28.9 C
Bogor
Thursday, July 16, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 380

Kedai Good Day Chines Food & Steak, Kedai Makan yang Ramah di Kantong

0

Bogor | Jurnal Bogor
Bagi orang yang sudah tinggal lama di Bogor, pasti tidak asing dengan nama RSUD Kota Bogor. Nah, Kedai Makan Good Day Chinese Food and Steak ini berada di deket lingkungan RSUD. Kedai makan ini bisa jadi pilihan karena aman bagi kantong semua orang. Jadi jika sedang berada di sekitaran RSUD atau sedang berada di Jalan Dr.Semeru, coba kunjungi Kedai Good Day Chinese Food and Steak.

Kedai ini punya menu makanan dan minuman yang tidak kalah dengan restoran mewah hingga selalu ramai dan tidak pernah sepi pengunjung. Apalagi ada layanan pesan antar buat pasien dan keluarga yang sedang dirawat dengan no limit free ongkir open order dari pukul 08:00 pagi hingga pukul 12:00 malam dari Senin-Minggu.

Sesuai dengan namanya, kedai makan ini menyediakan menu – menu Chinese food dan steak yang sudah disesuaikan dengan lidah Indonesia. Bahkan beberapa menu dari kearifan lokal seperti nasi goreng kencur, nasi goreng kunyit dll. Yang enak dan tidak kalah nikmatnya sama dengan menu – menu restoran ternama.

Kedai ini berdiri sejak tahun 2019 silam dan kebersihan, harga, penyajian dan pelayanan adalah aspek yang selalu dijaga. Bahkan jika mau menikmati suasana santai bersama keluarga dan teman bisa ke cabang Good Day Culinary di Rawajaha Cifor yang juga dibawah Good Day Chinese Food and Steak.

Di Good Day Culinary Rawajaha menawarkan sensasi berbeda untuk menu jajanan khas seperti seblak, ceker mercon, cireng isi dll.

Dengan penekanan pada cita rasa bumbu, merepresentasikan produk kuliner  dengan nuansa kedai makan  dan interior  kedai makan yang pas untuk anak muda dan keluarga.

Owner Kedai Makan yang lulusan fakultas kedokteran gigi Daisy Irani Artharini mengatakan, Kedai Makan Good Day Chinese Food and Steak juga Good Day Culinary Rawajaha menjanjikan pengalaman kuliner yang tak terlupakan bagi para pengunjung.

“Cikal bakal lahirnya menu – menu masakan ini adalah karena antusiasme konsumen yang cukup tinggi agar membuat cabang baru lagi yang lebih memuat banyak pengunjung,” kata dia.

Ke depan bahkan mungkin bisa direalisasikan cabang  kedai makan Good Day dengan cita  rasa menu-menu Sunda tradisional dengan harga yang terjangkau.

(wawan hermawanto)

Jadi Kakak Asuh Stunting BKKBN, Dokter Rayendra Edukasi Warga

0

jurnalinspirasi.co.id – Dokter Raendi Rayendra menggelar sosialisasi dan penyuluhan pencegahan stunting kepada masyarakat di Kelurahan Cibogor, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Kamis (18/1).

Berlokasi di Aula Serbaguna Kampung Abesin, RT03, RW 04, Kelurahan Cibogor, puluhan mak-mak memadati kegiatan sosialisasi pencegahan stunting yang digelar Dokter Raendi Rayendra tersebut.

Dalam acara bertajuk “Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat)” itu Dokter Rayendra menjelaskan sejumlah tips mencegah stunting pada anak, salah satunya mengulas soal asupan gizi dan makanan untuk anak.

Dokter Rayendra mengatakan menurut WHO, stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar.

“Salah satu mencegah stunting adalah dengan cara memenuhi asupan gizi, nutrisi dan protein anak. Salah satunya dengan rutin mengonsumsi makanan bergizi, protein hewani dan protein nabati,” katanya melalui keterangan tertulisnya, Kamis (18/1).

Dalam kegiatan tersebut, Dokter Rayendra juga membagikan puluhan paket telur dan makanan bergizi untuk 21 orang tua yang anaknya mengidap stunting di Kelurahan Cibogor, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.

“Telur merupakan salah satu makanan mudah, murah dan merakyat yang kaya akan protein, gizi dan nutrisi, sehingga hal itu cocok untuk menjadi salah satu makanan pengentasan stunting,” ujarnya.

Selain itu, Dokter Rayendra yang menjabat sebagai Kakak Asuh Stunting BKKBN itu juga turut memberikan tips olahan makanan dengan harga ekonomis, tetapi memiliki nilai gizi yang tinggi.

“Telur, ikan, ayam, tahu, tempe, sayur dan buah-buahan, itu kan bahan-bahan yang sangat mudah didapatkan di pasaran, banyak juga kok yang harganya murah, tinggal pintar-pintar para ibu saja mengolahnya,” ungkapnya.

Ia berharap dengan adanya kegiatan ini semakin banyak ibu-ibu yang teredukasi bagaimana menyajikan makanan sehat, lezat dan bergizi untuk sang buah hati.* Fredy Kristianto

Kepala UPT Dishub 2 Gercep Tanggapi Aduan Masyarakat

0

Gunung Putri | Jurnal Bogor
Menanggapi adanya aduan warga terkait lampu penerangan jalan umum (PJU) di Jalan Raya Transyogi Desa Nagrak, Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Kepala UPT Dinas Perhubungan (Dishub) Wilayah 2 Cileungsi, Yaya Casya langsung cek lokasi dan lakukan perbaikan. Yaya Casya mengaku, mendapat aduan masyarakat tentang adanya lampu PJU di daerah perbatasan Bekasi-Bogor tersebut.

“Kami sengaja ada laporan dari warga bahwa lampu PJU perbatasan Bekasi sama Bogor Jalan Raya Transyogi mengalami padam karena apa jaringan tidak ada putus,” tuturnya kepada Jurnal Bogor, Kamis (18/1/24).

Setelah pengecekan, sambung Yaya, ternyata armatur (perangkat pada alat penerangan) alat penyuplai aliran listrik terputus dan pihaknya langsung adakan perbaikan. ” Sama armaturnya semua pada mati jadi kita langsung respon pengaduan sekarang lagi dikerjakan,” jelasnya.

Mendapat mandat dari pimpinannya, Yaya mengaku siap melayani masyarakat terkait PJU di Jalan Transyogi Desa Nagrak yang mengalami kerusakan atau mati. “Pesan pimpinan layani masyarakat kalau terjadi masalah dengan lampu PJU makanya kita langsung respons,” katanya.

Sementara Anwar Fauzan (33) salah satu pengguna jalan mengatakan apresiasi dengan tindakan yang dilakukan oleh petugas. Mengingat PJU sepanjang jalan ini bisa dibilang kurang bahkan mati. Tak jarang, untuk pelintas seperti dirinya yang sering pulang larut agak kewalahan karena minimnya penerangan.

“ Jalan besar tapi tingkat penerangannya kurang, saya yang sering pulang malam dari bekerja harus hati-hati. Yang dikhawatirkan bukan hanya kecelakaan saja, jika minim penerangan kan sangat rawan kejahatan,” pungkasnya

“ kalo bisa sepanjang jalan harus terang, bukankah dari pajak yang kita bayar juga ada untuk penerangan jalan umum, heran aja sih kalo pemerintah selalu berdalih gak ada anggaran,” tambahnya.

(nay nurain)

Dalih Miskomunikasi, Kampanye Caleg Saiful Jadi Sorotan, Yusfitriadi: Bukan Hanya Nyali, Tapi Integritas Panwas Dipertaruhkan

0

Gunung Putri | Jurnal Bogor
Kampanye Caleg Saiful ST yang dilaksanakan di Kp Kedep, Desa Tlajung Udik, Gunungputri, Kabupaten Bogor yang disebut tak komunikasi dengan Panwas Kecamatan menjadi sorotan Pemerhati Politik dan Kebijakan Publik Yusfitriadi. Panwas harus memberikan teguran awal atau peringatan tertulis, dan itu berlaku kepada siapapun yang terindikasi melanggar melanggar ketentuan dari partai apapun. Adanya alasan miskomunikasi tidak bisa dijadikan dasar tidak memberikan teguran

“ Jika miskomunikasi dijadikan alasan dalam sebuah pelanggaran, untuk apa pengawasan proses pemilu. Dalam hal ini bukan hanya nyali Panwas yang diuji, tapi juga integritasnya dalam memberikan surat teguran kepada pelanggar tanpa melihat siapa dan dari partai mana,” ungkap Yusfitriadi kepada Jurnal Bogor, Kamis (19/1/24).

Karena pada prinsipnya Panwas Kecamatan punya peran yang sama seperti Bawaslu diatasnya. Jangan mereka pura-pura tidak tahu, menutup mata, atau mungkin juga tidak mau repot. Faktanya saat ini mereka sudah terpilih sebagai Panwaslu, mereka sudah digaji oleh rakyat setiap bulannya.

“ Mereka harus berani menegakkan hukum pemilu sebagaimana mestinya, jika ada pelanggaran buat surat teguran dan laporkan kepada Bawaslu. Jangan sampai masyarakat menilai mereka bukan penegak hukum pemilu, tapi sebagai orang yang mencari pekerjaan dengan topeng penyelenggara pemilu,” cetus Yusfitriadi.

Secara pribadi, sambung Yusfitriadi, Ia  memang sudah skeptis dan tidak percaya terhadap Bawaslu akan bisa menangani pelanggaran-pelanggaran pemilu. Mengapa demikian, yang pertama dalam nomenklatur pelanggaran kampanye itu ada dua sumber yang pertama adalah laporan, artinya laporan ini masyarakat melaporkan siapapun yang ada pelanggaran berartikan itu sifatnya pasif. Kemudian yang kedua ada temuan, temuan itu bisa berasal dari informasi awal, yang dimaksud informasi awal itu adalah informasi dari apapun dari siapapun, baik dari media , dari ketemu di jalan , melanggar dan macam-macam.

“ Bawaslu itu tidak bersifat pasif, jadi tidak seharusnya Bawaslu hanya menunggu laporan, dan tidak menjadikan pelanggaran-pelanggaran itu sebagai temuan. Karena Bawaslu bisa menindak pelanggar-pelanggar tersebut, itu nomenklaturnya,” ujar Kang Yus.

Lebih lanjut, yusfitriadi mengatakan, Apakah selama mereka berangkat dari rumahnya masing-masing ke kantor Bawaslu setiap hari dengan melihat berbagai macam spanduk, dipasang ditempat-tempat yang terlarang dan membahayakan kemudian juga berpotensi mengganggu masyarakat , apa mereka tidak melihat, seharusnya itu bisa mereka jadikan pelanggaran. Nah selama ini mereka tidak menjadikan itu sebagai temuan lalu apalagi yang bisa diharapkan kepada bawaslu itu yang pertama.

“ Yang kedua fenomena bagi-bagi minyak goreng, fenomena bagi-bagi susu, bagi-bagi makanan , bahkan sangat mungkin juga bagi-bagi uang itu tidak direspon juga informasi itu oleh Bawaslu. Bawaslu hanya menunggu laporan,  jangankan kemudian pelanggaran-pelanggaran yang berdampak hukum substantif, hal-hal yang berdampak juga administratif yang kecil-kecil gak juga bawaslu bergerak, sehingga apa yang bisa diharapkan dari lembaga penegak hukum seperti Bawaslu,” paparnya.

Oleh karena itu, saya pikir sekarang memang pemilu ini, untuk penyelenggaran pemilu sudah tidak banyak memegang prinsip-prinsip penyelenggaraan pemilu, itu terjadi bahkan sampai tingkat nasional , tidak independen, tidak berintegritas dan seterusnya, itu juga termasuk terjadi di Kabupaten Bogor.

“ Diharapkan kepada teman-teman media memasifkan berbagai macam informasi dugaan –dugaan pelanggaran termasuk fakta-fakta pelanggran di lapangan , terutama yang sangat mencolok dan berpotensi mencelakakan,” pungkasnya.

Sementara Koordinator lapangan kampanye Caleg Saiful ST. Lilis mengatakan, dirinya sudah memberikan laporan sejak Sabtu kepada Panwas hanya jamnya saja yang tiba-tiba ada perubahan. “Saya sudah memberikan laporan, ini hanya miskomunikasi antara penyelenggaran dengan Panwas, dan saya sudah jelaskan kepada pak Ramdhani juga,” singkatnya.

(nay nurain)

Masuki 2024, Yunita Berharap NewTIK Makin Solid

0

Gunung Putri | Jurnal Bogor
Komunitas Pecinta Tembang Indonesia Kenangan (NewTik-NTIK) yang beranggotakan lebih dari 500 orang untuk para pecinta music Indonesia dibawah tahun 2000an kembali mengadakan temu kangen untuk mempererat tali silaturahmi dan kekompakan antar anggota yang berasal dari berbagai daerah se – Indonesia.

NewTIK

“ Pertemuan pada akhir tahun kemarin dengan keluarga besar NewTIK kami adakan di Tangerang. Kebetulan memang pada akhir tahun kemarin giliran Korda Tangerang yang digawangi oleh Pak Fauzan dan Ibu Eka Ganiq yang menjadi tuan rumah,” ungkap Ketua Umum NewTik Yunita Rumiris Situmeang, kepada Jurnal Bogor di kediamannya.

Wanita yang akrab disapa Nita inipun menjelaskan ada keunikan sendiri dalam pelaksanaan kegiatan NewTIK diakhir tahun kemarin selain diisi dengan lomba-lomba dan bertukar kado, kostum yang digunakan pun merupakan pakaian daerah asal masing-masing.

“ Jadi kegiatan NewTIK di Rumah Kenjang, Taman Royal, Tangerang kemarin juga diisi dengan peragaan busana,” jelas Nita.

Sebagai ketua umum Nita berharap, di Tahun 2024 yang akan datang NewTIK semakin solid dan kompak, serta selalu mengadakan kegiatan-kegiatan yang positif yang juga bisa berguna untuk masyarakat luas.

“ Selain untuk menghibur dan menghidupkan kembali tembang lawas agar tidak hilang dan tergerus dengan music saat ini, NewTIK juga akan selalu hadir ditengah-tengah masyarakat untuk kegiatan-kegiatan social lainnya,” tutur Nita.

Dalam waktu yang bersamaan tersebut, sambung Nita, dirinya turut mengunjungi sahabat-sahabat NewTIK di Jawa Barat dan sekitar, yang bertempat di Villa Batara Lembah Cinta, Garut. “ Kebetulan villa tersebut milik Ketua Korwil Jabar Kang Gun. Sekali lagi, saya mengucapkan terimakasih kepada sahabat-sahabat NewTIk dimana pun berada yang sudah selalu menjaga kekompakan dan silaturahmi,” cetusnya.

“Terkhusus saya juga mengucapakan terimakasih kepada seluruh pengurus Pusat NewTIK (Kornas) Gunawan Sumadikara, Agung Setiawan, Fauzan Zian, Eka Ganiq, Basri Wibowo, Thoriq Nasution salam kompak solid selalu, salam NewTIK Hebat Hebat Hebat ” tutup Nita.

(nay nur’ain)

Bukan Hanya Kekurangan Air, Masih Banyak Warga Ranji yang Suka “Dolbon”

0

Jonggol | Jurnal Bogor
Pemerintah Desa Weninggalih kerap mendapatkan penolakan dari Pemerintah Kabupaten Bogor ketika melakukan pengajuan bantuan pembangunan embung dan pengeboran air untuk sarana air bersih (SAB). Namun kini, Kepala Desa Weninggalih Mamat Rahmat ST bersyukur mendapatkan bantuan pembuatan sumur bor di Kp Ranji RT 13/RW 06, Desa Weninggalih, Jonggol. Bantuan bersumber dari dana CSR perusahaan yang disalurkan melalui bank Muamalat Syariah, Kamis (19/1/24).

“ Alhamdulilah, hari ini kami mendapatkan bantuan dari Bank Muamalat Syariah berupa pengeboran sumur dan rumahnya sampai terima beres,” ungkap Mamat kepada Jurnal Bogor.

Pria yang ahli dalam bidang teknik sipil tersebut bisa bernafas lega, mengingat bantuan yang diajukannya pada Musrembang kepada Pemkab Bogor selalu ditolak dengan berbagai alasan, mulai dari hasil cek lokasi yang kemungkinan kecil mendapatkan air sampai tidak terdeteksi titik airnya. Hingga dirinya sebagai kepala desa menjadi dilemma. Disisi lain warganya sangat membutuhkan air untuk aktivitas sehari-hari.

“ Dikampung ini, bukan hanya kekurangan air saja, tapi masih ada pemandangan warga yang masih suka buang air di kali dan di kebun. Namun, sebatas larangan yang diberikan pemerintah tidak bersamaan dengan solusi yang ditawarkan,” terangnya.

Lebih lanjut Mamat menjelaskan, dia siap jika warganya diminta untuk membuat MCK sendiri, jika memang ada solusi yang ditawarkan. Apalagi mayoritas masyarakat menengah ke bawah, sehingga untuk program rumah tidak layak huni (Rutilahu) dan pembuatan MCK (mandi cuci kakus) pihak desa memprioritaskan warga Kp Ranji.

“ Bisa dilihat dari sepanjang jalan tadi, banyak sekali kain yang berbentuk WC yang biasa digunakan warga untuk mandi dan buang air. Itu mereka lakukan bukan karena memang kebiasaan, tapi karena kondisi mereka yang tidak mampu untuk membuat MCK sendiri,” beber Mamat.

Oleh karena itu, sambung Mamat, perlahan dirinya mulai membenahi apa yang menjadi masalah di masyarakatnya. Jika, persoalan infrastruktur sudah selesai, dia akan memfokuskan kepada kebersihan dan kebutuhan MCK dan Rutilahu di masyarakatnya.

“ Anggaran kami terbatas dan sudah ada peruntukannya, kita tidak bisa menggunakan sembarangan sekalipun itu dibutuhkan, bahkan tak jarang kantong sendiri dikorbankan untuk kebutuhan warga,” cetusnya.

“ Oleh karena itu saya berharap, pemerintah tidak hanya memberikan larangan warga untuk tidak buang air di kebon dan kali, tapi juga berikan solusinya kepada kami. Sejatinya warga saya juga ingin memiliki MCK sendiri, hanya saja kemampuannya yang tidak ada,” tandas Mamat.

Sementara, Sri Ningsih warga setempat berterimakasih atas kerja keras kepala desa yang selalu mencari jalan keluar untuk masalah di lingkungan warganya. Mulai dari jalan yang perlahan sudah mulai membaik, sampai dengan pengeboran sumur yang dibangun dari bantuan selain pemerintah.

“ Terimakasih pak kades, semoga dengan adanya sumber air ini bisa memudahkan kami dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari. Kami juga berharap ada perhatian khusus dari pemerintah untuk MCK dan air bersih di daerah kami yang masih menjadi persoalan,” pungkasnya.

(nay nur’ain)

Diduga Belum Berizin, Minimarket Sudah Beroperasi

0

Pedagang, Pemdes, dan Kecamatan Kompak Minimarket di Desa Nanggung Minta Disetop

Nanggung l Jurnal Bogor
Keberadaan minimarket yang baru satu bulan beroperasi di Desa Nanggung, Kabupaten Bogor yang dikeluhkan para pemilik warung ternyata diduga belum mengantongi izin.

Menurut staf Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Kecamatan Nanggung Engkus Kusuma bahwa bangunan warung ritel atau minimarket yang berada disamping kantor Desa Nanggung itu diduga belum berizin.

“Setahu kami, minimarket di Desa Nanggung itu belum berizin namun sudah beroperasi,” ujar Engkus Kusuma kepada Jurnal Bogor, Kamis (18/1/2024).

Bukan hanya itu, termasuk Nomor Izin Berusaha (NIB) untuk usaha minimarket itu belum juga diurus. “Sebelum minimarket itu berjalan, seharusnya perizinannya dulu harus ditempuh,” paparnya.

“Maka itu, sebelum berizin kami setuju minimarket di Desa Nanggung itu disetop dulu,” tandasnya.

Bukan hanya staf Ekbang, termasuk Sahrudin yang merupakan pegawai di Kecamatan Nanggung juga mendapat informasi bahwa keberadaan minimarket yang baru beroperasi di Desa Nanggung banyak yang komplain. “Banyak yang komplain, terutama para pedagang,” kata Sahrudin.

Apalagi jarak minimarket dengan pemilik warung itu sangat berdekatan. Ditambah  barang yang di jual dari minimarket, itu sama saja produk yang biasa dijual di warung kecil. Sahrudin  berpendapat, minimarket itu bisa mematikan para pelaku usaha kecil. “Beroperasi minimarket itu kami tidak setuju,” tegasnya.

Sebelumnya diberitakan, para pemilik warung kecil di Desa Nanggung, Kabupaten Bogor akhirnya menyatakan sikap mereka terhadap keberadaan minimarket yang baru beroperasi itu untuk segera ditutup.

Keberadaan minimarket di Desa Nanggung selain dikeluhkan pemilik warung kecil, juga muncul dari pedagang kelontongan yang jaraknya hanya hitungan meter dari minimarket itu. Pedagang kelontong, Didih Suryadih mengaku setelah  beroperasinya minimarket itu pendapatannya menurun drastis.

(arip ekon)

Boga Gemoy Ajak Warga Bogor Konsumsi Makanan Sehat

0

Bogor | Jurnal Bogor
Kota Bogor menjadi kota pertama yang dikunjungi Boga Gemoy untuk mengajak masyarakat mengkonsumsi makanan sehat. Pada acara Boga Gemoy Fest di Taman Ekspresi Sempur, Kamis (18/1/2024), hadir sejumlah Relawan Pengusaha Nasional (Repnas), Boga Gemoy, Gibran Center dan PAN Kota Bogor. Juga hadir Wali Kota Bima Arya dan sang istri, Yane Ardian.

Relawan Pengusaha Nasional (Repnas), Boga Gemoy, Gibran Center dan PAN Kota Bogor melakukan senam.

“Relawan Boga Gemoy mensosialisasikan makanan bergizi. Tujuan kita seluruh Indonesia, supaya program capres 02 (Prabowo-Gibran) tercapai. Program makanan siang gratis akan direalisasikan jika terpilih. Ini stepnya, kemarin tidak sosialisisi seperti ini dan sebelumnya memberikan bantuan langsung, sekarang lebih ke kunjungan, demo masak, dan ada senamnya. Suara di Jabar 60 persen, ingin pertahankan dan persentase ini bahkan harus naik, sehingga kami harapkan Pilpres hanya 1 putaran saja,” kata Sekjen Boga Gemoy, Desi Arianti.

Ketua Penggalangan Relawan Boga Gemoy, Iwan Gunawan juga menjelaskan, Boga Gemor merupakan partner untuk mensuskseskan pasangan Prabowo-Gibran.

“Kami punya program khusus, kebutuhan kita kan sandang, pangan, papan. Kita perkuat di pangannya, Jika konsusmsi masyarakat bergizi tentu generasi emas dapat tercapai. Untuk program makan siang gratis ini untuk semua jenjang SD, SMP, SMA tapi nanti liat prioritasnya, “ jelas Iwan.

Dia juga menyatakan mendukung program Prabowo-Gibran untuk program makan siang gratis karena akan memberikan multiefek.

“Program ini bukan sembarang program. Makan siang dan susu gratis ini multiefek karena akan menggerakan masyarakat pertanian, khsusunya. Susu itu dari sapi dan dibutuhkan peternak sapi, sapi ternak akan diperah dibeli pemerintah untuk dibagikan ke masyaralat. Kita bisa buat pakan ternak, tanam jagung, ampas-ampas juga akan bermanfaat dan itu akan menggerakan ekonomi khususnya di pedesaan,” ungkap Iwan.

Menurut Waketum Repnas Zulfikar, manfaat program Prabowo-Gibran akan kembali ke masyarakat sehingga relawannya akan mensupport kemenangan capres 02. “Kami dukung Prabowo-Gibran, juga bu Ane Ardian ya menjadi caleg di DPR RI,” kata dia.

Sementara pada acara Boga Gemoy Fest di Taman Ekspresi dilakukan demo masak dengan menu Sapo Tahu. Menu makanan ini bahan-bahannya mudah didapat dan murah, namun bergizi.

(asseps.sayyev)

Minta Maaf ke Perumda Tirta Pakuan, Kasus Perusakan Pipa di Kampung Muara Lebak Berakhir Damai

0

Bogor | Jurnal Bogor
Kasus pengurusakan pipa Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor di Jembatan Ledeng, Kampung Muara Lebak, RW10, Kelurahan Pasir Jaya, Kecamatan Bogor Barat diselesaikan dengan Restorative Justice (RJ) di Polresta Bogor Kota, Kamis (18/1/2024).

Hal ini dilakukan, setelah adanya permintaan maaf dari pihak Ratnaningsih kepada Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor, sehingga timbulah perdamaian antara kedua belah pihak.

Kasatreskrim Polresta Bogor Kota Kompol Luthfi Olot Gigantara membenarkan, ada permohonan untuk RJ, kemudian dilampirkan surat dari Perumda Tirta Pakuan juga dan surat perdamaian antara kedua belah pihak.

“Hari ini Kamis 18 Januari, kami gelar khususnya mas,” ungkap Lutfhi kepada wartawan.

Sementara itu, pejabat Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor yang hadir dalam RJ, Asisten Manager Satuan Pengamanan Perumda Tirta Pakuan, Abdul Rojak Josse menuturkan, sudah ada permintaan maaf dari pihak Ratnaningsih kepada Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor.

“Ya, sudah ada dari perwakilannya ibu Ratnaningsih. Alfian namanya,” singkat pria yang akrab disapa Jack ini di Mapolresta Bogor Kota.

Sebelumnya, Polresta Bogor Kota merilis kasus pengrusakan pipa Perumda Tirta Pakuan di wilayah Pasir Jaya, Kecamatan Bogor pada 7 Desember 2023 sore. Kapolresta Bogor Kota, Kombes Polisi Bismo Teguh Prakoso membeberkan, perjalanan serta motif tersangka kasus yang terjadi di Kampung Muara, Jembatan Ledeng, Kelurahan Pasir Jaya, Kecamatan Bogor Barat tersebut.

“Penyelidikan kasus semula berdasarkan atas laporan oleh pihak Tirta Pakuan. Setelah ada bukti cukup kuat dan keterangan saksi, maka kelima orang ini ditetapkan sebagai tersangka,” ungkap Bismo.

Bismo memaparkan, para tersangka yang merupakan satu keluarga itu terdiri dari nenek, anak dan cucu. Mereka adalah RN (77), TR (50), MAT, FF dan NR. Kelima orang ini sudah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan sejak akhir pekan lalu lantaran terlibat dan terbukti kuat melakukan perusakan pipa berukuran 16 inchi milik Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor dengan sejumlah peralatan khusus.

“Mereka memiliki peran masing-masing dimana sang nenek yang menjadi dalangnya menyuruh melakukan perusakan dan TR menyediakan peralatan. Sementara ketiga cucunya ikut serta membantu melakukan perusakan pipa yang berada tepat di bawah badan Jembatan Ledeng tersebut. RN menyuruh melakukan perusakan, TR mempersiapkan gurinda dan kabel listrik, kawat dan tang, MA menggurinda. Serta F dan N membantu akses kabel untuk menghidupkan gurinda tersebut,” papar Bismo.

Bismo menjelaskan, kasus tersebut berawal dari keluarga Ratna Ningsih mengklaim bahwa lahan yang dilintasi pipa PDAM adalah miliknya. Pipa tersebut berada di sepanjang garis sepadan Sungai Cisadane, dekat rumah keluarga Ratna. Semula pada 29 September 2023, keluarga Ibu Ratna dengan kuasa hukumnya membuat laporan ke SPKT Polresta Bogor Kota atas kasus penyerobotan tanah oleh pihak PDAM, dengan alat bukti kepemilikan lahan letter C.

Atas perbuatannya, kelima tersangka dijerat Pasal 170 ayat 1 KUHPidana jo Pasal 408 KUHpidana Pasal 406 KUHP sub Pasal 64 KUHPidana, dengan ancaman hukuman pidana paling lama 5 tahun 6 bulan penjara.

“Karena Ibu Ratna ini sudah lanjut usia, jadi kami tangguhkan penahanannya. Ibu Ratna juga cukup kooperatif dalam hal penyidikan. Untuk empat orang lainnya tetap ditahan,” tandas Bismo saat itu.

(prast/rls)

Baliah, Pengemis di GSE Tulang Punggung Keluarga yang Berkebutuhan Khusus

0

Pamijahan | Jurnal Bogor
Beberapa hari lalu pengemis di Pamijahan, Kabupaten Bogor viral di media sosial. Bahkan pengemis bernama lengkap Baliah ini sampai dihampiri seorang TikTokter bernama Willie Salim.

Baliah sering mengemis di wilayah kawasan Gunung Salak Endah (GSE). Dia viral karena logatnya yang unik dalam meminta belas kasihan dengan mengucapkan ‘Aa kasihan Aa, teh kasihan teh’.

Baliah diketahui merupakan warga Kampung Rangin, RT 02 RW 04, Desa Ciasihan, Pamijahan. Dia hidup bersama sang suami dan juga orang tuanya di wilayah tersebut.

Kepala Desa Ciasihan, Lilih membenarkan aktivitas Baliah. Dia menyebut bahwa keluarga besar Baliah merupakan orang berada. Bahkan, kata dia, salah satu anggota keluarga besarnya pun ada yang menjabat sebagai kepala desa.

“Kalau keluarga Baliah sendiri memang kurang mampu. Tapi kalau keluarga besarnya itu tergolong orang berada, malah ada juga yang jadi kades. Keluarga besarnya masih orang sini, di Ciasmara,” terang Lilih, Kamis (18/1/2024).

Lilih pun mengungkap bahwa Baliah kerap kali dilarang oleh keluarga besarnya untuk mengemis. Namun larangan tersebut tak diindahkan.

“Keluarganya juga sudah upaya, ngelarang Bu Baliah jangan terus-terusan minta,” jelasnya.

Meski begitu, Lili menjelaskan bahwa selama ini keluarga Baliah menjadi salah satu yang diprioritaskan Pemdes Ciasihan sebagai penerima bantuan dari program pemerintah.

“Dari pemdes sudah maksimal. PKH (program keluarga harapan) dapat, dua-duanya yang dapat (Baliah dan suami). Lalu beras dapat, kalau ada sumbangan-sumbangan selalu dia yang diprioritaskan,” ungkap Lilih.

Tak hanya itu, Lilih menyebut bahwa keluarga Baliah juga terdaftar pada program Kartu Keluarga Sejahtera (KKS).

“Masuk KKS. Kemudian dapat juga BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai). Dan dia adalah PKH murni dapatnya sebulan sekali, kadang-kadang dua bulan sekali,” tandasnya.

Sementara, Ketua RT setempat Agus, Baliah merupakan perempuan tangguh dengan segala ‘kekurangannya’.

Menurut Agus, Baliah adalah perempuan yang bisa dibilang berkebutuhan khusus yang memerlukan perhatian dari warga sekitar dan pemerintah.

“Baliah aslinya warga Kampung Sinar Desa Ciasihan, memang orangnya ada ‘kekurangannya’. Kalau ngobrol masih nyambung tapi kalau ditanya, jawabannya kurang jelas,” ungkap Agus.

Selain Baliah, lanjut Agus, suami dan mertuanya yang tinggal di dalam satu rumah pun memerlukan perhatian lebih.

“Suaminya juga sama (ada kekurangan). Suaminya gak bisa ngomong, kalau mertuanya agak kurang dengar,” jelasnya.

Dalam kehidupan sehari-harinya, Baliah juga kerap meminta-minta kepada warga sekitar. Namun aktivitasnya di GSE yang kini membuatnya viral itu biasanya dilakukan pada akhir pekan, Sabtu dan Minggu.

“Kalau hari biasa kadang keliling ke rumah-rumah warga (meminta) buat makan sehari-sehari,” katanya.

Meski berada dalam ‘kekurangannya’, Agus mengaku terenyuh lantaran Baliah merupakan sosok yang menjadi tulang punggung keluarga.

“Memang orangnya sering minta-minta, kadang-kadang sama mertuanya sempat dilarang jangan kesitu tapi itu maksa (Baliah) karena gak punya uang. Apalagi dia itu jadi tulang punggung keluarga,” tuturnya.

Agus berharap apa yang didapat Baliah saat ini menjadi perhatian pemerintah agar kehidupannya lebih layak dan kondisi dengan ‘kekurangannya’ bisa lebih diperhatikan.

(andres)