34.9 C
Bogor
Sunday, August 9, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 8

Alun-alun Kota Bogor Jadi Panggung Inklusi Anak pada Puncak HAN 2026

0

Plaza Alun-alun Kota Bogor disulap menjadi panggung inklusi bagi anak-anak pada puncak peringatan Hari Anak Nasional (HAN) Tingkat Kota Bogor Tahun 2026 bertemakan “Sayang Anak, Lindungi, dan Bangun Masa Depan. Tumbuh Bahagia serta Bebas Berkarya”.

Puluhan anak tampil memukau di hadapan masyarakat dalam sejumlah pertunjukan yang disaksikan langsung Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim didampingi Ketua TP PKK Kota Bogor Yantie Rachim, Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, Ketua DPRD Kota Bogor, Adityawarman Adil, serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Bogor, Sabtu (25/7/2026) pagi.

Penampilan tersebut meliputi barongsai, Tari Aku Indonesia, puisi dan Tari Dayak yang disertai fashion show, ensemble, Tari Saman, senam Lapis Ceria, pertunjukan bela diri dan medley, solo vokal, sosialisasi Serbukatif, penampilan anak-anak disabilitas dengan bajidor dan pantomim, serta kolaborasi musik dan puisi.

Turut hadir juga dari instansi vertikal, kecamatan dan kelurahan, dunia usaha, Satuan pendidikan, organisasi kemasyarakatan, komunitas, lembaga perlindungan anak, media massa, serta berbagai mitra pemerhati anak yang selama ini berkontribusi dalam pemenuhan hak anak.

Selain itu, masyarakat juga mendapatkan berbagai layanan publik seperti edukasi hak anak, pemeriksaan kesehatan gratis, pelayanan pembuatan Kartu Identitas Anak (KIA), pelayanan administrasi kependudukan bagi anak, serta berbagai booth edukatif dan interaktif dari perangkat daerah maupun mitra kolaborasi yang diinisiasi Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Bogor.

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim dalam sambutannya mengatakan, urusan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab orang tua maupun guru di sekolah, tetapi juga menjadi tanggung jawab lingkungan dan pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang ramah terhadap anak.

“Dan Alhamdulillah Kota Bogor itu predikatnya adalah Kota Layak Anak Nindya. Jadi artinya masih ada beberapa target yang harus kita selesaikan supaya Kota Bogor ke depan bisa meraih predikat Utama,” ungkapnya.

Disamping itu, Kota Bogor terus berupaya dan berikhtiar dalam mewujudkan kesejahteraan anak agar seluruh anak dapat memperoleh hak yang sama.

Menanggapi aspirasi Suara Anak Daerah yang menginginkan adanya respons cepat dalam menangani kasus anak, Dedie Rachim menjelaskan bahwa saat ini Kota Bogor telah memiliki berbagai program pencegahan dan membentuk desk khusus untuk melakukan respons cepat.

“Jadi kalau terjadi kasus itu bisa dikonsultasikan, kemudian ada psikolognya juga dan tentu secara organisasi kita menganggarkan untuk langkah-langkah, baik pencegahan, termasuk penanganan lanjutannya,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Dedie Rachim mengajak seluruh pihak, baik orang tua, guru, maupun masyarakat luas untuk menyayangi anak-anak dengan sepenuh hati.

“Cintai anak-anaknya dari lubuk hati paling dalam. Bimbing, melindungi anak-anaknya, dan sejahterakan anak-anaknya. Jadi punya anak bukan sekadar pernikahan saja, tapi tanggung jawab lahir batin sampai mereka bisa mandiri,” ujarnya.

Kepala DP3A Kota Bogor, Rakhmawati menuturkan bahwa puncak acara peringatan HAN 2026 ini sengaja dirancang secara khusus sebagai wadah inklusif bagi anak-anak yang selama ini belum mendapatkan kesempatan untuk tampil di panggung publik.
​”Hari ini dilaksanakan Puncak Hari Anak Nasional 2026 Kota Bogor. Kami menampilkan beberapa pertunjukan dari anak-anak yang selama ini belum pernah tampil di tingkat kota. Kita memang memilih mereka yang belum pernah tampil di panggung depan agar memiliki kesempatan yang sama untuk bersuara dan berkarya,” ujar Rakhmawati.
​Dia menyampaikan puncak acara ini merupakan rangkaian penutup dari berbagai kegiatan peringatan HAN yang telah diselenggarakan sebelumnya oleh Pemkot Bogor bersama berbagai komunitas.
​”Sebelumnya sudah ada beberapa rangkaian kegiatan, mulai dari penjaringan Suara Anak Kota Bogor, nonton bersama anak yatim dan difabel di Mall BTM, hingga kegiatan ‘Bermain Bersama Anak Panti’. Selain itu, ada juga Festival Edukasi Anak di Lippo Mall. Total ada sekitar 87 anak yang terlibat langsung, baik sebagai penampil maupun panitia,” sebutnya.

Wakil Ketua I Pelaksana Puncak Hari Anak Nasional Tingkat Kota Bogor, Ribbas Bintang Saputro mengatakan, konsep HAN tahun ini merupakan bentuk partisipasi aktif anak-anak dalam kegiatan inspiratif, mulai dari kepanitiaan hingga peserta yang seluruhnya diisi oleh anak-anak.

“Dan puncak acara Hari Anak Nasional Tingkat Kota Bogor Tahun 2026 yang dilaksanakan hari ini menampilkan panggung kreativitas, seni, dan penyampaian resmi dokumen Suara Anak Daerah,” ucap Ribbas.

Upaya Pemkot Bogor Menghadapi Dampak Kemarau Panjang

0

Kekeringan masih melanda sejumlah titik di wilayah Kota Bogor. Tak hanya menyebabkan krisis air, kemarau panjang juga memicu kebakaran dan penyakit. Lalu apa ikhtiar Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor?

Salah satu penyakit yang mesti diwaspadai saat cuaca panas ekstrem ini adalah Heat Stroke. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, Erna Nuraena menjelaskan Heat Stroke adalah kondisi gawat darurat ketika suhu tubuh berada di atas 40 derajat. “Hal ini dapat menyebabkan gangguan kesadaran, seperti bingung, kejang, atau pingsan. Kondisi ini dapat berakibat fatal bila tidak segera ditangani,” kata Erna.

Heat Stroke berbeda dengan demam karena infeksi. Penyakit ini biasanya terjadi imbas aktivitas fisik di lingkungan panas yang tidak segera diatasi. “Karena itu, Heat Stroke termasuk kegawatdaruratan medis yang memerlukan penanganan segera di fasilitas kesehatan,” ujar Kadinkes.

Kelompok yang paling rentan Heat Stroke adalah anak-anak, lansia, ibu hamil dan kelompok masyarakat yang menderita penyakit kronis. Risiko lebih tinggi bisa menyasar kepada para pekerja lapangan. Erna mencontohkan PKL, tukang parkir, dan pengemudi yang banyak terpapar panas matahari. “Warga yang beraktivitas lama di bawah terik matahari juga perlu meningkatkan kewaspadaan,” terang Erna.

Erna mengungkapkan terdapat beberapa gejala Heat Stroke yang wajib diwaspadai. Misalnya suhu tubuh mendadak tinggi, kulit terasa panas, sakit kepala, hingga mual.

“Pada kondisi yang lebih berat, penderita dapat mengalami jantung berdebar, napas cepat, kebingungan, bicara tidak jelas, perubahan perilaku,” beber Erna.

Jika gejala tersebut sudah dirasakan, warga diimbau untuk segera mendatangi medis, guna mendapat pertolongan dan penanganan lebih cepat.

Guna menghindari Heat Stroke warga juga dianjurkan untuk tidak melakukan aktivitas di luar ruangan saat matahari berada persis di atas kepala.

“Terutama sekitar pukul 10.00 sampai 16.00 WIB, dan memilih waktu pagi atau sore untuk beraktivitas. Gunakan pakaian yang longgar, bawa topi atau payung,” ucapnya.

Dalam kondisi panas ekstrem ini, warga harus banyak mengkonsumsi air putih. Saat bekerja di luar lapangan, penting untuk istirahat berkala di tempat yang sejuk.

“Jika ada warga yang diduga mengalami Heat Stroke, segera pindahkan ke tempat yang sejuk atau teduh dan jauhkan dari paparan matahari langsung,” katanya.
Sementara itu, sebanyak 50 kepala keluarga (KK) di RT 004 RW 007, Kelurahan Kedunghalang, Kecamatan Bogor Utara, terdampak setelah sumber mata air dan sumur warga mengering.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor pun menyalurkan sekitar 4.000 liter air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Bogor, Dimas Tiko Prahadisasongko mengatakan, laporan kekeringan diterima dari warga melalui media sosial pada Senin (13/7) sekitar pukul 09.05 WIB. Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) kemudian langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan asesmen. “Setelah menerima laporan, personel langsung melakukan asesmen, berkoordinasi dengan pihak kelurahan, kecamatan, serta RT/RW setempat. Kami juga menyalurkan sekitar 4.000 liter air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga,” kata Dimas.

Kekeringan juga melanda warga di RT 01 RW 12 Kelurahan Bubulak, Kecamatan Bogor Barat. BPBD Kota Bogor mendistribusikan 8 ribu liter air bersih untuk dimanfaatkan oleh warga yang terdampak kekeringan, Rabu (17/7).

Ia menjelaskan, hasil asesmen menunjukkan kekeringan dipicu mengeringnya sumber mata air dan sumur warga. Kondisi tersebut membuat puluhan keluarga kesulitan memperoleh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Selain melakukan pendataan, BPBD memastikan distribusi air bersih telah rampung pada Senin siang. Dimas juga turun langsung meninjau proses penanganan di lokasi.

Menurutnya, kebutuhan paling mendesak saat ini adalah pasokan air bersih. BPBD akan terus memantau perkembangan di lapangan, terutama jika musim kemarau berlangsung lebih lama dan memicu kekeringan di wilayah lain.

BPBD juga mengimbau masyarakat segera melaporkan apabila menemukan wilayah yang mulai mengalami kesulitan air bersih akibat musim kemarau. Laporan tersebut akan menjadi dasar bagi petugas untuk melakukan asesmen dan menyalurkan bantuan secepat mungkin.

Di tempat terpisah, Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin meminta kepada Perumda Tirta Pakuan memperluas jaringan airnya.

“Ketika ada kekeringan air bawah tanah atau air sumur, stok volume air masih berlebih, masih cukup untuk memenuhi 80 persen warga Bogor,” jelasnya.

Hanya saja jaringan airnya belum mengakomodir seluruh wilayah. Hingga saat ini baru 75,46 persen warga Kota Bogor menggunakan jaringan air Perumda Tirta Pakuan.

“Yang kita harapkan di SDGs itu adalah 90 persen. Nah, beberapa tahun terakhir PDAM terus melakukan pembukaan jaringan baru,” ujarnya.

Salah satu wilayah yang mulai merasakan kekeringan adalah warga yang tinggal di Kedung Halang, Bogor Utara.

Jenal juga meminta kepada Perumda Tirta Pakuan agar turut mengecek wilayah tersebut. Tujuannya untuk memastikan apakah mereka masih pakai sumur atau jaringan air Perumda Tirta Pakuan.

“Ketika memang belum, saya harap PDAM harus menjadikan berikutnya target perluasan jaringan di Bogor Utara. Antisipasi kedua adalah kita masih ada air tangki, bisa dimanfaatkan,” ujarnya.

Masyarakat yang mengalami kekeringan pun diminta untuk langsung melapor. Layanan yang disediakan, seperti Si Badra atau ke aparatur wilayah setempat.

“Aparat wilayah seperti lurah, camat, saya harap proaktif mencari informasi titik mana yang kekeringan. Pemkot harus hadir, Pemkot harus memberikan solusi baik jangka pendek maupun jangka panjang,” katanya.

Para Petani Cimenteng Keluhkan Kekeringan, Harapkan Pembangunan Pipanisasi Irigasi

0

Cijeruk | Jurnal Bogor – Musim kemarau mulai berdampak pada sektor pertanian di Kampung Cimenteng RT 03/01, Desa Warung Menteng, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Para petani mengeluhkan kesulitan memperoleh pasokan air untuk mengairi lahan perkebunan dan persawahan akibat minimnya aliran irigasi.

Warga RW 01 Desa Warung Menteng berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan jaringan pipanisasi irigasi agar pasokan air dapat menjangkau lahan pertanian yang selama ini mengalami kekeringan saat musim kemarau.

Salah seorang petani mengatakan kondisi tersebut sudah berlangsung cukup lama dan sangat memengaruhi produktivitas pertanian.

“Setiap musim kemarau kami selalu kesulitan mendapatkan air untuk sawah dan kebun. Padahal sejak tahun 2010 kami sudah mengajukan usulan pembangunan pipanisasi melalui kecamatan maupun penyuluh pertanian, tetapi hingga sekarang belum ada realisasinya,” ujarnya, Senin (27/7/2026).

Keluhan serupa disampaikan Udin, warga RW 01. Menurutnya, di wilayah tersebut terdapat dua jalur irigasi, namun keduanya belum mampu mengalirkan air secara optimal ke lahan pertanian karena belum dilengkapi jaringan pipanisasi.

Akibat minimnya pasokan air, sejumlah petani mengalami gagal panen. Kondisi tersebut juga membuat banyak petani tidak dapat melakukan aktivitas penanaman bibit sayuran maupun tanaman palawija selama musim kemarau.

“Kalau musim kemarau, air sangat sulit. Dua jalur irigasi yang ada tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal karena belum ada pipanisasi. Akibatnya banyak lahan pertanian yang kekurangan air,” kata Udin.

Para petani berharap Pemerintah Kabupaten Bogor dapat memberikan perhatian serius terhadap kebutuhan infrastruktur irigasi di Desa Warung Menteng. Mereka menilai pembangunan jaringan pipanisasi menjadi solusi penting untuk menjamin ketersediaan air bagi lahan perkebunan dan persawahan, sehingga produktivitas pertanian tetap terjaga meski memasuki musim kemarau. Yudi

Bayi Ditemukan Tewas Dalam Tas, Polisi Tetapkan Mahasiswi Tersangka

0

Bogor | Jurnal Bogor

Satreskrim Polresta Bogor Kota menetapkan seorang mahasiswi berinisial SSA (21) sebagai tersangka dalam kasus kematian bayi yang ditemukan di dalam sebuah tas di wilayah Kelurahan Ciparigi, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor. Saat ini tersangka telah ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Mapolresta Bogor Kota sejak 25 Juli 2026.

Wakapolresta Bogor Kota, AKBP Ari Tresetiawan, mengatakan pengungkapan kasus tersebut berawal dari penemuan jasad bayi pada Rabu (22/7/2026) sekitar pukul 21.30 WIB di Jalan Tanah Sewa, RT 05/RW 03, Kelurahan Ciparigi, Kecamatan Bogor Utara.

“Setelah menerima laporan, penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) bersama Unit Identifikasi dan tim operasional melakukan penyelidikan secara intensif hingga akhirnya mengarah kepada seorang perempuan berinisial SSA yang kemudian ditetapkan sebagai tersangka,” ujar AKBP Ari Tresetiawan, Senin (27/6/2026).

Berdasarkan hasil pemeriksaan, tersangka mengaku hamil setelah berhubungan dengan kekasihnya pada Oktober 2025. Kehamilan tersebut baru diketahui pada April 2026 dan disembunyikan dari keluarga karena merasa takut dan malu.

AKBP Ari menjelaskan, tersangka melahirkan seorang diri di toilet umum kawasan Pasar Minggu, Jakarta, pada 20 Juli 2026 tanpa bantuan tenaga medis maupun orang lain. Bayi yang dilahirkan kemudian dibawa pulang ke Bogor dan disimpan di dalam tas berwarna hitam.

“Dari hasil penyidikan, tersangka mengaku mengira bayinya telah meninggal karena tidak menangis saat dilahirkan. Bayi kemudian dibawa pulang dan disimpan di rumah,” jelasnya.

Dua hari kemudian, tersangka membawa tas tersebut ke rumah kerabatnya dengan alasan hendak menguburkan jasad bayi. Namun rencana itu tidak terlaksana hingga akhirnya tas tersebut ditemukan oleh pemilik rumah yang mencium bau menyengat. Saat dibuka, di dalamnya terdapat jasad bayi.

Dalam perkara ini, polisi mengamankan barang bukti berupa satu tas punggung berwarna hitam dan satu kardus.

AKBP Ari menyebut tersangka dijerat Pasal 76C juncto Pasal 80 ayat (3) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana maksimal 15 tahun penjara dan/atau denda paling banyak Rp3 miliar. Selain itu, penyidik juga menerapkan Pasal 460 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang pembunuhan anak sendiri.

“Proses penyidikan terus berjalan dan saat ini penyidik tengah melengkapi berkas perkara untuk selanjutnya dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Kota Bogor,” katanya.

AKBP Ari juga mengimbau para orang tua agar meningkatkan perhatian terhadap anak, khususnya remaja perempuan, melalui komunikasi yang terbuka, pengawasan terhadap pergaulan, edukasi mengenai kesehatan reproduksi, serta penanaman nilai agama dan moral sejak dini agar kejadian serupa tidak terulang.

** Fredy Kristianto

Minim Area Parkir, Resto Aroem Nekat Kuasai Badan Jalan

0

Bogor | Jurnal Bogor

Keberadaan parkir valet yang diduga memanfaatkan ruang parkir di badan jalan umum untuk kepentingan Restoran Aroem di Jalan R.D. Tirto Adhi Suryo, Kelurahan Tanah Sareal, Kota Bogor, menuai protes warga. Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor pun turun tangan dan memberikan peringatan keras kepada pengelola restoran.

Persoalan ini mencuat setelah kendaraan milik Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Bogor dilarang parkir di depan Kantor PWI oleh seorang pria yang mengaku sebagai petugas parkir valet Restoran Aroem, Minggu (26/7/2026).

“Maaf, jangan parkir di sini,” ujar Aldho Herman, Ketua PWI Kota Bogor, menirukan ucapan petugas yang menggunakan seragam bertuliskan ‘valet’ tersebut.

Larangan itu membuat Ketua PWI dan para wartawan yang berada di Kantor PWI terkejut. Pasalnya, selama ini area di depan kantor tersebut biasa digunakan untuk parkir kendaraan wartawan dan tamu PWI, tanpa pernah ada larangan.

Aldho sempat heran, kenapa area parkir depan kantor PWI ini diklaim sebagai area parkir valet Restoran Aroem.

Merasa fasilitas publik telah dikuasai secara sepihak, PWI Kota Bogor kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada Dishub Kota Bogor.

Tidak lama berselang, petugas Wakorlap Dishub Kota Bogor Asep Suharda bersama sejumlah anak buahnya, mendatangi lokasi dan memanggil pria yang mengaku sebagai petugas parkir valet.

Dalam keterangannya, pria berseragam valet tersebut mengaku diperintah pihak Restoran Aroem, untuk mengelola parkir valet bagi pengunjung dengan tarif Rp10 ribu per kendaraan.

“Hasil parkir valet saya setor ke pihak Restoran Aroem, Pak,” ujar pria tersebut di hadapan Asep Suharda.

Mendengar pengakuan itu, Wakorlap Dishub Asep Suharda langsung memberikan ultimatum kepada pihak Restoran Aroem agar tidak lagi menggunakan area parkir di badan jalan sebagai lokasi parkir valet.

“Kami peringatkan, pihak Aroem tidak boleh menguasai area parkir seenaknya, apalagi digunakan sebagai parkir valet untuk pengunjung. Ini merupakan parkir liar karena memanfaatkan fasilitas publik,” tegas Asep.

Asep juga mengingatkan akan mengambil tindakan tegas apabila praktik parkir valet tersebut masih ditemukan.

Ditanyakan juga apakah valet ini memiliki izin, namun petugas parkir itu mengaku tidak mengetahuinya karena ia bekerja atas perintah manajemen Restoran Aroem.

Valet RM Aroem diketahui belum memiliki izin, sehingga salah satu sanksi yang akan diterapkan adalah penggembokan kendaraan yang melanggar aturan parkir. Karena sesuai aturan tempat usaha harus memiliki area parkir sendiri sesuai rekom Dishub, dimana SRP (Satuan Ruang Parkir) untuk tiap tempat usaha telah diatur.

Selain itu, Dishub memastikan akan meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas parkir di sepanjang Jalan R.D. Tirto Adhi Suryo agar tidak kembali menimbulkan konflik dengan masyarakat, dengan menempatkan petugas jaga.

Warga sekitar berharap Pemerintah Kota Bogor melalui Dishub bertindak tegas terhadap pengelola Restoran Aroem apabila kembali memanfaatkan ruang parkir publik untuk kepentingan usaha.

Menurut mereka, setiap pelaku usaha seharusnya menyediakan lahan parkir sendiri dan tidak mengambil alih fasilitas umum yang menjadi hak seluruh masyarakat.

** Fredy Kristianto

Book Sharing Hadirkan Ruang Aman Bagi Muslimah di Bogor untuk Bertumbuh Melalui Cerita dan Self Healing

0

Bogor | Jurnal Bogor
Di balik ketenangan yang ditampilkan, tidak sedikit perempuan yang masih menyimpan luka berupa kehilangan, kekecewaan, pengkhianatan, kelelahan, maupun luka pengasuhan yang belum sepenuhnya pulih. Keterbatasan ruang aman untuk bercerita seringkali membuat perasaan tersebut dipendam.

Menjawab kebutuhan tersebut, kegiatan Book Sharing bertajuk _”Mengubah Luka, Menggali Makna: Berbagi Cerita Melalui Buku sebagai Jendela Jiwa”_digelar di Kota Bogor, Minggu (26/7/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama 180 menit di Auditorium Bima Arya, Perpustakaan dan Galeri Kota Bogor ini diikuti 50 peserta muslimah, terdiri dari ibu-ibu dan remaja putri. Jumlah peserta dibatasi agar proses refleksi dan pembelajaran dapat berlangsung lebih mendalam dan hangat.

Acara dipandu oleh Lili Marliyuana, Certified Self Healing Professional dan Emotional Healing Therapist, sekaligus Direktur ABCo Therapy Center, bersama Nena Nurjanah sebagai co-facilitator.

Lili Marliyuana menyampaikan bahwa setiap perempuan memiliki cerita yang membentuk perjalanan hidupnya.

“Ada cerita tentang kehilangan, pengkhianatan, perjuangan menjadi ibu, masa kecil yang masih menyisakan luka, hingga perjalanan menemukan jati diri. Cerita-cerita itu tidak harus disangkal. Ketika diberi ruang yang aman untuk dikenali dan dimaknai, cerita tersebut dapat menjadi sumber kekuatan dan harapan,” ujarnya.

Berbeda dengan seminar, Book Sharing ini menekankan aspek refleksi, kontemplasi, dan koneksi antarpeserta. Melalui kelompok-kelompok kecil, peserta diajak saling mendengarkan dengan empati tanpa menghakimi.

Beberapa materi utama yang diberikan antara lain konsep Writing is Healing sebagai sarana menulis reflektif untuk mengenali emosi dan menemukan makna, serta praktik Self Healing yang dapat diterapkan secara mandiri untuk menjaga kesehatan mental dan spiritual.

Dalam kegiatan ini juga dideklarasikan pembentukan Komunitas Healing Circle. Komunitas ini menjadi wadah berkelanjutan bagi Muslimah untuk saling menguatkan, berbagi pengalaman, dan bertumbuh dalam suasana aman dan penuh empati.

“Harapannya, peserta pulang dengan hati yang lebih lapang, hubungan yang lebih baik dengan diri sendiri, serta keyakinan bahwa setiap perjalanan hidup mengandung hikmah ketika dijalani dengan sabar, ikhtiar, dan tawakal kepada Allah SWT,” pungkas Lili.

Peserta mendapatkan materi Book Sharing, praktik Self Healing, serta akses menjadi bagian dari Komunitas Healing Circle sebagai wadah pendampingan bersama.

(Wawan Hermawanto)

Ratusan Anak Meriahkan Hari Anak Nasional

0

Bogor | Jurnal Bogor

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) menggelar puncak peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di Alun-alun Kota Bogor, Sabtu (25/7/2026). Kegiatan bertema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan Tumbuh Bahagia serta Bebas Berkarya” itu diisi berbagai penampilan seni, fashion show, panggung kreativitas, dan pembagian doorprize.

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menegaskan bahwa orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam membesarkan anak, mulai dari memberikan kasih sayang, perlindungan, hingga memastikan mereka memperoleh pendidikan yang baik.

Dedie juga menyoroti maraknya kasus perundungan di kalangan pelajar. Menurutnya, perilaku tersebut kerap dipengaruhi oleh tekanan atau kekerasan yang dialami anak di lingkungan keluarga.

“Mendidik anak yang paling utama adalah adab, baik di rumah maupun di sekolah. Adab akan menjadi fondasi lahirnya generasi yang hebat,” ujarnya.

Ia turut mengajak para guru untuk tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga membimbing perkembangan karakter dan memberi ruang bagi anak mengekspresikan diri melalui kegiatan seni dan pendekatan yang humanis.

Sementara itu, Kepala DP3A Kota Bogor, Rakhmawati, mengatakan puncak HAN 2026 menjadi wadah bagi anak-anak yang selama ini belum pernah tampil di tingkat kota agar memiliki kesempatan yang sama untuk menunjukkan bakat dan menyampaikan aspirasinya.

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan penutup dari rangkaian peringatan Hari Anak Nasional yang sebelumnya diisi berbagai agenda, seperti Suara Anak Kota Bogor, nonton bersama anak yatim dan difabel, Bermain Bersama Anak Panti, serta Festival Edukasi Anak. Secara keseluruhan, sekitar 700 hingga 800 anak terlibat sebagai peserta maupun penampil.

Melalui kegiatan ini, Pemkot Bogor berharap semakin banyak ruang bagi anak untuk berkarya, menyampaikan aspirasi, serta mendukung terwujudnya Kota Bogor yang ramah anak.

** Fredy Kristianto

SE DTSEN Belum Dicabut, Wishnu: Hak Warga Miskin Masih Terancam

0

Bogor | Jurnal Bogor

Anggota DPRD Kota Bogor, Wishnu Ardiansyah, menilai surat pemberitahuan yang diterbitkan Pemerintah Kota Bogor terkait pelaksanaan Bantuan Sosial Pendidikan dan Bantuan Pelunasan Ijazah belum menyelesaikan persoalan utama.

Menurutnya, akar masalah masih terletak pada belum dicabut atau direvisinya Surat Edaran Sekretaris Daerah Nomor 100.3.4/4216-Dinsos Tahun 2025 yang mengatur penyaluran bantuan sosial mengacu pada Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) desil 1 sampai 5.

Wishnu mengatakan, selama surat edaran tersebut masih berlaku, potensi multitafsir tetap terjadi dan dapat dijadikan dasar perangkat daerah dalam menentukan penerima bantuan sosial.

Ia mengungkapkan, dalam rapat kerja bersama DPRD telah muncul kesepahaman bahwa redaksi surat edaran tersebut menimbulkan kebingungan dan berdampak pada masyarakat yang membutuhkan bantuan.

“Sejak awal saya tidak pernah menolak penggunaan DTSEN. Yang saya tolak adalah ketika data yang masih memiliki kekurangan dijadikan dasar mutlak untuk menutup akses bantuan sosial bagi masyarakat yang benar-benar miskin. Negara tidak boleh kalah oleh administrasi, dan kebijakan tidak boleh mengalahkan rasa keadilan,” ujar Wishnu melalui keterangan tertulisnya, Minggu (26/7/2026).

Wishnu kembali mendesak Pemkot Bogor segera mencabut atau merevisi surat edaran tersebut agar tidak lagi menjadi dasar pembatasan bantuan sosial bagi warga yang berhak.

“Pemerintah harus berani memperbaiki kebijakan yang telah menimbulkan polemik agar masyarakat miskin tidak kehilangan haknya menerima bantuan,” tegas dia.

** Fredy Kristianto

Beri Pendidikan Karakter, SDIT Al- Munawwar Tutup MPLS dengan Mabit

0

Nanggung l Jurnal Bogor
‎‎Sejumlah wali murid hadir menyaksikan api unggun seiring digelarnya Malam Iman dan Takwa (Mabit) sekaligus penutupan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) 2026 yang diikuti ratusan peserta pramuka penggalang Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al- Munawwar Parakanmuncang, Nanggung, Kabupaten Bogor pada Jumat (24/7/2026) malam.‎

‎Sekitar 100 anggota pramuka penggalang dari siswa kelas 4,5 hingga 6 digembleng serta dibina dalam penguatan karakter religius yang dikemas dalam Mabit.‎

‎”Kami sangat mendukung karena momentum Mabit ini dapat mempengaruhi penguatan karakter siswa,” ujar wali murid asal Desa Pangkaljaya, H.Nasir saat ditemui disela sela berlangsungnya beragam kegiatan penutupan MPLS tersebut.‎

‎H.Nasir yang telah purnabakti di UPT Pendidikan Kecamatan Nanggung menyatakan, prosesi penutupan MPLS yang merupakan program pendidikan religius, sudah semestinya anak dipupuk dengan pendidikan religi.‎

‎”Di tengah perkembangan jaman, pendidikan religi untuk bagi anak memang mesti ditingkatkan,” tambah wali murid lainnya, Asep TB yang merupakan pegawai negeri sipil Pol PP Kecamatan Nanggung.‎

‎Sementara kegiatan pramuka penggalang dengan acara Mabit tersebut juga dihadiri langsung kepala sekolah dan para guru SD IT Al- Munawwar.

** Arip Ekon

PT Raharja Energi Cepu dan Leads Indonesia Dorong Kampung Ramah Lingkungan Lewat Budidaya Maggot

0

Bogor | Jurnal Bogor – PT Raharja Energi Cepu melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL/CSR) berkolaborasi dengan Leads Indonesia dan Sekolah Sampah Indonesia menggelar workshop pengelolaan sampah organik melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) di Kampung Ramah Lingkungan (KRL), Desa Sukajadi, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Sabtu (25/7/2026).

Mengusung tema “Dari Sampah Dapur Menjadi Berkah Warga”, kegiatan tersebut diikuti warga Kampung Ramah Lingkungan yang tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga praktik langsung melihat siklus budidaya maggot, mulai dari telur hingga menjadi larva siap dimanfaatkan.

Perwakilan Yayasan Leads Indonesia, Ilham, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Sukajadi Asri yang sebelumnya diawali dengan rembuk bersama pemerintah desa, warga, dan komunitas setempat.

“Ada dua program yang kami jalankan di Sukajadi, yaitu Sukajadi Asri dan Sukajadi Mandiri. Hari ini merupakan bagian dari rangkaian Sukajadi Asri berupa sosialisasi dan pelatihan atau capacity building bagi warga, khususnya komunitas Kampung Ramah Lingkungan, agar nantinya mampu mengelola budidaya maggot secara mandiri dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Ilham, pihaknya juga menggandeng Sekolah Sampah Indonesia sebagai mitra pendamping. Dalam waktu dekat peserta akan diajak mengunjungi lokasi budidaya untuk mempelajari proses produksi hingga pengolahan maggot secara langsung.

“Kami juga telah menyiapkan dukungan anggaran untuk pembangunan instalasi budidaya maggot, mulai dari tempat produksi, biopond hingga penetasan. Harapannya, masyarakat semakin sadar bahwa sampah memiliki nilai ekonomis apabila dikelola dengan baik,” katanya.

Sementara itu, perwakilan Sekolah Sampah Indonesia, Mujahid Abdurahim, menjelaskan bahwa organisasinya fokus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan sampah organik karena jenis sampah tersebut paling banyak dihasilkan rumah tangga dan harus segera diolah.

“Kami mengolah sampah organik menggunakan maggot dengan sistem Integrated Urban Farming. Sampah organik menjadi pakan maggot, kemudian hasil panennya dimanfaatkan sebagai pakan ikan dan ternak, sedangkan sisa media budidayanya menjadi pupuk organik,” jelasnya.

Ia berharap Desa Sukajadi dapat menjadi percontohan bagi desa-desa lain dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang bernilai ekonomi dan ramah lingkungan.

Di tempat yang sama, Ketua RW 08 sekaligus Ketua Kampung Ramah Lingkungan (KRL) Sukajadi, Adi, menyambut baik pelatihan tersebut. Menurutnya, masih banyak sampah yang belum dikelola dengan baik sehingga ilmu yang diperoleh warga diharapkan dapat diterapkan di lingkungan masing-masing.

“Dengan adanya pelatihan ini mudah-mudahan masyarakat mendapatkan manfaat dan mampu menerapkannya di rumah masing-masing. Ke depan kami berharap pengelolaan sampah semakin baik sehingga lingkungan menjadi lebih bersih dan sehat. Saya juga mengimbau seluruh warga untuk terus menjaga kebersihan lingkungan dan kesehatan bersama,” pungkasnya. Yudi