29.2 C
Bogor
Sunday, August 2, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 684

Meraih Gelar Sarjana dari Hasil Memilah Sampah

0

Bogor | Jurnal Bogor

Bagi Darga, mahasiswa STIA Menarasiswa Prodi Administrasi Bisnis, sampah bukanlah petaka. Justeru sampah tidak sejorok yang dibayangkan karena menurutnya, sampah adalah sebuah anugerah sumber daya yang mendatangkan uang.

Atas pandanganya itu, semasa kuliah, Darga menghabiskan waktunya dengan menjadi aktivis lingkungan dan menampung, memilah sampah plastik dan kertas serta minyak jelantah di sekitar Kota dan Kabupaten Bogor. Baginya tidak ada waktu yang berlalu begitu saja tanpa bekerja keras.

Bermodalkan tekad kuat untuk meraih kesarjanaan, ia pun tak malu mengumpulkan dan memilah sampah yang ada di lingkungan. Ia melakoni profesi itu untuk membayar SPP kampus dan kebutuhan hidup. Tak peduli apa kata teman – teman, ia terus mengumpulkan dan memilah sampah.

Justeru akhrinya teman- teman Darga merasa salut dan bangga akan kegigihan serta perjuangannya. Ia terus memilah sampah dan mensosialisasikan bahwa memilah sampah bisa  untuk membiayai pendidikan dan kebutuhan rumah tangga bila diolah dengan benar. Hal ini dibuktikan oleh Darga yang bisa meraih sarjana dan menafkahi keluarganya dengan hasil dari sampah. Dari hasil jualan sampah ke pengepul, sebulan ia mendapat uang Rp3-4 juta.

“Hasil sampah itu mengantar saya meraih gelar Sarjana dari hasil milah sampah. Uang hasil memilah sampah itu juga saya gunakan untuk mahar untuk meminang Istri saya hingga akirnya berumah tangga,” cerita Darga.

“Isteri saya terus mensuport saya, tentu semakin semangat meraih impian untuk mensejahterakan banyak orang melalui sampah. Impian saya mendirikan Bank Sampah, alhamdulilah dengan modal awal Rp  5.000.000, saya dirikan Bank Sampah dengan nama Bank Sampah Barokah, dan saya sendiri menjadi direkturnya,” ungkapnya.

** Wan

PKBM Bakti Nusa Berdayakan Warga Difabel

0

Bogor | Jurnal Bogor

Alifia Ayu Gitarani biasa dipanggil Rani, warga Desa Sukamantri, Tamansari, Kabupaten Bogor. Mojang Bogor berusia 22 tahun ini mempunyai keterbatasan pendengaran sejak beberapa tahun yang lalu.

Namun keterbatasan tersebut tidak menghalangi semangatnya untuk melestarikan budaya bangsa melalui membatik.

2019 lalu, Batik karya Rani berhasil menggondol medali emas yakni juara 1 lomba menjahit se-Kota Bogor.

Batik buatannya dipajang di Kebun Raya Bogor agar masyarakat se-Indonesia dapat mengapresiasi hasil karya batik tulis Rani.

Dikala Rani menceritakan kepada PKBM Bakti Nusa atas kesulitannya mencari pekerjaan seusai lulus SMA-nya karena keterbatasan pendengaran.

PKBM Bakti Nusa Sekolah Gratis yang didukung Jenderal Purn TNI H Moeldoko, Kepala Staf Kepresidenan RI ini segera mengangkat Rani sebagai guru keterampilan membatik.

Kini Rani, dengan keterbatasan pendengaran ini dapat melanjutkan karya batiknya sambil mengajarkan kepada siswa PKBM Bakti Nusa, masyarakat desa Sukamantri dan sekitarnya.

“Saya teringat akan pesan Bapak Moeldoko saat membagikan ijazah kelulusan pada para santri dan siswa PKBM Bakti Nusa 3 Agustus 2022 lalu, No One Left Behind. Pak Moeldoko peduli akan pendidikan generasi bangsa khususnya anak anak putus sekolah dan pemberdayaan para difabel,” ungkap Muhammad Afhan, Ketua PKBM Bakti Nusa.

** ass/rls

Kaki Kanan Korban Mutilasi Ditemukan di Pinggir Kali Cimanceri

0

Tenjo | Jurnal Bogor 

Bagian tubuh korban mutilasi yang sempat menggegerkan warga Tenjo, Kabupaten Bogor beberapa pekan yang lalu kembali ditemukan. 

Kali ini kaki kanan milik korban yang ditemukan tepatnya di pinggir kali Cimanceri, Desa Pasir Bolang, Kabupaten Tangerang, Senin (20/3/ 2023. Saat ini tinggal potongan kepala yang belum ditemukan.

“Bagian kaki kanan diduga potongan tubuh milik korban mutilasi kembali ditemukan, masih di pinggiran kali Cimanceri,” kata Kapolsek Tenjo Iptu Suyadi kepada wartawan.

Dia menjelaskan, pihaknya langsung melakukan identifikasi dan dibawa ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati, karena kaki kiri sudah lebih dulu ditemukan.

“Jadi potongan kaki yang dibuang oleh pelaku pembunuhan sekaligus mutilasi berinisial DA (33) ditemukan warga yang melintas melihat seekor biawak yang sedang memakan sesuatu,” jelasnya.

Setelah didekati dilakukan pengecekan ternyata merupakan sebuah potongan tubuh berupa kaki manusia.

“Jadi pihak kepolisian Polsek Tenjo pukul 13.30 WIB yang menerima informasi via telepon dari Polsek Tigaraksa dan langsung melakukan pengecekan oleh tim Inafis Polres Bogor,” pungkasnya.

** Andres

Tanggapi Keluhan Pedagang Perempatan Gandoang, Ini Penjelasan Achmad Fathoni 

0

Cileungsi | Jurnal Bogor 

Menanggapi keluhan Paguyuban Pedagang Gandoang, Cileungsi, Kabupaten Bogor, anggota DPRD Kabupaten Bogor Achmad Fathoni menggandeng Muspika untuk mencarikan solusi yang dikeluhkan oleh para pedagang tersebut.

” Saya apresiasi dan berterima kasih kepada Kepala UPT Dinas Perhubungan dan Polsek Cileungsi yang pada hari ini berkenan mengakomodir keinginan Paguyuban Pedagang Gandong terkait penyekatan di perempatan Gandoang, ” ucap Fathoni kepada Jurnal Bogor, Senin (20/03/23).

Dirinya berharap hal ini bisa jadi solusi jangka pendek yang terbaik untuk mengakomodir semua kepentingan. Maka dari itu dia meminta Dishub Kabupaten bersama Dishub Provinsi bisa segera melakukan kajian yang komprehensif untuk merencanakan solusi jangka panjangnya, meski tentunya butuh waktu dan harus melibatkan tim ahli.

“Saya lihat ada beberapa persoalan penting yang menjadi penyebab kemacetan di perempatan Gandoang ini,” paparnya.

Secara fisik, sambung dia, terlihat daerah milik jalan di perempatan tidak layak. Areanya menyempit dan terhalang bangunan warung, tiang listrik, tiang telepon, pohon dan lain-lain. Ditambah ada problem saluran air yang tidak ada atau tidak berfungsi. Sehingga air limbah domestik maupun air hujan meluber ke jalan dan menyebabkan kerusakan parah pada jalan.

“Problem kerusakan jalan juga banyak terjadi dan selama ini hanya diperbaiki sementara, dan problem lainnya yang diharapkan bisa dilakukan rumusan solusinya melalui kajian para ahli,” paparnya.

Fathoni menyatakan berterima kasih kepada para pedagang di Gandoang yang diketuai Endang, sudah berkomunikasi dengan berbagai pihak untuk mencari solusi terbaik tanpa harus melakukan aksi demonstrasi.

“Berharap kedepan bisa terus sinergi dan saling membantu untuk mengatasinya,” cetusnya.

Mengingat, sambung dia, dirinya mendampingi pedagang sejak 2 pekan lalu bersama Kadis Ramdhani sehingga aspirasi mereka dapat dikomunikasikan kepada Kepala UPT Dishub Kabupaten Bogor.

“Hasilnya, tadi di lokasi uji coba buka tutup sekat disaksikan Dishub dan Polsek Cileungsi. Kedepan buka tutup sekat akan diuji coba sekitar sebulan mulai ditutup jam 06.00-09.00 dan 15.00-19.00,” pungkasnya.

** Nay Nur’ain

Komunitas Tapos Satu Edukasi Remaja Pelatihan Hidroponik

0

Tenjolaya | Jurnal Bogor 

Komunitas Tapos Satu, Tenjolaya, Kabupaten Bogor menggandeng puluhan remaja melakukan pelatihan pertanian media hidroponik.

Kegiatan yang digelar di saung taman baca, Kampung Cibalay, Tenjolaya, Minggu (19/03/2023) itu agar remaja-remaja dapat skill cara bertani menggunakan media hidroponik atau media lainnya tanpa menggunakan lahan atau kebun. 

“Targetnya sendiri kedepannya para remaja ini dapat membentuk taruna tani, sehingga pencapaian output dari pelatihan ini dapat terukur dengan keberhasilan yang terukur,” kata salah satu educator Martin. 

Jadi kata Martin, pelatihan pertanian untuk remaja bukan hanya dilakukan di satu wilayah dan bekerja sama dengan penyuluh pertanian.

“Kita melakukan di beberapa wilayah dengan bekerja sama dengan penyuluh pertanian sehingga penyampaian materi atau pendampingan dalam praktik cara bertani bagi remaja hasilnya bisa maksimal,” ucap Martin.

Sementara itu, Ketua Umum Forum Milenial Indonesia (FMI) Muhamad Janwar mengapresiasi hal tersebut. Sebab, program seperti itu bagian membidik dan menyiapkan generasi milenial ikut ambil dalam membangkitkan kembali anak muda terjun pada pertanian. 

“Saat ini sudah mulai jarang sekali terlihat kaum milenial untuk mau berkiprah dan meneruskan dalam ranah pertanian. Untuk itu tempat ini bagian dari laboratorium mereka untuk bisa melihat kembali,” paparnya.

Dia berharap, hal seperti ini harus dikembangkan di wilayah Bogor barat, terlebih minat generasi muda saat ini semakin berkurang pada sektor pertanian.

“Pada dasarnya wilayah Bogor barat tak lepas dari pertanian dan sudah seharusnya dikembangkan serta dimanfaatkan sesuai dengan perkembangan zaman era digital saat ini,” pungkasnya.

** Andres

Anak di Kecamatan Cariu Rawan Putus Sekolah

0

Cariu | Jurnal Bogor 

Persoalan ekonomi dan pendidikan memang seperti dua mata sisi uang yang tidak terpisahkan. Terkadang faktor ekonomi sangat menunjang kualitas pendidikan yang dimiliki seseorang. Begitu juga sebaliknya, kualitas pendidikan seseorang akan menjamin perekonomian orang tersebut.

Di Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor persoalan pendidikan harus menjadi sorotan dari Pemkab Bogor. Pasalnya, anak-anak di Kecamatan Cariu rawan putus sekolah dan tidak mendapatkan pendidikan yang layak dengan alasan kondisi ekonomi keluarga yang kurang menunjang. Selain itu, kurangnya minat untuk menempuh pendidikan hingga jenjang yang tinggi juga menjadi salahsatu persoalan sulit berkembangnya kualitas sumber daya manusia di Cariu.

“Kami dari pihak kecamatan sudah berusaha untuk memberikan sosialisasi mengenai pentingnya sekolah, namun semuanya kembali lagi kepada anaknya masing-masing,” ujar Sulistiati, Kasi Ekbang Kecamatan Cariu kepada Jurnal Bogor, Senin (20/03/23).

Menurut dia, banyaknya anak putus sekolah menjadi salah satu persoalan di Kecamatan Cariu. Hal itu terjadi karena adanya beberapa faktor yang mempengaruhi anak menjadi putus sekolah diantaranya kurangnya minat untuk bersekolah.

“Banyak yang masih berpikir jika sekolah dan menempuh pendidikan itu tidak penting. Jadi dengan pendidikan seadanya mereka merasa sudah cukup,” ujarnya.

Selain itu, faktor ekonomi menjadi salah satu masih maraknya anak putus sekolah di Kecamatan Cariu. Faktanya, rata-rata warga di Kecamatan Cariu ini berasal dari kalangan ekonomi yang rendah. Hal tersebut, lanjutnya menghambat keinginan anak untuk bersekolah.

“ Selain itu, kesulitan transportasi juga menjadi faktor yang membuat anak menjadi putus sekolah. Tidak ada kendaraan online yang sampai ke Kecamatan Cariu. Kendaraan umum di Cariu pun terbatas sehingga menyulitkan anak untuk pergi ke sekolah.

Oleh karena itu, lanjutnya, untuk mengurangi permasalahan tersebut, Pemerintah Kecamatan Cariu berusaha membangun sekolah di daerah pelosok yang mudah di akses oleh masyarakat dan melakukan sosialisasi kepada anak-anak terkait pentingnya pendidikan untuk masa depan.

** Taufik/Nay

BPD se-Kecamatan Jonggol Siap Sinergi dengan Kades

0

Jonggol | Jurnal Bogor

Forum Badan Permusyawaratan Desa (FBPD) se-Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor menggelar pertemuan rutin putaran ke-9 guna menguatkan silaturahmi antar-BPD seluruh desa di Jonggol. Kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya menjalin soliditas diantara sesama pengurus BPD serta mensinergikan program pembangunan antardesa se-Kecamatan Jonggol.

“Tujuan utama dari kegiatan yang kami gelar rutin selama tiga bulan sekali ini merupakan langkah untuk membangun sinergitas diantara BPD se-Kecamatan Jonggol. Sehingga BPD dapat memiliki pemahaman yang sama dalam upaya menyukseskan berbagai program pembangunan di desa masing-masing,” kata Ketua Forum BPD se-Kecamatan Jonggol,” ujat Hermawan kepada Jurnal Bogor, Senin (20/03/23).

Selain menguatkan komunikasi dan koordinasi diantara sesama pengurus BPD, sambung dia, kegiatan tersebut juga merupakan langkah dari BPD untuk mensinergikan berbagai program pembangunan dengan kepala desa. Terlebih, di Kecamatan Jonggol terlah terpilih tiga kepala desa baru hasil Pilkades beberapa waktu lalu.

“Di Kecamatan Jonggol ada Kepala Desa baru, diantaranya Desa Cibodas, Desa Sukagalih dan Desa Sukajaya. Kami bersyukur karena proses Pilkades berjalan aman, damai dan tanpa ekses,” ujarnya.

Oleh karena itu dia mengajak kepada pengurus BPD di tiga desa tersebut agar dapat bersinergi dan berkoordinasi dengan kepala desa yang baru untuk menggelar dan mengimplementasikan berbagai program pembangunan di desa masing-masing.

“Dari kegiatan ini kami berharap ada sinergi antara BPD dengan kepala desa, khususnya kepala desa yang baru di tiga desa sehingga program pembanguna desa dapat segera berjalan,” tukasnya.

Ujat berharap Forum BPD se-Kecamatan Jonggol dapat semakin optimal dalam menjalankan tugas dan fungsinya untuk mendukung penyelenggaraan pemerintahan desa dan berkomunikasi dengan pihak pemerintah kecamatan.

“Kami tentunya ingin agar fungsi BPD ini dapat berjalan sesuai dengan koridor yang telah ditetapkan sehingga keberadaan BPD dapat benar-benar memberikan kontribusi bagi pembangunan dan perkembangan di desa,” tandasnya.

** Taufik/Nay

Desa Bojong Kulur Partisipasi Gerakan Tanam Pohon Nasional 

0

Gunung Putri | Jurnal Bogor 

Kepala Desa bersama seluruh unsur utama Desa Bojongkulur dan berbagai kelompok masyarakat menysukseskan gerakan penanaman pohon serentak di desa seluruh Indonesia, Senin (20/3/2023).

Kepala Desa Bojong Kulur Firman Riansyah mengatakan, kegiatan ini sebagai mitigasi bencana di desa sekaligus juga untuk pelestarian lingkungan dari bahaya pemanasan global (global warming) yang mengancam kehidupan manusia.

“Sebagai desa berprestasi dan percontohan tingkat nasional, Desa Bojongkulur wajib mensukseskan kegiatan yang sangat baik ini,” ucapnya kepada Jurnal Bogor, Senin (20/03/23).

Menurutnya, penanaman pohon buah untuk mitigasi dan mencegah bencana serta pelestarian lingkungan adalah kegiatan yang sangat positif dan harus didukung penuh dan disukseskan oleh seluruh pimpinan desa seluruh Indonesia.

Sementara Ketua TP PKK Bojongkulur Ambar Retnowati menyampaikan, sebagai pelaksana utama kegiatan ini bersama ibu-ibu PKK Desa Bojongkulur sangat antusias mensukses gerakan penanaman pohon buah ini.

“Kegiatan ini keren banget, mitigasi bencana, pelestarian lingkungan, juga tanam buah duren dan sirsak sangat bermanfaat untuk ibu-ibu PKK dan seluruh warga Bojongkulur,” paparnya.

Ambar yang juga sebagai Ketua PERI IBU (Perempuan Indonesia Peduli Bumi) berharap semua ibu-ibu PKK sehat-sehat dan panjang umur sehingga bisa menikmati buah dari pohon-pohon yang kita tanam, sirsak selain tanaman buah juga tanaman obat yang banyak manfaatnya.

Ditempat yang sama, Ketua KP2C Puarman turut mendukung penuh acara tersebut. Menurut dia, acara nasional ini harus didukung semua pihak. Kolaborasi berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk mensukseskan kegiatan ini, terutama mengajak para milenial dan zenial untuk partisipasi aktif dan kolaborasi untuk kegiatan seperti ini di titik-titik lainnya.

“Bibit pohon yang ditanam hari ini disediakan oleh KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan), WKRI (Wanita Katolik Republik Indonesia) dan Ekologi Cabang MBSB Kota Wisata serta Eco Masjid Indonesia,” pungkasnya.

** Nay Nur’ain

Klaim Bebas BPA Kemasan Non Polikarbonat Berpotensi Bahayakan Konsumen

0

Jakarta | Jurnal Bogor

Klaim atau pelabelan “BPA free” terhadap kemasan yang sama sekali tidak menggunakan BPA dalam pembuatan kemasannya berpotensi lebih membahayakan publik atau konsumen.  Selain itu, klaim tersebut juga terkesan mendiskreditkan produk-produk pangan yang menggunakan kemasan yang mengandung BPA.
 
Demikian benang merah dari acara diskusi media dengan topik “Perlu Tidaknya Peringatan Zat Kimia Berbahaya di Kemasan Pangan Dicantumkan Pada Label” yang diselenggarakan Orbit Indonesia, Jumat (17/3).  
 
Dosen dan Peneliti di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan dan SEAFAST Center, Institut Pertanian Bogor (IPB), Nugraha Edhi Suyatma, yang menjadi narasumber di acara tersebut memaparkan Peraturan BPOM Nomor 31 Tahun 2018 Tentang Label Pangan Olahan sebenarnya sudah jelas-jelas menyebutkan bahwa produk-produk yang secara alami tidak mengandung suatu bahan, tidak boleh mengklaim free dari bahan yang tidak dikandungnya itu. Dia mencontohkan klaim minyak goreng non kolesterol. “Ini tidak boleh  karena minyak goreng itu pada dasarnya kan memang tidak mengandung kolesterol,” ujarnya.
 
Menurutnya, hal serupa juga tidak boleh dilakukan oleh produk kemasan galon sekali pakai yang berbahan PET yang mengklaim kemasannya bebas BPA. “Kenapa? Ya karena secara alami kemasan PET itu memang tidak menggunakan BPA. Mestinya tidak boleh pakai klaim free BPA. Jika itu diizinkan, berarti kan ada dua hal yang akan bertabrakan di Peraturan BPOM yang akan direvisi itu nantinya,” tuturnya.
 
Sebagai ahli pangan, Nugraha justru melihat air minum dalam kemasan (AMDK) yang menggunakan bahan plastik selain polikarbonat dan melabelinya dengan bebas BPA, itu sangat beresiko dan berpotensi lebih membahayakan publik.  “Kenapa? Karena, kalau semua plastik boleh mencantumkan free BPA, masyarakat kan tidak mengetahui bahwa pada kemasan itu juga ada zat-zat kimia yang lebih beresiko terhadap kesehatan dibandingkan BPA. Seperti PVC, PS, PET dan melamin, itu semuanya kan mengandung senyawa berbahaya juga,” tukasnya.
 
Disebutkan, PET yang sebenarnya sudah populer dengan kandungan EG atau etilen glikol dan DEG atau dietilen glikolnya disinyalir juga bisa menyebabkan gagal ginjal dan ginjal akut.  Selain itu juga ada asetaldehida yang terbentuk saat reaksi proses pembuatan pencetakan film atau kemasan, juga bisa menyebabkan karsinogenik. Ada juga antimon trioksida yang sifatnya bisa karsinogen. Kemudian Phthalate yang toksik pada sistem reproduksi dan endokrin atau hormonal. Juga kemasan berbahan plastik Polystyrene yang banyak dipakai untuk styrofoam, bisa menyebabkan karsinogen bagi manusia.
 
“Jadi, bisa digambarkan betapa pelabelan free BPA dari kemasan yang nggak ada BPA-nya itu lebih membahayakan konsumen. Memang betul plastik-plastik ini nggak ada BPA-nya, tetapi ternyata kan ada senyawa berbahayanya. Zat-zat kimia berbahaya yang ada dalam kemasannya itu sebenarnya yang harus diinformasikan dalam labelnya kepada publik. Bukan malah bangga melabeli kemasannya dengan free BPA,” ucap Nugraha.
 
Sahid Hadi, Peneliti Bisnis dan HAM Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia (UII), yang juga menjadi narasumber di acara ini mengatakan adanya kesan unsur persaingan usaha terhadap pelabelan free BPA pada kemasan yang tidak mengandung BPA seperti galon sekali pakai yang berbahan PET. “Pelabelan seperti itu terkesan tidak adil dan sangat menjatuhkan kemasan produk-produk pangan yang mengandung BPA seperti kemasan galon guna ulang,” katanya.  
 
Padahal, menurutnya, seharusnya tugas negara yang paling utama adalah untuk memastikan agar usaha air minum dalam kemasan galon itu tidak mengganggu kesehatan. Dia menuturkan AMDK galon itu tidak hanya yang galon sekali pakai tapi juga guna ulang yang semua harus diperlakukan secara adil. “Jika telah mengetahui bahwa ada banyak macam AMDK galon, negara harus memastikan agar semua jenis kemasan galon itu tidak boleh mengganggu kesehatan. Seluruh AMDK galon itu harus diidentifikasi tingkat keberbahayaannya pada kesehatan publik. Jadi, bukan hanya berfokus pada galon guna ulang saja,” ucapnya.
 
Terkait pelabelan free BPA pada galon non Polikarbonat ini, Sasmito Madrim, Ketua Umum Aliansi Independen (AJI), yang juga  menjadi pembicara menekankan pentingnya peran media dalam melindungi masyarakat dari kemasan-kemasan yang membahayakan kesehatan. Menurutnya, tujuan kode etik dan prinsip jurnalisme yang dimuat dalam Undang-Undang Pers adalah untuk kepentingan publik. “Jadi, media seharusnya menyajikan informasi-informasi yang sudah valid, terbukti kebenarannya, supaya publik kemudian bisa mengambil keputusan-keputusan yang tepat,” katanya.
 
Dia mengutarakan bahwa media itu berperan penting dalam memberikan edukasi ke publik. Persoalannya, menurutnya, pengetahuan para awak media itu sering tidak mendalam.  “Semangat temen-teman media dalam melindungi kesehatan publik itu cukup besar. Hanya memang temen-teman jurnalis atau editor, pemred atau medianya sendiri kurang teredukasi terkait apa yang ditulisnya, termasuk soal zat-zat yang berbahaya dalam kemasan pangan,” tuturnya.
 
Karena itu, dia mengusulkan perlunya kolaborasi para peneliti dengan media. Hal itu bertujuan supaya media itu memiliki “pisau bedah” yang cukup kuat ketika melihat sebuah persoalan, sehingga mereka bisa melihat masalah itu dan disampaikan ke publik dengan benar. “Sebaiknya, ada penularan ilmu dari para peneliti terkait zat-zat kimia berbahaya dalam kemasan pangan itu ke media. Hal itu bertujuan  agar para media bisa mengemasnya dalam bahasa yang sederhana ke publik dan publik menjadi terlindungi dari zat-zat berbahaya,” ujarnya.
 
Susilo Dwi Hatmanto, Ketua Badan Pengawas Periklanan Perusahaan Periklanan Indonesia (BPP-P3I) yang juga sebagai penyaji, lebih menyoroti masalah etika dalam beriklan. Menurutnya, dalam etika iklan itu ada yang namanya asas, dimana iklan dan pelaku periklanan itu harus bersikap jujur, benar dan bertanggung jawab. “Iklan produk itu seharusnya jujur, benar, dan bertanggung jawab. Jangan sampai dimain-mainkan atau ada yang disembunyikan,” tukasnya.
 
Dia mencontohkan iklan produk yang melanggar etika seperti pemuatan  artikel yang ditayangkan di sebuah media online baru-baru ini. Saat pertama ditayangkan, artikel tersebut berlaku jujur dengan menyebutkan bahwa artikelnya merupakan kerjasama dengan pengiklan. “Tapi anehnya, tiba-tiba tulisan kerjasama dengan pengiklan tersebut kemudian dicabut secara diam-diam. Ini jelas sangat melanggar etika periklanan,” katanya.
 
Dia menyampaikan bahwa iklan itu juga tidak bisa disembunyikan atau disamarkan. Artinya, tulisan itu harus secara jelas mengidentifikasikan itu adalah iklan. “Iklan itu juga tidak boleh mendiskreditkan produk pesaing seperti mengklaim free BPA padahal kemasannya tidak mengandung BPA. Ini kan jelas-jelas menjatuhkan produk-produk yang mengandung kemasan ber-BPA,” ucapnya.

**ass/rls

Mahasiswa UIKA Antusias Hadiri Seminar Qur’an

0

Bogor | Jurnal Bogor

Menjelang bulan Ramadhan, Asisten Kajian Islam (ASKI) menggelar seminar Qur’an pada Sabtu, (18/03/23) di ruang ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIKA Bogor. Kegiatan tersebut ramai dihadiri mahasiswa UIKA dari berbagai program studi.

Ketua Umum ASKI Andrian menyampaikan alasan diselenggarakannya seminar Qur’an adalah untuk semakin mendekatkan diri dengan Al-Qur’an.

“Semoga dengan adanya seminar ini kita bisa semakin dekat dengan Al-Quran, dan juga kami mengadakan seminar Al-Quran ini salah satunya ingin menyambut kedatangan bulan Ramadhan yang tentu harus ada persiapan diri baik lahir dan batin,” jelasnya.

“Antusias peserta tentunya sangat Senang sekali karna Alhamdulillah dari peserta yang hadir sangat memperhatikan materi yang disampaikan dari ust Ahmad Isrofiel Mardlatillah M.A,” tambahnya

Sementara Ustadz Mardatillah menyampaikan pentingnya Al-Qur’an bagi kemajuan islam.

“Pemuda di zaman Nabi, hampir semua usia mereka dibawah Nabi yang terdidik dan mereka tumbuh besar dengan Al-Qur’an dan dengan itu mereka membuat agama ini menjadi agama yang eksis dimanapun juga dan kaum muslimin mengerti tentang islam dengan kehebatannya, kemuliaannya, kekuatannya, dan itu semua berawal dari Al-Qur’an. 

Lebih lanjut Ustadz Mardatillah mengajak kaum muslimin untuk memperbanyak tadabbur Al-Qur’an di bulan Ramadhan

“Yuk kita gunakan momen Ramadhan ini untuk mentadaburri dan membumikan Al-Qur’an. Sama-sama kita balik lagi ke Al-Qur’an, kita hayati ayat-ayatnya, kita dalami apa isinya dan kemudian Qur’an tidak hanya menjadi wirid, tapi menjadi akhlak,” ujarnya.

** Maria Ulfah/mg-jb