28.1 C
Bogor
Thursday, August 27, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 1237

Menyelamatkan Mutu Lingkungan dengan LLTT

0

Pemerintah Kota Bogor terus mendorong terpenuhinya beragam pelayanan publik. Satu lagi yang baru saja diluncurkan adalah Layanan Lumpur Tinja Terjadwal (LLTT). Program ini diluncurkan Wali Kota Bogor, Bima Arya, di UPTD IPAL Tegal Gundil, Bogor Utara,  Selasa lalu. Bentuk layanan ini adalah penyedotan lumpur tinja dari septic tank rumah warga oleh UPTD IPAL Kota Bogor yang dilakukan secara terjadwal.

Untuk mendukung pelayanan tersebut, saat ini UPTD IPAL PUPR Kota Bogor telah dilengkapi 5 unit mesin penyedot lumpur tinja dengan kapasitas 2 sampai 3 kubik. Pelayanan juga mampu menyentuh kawasan pemukiman yang tergolong cukup padat, karena tersedia dua unit motor tangki dengan kapasitas 0,4 kubik. Dengan adanya layanan ini, diharapkan mutu lingkungan di Kota Bogor akan lebih terpelihara, karena pencemaran limbah cair tinja bisa lebih dikurangi.

Mutu lingkungan yang terpelihara, dapat berpengaruh positif pada banyak aspek kehidupan masyarakat. Diantaranya, mutu air tanah bisa lebih terjaga. Kondisi itu menguntungkan ketika banyak warga, masih tergantung pada sumber air di sekitar tempat tinggalnya untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Ketersediaan air bersih tentu dapat membantu terpeliharanya kondisi kesehatan masyarakat. 

Pemerintah Kota Bogor sudah memulai program layanan ini sejak tahun 1996 melalui proyek P3KT. Selanjutnya di tahun 2007 hingga 2020 program ini dikembangkan dan seluruhnya didanai APBD dan APBN. Dalam pengembangan inilah, ikut serta USAID Indonesia melalui program Urban Water Sanitation and Hygiene Penyehatan Lingkungan Untuk Semua (IUWASH PLUS).

“Keikutsertaan kami adalah melakukan pendampingan di sektor layanan air bersih, layanan sanitasi yang aman dan perilaku hidup bersih dan sehat,” jelas Wouter Sahanaya, Regional Manager dan Tim IUWASH PLUS Jawa Barat, DKI Jakarta dan Kabupaten Tangerang. Juga memfasilitasi Pemerintah Kota Bogor dalam pembentukan kebijakan-kebijakan terkait sanitasi, air dan pengarusutamaan gender dalam setiap kegiatan dan pembentukan perjanjian kerjasama lintas regional di bidang konservasi air.

Pendampingan yang diberikan kepada warga masyarakat, pada dasarnya bertujuan untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola limbah tinja. Selain diingatkan untuk tidak lagi membuang limbah itu ke aliran sungai, masyarakat juga didorong untuk bisa menyediakan septic tank yang aman di rumahnya masing-masing atau secara komunal. Keberadaan lumpur di dalam septic tank itulah yang melalui program LLTT dapat ditangani lebih baik.

Adanya aspek mengubah kebiasaan masyarakat, membuat program LLTT memiliki dimensi kultural. Jadi sebagaimana yang dikatakan Bima Arya pada saat peluncurannya, “Saya melihat bahwa ikhtiar ini bukan sekedar membangun infrastruktur dengan sistem teknologinya tetapi juga harus diiringi, bagaimana ikhtiar kita bisa bersama membangun edukasi berkesinambungan terkait kebiasaan warga untuk melengkapi inovasi fisik dan aplikasinya.”

Menurut Bima, membangun kebiasaan dan membangun kultur adalah perjuangan semua pihak selain membangun infrastruktur. Pada akhirnya ikhtiar yang dilakukan diharapkan bukan hanya sebatas soal kesehatan dan kualitas hidup tetapi juga kesejahteraan. “Jika sistem yang ada sudah berjalan dan kebiasaan sudah diubah maka akan memberikan dampak bagi kesejahteraan melalui PAD, baik secara tidak langsung atau secara langsung,” lanjutnya.

Bima juga menilai, program LLTT cocok dengan semangat Kota Bogor yakni Smart City. Kedepan infrastruktur yang ada, secara bertahap akan terus dibangun dan disempurnakan, berikut bentuk dan teknis pelayanannya. Oleh karena itu Bima mengingatkan perangkat daerah terkait, untuk terus mengawal pelaksanaan pelayanan ini, sehingga diharapkan tidak tersendat atau terhenti karena faktor teknis.

Chief Party USAID IUWASH Plus, Bill Parente turut berharap, peluncuran ini menjadi promosi kepada semua pihak bahwa LLTT harus dilakukan untuk menjaga tidak terjadinya pencemaran air tanah, mewujudkan derajat kesehatan masyarakat untuk hidup bersih dan sehat. “Masyarakat harus mengerti pentingnya sedot tinja secara terjadwal untuk menjaga kesehatan lingkungan bersama,” katanya.

Sementara itu, Direktur Sanitasi, Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR, Prasetyo mengingatkan, “Salah satu kunci utama dari penyelenggaraan air limbah domestik adalah kualitas pelayanan. Keberadaan tata kelola pelayanan yang baik dan profesional untuk pengelolaan yang terpusat maupun setempat menjadi mutlak diperlukan.” Lebih lanjut ia mengatakan,  “Tidak sekedar infrastruktur semata tapi juga bagaimana menjamin Infrastruktur yang sudah terbangun dapat dimanfaatkan dengan optimal sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat serta memenuhi kualitas pengolahan yang dipersyaratkan sehingga air limbah domestik yang diolah sudah aman untuk dibuang kembali ke lingkungan.”

Kepala Dinas PUPR Kota Bogor, Chusnul Rozaqi mengungkapkan, LLTT di Kota Bogor merupakan program kedua yang diluncurkan di Indonesia kerjasama dengan USAID IUWASH. Intervensinya sudah dilakukan 129 lokasi yang bersifat komunal maupun individual. Setelah menerapkan dan mengembangkannya pada skala wilayah dan kawasan, ke depan program ini akan dikembangkan untuk skala kota. Semoga dapat diwujudkan dan ikhtiar itu tetap perlu dukungan dari masyarakat.

**adv

Mobilitas Warga Kembali Dibatasi

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

Kota Bogor mengalami lonjakan kasus Covid-19 dalam sepekan terakhir. Bahkan, tingkat keterisian tempat tidur atau BOR (Bed Occupancy Rate) naik hingga 51 persen. Untuk itu, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kota Bogor, Bima Arya meminta seluruh rumah sakit menambah fasilitas ruang isolasi atau ICU dan kembali melakukan pembatasan mobilitas warga serta menghentikan simulasi Pembelajaran Tatap Muka (PTM).

“Data menunjukan bahwa Kota Bogor harus siaga menanggapi data tren Covid-19  yang sangat serius. Terjadi lonjakan tingkat positif yang berdampak pada ketersediaan tempat tidur di rumah sakit. Awalnya BOR di Kota Bogor dibawah 20 persen. Bahkan per hari ini angkanya 51 persen,” katanya saat konferensi pers di RSUD Kota Bogor, Rabu (16/6).

Sementara kata Wali Kota Bogor, angka BOR di RSUD Kota Bogor sudah sekitar 75 persen dan pasien terus bertambah. “Tadi malam cukup padat arus pasien masuk ke RSUD, sehingga RSUD harus menambah hingga 138 bed, tetapi belum pernah RSUD menerima lonjakan pasien Covid-19 begitu tinggi dalam waktu bersamaan seperti ini,” jelasnya.

Menurut dia, Kota Bogor harus melakukan langkah-langkah cepat dan antisipasi terhadap varian baru Covid-19 yang sudah masuk ke Jakarta. “Kota Bogor harus melakukan langkah cepat, karena konektivitas Jakarta dengan Bogor sangat erat,” katanya.

Untuk itu, pihaknya meminta agar seluruh rumah sakit menambah fasilitas ruang isolasi atau ICU untuk mengantisipasi lonjakan kasus. Selain itu, Bima Arya meminta kepada warga Kota Bogor agar mengurangi mobilitas. Jika tidak ada kepentingan yang penting kecuali terkait dengan tugas atau pekerjaan, maka sebaiknya menahan diri keluar rumah. “Karena data menunjukan bahwa mobilitas ini sangat berbanding lurus dengan lonjakan kasus positif,” tegasnya.

Untuk akhir pekan, ia juga meminta kepada warga Kota Bogor untuk tidak berwisata dan warga diluar Kota Bogor agar menahan diri. Khusus untuk pendidikan tatap muka sementara dihentikan simulasinya sampai dengan waktu yang ditentukan kemudian. Hal ini mengantisipasi beberapa klaster yang timbul dari lembaga pendidikan. “Laporan terakhir di Pesantren Madani sudah ada 93 kasus, hari ini bertambah 18 kasus lagi,” sebutnya.

Bima Arya juga kembali mewanti-wanti agar seluruh lembaga pendidikan yang akan menyelenggarakan tatap muka atau siswa-siswinya berasal dari luar kota agar tidak menggelar pembelajaran tatap muka. “Apabila ada gejala segera koordinasi dengan Satgas Covid-19 Kota Bogor,” tuturnya.

Selain itu, Pemkot akan memperketat pengawasan protokol kesehatan (prokes) di lapangan, menindak tegas semua pelanggaran termasuk pelanggaran pada jam operasional, kerumunan dan lain lain.

Untuk jalur pedestrian Sabtu Minggu ini juga akan ditutup. “Situasinya saat ini serius, rem sekarang harus ditarik, kalau tidak maka kita bisa masuk ke fase jauh lebih berbahaya dibanding sebelumnya,” jelasnya.

Secara akumulatif dari data Satgas Covid-19 Kota Bogor hingga Selasa, 15 Juni 2021, total ada 16.852 kasus positif di Kota Bogor. Dengan 756 kasus yang masih aktif dan sedang menjalani perawatan. Sementara di luar itu, ada 15.828 kasus sembuh dan 268 kasus meninggal dunia.

** Fredy Kristianto

Sintha Chechawaty Resmi Pimpin Kadin Kabupaten Bogor

0

Ciawi | Jurnal Inspirasi

Usai menyelenggarakan Musyawarah Kabupaten (Mukab) ke VIII, Sintha Dec Chechawaty resmi pimpin Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Bogor periode 2021-2026. Usai ditetapkan menjadi ketua Kadin, Sintha mengaku memiliki pekerjaan rumah yang cukup banyak diantaranya merangkul para pelaku usaha yang terkena dampak ekonomi disaat pandemi covid-19.

“Kita bakal rangkul kembali pelaku UMKM karena memang banyak sekali pelaku UMKM ini yang terkna dampak dari pandemi ini,” kata Sintha Rabu (16/6).

Begitu juga dengan teman-teman di Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesian (PHRI) yang sangat terkena dampak, karena saat pandemi jumlah pengujung sangat turun drastis.

“Ini memang menjadi PR kita bersama untuk memulihkan ekonomi daerah dan para pelaku usaha di Kabupaten Bogor,” paparnya.

Ia juga menambahkan, akan mempererat kemitraan dengan Pemkab Bogor. Terlebih, Sintha  mengaku mendapatkan perintah dari Bupati Bogor untuk menjalankan  sinergitas dalam pemulihan ekonomi dan juga pengembangan UMKM

Sebelumnya, dalam Mukab yang diselenggarakan di Hotel Pullman tersebut, Sintha dipilih secara aklamasi  karena menjadi calon tunggal.

** AS Pangrango

Hati-hati Lewati Perlintasan KA di Parung Panjang

0

Parung Panjang | Jurnal Inspirasi

Bagi anda yang melintasi Jalan Raya Mohammad Toha Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor  harus berhati-hati. Pasalnya, tidak sedikit kendaraan sepeda motor yang terjatuh akibat licinnya perlintasan kereta api (KA) yang membentang di jalan tersebut.

Seperti yang dialami salah satunya Evha (23), pengendara sepeda motor yang nyaris terjatuh saat melintasi perlintasan tersebut. Menurutnya di perlintasan  kereta itu banyak kendaraan sepeda motor yang terjebak dan terjatuh karena licin.

“Kalau hujan, pasti licin banget, tadi saya juga hampir jatuh. Sudah banyak yang terjatuh, karena licin. Tadi saya juga hampir jatuh, karena rel keretanya licin banget, ” ungkap Evha kepada wartawan, Rabu (16/6/2021).

Hal serupa diungkapkan pengendara lain, Selamet (55). Dia mengaku sudah sering terjatuh saat melintas di perlintasan kereta ini. Menurutnya, selain rel kereta double track  yang kondisinya miring sehingga kalau hujan jadi licin. “Saya sering terjatuh disini, terpeleset karena licin. Perlintasannya juga miring, banyak juga kendaraan sepeda motor lain yang terjatuh, saya berharap perlintasan ini segera diperbaiki agar tidak ada yang terjatuh lagi, “ucapnya.

Menanggapi hal itu Polsek Parungpanjang Panit Agus Hidayat mengatakan, dirinya akan melakukan koordinasi dengan pihak PJKA atau kepala Stasiun Parungpanjang terkait banyaknya laporan dari masyarakat.

Agus mengutarakan, sudah banyak aduan dari masyarakat ke unit lalulintas Polsek Parungpanjang, karena banyaknya kendaraan sepeda motor yang terjatuh akibat licinnya perlintasan kereta.

“Hampir semua kendaraan yang melintas di perlintasan Cibunar Parungpanjang ini yang terjatuh akibat kondisi rel kereta lebih tinggi dari dataran jalan sehingga menyebabkan perlintasan kereta ini licin saat diguyur hujan, “terangnya.

Agus menambahkan, unit lalulintas Polsek Parungpanjang membantu pengendara sepeda motor dan kendaraan roda empat yang tergelincir saat melintas di perlintasan ini. “Saya menghimbau kepada masyarakat terutama pengendara agar selalu mengedepankan keselamatkan, ketika melintasi menengok ke kanan dan ke kiri untuk menghindari kecelakaan, “pungkasnya.

** Cepi Kurniawan

Bank Emok dan Bank Keliling Bikin Risih

0

Dewan Ikut Berang

Pamijahan | Jurnal Inspirasi

Keberadaan ‘Bank emok’ atau ‘Bank berjanji’ dan ‘Bank keliling’ seolah tak kunjung jadi solusi. Kehadirannya justeru terus menjadi gejolak ditengah tengah masyarakat. Meksipun ada yang menerima, namun justru banyak juga  yang menolak akan kehadiran bank tersebut.

Bahkan kehadiran kedua bank tersebut seolah menjadi momok yang membuat kegaduhan ditengah masyarakat. Pasalnya sampai saat ini masih terjadi kontradiktif  antara masyarakat kalangan bawah untuk dapat memenuhi kebutuhan, namun di sisi lain bunga bank yang diberikan cukuplah tinggi.

Akibatnya tidak sedikit masalah yang terjadi mulai dari kasus perceraian hingga terjadi ketimpangan sosial yang tentunya harus menjadi tanggung jawab bersama khususnya keseriusan pemerintah.

Seperti yang terjadi di wilayah Desa Pasarean, Kecamatan Pamijahan, penolakan terjadi diungkapkan Ketua Paguyuban RT, RW Desa Pasarean, Ade. Dia mengatakan, keberadaan ‘Bank Keliling’ dan ‘Bank Emok’ tentunya sangat meresahkan warga.

Ketika ‘Bank Emok’ dan ‘Bank Keliling’ dilarang masuk, ada warga yang pro dan kontra. Akan tetapi, lewat musyawarah dengan warga termasuk petugas ‘Bank Emok’ akhirnya disepakati mereka tidak akan melakukan pinjaman atau mencarikan lagi pinjaman.

“Kita sudah buat kesempatan bersama bahwa Bank Emok, Bank Keliling tidak akan masuk lagi ke Pasarean. Saya berharap seluruh masyarakat Desa Pasarean terbebas dari ‘Bank Emok’, ” jelasnya.

Sementara Anggota DPRD Kabupaten Bogor asal Desa Pasarean, Ruhiyat Sujana menyayangkan jika ada masyarakat yang masih tergoda ‘Bank Emok’ dan ‘Bank Keliling’.

Memang untuk persyaratan pinjam ke ‘Bank Emok’ sangat mudah dan cepat cair, akan tetapi suku bunga yang dikenakan cukup membebankan warga. Jika tidak digunakan dengan baik pinjaman tersebut, yang ada banyak warga yang tak sanggup bayar.

Dia juga sadar pasti ada saja yang tidak seneng ketika menyikapi terkait ‘Bank Emok;. Pasti dalihnya soal “Solusi” ke siapa ketika warga mau pinjam. “Masalah meminjam ke ‘Bank Emok’  benar-benar pinjam karena kebutuhan atau kemauan,” tegasnya.

Secara pribadi dirinya sudah lama menyikapi fenomena maraknya ‘Bank Emok’. Alhasil, warga menjadi bagian dari penyebab maraknya praktik tersebut. Ini bukan hanya soal kebutuhan saja tapi soal keyakinan, jangan sampai pinjam karena bukan kebutuhan yang urgen dan pinjaman tersebut malah tidak mendapat keberkahan.

“’Bank Emok’ atau ‘Bank Berjanji’ dan ‘Bank Keliling’ seolah tak kunjung jadi solusi, kahadiran mereka terus menjadi gejolak ditengah tengah masyarakat. Karena ‘Bank Emok’ ada juga suami istri yang sampai cerai. Itu yang tidak diinginkan,”pungkasnya.

** Cepi Kurniawan

Pemkab Bogor Pertimbangkan Lagi Rencana PTM

0

Klapanunggal | Jurnal Inspirasi

Seiring dengan perkembangan penularan Covid-19 yang sebulan terakhir ini semakin meninggi, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor akhirnya mempertimbangkan kembali rencana menggelar sekolah tatap muka pada tahun ajaran pendidikan 2021/2022.

Bupati Ade Yasin mengatakan, secara teknis Kabupaten Bogor sudah siap menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas untuk tahun ajaran pendidikan 2021/2022. Sebab sebelumnya juga sudah berjalan PTM terbatas di beberapa sekolah yamg menjadi model percontohan PTM terbatas.

Dalam pelaksanaannya, satuan pendidikan sudah memenuhi prosedur maupun petunjuk teknis penyelenggaraan PTM terbatas. Sebab seluruh sarana dan prasarana pendukung protokol kesehatan pencegahan Covid-19 sudah dipenuhi.

“Rencana PTM terbatas di Kabupaten Bogor, angka virus Covid-19 saat ini sedang tinggi. Untuk itu, kami menunggu keputusan Kemendikbudristek seperti apa instruksinya,” ujar Ade Yasin, Rabu (16/5).

Senada dikatakan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor, Juanda Dimansyah. Pihaknya menunggu instruksi dari pemerintah pusat.

“Tetap kita akan melaksanaka PTM, karena selama ini tidak ada masyarakat yang protes. Pelaksanaannya pun berjalan dengan baik. Tapi, mungkin nanti ada keputusan dari pusat, dan Intinya kita sedang mempersiapkan sekolah-sekolah di Kabupaten Bogor,” kata dia.

Sementara itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor menyatakan tak akan merekomendasikan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas jika guru dan tenaga kependidikan (GTK) disuntik vaksin.

“Vaksinasi guru di Kabupaten Bogor sampai saat ini sudah di atas 60 persen. Tapi kami harap semuanya ikut berpartisipasi demi kebaikan bersama apalagi menjelang PTM,” ujar Sekretaris Dinkes Kabupaten Bogor, Dedi Syarif.

Dia menegaskan, vaksinasi untuk golongan GTK adalah harga mati yang harus dilakukan sebelum PTM dilaksanakan Juli mendatang.

Karena itu, Dinkes Kabupaten Bogor tidak akan memberikan rekomendasi PTM kepada sekolah yang tenaga pengajarnya belum melaksanakan Vaksinasi Covid-19.

“Kita dari Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Bogor sudah melakukan zoom dengan semua yang berkaitan supaya guru formal maupun non formal seperti pesantren dan lain untuk divaksin dulu sebelum digelar PTM,” kata Dedi.

Dia menilai jika Vaksinasi Covid-19 kepada tenaga pengajar dilakukan untuk memberikan keamanan bersama. Baik guru, orang tua murid, bahkan murid itu sendiri.

“Jadi sekarang gini ketika guru mau tatap muka sekolahnya, maka harus sudah vaksin dengan menunjukan sertifikat vaksin. Kalaupun belum, ya kita larang. Daripada nanti menularkan ke yang lain itu lebih bahaya lagi,” tukasnya.

** Dede Suhendar

Barokah 07 Koleksi Ma’jun Sulap Sampah Jadi Barang Berguna Lagi

0

Depok | Jurnal Inspirasi

Bank sampah Barokah 07 – Koleksi Ma’jun berhasil menyulap sampah dijadikan barang yang berguna seperti dari bungkusan plastik sachet, karung, tutup botol, serta baju yang tidak lagi dipakai. Seperti diketahui, bank sampah adalah salah satu tempat yang digunakan untuk memilah sampah agar menjadi bahan yang bisa digunakan kembali.

Barokah 07 – Koleksi Ma’jun yang berada di Jalan Rawageni RT 05 RW 07 No.77 Kelurahan Ratujaya, Kecamatan Cipayung, Kota Depok. Di koleksi Ma’jun ini, mulai memilah sampah dari tahun 2013 atau dalam kurun waktu kurang lebih delapan tahun yang lalu.

“Saya itu suka memilah, yang jelas saya suka memilah sampah. Lebih baik dijadikan barang yang berguna lagi,” ujar pendiri Barokah 07 – Koleksi Ma’jun, Sutati kepada Jurnal Bogor, Rabu (16/6).

Tati mengaku, “Kalau saya memilahkan ada yang dihasilkan, terus meminimalisir sampah juga, terus bisa buat kerajinan. Kaya bungkus kopi, dari pada dibuang dan bikin numpuk, lebih baik kita buat jadi tikar lantai,” terangnya.

Disana, Tati menjadikan bungkus kopi menjadi tikar lantai, tutup botol menjadi vas bunga ataupun tempat aqua gelas, kain bekas menjadi lap tangan atau ma’jun, karung-karung bekas diubah menjadi tas belanja, kain atau baju bekasi menjadi sarung atau penutup galon dan masih banyak lagi. 

Bila dijual, Tati menawarkan harga Rp5.000 untuk 10 pcs lap atau ma’jun dari kain bekas, kemudian ada lap tangan dengan motif lucu seharga Rp10.000/pcs. “Untuk tikernya ini, belum sempet saya jual karena memang belum jadi, dan masih setengah rajutannya,” tambahnya.

Sebenarya untuk tikar lantai tak ingin Ia jual. Karena nantinya, akan ia sumbangkan untuk Posyandu ataupun tempat-tempat sosial di sekitar lokasi rumahnya. “Kalo yang beli pasti ibu-ibu ya, ibu rumah tangga. Kan emang buat lap tangan yang digantungin,” tutupnya.

** Azizah [MG/UIK-Jb]

Salah Sasaran Pemukulan Berujung Laporan Polisi

0

Nanggung l Jurnal Inspirasi

Isak Natalis, warga Kampung Cipendeuy RT 02 RW 03 Desa Kiarasari, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor dihakimi oleh sejumlah supir angkot jurusan Leuwiliang – Bojong Sari yang ternyata salah orang.

Kejadian pemukulan saat Isak Natalis sedang menunggu tetangganya yang menjual perhiasan ke Pasar Leuwliang, namun karena khawatir tidak membawa kartu identitas, dia menunggu di Kampung Panjaungan, Desa Batutulis, Kecamatan Nanggung.

Menurut Anwar, kakak sepupu korban mengatakan, awal mula kejadia seminggu yang lalu, supir mandapatkan penumpang yang akan menyewa mobil dari arah Leuwliang menuju Kota Bogor sampai di Dramaga tiba-tiba penumpang tersebut turun dan meninggalkan supir tersebut.

Saat itu, supir tersebut mengenali mimik muka hanya sekilas, nsmunsaat kemarin melihat Isak Natalis seketika menuduhnya sebagi penumpang tersebut, padahal Isak sudah menjelaskan pada sang supir.

“Saat menunggu di warung kopi tiba-tiba supir angkutan umum tersebut menuduh Isak Natalis sebagi penumpang, padahal dirinya sudah memberikan penjelasan namun yang diterima pukulan oleh supir dan menyebabkan luka di bagian punggung belakang dan bagian kepala, kejadian tersebut kemarin (15/06),” ujarnya saat dikonfirmasi melalui telepon.

Dia menjelaskan, Isak yang setiap harinya berprofesi sebagai tukang ojek, namun dalam hal ini, pihak keluarga korban sudah melakukan laporan kepada Polsek Nanggung dan melampirkan bukti visum.

“Semalem kita buat laporan ke Polsek Nanggung, sudah di BAP dan sudah divisum juga dan kita sedang menyiapkan pengacara,” ujar dia.

Saat dikonfirmasi melaui selulernya, Kanit Reskrim Polsek Nanggung IPDA Rahman Nurjaman membenarkan adanya kejadian tersebut akan tetapi pihaknya tengah menyelidiki laporan itu.

“Dalam kejadian itu, sudah memiliki titik terang untuk progres berikutnya,” imbuhnya

** Arip Ekon

Warga Cisarua Kembali Protes, Ruas Jalan yang Baru Dibangun Rusak Lagi

0

Nanggung l Jurnal Bogor

Warga Desa Cisarua, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor kembali memprotes belum ada perbaikan terhadap ruas jalan Cibeber Cisarua-Malasari yang baru dibangun, namun rusak lagi.

Kepala Desa Cisarua H Ipit Idris menyesalkan sikap dari PT.Dovlen Seventy yang merupakan pelaksana pengerjaan jalan  yang terkesan kurang bertanggung jawab  dalam penanganan perbaikan jalan tersebut.

Jalan Cibeber  Cisarua pertama dibangun pada Oktober terhitung hingga selesai awal Januari, tetapi hasil bangunannya tidak memuaskan. Setelah selesai pengerjaan, selang satu minggu jalan itu sudah kembali rusak namun pihak PT.Dovlen Saventy sampai sekarang belum memperbaikinya.

“Sudah bulan Juni lagi, jalan tersebut masih dibiarkan rusak,” kata H Ipit Idris Kepada wartawan, kemarin.

Pembangunan jalan Cibeber Cisarua Malasari tersebut menelan anggaran sebesar, Rp 4.280.386.000.00 dari APBD Kabupaten Bogor, akan tetapi kondisi sekarang kerusakannya lebih parah.

“Sudah beberapa kali kami layangkan permohonan untuk perbaikan jalan itu,” tandasnya.

“Kami tegaskan jalan tersebut belum ada perbaikan sama sekali meski kodisinya sudah kembali rusak,” tegas Ipit Idris lagi.

Ipit menyebut anggaran bangunan jalan yang digelontorkan oleh Pemkab Bogor itu tidak sedikit.

“Kami hitung sekarang sudah masuk Juni  harusnya sudah ada perbaikan dan perawatan. Namun satu kali pun belum ada perbaikan,” kata dia.

Sementara, saat dikonfirmasi pelaksana PT Dovlen,  Oslen berkilah bahwa sebelumnya jalan tersebut pernah ada  perbaikan, tetapi ketika  ditanya sejak kapan waktu perbaikan jalan itu, pihaknya tidak bisa menjelaskan secara rinci.

“Intinya  bulan  Juli mendatang akan ada perbaikan jalan itu. Bulan Juli masa habisnya, sekalian dilakukan perbaikan,” pungkasnya.

** Arip Ekon

Sudah 14 Hari, Kadis LH: Hasil Lab PT SBI Belum Bisa Dirilis

0

Cibinong | Jurnal Inspirasi

14 hari sudah waktu kerja Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor untuk melakukan pengecekan laboratorium terkait bahan baku limbah milik PT Sinar Banten Indonesia (SBI). Namun DLH masih belum bisa merilis hasil lab tersebut.

Asnan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (Kadis LH) Kabupaten Bogor menyatakan, hasil lab bahan baku limbah PT SBI belum bisa dirilis. “Karena ada dua parameter lagi yang belum keluar hasilnya” ucap Asnan saat dihubungi, Rabu (16/06/21).

Menurut Kadis LH ini, bahan baku yang parameternya belum keluar yaitu bahan baku sejenis minyak. “Nanti kalau sudah ada semua hasilnya kita sampaikan ya,” ujarnya.

Ternyata, hasil lab ini ditunggu banyak pihak, salah satunya Polisi Sektor (Polsek) Gunung Putri. “Kemarin dari polsek Gunung Putri juga sudah minta ke kita,” kata Asnan.

DLH juga meminta kepada pemilik perusahaan transporter limbah tersebut untuk mengembalikan lingkungan yang tercemar seperti semula. “Kita sudah sampaikan kepada perusahaan untuk segera mengembalikan lingkungan yang tercemar seperti semula,” pungkasnya.

Sebelumnya, pada 27 Mei 2021, DLH Kabupaten Bogor, melalui Riri Agustina, Kepala Seksi (Kasi) Pengaduan LH Kabupaten menjelaskan untuk tindak lanjut hasil sidak PT. SBI ini, akan didapat setelah 14 hari kerja kedepan. “Terkait sampel, dampak dan cara penanganan, kita kaji dulu ini limbah apa dan seperti apa cara penanganannya, kemungkinan itu akan didapat dalam hitungan 14 hari kerja,” singkatnya.

**TM/Red