28 C
Bogor
Friday, April 10, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 456

Mafia Tanah Gerilya Jual Lahan Bekas Gedung Garuda

0

Cileungsi | Jurnal Bogor
Praktik jual beli lahan milik negara hingga kini masih terus berlangsung di lahan bekas gedung Garuda di Kecamatan Cileungsi. Lahan yang dulu berdiri wisma atlet yang diberi nama Garuda Tiara kini berubah wujud jadi kawasan permukiman yang diduga ilegal.

Hal itu dapat dilihat dari banyaknya rumah tinggal yang tidak berizin dan bangunan tempat hiburan yang berdiri kokoh lantaran menggunakan bahan bangunan permanen.

Ironisnya praktik jual beli lahan negara ini seakan luput dari perhatian pemerintah lantaran tidak adanya tindakan apa pun guna mengantisipasi semakin menjamurnya kawasan permukiman di lokasi tersebut.

“Dulu lokasi ini adalah gedung atlet yang jelas punya negara. Otomatis lahannya juga punya negara karena tidak dikelola oleh swasta. Walaupun gedungnya sudah tidak ada tetapi tanahnya kan masih ada dan tetap punya negara. Lalu kenapa tanah negara ini bisa diperjual belikan. Apa namanya kalau bukan mafia yang bisa menjual lahan negara,” kata salahsatu Warga Cileungsi, Imran kepada Jurnal Bogor.

Menurut dia, praktik jual beli lahan tersebut dilakukan secara sistematis dan termanajemen dengan baik. Hal itu lantaran proses jual beli tidak dilakukan secara sporadis melainkan dikelola oleh sekelompok orang. Sejauh ini, lanjutnya sudah terdapat puluhan bagunan ilegal yang menjadi bukti proses jual beli lahan tersebut terjadi dan tetap berlangsung.

“Sekarang bagaimana mungkin orang berani bangun rumah secara permanen kalau tidak merasa memiliki lahan tersebut. Berati memang yang menjual tanah ini benar-benar bisa meyakini pembelinya kalau lahan tersebut tidak bermasalah. Dan ini nantinya akan menjadi bom waktu dan akan menjadi potensi konflik di masa yang akan datang,” ujarnya.

Imran menegaskan, keberadaan kawasan permukiman ilegal tersebut harus segera mendapat penanganan dari pemerintah. Hal itu perlu dilakukan agar proses penjualan lahan negara tersebut tidak terus terjadi.  Karena jika didiamkan, maka yang akan terjadi adalah semakin banyak bangunan liar yang berdiri, kepala keluarga semakin banyak dan akan menyulitkan jika dilakukan penertiban.

“Pemerintah harus segera turun tangan dan melakukan tindakan tegas. Jangan sampai masalah ini semakin membesar dan sulit untuk ditertibkan,” tukasnya.

Sementara itu, Pengawas Bangunan Cileungsi, Agus mengatakan, pihaknya akan berkordinasi dengan instansi terkait seperti BPN dan Satpol PP untuk menentukan langkah yang akan diambil oleh pemerintah daerah.

“Nanti kita agendakan sidak ke lokasi untuk melakukan pendataan terkait bangunan liar tersebut dan akan kita kordinasikan dengan instansi lain untuk langkah selanjutnya,” ujar Agus.

** fk

Gus M: Jangan Ada Mark Up di Proyek Toilet Rp200 Juta

0

jurnalinspirasi.co.id – Komisi IV DPRD Kota Bogor yang membidangi bidang pendidikan angkat bicara terkait pembangunan toilet SMPN 9 Bogor dan SMPN 17 Bogor, yang memakan anggaran masing-masing kurang lebih Rp200 juta.

Ketua Komisi IV DPRD Kota Bogor, Akhmad Saeful Bakhri (Gus M) berpesan, agar Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor agar tidak menambahkan harga satuan atau mark up dalam pembangunan toilet ini.

Ia mengaku, telah melihat Rencana Anggaran Biaya (RAB), beserta gambar desain eksterior dan interior yang direncanakan Disdik Kota Bogor. Dimana spesifikasi bangunan dan sistem sanitasi yang digunakan mengadaptasi desain kekinian.

“Tapi, tetap saja kita berharap harga satuan yang digunakan sesuai dengan standar biaya dan wajar tanpa ada mark up,” ujar Gus M kepada wartawan, Rabu (4/10).

Politikus Partai PPP ini menilai, perencanaan pembangunan toilet baru ini lebih inovatif, dibandingkan dengan toilet lainnya. Namun, ia meminta Disdik juga tetap memperhatikan sarana dan prasarana penunjang pendidikan yang lain.

Gus M mengaku, telah memperingatkan Disdik Kota Bogor untuk lebih berhati-hati dalam perencanaan dan pembangunan sarana dan prasarana sekolah. Jangan sampai apa yang dilakukan Disdik justru malah menjadi kesempatan oknum untuk meraih keuntungan.

“Penambahan kebutuhan untuk penunjang sarana dan prasarana di sekolah yang diharapkan memberikan kenyamanan bagi kegiatan belajar dan mengajar, malah menjadi bumerang bagi Disdik untuk meraup keuntungan oknum,” pungkas dia.

Diketahui, proyek pembangunan toilet SMPN 17 dikerjakan oleh CV Citra Megah Konstruksi, sementara toilet SMPN 9 dikerjakan CV Makmur Sejahtera senilai Rp199.960.944.

Sebelumnya, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor akhirnya buka-bukaan terkait pembangunan toilet seharga Rp 200 juta di SMPN 17 serta SMPN 9 Kota Bogor.

Disdik Kota Bogor menjelaskan, jika pembangunan toilet 200 juta ini sudah sesuai spesifikasi dan disesuaikan dengan konsep kekinian.

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana pada Disdik Kota Bogor, Sultodi Mahbub menjelaskan, konsep kekinian ini diwujudkan dengan fasilitas toilet yang saat ini dibangun.

“Yang kita bangun toilet bukan WC. Berdasarkan standar teknis tata ruang, bangunan terdiri dari WC, bisa difungsikan jadi bangunan, tempat mandi, fasilitas cuci tangan dan cuci muka,” ungkap Sultodi saat mendatangi SMPN 9 Kota Bogor.* Fredy Kristianto

50 Pelaku UMKM Diberi Bantuan Tablet

0

jurnalinspirasi.co.id – Sebanyak 50 pelaku UMKM Kota Bogor menerima bantuan dalam rangka meningkatkan kapasitas bidang literasi dan inklusi keuangan.

Bantuan yang diberikan berupa tablet yang dilengkapi dengan aplikasi Satu POS yang bakal membantu bidang finansial dalam pelaporan serta pengelolaan keuangan para pelaku UMKM Kota Bogor.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor, Syarifah Sofiah, Perwakilan Bank Mizuho Indonesia, Yuliani Taufan dan Ketua REKA Bogor, Georgian Marcello secara simbolis menyerahkan tablet kepada 10 dari total 50 peserta.

“Kegiatan ini bentuk kolaborasi REKA Bogor dengan Bank Mizuho untuk membantu pengelolaan dan transaksi keuangan sebagai penguatan bagi para pelaku UMKM Kota Bogor di dalam pelaporan serta pengelolaan keuangannya,” kata Sekda di Auditorium Bogor Creative Center (BCC), Jalan Ir. H. Juanda, Kota Bogor, Rabu (4/10/2023).

Kegiatan tersebut sambung Syarifah diperlukan dan sejalan sehingga ke depan diharapkan UMKM Kota Bogor tidak hanya bagus kualitas produknya, tetapi juga bagus dalam pengelolaan maupun manajemen keuangannya.  Kerja sama yang ada juga diharapkan berkelanjutan.

Secara geografis kata dia, Bogor beruntung ada di interline Jakarta yang merupakan pusat ekonomi terbesar sekaligus magnet atau epicentrum sehingga ini kesempatan terbaik. Namun tantangan yang dihadapi adalah mengkurasi UMKM agar kualitasnya maupun kuantitasnya lebih baik hingga keuangannya.

Ketua REKA Bogor, Georgian Marcello menyatakan, meningkatkan kapasitas UMKM Kota Bogor tidak hanya oleh dinas terkait, tetapi sebagai forum ekonomi kreatif, REKA Bogor berkeinginan membantu agar para pelaku UMKM menjadi kreatif, salah satunya meningkatkan kapasitas dalam bidang finansial.

“Dengan laporan yang sudah bagus dan lebih baik, melalui program tersebut para pelaku UMKM yang dibina REKA akan dikoneksikan dengan permodalan. Untuk kegiatan tersebut REKA memilih pelaku usaha mikro binaan Dinas KUKM Dagin Kota Bogor yang tergabung dalam komunitas UMKM Kota Bogor,” jelasnya.

Bantuan tablet yang diberikan dalam kegiatan tersebut merupakan batch kedua. Untuk batch pertama dilaksanakan pada Juni 2023 dengan jumlah bantuan yang sama sehingga total sudah 100 tablet yang sudah dibagikan.

Sama dengan Syarifah, Marcello berharap kerja sama dengan Bank Mizuho berjalan semakin baik sehingga dukungan yang diberikan tidak hanya bidang finansial, tetapi juga bidang pemasaran maupun bidang lainnya.

Satu POS adalah nama aplikasi yang sudah terinstal yang merupakan buatan REKA Bogor. Dalam operasionalnya, untuk melayani pembayaran tunai maupun cashless, termasuk untuk mengawasi dan memandu para pelaku UMKM dalam mengoperasikannya, REKA membentuk grup whatsapp.

Marcello menyampaikan, di Kota Bogor pelaku ekonomi didominasi subsektor kuliner yang merupakan potensi bagi Kota Bogor, melalui visinya REKA Kota Bogor ingin menjadikan ekonomi kreatif sebagai tulang punggung perekonomian di Kota Bogor

Perwakilan Bank Mizuho Indonesia, Yuliani Taufan mengatakan, kegiatan tersebut menjadi CSR pihaknya dengan tujuan memberikan edukasi dan pemahaman konsep dasar penanganan keuangan bagi masyarakat agar mampu menanganinya dengan lebih baik, meningkatkan kompetensi dan daya saing para pelaku UMKM Kota Bogor dalam menghadapi persaingan global maupun pemanfaatan teknologi.* Fredy Kristianto

Komisi IV Sebut Proyek Toilet Mesti Dievaluasi

0

jurnalinspirasi.co.id – Sekretaris Komisi IV DPRD Kota Bogor, Devie P Sultani mengaku prihatin dengan adanya pembangunan toilet di SMPN 9 dan SMPN 17 yang nominalnya masing-masing hampir mencapai Rp200 juta.

Politisi Nasdem inipun mempertanyakan rupa dan fasilitas dari toilet seharga rumah subsidi itu.

“Harus dijelaskan dalam hal bentuk dan fungsinya. Saya juga mencatat bahwa dalam Badan Anggaran DPRD, tidak ada laporan pengajuan terkait pembangunan atau renovasi toilet di sekolah tersebut. Kami perlu memastikan penggunaan anggaran yang efisien,” ujar Devie kepada wartawan, Rabu (4/10).

Ia juga mengaku heran mengenai adanya proyek tersebut, sehingga perlu adanya evaluasi. Sebab, kata Devie, masih banyak sekolah di Kota Bogor yang membutuhkan perbaikan infrastruktur.

“Anggaran sebesar Rp200 juta rupiah ini cukup signifikan, dan kami, sebagai wakil rakyat, perlu memastikan bahwa penggunaannya memadai dan sesuai dengan kebutuhan sekolah-sekolah di kota ini,” katanya.

Devie menegaskan pembangunan toilet dengan nominal fantastis itu harus memiliki manfaat yang jelas dan dapat meningkatkan kualitas pendidikan.

Namun, ia mengingatkan bahwa penggunaan anggaran harus bijaksana dan mempertimbangkan prioritas, terutama dalam sektor pendidikan.

“Saya meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor untuk segera mengevaluasi proyek toilet ini guna memastikan penggunaan anggaran yang efisien dan sesuai dengan kebutuhan sekolah-sekolah di kota tersebut,” tandasnya* Fredy Kristianto

Tag: Devie P Sultani, Nasdem, Proyek Toilet, Disdik Kota Bogor, DPRD Kota Bogor

Jangkar Pakuan Pajajaran Desak Inspektorat Pelototi Proyek Toilet

0

jurnalinspirasi.co.id – Polemik pembangunan toilet senilai masing-masing Rp200 juta di SMPN 9 dan SMPN 17, terus menuai sorotan publik. Direktur Jaringan Advokasi masyarakat Pakuan Pajajaran Pajajaran, Saleh Nurangga angkat bicara.

Ia mendesak agar Inspektorat Kota Bogor turun tangan memeriksa pembangunan toilet yang angkanya cukup fantastis itu.

“Inspektorat harus turun tangan ke lapangan mengecek proyek tersebut,” ujar Saleh kepada wartawan, Rabu (4/10).

Selain mengecek proyek, sambung dia, Inspektorat pun harus memeriksa Dinas Pendidikan (Disdik) terkait adanya proyek toilet yang angkanya cukup fantastis.

“Harus diusut tuntas kenapa proyek ini bisa muncul. Apakah dibangun karena kebutuhan atau apa?,” tegas Saleh.

Ia pun menyayangkan mengapa Disdik tidak memprioritaskan pembangunan ruang kelas baru, dan justru malah sibuk memperbaiki toilet.

“Memang toilet itu hal vital di lembaga pendidikan dan lainnya. Tapi yang lebih penting itu ruang kelas, sudah tahu Kota Bogor kekurangan sekolah dan ruang kelas. Eh ini malah bangun toilet mahal,” tandasnya.* Fredy Kristianto

Kasus PPDB, Operator Disdukcapil Siap ‘Bernyanyi’

0

jurnalinapirasi.co.id – Polisi telah menetapkan lima tersangka dalam kasus Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2023 sistem zonasi. Kelima disebut terlibat dalam dugaan l penipuan atau pemalsuan berkas administrasi kependudukan (Adminduk), terus bergulir.

Hal itu diketahui, saat adanya pemeriksaan saksi yang mengetahui prosedural dugaan penipuan atau pemalsuan berkas adminduk tersebut oleh Rekrim Polresta Bogor Kota.

Salah seorang saksi yang diperiksa berinisial J, diketahui merupakan operator Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Bogor, yang melakukan tugas sebagai operator layanan administrasi kependudukan.

Ketika menjalani pemeriksaan, dirinya memberikan penjelasan prosedural terkait proses melakukan validasi data tanpa merubah auntintifikasi data yang terdapat dalam dokumen.

Ketika menjalankan tugas, ia mengaku, hanya melakukan apa yang menjadi tugas pokok dan fungsi saat menjadi operator di Disdukcapil melayani permintaan administrasi kependudukan untuk PPDB.

“Ini saya tidak merasa melakukan perbuatan apapun yang melawan hukum, termasuk menerima uang dari siapapun. Dan saya juga siap bekerja sama dengan penegak hukum untuk mengungkap perkara ini sampai tuntas,” kata J, kepada wartawan.

Sedangkan, Kuasa Hukum J, yakni Roy Sianipar menjelaskan, jika klien siap menjadi whistleblower dalam persoalan PPDB ini, guna mengungkap apapun yang diketahuinya agar supaya membuat perkara ini terang benderang.

“Kedua, klien kami sudah menjelaskan seluruh apapun yang diketahuinya ke rekan-rekan penyidik disertai bukti tentunya dan kita percayakan rekan-rekan penyidik bekerja profesional dan transparan. Ketiga, Kami mendorong dan mendukung rekan-rekan penyidik ungkap perkara ini sampai tuntas dan terang benderang, siapapun yang terlibat ya harus disikat tanpa pandang bulu,” papar dia.

Saksi J juga, kata Roy, siap untuk menjalani sejumlah pemeriksaan lanjutan jika penyidik membutuhkan keterangannya agar membuat terang kasus tersebut.

Terpisah, Kasat Reskrim Polresta Bogor kota Kompol Rizka Fadillah menambahkan, semua masih berjalan sesuai prosedural penyidikan dan jika dibutuhkan akan melakukan pemanggilan sejumlah saksi dari berbagai instansi. Tidak menutup kemungkinan, adanya penambahan tersangka jika memenuhi bukti adanya pelanggaran aturan.* Fredy Kristianto

Ini Penjelasan Disdik Soal Toilet Rp200 Juta

0

jurnalinspirasi.co.id – Polemik pembangunan toilet di dua sekolah, yakni SMPN 9 dan SMPN 17 yang nilainya masing-masing mencapai Rp200 juta.

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor, Sultodi Mahbub mengatakan bahwa toilet itu dilengkapi dengan lima wc, urinoir, wastafel, dan ruang ganti.

“Jadi pembangunan ini sudah sesuai spesifikasi dan disesuaikan dengan konsep kekinian
Disdik Kota Bogor menjelaskan, jika pembangunan toilet Rp200 juta ini sudah sesuai spesifikasi dan disesuaikan dengan konsep kekinian,” ujar Sultodi kepada wartawan, Rabu (4/10).

Menurut dia, apabila melihat kondisi yang ada dan mindset selama ini yang namanya WC hanya untuk buang air besar dan kecil. Serta lokasinya berada di pojok, kesannya tidak bersahabat, bau, kotor dan tidak nyaman.

“Akhirnya mindset toilet kotor dan jorok itu kita tinggalkan. Kemudian, membangun toilet dengan kondisi zaman kekinian,” tandas dia.

Untuk toilet Rp200 juta ini, dari sisi arsitektur bukan seperti bangunan biasa. Toilet ini dengan konsep bersih dan memperhatikan lingkungan, nantinya akan bersinergi dengan kantin sekolah.
“Bangunannya jadi satu kesatuan dengan fungsi layanan di sekolah. Di sini toiletnya nanti berdampingan dengan kantin dan bersinergi. Dengan adanya toilet, akan menjadikan ikon antara kantin dan toilet,” kata dia.

Terkait spesifikasi dari toilet 200 juta ini, dijelaskannya, harga itu sudah sesuai. Untuk SMPN 17 Kota Bogor, toilet baru ini nantinya hanya dikhususkan untuk wanita.

“Untuk di SMP 17 khusus untuk perempuan adanya di atas. Kalau bikin WC menghadap kelas dengan komsep biasa saja, ini nanti jadi ikon. Di sekitar toilet ini akan dibuat taman-taman. Untuk closetnya, closet jongkok semua,” tandasnya.

Untuk SMPN 9 Kota Bogor, bangunan akan dibagi dua yakni toilet untuk cowo serta untuk cewek. Khusus untuk cowok, toilet 200 juta ini nantinya ada closet jongkok dan 3 urinoir. Sedangkan perempuan, closetnya nantinya ada 1 duduk dan 2 jongkok.

“Perempuan memiliki kebutuhan khusus laki-laki kalau closet duduk ga efektif. Nanti juga ada cermin, bisa dimanfaatkan jadi ruang ganti juga. Wastafel sebagai standar protokol kesehatan. Lalu, dilengkapi dengan listrik. Jadi malam bisa dipakai,” tegasnya.* Fredy Kristianto

Ada Perumahan dalam Perumahan di Desa Bojong, Izin Siteplan Milik Siapa?

0

Klapanunggal | Jurnal Bogor
Perumahan di dalam perumahan, itu istilah yang tepat untuk keberadaan Perumahan Grahatama Residence yang nempel dalam tubuh Perumahan Primavera Residence yang berada di Desa Bojong, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor.

Hal tersebut disampaikan oleh salah satu warga Perumahan Primavera Recidence Anto Sadeli (45) yang sudah lebih dari 8 tahun tinggal di perumahan tersebut mengatakan, keberadaan Perumahan Grahatama Residence menggangu akses jalan warga Perum Primavera. Pasalnya, Perumahan Grahatama Residence persis ada di tengah-tengah Perumahan Primavera.

“ Sebetulnya keluhan ini sudah lama saya sampaikan kepada Manager Perumahan Primavera Residence Pak Josua. Namun sampai saat ini belum ada tanggapan yang berarti dari beliau,” ungkap Anto sapaan akrabnya kepada Jurnal Bogor, Rabu (4/10/23)

Menurutnya, lahan yang saat ini dibangunkan Perumahan Grahatama Residence dalam gambar siteplan adalah tanah kosong milik Perumahan Primavera Residence, bisa dibilang seperti rawa dulunya. Namun, sejak tahun 2016 tiba-tiba ada pembangunan rumah. Saat itu, dikira masih bagian dari tubuh Perum Primavera, tapi setelah ditanya-tanya ternyata beda perusahaan dan beda pemilik.

“ Saya sendiri heran, apa boleh ada perumahan di dalam perumahan. Pernah suatu hari kami membuat plang jalan dengan dituliskan batas Perumahan Grahatama Residence. Tapi saat itu kami ditegur oleh developer, jangan ada yang tau kalo di dalam ini ada perumahan lain,” tuturnya.

“ Dari situ kami curiga, bahwa keberadaan perumahan ini memang beda perusaahaan dan pemillik, tapi kok seolah ditutupi. Sebagai konsumen, kami merasa dirugikan, karena akses jalan yang dipakai adalah akses jalan Perumahan Primavera, kami kan bayar untuk akses jalan ini, walaupun pada akhirnya menjadi fasum,” tambahnya.

Sementara, salah satu warga Perumahan Grahatama Residence Dadi Abdilah (55) mengatakan dirinya sudah tinggal sejak tahun 2018, dan memang jalan akses masuknya dari Perumahan Primavera. Dadi menyebut tidak mengetahui, jika dua perumahan yang ada dalam satu tubuh ini beda perusahaan.

“ Saya tidak tahu sampai sejauh itu, yang kami tahu luasan Perumahan Grahatama Residence ini memang sedikit hanya sekitar 3 hektare dengan dihuni oleh 60 rumah,” tuturnya.

Untuk diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menetapkan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Pembangunan Perumahan Perumahan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). PP Nomor 64 Tahun 2016 tentang Pembangunan Perumahan MBR ini diteken dengan pertimbangan untuk mempercepat penyediaan rumah.

Hal tersbut berdasarkan Pasal 13 huruf g, PAsal 14 hurif I, Pasal 15 huruf n, dan PAsal 54 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman. Menurut PP ini MBR adalah masyarakat yang mempunyai keterbatasan daya beli sehingga perlu mendapatkan dukungan pemerintah untuk memperoleh rumah.

Pembangunan perumahan MBR dibangun untuk luas lahan tidak lebih dari 5 hektare dan paling kurang 0,5 hektare atau 5000 meter persegi, serta berada dalam satu lokasi yang diperuntukan bagi pembangunan rumah tapak.

Saat dikonfirmasi terkait keberadaan Perumahan Grahatama Residence yang berada dalam lingkungan Perumahan Primavera, Manager Perumahan Primavera Recidence, Josua tidak bisa dihubungi. Sampai diturunkannya berita ini, masih belum ada penjelasan resmi, baik dari pihak pemerintah maupun pihak developer.

** naynur’ain

PPOPM Terjunkan 18 Atlet di Kejurnas Atletik 2023

0

Cibinong| Jurnal Bogor
Kepala UPT PPOPM Dispora Kabupaten Bogor, Sujana mengatakan, PPOPM bakal menerjunkan 18 Atlet binaanya dalam Kejurnas Atletik antar PPLP, PPLPD dan SKO Atletik 2023.

” Kejurnas Atletik antar PPLP, PPLPD dan SKO Atletik 2023 akan dilangsungkan di Lintasan Atletik Stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor dari tanggal 23 sampai 28 Oktober 2023,” ujar Sujana, 4 Oktober 2023

Ia menambahkan, saat ini para atlet PPOPM yang akan diterjunkan dalam Kejurnas Atletik itu tengah fokus melakukan program latihan dibawah asuhan Erwin Maspaitela dkk di Lintasan Atletik Pakansari.

” Insya Allah pada tanggal 22 Oktober para atlet akan masuk ke Hotel sampai pelaksanaan Kejurnas Atletik berakhir,” ucap Sujana lagi

Erwin Maspaitela selaku pelatih Atletik PPOPM Kabupaten Bogor membenarkan kalau 18 atlet binaanya akan terjun pada Kejurnas Atletik antar PPLP, PPLPD dan SKO Atletik 2023.

Erwin Maspaitela

Dalam Kejurnas kali ini, kata Erwin, Tim Atletik PPOPM Kabupaten Bogor ditargetkan 1 emas, 2 perak dan 2 perunggu.

” Saya belum bisa bicara banyak soal target dalam Kejurnas kali ini. Namun kami akan all out memberikan prestasi yang terbaik bagi Kabupaten Bogor,” kilah Erwin.

Selanjutnya, tambah Erwin, para atlet PPOPM Kabupaten Bogor saat ini sudah melakukan adaptasi dengan lintasan atletik Pakansari.

Nama nama Atlet PPOPM yang akan Tampil pada Kejurnas Atletik antar PPLP, PPLPD dan SKO Atletik 2023

** asep syahmid

CV Wijaya Tinggalkan Puing Bekas Pekerjaan Sembarangan di Badan Jalan

0

Gunung Putri | Jurnal Bogor
Semrawut, itulah kata yang cocok untuk bahan material yang diampar begitu saja di badan jalan oleh Pelaksana CV Wijaya. Bukan hanya menggangu, tapi berantakannya material jenis pasir dan bebatuan yang tidak ditata dengan baik tersebut juga berdampak membahayakan keselamatan pengendara yang melintas.

Penempatan material proyek pembangunan drinase yang dikerjakan oleh CV Wijaya di Perumahan Griya Bukit Jaya, Desa Tlajung Udik, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, sangat membahayakan pengguna jalan.

Pasalnya, material berupa bebatuan cadas dan pasir itu diletakan begitu saja hingga memakan setengah badan jalan yang minim penerangan oleh kontraktor, tanpa menggunakan rambu-rambu atau peringatan.

Kontraktor proyek pengerjaan drinase yang berasal dari Dinas Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Bogor senilai Rp366.359.000 itu, dinilai tindak memperdulikan keselamatan pengendara.

Salah satu pengendara roda dua, Ahmad mengatakan, pengguna jalan harus lebih konsentrasi mengingat setengah badan jalan ditempati tumpukan batu dan pasir milik proyek drinase tersebut.

“Aduh ini tumpukan batu sama pasir sampai makan setengah jalan, sangat membahayakan. Apalagi kondisi jalan gelap kita bisa saja nambrak, terutama pengguna jalan baru yang engga tau medan jalan,” katanya kepada Jurnal Bogor, Rabu (4/10/23).

Menurut Ahmad, dengan kondisi jalan yang bagus, pengendara bisa memacu kendaraan dengan cepat. Jarang disangka oleh pengendara ada material bangunan karena tidak ada papan informasi sebelum sampai di lokasi.

“Udah gitu nggak ada papan informasi atau rambu bahwa di jalan ini ada tumpukan material, bahaya bangat ini. Apa kontraktor nggak peduli sama keselematan pengendada apa ya,” keluhnya.

Dia berharap agar pihak kontraktor dapat merapikan material ke tempat yang lebih aman dan bukan di jalan umum seperti saat ini sebelum memakan korban. “Ini harus dipindahkan ke tempat aman biar nggak ada korban,” harapnya.

** Nay Nuráin