31 C
Bogor
Friday, April 24, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 1605

5000 Masker FORMI untuk Masyarakat

0

Cibinong | Jurnal Inspirasi

AKSI Peduli FORMI Kabupaten Bogor kepada masyarakat terdampak Covid 19 dan PSBB ternyata tidak hanya pada pembagian 1000 paket sembako saja. Karena  FORMI Kabupaten Bogor  juga melakukan pembagian  5000 masker kepada masyarakat di Kabupaten Bogor.

“Intinya FORMI  juga ingin mendukug program Bupati  Bogor agar semua masyarakat Kabupaten Bogor bisa menggunakan masker selama Pandemi Covid 19 ini,” tegas Ketua Umum FORMI Kabupaten Bogor, Usep Supratman.

Pembagian masker  yang dilakukan FORMI Kabupaten Bogor ini secara Door To Door kepada masyarakat di beberapa wilayah yang ada di Kabupaten Bogor.

“Menggunakan masker di saat  Pandemi  Covid 19 ini adalah hal yang sangat penting. Minimal ini sudah memenuhi ketentuan aturan kesehatan yang ditetapkan selama Pandemi Covid 19,” beber  Usep lagi.

Usep berharap, semua masyarakat di Kabupaten Bogor bisa memahami arti penting penggunaan masker di tengah situasi wabah atau Pandemi Covid 19  .     

Sementara itu, Kadispora Kabupaten Bogor, Bambang Setyawan secara tegas mengatakan,  pembagian masker yang dilakukan FORMI Kabupaten Bogor  ini sangat sejalan dengan program Bupati Bogor yang memang sudah menghimbau kepada masyarakat di Kabupaten Bogor untuk menggunakan masker jika keluar rumah.  

“Saya berharap semua lembaga keolahragaan  ataupun insan olahraga yang ada di Kabupaten Bogor bisa mengtikuti apa yang dilakukan FORMI dan KONI Kabupaten Bogor yang sangat mendukung Program Pemkab Bogor terkait memutus mata rantai Covid 19 dan juga PSBB yang tengah berlangsung saat ini,” pungkas Bambang Setyawan.  

** Asep Syahmid

Semua Atlet Tarung Derajat Berlatih Mandiri

0

Cibinng | Jurnal  Inspirasi  

Pelatih tim Seni Garak, Keluarga Olahraga Tarung Derajat (Kodrat) Jawa Barat, untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua, Mia Ersa menegaskan, jika semua atlet masih terus berlatih secara mandiri dirumah masing-masing atlet selama masa pandemi virus Covid-19.

Manurutnya jika latihan yang sekarang ini dijalani atlet, lebih kepada latihan mandiri. Karena masih dalam tanggap darurat dari penyebaran wabah virus Covid-19, sehingga untuk menjaga performa atlet, pelatih terus memberikan program latihan secara kontinyu. Bahkan, pemantauan juga dilakukan melalui sambungan vidio konfren pada saat atlet sedang berlatih.

“Untuk saat ini kita tidak bisa latihan bersama seperti biasa, karena masih darurat Covid-19. Tapi kita dari tim pelatih selalu intens memberikan program latihan, yang tujuannya untuk lebih memantapkan persiapan para atlet nomor seni gerak putra, maupun putri,” ujarnya.

Ia menjelaskan, bahwa untuk program latihan nomor seni gerak terus dipantau perkembangannya. Bahkan pada saat latihan atlet tersebut juga diwajibkan untuk merekam, dan mengirimkan vidio mereka ke grup WhatsApp. Jadi, sambung Mia, perkembangan atlet bisa terpantau setiap harinya.

“Persiapan atlet nomor seni gerak terus dimantapkan. Walau ada perubahan jadwal pelaksanaan PON 2020 ke tahun 2021. Tapi program latihan juga harus dipertahankan hingga pelaksanaan digelar,” tegasnya.

Mia menambahkan, kalau program latihan yang berjalan saat ini, tetap lebih kepada fisik, maupun gerakan dari masing-masing atlet yang tergabung dalam tim seni gerak Pelatda Jawa Barat.  

** Asep Syahmid

KONI Kota Bogor Pantau 50 Atlet PON

0

Bogor | Jurnal  Inspirasi  

Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Bogor, Moch Benninu Argoebie, memastikan jika lebih dari 50 atlet asal ‘Kota Hujan’ yang masuk dalam skuat Jawa Barat untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua, tetap dipantau perkembangannya oleh KONI Kota Bogor. Karena sebagai induk olahraga pembinaan dan prestasi di ‘Kota Hujan’, para atlet selalu diawasi, dan dimintai perkembangan hasil latihan mereka. Terutama bagi para atlet yang masuk ke dalam Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) Jawa Barat, maupun Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas).

“Kami selalu memonitor perkembangan dari latihan para atlet. Meski hanya bisa mengawasi dari rumah, tapi tidak jadi kendala bagi kami karena ada media sosial, untuk bisa memantau langsung program latihan dari masing-masing atlet,” Moch Benninu Argoebie, kemarin.

Pria yang akrab disapa Benn ini menuturkan, saat ini seluruh aktivitas di gedung KONI Kota Bogor, maupun Jawa Barat dihentikan sejak pertengahan Maret lalu. Bahkan diperpanjang kembali selama masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diterapkan oleh pemerintah. Jadi semua tempat-tempat pemusatan latihan atlet juga ikut ditutup, sehingga mereka harus menjalani program latihan secara mandiri dirumah masing-masing atlet. Baik itu atlet Pelatda Jawa Barat, Pelatnas, ataupun atlet binaan cabor Kota Bogor.

“Kendati demikian, bukan berarti tidak ada pemantauan yang dilakukan KONI Kota Bogor. Justru sebaliknya kita intens memantau perkembangan atlet melalui media sosial,” tegasnya.

Lebih lanjut pria yang akrab disapa Benn itu menambahkan, bahwa sampai saat ini jumlah secara keseluruhan atlet Kota Bogor yang masuk tim Jawa Barat, untuk PON Papua, yang harusnya digelar tahun 2020 kemungkinan besar diatas 50 atlet. Karena dari hasil monitoring yang dilakukan KONI Kota Bogor, kebeberapa tempat Pelatda cabang olahraga yang ada di Bandung untuk memastikan kondisi atlet dari cabor judo, taekwondo, menembak, dan cabor-cabor lainnya sebelum penyebaran virus Covid-19 ada, kondisi atlet tetap sehat hingga saat ini.

“Alhamdulillah para atlet Kota Bogor yang tergabung dalam tim Pelatda PON Jawa Barat, dalam keadaan sehat, dan baik semua, dan saya berharap dimasa-masa pandemi ini mereka juga harus bisa menjaga kesehatan, dan performa mereka selama berlatih mandiri,” pungkasnya.

** Asep Syahmid

Diguyur Hujan 2 Jam, Kampung Leuwinutug Terendam Banjir

0

Citereup |Jurnal Inspirasi

Hujan deras yang mengguyur wilayah Bogor dan sekitarnya selama 3 jam berdampak pada meluapnya Kali Cigede di Desa Leuwinutug yang mengakibatkan 40 rumah harus terendam banjir menjelang berbuka puasa, Senin (18/05).

Kades Leuwinutug Deden Saeful Hamdi saat dikonfirmasi melalui pesan singkat WhatsApp membenarkan meluapnya kali Cigede yang mengakibatkan 40 rumah warganya harus terendam banjir, dan saat ini sedang dievakuasi ke tempat yang lebih aman. “Ya, kita sedang diuji musibah di tengah pandemi Covid-19 yang belum kelar, sekarang banjir. Ada sekitar 40 rumah yang berdampak dan kami sedang mengecek untuk melakukan evakuasi,” kata Kang Denz biasa disapa kepada Jurnal Bogor.

“Airnya datang cepet banget dan langsung menggenangi rumah-rumah warga yang dekat dengan kali Cigede, dan Jembatan Buntung. Air naik sekitar pukul 18.00 menjelang waktu berbuka puasa. Leuwinutug sepanjang pinggiran kali ini memang langganan banjir tiap kali hujan deras dan turunnya lama, pasti banjir,” kata salah seorang warga sekitar.

Hingga berita ini diturunkan belum diketahui perihal jumlah kerugian secara material. Sementara di tempat evakuasi warga sudah ada aparatur desa dan Tim Destana.

** Nay Nur’ain

Bogor Aksi Peduli Donasikan Sembako ke Warga yang Terdampak Covid-19

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

Mahasiswa perantauan yang berdomisili di Kota Bogor melakukan solidaritas Bogor Aksi Peduli terhadap warga yang terdampak pandemi virus Corona (Covid-19) dengan membagikan barang kebutuhan pokok seperti beras, mie, sarden dan minyak goreng. Aksi ini dilakukan oleh enam organisasi mahasiswa daerah yang terdiri dari Bogor Brawijaya Community, Forum Silaturahim Mahasiswa Bogor UPI, Plat F UNS, Obor Unsika, Pamor Raya, Forcy Telkom University sebagai sikap empati dan wujud keprihatinan terhadap kesusahan masyarakat yang kurang mampu.

Sejumlah mahasiswa ketika membagikan paket sembako.

“Aksi ini berwujud penanganan pandemi Covid-19 dengan membuka donasi. Donasi yang sudah kami kumpulkan digunakan untuk membeli. Selain kami memberikan donasi berupa barang, kami juga memberikan donasi ke masjid terdekat. Untuk target pemberian sembako ini yaitu sopir angkot, pengemis, pemulung, dan ojek online,” ujar Arya Akmal Firdaus, perwakilan dari mahasiswa Malang  dengan komunitasnya Brawijaya Bogor Community kepada Jurnal Bogor, Senin (18/5).

Sementara kegiatan ini dimulai pada 12 April 2020, dengan mengumpulkan perwakilan dari tiap organisasi mahasiswa daerah dan dari tiap organisasi daerah dipilih penanggung jawab untuk kegiatan untuk memudahkan komunikasi antar tiap organisasi daerah. “Lalu kami juga menyusun kepanitiaan agar acaranya bisa lebih terkonsep dengan baik,” jelas Arya.

Setelah melalui perencanaan, Bogor Aksi Peduli mulai membuka donasi pada 29 April sampai  14 Mei 2020 dan donasi yang telah terkumpul sebesar Rp 4.619.153. “Dari donasi yang telah terkumpul kami membuat 150 paket sembako. Alhamdulillah kami juga mendapat bantuan dari donatur sehingga total paket sembako menjadi 227 paket, juga ada bantuan donasi berupa masker,” tandasnya.

Sedangkan untuk pendistribusian sembako ini dilaksanakan pada 16 Mei 2020, dimulai pada pukul 20.00 hingga 23.30 WIB dengan jalur pembagiannya dari daerah Mawar, Surya Kencana, Pancasan, dan Laladon.

** Budi Satrio

Tebingan Kali Neglasari Longsor, Satu Rumah Rusak

0

Leuwiliang | Jurnal Bogor

Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Leuwiliang menyebabkan longsornya tebingan kali Neglasari. Akibatnya, satu rumah warga di Kampung Neglasari Rt 02, RW 04, Desa Leuwimekar, Kecamatan Leuwiliang ikut tergerus. Tak ada korban jiwa akibat peristiwa ini, tapi satu rumah mengalami kerusakan.

Kepala Desa Leuwimekar, Sumarno membenarkan ada bencana alam tanah longsor yang menyebabkan rumah warga rusak. “Diduga tanah longsor itu dipicu curah hujan tinggi dan menyebabkan aliran kali Neglasari meluap,” ujar pria yang biasa disapa Jaro Emay, Senin (18/5).

Pihak Desa tengah mendatangi lokasi bencana, dan melaporkan kejadian tersebut ke Kecamatan Leuwiliang dan Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor. “Bencana tanah longsor itu terjadi karena intensitas curah hujan tinggi dengan kondisi tanah yang labil. Alhamdulilah, tidak ada korban jiwa atas musibah ini,” tukasnya.

** Cepi Kurniawan

Pemdes Sukaluyu Gunakan DD 2020 Bangun TPT dan Buka Akses Jalan

0

Nanggung l Jurnal Inspirasi

Pembangunan desa berbasis kebutuhan dasar masyarakat didongkrak Pemerintah Desa Sukaluyu, Kecamatan Nanggung yang kini membangun TPT dan mengaspal jalan desa dengan hotmix. Sekretaris Desa Sukaluyu, Iip Maulana. S. Sos mengatakan, Dana Desa (DD) tahap pertama tahun anggaran 2020 digunakan bangun Tembok Penahan Tanah (TPT) lapangan desa yang berlokasi di Kampung Sawah di lingkungan RW 04 dan RW 07.

“Pembangunan masih dilakukan jelang datangnya hari raya Idul Fitri dan kemungkinan bangunan yang bersumber dari Dana Desa (DD) bakal dilanjut setelah Lebaran,” kata Iip kepada Jurnal Bogor, Senin (18/5).

Ia menambahkan, melihat situasi dan kondisi yang ada pembangunan paling telat setelah Lebaran sehingga pembangunan infrastruktur itu akan digeber. “Saat ini  bangunan TPT yang tengah berlangsung​ terlebih progres berikutnya, yakni pengerjaan hotmix jalan desa  dari Kampung Jeruk menuju Kampung Sibentang. Berikut pembukaan akses jalan yang merupakan jalur alternatif warga Sukajaya,” terangnya.

Pembukaan akses jalan dari Kampung Dukuh merupakan penghubung Kampung Sukajaya lantaran jalan tersebut hanya bisa dilintasi roda dua. “Dengan keinginan warga  sangat tinggi akhirnya jalan tersebut akan segera dilebarkan yang nantinya bisa dilalui kendaraan roda empat,” paparnya.

Alasannya, menurut Iip dibukanya akses jalan tersebut upaya untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian warga desa dan sebagai sarana transfortasi pendidikan.” Diperlukan sarana infrastruktur sebagai pendukung  pembangunan yang merupakan media transportasi masyarakat yang memadai,” pungkasnya.

** Arip Ekon

RS Darurat di Kemang Akhirnya Diresmikan

0

Kemang | Jurnal Inspirasi

Sempat mundur pembangunan rumah sakit darurat Wisma Kemendagri Kemang, akhirnya pada Senin (18/5), Bupati Bogor meresmikan tempat dimana untuk merawat dan mengisolasi pasien ODP dan PDP di wilayah Kabupaten Bogor. Untuk kapasitasnya bisa menampung 84 ruangan dengan fasilitas lengkap dan didampingi dokter spesialis dan perawat 24 jam.

“Karena kita tahu kalau dirawat di rumah sakit merasa orang sakit, barang kali ini menjadi solusi bahwa lokasi ini menjadi alternatif sebagai isolasi buat odp dan PDP ringan,” kata Ade Yasin usai meresmikan Wisma Kemendagri sebagai rumah sakit darurat.

Ade juga menjelaskan, wisma ini atas izin Kemendagri langsung dan sudah dilengkapi alat lain sebagai penunjang fasilitas setiap harinya. “Kalau saya berharap tidak terpakai tapi ini untuk jaga-jaga kalau ada rumah sakit yang kekurangan ruangan disini bisa khusus ODP dan PDP, namun kalau masyarakat masih bandel, contoh berkerumun di pasar untuk tingkat terjangkit bisa lebih tinggi,” jelasnya.

Kapasitas ruangan Wisma Kemendagri sendiri mampu menampung 84 pasien dengan rincian ODP 64 ruangan dan 20 buat PDP. Bahkan, ruangan ini sangat mudah aksesnya berada di jalan utama Kemang-Parung. “Lebih lengkap RS ini untuk mengurangi beban rumah sakit dan dokter disana sudah kelelahan, makanya ini yang ringan masuk kesini tapi tidak untuk anak-anak, namun dihuni dengan umur diatas 15 tahun,” jelas Bupati.

Lebih lanjut ia menuturkan, jumlah dokter ada tiga, satu spesialis paru, dua dokter umum, perawat 14 dan cleaning service 20 orang. “Ada satu lagi isolasi di wilayah selatan dibangunkan swasta di gedung Pusat Diklat juga, karena yang Wisma Kemendagri ini buat zona Barat dan Utara, sedangkan di Timur masih ada RSUD Cileungsi,” tutupnya.

** Cepi Kurniawan.

Warga Balekambang Sembuh dari Covid-19

0

Jonggol | Jurnal Inspirasi

Seorang warga berinisial N (42), Desa Balekambang, Kecamatan Jonggol dinyatakan sembuh dari Covid-19 setelah sebelumnya dilakukan perawatan di Rumah Sakit Permata Jonggol dan RSUD Cileungsi. Sebelumnya ada kesimpangsiuran dari pemberitaan warga N (42) yang dinyatakan kabur dari Rumah Sakit Permata Jonggol, hingga mengakibatkan 2 RT di satu Desa Balekambang harus diisolasi.

Kepala Desa Balekambang, Anap meluruskan kesimpangsiuran berita yang beredar di media sosial, Dirut Rumah Sakit Permata Jonggol Dr. Sri Handayani MARS, juga melakukan klarifikasi di aula kantor Kecamatan Jonggol dan menjelaskan bahwa kabar perihal pasien kabur dari RS Permata Jonggol itu tidak benar.

Klarifikasi tersebut dihadiri oleh Kepala Desa BaleKambang, Camat Jonggol, Dirut Rumah Sakit Permata Jonggol, Kepala Puskesmas Jonggol, perwakilan keluarga pasien, tim dokter yang menangani pasien N dan aparatur desa serta perwakilan awak media. “Saat itu pasien N (42) datang ke RS Permata Jonggol pada tanggal 15 April untuk berobat dan mengeluhkan sakit pada bagian perut, awalnya pasien memang tidak mengalami gejala seperti kondisi Covid-19, dengan mengikuti standar kesehatan yang sudah di tetapkan maka pasien di lakukan tes Swab yang pertama yaitu tanggal 17 April, dan dari hasil tes Swab Covid-19 pertama yang dilakukan pasien N (42) dinyatakan positif Covid-19, dan kami melakukan perawatan kepada pasien sesuai standar Covid-19, hingga hasil Swab yang ke-2 menyatakan bahwa pasien Negatif Covid-19,” jelas Dr. Sri Handayani, Senin (18/5).

Dia menjelaskan bahwa kepulangan pasien merupakan keinginan keluarga pasien yang diungkapkan kepada pihak rumah sakit secara terus menerus, karena berdasarkan prosedur memperbolehkan jika memang pasien Covid-19 masih dalam katagori ringan bisa melakukan isolasi mandiri di rumah, ditambah lagi memberikan alasan atas kepulangan pasien tidak sembarangan selain permintaan keluarga, juga melihat kondisi pasien sudah membaik dari hasil perawatan yang dilakukan oleh tenaga medis.

“Secara prosedur kami sudah melakukan penanganan pasien Covid-19 dan pemulangan pasien sesuai standar yang ditetapkan, bahkan kami menawarkan kembali untuk menjemput pasien sebelum akhirnya pasien di rawat di RSUD Cileungsi dan dilakukan tes Swab ke -3 disana (RSUD Cileungsi) untuk memastikan kondisi pasien yang hasilnya mengatakan bahwa pasien Negatif Covid-19 atau sembuh dari Covid-19, jadi perihal berita yang beredar pasien kabur dan yang lainnya itu tidak benar,” kata Dr. Sri lagi.

Sementara Kades Balekambang Anap menyayangkan informasi yang simpang siur ini akhirnya berdampak kepada kehidupan sehari-hari warganya hingga berdampak sangat signifikan terhadap ekonomi masyarakat desa khususnya. “Saya awalnya kaget dapet berita dari pak Camat perihal warga saya terinveksi Covid-19, ditambah lagi adanya pernyataan dari pihak ke-3 bahwa pasien dipulangkan oleh pihak rumah sakit padahal sudah berstatus positif Covid-19, dampaknya sangat terasa sampe-sampe warga kami yang jual timun suri gak laku sama sekali perihal adanya berita yang beredar bahwa satu kampung warga diisolasi,” kata dia.

“Oleh karena itu saya mohon bantuan kepada pihak rumah sakit untuk mengadakan sosialisai kepada masyarakat baik langsung ataupun melalui video bahwasannya warga atas nama N sudah sembuh dari Covid-19, karena selain berdampak kepada warga lain juga berdampak secara mental kepada pihak keluarga itu sendiri yang dikucilkan di masyarakat,” kata Anap.

Pihaknya berterima kasih adanya klarifikasi yang dilakukan oleh pihak Rumah Sakit Permata hingga sekarang berita yang sebenarnya sudah jelas, dan ada perwakilan keluarga korban jadi tidak ada hal yang ditutup-tutupi.

Senada Camat Jonggol Andri Rahman, yang juga Ketua Gugus Covid Kecamatan Jonggol mengharapkan masyarakat untuk tidak mudah menyebar kan berita yang belum jelas kebenarannya apalagi tidak mengikuti alur pengobatan pasien.

“Pertama saya minta kepada warga Jonggol khususnya untuk tidak menyepelekan yang namanya Covid-19, jangan pernah berpikir yang di pegunungan dan jauh dari kota tidak akan kena Covid-19, virus ini bisa menyerang siapa saja dan dimana saja oleh karena itu mari ikuti instruksi dan aturan yang dibuat pemerintah agar kita semua terhindar dari Covid-19,” kata dia.

“Selain itu saya imbau kepada masyarakat jika mengalami gejala seperi Covid-19 atau penyakit apapun harap melakukan pengobatan kepada ahlinya dalam arti berobatlah ke klinik atau tempat pengobatan resmi yang sudah ditunjuk oleh pemerintah, jangan berobat ketempat lain, apalagi untuk Covid-19 ini hanya bisa dideteksi oleh tim medis dengan alat-alat medis,” jelas Andri Rahman.

Ia menjelaskan, kesadaran masyarakat yang masih minim dan menganggap enteng Covid-19 itu yang menjadi salah satu celah penyebaran Covid-19. Padahal kita harus sama-sama hindari tempat keramaian, jangan dulu kumpul-kumpul untuk hal yang tidak penting, beribadah di rumah untuk sementara waktu hingga kondisi agak membaik, dan berobatlah ke rumah sakit atau klinik kesehatan yang sudah ditunjuk dan dianjurkan pemerintah.

“Saya sangat menyayangkan sekali ada pasien Covid-19 berobat ke alternatif atau dukun karena hal itu bukan menyembuhkan tapi justru malah memperlebar penyebaran Covid-19, oleh karena itu yu kita sama-sama jaga kesehatan sesuai standar yang ditetapkan dan minimal untuk menggunakan masker ketika keluar rumah, jangan panik tapi jangan meremehkan juga akan keberadaan Covid-19 ini,” jelasnya.

“Harapan saya kejadian seperti ini cukup sekali terjadi dan tidak terulang lagi, alhamdulilah warga sembuh dari Covid-19, dan disini saya sampaikan bahwa kondisi Desa Balekambang sudah membaik tidak seperti yang beredar di media sosial, adapun bentuk isolasi itu saya instruksikan untuk semua desa di Kecamatan Jonggol agar melakukan isolasi mandiri di kampungnya masing-masing guna mencegah penyebaran Covid-19,” pungkas Andri Rahman.

Nay Nur’ain

Ilmuwan Merasa tak Dilibatkan Tangani Virus Corona

0

Jakarta | Jurnal Inspirasi

Upaya menekan angka penularan  virus Corona (Covid-19) di Indonesia selama ini hanya melibatkan Kementerian Kesehatan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sejumlah ilmuwan mengatakan seharusnya sejak awal pemerintah melibatkan perguruan tinggi, Kemenristek dan Dikti untuk menangani pandemi Covid-19 sehingga ada keterlibatan ilmuwan dan pakar sains.

Pendiri Research-Aid Networks mengatakan pandemi virus Corona menjadi lebih kompleks saat tidak cukup data dan fakta sains. Seorang pakar mengatakan tidak ada usaha sistematis dalam melibatkan para akademisi di Indonesia. Juru bicara pemerintah Indonesia membantah tidak mengapresiasi pendapat dari kalangan perguruan tinggi.

Ada sejumlah kebingungan untuk melihat status pandemi Covid-19 di Indonesia saat ini. Pemerintah Pusat, Daerah, dan Ikatan Dokter Indonesia pernah memegang angka kasus yang berbeda. Belum lagi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang pada penerapannya banyak dilanggar, tetapi sudah ada rencana untuk segera dilonggarkan tanpa alasan jelas.

Para pakar sains dan ilmuwan merasa tidak dilibatkan pemerintah saat mengambil keputusan, sehingga jika ada yang mengatakan Indonesia sudah aman dari virus Corona tidak memiliki bukti ilmiah. Padahal menurut Professor Jeremy Rossman, Presiden dan pendiri dari Research-Aid Networks, masalah pandemi virus Corona menjadi lebih kompleks saat tidak cukup data dan fakta sains.

Pakar virus dari University of Kent, Inggris ini menjelaskan masalah yang kompleks mempengaruhi perilaku psikologi, sosial, bahkan ekonomi dari setiap warganya. “Jadi saya rasa yang diperlukan adalah memisahkan apa yang kita ketahui dari apa yang kita duga,” ujarnya kepada ABC News.

Memberi masukan jadi “tantangan besar”

Pandu Riono, epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) yang merancang pemodelan Covid-19 di Indonesia adalah salah satu orang yang sejak awal sadar pentingnya sains dalam penanganan wabah corona.

Sejak virus corona di Wuhan merebak, ia sudah mulai mempelajarinya sebagai langkah antisipasi bila virus ini masuk ke Indonesia. “Sejak bulan Januari kami sudah expect dan kesal juga, kok laporan [kasusnya] negatif terus. Denial [penyangkalan] pemerintah saat itu juga luar biasa tingginya,” kata Pandu.

Sikap menganggap enteng virus Corona yang dipertontonkan pejabat Indonesia mendorong Pandu untuk giat meneliti wabah corona jika sewaktu-waktu pemerintah memerlukan bantuan.

Pandu dan sejawatnya kemudian membuat pemodelan terkait lonjakan pasien jika kita tidak ada intervensi yang serius, yang akhirnya dipakai oleh BAPPENAS untuk mengestimasi kebutuhan rumah sakit. Selain itu, ia juga mempresentasikan temuannya ke beberapa pemerintah daerah.

Tapi bukan berarti input-input yang diberikan Pandu langsung diterima oleh pemerintah. “[Memberikan input kepada pemerintah] ini tantangan besar untuk saya, terutama bagaimana menerjemahkan penemuan akademis menjadi sebuah kebijakan,” tutur Pandu.

Masalah di birokrasi dan “angka yang cocok”

Selain soal mengkomunikasikan hasil temuan akademis, menurut Pandu kesulitan lainnya ada pada struktur dalam pemerintah itu sendiri. “Para pejabat ini lebih mendengarkan staf ahlinya, bukan akademisi di luar seperti kami.”

Ia kemudian mencontohkan bagaimana ia harus mencari dan berhadapan dulu dengan staf ahli sebelum bisa memberikan masukan kepada presiden. “Pernah saya minta dikenalkan dengan stafnya, sudah bertemu tapi ternyata ia tidak peduli. Jadi kita harus strategis memilih segmen target policy makers,” tutur Pandu.

Upaya yang dilakukan Pandu ini menunjukkan bukan hanya sulitnya memberikan masukan kepada pemangku kebijakan, tapi juga bahwa tidak ada usaha yang sistematis dalam melibatkan para akademisi di Indonesia. “Harusnya sejak awal itu melibatkan semua perguruan tinggi. Harusnya LIPI berfungsi, Kemenristek dan Dikti juga [harusnya] berfungsi menghimpun masukan dari akademisi.”

Selain Pandu, ada juga akademisi lain yang berbicara kepada ABC News dan mengeluhkan reaksi pemerintah saat ia mempresentasikan riset ilmiahnya terkait Covid-19. Menurutnya, para pejabat yang mengundangnya cenderung mencari model dan angka yang “cocok” untuk mereka, tanpa peduli dasar ilmu yang ia jelaskan.

“Begitu melihat angka saya, mereka protes, “angkanya nggak cocok”. Saya jadi bingung, angka ini bukan soal cocok-cocokan. Ini ada hitungan ilmiahnya,” ujar peneliti yang tidak ingin disebutkan namanya ini.

Peristiwa yang dialaminya ini membuat ia berkecil hati dan sangsi, apakah pemerintah mau mendengar dan menjadikan sains sebagai rujukan dalam pembuatan kebijakan. Kekhawatiran akademisi ini beralasan dan relevan, setelah epidemiolog dari Eijkman Oxford Clinical Research Unit, Iqbal Elyazar, mengatakan selama ini Indonesia ternyata belum memiliki kurva epidemi yang sahih.

Padahal, kurva epidemi ini dibutuhkan untuk mengukur sukses atau tidaknya intervensi yang dilakukan, termasuk kapan harus melonggarkan sejumlah aturan. Fakta-fakta ini mungkin sejalan dengan apa yang diucapkan oleh Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19 Achmad Yurianto pada awal Maret 2020.

Kepada Science Magazine, Achmad Yurianto mengatakan ia tidak peduli dengan apa yang para ilmuwan katakan tentang pandemi, karena “pendapat [para ilmuwan] tidak penting jika informasi mereka hanya membuat kepanikan.”

Namun kepada ABC News, Achmad Yurianto membantah pernah memberikan pernyataan ini. “Tidak ada kata-kata itu. Bahkan saya mengapresiasi ahli dari perguruan tinggi untuk menghitung perkiraan-perkiraan itu,” katanya.

“Saya menghargai, saya mengapresiasi. Tapi bagi kita, yang penting itu bukan memperkirakan kapan dan berapa, tapi komitmen bersama untuk menjalankan PSBB,” tambahnya.

Sekretaris Jenderal Akademi Ilmuwan Muda Indonesia, Berry Juliandi mengatakan saat ini kelemahan Pemerintah Indonesia dalam menangani pandemi virus Corona adalah koordinasi dan distribusi informasi. Ia mencontohkan dengan sejumlah penemuan yang digagas oleh para ilmuwan di Indonesia.

Salah satunya adalah robot yang dikembangkan oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) dengan pihak Rumah Sakit Universitas Airlangga (RS UNAIR). Robot bernama RAISA ini sudah digunakan di RS UNAIR dengan tujuan utama membantu petugas medis agar mengurangi interaksi dengan pasien.

Berry menganggap “aneh” ketika pemerintah mengeluarkan ajakan kepada warga untuk memberikan ide atau proyek teknologi dalam rangka menangani virus corona. “Mengapa justru mendanai sesuatu yang belum dimulai, dibandingkan membiayai sesuatu yang sudah jelas kelihatan dan layak dipakai?” ujarnya.

Menurut Berry, sejak masa transisi dari Orde Baru, hubungan antara ilmuwan dengan pemerintahan tidak menjadi erat seperti sebelumnya. “Walaupun ada penggunaan sains dalam pembuatan kebijakan, tapi bukan merupakan arus utama,” ujar Berry yang juga dosen di Departemen Biologi Institut Pertanian Bogor.

Berry menjelaskan jika sama seperti ilmuwan lainnya, sudah banyak gagasan, rekomendasi, bahkan hingga menawarkan diri, namun tidak mendapat tanggapan dari pemerintah. “Kami juga sudah melakukan peran-peran yang lain, yang mungkin tidak terlihat, seperti ilmuwan-ilmuwan ini ada yang berada di garda terdepan untuk tes COVID, jadi tanpa mendengar pemerintah, kami sudah berkarya di situ,” ujarnya.

“Tanpa dukungan, kita sudah dan akan jalan masing-masing,” ujar Berry yang tergabung dalam Indonesia Young Scientist Forum. Sejumlah ilmuwan di Indonesia beserta beberapa masyarakat telah menghasilkan sejumlah penemuan berbasis teknologi, ‘tanpa harus mengeluarkan uang banyak’.

Seperti yang dikatakan Dr. Syarif Hidayat, dosen STEI Institut Teknologi Bandung (ITB), yang membuat sebuah ventilator, atau alat bantu pernafasan sederhana. Ada pula robot yang dikembangkan Telkom University dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Bandung.

Ravindra Ditama, atau Tama, manajer teknik dari tim robot tersebut mengatakan robot ini mampu melakukan disinfeksi dengan penggunaan sinar ultraviolet. Tak hanya ilmuwan, praktisi teknologi lainnya, seperti Ahmad Alghozi juga telah menciptakan sebuah aplikasi ponsel dengan fitur yang dapat melacak Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP), dan pasien positif Covid-19.

Asep Saepudin Sayyev |*