25.7 C
Bogor
Saturday, April 11, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 1127

Duh, Warga Telukwaru Keluhkan Susah Sinyal

0

Nanggung l Jurnal Inspirasi

Warga yang tinggal di lingkungan dua RW  di Kampung Telukwaru, Desa Curugbitung, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor terpaksa harus keluar wilayah itu untuk mencari sinyal telekomunikasi seluler.

Kepala Dusun 5, Dayat  mengatakan, untuk mencari sinyal handphone ratusan warga yang berada di dua RW yakni RW 12 dan RW 13 itu terpaksa harus keluar Kampung Telukwaru. “Tidak ada sinyal karena terhalang Gunung Singa, ada juga satu tower di Kampung Cibeureum itu pun hanya tower Indosat,” ungkap Dayat kepada wartawan, kemarin.

Dayat mengatakan, banyaknya keluhan dari warga Kampung Telukwaru itu karena sulitnya berkomunikasi. Padahal, dalam satu RW itu terdapat 500 Kepala Keluarga (KK). “Saya berharap di Gunung Panenjoan  dibangun tower telekomunikasi. Apalagi kan sekarang jamannya pendidikan dengan daring, banyak anak yang kumpul di salah satu kandang ayam di atas kampung itu, karena disitu yang ada sinyalnya,” katanya.

Sementara Sekretaris Desa Curugbitung Dede Taufik mengatakan, pihaknya mengaku kesulitan saat menghubungi warga maupun RT dan RW di Kampung Telukwaru tersebut. “Bukan hanya anak sekolah saja, kita pun ketika ada kerjaan yang harus hari ini dilaksanakan dan hari ini saya harus dapat jawaban . Terpaksa hari datang langsung,” ungkapnya.

Dede Taufik mengatakan untuk belajar daring, anak sekolah harus turun atau ke tempat yang lebih tinggi di wilayah itu sampai mereka mendapatkan sinyal yang bagus. “Sementara hanya di dua RW itu saja yang memang terisolir jaringan telekomunikasi di RW 12 dan 13,” kata Dede.

Dia juga mengatakan, di wilayahnya sempat ada program satu desa satu jaringan namun sampai saat ini belum terealisasi. “Kalau tidak salah itu di tahun 2020 sempat Pak Camat minta titiknya dimana dan kita sudah usulkan namun sampai dengan hari ini belum juga terealisasi,” tukasnya.

** Arip Ekon

Warga Tertahan Pernikahannya, Pihak Kecamatan Tegur Staf Desa Ciaruten Udik

0

Cibungbulang | Jurnal Inspirasi

Kasus dugaan tidak disetorkanya uang dan data warga yang hendak menikah di KUA oleh Desa Ciaruten Udik, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor mendapatkan respon dari Pemerintah Kecamatan Cibungbulang.

Meskipun saat ini permasalahan itu telah selesai dan pemerintah desa maupun kecamatan sudah menegur oknum Staf desa yang diduga menyalahgunakan kewenangannya itu hingga membuat warga tertahan pernikahannya, pihak kecamatan pun mewanti-wanti agar kasus serupa tidak terulang lagi.

“Saya juga sudah berkoordinasi dengan pihak KUA terkait hal itu dan memang saat itu uang senilai Rp 600 untuk biaya pernikahan untuk setor ke negara sempat tidak disetorkan secara online,” kata Plt Camat Cibungbulang, Agus.

Agus juga meminta Kepala Desa Ciaruten Udik membina anak buahnya dan hal serupa tidak terulang lagi baik di Desa Ciaruten Udik maupun desa-desa lain yang ada di Kecamatan Cibungbulang. “Kalau di Kecamatan Cibungbulang kasus seperti ini baru satu laporan di Desa Ciaruten Udik, udah saya imbau agar tidak terulang lagu,” kata Agus.

Sementara saat dikonfirmasi Kepala Desa Ciaruten Udik Sanusi Yasin belum dapat dikonfirmasi langsung namun dalam sambungan telepon yang diangkat istrinya bahwa hal itu sudah selesai dan tidak ada permasalahan lagi.

“Mau konfirmasi apa ya, bapaknya lagi tidak ada di rumah lagi main badminton ke saya aja sama, oh kalau soal itu udah beres tanggal 2 tahu, tanggal 3 nya sama pak kades langsung didaftarkan lagi udah beres ko,” jawabnya istri Kepala Desa Ciaruten Udik dalam sambungnya teleponnya.

** Cepi Kurniawan

Rizki Akbar: Penanganan Jalan Rusak Dilakukan Gercep

0

Caringin | Jurnal Inspirasi

Petugas Unit Pelaksana Teknis (UPT) Jalan dan Jembatan Kelas A Wilayah II, terus melakukan perbaikan sejumlah ruas jalan rusak yang ada di wilayah tugasnya. Bahkan, untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat terutama pengguna jalan, UPT dibawah Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Bogor itu bekerja secara gerak cepat (Gercep).

Kepala UPT Jalan dan Jembatan Kelas A Wilayah II, Rizki Akbar mengatakan, memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat menjadi tanggungjawab pihaknya. Untuk itu, setiap kali ada informasi terkait ruas jalan rusak, petugas UPT langsung melakukan perbaikan.

 “Seperti sekarang, begitu ada informasi terkait amblasnya ruas Jalan Pancawati-Tapos, petugas kami langsung mengambil langkah Gercep dengan melakukan perbaikan,” ungkapnya kepada wartawan saat melakukan perbaikan Jalan Pancawati-Tapos yang amblas, akhir pekan lalu.

Bombom panggilan akrab Rizki Akbar mengungkapkan, dirinya tidak ingin ada masyarakat yang mengeluhkan kondisi jalan rusak dan membahayakan para pengendara, baik roda dua maupun empat.

 “Makanya saya lebih baik dibilang tidak pernah di kantor, karena memang tugas saya di lapangan. Daripada banyak ruas jalan rusak tapi kami tidak melakukan perbaikan,” ujarnya.

Dalam pelaksanaan pemeliharaan, sambung Bombom, bukan hanya memperbaiki ruas jalan saja. Tetapi, jembatan yang kondisi alas atau aspalnya rusak, menjadi tanggungjawab UPT.  “Alhamdulillah hampir semua ruas jalan maupun jembatan di wilayah tugas saya, sudah selesai diperbaiki semua,” paparnya.

Bombom menghimbau agar masyarakat ikut membantu menjaga dan memelihara kondisi jalan agar tidak cepat rusak, seperti melarang adanya masyarakat yang mencuci kendaraan di jalan maupun membuat tanggul atau polisi tidur dengan diameter besar dan tinggi. “Kalau kondisi jalan bagus dan tidak berlubang, tentunya masyarakat juga yang nyaman saat berkendara,” imbuhnya.

Sementara, Darta, warga Desa Pancawati mengapresiasi kinerja petugas UPT yang langsung melakukan perbaikan jalan amblas di ruas jalan tersebut. “Kalau tidak segera diperbaiki kuatir akan ada kecelakaan, karena amblasnya jalan itu berada hampir ditengah,” tukasnya.

** Dede Suhendar

Wabup Hadiri Peresmian OSS Berbasis Risiko oleh Jokowi

0

Cibinong | Jurnal Inspirasi

Wakil Bupati Bogor, Iwan Setiawan didampingi Asisten Administrasi, Kepala DPMPTSP dan Kepala DPKPP mengikuti Peresmian Pelayanan Online Single Submission (OSS) Berbasis Risiko oleh Presiden RI Joko Widodo secara virtual di Ruang Rapat I Setda Kabupaten Bogor, Senin (9/8).

Presiden Joko Widodo menyampaikan segala aturan yang menghambat kemudahan berusaha akan terus dipangkas dan akan terus dilakukan reformasi struktural. “Kehadiran Online Single Submission (OSS) untuk memudahkan para pengusaha mengurus Nomor Induk Berusaha (NIB) dan menghapus calo. Segala sesuatu yang menghambat kemudahan dalam berusaha pasti akan kita pangkas,” ujar Presiden dalam press release Diskominfo.

Presiden menambahkan, peluncuran OSS Berbasis Resiko ini merupakan reformasi yang sangat signifikan dalam perizinan. “Hari ini kita luncurkan Online Single Submission (OSS) Berbasis Resiko, ini merupakan reformasi yang sangat signifikan dalam perizinan. Menggunakan layanan perizinan secara online dan terintegrasi, terpadu dengan paradigma perizinan berbasis resiko. Jenis perizinan akan disesuaikan dengan tingkat resikonya, perizinan antara UMKM dan Usaha Besar tidak sama,” sambungnya.

Lebih lanjut, Presiden berharap dengan diluncurkan sistem ini akan membuat iklim berusaha di Indonesia semakin baik. “Saya harap dengan sistem ini iklim berusaha di Indonesia akan semakin baik. Oleh karena itu, saya perintahkan kepada para Menteri dan Lembaga, serta para Gubernur, Bupati dan Walikota agar disiplin mengikuti kemudahan dalam OSS ini,” tambah Presiden.

Sementara itu, Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyampaikan, aplikasi ini sudah mulai dicoba sejak hari Rabu kemarin dan Alhamdulillah sudah stabil. “Aplikasi ini sudah kita coba dan stabil. Kita ada 4 jalur ruang lingkup untuk aplikasi ini, pertama aplikasi ini ruang lingkupnya untuk Kabupaten/Kota, kemudian aplikasi untuk ruang lingkup Provinsi. Ketiga aplikasi untuk ruang lingkup Kementerian dan Lembaga, yang keempat aplikasi yang ada di Kementerian Investasi sebagai terminal atau pusatnya,” kata Bahlil.

Ditemui usai mengikuti Peluncuran OSS secara virtual, Wakil Bupati Bogor, Iwan Setiawan berharap kemudahan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat harus kita terapkan di Kabupaten Bogor. “Mengacu pada kemudahan perizinan di pusat melalui aplikasi OSS, saya harap kita juga di Kabupaten Bogor segala perizinan harus dipermudah dan cepat. Dengan adanya sistem atau aplikasi ini akan mempermudah kerja kita, agar iklim usaha dan investasi yang tadi disinggung oleh Bapak Presiden semakin membaik ditengah situasi pandemi yang saat ini masih melanda Indonesia,” ujar Iwan. 

** Nay Nurain/Diskominfo

Stok Darah Kurang, Donor Darah Digelar di Pasir Mulya

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

Berkurangnya stok darah di Kota Bogor akibat pandemi Covid-19 membuat Karang Taruna Pasir Mulya dan alumni SMA Rimba Madya tergerak mengumpulkan ampul-ampul darah bekerjasama dengan PMI Kota Bogor dan Kelurahan Pasir Mulya yang menggelar kegiatan donor darah di Kelurahan Pasir Mulya, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Senin (9/8).

“Berderma tanpa uang ya seperti ini mendonorkan darah bagi masyarakat yang membutuhkan,” ujar Ketua Panitia Donor Darah, Muhammad Iqbal, S.Pd.I dihubungi via WhatsApp, Senin (9/8).

Menurut Iqbal, kegiatan donor darah sangat diperlukan karena saat pandemi Covid sekarang ini ada penurunan ketersediaan darah hingga 60 persen. Kondisi ini perlu menggugah kesadaran masyarakat untuk mendonorkan darah. “Sebelum pandemi ketersediaan darah mencapai 3 ribuan, tapi sekarang ini hanya seribuan saja,” jelas Iqbal yang juga guru di SMP Al-Irsyad Empang, Bogor Selatan.

Untuk itu dia mengajak masyarakat Kota Bogor agar gemar mendonorkan darahnya karena bisa menyehatkan tubuh. Menurutnya, banyak masyarakat yang belum tahu perihal donor darah ini. “Yang terbiasa mendonorkan darahnya badannya akan bugar dan sehat. Jadi tak perlu khawatir,” ungkapnya.

Bahkan pada saat akan dilakukan pendonoran pun, dilakukan pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu sehingga aman dan saat pandemi Covid sekarang ini, peserta donor harus sudah dua kali vaksin Covid-19. “Kalau yang belum vaksin ditunda sampai dia vaksin terlebih dahulu,” jelasnya.

Sementara tetap dilakukannnya donor darah saat pandemi Covid karena semua peserta dan panitia tetap menerapkan protokol kesehatan dan mengikuti anjuran medis. “Kalau peserta donor tak fit tak harus donor. Jadi dicek dulu, namun kondisi pandemi tak perlu khawatir karena prokes dijalankan dan program donor darah mesti dilakukan karena darah banyak yang membutuhkan. Jadi kami ajak masyarakat untuk mendonorkan darahnya dan program kami dilakukan setiap tiga bulan sekali,” tandasnya.

** Asep Saepudin Sayyev

Taman Heulang: Tempat Lari Pagi yang Kini Sepi

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

Taman Heulang merupakan salah satu taman legendaris yang berada di Bogor, lokasinya berada di Jl. Heulang,Tanah Sareal, Kota Bogor. Namun saat ini, Taman Heulang telah ditutup karena tingginya angka Covid-19 di ‘Kota Hujan’ yang menyebabkan penutupan berbagai fasilitas publik.

Ditutupnya Taman Heulang ini membuat sebagian masyarakat ikut terdampak, salah satunya yaitu para pedagang kaki lima. Pedagang yang memang setiap harinya berjualan di area sekitar Taman Heulang ini terasa sekali adanya perubahan, setelah terjadinya pandemi covid-19 dan diberlakukannya PPKM di wilayah Bogor.

Meski demikian, masih adanya beberapa pedagang yang tetap berjualan di sekitar area Taman Heulang. “Saya emang jualan setiap hari dari dulu emang udah disini, kalau untuk penjualan ya berdampak banget, apalagi ini sekolahan libur. Terus hari Sabtu Minggu juga pada sepi jarang yang kesini. Jadi ya kerasa banget pas adanya penutupan ini,” ujar Rudi, salah satu pedagang di area Taman Heulang, Senin (9/8/2021).

Taman Heulang sendiri terkenal sebagai tempat untuk melakukan berbagai aktivitas seperti berolahraga, berkumpul dan bersantai. Bahkan adanya kegiatan pasar kaget yang selalu diadakan di hari Minggu. Begitu juga terdapat fasilitas alat kebugaran dan area permainan anak sehingga selalu ramai dikunjungi warga terlebih pada akhir pekan.

Taman rindang yang sengaja dibuat Pemerintah Kota Bogor bagi masyarakat untuk sekedar singgah dan menikmati keasrian, serta kesejukan pepohonan yang ada disekitar Taman Heulang. Namun setelah ditutupnya Taman Heulang ini membuat keadaannya semakin hari semakin sepi.

Tampak sebuah garis pembatas yang mengelilingi Taman Heulang. Area permainan anak pun diberi jaring agar masyarakat tidak bisa bermain dan masuk kedalam area tersebut.

Masyarakat yang datang pun tidak diperbolehkan untuk masuk walaupun hanya sekedar duduk di  area pinggir Taman. Karena untuk mengurangi penyebaran covid-19 serta mengurangi adanya kerumunan.

“Kalau masuk kedalem mah ngga boleh ya, kan ada banner tulisan itu ditutup. Lagian itu alat-alat permainan pada ditutupin sama jarring,” tambahnya

Para pedagang pun berharap pandemi Covid-19 ini segera berakhir dan keadaan kembali berjalan normal seperti sedia kala agar dapat meraih pemasukan seperti dahulu dan Taman Heulang yang sudah lama ditutup dapat kembali dibuka serta digunakan oleh masyarakat umum.

** Edfyra Amelia-mg/UP

Lapangan Sempur Masih Ditutup

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

Lapangan Sempur yang berada di tengah pusat Kota Bogor selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat saat sebelum adanya pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia. Namun kini, kondisi lapangan dan taman di sekitaran Sempur ditutup untuk sementara waktu sejak awal pandemi sampai waktu yang belum di tentukan agar tidak menimbulkan kerumunan masyarakat di sekitaran lapangan dan taman Sempur Kota Bogor.

“Jadi sudah hampir jalan 2 tahun pandemi, untuk area taman dan keseluruhan yang ada di Kota Bogor semua taman ditutup, dan kami petugas bekerja sama dengan pihak wilayah area taman dan lapangan belum bisa digunakan untuk aktivitas masyarakat,” ujar Andy, petugas lapangan Sempur saat dimintai keterangan Jurnal Bogor, Senin (9/8).

Pemerintah Kota Bogor telah melakukan perubahan pada lapangan Sempur serta menambahkan beberapa taman bermain di sekitarnya hingga akhirnya pada tanggal 5 Februari 2017 lapangan sempur rampung direnovasi dan diresmikan langsung oleh Pemerintah Kota Bogor. Tidak sedikit para pengunjung dari berbagai kalangan usia mengunjungi lapangan dan taman Sempur hanya untuk menikmati santapan kuliner, berolahraga, sekedar duduk – duduk, serta menikmati arena bermain untuk anak – anak pada pagi dan sore hari.

Saat adanya pandemi Covid-19 lapangan dan taman bermain di sekitaran Sempur saat ini di tutup untuk sementara waktu karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk masyarakat berkumpul disaat pandemi ini.

Meskipun lapangan dan taman sempur sedang ditutup dan tidak digunakan untuk aktivitas masyarakat, para petugas yang menjaga aset taman selalu rutin untuk melakukan perawatan agar lapangan dan area taman bermain tidak terbengkalai dan tetap rapi dan bersih, selain itu pemerintah juga menambahkan beberapa tempat cuci tangan untuk tetap menjaga protokol kesehatan jika suatu saat nanti lapangan dan area taman di buka kembali.

“Iya, kalau perawatan dan kebersihan hampir setiap hari dikerjakan dan saat ini sudah di sediakan tempat cuci tangan di beberapa titik area sempur jika suatu saat di buka tetap mengutamakan protokol kesehatan,” sahut Andy lagi.

Selain itu lapak  pedagang kaki lima (PKL) yang berada di sekitaran lapangan dan taman Sempur sendiri telah dipindahkan ke tempat yang sudah disediakan oleh pihak wilayah yang telah bekerja sama dengan pihak usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sehingga membuat area di sekeliling lapangan dan taman sempur menjadi lebih tertata dengan rapi.

“Untuk saat ini memang pihak wilayah telah berkoordinasi dengan pihak UMKM untuk area wilayah taman tidak diperbolehkan adanya PKL, saat ini para PKL diarahkan oleh pihak UMKM untuk dipindahkan ke tempat yang sudah di sediakan di belakang area taman Sempur,” Tambahnya.

Sudah cukup lama pandemi Covid-19 di Indonesia yang menyebabkan beberapa fasilitas publik ditutup untuk sementara waktu, sempat timbul wacana Pemkot untuk melakukan pembukaan kembali lapangan dan area taman Sempur saat kasus Covid-19 sudah menurun di Kota Bogor, namun pemerintah tidak memberikan izin karena lapangan dan taman Sempur sendiri berada di dekat pemukiman warga Sempur sehingga wacana tersebut dibatalkan untuk mencegah terjadinya kenaikan angka Covid-19 di Kota Bogor.

** Yudha Rezky Diliantoro-mg/UP

Langgar PPKM, 9 Resto dan Cafe Disegel

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bogor melakukan penyegelan terhadap sembilan tempat usaha sejak 6 Agustus  hingga kini. Sebanyak sembilan tempat usaha diketahui melanggar aturan PPKM Level 4, sehingga diberikan sanksi tegas sesuai peraturan.

Kepala Satpol PP Kota Bogor, Agustian Syach mengatakan bahwa sembilan tempat usaha tersebut telah disegel dab ditutup sementara. “Penindakan terhadap pelaku usaha yang melanggar sudah dilakukan, ada 9 tempat usaha yang ditutup sementara karena melanggar PPKM,” ujar Agustian Syach kepada wartawan, Minggu (8/8).

Menurut dia, sembilan tempat usaha tersebut adalah Kedai Soto Rayahu di Jalan Padjajaran Indah 5, Two Stories di Jalan Padjajaran Indah 5, VJS di Jalan Padjajaran Indah 5, Kopi Nako di Jlan Padjajaran Indah 5, Bebek Slamet di Jalan Padjajaran Indah 5, Kawan Baru di Jalan Padjajaran Indah 5, Pastaboom di Jalan Padjajaran Indah 5, True Color di Jalan Binamarga 2, dan Co.Choc  di Jalan Binamarga 2.

“Penutupan tempat usaha berlaku sampai PPKM selesai di Kota Bogor. Pelanggaran yang dilakukan berupa dine in,” ucapnya.

Ia menegaskan bahwa selama PPKM Darurat Level 4, restoran dan cafe tidak diperbolehkan untuk dine in atau makan ditempat, kecuali delivery order. “Yang diperbolehkan makan ditempat hanya pedagang kaki lima (PKL) dengan waktu 20 menit dan maksimal 3 orang yang makan di tempat,” jelasnya.

Agus mengimbau agar para pelaku usaha untuk mematuhi dan menjalankan aturan berlaku sesuai dengan surat edaran Walikota Bogor nomor 440/3986-Huk-Ham, tentang Perpanjangan Kedua PPKM Level 4 Corona Virus Disease 2019 di Kota Bogor.

** Fredy Kristianto

Pemkot Bersikeras Beli Bus Listrik

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor tetap akan membeli bus listrik pada 2022 mendatang. Hal itu, lantaran Wali Kota Bima Arya berkeinginan agar pada 2024 mendatang, semua transportasi di Kota Bogor bertenaga listrik.

Bima mengatakan bahwa pengadaan bus listrik dilaksanakan bertahap, lantaran harus diujicobakan dulu satu unir. “Ujicoba dulu. Kalau lancar dianggarkan bertahap,” ujarnya kepada wartawan.

Menurut dia, pada 2022 Pemkot Bogor akan mengganggarkan sesuai dengan kemampuan APBD. Kata Bima, lantaran biaya yang besar, Pemkot Bogorntakkan menganggarkan pembelian dalam jumlah banyak.

“Bslum bisa katakan itu berapa, masih kita hitung dulu. Ya, ini bertahap, tidak mungkin langsung tahun depan. Yang paling penting 2024 sebagian besar koridor sudah dioperasikan,” jelasnya

Terkait nilai ekonomis bus yang harganya tinggi. Bima menegaskan bahwa pihaknya akan terlebih dahulu melakukan ujicoba. “”Bus listrik banyak digunakan oleh negara di dunia. Trans Jakarta sudah memakai itu,” bebernya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Eko mengatakan bahwa kajian bus listrik tersebut akan dilakukan oleh PT Bakrie Autopart, dan anggarannya akan segera dimasukan dalam KUA PPAS.

“Bus ini untuk sosialisasi kendaraan ramah lingkungan, sesuai visi misi Kota Bogor menjadi smart city dan green city. Jadi belum tentu untuk Transpakuan, bisa difungsikan seperti Unchal,” katanya.

Eko menjelaskan, untuk satu unit bus harganya mencapai Rp3,2 miliar, atau lebih mahal sedikit daripada bus manual ukuran 3/4 yang harganya mencapai Rp1 miliar lebih.

“Tapi bus listrik lebih ramah lingkungan, dan ini adalah upaya untuk mengkampanyekan green city,” katanya.

Sebelumnya, Anggota Banggar DPRD, Ahmad Aswandi mengaku akan segera memeriksa KUA PPAS dan membahasnya lebih detil dalam rapat pembahasan APBD.

“Kami akan dalami di Banggar, bagaimana urgensinya. Kajiannya bagaimana? Termasuk soal perubahan status PDJT dari BUMD ke perumda,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (5/8).

Pria yang akrab disapa Kiwong ini mengatakan, apabila kajian yang diberikan oleh Pemkot Bogor jelas urgensinya, dan tak menggunakan Penyertaan Modal Pemerintah (PMP) untuk dioperasikan oleh PDJT, hal itu takkan menjadi masalah.

“Kalau pengadaan tak pakai PMP silahkan saja. Tapi sampai saat ini kita belum tahu apa pertimbangan membeli bus itu dan alasannya apa?,” kata Kiwong.

Apabila untuk digunakan Transpakuan, sambung dia, mengapa pemerintah tak menggunakan bus yang ada.

** Fredy Kristianto

Rentenir Paksa Nenek Mardiyah Jadikan Dua Cucunya Jaminan Utang

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

Nenek Mardiyah (58), warga Kelurahan Bubulak, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor terlilit utang untuk membiayai anaknya yang sakit. Dua cucunya pun dipaksa dijadikan jaminan oleh rentenir dan ditahan selama 20 hari. “Jadi nenek Mardiyah ini anaknya sakit pijam uang. Kepada ibu M, setelah uangnya diterima nenek, salah satu cucu laki-lakinya berusia 3 tahun dibawa oleh yang memberi htang indikasinya seperti itu rentenir, alasannya ingin diajak menginap di rumah ibu M,” kata Kuasa Hukum dari Pusat Bantuan Hukum (PBH) Peradi (Perhimpunan Advokat Indonesia) Cibinong, Kusnadi, Minggu (9/8).

Kusnadi menuturkan, selama 20 hari balita itu tinggal di rumah M sejak pertengahan Juli sampai awal Agustus. Sampai ibu kandung dari anak tersebut yang tak lain anak dari nenek Madiyah meninggal dunia, M tak kunjung memulangkan anak laki-laki tersebut.

“Sampai ibu kandung sang anak meninggal dunia, cucunya tidak juga dikembalikan ke rumah oleh ibu M ini,” kata Kusnadi.

Beberapa hari kemudian, kata Kusnadi, ibu M kembali datang ke rumah nenek Mardiyah. M datang dengan temannya N yang juga sebelumnya meminjamkan uang kepada nenek Mardiyah.

Mardiyah disodorkan  surat kesepakatan, di mana dalam surat kesepakatan yang ditandatangani antara ketiga belah pihak tersebut, disebutkan nenek Mardiyah memiliki utang sebesar Rp 15,4 juta kepada Ibu N dan utang sebesar Rp 4 juta kepada Ibu M.M kemudian membawa cucu perempuan neneknya tanpa izin.

“Jadi dalam perjanjian itu selama nenek Mardiyah belum mengembalikan uang pinjaman, maka kedua cucu itu tetap berada di rumah kedua ibu pemberi pinjaman,” ungkap Kusnadi

Keluarga nenek Mardiyah  pun menerima ancaman pembunuhan dari anak ibu M. Karena merasa khwatir keselamatan cucunya, nenek Mardiyah dibantu warga dan kerabatnya kemudian meminta bantuan PBH Peradi Cibinong untuk melaporkan kasus ini ke kepolisian Polresta Bogor Kota.

“Untuk anak yang usia 5 tahun sudah sekitar 20 hari dan yang perempuan 3 hari. Dari informasi anak-anak ini mau di bawa ke Padang,” kata Kusnadi.

Kusnadi mengatakan, pihaknya sudah melakukan mediasi dan saat ini kedua cucu nenek Mardiyah sudah dipulangkan oleh M dan N. “Alhamdulillah, setelah dilakukan mediasi di Polresta Bogor, kedua cucu nenek Mardiyah bisa kembali,” kata Kusnadi.

Kusnadi meminta aparat kepolisian segera memproses para pelaku yang diduga sudah melanggar undang-undang perlindungan anak karena menjadikan anak sebagai alat jaminan.

“Kami berharap kasus dugaan tindak pidana perlindungan anak ini tetap berlanjut dan akan kita kawal terus ya,” kata Kusnadi.

Sementara mengenai utang nenek Mardiyah, PBH Peradi Cibinong akan menggalang dana untuk melunasinya. Kusnadi berharap, kasus yang menimpa nenek Mardiyah ini tidak terulang kembali, terlebih di Bogor yang dinobatkan sebagai kota ramah anak.  “Untuk kasus hutangnya, kita akan coba untuk mengumpulkan donasi. Nenek Mardiyah ini memang dari keluarga tidak mampu,” jelas Kusnadi.

Kasus ini sudah dilaporkan oleh Yanto, ayah dari dua anak tersebut ke Satreskrim Polresta Bogor Kota. Menurut Paur Humas Polresta Bogor Kota, Rahmat Gumilar, saat ini kedua cucu nenek Mardiyah sudah dikembalikan. Saat ini kasus tersebut tengah berjalan di Polresta Bogor.

“Untuk Laporan (Polisi) dibuat hari Jumat kemarin. Cucunya sendiri malam itu sudah dikembalikan, artinya masih berproses (penyidikan),” katanya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Bogor Kota, Kompol Dhoni Ermawan masih melakukan pengecekan terkait kasus tersebut. “Saya cek dahulu,” katanya.

** Fredy Kristianto |*