25.2 C
Bogor
Wednesday, April 22, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 1569

RSUD Mau Datangkan PCR dari Cina

0

Bogor | Jurnal Inspirasi
Sebagai rumah sakit rujukan penanganan Covid-19, membuat RSUD Kota Bogor berencana mendatangkan alat tes cepat deteksi virus Corona. Direktur RSUD Kota Bogor Ilham Chaidir mengungkapkan, pihaknya telah menganggarkan Rp350 juta untuk memberi alat tes cepat PCR atau polymerase chain reaction yang akan didatangkan dari negara Cina.

“Sekarang, masih ada berkas yang perlu dilengkapi. Ini jenis PCR yang kecil akan didatangkan dari Cina yang tentunya telah sesuai standar WHO,” ujar Direktur RSUD Kota Bogor Ilham Chaidir, akhir pekan lalu.

Ilham menuturkan bahwa PCR itu hanya memiliki kapasitas sebanyak 24 spesimen swab test per harinya. Kedepan, alat itu akan dipergunakan untuk membantu Pemkot Bogor dalam melakukan uji Covid-19 kepada orang dilingkaran Covid-19. Baik pasien dalam pengawasan (PDP) maupun pasien terkonfirmasi positif yang membutuhkan test PCR lanjutan.

Namun, sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BULD) yang tak menggantungkan diri pada APBD Kota Bogor, Ilham mengatakan, RSUD juga membutuhkan pemasukan. Karena itu, tak menutup kemungkinan bila PCR nantinya akan dikomersilkan. “Kita membeli PCR dari dana BLUD untuk membantu percepatan diagnosa pasien-pasien. Tapi memang kalau ada yang ingin test mandiri bisa juga dan tak menutup kemungkinan,” terang dia.

Jumlah kasus positif di Kota Bogor terus meningkat. Pemkot Bogor pun berupaya untuk meningkatkan uji Covid-19, khususnya swab test. Sementara, Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto menjelaskan, telah meminta RSUD Kota Bogor segera menghitung biaya untuk membeli PCR. “Sedang dilakukan prosesnya (membeli PCR) melalui pengadaan oleh RSUD tapi kapasistasnya terbatas,” ungkapnya.

Bima mengatakan, sudah sepantasnya RSUD dapat melakukan uji Covid-19 sendiri. Karena itu, dia memerintahkan RSUD dapat secepatnya mendatangkan alat PCR tersebut. “Saya sudah perintahkan RSUD harus sesegera mungkin,” tandas Bima saat mengunjungi kantor PWI Kota Bogor.

Namun, Bima mengatakan, uji Covid-19 yang masif memiliki konsekuensi untuk menyiapkan tempat isolasi. Sebab, semakin banyak yang diuji, semakin banyak pula kasus baru. “Sudah ada beberapa opsi tempat isolasi, tapi belum bisa saya sampaikan. Beberapa opsi ini masih ada waktu untuk kita mempersiapkan,” pungkasnya.

** Fredy Kristianto

Warga DKI Dilarang ke Puncak

0

Bandung | Jurnal Inspirasi
Kawasan wisata Gunung Mas, Puncak, Cisarua, Kabupaten Bogor masih menjadi wilayah yang dilarang untuk dikunjungi wisatawan, khususnya pengunjung dari DKI Jakarta selama masa adaptasi kebiasaan baru (AKB). Hal ini diungkapkan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil usai menggelar rapat evaluasi Tim Gugus Tugas Pencegahan Covid-19 di Polda Jawa Barat, Minggu (21/6).

Dalam rapat terbatas itu, Ridwan Kamil juga memberikan update terbaru perkembangan Covid-19 di Jawa Barat. Hingga Minggu, 21 Juni 2020, penyebaran Covid-19 masih terkendali. Angka penyebaran Covid-19 sepekan ini, hanya satu persen, rasio swab test Jawa Barat yang paling rendah di Pulau Jawa, yaitu 6,6 persen yang positif dari semua tes yang dilakukan selama sepekan.

Sepekan ke depan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan fokus rapid dan swab test di pasar-pasar, serta mengetes di daerah Puncak. Ridwan Kamil mengimbau warga Jakarta untuk tidak berwisata ke daerah Jawa Barat, terutama Puncak. Sebab, dari pengamatan sepekan ini, banyak pergerakan lalu lintas mobil dari Jakarta.

Jawa Barat, menurut Emil, sapaan Ridwan Kamil, membuka tempat wisata saat adaptasi kebiasan baru, untuk wisatawan lokal warga Jabar, bukan untuk warga Jakarta. “Jadi, tim Gugus Tugas akan menjaga lokasi menuju wisata Puncak, menjaga agar warga Jakarta tidak ke Puncak, termasuk melakukan penjagaan di stasiun kereta api,” ujarnya.

Sementara sebelumnya, Bupati Bogor Ade Yasin mengungkapkan hasil tes cepat virus corona jenis baru digelar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Provinsi Jawa Barat di tiga titik di kawasan Puncak pada Sabtu (20/6). “Total yang mengikuti pemeriksaan 776 orang, hasilnya sembilan orang reaktif,” ungkapnya.

Pemeriksaan secara massal itu berlangsung di tiga tempat yang biasa ramai dikunjungi wisatawan, yakni di Masjid At Taawun, Kecamatan Cisarua 200 orang diperiksa, di mana enam di antaranya reaktif.

Selain itu, di Agrowisata Gunung Mas, Kecamatan Cisarua 252 orang yang diperiksa, di mana tiga di antaranya reaktif, sedangkan di halaman Masjid Harakatul Jannah Gadog, Kecamatan Ciawi 324 orang diperiksa dan hasilnya nihil reaktif.

Ade Yasin menyebutkan sedikitnya 2.000 alat tes cepat dan 500 alat tes usap disediakan dalam pemeriksaan tersebut. Dia mengatakan, mereka yang dinyatakan reaktif dari hasil tes cepat, langsung dilakukan pemeriksaan usap di tempat yang sama.

Ketua Gugus Percepatan Penanganan COVID-19 Kabupaten Bogor itu, mengatakan pemeriksaan secara massal dilakukan karena Jalur Puncak Kabupaten Bogor belakangan mulai dipadati kembali para wisatawan saat akhir pekan, meski masih dalam situasi penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) proporsional.

“Kemarin sempat viral video lautan manusia di Puncak, kendaraan yang datang saat itu didominasi dari kendaraan plat luar Bogor. Makanya, hari ini juga diprioritaskan orang luar Jawa Barat dulu yang tes,” kata Ade Yasin.

Petugas, kata dia, akan terus menggelar pemeriksaan Covid-19 secara masif di Kabupaten Bogor, khususnya di lokasi-lokasi yang menjadi ruang publik. “Mudah-mudahan langkah hari ini tepat, terima kasih untuk semua unsur yang terlibat, semoga dapat memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dan Kabupaten Bogor siap menyambut ‘new normal’ (normal baru),” katanya. Asep Saepudin Sayyev |*

Camat Bogor Timur Aktifkan Subuh Keliling

0

Bogor | Jurnal Inspirasi
Camat Bogor Timur, Wawan Sanwani terus berinovasi dengan berbagai program prorakyat. Salah satunya dengan melaksanakan Subuh Keliling (Suling) Sunda setiap hari Minggu ke 80 masjid yang ada di wilayahnya. Menurut Wawan, Suling Sunda merupakan kegiatan rutin setiap hari Minggu subuh. Ia mengajak pengurus MUI dan DMI kecamatan untuk ikut serta juga dalam kesempatan subuh keliling tersebut.

Selain sebagai media silaturahmi dengan para jemaah dan warga sekitar, dalam masa pandemi covid-19 ini, ia juga ingin memastikan bahwa protokol kesehatan dalam rumah ibadah khususnya mesjid tetap dilaksanakan oleh pengurus DKM. “Suling Sunda salah satu program di Kecamatan Bogor Timur yang rutin dilakukan seminggu sekali. Saya juga menjajak unsur Muspika dan para tokoh agama maupun tokoh masyarakat disini,” ujar Wawan kepada wartawan, baru-baru ini.

Wawan mengatakan, dalam mendukung protokol kesehatan di masjid masjid, setiap Suling Sunda sekaligus diserahkan juga bantuan Hand Sanitizer, wipol dan Thermogun atau alat pengukur suhu tubuh. “Selain itu saya juga memberikan sedikit infaq buat mesjid yang saya sisihkan sedikit dari tunjangan saya. Mudah mudahan barokah,” jelas Wawan.

Ia berharap dengan Suling Sunda ini, lebih mendekatkan antara aparat pemerintahan dengan masyarakat, sehingga akan memahami apa yang menjadi harapan dan keinginan mereka. “Mensinergikan antara peran kecamatan dengan MUI dan DMI dalam pemberdayaan umat. Membangkitkan semangat dan mengajak masyarakat untuk sholat shubuh berjamaah di mesjid, dan saya ingin lebih menghidupkan memakmurkan lagi masjid dengan kegiatan kegiatan keagamaan,” pungkasnya.

** Fredy Kristianto

Solahudin Angkat Bicara Soal Tanah Makam dan Pemotongan BOP RT/RW

0

Citeureup | Jurnal Inspirasi
Persoalan tanah makam warga Desa Sanja masih ramai diperbincangkan, menyikapi hal tersebut mantan Kades Sanja Solahudin yang belum lama ini habis masa jabatannya kembali angkat bicara. Solahudin menyempatkan diri datang ke Kantor Desa Sanja menjelaskan bahwa kabar yang beredar tidak seperti kenyataan di lapangan.

“Jadi begini, dahulu di Desa Sanja ada pembebasan tanah yang dibeli oleh PT. Carglos yang membebaskan tanah milik Yayasan Nurul seluas 5 hektar, yang kebetulan diatas tanah yayasan tersebut terdapat makam penduduk, yang belum dipindahkan, atas inisiatif tersebut maka saya belikan tanah di Desa Leuwinutug untuk pemakaman, karena untuk memindahkan makam diatas tanah yayasan yang dibeli PT tersebut di Desa Sanja sudah penuh,” kata dia, Jumat (19/6).

“Jadi tanah yang diperbincangkan di Desa Leuwinutug adalah tanah saya pribadi yang merupakan keuntungan dari penjualan tanah Yayasan Nurul Hadi, maka saya berencana mewakafkan tanah saya yang ada di Desa Leuwinutug tersebut,” kata Solahudin.

Ia menambahkan, setelah dicek ternyata tanah yang di Desa Leuwinutug yang akan saya wakafkan untuk tanah makam kena plotingan PT. ACP dan dari pada nanti saat pembebasan harus memindahkan lagi makam, maka dia menyarankan kepada warga untuk tidak memakamkan keluarganya di tanah yang sudah masuk plotingan PT.ACP tersebut.

“Tanah makam itu baru masuk plotingan, belum ada transaksi apapun yang diberikan oleh PT. ACP, dan itu sudah saya rapatkan saat saya masih menjabat sebagai Kepala Desa Sanja, jika nanti sudah dilakukan pembayaran maka total uangnya adalah 60 Juta yang nantinya akan saya belikan tanah makam lagi untuk warga, dan itu pun baru hitung-hitungan saja belum ada bentuk fisik uangnya, jadi soal simpang siur saya terima DP atau apalah itu namanya silahkan laporkan saya ke pihak yang berwajib jika saya terbukti menjual tanah makam milik aset desa,” jelas Solahudin.

Menurutnya, di era saat ini pasti diselipkan politiknya mengingat dirinya akan kembali mencalonkan diri menjadi kepala desa untuk periode ke-3. “Jadi saya sampaikan bahwa apa yang beredar itu tidak benar dan untuk pemotongan BOP RT/RW Desa Sanja sebesar Rp.25.000/bulan itu pun sudah merupakan hasil musyawarah.”

“Pemotongan BOP RT/RW kan sudah berjalan sejak tahun 2013 dan itu bukan saya yang mengumpulkan melainkan masuk dalam keuangan desa yang nantinya dari hasil kesepakatan bahwa anggaran tersebut akan disalurkan untuk pemeliharaan seluruh pemakaman yang ada di Desa Sanja, dan itu dikelola oleh Bendahara Desa bukan dikelola oleh Kepala Desa, jadi kembali saya jelaskan saya tidak pernah menjual tanah makam warga Desa Sanja, dan adapun pemotongan gaji/BOP RT/RW pe rbulannya itu masuk kas desa yang diperuntukan pemeliharaan pemakaman desa, ” jelas Solahudin.

** Nay Nur’ain

Anniversary ke-41, Angkasa FC Kumpulkan Mantan Pemain dan Gelar Pertandingan

0

Cibungbulang | Jurnal Inspirasi
Dalam rangka anniversary Angkasa FC yang ke-41, pemain yang pernah masuk ke tim Angkasa FC dari tahun 1979 hingga 2020 berkumpul di Lapangan Desa Cimanggu II, Kecamatan Cibungbulang, menggelar pertandingan persahabatan, Minggu (21/6).

“Alhamdulillah dalam rangka memperingati ulang tahun tim sepakbola Angkasa FC dari semua angkatan senior dan junior kumpul bareng ada juga pemain yang kumpul hari ini yang pernah dan masih membela Persikabo, ” kata Ketua Panitia Asep Dado kepada Jurnal Bogor, kemarin.

Kumpulnya mereka kata Asep Dado, selain potong tumpeng doa bersama juga digelar pertandingan persahabatan di lapangan hijau Desa Cimanggu II dimana sekaligus menjadi markas Angkasa FC. “Kita kumpul bersama disini tetap dengan protokol kesehatan periksa suhu tubuh kecuali yang bermain tidak menggunakan masker,” kata dia.

Dalam kegiatan itu juga, tidak hanya berkumpul semata, namun untuk membangkitkan gairah Angkas FC yang pernah jaya. “Alhamdulillah kita juga hari ini mendapatkan dukungan dari anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Kang Asep Wahyuwijaya  untuk memajukan kembali dan mencari bibit pemain muda yang bisa mewakili persepakbolaan di Kabupaten Bogor bagian barat,” pungkasnya.

** Cepi Kurniawan

Pemkab Akhirnya Respon Pembangunan Irigasi

0

Nanggung l Jurnal Inspirasi
Keinginan warga petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Sejahtera di Kampung Pasirgintung Atas, Desa Batutulis, Kecamatan Nanggung yang sebelumnya meminta pihak terkait untuk membangun saluran irigasi di wilayah persawahan mereka, akhirnya direspon Pemerintah Kabupaten Bogor.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Insfrastruktur Irigasi Kelas A Wilayah V Jasinga Handri mengatakan, pihaknya akan berupaya membantu para petani membuat saluran irigasi untuk mengairi areal pesawahan mereka.

Untuk perencanaan pembangunan irigasi tersebut, pihak kepala desa harus membuat usulan disertai foto lokasi saluran air dan foto areal peswahannya dan ditujukan ke Kepala Dinas PUPR dengan tembusan Kabid Insfrastruktur dan Sumber Daya Alam (Isda) dan Kasi Perencanaan. “Dalam hal ini saya tidak janji, tapi saya berusaha untuk membantu,” imbuhnya.

Terpisah, Kepala Desa Batutulis Ade Supriatna, merespon  apa yang menjadi arahan pihak  UPT  mengenai ajuan dengan perencanaan akan dibangunnya saluran irigasi untuk kebutuhan warga petani.” Secepatnya kami akan segera buat surat pengajuan tersebut. Dipastikan ajuan tersebut hari Selasa kami sampaikan  ke Dinas PUPR dan pihak lainnya,” ujar Kades.

Sebelumnya diwartakan Jurnal Bogor, area persawahan warga yang terletak di Blok Sawah Landeuh itu sering dilanda kekeringan setiap tahunnya. Ketua Kompok Tani Sejahtera, Rozak  mengaku masyarakat setempat meminta saluran irigasi untuk mengatasi kekeringan karena tiap tahun terkendala masalah air sehingga berdampak ke perekomomian warga.

Dikatakannya, luas lahan pertanian warga mencapai 15 hektar lebih itu hanya mengandalkan saluran air dari Kali Cihoream yang mengerucut menjadi saluran drainase. “Kurun waktu satu minggu saja pesawahan sudah mengalami kekeringan dan sering mengalami gagal panen,” kata Rozak.

Dia meminta Pemkab serius memperhatikan nasib petani dan segera membangun irigasi tersier. Rozak yang akrab dipanggil Dola menyebutkan, dari satu periode tanam saja selama 6 bulan  warga petani tidak menanam padi  karena minimnya sumber air. “Saluran air memang ada cuma sering terputus karena belum adanya pembangunan irigasi,” ucapnya.

Menurut Dola, kelompok tani sering mengusulkan ke pihak terkait soal  pembangunan irigasi, namun belum ada realisasi. “Saluran air dari Cihoream menuju Cicaung dan pemanfaatan ke sawah kurang teraliri,” tukasnya. Lebih lanjut dikatakan Dola,  lokasi yang harus dibangun titik lokasinya tidak jauh dari Masjid Jami di lingkungan RT 02 RW 02.

** Arip Ekon

PUPR Bangun Jembatan Sementara di Blokparis

0

Nanggung l Jurnal Inspirasi
Tidak menunggu waktu lama, Jembatan Ciputih yang berlokasi di Kampung Blokparis RT 01 RW 02, Desa Parakanmuncang, Kecamatan Nanggung yang sudah mengalami kerusakan yang cukup parah, akhirnya direspon Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Bogor dengan dibangunnya jembatan sementara bailey.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Jalan dan Jembatan wilayah VI Cigudeg, Punti Minesa menyatakan,  jembatan bailey dibangun untuk antisipasi sebelum dilakukannya pembangunan secara permanen. “Agar aktivitas warga bisa kembali lancar, karena lalulintas  tertahan sebelah dan harus bergantian akibat kerusakan jembatan yang terjadi pada awal tahun Januari 2020 lalu,” kata Punti kepada Jurnal Bogor, kemarin.

Kondisi jembatan Ciputih  diatas bentangan kali Ciputih diareal ruas jalan Panjaungan, Nanggung memiliki panjang 9 meter dengan lebar 6 meter. “Pengerjaan jembatan yang akan dijadwalkan pada 2021 mendatang, kalau dilaksanakan di tahun  ini tidak memungkinkan meski masuk diperubahan ditambah adanya wabah Covid- 19 dikhawatirkan tidak selesai,” jelas Punti.

Sementara di lokasi, tim pekerja teknis sedang memasang  jembatan bailey dan terlihat material, seperti batu belah agregat untuk opritan agar landai dan sudah bisa difungsikan sehingga laju kendaraan bisa melintas di atasnya. “Bangunan jembatan sementara bailey merupakan upaya tanggap darurat dan pengerjaannya paling lambat 3 hari paling cepat 2 hari,” tuturnya.

“Keberadaan jembatan tersebut sudah kami koordinasikan dengan Dinas PUPR karena kondisinya sudah berlubang dan semakin hari semakin terkikis, diharapkan peningkatan jembatan di 2021 bisa diprioritaskan,” tukasnya.

Sebelumnya diberitakan, warga sekitar Ida (43) mengakatan, kondisi jembatan itu keadaanya mengkhawatirkan karena sudah lapuk termakan usia. ” Akses jembatan ini sangat vital dan warga di wilayah Nanggung pastinya sangat mengharapkan pembangunan jembatan tersebut,” pungkas Ida.

** Arip Ekon

Terungkap, Bansos Dicampur Beras Thailand

0

Dramaga | Jurnal Inspirasi
Ada hal mengejutkan yang terungkap dalam rapat kerja DPRD Kabupaten Bogor dengan Bulog dan Disperindag terkait buruknya kualitas beras bansos Covid-19 yang dikeluhkan masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19 di Kantor Bulog Cabang Cianjur (18/6). Musababnya, beras lokal ternyata dicampur dengan beras asal Thailand yang telah tersimpan selama dua tahun.

Dalam rapat itu ternyata didapat informasi bahwa Bulog memiliki beras stok ketahanan pangan yang dibeli dari petani lokal Jawa Barat dan beras import asal Thailand yang disimpan digudang mereka, beras lokal rata-rata disimpan 6 bulan dan beras asal Thailand disimpan bahkan sampai 2 tahun dan dicampurkan dengan komposisi 4:1 atau setiap 4 ton beras lokal dicampur 1 ton beras import.

Menyikapi hal ini, Sekretaris Fraksi Golkar, Aan Triana Al Muharom menegaskan kondisi ini sudah sangat menyakiti hati masyarakat Kabupaten Bogor yang sebagian besar juga berprofesi sebagai petani. “Harusnya dari awal Pemkab Bogor lebih teliti dalam hal ini, tanya dulu secara detail terkait kualitas beras yang akan dibeli, masa beras lokal dicampur dengan beras import yang kualitasnya jauh berbeda,” tegasnya.

Bahkan, hal tersebut pasti akan menurunkan kualitas dan rasa, apalagi kualitas beras luar negeri jelas beda dengan kualitasnya, ini tidak bisa dipungkiri apalagi disimpan dalam waktu yang cukup lama. Karena, mau dipoles atau diperbaharui seperti apapun tetap saja rasa tidak bisa dibohongi, cuma tampilan visual beras aja yang berubah.

“Padahal di Kabupaten Bogor kita punya sentra-sentra pertanian lokal yang kualitas berasnya lebih bagus dengan harga lebih murah, tapi kenapa harus dicampur dengan beras import,” keluhnya

Ketika ditanyakan terkait kesimpulan rapat kerja DPRD yang sudah dilaksanakan, Aan menambahkan, bahwa pihaknya akan meminta Pemkab Bogor untuk evaluasi secara menyeluruh terkait kerjasama pengadaan bantuan sosial beras ke Bulog.

“Saya sangat kecewa dengan hal ini, banyak sekali protes terjadi di masyarakat ketika menerima bantuan dengan kualitas buruk seperti ini, ternyata mereka (Bulog) sengaja mencampur beras import,” tambahnya.

Aan juga menuturkan, dana besar yang keluarkan ternyata tidak banyak membantu masyarakat petani. Bahkan, sebagai anggota Badan Anggaran akan mendorong kepada pimpinan untuk mengambil langkah tegas untuk mengevaluasi secara menyeluruh kerjasama Pemkab Bogor dengan Bulog. “Pengadaan kan dari APBD dan uang rakyat ya harus ada manfaatnya untuk rakyat,” Sambung politisi partai berlambang Pohon Beringin ini.

Lebih lanjut ia menuturkan, jika memang ternyata bansos beras ini selalu membuat kegaduhan dan terlambat penyalurannya, lebih baik diusulkan untuk mengganti bansos dengan mekanisme bantuan Tunai.

“Daripada masyarakat terus mengeluh dengan aturan pemerintah yang kurang baik, lebih baik diusulkan ke bantuan tunai yang simpel dan tidak ribet  proses penyalurannya, tinggal dibahas aturan dan pagari pola distribusinya agar bantuan sampai tepat sasaran,” tutupnya.

** Cepi Kurniawan

Wisata Masih Ditutup, Pintu Masuk Curug Nangka Dijaga Petugas

0

Tamansari | Jurnal Inspirasi
Kawasan wisata  Taman Nasional Gunung Salak Endah di pintu masuk Wilayah Tamansari hingga saat ini masih dilakukan penutupan oleh petugas dan warga setempat. Diungkapkan salah satu petugas Pol PP Kecamatan Tamansari Muhamad Al Amin, kawasan di GSE sejak Lebaran hingga saat ini memang sudah dilakukan penutupan oleh Muspika Kecamatan Tamansari untuk mengantisipasi terjadinya klaster baru penyebaran Covid-19.

“Ditutup sejak Lebaran sampai hari ini untuk wisatawan gak boleh masuk baik itu dari Wilayah Bogor atau luar Bogor,”kata Amin sapaanya, kepada Jurnal Bogor, kemarin.

Amin mengatakan, pintu gerbang masuk wisata dijaga bergantian setiap harinya. “Ada yang jaga bergantian, ada juga wisatawan yang datang namun disuruh putar balik. Karena emang belum boleh dibuka apalagi Tamansari ada yang terkonfirmasi positif Covid-19,”kata Amin.

Ia pun mengatakan sampai kapan akan dibuka belum mengetahuinya karena hal itu tergantung pihak Muspika. “Gak tahu sampai kapan ya ditutup untuk Curug Nangka ini,” pungkas Amin.

** Cepi Kurniawan

Jadwal Baru Sekolah, Kemendikbud Ajak Adaptasi Teknologi

0

Jakarta | Jurnal Inspirasi
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meminta para orang tua siswa tak perlu resah akibat pandemi Covid-19 membuat jadwal belajar mengajar penuh ketidakpastian. Kemendikbud menegaskan jika tahun ajaran baru 2020/2021 akan dimulai pada pekan ketiga Juli 2020.

Kepala Biro Kerjasama dan Humas Kemendikbud, Efi Mulyani mengatakan tahun ajaran baru kemungkinan akan dilakukan pada Senin ketiga di bulan Juli 2020. Meski begitu, tahun ajaran baru ini tak berarti membuat kegiatan belajar mengajar dilakukan secara tatap muka. Menurut Efi banyak alternatif yang bisa dilakukan, mulai melalui internet hingga siaran TV dan radio.

“Tahun ajaran baru dimulai pada senin ketiga Juli yang akan datang. Tersedia modul yang bisa dipelajari mandiri, dengan memerlukan kerjasama yang baik antara guru dan orang tua,” ujar Efi melalui video conference di Graha BNPB, dikutip dari CNBC, Minggu (21/6).

Saat ini, Kemendikbud masih melakukan pengkajian yang komprehensif bersama Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19. Hal ini dilakukan untuk mengatur ulang skala prioritas di bidang pendidikan.

Menurut Efi, di tengah pandemi saat ini telah memberikan banyak pelajaran bagi pihaknya. Salah satunya adalah bagaimana teknologi bisa dimanfaatkan oleh insan pendidikan, mulai dari anak, orang tua murid, hingga guru.

Meskipun ada beberapa daerah yang harus beradaptasi dengan teknologi, namun menurutnya terjadi percepatan adaptasi teknologi. “Hal-hal yang terjadi sebelum pandemi, menjadi catatan dalam sejarah terkait teknologi ini,” pungkasnya.

ASS |**