28.5 C
Bogor
Wednesday, July 29, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 588

Hadits Hari Ini

0

Janganlah Mengharapkan Kematian

Sahih al-Bukhori:5874

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

لاَ يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ الْمَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ. فَإِنْ كَانَ لاَ بُدَّ مُتَمَنِّيًا لِلْمَوْتِ، فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتْ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتْ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي.

Dari Anas ra, dia berkata: Rasulullah saw bersabda:

Janganlah salah seorang dari kalian mengharapkan kematian karena musibah yang menimpanya, jika dia memang harus menginginkan kematian, hendaknya ia mengatakan: Ya Allah, hidupkanlah aku jika kehidupan itu lebih baik untukku, dan matikanlah aku jika kematian itu lebih baik untukku.

Pesan :

  1. Anjuran untuk bersabar ketika menghadapi musibah, dan tidak berputus asa dari rahmat Allah.
  2. Doa yang diajarkan Rasulullah untuk meminta yang terbaik.

Ini yang Dipersiapkan RSUD Leuwiliang

0

Bersiap jadi Rumah Sakit Pendidikan dan Cetak Nakes Berkualitas

Leuwiliang | Jurnal Bogor

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Leuwiliang Kabupaten Bogor terus bersolek untuk menjadi rumah sakit pendidikan. Direktur RSUD Leuwiliang Vitrie Winastri menuturkan, dengan menjadi rumah sakit pendidikan tentunya akan memberikan banyak keuntungan, di antaranya mencetak para tenaga kesehatan (nakes) yang berkualitas.  

Vitrie Winastri menjelaskan, fungsi rumah sakit selain pelayanan, ada pendidikan dan pengabdian masyarakat. Kini sedang diupayakan sisi pendidikannya, karena tenaga kesehatan ini harus dicetak di setiap masa. Sementara, pendidikan kesehatan itu tidak bisa hanya teori, tetapi membutuhkan tempat mengaplikasikan pengetahuan teoritis yang telah dipelajari di dalam kelas ke dalam praktik di dunia nyata.

“Artinya sangat dibutuhkan rumah sakit untuk tempat praktek atau magang. Kami menyiapkan rumah sakit ini untuk para calon nakes. Manfaatnya tidak hanya untuk mencetak para nakes yang berkualitas, tapi juga ada manfaat untuk pasien, untuk RSUD Leuwiliang khususnya, dan untuk Kabupaten Bogor pada umumnya,” jelas Vitrie dalam keterangannya dikutip dari Diskominfo, Senin (10/7).

Vitrie mengungkapkan, para dokter spesialis RSUD Leuwiliang nantinya akan menjadi pendidik atau dosen, artinya para dokter spesialis akan terus mengembangkan dan mengupdate ilmunya. Kemudian keuntungan untuk pasien, nantinya lebih banyak dipantau oleh para nakes.

“Perlu diketahui, salah satu kepuasan pasien adalah masalah komunikasi yang baik. Di bawah pengawasan kami, para calon nakes ini bisa membantu berkomunikasi mendengarkan keluhan pasien, di kala dokter utamanya punya keterbatasan waktu karena pasiennya cukup banyak,” ungkapnya.

Ia menambahkan, keuntungan untuk Kabupaten Bogor, RSUD Leuwiliang yang tadinya kelas B non pendidikan menjadi B pendidikan, berarti statusnya meningkat. Artinya Kabupaten Bogor memiliki RSUD yang dipercaya oleh asosiasi pendidikan untuk menjadi tempat mendidik para calon nakes. Tentunya, memiliki standar akreditasi dari Asosiasi Rumah Sakit Pendidikan Indonesia (ASPI).

Sebagai informasi, RSUD Leuwiliang sudah melaksanakan Memorandum Of Understanding (MOU) dengan beberapa perguruan tinggi. Di antaranya Poltekkes Bandung, Stikes Wijaya Husada Bogor, Prima Husada Bogor, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (UMBARA), kemudian SMK Prof. Dr. Moestopo. Selanjutnya sedang berproses dengan Universitas Pembangunan Nasional (UPN), IPB University, Poltekkes Tasikmalaya, SMK Cita Teknika, dan Stikes Widya Dharma Husada Tangerang.

“Selain harus mematuhi dan memenuhi semua standar ASPI, MOU dengan perguruan tinggi dan institusi pendidikan lainnya merupakan syarat untuk mendapatkan sertifikat izin untuk rumah sakit pendidikan dari Kementerian Kesehatan RI,” ujarnya.

Vitrie juga menerangkan, metode pembelajaran yang akan diterapkan nantinya yakni satu dosen atau dokter spesialis membimbing empat sampai lima mahasiswa, tidak lebih. Karena bimbingan yang dilakukan harus sesuai standar, agar dapat mencetak nakes yang berkualitas.

“Sarana dan prasarana seperti ruangan untuk beberapa bagian ahli sudah hampir lengkap. Kami optimis tahun ini perizinan RSUD Leuwiliang menjadi rumah sakit pendidikan yang kami tempuh ke Kementerian Kesehatan bisa selesai,” terangnya.

Direktur RSUD Leuwiliang, Vitrie Winastri mengungkapkan, sebelum izin keluar, nanti akan ada visitasi atau kunjungan untuk memberikan penilaian terkait kriteria yang harus dipenuhi, serta semua MOU disampaikan apakah sudah layak atau tidak,” terangnya.

Salah satu perguruan tinggi yang mewujudkan MOU dengan RSUD Leuwiliang adalah Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (UMBARA). Penandatanganan MOU dilakukan langsung Rektor UMBARA, H. Edi Sukardi bersama Direktur RSUD Leuwiliang, dr. Vitrie Winastri, Selasa (4/7).

Kehadiran Rektor UMBARA didampingi oleh Ketua BPH, Duduh Nurzaman, Ketua PD Muhammadiyah Kabupaten Bogor, Ahmad Yani, Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan dan Al Islam Kemuhammadiyahan, Naufal Ramadian, Dekan Fakultas Kesehatan dan Sains Rudi Haryono, serta dosen Gizi dan Kebidanan.

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bogor, Ahmad Yani mengungkapkan, Muhammadiyah memiliki komitmen kuat dalam bidang pendidikan dan kesehatan sebagai amal usaha utamanya, berdirinya FKS UMBARA merupakan pengejawantahan kebutuhan besar masyarakat Bogor di bidang kesehatan.

”Kami merasa bangga dapat menjalin kerjasama dengan RSUD Leuwiliang, semoga sinergitas UMBARA dan RSUD Leuwiliang dapat terjalin lebih erat ke depannya,” ungkap Yani.

Saat ini, kata Ahmad Yani, RSUD Leuwiliang sedang mempersiapkan diri menuju rumah sakit pendidikan, sehingga jalinan kerjasama UMBARA dan RSUD Leuwiliang sejalan dengan rencana strategis yang telah disusun oleh RSUD Leuwiliang.

“Amal usaha unggulan Muhammadiyah di bidang pendidikan dan kesehatan selaras dengan core business rumah sakit, sejalan dengan peran rumah sakit dalam pengabdian masyarakat serta kolaborasi pentahelix,” tutur dia.

** yev

Pembalikan Makna Fakta Sejarah G 30 S PKI Tahun 1965

0

JURNALINSPIRASI.CO.ID – Menarik menonton dan mendengar pernyataan Sikap Aliansi Para Ulama dan Tokoh Pemimpin Masyarakat Jawa Timur bahwa mereka menolak terbitnya Kepres RI Nomor 17 thn 2022 dan Inpres RI Nomor 2 thn 2023 tentang “Inventarisasi Peristiwa Pelanggaran Berat Hak-hak Azazi Manusia” termasuk peristiwa Gerakan 30 S PKI di dalamnya.

Setelah melihat, mendengar dan menyimak isi pernyataan para ulama dan tokoh pemimpin masyarakat tersebut, saya tergelitik untuk bernarasi tentang persoalan dan permasalahan sosial politik nasional ini.

Dengan harapan semoga dengan membaca narasi ini, kita lebih meningkatkan kewaspadaan nasional dalam menghadapi adanya gejala sosial politik yang berpotensi melahirkan ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan (ATHG) terhadap  Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKR)I yang sama-sama kita cintai dan eksistensinya harga mati, terutama waspada bangkitnya bahaya laten komunisme, kaum ateis PKI di Indonesia yang ideologinya bertentangan dengan sila pertama Pancasila yakni Ketuhanan Yang  Maha Esa.

Menurut pendapat saya, keberlanjutan eksistensi NKRI itu terletak pada 2 pilar utama yakni (1) Ummat Islam Indonesia dibawa komando para ulama dan (2) ABRI yang solid dengan Sapta Marganya dibawa komando TNI.

Kita sangat paham sikap dan politik TNI setia membela tegak dan kokohnya NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Sedangkan elemen yang lainnya biasanya hanya mengikuti saja alias pendukung setia TNI, bahkan memang ada yang aktor pengganggu, akan tetapi sikap benalu, munafiq mereka tersebut tak seberapa kekuatannya. Akhirnya juga kalah oleh TNI yang berkekuatan senjata, yang berpegang teguh pada falsafah dan ideologi negara Pancasila.

Ingat jasa tokoh Islam, terutama para ulama bahwa komitmen merawat dan mempertahankan NKRI tidak pernah padam, tidak diragukan lagi. Fakta sejarah lahirnya NKRI adalah megakarya dari Perdana Menteri RI dan Pahlawan Nasional bpk Dr.Muhammad Natsir, sebagai pemimpin/Ketua Umum Partai Masyumi.

Partai Masyumi itu kemudian dibubarkan Presiden RI Ir.Soekarno yang waktu itu dekat dengan PKI, yang kemudian Soekarno memunculkan konsep Nasakom dalam bernegara, ujungnya membuahkan terjadi peristiwa kudeta berdarah, dengan sebutan G 30 S PKI yang membunuh para Jenderal TNI. Dan waktu-waktu sebelumnya juga, PKI demikian banyak membantai para ulama, terutama ulama NU di Jawa Timur yang dibunuh PKI pada peristiwa pemberontakan PKI thn 1948 di Madiun Jawa Timur.

Juga kita jangan lupa sejarah pertempuran tanggal 10 November 1945 yang menewaskan pemimpin tentera KNIL Belanda, Jenderal Malabay dkk, peristiwa pertempuran itu kini diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional.

Sedangkan hari keluarnya fatwa jihad fisabillillah berperang mengusir penjajah Belanda, yang ingin menjajah kembali itu gagal, sekarang diperingati sebagai Hari Santri Nasional yang diputuskan era Presiden RI bpk Jokowi. 

Atas berkat Rahmat Allah SWT dengan pekikan Allahu Akbar yang menggema oleh Bung Tomo, disertai keluarnya fatwa jihad dari ulama besar/ Hadratsusyeh KH Hasyim Asyari, pendiri ormas Islam NU, pertempuran dapat dimenangkan rakyat Indonesia, yang notabenenya terdiri dari para ustadz, kiyai dan santri yang berasal dari Ponpes.

Sehingga sangatlah wajar munculnya sikap penolakan para ulama dan tokoh masyarakat Jawa Timur atas terbitnya Kepres dan Inpres Presiden RI bpk Jokowi yang “membela PKI”,  bertolak belakang yang merupakan pembalikan dari fakta sejarah bahwa  peristiwa penghianatan G 30 S PKI terhadap NKRI itu adalah pelanggaran HAM berat.

Ini perbuatan ngawur the ruling party, dan mereka berpura-pura lupa perjalanan sejarah kebangsaan, dan teganya mereka melakukan perbuatan pembalikan fakta dinamika sejarah Indonesia yang sebenarnya.

Makna dengan terbitnya Kepres RI Nomor 17 thn 2022 dan Inpres RI Nomor 2 thn 2023 yang ditandatangi Presiden RI bpk.Jokowi tersebut semakin jelas posisi berada dimana, sehingga konsekwensinya TNI/ABRI yang dibunuh 6 orang jenderal TNInya oleh PKI pada thn 1965 di lubang.Buaya Jakarta Timur itu, kemudian TNI membalas, menumpaskan G 30 S PKI dibawa komondo Pangkostrat Letjen Soeharto di waktu itu dalam rangka penyelamatan negara.

Kini oleh rezim yang berkuasa disimpulkan sebagai pelanggaran HAM berat dan konsekwensinya TNI berkewajiban meminta maaf kepada keluarga PKI…ahistoris dan edan. Munculnya Kepres dan Inpres RI tersebut semakin memperjelas siapa itu Jokowi ?

Sebuah keputusan Presiden RI yang ngawur, tak masuk akal, a historis alias edan. Sebagai WNI yang setia pada NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 kita wajib mendukung sikap Aliansi para Ulama dan Tokoh Masyarakat Jatim yg telah menolak isi Kepres RI Nomor 17 thn 2022 dan Inpres RI Nomor 2 thn 2023 yang vedeonya sudah viral di media sosial sejak tgl 8 Juli 2023 tersebut.

Apa  yang diungkapkan diatas itu adalah fakta sejarah, tidak boleh dihilangkan.(delate) oleh Rezim yang  berkuasa (the ruling party) sekarang ini. Regim penguasa saat ini janganlah lupa ingatan dan atau berpura-pura lupa pada fakta sejarah. Jangan lupakan sejarah ..”Jasmerah..”pesan moral dan ideologis, istilah.yang dilontarkan dalam pidato politik bapak  Ir. Soekarno, Presiden RI pertama.

Hal Itu barang tentu merupakan perbuatan hina dan penghianatan terhadap bangsa dan negara. NKRI ini,  susah payah diperjuangkan, dijaga, dirawat dan diisi kemerdekaan RI oleh para ulama, kiyai dan tokoh bangsa, dengan korbanan harta dan bahkan nyawa. Ingat moto perjuangan para pahlawan bangsa.,.”Merdeka atau Mati”

Misalnya sebut saja, di daerah Bogor ada seorang ulama besar yang  patriot sejati itu, beliau adalah alm KH Soleh Iskandar, tokoh politik.Masyumi, yang pernah dipenjara tanpa proses peradilan di era Orde Lama atas hasutan dan fitnah PKI.

Almarhum KH Soleh Iskandar selain memimpin sebagai Komandan perang pasukan TNI Brigade O Siliwangi Banten berpangkat Kapten  dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Ri.dari serangan tentera penjajahI, serta pernah menjadi Komandan Kodim di Rangkasbitung Banten di awal masa kemerdekaan RI  dan telah pensiun darI TNI, almarhum memiliki sejumlah karya kemanusiaan yang bermanfaat bagi rakyat dan bangsa Indonesia dalam rangka megisi kemerdekaan RI seperti berdirinya kampus UIKA Bogor Kota Bogor, Ponpes Darul.Falah Ceampea, RS Islam Bogor Kota Bogor, BPRS Amanah Ummah Lw Liang Bogor Barat  BKSPP Indonesia, Ponpes Darul Muttaqien Parung, Ponpes Khairun Nisa Bt Kemang, Perumahan Rakyat Desa Pasarean Bobar, DPP Legiun Veteran RI dll. Atas dasar sejumlah karya kebangsaan dan keumatan tersebut, kami sedang memperjuangkan sebagai Pahlawan Nasional.

Demikianlah sekelumit fakta sejarah bahwa NKRI itu pilarnya adalah umat Islam Indonesia bersama TNI yang lahir dari Rakyat. Istilah lainnya “ABRI manunggal dengan Rakyat”. Sekian  narasi ini dibuat untuk meningkatkan kewaspadaan nasional, semoga Allah SWT senantiasa melindungi dan menyelamatkan NKRI yang sama-sama kita cintai ini terhindar dari anasir-anasir jahat dan perbuatan tangan-tangan seitan yang terkutuk Aamiin-YRA.
Syukron barakallah.
Wassalam

Penulis:
Dr.Ir.H.Apendi Arsyad, M.Si
(Anggota TP2PG Kota Bogor, Pendiri dan Dosen Senior Universitas Djuanda Bogor, Pendiri dan Ketua Wanhat ICMI Orwil Khusus Bogor, Wasek Wankar ICMI Pusat, Pegiat dan Pengamat Sosial)

Dua KRL Desa Ciangsana Dapat Baktor dari Fathoni

0

Gunung Putri | Jurnal Bogor

Salurkan bantuan aspirasinya sebagai Anggota DPRD Kabupaten Bogor Achmad Fathoni gandeng Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor untuk menyalurkan dan membagikan bantuan kepada Kampung Ramah Lingkungan (KRL) yang aktiv dan mau berkembang. Seperti yang diberikan kepada 2 KRL yang ada di Desa Ciangsana, Gunung Putri, Kabupaten Bogor.  Yang diberikan alat-alat pendukung seperti Bak Motor, Mesin Potong Rumput, dan Bor Tanah Biopori.

“Dalam Program di titik ke-11, 12 dan 15 Desa Ciangsana ini diserahkan 2 Baktor Roda 3 Merk Viar, 1 Gerobak sampah, 3 mesin potong rumput, 1 mesin bor tanah, 3 bioflog dan 3 rak tanaman,” ungkap Fathoni sapaan akrabnya kepada Jurnal Bogor, Senin (10/7/23)

Achmad Fatoni menyebut,  baktor diberikan untuk KRL Cinta RW 21 dan KRL Cantik 20 Komplek TWP TNI-AL, sedangkan Gerobak sampah untuk KRL Cerdass VNI 5. Menurutnya, Program ini untuk memberi apresiasi bagi para pegiat lingkungan melalui KRL yang sudah sukarela menjaga lingkungannya. Ini juga dimaksudkan untuk memberi semangat dan menstimulus KRL untuk terus berkembang, inovatif dan kompak dalam mengelola sampah dan lingkungannya.

“ Saya berharap bisa dilanjutkan dengan sosialisasi ke warga dan kegiatan-kegiatan atau program-program  inovatif lainnya, sehingga bisa terwujud impian saya yaitu Desa atau Lingkungan Mandiri Kelola Sampah,” kata Politisi PKS tersebut.

Sementara, Ketua KRL Cinta Enny Musfiroh S yang juga istri dari Dewan Achmad Fathoni, Ketua KRL Cantik Dewi Lestari dan Ketua KRL Cerdass diwakili Bu RW 13 menyampaikan rasa terima kasihnya dan siap memenuhi harapan serta impian untuk menjadikan lingkungannya mandiri kelola sampah.

“ Saya ucapkan terimakasih kepada Dewan Achmad Fathoni yang sudah menganggarkan dana aspirasinya untuk memfasilitasi kebutuhan KRL. Sehingga, kami yang tadinya hampir putus asa karena tidak ada support untuk kegiatan kami dalam menjaga adan mengelola lingkungan, kini bisa semangat kembali,” ucap Enny.

“ Ya, semoga yang memberikan bantuan dan perhatian kepada KRL bukan hanya Dewan pak Achmad Fathoni saja, tapi dewan lain juga yang ada di Dapil 2. Karen ajika semuanya bisa peduli dan memfasilitasi KRL saya rasa desa bersih sampah itu bisa lebih cepat terwujud, saya Bapak Dewan bisa terus memperjuangkan aspirasi warga Kabupaten Bogor,” pungkasnya.

** Nay Nur’ain

Keren, Peraih Juara 1 MHQ Tingkat ASEAN Putri Asal Desa Gunung Putri

0

Gunung Putri | Jurnal Bogor

Luar biasa, itulah sebutan yang layak untuk Desa Gunung Putri pada masa kepemimpinan Daman Huri. Dimana bukan hanya desanya yang menjadi primadona karena segudang prestasi, melainkan warganya pun turun meraih prestasi tingkat ASEAN dengan membawa harum nama Indonesia pada Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ).

Kepala Desa Gunung Putri, Damanhuri mengucapkan terimaksih atas prestasi yang ditorehkan oleh Ananda Salsabila, warga RT 02,RW 13 karena telah berhasil mengharumkan bukan hanya nama Desa Gunung Putri melainkan nama Indonesia. Mengingat, MHQ yang diikutinya merupakan tingkat ASEAN dan dirinya berhasil meraih Juara 1 dengan mengalahkan peserta dari Singapura, Malaysia, Indonesia dan Laos.

“Saya sangat bangga dengan prestasi yang diraih oleh Ananda Salsabila. Tak tanggung-tanggung Juara 1 tingkat ASEAN disabet olehnya, ini terbukti bahwa di Desa Gunung Putri itu banyak bibit unggul yang akan memajukan desa ini kedepannya,” ungkap A Heri sapaan akrabnya kepada Jurnal Bogor, Senin (10/7/23).

A Heri menyebut, untuk para orang tua yang saat ini anaknya sedang mengikuti perlombaan apapun yang posistif, untuk intens komunikasi denngan desa. Sekiranya, desa bisa memberikan bantuan dan support yang dibutuhkan. Bukan hanya dilihat dari nilai rupiah, tapi support perhatian pun mampu mendongkrak semangat para pejuang prestasi di Desa Gunung Putri.

“Sekali lagi saya ucapkan terimakasih kepada Ananda Salsabila. Jangan mudah puas dengan prestasi yang diraih, terus asah kemampuan, dan semoga apa yang dicita-citakan bisa terwujud. Ingat, kamu bukan hanya membuat bangga orang tua yang sudah membesarkan mu, namun kamu juga membuat saya bangga sebagai pemimpin di desa ini. Karena ternyata banyak mutiara di Desa Gunung Putri namun tidak terlihat dan luput dari perhatian selama ini,” cetusnya.

Sementara, Peraih Juara 1 Lomba MHQ Tingkat ASEAN, Ananda Salsabila mengatakan dirinya tidak menyangka bisa meraih juara 1 tingkat ASEAN. Pasalnya, MHQ yang didikutinya merupakan keisengannya mendaftarkan diri via online, namun ternyata dirinya lolos verifikasi dan berhasil meraih juara 1.

“Lawannya itu ada dari Malaysia, Indonesia, Singapura, dan Laos. Dan alhamdulilah saya berhasil meraih juara 1. Kejuaraan ini saya persembahkan khusus untuk kedua orang tua saya, serta untuk semua pihak yang sudah membantu dan mensupport saya sampai ke titik ini,” papar siswi  kelas 12 SMU Plus PGRI Cibinong jurusan IPA.

Putri dari pasangan Prasetyo Wibowo dan Epiyanti tersebut juga mengucapkan terimakasih kepada Kepala Desa Gunung Putri Damanhuri yang sudah mensupport dengan menyambut saat dirinya berangkat sampai pulang, begitu juga untuk Kepala Sekolah SMU Plus PGRI Cibinong, serta rekan-rekan dan semua yang terlibat.

“Berawal dari hobi sejak usaia 5 tahun, saya sudah menggeluti lomba-lomba MHQ dari tingkat yang paling bawah sampai pencapaian saat ini. Kedepannya saya berharap bisa mendapatkan beasiswa untuk kuliah diluar negeri dari pemerintah. Dan saya pun akan berusaha lebih baik lagi untuk kedepannya,” pungkasnya.

** Nay Nur’ain

Warga Nyungcung Malasari Ingin Pulang dari Malaysia Menyebar di WA

0

Nanggung | Jurnal Bogor

Informasi keinginan pulang seorang ibu dari negara Malaysia yang mengaku warga Kampung Nyungcung, Desa Malasari, Nanggung, Kabupaten Bogor menyebar luas di WhatApps (WA). Dia Sudah sepuluh tahun hilang kontak dengan keluarga.

Dalam foto di WA dinarasikan tidak memiliki identitas diri sehingga tidak bisa pulang dan jika mengurus paspor di Kedutaan harus ada keterangan dari desa asalnya.

“Assalamualaikum…tadi aku ke kedutan ngurus pasport..ketemu orang Bogor mau pulang gak bisa..soalnya nggak punya identitas diri… hilang kontak sama keluarga…sudah 10 tahun lebih di Malaysia,” dikutip dari narasi yang beredar di perpesanan WhatsApp, Senin (10/07/2023).

Sementara, kabar itu dibenarkan oleh warga dan pemerintah desa Malasari.

“Iya di grup-grup WhatsApp pun jadi perbincangan,” katanya saat dihubungi wartawan.

Dia mengatakan, bahwa keluarganya saat ini sudah mengetahui informasi tersebut. Bahkan, Sukiyah yang berada di Malaysia itu sudah dikabarkan meninggal dunia.

“Masih keluarganya di Kampung Nyungcung. Dan sudah diisukan meninggal karena 10 tahun tak ada kabar berita,” bebernya.

Kebenaran informasi itu juga disampaikan oleh Pemerintah Desa Malasari melalui Staf Desa Uchu, bahwa warganya yang sudah puluhan tahun itu sudah ada kabar baik.

“Bener udah nyambung sama keluarganya sekarang lagi proses pengurusan,” katanya.

** Andres

Marak Spanduk Caleg Kinerja Panwas Dipertanyakan

0

Cileungsi | Jurnal Bogor

Masa kampanye para calon anggota DPRD tingkat kabupaten, provinsi maupun pusat memang belum dimulai. Namun, spanduk dan baliho para calon wakil rakyat tersebut sudah bertebaran dimana-mana, khsususnya lokasi yang banyak dilintasi dan dikunjungi oleh masyarakat.

Keberadaan spanduk dan baliho ilegal ini tentunya menjadi bukti kinerja dari Panitia Pengawas Tingkat Kecamatan yang belum maksimal. Padahal, keberadaan spanduk dan baliho bernuansa kampanye tersebut harus ditertibkan.

“Sejak januari sebenarnya Panwas sudah harus bekerja dalam melakukan pengawasan serta menindaklanjuti berbagai pelanggaran yang dilakukan oleh para calon anggota legislatif. Yang paling umum adalah curi start kampanye dengan memasang spanduk dan baliho di tempat umum bukan pada saat kampanye adalah pelanggaran yang harus ditindak dan ditertibkan,” kata salah satu warga Cileungsi yang juga mantan Panwascam, Iwan kepada Jurnal Bogor, Senin (10/7/23).

Menurut dia, secara kasat mata sudah banyak tindak pelanggaran yang dilakukan oleh para calon anggota legislatif yang memasang spanduk dan baliho di tempat umum. Karena untuk para calon anggota legislatif untuk saat ini belum diperbolehkan untuk kampanye.

“Kalau statusnya caleg sekaligus ketua partai tingkat kecamatan atau kabupaten itu masih diperbolehkan. Tapi kalau bukan pengurus partai dan di spanduk terdapat tulisan calon anggota legislatif maka itu sudah jelas pelanggaran,” ujarnya.

Terkait kewenangan dalam melakukan penertiban, Iwan mengatakan, ranah pengawasan dan penindakan terhadap setiap dugaan pelanggaran pemilu merupakan kewenangan panwas. Namun dalam prakteknya, Panwas bisa berkordinasi dan bekerjasama dengan pemerintah dalam melakukan penertiban.

“Kalau ranah penindakan itu tentunya menjadi ranah Panwas. Namun bisa saja bekerjasama dengan instansi terkait jika ingin melakukan giat atau penindakan penertiban baliho atau spanduk,” tukasnya.

** Taufik / Nay

Persoalan Izin Praktik Dokter Melebar ke Dinkes

0

Genpar Bakal Bongkar Semua Dugaan Kebobrokan Pengawasan

Leuwiliang| Jurnal Bogor

Permasalahan izin praktik dokter di Jl.Moh Noh Nur, Neglasari, RT 01 RW 04, Desa Leuwimekar, Leuwiliang, Kabupaten Bogor melebar ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor. Kebobrokan pengawasan menjadi permasalahan di Dinkes sehingga perihal izin praktik itu menjad pintu masuk Genpar menyoroti permasalahan tersebut.

“Dalam Informasi  yang saya dapat pada 7 Juli 2023, kita menilai bahwa ini adalah pintu gerbang kami untuk membongkar semua permasalahan di Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor,” kata Ketua Umum DPP LSM Genpar Sambas Alamsyah, Senin (10/7/2023).

Sambas menilai, dari hasil analisa kajian data dan penelitian serta informasi yang dihimpun Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat (Kapuskesmas) Leuwiliang, terkesan gagal paham dengan apa yang menjadi maksud dan tujuan hal yang sedang disikapinya.

“Apa yang dilakukan dan disampaikan oleh dr. James  maupun pembenaran yang disampaikan pihak terkait kepada salah satu media online pada tanggal 7 Juli 2023 dengan tajuk “Ka Puskesmas Leuwiliang Ungkap Ijin Praktek dokter Luhurul Amri” jelas memaparkan ketidakpahaman pokok permasalahan yang sedang disoroti,” beber Sambas.

Kendati begitu dia menjelaskan pernyataan Kapus Leuwiliang dan pihak terkait akan membuka permasalahan yang baru.

“Pembenaran itu sah-sah saja. Namun di sini kami menilai bahwa penyampaian dr. James maupun pihak terkait jelas menuai permasalahan baru,” kata Sambas.

Dia menegaskan, pihaknya akan membongkar semua dugaan dengan data yang dimilikinya.

“Berangkat dari kasus ini kami akan bongkar semua dugaan kebobrokan di Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor antara lain dari sisi pelayanan yang tidak sesuai aturan, sistem pengawasan, hingga rekomendasi perizinan,” tegasnya.

Diberitakan sebelumnya pimpinan dokter pemilik bangunan praktik kedokteran di Jl.Moh Noh Nur, Kampung Neglasari, RT 01 RW 04, Desa Leuwimekar, Leuwiliang, Kabupaten Bogor dilaporkan dugaan pelanggaran administrasi karena mempekerjakan dokter LA yang diduga tak memiliki izin praktik dokter oleh LSM Genpar.

“Yang dilakukan Genpar bukan tanpa dasar. Namun temuan tim investigasi dan fakta yang akurat ditemukan dr LA dipekerjakan (pimpinan pemilik bangunan) yang telah melakukan pelanggaran

perbuatan melawan hukum,” kata Ketua Umum Genpar Sambas Alamsyah, Rabu (5/7).

Sambas menegaskan apa yang dilakukan pimpinan dokter LA telah melanggar UU RI No.29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran. Genpar pun melayangkan surat aduan tertanggal 04 Juli 2023, dengan

nomor surat 012/s-PENG/DPP-GNP/izin praktik/VII/2023 LSM ke Polres Bogor dengan tembusan ke Dewan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK), Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten

Bogor, DPMPTSP Kabupaten Bogor, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor.

Selain itu tembusan aduan juga dilayangkan ke lintas instansi lainnya ke Kasat Pol PP Kabupaten Bogor, Kepala Puskesmas Leuwiliang, Kapolsek Leuwiliang, Danramil Leuwiliang, dan Camat Leuwiliang. Dengan tegas Genpar melayang surat aduan tersebut.

“Sudah jelas dalam Undang-undang Pasal 42, pimpinan sarana pelayanan kesehatan dilarang mengizinkan dokter atau dokter gigi yang tidak memiliki surat izin praktik untuk melakukan praktik

kedokteran di sarana pelayanan kesehatan. Pasal 80 ayat 1 setiap orang yang dengan sengaja mempekerjakan dokter atau dokter gigi sebagaimana dimaksud dalam pasal 42 dipidana dengan pidana

penjara paling lama 10 tahun atau denda paling banyak Rp300.000.000,” jelas Sambas.
Sementara itu pimpinan dokter LA ketika dikonfirmasi belum bisa memberikan keterangannya perihal aduan dari Genpar tersebut.

** Andres

Warga Babakan Lapangan Resah Sering Kehilangan Uang

0

Cibungbulang | Jurna Bogor

Sejumlah warga di wilayah Kampung Babakan Lapangan RT 01 RW 05, Desa Cimanggu Dua, Cibungbulang, Kabupaten Bogor, akhir-akhir ini mengaku resah akibat seringnya kehilangan uang. Namun sayang, pencurian uang itu tidak meninggalkan jejak apapun.

Tia (28) seorang warga yang tinggal di kampung tersebut mengatakan, dirinya juga pernah mendengar informasi banyak warga lainnya yang kehilangan uang secara tiba-tiba di rumahnya.

“Belum lama ini saya dengar informasi di blok RT 01 RW 05 ada sekitar 3 orang yang kehilangan uang. Dari ratusan ribu sampai ada yang 4 juta. Kata orang sih kalau begitu suka ada babi ngepet,” kata Tia kepada wartawan, Minggu (9/7/2023).

Sementara salah satu warga Nur (30) yang telah merasakan kehilangan uang, mengungkapkan bahwa dirinya pernah kehilangan uang sebesar 1 juta rupiah. Padahal uang itu disimpan dengan baik dan rencananya untuk membayar pajak.

“Iya bener saya pernah kehilangan uang 1 juta rupiah. Saya heran aja, kalau uang itu dicuri maling atau rampok pasti ada bekas pintu atau jendela rusak yang dibobol. Tapi ini nggak ada tanda – tanda kerusakan, saya ngerasa sih ini ada babi ngepet,” ungkap Nur.

Senada, warga lain Rudi (30) mengaku sudah dua kali kehilangan uang. Yang pertama sebesar 2 juta, yang kedua 400 ribu rupiah. “Awalnya saya pikir uang itu dipakai sama istri, namun saat dia saya tanya, katanya engga pakai,” ucap Rudi.

Ia juga menyampaikan, dari beberapa informasi yang ia terima bahwa ada beberapa orang yang pernah melihat hal ghoib atau penampakan makhluk halus.

Bahkan, lanjutnya, ada beberapa orang yang pernah melihat pocong di sekitar lingkungan yang warganya seringkali kehilangan uang (Babakan Lapangan).

“Katanya sih kalau ada hal-hal yang begituan (mistis), biasanya suka ada yang nyegik atau pesugihan ke babi ngepet atau tuyul,” tuturnya.

** Andres

Kementan Bangun Pertanian dengan Pendekatan Baru

0

Ciawi | Jurnal Bogor

Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan pendekatan baru dalam membangun dunia pertanian agar makin maju, modern dan mandiri. Hal itu diungkapkan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo saat membuka Pelatihan Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tk.II Angkatan XXV di PPMKP Ciawi, Senin (10/7/2023).

Menurutnya, di era digital saat ini, dunia pertanian tak bisa terhindar lagi dari digitalisasi sistem sehingga Kementan sekarang ini lebih condong melakukan Standard Operating Procedure (SOP) sebagai acuan dalam melakukan proses pekerjaan.

“SOP-SOP di pertanian, termasuk proyek, program, perizinan dan lain-lain dilakukan dengan itu. Kalau dengan ini (SOP) mudah dikontrol dan kalau bias dia akan rejeck secara langsung,” jelas Mentan.

Dia menegaskan, proses digitalisasi sistem dengan SOP itu terus dilakukan di era baru sekarang. Kementan saat ini jelasnya telah terdukung berbagai pihak untuk membangun dunia pertanian yang maju, modern dan mandiri. “Sekarang fisik to fisik tidak utama lagi, yang ada sekarang adalah SOP. Nah, kita bangun kebersamaan ini agar pertanian bisa lebih baik lagi,” jelasnya.

Mengenai Pelatihan Pelatihan Kepemimpinan Nasional dengan tema mewujudkan sinergitas mendukung ketahanan pangan nasional, Mentan Syahrul Yasin Limpo mengingatkan agar ending dari pelatihan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat.

“Jadi jangan pelatihan ini untuk naik pangkat saja. Tidak. Sekarang yang ikut pelatihan ini akan jadi pemimpin, jadilah pemimpin yang membela kepentingan masyarakat. Rakyat kecil, itu yang utama,” tandasnya.

Mentan juga mengingatkan sektor pertanian begitu penting karena urusannya untuk memberikan makan rakyat sehingga upaya-upaya dunia pertanian harus lebih produktif dan kompetitif. Dia mencontohkan pada pandemi Covid-19 lalu, pertanian menjadi sektor yang bertahan bahkan tumbuh dibanding sektor lain yang rontok.

“Pertanian tumbuh 16,24 persen. Ini pencapaian yang luar biasa ditengah situasi sulit. Kita juga bisa ekspor,” jelasnya.

Untuk itu, sektor pertanian tak bisa dipandang sebelah mata karena eksistensinya urgen. Mentan Syahrul Yasin Limpo juga mengingatkan peserta pelatihan agar mengikuti perkembangan dunia pertanian. “Kalau tidak melek, ketinggalan zaman kita,” tandasnya.

** Asep S.Sayyev