Tamansari | Jurnal Bogor – MTs Nurussa’adah menggelar acara perpisahan dan pelepasan siswa kelas IX Tahun Ajaran 2025-2026 dengan mengusung tema “Menebar Kebaikan, Merajut Kenangan, Menjalin Generasi Beriman”. Kegiatan berlangsung khidmat dan meriah di Gedung Sekolah Citra Pariwisata, Bogor Selatan, Sabtu (20/6/2026).
Acara pelepasan dihadiri oleh para siswa, orang tua, dewan guru, serta jajaran sekolah. Suasana haru dan bahagia mewarnai prosesi wisuda yang menjadi penanda berakhirnya masa pendidikan para siswa di tingkat madrasah tsanawiyah.
Kepala MTs Nurussa’adah, Nazarudin Usman, mengatakan bahwa kegiatan tersebut bukan hanya menjadi momen perpisahan, tetapi juga ajang mempererat tali silaturahmi antara sekolah, siswa, dan orang tua.
“Semoga jalinan silaturahmi antara para wisudawan, orang tua, dan pihak sekolah tetap terjaga dengan baik. Kami berharap seluruh lulusan MTs Nurussa’adah dapat meraih kesuksesan dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,” ujarnya, Sabtu (20/6/2026).
Ia menambahkan, MTs Nurussa’adah terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan melalui pengembangan sarana dan prasarana yang memadai guna menunjang proses belajar mengajar.
Pada tahun ajaran 2025-2026 ini, MTs Nurussa’adah berhasil meluluskan sebanyak 158 siswa. Pihak sekolah berharap seluruh lulusan dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya serta menjadi generasi yang beriman, berakhlak mulia, dan berprestasi.
Sementara itu, perwakilan orang tua siswa, Rizal, menyampaikan apresiasi kepada seluruh guru dan pihak sekolah yang telah membimbing serta mendidik anak-anak selama menempuh pendidikan di MTs Nurussa’adah.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh dewan guru yang telah memberikan ilmu, bimbingan, dan perhatian kepada anak-anak kami. Semoga apa yang telah diberikan menjadi amal kebaikan dan membawa manfaat bagi masa depan mereka,” ungkapnya.
Pada penghujung acara, suasana haru terasa saat prosesi sungkeman kepada orang tua dan pengalungan medali kepada para siswa. Kegiatan semakin semarak dengan berbagai penampilan kreatif dari siswa MTs Nurussa’adah, mulai dari pertunjukan musik, seni tari, hingga pencak silat yang mendapat apresiasi dari para tamu undangan. Yudi
Caringin | Jurnal Bogor – Dalam rangka menyambut Hari Bhayangkara ke-80 yang akan diperingati pada 1 Juli 2026 mendatang, jajaran Polsek Caringin menggelar kegiatan bakti sosial berupa aksi bersih-bersih masjid, Jumat (19/6/2026).
Kegiatan yang dipimpin langsung Kapolsek Caringin AKP Jajang tersebut dilaksanakan di Masjid Besar Al-Mukhlisin yang berada di Kampung Bunder, Desa Caringin, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Dalam kegiatan itu, anggota kepolisian bersama personel lainnya tampak membersihkan area dalam dan luar masjid, mulai dari halaman, tempat wudhu, ruang salat hingga lingkungan sekitar masjid.
Aksi sosial tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Polri dalam menyambut Hari Bhayangkara ke-80, sekaligus mempererat hubungan antara kepolisian dengan masyarakat melalui kegiatan yang menyentuh langsung kehidupan warga.
Kapolsek Caringin AKP Jajang mengatakan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial dalam memperingati Hari Bhayangkara, melainkan bentuk nyata kehadiran Polri di tengah masyarakat.
“Melalui momentum Hari Bhayangkara ke-80 ini, kami ingin menumbuhkan semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan. Masjid merupakan tempat ibadah yang harus dijaga kebersihan dan kenyamanannya agar masyarakat dapat beribadah dengan khusyuk,” kata AKP Jajang.
Menurutnya, Polri saat ini tidak hanya bertugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial untuk terus hadir membantu masyarakat dalam berbagai kegiatan positif.
“Kami ingin menunjukkan bahwa Polri hadir bukan hanya saat ada persoalan keamanan, tetapi juga dalam kegiatan sosial, gotong royong, dan pelayanan kepada masyarakat. Semoga kegiatan seperti ini semakin mendekatkan hubungan antara kepolisian dan warga,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa peringatan Hari Bhayangkara tahun ini menjadi momentum untuk meningkatkan pengabdian institusi Polri kepada masyarakat serta memperkuat nilai-nilai kebersamaan.
Sementara itu, warga sekitar menyambut positif kegiatan yang dilakukan jajaran Polsek Caringin tersebut. Mereka mengaku senang dan mengapresiasi kepedulian anggota kepolisian yang turun langsung melakukan kegiatan sosial di lingkungan masyarakat.
Salah seorang warga setempat mengatakan bahwa kegiatan seperti itu memberikan contoh positif mengenai pentingnya menjaga kebersihan, terlebih di tempat ibadah.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan dari Polsek Caringin. Semoga kegiatan seperti ini terus dilakukan karena selain menjaga kebersihan lingkungan masjid, juga mempererat hubungan antara masyarakat dengan aparat kepolisian,” ungkapnya.
Dengan semangat Hari Bhayangkara ke-80, Polsek Caringin berharap berbagai kegiatan sosial yang dilakukan dapat semakin memperkuat sinergitas antara Polri dan masyarakat, sehingga tercipta lingkungan yang aman, nyaman, dan penuh rasa kebersamaan. Yudi
Caringin | Jurnal Bogor – Di tengah himpitan ekonomi, Aa Subrowi, seorang penyandang disabilitas warga Kampung Cikalang RT 04 RW 06, Desa Caringin, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, tetap berjuang memenuhi kebutuhan keluarganya.
Sehari-hari, pria paruh baya tersebut menghabiskan waktu di depan kompor mengolah berbagai jenis gorengan yang kemudian dijual di warung miliknya. Sementara itu, sang istri setiap pagi rutin membantu perekonomian keluarga dengan berkeliling menjajakan gorengan dari rumah ke rumah warga sekitar.
Namun, di balik perjuangannya mencari nafkah, Aa Subrowi dan keluarganya harus hidup dalam kondisi rumah yang memprihatinkan. Bagian atap rumah sudah mengalami kerusakan dan dikhawatirkan sewaktu-waktu roboh. Selain itu, sejumlah dinding rumah juga mengalami retak cukup parah yang mengancam keselamatan penghuni.
“Kami hanya bisa pasrah dengan kondisi tempat tinggal kami saat ini. Meski hati kecil kami selalu diselimuti rasa khawatir akan kejadian yang tidak kami harapkan, semoga Allah SWT selalu melindungi keluarga kami,” tutur Aa Subrowi, Jumat (19/6/2026).
Ia mengaku rumahnya sudah beberapa kali didatangi oleh berbagai pihak. Bahkan, data dan dokumentasi kondisi rumahnya telah beberapa kali diambil untuk keperluan pendataan.
“Sering rumah kami didatangi beberapa pihak, difoto dan diminta data. Tapi sampai saat ini belum ada realisasi. Mungkin memang belum ada rezeki kami,” sambungnya.
Sementara itu, Pemerintah Caringin melalui Sekretaris Desa (Sekdes) membenarkan bahwa rumah milik Aa Subrowi pernah diusulkan untuk mendapatkan bantuan pervbaikan rumah tidak layak huni (Rutilahu).
“Rumah tersebut pernah kami usulkan. Namun sampai saat ini kami juga masih menunggu. Kami akan terus berupaya mencari solusi. Selain program Rutilahu, mudah-mudahan ada program pemerintah lainnya yang bisa membantu perbaikan rumah milik Pak Aa Subrowi,” paparnya.
Kini, Aa Subrowi dan keluarganya hanya bisa berharap adanya bantuan dari pemerintah maupun para dermawan agar dapat memiliki rumah yang lebih layak dan aman untuk ditempati. Yudi
Bogor | Jurnal Bogor Puluhan santri putra jenjang SMP dan SMA Pesantren Umar bin Khotob (UBK) Plus Bogor mengikuti kegiatan Training Healing and Growing “Menjadi Kerang Mutiara”: Mengubah Ujian Menjadi Kemuliaan, Kamis (18/6/2026).
Kegiatan ini untuk membekali para santri dengan ketangguhan mental, kecerdasan emosi, serta karakter kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Training yang dipandu oleh Lili Marliyuana, Emotional Healing Therapist dan Direktur ABCo Therapy Center, mengajak para peserta memahami bahwa setiap ujian, kesulitan, dan tekanan hidup dapat menjadi sarana pertumbuhan diri apabila dihadapi dengan cara yang tepat.
Melalui kisah kerang mutiara, para santri diajak melihat bahwa mutiara yang bernilai tinggi justru lahir dari butiran pasir yang melukai kerang. Filosofi tersebut menjadi gambaran bahwa tantangan hidup tidak selalu harus dihindari, melainkan dapat diubah menjadi sumber kekuatan dan kemuliaan.
“Seperti kerang yang mengubah pasir menjadi mutiara, manusia juga dapat mengubah luka, kegagalan, dan kesulitan menjadi karakter yang lebih kuat dan lebih mulia. Yang menentukan bukan ujiannya, tetapi bagaimana kita merespons ujian tersebut,” ujar Lili dalam pemaparannya.
Dalam sesi berikutnya, peserta diajak meneladani perjalanan hidup Rasulullah SAW yang sejak kecil menghadapi berbagai ujian, mulai dari menjadi yatim, kehilangan orang-orang yang dicintai, hingga menghadapi penolakan dan berbagai tekanan dakwah. Namun, seluruh ujian tersebut justru membentuk Nabi Muhammad menjadi pemimpin yang tangguh, penuh kasih sayang, dan menjadi rahmat bagi semesta alam.
“Rasulullah SAW tidak menjadi kuat karena hidup beliau mudah. Beliau menjadi kuat karena mampu mengubah setiap ujian menjadi jalan mendekat kepada Allah dan sarana menumbuhkan kasih sayang kepada sesama,” jelasnya.
Selain mendapatkan materi motivasi dan refleksi diri, para santri juga diajak mengenali tanda-tanda kelelahan emosional atau burnout yang kerap dialami remaja, terutama dalam menghadapi tuntutan akademik, target hafalan, aktivitas organisasi, serta kerinduan terhadap keluarga.
Sebagai bekal karakter, peserta diperkenalkan konsep ‘Mutiara Seorang Santri’ melalui filosofi lima jari tangan. Ibu jari melambangkan syukur dan adab kepada orang tua serta guru. Jari telunjuk menggambarkan integritas dan kejujuran. Jari tengah mengajarkan semangat memberikan kontribusi terbaik. Jari manis menjadi simbol ukhuwah, kepedulian, dan kemampuan bekerja sama. Sementara jari kelingking mengingatkan pentingnya menjaga kebiasaan-kebiasaan kecil yang baik secara istiqamah.
Kegiatan berlangsung interaktif melalui pemutaran video inspiratif, refleksi diri bertajuk Pasir dan Mutiaraku, diskusi, serta sesi muhasabah yang mengajak peserta merenungkan perjuangan orang tua dan tujuan hidup sebagai seorang santri.
Suasana haru terlihat ketika para peserta diajak mengingat pengorbanan ayah dan ibu yang terus berjuang agar mereka dapat menuntut ilmu di pesantren.
Momentum tersebut menjadi pengingat bahwa setiap perjuangan yang dijalani saat ini merupakan bagian dari proses pembentukan karakter dan kematangan diri.
Melalui kegiatan ini, pesantren berharap para santri tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan dan keagamaan, tetapi juga memiliki ketangguhan mental, akhlak mulia, kepedulian terhadap sesama, serta kemampuan menjadikan setiap ujian sebagai jalan menuju kemuliaan.
“Santri yang hebat bukanlah santri yang hidup tanpa masalah, tetapi santri yang mampu mengubah setiap tantangan menjadi kesempatan untuk bertumbuh, memperbaiki diri, dan semakin dekat kepada Allah SWT,” ujar Lili.
“Misi kami adalah melahirkan generasi yang bukan hanya bagus IQ-nya saja, namun juga EQ yang berperan sangat penting dalam membentuk karakter para santri, dengan training ini, baik secara teori maupun praktik, santri-santri mengenal bagaimana mengelola emosi, yang sudah barang tentu menjadi tantangan perkembangan mereka, baik sekarang atau nanti, saat mereka mulai meraih cita-cita,” kata Saefullah Abu Bakar, MPd., Mudir UBK Plus.
Bogor | Jurnal Bogor Pasar hunian di Bogor kembali diramaikan dengan hadirnya tipe terbaru dari Perumahan Gratia Tamansari Residence. Pengembang meluncurkan tipe Garcinia 30/60, rumah satu lantai dengan konsep modern minimalis yang menawarkan pemandangan langsung ke Gunung Salak.
Rumah ini dibangun di atas lahan seluas 60 meter persegi dengan luas bangunan 30 meter persegi. Setiap unit memiliki dua kamar tidur dan satu kamar mandi, menyasar segmen keluarga muda dan pekerja komuter.
Marketing Perumahan Gratia Tamansari Residence Indra Dipura menyebutkan rumah tipe Garcinia 30/60 dirancang sebagai hunian eksklusif dalam satu cluster terbatas.
“Kami ingin menghadirkan rumah yang tidak hanya nyaman, tetapi juga memberikan nilai estetika dan ketenangan bagi penghuni,” ujar Indra Dipura ditemui di lokasi proyek Jalan E.Sumawijaya, Parakan, Tamansari, Kabupaten Bogor, Kamis (18/6/2026).
Dari sisi lokasi, perumahan ini dinilai strategis. Akses menuju Stasiun Bogor dapat ditempuh sekitar 15 menit, sementara ke gerbang Tol Bogor 20 menit perjalanan.
Gratia juga menawarkan skema pembayaran DP 0 persen serta pembebasan biaya-biaya hingga sertifikat hak milik. Harga promo dibanderol Rp390 juta untuk periode peluncuran.
Lingkungan perumahan mengusung konsep asri dan aman, dilengkapi fasilitas jalan paving block, taman depan rumah, dan pagar dengan tanaman pucuk merah yang menjadi ciri khas cluster.
Dengan harga yang relatif terjangkau dan lokasi yang terhubung ke Jakarta, tipe Garcinia 30/60 diperkirakan akan menjadi salah satu opsi hunian primadona bagi pencari rumah pertama di wilayah Bogor dan sekitarnya.
Tim sepak bola Kota Bogor semakin dekat mengamankan tiket menuju Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Jawa Barat usai meraih kemenangan telak 5-0 atas Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada lanjutan POPWILDA Jawa Barat 2026 di Sport Jabar Arcamanik, Kamis (18/6/2026).
Sejak menit-menit awal pertandingan, anak asuh Kota Bogor langsung menekan pertahanan lawan. Permainan menyerang yang diperagakan membuahkan hasil dengan empat gol yang tercipta pada babak pertama, sekaligus menutup paruh pertama dengan keunggulan 4-0.
Memasuki babak kedua, intensitas permainan tetap terjaga. Kota Bogor kembali menambah satu gol untuk menyempurnakan kemenangan menjadi 5-0.
Penyerang Galen menjadi aktor utama kemenangan setelah memborong tiga gol atau mencatatkan hattrick. Sementara dua gol lainnya masing-masing dicetak Fairuz dan Nazril.
Kemenangan tersebut membuat langkah Kota Bogor menuju babak selanjutnya semakin terbuka. Mereka kini hanya membutuhkan hasil positif saat menghadapi Kabupaten Bogor pada laga terakhir fase grup yang akan berlangsung Jumat (19/6/2026). Hasil pertandingan itu akan menentukan posisi Kota Bogor sebagai juara grup sekaligus peluang lolos ke Popda Jawa Barat.
Manajer Tim Sepak Bola Kota Bogor, Manan Tampubolon, mengatakan kemenangan tersebut merupakan buah dari kedisiplinan para pemain dalam menerapkan strategi yang telah dipersiapkan tim pelatih.
“Kami bersyukur bisa meraih kemenangan penting dengan skor yang cukup meyakinkan. Anak-anak bermain disiplin, fokus, dan menunjukkan semangat juang yang luar biasa. Namun perjuangan belum selesai karena masih ada satu pertandingan yang harus kami hadapi,” kata Manan.
Ia menegaskan, timnya tidak ingin cepat puas dengan hasil yang telah diraih. Menurutnya, fokus seluruh pemain kini tertuju pada laga terakhir yang menjadi penentu.
“Kami ingin menuntaskan fase grup dengan hasil terbaik. Target kami adalah menjadi juara grup dan memastikan tiket menuju Popda Jawa Barat. Karena itu, seluruh pemain harus tetap rendah hati dan menjaga konsistensi permainan,” pungkasnya.
Peraturan Wali Kota (Perwali) tentang penertiban angkot tua di Kota Bogor akhirnya resmi ditandatangani, Senin (15/6/2026). Ini berarti angkutan kota (angkot) berusia 20 tahun lebih sudah tidak bisa mengaspal lagi di Kota Bogor.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim menandatangani Perwali Nomor 11 Tahun 2026 tentang Rasionalisasi, Peremajaan, dan Penghapusan Kendaraan Bermotor Umum Dalam Trayek. Namun, sebelum mengambil langkah ini, dirinya meminta masukkan berbagai pihak. Pasalnya, proses penyusunan Perwali ini berlangsung cukup lama. Pihaknya perlu melibatkan banyak pihak, pengusaha angkot, Organda Kota Bogor, DPRD Kota Bogor, perwakilan tokoh masyarakat Kota Bogor, ahli tata kota dan semua pihak lain yang berkompeten.
Tujuannya agar semua saran dan kritik penataan angkot bisa diakomodir. Sekaligus memberi ruang untuk para sopir dan pengusaha bersiap.
“Kami berikan waktu cukup lama, dari Perda diketuk palu di DPRD Kota Bogor, sampai Perwali. Jadi kami berikan kesempatan sekaligus melakukan dialog konstruktif,” jelasnya.
Dengan terbitnya Perwali ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor semakin mantap untuk tidak lagi mengizinkan angkot usia 20 tahun mengaspal.
“Secara teknis, secara resmi, mulai hari ini kita berlakukan langkah-langkah pembatasan yang lebih tegas,” kata Dedie.
Dedie menjelaskan ada beberapa skema penertiban yang dilakukan. Pertama yaitu pencabutan atribut atau identitas, penyitaan administrasi angkot.
“Kalau masih ada yang bandel, akan ada proses penindakan yang lebih keras lagi, misalnya dengan penyitaan kendaraan atau pengandangan,” terang Dedie.
Dedie berharap para sopir dan pengusaha angkot bisa memahami. Semua kebijakan ini sudah tertuang dalam Peraturan Daerah yang sifatnya mengikat. Apalagi aturan tersebut sudah pula disosialisasikan. Jadi tidak lagi ada alasan bagi para sopir angkot berusia 20 tahun lebih memaksa untuk tetap mengaspal.
“Saya yakin semua masyarakat sudah paham. Ini adalah langkah besar Kota Bogor agar lebih tertib dan modern lagi,” terang Dedie.
Dedie juga turut memperhatikan nasib sopir yang terkena dampak. Mereka diarahkan misalnya untuk bisa berpartisipasi dalam menyukseskan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Kalau memang masih ada kesempatan, kita buka SPPG banyak. Saya mendengar juga mantan pengemudi juga banyak yang diterima bekerja di SPPG,” ujarnya.
Semua pihak mesti mengikuti perkembangan zaman. Kebutuhan masyarakat saat ini disebut Dedie sudah berbeda.
“Jadi, jangan lebih banyak supply daripada demand nya. Jangan lebih banyak kendaraannya dibanding kebutuhannya,” terang Dedie.
Setelah semua angkot tua ditertibkan, penataan akan terus berlanjut. Dedie berencana membuat sistem angkutan kota yang modern dan ramah lingkungan.
“Saat ini kita konsepsikan dengan memprioritaskan penghentian dulu. Setelah itu baru menyelaraskan dengan transportasi yang modern,” jelasnya.
Secara umum jumlah angkot yang masih mengaspal di Kota Bogor ada sebanyak 2.679 unit. Hampir setengahnya, melewati batas usia teknis. Jumlah angkot yang melebihi batas usia teknis 20 tahun 1.780 unit. Mereka tersebar dari keseluruhan trayek, yaitu 25 trayek angkot. Sementara itu, tim penertiban angkot tua di Kota Bogor segera terbentuk. Sebanyak 1.700 armada akan menjadi target sasaran operasi mereka.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor, Sujatmiko Baliarto menyebutkan saat ini ada 2.700 angkot yang resmi terdaftar. Sebagian diantaranya sudah di atas 20 tahun.
“Target operasi 1.700 yang akan kita tertibkan. Yang sudah masuk di usia teknis di atas 20 tahun. Sehingga tinggal 1.000 nanti kendaraan yang tersisa,” bebernya.
Sujatmiko menegaskan penertiban dilakukan dalam waktu dekat ini. Pihaknya tengah mempersiapkan Surat Keputusan (SK) tim penertiban tersebut.
“SK ini bukan di lingkup Dinas Perhubungan, tetapi tingkat Kota Bogor. Sudah naik ke atas menjadi agenda Kota Bogor,” jelas Sujatmiko.
Tim penertiban diisi oleh Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim sebagai pelindung. Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin dan Sekretaris Daerah sebagai pengarah.
“Penanggung jawab kita (Dishub). Disitu nanti ada juga unit-unit, ada sosialisasi, administrasi dan tim teknis pelaksanaan penertiban,” ujar Sujatmiko.
Sujatmiko menjelaskan, tahap awal penertiban dilakukan melalui tindakan administratif. Angkot yang melanggar akan dicatat dan diselaraskan dengan data. Di lapangan, petugas atau tim juga akan mencopot seluruh atribut identitas kendaraan yang sudah melewati usia teknis.
“Trayeknya di copot, kemudian nanti kita pilok kiri, kanan, depan, belakang dengan tanda silang. Akan diberi tanda bahwa kendaraan itu sudah di atas 20 tahun,” terangnya.
Tak hanya itu, buku uji kendaraan dan dokumen trayek juga akan disita sehingga kendaraan tersebut tidak lagi memiliki izin operasional sebagai angkutan umum.
“Buku uji kita sita, buku trayek kita sita. Jadi dilarang beroperasi,” tegasnya.
Meski demikian, pemerintah belum langsung melakukan penyitaan kendaraan. Langkah tersebut baru akan dilakukan apabila pemilik angkot tetap membandel dan nekat beroperasi.
Ia menambahkan, kendaraan yang sudah ditertibkan masih dapat dimanfaatkan untuk keperluan lain. Namun statusnya tidak lagi sebagai angkutan umum.
“Bisa dipakai untuk yang lain, tapi sudah menjadi bukan angkutan umum. Sosialisasi akan kami lakukan sampai akhir bulan ini,” katanya.
Leuwiliang | Jurnal Bogor RSUD R. Moh. Noh Nur Leuwiliang melaksanakan kegiatan apel pagi rutin yang diikuti oleh jajaran manajemen, tenaga kesehatan, serta seluruh pegawai. Kegiatan ini berlangsung dengan tertib dan penuh khidmat sebagai bagian dari upaya memperkuat disiplin, koordinasi, serta semangat dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat pada Senin (15/06/2026).
Apel pagi ini menjadi momentum untuk meneguhkan komitmen seluruh pegawai dalam menghadirkan pelayanan yang profesional, bermutu, dan berorientasi pada keselamatan pasien. Selain itu, kegiatan juga menjadi sarana penyampaian informasi serta evaluasi pelaksanaan tugas di lingkungan rumah sakit.
Usai apel pagi, kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan penghargaan Satyalancana Karya Satya kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) yang telah mengabdi secara terus-menerus dengan penuh dedikasi. Pada kesempatan ini, penghargaan diberikan kepada:
Masa pengabdian 30 tahun: 1 orang Masa pengabdian 20 tahun: 2 orang Masa pengabdian 10 tahun: 11 orang
Penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi atas loyalitas dan kontribusi para ASN dalam mendukung pelayanan publik, khususnya di bidang kesehatan.
Selain itu, juga diserahkan penghargaan kepada tim bola voli putra RSUD R. Moh. Noh Nur Leuwiliang yang berhasil meraih Juara 3 dalam turnamen yang diselenggarakan oleh panitia Kecamatan Leuwiliang dalam rangkaian HJB (Hari Jadi Bogor yang ke-544 berlokasi di Lapangan Voli BTN Leuwiliang.
Turnamen tersebut telah dilaksanakan pada Sabtu (13/06/2026), mulai pukul 08.00 sampai selesai, dan penghargaan diserahkan dalam apel pagi sebagai bentuk apresiasi dan motivasi.
Direktur RSUD R. Moh. Noh Nur Leuwiliang, dr. Vitrie Winastri, S.H., M.A.R.S., menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan semangat kebersamaan dan kinerja pegawai.
“Penghargaan ini bukan hanya bentuk apresiasi, tetapi juga dorongan agar seluruh pegawai terus meningkatkan disiplin, profesionalisme, dan semangat berprestasi, baik dalam pelayanan maupun kegiatan lainnya,” ujarnya.
Kegiatan apel pagi, penyerahan Satyalancana Karya Satya, serta pemberian penghargaan olahraga berlangsung dengan lancar, tertib, dan penuh rasa syukur. Momentum ini menjadi pengingat bahwa pengabdian, kerja sama, dan prestasi merupakan fondasi penting dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang semakin baik bagi masyarakat Kabupaten Bogor.
Jakarta | Jurnal Bogor Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memenuhi berbagai aspirasi yang disampaikan ratusan petani Papua bersama kepala daerah dalam Rapat Konsolidasi Pembangunan Pertanian Wilayah Papua 2026 di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Kamis (11/6/2026).
Berbagai usulan yang disampaikan, mulai dari tambahan cetak sawah hingga pengembangan komoditas unggulan seperti kelapa, pala, kakao, dan kopi, langsung mendapat respons dan dukungan dari pemerintah sebagai bagian dari upaya mempercepat swasembada pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua.
Forum yang dihadiri ratusan petani, penyuluh, tokoh masyarakat, gubernur, dan bupati dari berbagai wilayah Papua tersebut menjadi wadah penyampaian aspirasi pembangunan pertanian secara langsung kepada pemerintah pusat. Sejumlah kebutuhan yang selama ini menjadi harapan masyarakat mendapat persetujuan langsung dari Mentan Amran, mulai dari perluasan areal tanam hingga pengembangan komoditas perkebunan unggulan daerah.
Mentan Amran menegaskan bahwa Papua memiliki peran strategis dalam mewujudkan ketahanan dan swasembada pangan nasional. Karena itu, pemerintah berkomitmen memberikan dukungan penuh agar sektor pertanian Papua berkembang lebih cepat dan mampu menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat setempat.
“Kami ingin Papua mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Mau padi, sagu, ubi maupun komoditas lainnya, semuanya tersedia dan berkembang di Papua sehingga manfaat ekonominya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat setempat,” ujar Mentan Amran.
Menurutnya, pembangunan pertanian di Papua tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga bertujuan menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan petani, dan memperkuat kemandirian ekonomi daerah.
Salah satu aspirasi yang mendapat respons langsung berasal dari Kabupaten Sarmi. Pemerintah daerah setempat mengusulkan tambahan pengembangan kelapa untuk mendukung potensi perkebunan rakyat yang terus berkembang. Menanggapi usulan tersebut, Mentan Amran langsung menyetujui tambahan pengembangan kelapa seluas 250 hektare.
Dukungan serupa juga diberikan kepada Kabupaten Fakfak yang dikenal sebagai salah satu sentra pala nasional. Untuk memperkuat posisi Fakfak sebagai daerah penghasil pala, Mentan Amran menyetujui tambahan pengembangan pala seluas 500 hektare. Selain itu, Kementerian Pertanian juga memberikan tambahan pengembangan kelapa seluas 100 hektare guna mendukung kebutuhan masyarakat pesisir dan memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat setempat.
Mentan Amran mengatakan bahwa pemerintah akan terus mendorong pengembangan komoditas unggulan yang telah menjadi kekuatan ekonomi masyarakat Papua. Menurutnya, setiap daerah memiliki keunggulan yang harus diperkuat agar mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi petani.
“Kita ingin potensi yang dimiliki Papua berkembang maksimal. Karena itu, komoditas unggulan yang sudah menjadi kekuatan daerah harus terus diperkuat agar memberikan nilai tambah dan kesejahteraan bagi masyarakat,” katanya.
Selain pengembangan komoditas perkebunan, pemerintah juga terus memperluas program cetak sawah sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan nasional. Hingga saat ini, total pengembangan cetak sawah di Papua telah mencapai sekitar 80 ribu hektare dalam dua tahun terakhir dan menjadi salah satu program terbesar pembangunan pertanian di kawasan timur Indonesia.
Untuk mendukung percepatan pembangunan pertanian di Papua, Kementerian Pertanian telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp5 triliun selama periode 2025-2026. Dukungan tersebut mencakup program cetak sawah, pengembangan komoditas unggulan, bantuan alat dan mesin pertanian, pembangunan irigasi, penyediaan benih, serta berbagai sarana produksi lainnya.
Mentan Amran menegaskan bahwa pembangunan pertanian di Papua akan tetap mengedepankan potensi dan kearifan lokal yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama turun-temurun. Karena itu, selain padi, pemerintah juga terus memperkuat pengembangan sagu, ubi jalar, singkong, kopi, kakao, pala, dan kelapa sebagai komoditas unggulan Papua.
“Kearifan lokal tetap menjadi bagian penting dalam pembangunan pertanian Papua. Kita ingin seluruh potensi yang dimiliki Papua berkembang secara optimal sehingga mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat ketahanan pangan daerah,” jelasnya.
Ia menambahkan, pemerintah akan terus membuka ruang dialog dengan petani, tokoh masyarakat, dan pemerintah daerah agar setiap program yang dijalankan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat di lapangan.
“Hampir seluruh usulan prioritas yang disampaikan hari ini kami respons dan tindak lanjuti. Jika pelaksanaannya berjalan baik dan memberikan hasil yang nyata, tentu dukungannya akan terus ditingkatkan. Yang terpenting, kita bergerak bersama membangun Papua yang maju, mandiri, dan berdaulat pangan,” tutup Mentan Amran.
Kendari | Jurnal Bogor Perbedaan pandangan dalam sebuah forum akademik berubah menjadi momen penuh haru saat Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman berdialog dengan seorang mahasiswa asal Papua dalam kuliah umum di Universitas Halu Oleo, Kendari, Sulawesi Tenggara, Sabtu (6/6/2026).
Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo bernama Merius mempertanyakan keterlibatan TNI dan Polri dalam program cetak sawah di Papua. Menurutnya, program pertanian semestinya lebih banyak dikelola langsung oleh masyarakat dan petani setempat.
“Kita tahu bahwa hari ini yang menjadi cetakan sawah terbesar adalah di Papua dan di situ kebanyakan keterlibatan itu TNI-Polri. Namun saya melihat kenapa harus ada TNI-Polri yang terlibat, sedangkan program itu harus dirasakan dan dikelola oleh masyarakat sendiri,” ujar Merius.
Menanggapi hal tersebut, Mentan Amran menjelaskan bahwa keterlibatan TNI dan Polri bersifat sementara untuk membantu percepatan pembangunan pertanian di daerah yang masih kekurangan tenaga pendamping.
“Supaya ini ad-hoc saja sementara. Setelah petaninya sudah pintar dan mandiri, polisinya mundur, tentaranya mundur. Bukan hanya di Papua, tetapi di seluruh Indonesia. Kenapa kami gunakan Babinsa? Karena jumlah penyuluh pertanian kita belum cukup. PPL hanya sekitar 37 ribu orang, sementara kebutuhan mencapai 80 ribu,” jelas Amran.
Dialog berlangsung dinamis sebagaimana lazimnya dalam ruang akademik. Namun suasana berubah ketika Mentan Amran menanyakan kondisi keluarga Merius.
“Ibu di mana, Nak? Masih hidup?” tanya Amran.
Dengan suara lirih, Merius menjawab bahwa kedua orang tuanya masih hidup namun mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan dan saat ini berada di Papua Pegunungan.
“Ibu dan bapak masih hidup, Pak. Tapi dua-duanya lumpuh karena ketabrak. Mereka ada di Papua Pegunungan,” jawab Merius.
Mendengar jawaban tersebut, Mentan Amran langsung menunjukkan empatinya. Di hadapan ribuan peserta kuliah umum, ia menawarkan bantuan pribadi untuk membantu pengobatan ibu mahasiswa tersebut.
“Ini saudara kita dari Papua Pegunungan. Tadi saya dengar ibunya sakit. Mau tidak saya bantu seadanya untuk ibu yang kau cintai? Saya kasih dari gaji menteri, nanti saya kasih Rp10 juta, kirim ke ibu ya,” kata Amran yang disambut tepuk tangan hadirin.
Menurut Amran, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam demokrasi dan dunia pendidikan. Justru kritik yang konstruktif dibutuhkan untuk memperbaiki kebijakan dan memperkuat pembangunan nasional.
“Artinya ada perbedaan pemahaman, itu wajar. Itulah Indonesia. Jangan kita sensitif. Kalau mau berhasil, kita harus menerima kritik yang konstruktif. Adik kita ini sedang sekolah, sedang berproses,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Amran juga menyampaikan pesan yang menyentuh kepada Merius dan seluruh mahasiswa yang hadir agar tidak melupakan perjuangan orang tua.
“Ingat, kalau nanti berhasil, muliakan ibumu, ibumu, ibumu. Kamu belajar keras di sini siang dan malam. Kamu adalah harapan ibumu dan bapakmu. Kamu tidak boleh kalah dan harus berhasil,” tegasnya.
Pesan tersebut disambut haru oleh peserta kuliah umum. Momen yang awalnya diawali dengan perdebatan mengenai kebijakan pertanian berubah menjadi pelajaran tentang empati, penghormatan terhadap perbedaan pendapat, dan pentingnya berbakti kepada orang tua.
Bagi Mentan Amran, kritik dan perbedaan pandangan tidak boleh menjadi penghalang untuk saling membantu. Sebaliknya, dialog yang terbuka harus menjadi jembatan untuk memperkuat persatuan, membangun pemahaman, dan menghadirkan kepedulian kepada sesama anak bangsa dari Sabang sampai Merauke.