27.3 C
Bogor
Monday, August 10, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 23

Penggunaan Air Tanah Diperketat, Pajak Diusulkan Naik 100 Persen

0

Bogor | Jurnal Bogor

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor akan memperketat pengawasan penggunaan air tanah seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi cadangan air bawah tanah, khususnya di wilayah Bogor Tengah yang kini telah masuk kategori merah.

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Bogor, Abdul Wahid, mengatakan kebijakan tersebut merupakan hasil rapat koordinasi bersama Perumda Tirta Pakuan, Satpol PP, dan perangkat daerah terkait dalam upaya mengendalikan pemanfaatan air tanah secara berkelanjutan.

“Penggunaan air tanah yang tidak terkontrol sangat berbahaya karena dapat berdampak pada penurunan kualitas lingkungan dan berkurangnya ketersediaan sumber daya air di masa mendatang. Karena itu kami mendorong masyarakat maupun pelaku usaha untuk beralih menggunakan layanan air perpipaan dari Perumda Tirta Pakuan,” kata Abdul Wahid.

Ia menjelaskan, pengawasan akan difokuskan terhadap pengguna air tanah yang belum memiliki izin maupun yang melanggar ketentuan.

Penindakan dilakukan secara bertahap, mulai dari pemberian surat peringatan hingga pemasangan segel terhadap sumur air tanah yang tetap beroperasi tanpa memenuhi aturan.

Menurut Abdul Wahid, berdasarkan hasil pembahasan lintas instansi, penggunaan air tanah di Kota Bogor sudah harus dibatasi agar tidak semakin mengancam keberlanjutan lingkungan.
Selain memperketat pengawasan, Pemkot Bogor juga tengah mengkaji penyesuaian tarif pajak air tanah.

Saat ini pajak air tanah masih sekitar Rp6.500 per meter kubik, sedangkan tarif air perpipaan Perumda Tirta Pakuan mencapai sekitar Rp12.500 per meter kubik.

“Kami sedang mengkaji kenaikan tarif pajak air tanah, bahkan ada usulan kenaikannya hingga 100 persen. Harapannya, selain meningkatkan penerimaan daerah, kebijakan ini juga menjadi instrumen untuk mengurangi ketergantungan terhadap air tanah dan mendorong masyarakat beralih ke air perpipaan,” ujarnya.

Berdasarkan data Bapenda Kota Bogor, saat ini terdapat sekitar 60 wajib pajak air tanah yang mayoritas berasal dari sektor usaha dan perhotelan. Sementara itu, kewenangan penerbitan izin penggunaan air tanah berada di Pemerintah Provinsi Jawa Barat, sedangkan Pemerintah Kota Bogor berperan dalam pengawasan dan pengendalian pemanfaatannya.

Dari sisi penerimaan daerah, realisasi pajak air tanah hingga pertengahan tahun 2026 telah mencapai sekitar 76 persen dari target tahunan. Dari target sebesar Rp1,49 miliar, penerimaan yang telah terealisasi mencapai sekitar Rp1,14 miliar.

Abdul Wahid berharap Pemerintah Provinsi Jawa Barat lebih selektif dalam menerbitkan izin baru penggunaan air tanah, terutama di kawasan yang kondisi cadangan air bawah tanahnya telah memasuki kategori kritis.

“Langkah ini penting agar keberlanjutan sumber daya air tetap terjaga sekaligus mendukung upaya pelestarian lingkungan di Kota Bogor,” pungkasnya.

** Fredy Kristianto

Apes, Driver Ojol Kena Pelecehan Seksual

0

Bogor | Jurnal Bogor

Seorang pria berinisial S (56), warga Kota Bogor, diamankan warga usai diduga melakukan pelecehan seksual terhadap seorang pengemudi ojek online (ojol) berinisial N (20) di kawasan Taman Lansia, Kelurahan Babakan, Kecamatan Bogor Tengah, Selasa (23/6/2026).

Terduga pelaku sempat berupaya melarikan diri setelah aksinya diketahui korban. Namun, ia berhasil dikejar dan diamankan warga sebelum akhirnya diserahkan kepada personel Polsek Bogor Tengah.

Kanit Reskrim Polsek Bogor Tengah, Ipda Budi Setiawan, mengatakan pihaknya menerima laporan dari masyarakat terkait dugaan pelecehan seksual yang terjadi sekitar pukul 12.00 WIB.

“Setelah kami mendatangi lokasi, diketahui peristiwa terjadi sekitar pukul 12.00 WIB. Selanjutnya kami menerima penyerahan dari masyarakat terhadap seseorang yang diduga melakukan pelecehan seksual dan langsung mengamankannya ke Polsek Bogor Tengah untuk diperiksa,” ujar Budi.

Berdasarkan keterangan awal, korban yang berprofesi sebagai pengemudi ojol saat itu tengah berada di kawasan Taman Lansia. Terduga pelaku kemudian menghampiri korban dan mengajaknya berbincang.

Di tengah percakapan, pelaku diduga melakukan tindakan tidak senonoh dengan meraba paha korban hingga menyentuh area kemaluan.

“Pelaku mengajak korban berbicara. Namun selama pembicaraan berlangsung, pelaku diduga meraba paha korban sampai ke alat kelaminnya,” kata Budi.

Korban yang merasa ketakutan dan tidak nyaman kemudian berupaya mencari pertolongan dari warga yang berada di sekitar lokasi.

Salah seorang saksi, Asep Gumilar (42), mengaku sempat melihat korban dan pelaku duduk berdampingan saat dirinya berjalan mengelilingi taman sambil mendengarkan podcast. Saat itu ia melihat korban beberapa kali memandang ke arahnya dengan ekspresi cemas, namun belum menyadari sedang terjadi dugaan pelecehan.

“Saya lihat korban beberapa kali menatap ke arah saya seperti ingin meminta bantuan. Tapi saya belum tahu ada apa karena mereka terlihat hanya sedang mengobrol,” ungkapnya.

Sekitar 30 menit kemudian, korban menghampiri Asep dan mengaku menjadi korban pelecehan seksual. Korban meminta agar dirinya dibantu karena merasa ketakutan.

Mendengar pengakuan tersebut, Asep bersama korban langsung mengejar pelaku yang saat itu berusaha meninggalkan lokasi. Dengan bantuan seorang mahasiswa yang berada di sekitar taman, pelaku akhirnya berhasil diamankan.

Menurut Asep, saat diamankan pelaku sempat menangis, meminta maaf, serta memohon agar tidak dibawa ke kantor polisi. Pelaku juga disebut mengakui perbuatannya di hadapan warga.

Meski demikian, korban bersama warga tetap membawa pelaku ke pos polisi terdekat di kawasan Lippo Plaza Bogor. Karena saat itu tidak ada petugas yang berjaga, mereka menunggu hingga anggota kepolisian datang dan membawa terduga pelaku ke Polsek Bogor Tengah.

Asep mengaku tidak menyangka pria tersebut diduga melakukan perbuatan tersebut lantaran penampilannya terlihat rapi dan tidak menunjukkan gelagat mencurigakan.

“Penampilannya normal dan rapi seperti orang pada umumnya. Makanya saya juga tidak menyangka,” katanya.

Sementara itu, polisi masih mendalami motif pelaku dan menelusuri kemungkinan adanya korban lain. Berdasarkan informasi dari warga dan pedagang sekitar, pria tersebut diketahui cukup sering berada di kawasan Taman Lansia.

“Dari keterangan warga dan pedagang, yang bersangkutan memang sering berada di sekitar taman tersebut. Untuk motif dan kemungkinan adanya korban lain masih kami dalami,” ujar Budi.

Hingga saat ini polisi belum menerima laporan lain yang berkaitan dengan terduga pelaku. Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, laporan dari korban berinisial N merupakan kasus pertama yang terungkap.

“Dari hasil keterangan yang kami peroleh, sementara baru pertama kali ini yang dilaporkan,” katanya.

Saat ini penyidik masih memeriksa sejumlah saksi serta mengumpulkan alat bukti untuk menentukan proses hukum selanjutnya. Apabila seluruh unsur pidana terpenuhi, terduga pelaku berpotensi dijerat Pasal 281 KUHP tentang perbuatan melanggar kesusilaan di muka umum dengan ancaman pidana maksimal dua tahun delapan bulan penjara.

“Kami masih melakukan pendalaman dan pemeriksaan saksi-saksi. Dugaan sementara dapat dikenakan Pasal 281 KUHP dengan ancaman pidana 2 tahun 8 bulan penjara,” pungkas Budi.

** Fredy Kristianto

Polres Sukabumi di HUT Bhayangkara ke-80: Bantu Petani, Salurkan Air Bersih dan Dukung Ketahanan Pangan

0

Sukabumi | Jurnal Bogor
Polres Sukabumi menggelar serangkaian kegiatan sosial dan pendampingan masyarakat dalam memperingati Hari Ulang Tahun Bhayangkara ke-80. Fokus kegiatan diarahkan pada dukungan ketahanan pangan dan pemenuhan kebutuhan dasar warga di sejumlah wilayah Sukabumi.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap sektor pertanian, Polres Sukabumi menyalurkan bantuan mesin pompa air kepada kelompok tani di wilayah Warungkiara, Kabupaten Sukabumi. Bantuan ini bertujuan memudahkan petani dalam melakukan penyiraman lahan, terutama saat musim kemarau. 

Dengan adanya pompa air tersebut, proses pengairan menjadi lebih cepat dan efisien, sehingga diharapkan hasil panen sesuai dengan target yang diharapkan petani di wilayah

Hasil positif juga terlihat dari program ketahanan pangan Polres Sukabumi. Panen raya jagung kuartal II tahun 2026 berjalan lancar berkat kerjasama yang baik antara petani dan Polres Sukabumi. 

Petani mengapresiasi pendampingan yang diberikan sejak proses tanam hingga panen. Program ini menjadi wujud nyata dukungan Polri terhadap upaya pemerintah dalam mewujudkan swasembada jagung nasional.

Di sisi lain, Sat Samapta Polres Sukabumi turun langsung menyalurkan air bersih bagi warga yang terdampak kekeringan. Personel membantu mengisi jerigen, ember, dan galon milik warga agar kebutuhan air sehari-hari tetap terpenuhi. 

Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari masyarakat yang merasa terbantu di tengah kondisi kekurangan air bersih di desa Bantargadung dan daerah Cisolok, Kabupaten sukabumi.

AKP Abdurrohman Hidayat, S.Tr.K., S.I.K., Kasatlantas Polres Sukabumi menyampaikan bahwa seluruh kegiatan ini merupakan wujud pengabdian Polri untuk masyarakat. “Polri hadir tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga membantu memenuhi kebutuhan dasar dan mendukung kesejahteraan masyarakat,” ujarnya, Senin (22/06/2026).

Rangkaian kegiatan sosial ini diharapkan dapat mempererat hubungan Polri dengan masyarakat sekaligus memberikan manfaat langsung bagi warga Sukabumi.

(Wawan Hermawanto)

Bukan Hanya Sekdes, Kades Leuwisadeng Juga Lama tak Ngantor

0

Leuwisadeng l Jurnal Bogor
Warga Desa Leuwisadeng, Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor heran, ternyata bukan hanya Sekretaris Desa yang sudah lama tak masuk kantor begitu juga Kepala Desanya Rohim Hidayatullah pun sudah lama tak masuk kantor dan terkesan bersikap masa bodoh.‎

‎‎Informasi yang dihimpun Jurnal Bogor, Kades Leuwisadeng Rohim Hidayatullah dari setahun paling 3 atau 4 kali ngantor itu pun dia datang tidak jauh hanya urusan pertanahan.‎

‎”Dari setahun, paling  resminya kepala desa itu ngantor datang ke desa hanya sekali itupun  bertepatan adanya Musrenbang. Namun, setelah itu gak ngantor lagi,” ujar sumber yang tidak bersedia disebut namanya kepada Jurnal Bogor, Senin (22/6/2026).‎

‎Sejauh ini masyarakat juga dibuat bingung ketika membutuhkan kehadiran kepala desa  seperti keperluan tandatangan maupun stempel.‎

‎”Udah mau habis lagi jabatan kepala desa tetapi Pemerintah Desa Leuwisadeng belum juga ada perbaikan,” jelasnya. “‎Kepala desa  juga seringkali ganti nomor kontak jadi sampai hari ini sulit dihubungi ketika ada keperluan,” keluhnya.‎

‎‎Sebelumnya diberitakan, ‎warga di Desa Leuwisadeng, Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor mempertanyakan kinerja Sekretaris Desa Desa Leuwisadeng (KS) yang diduga sudah lama tak masuk kantor.‎

‎Bahkan sudah bukan rahasia umum lagi hingga kini menjadi perbincangan di lingkup Desa Leuwisadeng.‎

‎“Dari tahun 2025 hingga 2026 Sekdes sudah tak masuk kantor,” kata sumber yang tidak bersedia disebut namanya kepada Jurnal Bogor, Sabtu (20/6/2026).‎

‎“Keliatannya sih udah lama ya tidak masuk,  bahkan dari tahun 2024 pun paling beberapa hari saja Sekdes itu  ngantor datang  ke kantor desa. Namun, setelah itu lama gak ngantor lagi sampe sekarang ini. Sepertinya Sekdes itu, secara ke dinasan  masih aktif tetapi keliatannya  sudah lama banget gak ngantor. Seharusnya pihak kecamatan menegur Sekdes yang sudah lama tak ngantor itu, jangan diem diem bae,” ungkapnya lagi.‎

‎Dia bahkan pernah melihat pada jam kerja Sekdes itu berada di pemancingan di Kampung Legok Manggu dan CE0 Cibeubeur 04. Padahal menurut  Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, jika Sekdes meninggalkan tugas selama 60 hari kerja berturut-turut tanpa alasan yang jelas, maka ia dapat dikenakan sanksi hingga pemberhentian tetap.‎

‎Jurnal Bogor berupaya konfirmasi melalui sambungan teleponnya terkait Sekdes Leuwisadeng yang disebut-sebut masyarakat sudah tahunan tak masuk kantor.  Namun Sekdes Leuwisadeng KS tak merespons.‎

‎Sementara Camat Leuwisadeng Rudy Mulyana menyatakan siap menindaklanjuti informasi tersebut. “Nuhun informasinya, nanti pihak kecamatan melakukan pembinaan terhadap yang‎ bersangkutan,” singkatnya.

** Arip Ekon

Sensus Ekonomi 2026 di Kota Bogor Dimulai

0

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bogor, sudah mulai melaksanakan Sensus Ekonomi 2026 dengan melakukan pendataan perdana kepada Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim.

Sensus Ekonomi ini berlangsung di kediaman wali kota di wilayah Kecamatan Bogor Timur, Senin 15 Juni 2026.

Kedatangan petugas BPS ini menjadi penanda dimulainya pendataan Sensus Ekonomi 2026 di Kota Bogor yang dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia.

Sensus ini merupakan kegiatan strategis nasional untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi dan struktur perekonomian.

Kepala BPS Kota Bogor, Raden Gandari Adianti Aju Fatimah, mengatakan pendataan terhadap kepala daerah menjadi langkah awal sebelum mereka menyasar masyarakat luas.

Dia menyebutkan, metode yang digunakan petugas BPS, yakni door to door atau dari rumah ke rumah.

“Ini adalah pendataan perdana Sensus Ekonomi 2026 di Kota Bogor. Pada tahap awal ini, kami mengawali dengan mendata kepala daerah terlebih dahulu, yakni Wali Kota Bogor,” ujarnya.

Ia menjelaskan, setelah pendataan terhadap wali kota, kegiatan akan dilanjutkan kepada Wakil Wali Kota Bogor.

Selanjutnya, petugas akan menyisir seluruh wilayah untuk memastikan seluruh pelaku ekonomi tercatat.

“Kegiatan ini dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia. Saat ini seluruh daerah juga sedang melakukan pendataan kepada kepala daerah masing-masing sebagai bagian dari kick off Sensus Ekonomi 2026,” tambahnya.

Sementara itu, Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung pelaksanaan sensus dengan menerima kehadiran petugas BPS dengan baik.

Dedie menegaskan, partisipasi warga sangat penting agar data yang dihasilkan akurat dan lengkap.

“Hari ini saya bersama keluarga menerima tim dari BPS Kota Bogor dalam rangka Sensus Ekonomi 2026 dengan tagline ‘Mencatat Ekonomi Indonesia’. Kegiatan ini berlangsung mulai 15 Juni hingga 31 Agustus 2026,” ucapnya.

Ia juga meminta dukungan dari seluruh elemen masyarakat, mulai dari aparatur wilayah hingga organisasi kemasyarakatan. Menurutnya, keterbukaan warga akan membantu keberhasilan pendataan.

“Kepada seluruh masyarakat Kota Bogor, tolong bukakan pintu seluas-luasnya untuk para petugas BPS. Mari kita bantu mereka mendata dan memastikan seluruh masyarakat tercakup dalam Sensus Ekonomi Indonesia,” katanya.

Harapan yang sama juga disampaikan Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin. Dia meminta seluruh masyarakat untuk mendukung kegiatan Sensus Ekonomi 2026 yang dilakukan BPS Kota Bogor.

“Mari kita dukung penuh kegiatan Sensus Ekonomi yang dilakukan BPS Kota Bogor, dalam pendataan dan pencatatan kepada warga Kota Bogor,” ujar Jenal Mutaqin.

Sensus Ekonomi ini bakal menyasar berbagai skala usaha dan keluarga di seluruh wilayah Kota Bogor.

Untuk menyukseskan kegiatan tersebut, BPS Kota Bogor telah memastikan kesiapan pelaksanaan di lapangan secara matang. BPS menurunkan ratusan petugas terlatih yang siap mengumpulkan data.

BPS Kota Bogor melibatkan 599 Petugas Pencacah Lapangan (PPL) door to door, 77 Petugas Pemeriksa Lapangan (PML) door to door, 3 PPL Usaha Besar (UB), serta 1 PML Usaha Besar (UB) untuk memastikan seluruh wilayah dan unit usaha dapat terdata dengan baik.

BPS Kota Bogor, mengajak seluruh elemen masyarakat dan pelaku usaha di Kota Bogor untuk menyukseskan kegiatan tersebut.

Salah satu caranya menerima kedatangan petugas Sensus Ekonomi 2026 dengan baik selama periode pendataan berlangsung.

Masyarakat juga tidak perlu ragu atau khawatir, karena setiap petugas resmi BPS yang turun ke lapangan selalu dilengkapi identitas.

Petugas BPS diwajibkan mengenakan atribut lengkap berupa rompi Sensus Ekonomi dan tanda pengenal (ID card) resmi.

Kegiatan ini diawali dengan pendataan perdana kepada pimpinan daerah Kota Bogor, yaitu Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bogor.

Hal ini diharapkan menjadi bagian dari sosialisasi yang positif agar masyarakat bersedia menerima kedatangan petugas Sensus Ekonomi 2026.

Teh Kumis Kucing: Minuman Herbal Khas Gunung Malang yang Mendunia

0

Tenjolaya | Jurnal Bogor
Desa Gunung Malang, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor kini punya kebanggaan baru berupa minuman herbal khas: Teh Kumis Kucing. Produk olahan Yayasan Karya Citra Desa Gunung Malang ini lahir dari program pemberdayaan masyarakat yang memanfaatkan tanaman obat keluarga di wilayah pegunungan Bogor.

Dari Kebun Toga ke Gelas Konsumen
Program dimulai melalui dukungan PT SMF [Sarana Multi Finance] Persero Tbk dan Yayasan Inspirasi Anak Bangsa dengan membangun central penanaman toga di Desa Gunung Malang. Tanaman kumis kucing ditanam dan dikelola langsung oleh Yayasan Karya Citra Desa, mulai dari penanaman hingga panen yang membutuhkan waktu sekitar 4-5 bulan.

“Ternyata dalam minuman tersebut terdapat banyak kandungan manfaat. Karya Citra Desa pun berinovasi dengan mengolahnya menjadi minuman teh. Ketika dipasarkan melalui marketplace, permintaan konsumen cukup banyak,” ungkap Martin, Ketua Yayasan Karya Citra Desa Gunung Malang, Senin(22/06/2026).

Keberhasilan ini membuat PT SMF dan yayasan pendamping berencana membantu proses perizinan BPOM, label halal, serta penyediaan peralatan produksi agar memenuhi standar pasar.

Khasiat Teh Kumis Kucing
Kumis kucing atau Orthosiphon stamineus memang dikenal luas dalam pengobatan tradisional Indonesia. Teh ini dibuat dari daun kumis kucing kering yang diseduh dengan air panas selama 5-10 menit.

Beberapa manfaat yang dikenal luas antara lain:
1. Menjaga kesehatan ginjal dan saluran kemih – Berfungsi sebagai diuretik alami yang membantu melancarkan buang air kecil dan mencegah infeksi saluran kemih.

2. Membantu menurunkan tekanan darah dan gula darah – Kandungan flavonoid dan asam rosmarinat membantu melenturkan pembuluh darah dan mendukung fungsi insulin.

3. Antiinflamasi dan antioksidan– Senyawa fenolik dan flavonoid dalam kumis kucing membantu meredakan peradangan dan melindungi sel dari radikal bebas.

4. Meringankan asam urat dan batu ginjal– Efek diuretiknya membantu mengeluarkan kelebihan asam urat dan mempercepat penyembuhan.

Meski bermanfaat, konsumsi teh kumis kucing tetap perlu bijak. Disarankan 1-2 cangkir per hari tanpa gula, dan konsultasi dokter diperlukan bagi ibu hamil, penderita ginjal kronis, atau yang sedang mengonsumsi obat tertentu.

Dampak Ekonomi untuk Desa
Selain manfaat kesehatan, program ini membuka peluang ekonomi baru bagi warga Gunung Malang. Yayasan Karya Citra Desa mendorong kader Posyandu dan PKK untuk menanam toga di pekarangan rumah karena tanaman ini sudah memiliki nilai jual di pasar.

“Ini menjadi sinyal baik untuk kedepannya, khususnya bisa memberdayakan masyarakat sekitar dengan tanaman toga yang produktif,” ujar Martin.

Dengan kombinasi kearifan lokal, pemberdayaan masyarakat, dan potensi pasar yang besar, Teh Kumis Kucing Gunung Malang berpotensi menjadi produk unggulan desa yang mendunia.

(Wawan Hermawanto)

Diskusi Kampoong Ecopreneur-Muhsinin Club: Potensi Wakaf Rp2.000 Triliun Masih Belum Tergarap Maksimal

0

Bandung | Jurnal Bogor – Potensi wakaf produktif di Indonesia dinilai masih sangat besar, namun belum diimbangi dengan tata kelola dan infrastruktur yang memadai. Hal tersebut mengemuka dalam acara Muhsinin Circle yang digelar oleh Muhsinin Club di Bandung, Sabtu (20/6/2026), yang mempertemukan para pengelola trust fund konglomerat dengan penggerak modal ventura wakaf produktif.

Founder Arunami Investment dan Yayasan Syamsi Dhuha, Eko Pratomo, mengungkapkan bahwa potensi makro wakaf nasional diperkirakan mencapai Rp2.000 triliun per tahun, dengan potensi wakaf uang sebesar Rp181 triliun per tahun. Namun, realisasi yang berhasil dihimpun saat ini baru sekitar Rp3,5 triliun atau tingkat konversinya masih di bawah dua persen.

“Masalah utama bukan pada ketiadaan dana masyarakat, melainkan pada kelangkaan tata kelola dan kanal institusional yang kredibel untuk menyerapnya,” ujar Eko dalam paparannya.

Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan krisis kanal kepercayaan yang membuat potensi dana wakaf belum dapat dimobilisasi secara optimal.

Pandangan serupa disampaikan oleh Jamil Azzaini, pendiri Kampoong Ecopreneur. Ia mendorong semakin banyak masyarakat terlibat dalam pengembangan wakaf produktif.

Jamil mencontohkan salah satu proyek wakaf produktif yang dinilai berhasil, yakni sebuah restoran Ampera di Bandung yang hingga kini terus menghasilkan manfaat dan nilai ekonomi bagi penerima manfaat wakaf.

Eko menjelaskan, infrastruktur kelembagaan wakaf di Indonesia masih relatif dangkal. Saat ini tercatat hanya terdapat 505 nazhir aktif dan 5.273 nazhir bersertifikasi SKKNI. Sementara itu, dari sekitar 451.000 titik aset wakaf nasional, sekitar 90 persen masih bersifat konsumtif dan statis, seperti lahan kosong maupun area pemakaman, dengan pertumbuhan hanya 4–5 persen per tahun.

“Hanya sekitar 10 persen aset yang memiliki potensi strategis untuk dikembangkan menjadi aset produktif,” katanya.

Ia mendorong perubahan paradigma dari aset pasif menjadi mesin ekonomi melalui konsep modal abadi (perpetual capital), yakni model pengelolaan yang menjaga nilai pokok aset tetap utuh, sementara hasil investasinya dimanfaatkan untuk membiayai berbagai program sosial dan misi wakaf.

“Pokok dilindungi penuh oleh syariat. Hanya hasil investasi yang dikonsumsi untuk operasional misi wakaf,” jelasnya.

Eko juga menilai regulator mulai membuka ruang modernisasi pengelolaan wakaf melalui berbagai instrumen baru, seperti Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS), securities crowdfunding, saham, dan reksa dana.

Selain itu, ia menyoroti masih banyaknya trust fund milik warga Indonesia yang ditempatkan di luar negeri, terutama di Singapura. Menurutnya, pembentukan trust fund idealnya berjalan beriringan dengan kebijakan tax amnesty agar dana yang selama ini tersimpan di luar negeri dapat kembali dan tercatat di Indonesia.

“Mau tidak mau, mereka yang membangun trust fund seperti itu kebanyakan masih menempatkannya di luar negeri, terutama Singapura,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Widjajanto mengisahkan pengalamannya mengelola trust fund milik dua konglomerat nasional. Ia menyebut lebih dari Rp200 triliun aset pribadi yang sebelumnya diparkir di luar negeri berhasil didaftarkan kembali saat program tax amnesty pada era pemerintahan Joko Widodo.

Widjajanto bahkan mengusulkan agar gagasan tax amnesty jilid ketiga kembali disuarakan kepada Prabowo Subianto dengan pengawasan yang ketat, sehingga dana yang berada di luar negeri dapat diarahkan untuk memperkuat ekosistem wakaf produktif nasional.

Dalam kesempatan tersebut, turut dipaparkan berbagai inisiatif pengembangan wakaf produktif yang tengah dijalankan Kampoong Ecopreneur, termasuk bisnis ekspor ubi ungu ke Singapura. Sementara itu, tim Eko Pratomo disebut telah menjalankan investasi berdampak (impact investment) pada sekitar 15 perusahaan sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekonomi berbasis wakaf di Indonesia. (*)

Dorong Peduli Lingkungan, Bank Sampah Mart Luncurkan Program Pilah Sampah di Sekolah

0

Bogor | Jurnal Bogor
Bank Sampah Mart meluncurkan program edukasi lingkungan sekolah bertajuk “Mari Pilah Sampah di Sekolah Melalui Bank Sampah!” guna mendorong praktik pengelolaan sampah yang sistematis di lingkungan pendidikan.

Program ini dirancang untuk membantu sekolah membangun budaya peduli lingkungan sekaligus mengurangi volume sampah yang dihasilkan. Melalui program ini, siswa diajak terlibat aktif dalam tiga tahapan yakni memilah sampah berdasarkan kategori organik, anorganik, dan residu; menyetorkan sampah terpilah ke unit bank sampah sekolah; serta memperoleh poin tabungan yang dapat ditukar dengan hadiah atau insentif.

Menurut Ketua Asobsi Kota Bogor Darga, Bank Sampah Mart memiliki pola pendekatan yang baik tidak hanya berdampak pada pengurangan limbah, tetapi juga membentuk karakter hijau dan tanggung jawab lingkungan pada peserta didik sejak usia dini.

“Program ini sejalan dengan implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) tema gaya hidup berkelanjutan yang diterapkan di satuan pendidikan,” kata Darga, Minggu (21/06/2026).

“Kami mengajak seluruh sekolah di Indonesia untuk bergabung. Tujuannya sederhana menciptakan lingkungan sekolah yang sehat, bersih, dan mendidik siswa untuk lebih peduli pada bumi,” ujarnya lagi.

Sekolah yang tertarik berpartisipasi dapat menghubungi Bank Sampah Mart melalui WhatsApp di nomor 088809002226 untuk informasi pendaftaran dan pendampingan program.

Bank Sampah Mart adalah unit pengelola sampah yang fokus pada edukasi, pengumpulan, dan daur ulang sampah di tingkat komunitas dan institusi pendidikan.

(Wawan Hermawanto)

Warga Leuwisadeng Pertanyakan Sekdes tak Masuk Kantor

0

Leuwisadeng l Jurnal Bogor
Warga di Desa Leuwisadeng, Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor mempertanyakan kinerja Sekretaris Desa Desa Leuwisadeng (KS) yang diduga sudah lama tak masuk kantor.

Bahkan sudah bukan rahasia umum lagi hingga kini menjadi diperbincangkan di lingkup Desa Leuwisadeng.

“Dari tahun 2025 hingga 2026 Sekdes sudah tak masuk kantor,” kata sumber yang tidak bersedia disebut namanya kepada Jurnal Bogor, Sabtu (20/6/2026).

“Keliatannya sih udah lama ya tidak masuk,  bahkan dari tahun 2024 pun paling beberapa hari saja Sekdes itu  ngantor datang  ke kantor desa. Namun, setelah itu lama gak ngantor lagi sampe sekarang ini. Sepertinya Sekdes itu, secara ke dinasan  masih aktif tetapi keliatannya  sudah lama banget gak ngantor. Seharusnya pihak kecamatan menegur Sekdes yang sudah lama tak ngantor itu, jangan diem diem bae,” ungkapnya lagi.

Dia bahkan pernah melihat pada jam kerja Sekdes itu berada di pemancingan di Kampung Legok Manggu dan CE0 Cibeubeur 04. Padahal menurut  Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, jika Sekdes meninggalkan tugas selama 60 hari kerja berturut-turut tanpa alasan yang jelas, maka ia dapat dikenakan sanksi hingga pemberhentian tetap.

Sementara, Kasi Pemerintahan (Kasipem) Kecamatan Leuwisadeng Welly saat dikonfirmasi perihal Sekdes Desa Leuwisadeng tersebut belum merespons.

** Arip Ekon

Majelis Taklim Bekali Ibu-ibu Keterampilan Mengelola Emosi Saat Mood Berantakan

0

Bogor | Jurnal Bogor
Di tengah berbagai tuntutan peran sebagai istri, ibu, sekaligus pengelola rumah tangga, kesehatan emosi menjadi salah satu aspek penting yang sering terabaikan. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Majelis Taklim Al Madinatul Al Munawarrah, Greenland Foresthill Residence Semplak, Bogor menyelenggarakan kajian bertema Spiritual First Aid: pertolongan pertama saat mood berantakan, Minggu (21/06/2026).

Kajian ini diikuti kurang lebih 30 jamaah ibu-ibu dan berlangsung selama 120 menit dalam suasana hangat, reflektif, dan penuh makna menghadirkan Lili Marliyuana, Emotional Healing Therapist, yang sekaligus juga Direktur ABCo Therapy Center, yang mengajak peserta memahami pentingnya mengenali dan mengelola emosi sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar dalam kehidupan sehari-hari.

Ketua Bidang Ibadah dan Dakwah Majelis Taklim, Santi Andriyanti mengatakan bahwa kajian ini diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan mental dan emosional para ibu yang sering kali lebih fokus merawat orang lain daripada memperhatikan kondisi dirinya sendiri.

“Seorang ibu adalah pusat ketenangan dalam keluarga. Namun sering kali para ibu menyimpan kelelahan, kekhawatiran, dan berbagai beban emosi tanpa memiliki ruang untuk mengelolanya. Melalui kajian ini kami berharap para jamaah mendapatkan bekal praktis untuk menjaga kesehatan hati dan emosinya sehingga dapat menjalankan peran dengan lebih tenang dan bahagia,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Lili menjelaskan bahwa mood yang tidak stabil bukan sekadar persoalan perasaan sesaat. Menurutnya, perubahan suasana hati sering kali merupakan akumulasi dari kelelahan fisik, tekanan psikologis, konflik relasi, hingga kurangnya waktu untuk memulihkan diri secara spiritual.

“Banyak orang mengira dirinya tiba-tiba marah atau sensitif. Padahal biasanya itu adalah puncak dari berbagai emosi yang sudah lama menumpuk. Yang terlihat mungkin kemarahannya, tetapi di baliknya bisa ada kesedihan, kekecewaan, rasa takut, atau perasaan tidak dihargai,” jelasnya.

Dalam sesi tersebut peserta diajak memahami konsep ‘gunung es emosi’, yaitu kondisi ketika emosi yang tampak di permukaan hanyalah sebagian kecil dari apa yang sebenarnya sedang dirasakan seseorang. Peserta juga diajak mengenali berbagai tanda kelelahan emosi, seperti mudah tersinggung, sulit fokus, overthinking, kehilangan semangat, gangguan tidur, hingga menurunnya kualitas ibadah.

Menurut Lili, banyak orang baru menyadari pentingnya kesehatan emosi ketika masalah sudah terasa berat. Padahal, sebagaimana tubuh membutuhkan pertolongan pertama saat terluka, emosi juga membutuhkan penanganan sejak dini.

“Spiritual First Aid adalah keterampilan sederhana untuk menolong diri sendiri ketika hati sedang tidak baik-baik saja. Kita belajar berhenti sejenak, menyadari apa yang dirasakan, menerima emosi yang hadir, lalu menyerahkan segala beban kepada Allah. Ini bukan tentang menghilangkan masalah, tetapi mengelola respons kita terhadap masalah tersebut,” katanya.

Selain mendapatkan pemahaman mengenai hubungan antara pikiran, emosi, tubuh, dan spiritualitas, para peserta juga diperkenalkan pada konsep Spiritual First Aid: pertolongan pertama saat mood berantakan melalui formula sederhana S.A.F.E. (Stop, Acknowledge, Feel & Free, serta Entrust to Allah).

Salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta adalah praktik Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT). Melalui metode ini, peserta diajak melakukan teknik tapping yang dipadukan dengan doa, penerimaan diri, dan pendekatan spiritual untuk membantu menurunkan intensitas emosi negatif.

Suasana menjadi semakin khusyuk ketika peserta melakukan refleksi diri dan latihan melepaskan berbagai emosi yang selama ini dipendam. Beberapa peserta tampak terharu ketika menyadari bahwa selama ini mereka lebih sering mengabaikan kebutuhan emosinya sendiri.

Santi menilai kegiatan semacam ini sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini, terutama di tengah berbagai tantangan kehidupan yang semakin kompleks.

“Kami berharap kajian ini menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan emosi bukanlah bentuk kelemahan, melainkan bagian dari ikhtiar untuk menjadi pribadi yang lebih sehat, lebih sabar, dan lebih dekat kepada Allah. Ketika hati seorang ibu tenang, insya Allah ketenangan itu akan mengalir kepada seluruh anggota keluarganya,” tuturnya.

Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga keterampilan praktis untuk mengenali, menerima, dan mengelola emosi secara sehat sehingga mampu menghadapi berbagai dinamika kehidupan dengan lebih tenang, bijak, dan penuh syukur.

“Mood yang sehat bukan berarti hidup tanpa masalah. Mood yang sehat adalah kemampuan untuk kembali tenang setelah diterpa berbagai ujian kehidupan,” pungkas Lili.

(Wawan Hermawanto)