagetkan, “ Saya kira ada demo apa anak SD ke desa, sempat terkejut. Tapi saya apresiasi kepada guru pembimbing yang sudah mengajak siswa nya silaturahmi ke desa, “ cetus Faisal.

Dirinya berharap, bukan hanya anak SD siswa baru saja yang datang silaturahmi ke desa saat melaksanakan MPLS. Jika perlu tingkat yang lebih tingginya. “Jangan sampai, ada warga sekitar Desa Leuwinutug yang tidak tahu dimana kantor desanya,” pungkasnya.

“ Sukses terus untuk adik-adik, semoga jadi anak yang soleh dan sholehah, beretika dan jadilah generasi yang baik dikemudian hari,” imbuhnya.

** Nay Nur’ain