30.8 C
Bogor
Wednesday, May 6, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 700

Rotasi Kadis Harus Sesuai Kompetensi, Gus M: Jangan Sampai Ada Intervensi dari Eksternal

0

Bogor | Jurnal Bogor

Wali Kota Bogor, Bima Arya dikabarkan akan segera membongkar pasang kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dalam waktu dekat ini. Hal itu dilakukannya dalam upaya mempercepat akselerasi memenuhi janji kampanye pada masa-masa terakhirnya memimpin ‘Kota Hujan’.

Diketahui, duet Bima Arya – Dedie A Rachim akan pungkas pada 23 Desember 2023 mendatang. Sedangkan beberapa janji kampanyenya masih belum terealisasi.

Menanggapi hal itu, Anggota Fraksi PPP DPRD Kota Bogor, Akhmad Saeful Bakhri mengatakan bahwa perubahan struktur OPD seluruhnya menjadi hak prerogatif wali kota. Namun, ia mengingatkan agar rotasi dan promosi harus sesuai dengan kapasitas, kompetensi, dan kualifikasi sesuai dengan keahliannya.

“Memang rotasi dan promosi itu sepenuhnya hak wali kota. Tapi jangan sampai dipaksakan, kalau golongan belum cukup ya jangan,” ujarnya kepada wartawan, Senin (23/1).

Selain itu, pria yang akrab disapa Gus M ini juga mengingatkan, jangan sampai rotasi maupun promosi dilakukan atas ‘selera’ pihak lain di luar Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan (Baperjakat) Pemkot Bogor.

“Tetapi jangan sampai ada intervensi dari pihak luar maupun ASN non Baperjakat untuk memuluskan kepentingan tertentu,” tegas pria yang hobi menunggang kuda ini.

Ia menambahkan bahwa rotasi bagus untuk penyegaran agar dapat berakselerasi, promosi juga baik agar dapat melahirkan pemimpin baru.

Kendati demikian, ia menyayangkan mengapa rotasi maupun promosi masih tertunda seakan seperti diulur-ulur. Padahal, kabar itu telah mencuat sejak Desember 2022.

“Bahkan isu beberapa kepala Dinas telah dipanggil oleh wali kota untuk dimutasikan juga sudah santer terdengar, tidak lama setelah dilaksanakan uji kompetensi pejabat eselon 2 dilaksanakan. Upaya ini terlihat seperti main-main dan hanya sebagai pembenaran,” jelasnya.

Selain itu, sambungnya, tertundanya mutasi promosi ini bahkan mengakibatkan bergulirnya isu yang dapat membuat situasi kerja tidak kondusif, munculnya kelompok-kelompok birokrasi, dan kentalnya politisasi birokrasi.

“Jangan sampai tertundanya mutasi promosi ini ada tarik menarik kepentingan politik penguasa, dalam mengamankan kemana berlabuhnya kepemimpinan selanjutnya atau kepentingan politik lainnya,” paparnya.

Gus M menegaskan bahwa ada beberapa jabatan yang sengaja dibiarkan kosong. Diantaranya, Sekdis PUPR , Kabag Keuangan Setwan, beberapa kabid di dinas, serta kekosongan pada staf ahli.

“Perlu menjadi perhatian apakah tertundanya proses ini dikarenakan bongkar pasang terkait pengamanan suksesi,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Mutasi, Disiplin dan Evaluasi Kinerja pada Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Bogor, Elyis Sontikasyah mengaku belum mengetahui kapan rotasi dan promosi dilakukan.

“Wah kalau saya belum mendapatkan informasi,” singkatnya.* Fredy Kristianto

LDK Al-Intisyar UIKA Bogor Studi Banding Bersama LDK TM AL-Asy’ari Unisba

0

Bogor | Jurnal Bogor

LDK Al-Intisyar UIKA Bogor berkunjung ke Universitas Islam Bandung (Unisba) pada Minggu (22/1/2023). Kedatangannya disambut dengan penuh antusias oleh LDK TM Al-Asy’ari Unisba. Pertemuan dua organisasi tersebut digelar dalam rangka memperkuat ukhuwah antar kader dakwah. Kegiatan dilaksanakan di Masjid Al-Asy’ari Unisba.

Ketua Umum LDK Al-Intisyar Zikril mengatakan, acara tersebut merupakan acara besar dari program kerja departemen hubungan masyarakat.

“Studi banding adalah hajat terbesar dari departemen humas yang ada di LDK Al-Intisyar, yang tentu kami akan berkunjung menuju lembaga dakwah kampus di kampus pilihan yang yang sudah kami diskusikan dan sepakati bersama.  Dan alhamdulillah hari ini bisa terlaksana,” ujarnya.

Tujuan pertemuan ini juga tidak hanya sekedar membangun koneksi, tapi sama-sama mencari ilmu untuk merealisasikan konsep yang sudah dibuat dari awal kepengurusan masing-masing.

Sementara Ketua Umum LDK Al-Asy’ari Amitio Nando mengungkapkan harapan diselenggarakannya studi banding adalah untuk bersama-sama menjadi bagian dari orang-orang yang bertakwa.

“Sebagaimana Allah menyampaikan bahwa orang yang bertakwa itu adalah golongan orang-orang yang mendapat rahmat Allah. Disini saya merasa ikhwan akhwat sudah mendapatkan dekapan rahmat dari Allah, karena insya Allah ikhwah fillah semuanya sudah menjadi bagian dari orang-orang yang bertakwa. Cuma 1 PR-nya, ketika kita sudah kumpul, sudah merangkul, sudah berkecimpung di dunia dakwah jangan sampai kita saling bermusuhan dihadapan Allah. Karena Allah sampaikan orang-orang yang saling bermusuhan dihadapan Allah nanti kecuali orang-orang yang bertakwa. Harapannya selain memperkuat ukhuwah, kumpulan kita ini bisa memperkuat dan meyakinkan hati dan kemauan kita dihadapan Allah sebagaimana orang-orang yang bertakwa supaya mendapat rahmat dan keselamatan dari Allah,”ujarnya.

** Maria Ulfah/ksjb-uika

Gusti Nu Agung, Proyek Rp 93 Miliar Hanya Jadi Klinik

0

Parung | Jurnal Bogor

Target Pemerintah Kabupaten Bogor, merealisasikan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Parung, tak sepenuhnya tercapai. Pasalnya, proyek yang menghabiskan anggaran Rp 93 miliar dari pagu Rp 112 miliar, saat ini baru difungsikan sebagai klinik utama.

Gagalnya merealisasikan RSUD Parung yang anggaran pembangunannya bersumber dari bantuan keuangan (Bankeu) Pemerintah Provinsi Jawa Barat, tahun anggaran 2022 lalu disesalkan sejumlah pihak, salah satunya dari dr. Friedrich M. Rumintjap.

Ketua DPD Partai Nasdem Kabupaten Bogor menyebut, gagalnya merealisasikan RSUD Parung, diduga dari kurang matangnya Pemerintah Kabupaten Bogor dalam pemenuhan sumberdaya yang mempuni.

“Pemenuhan sesuai standard dan syarat rumah sakit pasti sudah diketahui oleh pemilik fasilitas kesehatan, dalam ini Pemerintah Kabupaten Bogor. Jika saat ini belum mampu terpenuhi, berarti adanya keterbatasan anggaran atau sumber daya manusia,” katanya kepada Jurnal Bogor.

Namun demikian, dr. Friedrich, berharap kedepan proses tersebut walaupun secara bertahap, agar

pemenuhan sumber daya untuk RS dapat terpenuhi. “Tentu, yang juga menjadi harapan masyarakat,” pungkasnya.

Warga Kecamatan Parung, Umar Fajar menyayangkan melencengnya target rumah sakit Parung jadi klinik. Padahal, menurut Umar, apabila fasilitas kesehatan itu rampung dengan maksimal dapat menjadi pelayanan kesehatan yang baik untuk warga.

“Bagus ada RSUD di Parung, masyarakat semakin mudah. Aksesnya gak jauh. Jadi lebih cepat sampai. Setidaknya jadi Rumah Sakit (RS) darurat sementara, jangan sampai klinik, apalagi anggaran yang digelontorkan sangat besar,” ungkapnya.

Camat Parung Adi Hendrayana membenarkan, kalau RSUD Parung sekarang belum difungsikan menjadi RSUD, tapi baru sebatas klinik. “Betul, walaupun baru sebatas klinik utama,”terangnya.

Kendati demikian kata Ade, warga yang tinggal di Kabupaten Bogor bagian utara  mengucapkan terima kasih karena di wilayah Parung, tepatnya di Desa Cogreg, ada fasilitas kesehatan milik Pemerintah Kabupaten Bogor. “Kami ucapkan terimakasih kepada Plt Bupati Bogor yang sudah meresmikan.  Sehingga bisa beroprasi walaupun baru sebatas klinik utama,” bebernya lagi.

Sebagian warga, klaim Adi, memahami hal tersebut. Pihaknya pun, akan terus mendorong agar proses pembangunan gedung berikutnya bisa dilaksanakan. 

“Terlepas dari siapapun yang akan menganggarkan baik Pemda Kabupaten Bogor atau pihak Pemprov Jabar kami akan dorong supaya pembangunan bisa dilaksanakan. Semoga, harap Adi, dengan diawali klinik utama yang bangunannya sudah layak di sebut RS, secara perlahan tapi pasti akan menjadi RSUD di waktu mendatang,” tutupnya.

** Yosan Hasan

Waka DPRD Jabar Datangi RSUD Parung

0

Parung | Jurnal Bogor

Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat, Achmad Ruýat, disela kesibukannya menyambangi konsituen di beberapa kecamatan di Kabupaten Bogor, Jumát (20/01) menyempatkan diri mendatangi RSUD Parung yang kini dijadikan klinik utama rawat jalan.

Kedatangan politisi PKS yang juga mantan Wakil Wali Kota Bogor mendampingi Diani Budiarto itu  ditemani Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Bogor, drg.Mike Kaltarina. Ketika berada di ruang klinik, Achmad Ru’yat menanyakan sejumlah permasalahan, diantaranya soal perekrutan tenaga kerja.

“Waktu saya di klinik, Kadinkes, Ibu drg. Mieke menjelaskan jika karyawan yang direkrut di luar dokter, seperti perawat, apotiker, dan tenaga umum merupakan warga Parung dan sekitarnya. Itu saya apresiasi, karena jangan sampai yang jauh-jauh atau luar Kabupaten Bogor direkrut, sementara yang dekat tidak,” ungkap Ru’yat.

Meski saat ini baru klinik utama, namun Ru’yat berjanji akan terus mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Barat, tetap membantu penyediaan fasilitas di RSUD Parung kelak. “Kita (DPRD Jawa Barat)  akan terus mendorong  agar pemerintah pusat melalui APBN mengalokasikan Dana Alokasi Khusus (DAK) maupun dari Provinsi Jawa Barat, serta APBD Kabupaten Bogor,  untuk berkolaborasi menuntaskan proyek RSUD Parung,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Mieke Kaltarina mengatakan bahwa Klinik Utama Rawat Jalan Parung ini masih membutuhkan anggaran sebesar  Rp 202 ratu miliar lebih. Anggaran itu dialokasikan untuk pembangunan tahap 2 untuk gedung C yang berisi penunjang medis, IGD, Radiologi, Laboratorium dan CSSD.

“Lalu tahap 3 juga masih ada gedung B, ini juga untuk rawat inap dan gedung untuk lantai lanjutan daripada gedung ini, karena RSUD Parung ini harusnya ada 5 lantai, terakhir total dari seluruhnya yang kami butuhkan dananya ada sebesar Rp  411 miliar, karena anggarannya terlalu besar, paling dialokasikannya secara bertahap,” katanya.

Mieke menjelaskan, di luar pembangunan fisik gedung, pengisian peralatan untuk klinik utama ini bersumber dari APBD Kabupaten Bogor, tahun 2022. “Klinik Utama Parung ini, secara bertahap akan kita tingkatkan menjadi rumah sakit tipe C dengan kapasitas 150 tempat tidur, baru setelah itu dinaikan lagi menjadi tipe B dengan menambah kapasitas tempat tidur menjadi 250 unit,” jelas Meike menutupi.

** Mochamad Yusuf

RSUD Parung Resmi Diusulkan 2016

0

Cibinong | Jurnal Bogor

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Parung, rencana pembangunannya sudah diusulkan sejak tahun 2016 lalu, ketika Kabupaten Bogor, dipimpin Bupati Nurhayanti, secara blak-blakan Nurhayanti yang menggantikan posisi Bupati Rachmat Yasin, meminta kepada Menteri Kesehatan (Menkes) Prof. Dr. dr. Nila F. Moeloek, saat berkunjung ke Cibinong, dalam rangka menghadiri peluncuran bulan eleminasi penyakit kaki gajah (Belkaga) nasional di Lapangan Tegar Beriman.

Nurhayanti saat meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) ikut membantu merealisasikan RSUD Parung, karena dari lima wilayah di Kabupaten Bogor, tinggal bagian utara yang belum memiliki RSUD.

Permintaan Bupati Nurhayanti, bisa saja disetujui saat itu, andai saja  lahan untuk lokasi pembangunan RSUD Utara, sebelum berganti Parung, sudah tersedia, karena  ketersedian lahan menjadi syarat yang diminta  dr. Nila, alasannya di Kemenkes tidak ada alokasi anggaran pengadaan lahan.

Perjuangan Bupati Nurhayanti untuk merealisasikan RSUD Parung itu tak bisa dilanjutkan, karena keburu masa jabatannya sebagai Bupati Bogor berakhir 31 Desember 2018 lalu. Perjuangan dilanjutkan duet Bupati Ade Yasin dan Wakil Bupati Iwan Setiawan.

Berkat perjuangan yang tak kenal lelah, 2021, Gubernur Jawa Barat memberikan persetujuan untuk mengalokasikan anggaran sebesar Rp 112 miliar kepada Pemerintah Kabupaten Bogor, dalam bantuk bantuan keuangan (Bankeu) untuk membangun RSUD Parung.

Disetujuinya anggaran Rp 112 miliar itu sesuai dengan proposal yang diajukan Pemerintah Kabupaten Bogor. Kabar baik Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengalokasikan Bankeu Rp 112 miliar untuk RSUD Parung itu disambut gegap gempita, tak hanya dari eksekutif, tapi juga oleh anggota legislatif alias DPRD Kabupaten Bogor, khususnya mereka yang berangkat dari daerah pemilihan (Dapil) VI.

Alasanya, ketika di Parung, ada RSUD yang lokasi lahannya tidak dengan cara membeli, tapi memanfaatkan fasilitas umum dan sosial sejumlah pengembang perumahan yang ada di kawasan Bogor Utara, khususnya Parung, janji politik kepada masyarakat terbayar.

Namun sayangnya, ketika anggaran Bankeu, sudah bisa digunakan, sejumlah persoalan mulai muncul, satu diantaranya lelang yang terlambat. Proyek RSUD Parung bisa dikerjakan pada semester II tahun 2021. Karena, kondisi medan proyek yang berat, pekerjaan pun tak bisa diselesaikan tepat waktu yakni Desember 2021.

Berawal dari lambatnya penyelesaian pekerjaan, persoalan lain pun muncul, hingga akhirnya target para petinggi di lingkup Pemerintah Kabupaten Bogor, agar pada tahun 2022 lalu, RSUD Parung beroperasi dengan berat hati dikatakan tidak berhasil. Karena hanya jadi klinik, informasinya Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pun enggan datang untuk meresmikannya, sebab dari awal sesuai ajuan proposal harus RSUD.

** Mochamad Yusuf

Ngeri, Banyak ODGJ di Kabupaten Bogor?

0

Bogor | Jurnal Bogor

Kesehatan jiwa sangat penting. Hal itu menjadi indikator dari setiap aktivitas yang dilakukan. Tentu, agar optimal. Kendati begitu, tak sedikit masyarakat yang terhantam ganguan kesehatan jiwa. Faktonya, tak ayal karena tekanan pikiran.

Faktanya, ada  35 Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) asal Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor bakal dievakuasi petugas Rumah Sakit Jiwa Marzoeki Mahdi (RSJMM) Kota Bogor.

Penanggung Jawab Program Lintas Sektor dan Intergrasi RSJ Marzoeki Mahdi Kota Bogor Iyep Yudiana mengatakan, 1 Februari mendatang pihaknya akan melakukan  pemeriksaan dan evakuasi masaal ODGJ berat dari wilayah Kecamatan Cileungsi.  “Fasilitas layanan ini gratis. Kami akan lakukan jemput gratis. Dan, pasien nanti akan di rawat di RSJ Marzoeki Mahdi,” katanya, Senin (23/01).

Sementara itu terkait evakuasi Iyep mengatakan,, dilakukan juga pemeriksaan oleh psikiater, dokter, perawat jiwa, penyuluh kesehatan, pekerja sosial. “Adapun, antar jemput gratis ini akan diselenggarakan di Gedung Serba Guna Kecamatan Cileungsi, 35 ODGJ dari tiga wilayah binaan puskesmas yang berada di Kecamatan Cileungsi,” terangnnya.

Informasi terhimpun, evakuasi masal tersebut melibatkan ODGJ berat, ODGJ pasung, ODGJ terlantar, ODGJ kambuh, ODGJ baru, dan ODGJ yang belum pulih.

“Kami atas nama Pemerintah Kecamatan Cileungsi, menyambut baik kehadiran RSJMM untuk memeriksa dan mengevskuasi ODGJ di Cileungsi untuk dirawat dan diobati di RSJMMM”, ujar Camat Cileungsi Adhi Nugraha, disela sambutannya belum lama ini.  

** Yosan Hasan

Mengungkap Sejarah Tahun Baru Imlek di Indonesia

0

Ucapan Sakral Masyarakat Tionghoa

Bogor | Jurnal Bogor

Gong Xi Fa Cai, menjadi salah satu ucapan sakral saat berlangsungnya Hari Raya Imlek yang dirayakan masyarakat Tionghoa, di seluruh dunia, tanpa terkecuali di Indonesia.

Ucapan Gong Xi Fa Cai itu bukan hanya sekedar kata-kata kiasan. Namun doa, rasa syukur, dan harapan dimasa yang mendatang.

TAHUN ini (2023, red), perayaan Imlek 2.574 Kongzili dihelat diberbagai wilayah di Indonesia. Bahkan, menjadi hari libur nasional (22/01) dan cuti bersama (23/01) yang ditandai dengan adanya = Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri Republik Indonesia, yakni diantaranya Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan, dan Mentri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokraksi.

Terpantau, perhelatan inipun terlihat dari beragam pernak pernik identik berwarna merah dan, terlihat terpajang / tersusun rapih diberbagai tempat-tempat peribadatan umat Tionghoa (Klenteng, red) dan dirumah – rumah warga Thionghoa.

Seperti, lampu-lampu lampion yang dikaitkan disepanjang jalan raya. Terlebih ditempat peribadatan Klenteng (Vihara, red). Seperti, diwilayah Kota dan Kabupaten Bogor Jabar.

Informasi terhimpun, Tahun Baru Imlek bagi masyarakat minoritas keturunan Tionghoa di Indonesia dikurangi perayaannya dimasa rezim Orde Baru (Orba). Kemeriahan dan semaraknya perayaan Imlek kembali hadir,  ketika Abdurahman Wahid atau Gus Dur, menjadi Presiden Republik. Presiden RI ke empat mengeluarkan Keppres No 6/2000 tentang pencabutan Inpres No 14/1967 pada Januari 2000 lalu.

Pencabutan Inpres yang membatasi masyarakat Tionghoa dalam merayakan Imlek, disambut dengan suka cita, kota-kota yang di wilayahnya memiliki kawasan Pecinan, semisal Kota Bogor, bahkan menghidupkan kembali festival Jalan Suryakencana yang disebut dengan Festival Cap Go Meh. Festival berisi arak-arakan seni dan budaya serta digotongnya Tapekong, digelar dua pekan setelah Imlek, arak-arakan atau pawai dimulai dari Vihara Dhanagun (Ho Tek Bio) dan Klenteng Pan Kho Bio Bogor.

Sementara, diwilayah Kabupaten Bogor perayaan Tahun Baru Imlek biasa digelar di Klenteng Ho Tek Bio Ciampea, Ho Tek Bio Cibinong, Vihara Dharma Bhakti Cileungsi dan, Klenteng Ho Tek Bio Citereup.

Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim mengatakan, Muspida terus mematangkan  persiapan dan koordinasi kegiatan Bogor Cap Go Meh Street Festival pasca Tahun Baru Imlek 2023.”Termasuk persiapan rekayasa lalu lintas dan pengamanan wilayah sekitar Otista, Suryakencana dan diseputaran Kebun Raya Bogor (KRB, red),” bebernya.

Cap Go Meh Street Festival 2023, kata Dedie menjadi event ajang budaya pemersatu Bangsa dan menjadi kegiatan yang masuk dalam calender of event nasional di Kementerian Pariwisata. “Untuk itu kamu akan optimalkan kegiatan tahunan ini,” tandasnya.

Informasi terhimpun, Street Festival 2023 Kota Bogor akan diselenggarakan Minggu 5 Februari mendatang. Dalam giat ini akan digelar parade seni budaya Nusantara dan Dunia. Termasuk, marching band, liong, marawis, barongsai dan, kuliner.  Sementara kegiatan akbar ini akan diselenggarakan sepanjang Jalan Raya Suryakencana – Siliwangi, mulai pukul 15:00 WIB – 24:00 WIB.

** Yosan Hasan

Buka Tutup Aktivitas Galian di Bantar Kuning Dipertanyakan

0

Cariu | Jurnal Bogor
Sempat ditutup dan disegel oleh Satpol PP Kabupaten Bogor, penambang galian tanah di Desa Bantarkuning, Cariu, Kabupaten Bogor, kembali beroperasi. Anggota DPRD Kabupaten Bogor Achmad Fathoni meminta Muspika Cariu menutup galian tersebut dengan permanen. Menurutnya, dirinya sudah berkoordinasi dengan UPTD ESDM Provinsi Jawa Barat, bahwa tambang galian tanah di Desa Bantarkuning tidak memiliki izin.

Achmad Fathoni

“Saya sudah dapat kepastian dari Kepala UPTD ESDM Provinsi Jawa Barat, Iman Budiman, yang mengatakan operasional penambangan di Desa Bantarkuning, Cariu tidak berizin,” jelas Fathoni biasa disapa kepada Jurnal Bogor, Senin (23/01/23).

Selanjutnya, ia juga meminta kepada para aparat setempat, seperti Kanit Pol PP Kecamatan Cariu dan Kepala Desa Bantarkuning agar bisa menindak tegas adanya galian tanah tersebut yang tidak memiliki izin.

“Jadi aparat terkait seperti, Kades, Camat, dan yang paling berwenang Satpol PP, yang harus bertindak tegas untuk menutupnya galian itu secara permanen, ” jelasnya.

Dengan adanya kejadian seperti ini, dirinya berharap kepada pengusaha tambang galian, agar mematuhi peraturan yang sudah ada sesuai dengan peruntukannya.

“Harapan saya, semua pengusaha yang berdiri dibidang pertambangan, harus patuh pada aturan. Sehingga warga dan alam kita bias terlindungi, saya rasa beliau sangat paham tentang aturan. Kalau tidak berizin, artinya harus ditutup secara permanen,” harapnya.
Sementara, warga sekitar Anwar (38) membenarkan sudah ada aktivitas lagi pada lokasi galian tersebut, dimana dirinya merasa khawatir jika akan terjadi hal seperti sebelumnya.

“Kejadian sebelumnya kan ada yang jatuh beberapa kendaraan bermotor, saya khawatir hal tersebut akan terulang yang akhirnya makan korban jiwa. Apa harus nunggu ada yang terlindas oleh mobil truck dulu baru pemerintah berani nutup secara permanen,” keluh Anwar.
Waktu galian tersebut ditutup, sambung Anwar, dirinya merasa lega dan tenang. Pasalnya, pria yang beraktivitas sehari-hari sebagai petani tersebut rutin setiap pagi mengantarkan anaknya kesekolah.

“Heran tapi emang nyatanya dibuka lagi, padahal waktu ditutup Satpol PP dan polisi datangnya segerombolan, kok sekarang bisa dibuka lagi. Memangnya kalo ditutup ada batas waktunya,? ” tanyanya heran.

Sampai diturunkannya berita ini belum ada tanggapan dari pemerintah setempat terkait adanya pembukaan kembali tambang galian di Desa Bantarkuning.

** Nay Nur’ain

Usulan 11 Desa Diakomodir, Pengelolaan Dana CRS Antam Sudah Transparan

0

Nanggung | Jurnal Bogor

Pengelolaan hingga distribusi dana tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibilty (CSR) PT Aneka Tambang (Antam) Unit Bisnis Penambangan Emas (UBPE) Pongkor, Kabupaten Bogor, diklaim sudah transparan. Bahkan semua usulan program yang diajukan 11 pemerintah desa (Pemdes) di Kecamatan Nanggung, sudah diakomodir yang direalisasikan melalui pelaksanaan pembangunan.

“Sejak tahun 2015 lalu, setiap usulan dari 11 pemerintah desa kita bahas dalam Musyawarah Rencana Pembangunan Pongkor (Musrempong) yang  merupakan bagian dari program pembangunan di wilayah ring satu Antam Pongkor,”kata Kepala Desa Kalong Liud, Kecamatan Nanggung Jani Nurzaman, dalam keterangan tertulisnya kepada Jurnal Bogor dan satu media lainnya di Kabupaten Bogor, Senin (23/01).

Musrempong, kata Jani, lebih difokuskan untuk membangun lokasi atau wilayah yang tidak tersentuk pemerintah, baik itu untuk pembangunan Infrastruktur maupun ekonomi. “Tujuan utamanya untuk menciptakan kesejahteraan di masyarakat melalui pemanfaatan dana Corporate Social Responsibility (CSR),”ujar Jani.

Ketua Asosiasi Pemerintahan Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Cabang Kecamatan Nanggung itu menjamin, semua dana CSR dari Antam UBPE Pongkor pengelolaan dan distribusinya sudah sangat transparan. “Ya sangat transparan dan terbuka,” ungkapnya.

Jani mengungkapkan, program pemanfaatan CSR Antam untuk wilayah Nanggung, berangkat dari sebuah perencanaan yang matang. “Yang pertama berangkat dari hasil Musyawarah Rencana Pembangunan Desa (Musrenbangdes) dulu Musrempong, di mana dari hasil Musrembangdes muncul pagu indikatif yang disesuaikan dengan Anggaran Pendapatan Belanja Desa atau APBDes di setiap tahun berjalan,” terangnya.

Sedangkan untuk Anggaran tahun 2023 di Desa Kalong Liud,  kata Jani, Musrenbangdes terlaksana pada bulan November 2022, dimana hasilnya, teralokasi berbagai program sesuai dengan skala anggaran yang akan dialokasikan.

“Skala pembangunannya, sudah sesuai berdasarkan APBD Kabupaten Bogor dari hasil Musrenbang Desa, selanjutkan di usulkan ke tingkat Musrembang Kecamatan sesuai dengan domain Kabupaten Bogor. Sedangkan yang menjadi skala desa, juga kami alokasikan dari APBDes, diantaranya dari sumber anggaran yang berasal dari Dana Desa (DD), yang merupakan dana transfer, termasuk Alokasi Dana Desa (ADD), bantuan Pemprop Jawa Barat serta bantuan keuangan dari Pemda Kabupaten Bogor berupa Samisade,” bebernya.

Masih kata Jani Nurzaman, hal lain termasuk sumber dana-dana lainnya yang sah, seperti dari sumber pendapatan asli desa, tetap masuk untuk rencana pemanfaatan pengalokasiannya. Khusus untuk skala anggaran pembangunan dari pihak ketiga, kami ajukan alokasinya dalam Musyawarah Pembangunan Masyarakat Desa (Muspemasdes), yang sumber anggarannya dari CSR Kabupaten Bogor.

“Alhamdulilah sudah beberapa tahun ini disetiap tahunnya, desa kami selalu teralokasikan anggaran CSR dari Antam Pongkor sebesar Rp 200 juta termasuk untuk masing masing desa se- Nanggung dengan jumlah 11 desa, tak ketinggalan alokasi untuk instansi lainnuya, semisal kecamatan,  UPT Pendidikan,  dan dua UPT Puskesmas. Programnya disesuaikan dengan kebutuhan masing – masing instansi,” jelas Jani.

Management PT. Antam Tbk UBPE Pongkor menegaskan, pada prinsipnya Antam berkomitmen untuk selalu merealisasikan pada apa yang di usulkan oleh Muspika Nanggung, para Kepala Desa dan UPT melalui program Muspemasdes. 

** Andres |  Mochamad Yusuf

Soal Keberadaan Perusahaan untuk Pelestarian Lingkungan, Ini Pesan Camat Gunung Putri

0

Gunung Putri | Jurnal Bogor
Camat Gunung Putri Didin Wahidin memberikan apresiasi kepada PT Mitra Garindo Perkasa (MGP), yang sudah turut andil dalam melestarikan lingkungan dengan menanam pohon buah di sepanjang jalur Situ Citongtut.

“Kita semua tau, bahkan sudah menjadi berita dengan adanya kejadian ikan mati di Situ Citongtut ini yang diakibatkan oleh limbah yang dibuang oleh perusahaan yang tidak bertanggung jawab, ” ujar Didin kepada Jurnal Bogor, Senin (23/01/23).

Dirinya berharap, dengan adanya tindakan tegas yang sudah di lakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor dengan melakukan pengecoran beberapa lubang pembuangan, bisa membuat efek jera sekaligus warning untuk perusahaan yang lain.

“Seharusnya sebagai perusahaan yang mencari rezeki di wilayah Gunung Putri, jaga dan lestarikan lingkungan sekitar, buat penampungan limbah yang resmi agar tidak merugikan warga. Dan saya angkat jempol dengan apa yang sudah dilakukan oleh PT.MGP, semoga bisa dicontoh oleh perusahaan lain, agar melestarikan lingkungan bukan malah sebaliknya,” papar Didin.

Sementara, Kades Cicadas Dian Hermawan menjelaskan, jika PT.MGP ini banyak berkontribusi terhadap lingkungan sekitar, baik secara moril maupun materil.

“Alhamdulilah perusahaan ini banyak sekali berkontribusi terhadap lingkungan, karena hampir setiap tahunnya ada proposal yang masuk ke perusahaan tersebut tapi selalu dibantu dengan anggaran CSR yang mereka miliki,” ujat Dian.

Dirinya berharap, apa yang dilakukan oleh PT.MGP ini bisa ditiru oleh perusahaan lain, agar ekonomi masyarakat sekitar juga bisa berkembang dengan banyaknya perusahaan yang mengelilingi.

“Cicadas itu dikelilingi oleh puluhan perusahaan, malu jika masih ada warga yang mengaggur dan masih ada warga yang kesusahaan. Oleh karena itu saya mengajak kepada semua perusahaan yang ada di Cicadas agar lebih memperhatikan lingkungan sekitar, baik dibidang lingkungan hidupnya, infrastrukturnya, sosialnya, pendidikan dan kesehatannya,” pungkasnya mengakhiri.

** Nay Nur’ain