30.7 C
Bogor
Thursday, April 2, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 116

Penolakan Pengurus MUI Bogor Terus Mengalir

0

jurnalinspirasi.co.id – Penolakan terhadap susunan kepengurusan MUI Kabupaten Bogor periode 2025-2030 terus mengalir. Saat ini penolakan muncul dari Persatuan Umat Islam Kabupaten Bogor pimpinan Herdi Hendrawan.

“Penolakan yang kami sampaikan pada dasarnya bukan sekedar menolak hasil Musda. Tetapi lebih kepada dorongan agar ada perubahan nyata di tubuh MUI. Kami ingin kepemimpinan baru yang lebih segar, dan mampu menjawab tantangan umat di kabupaten Bogor,” ujar Herdi kepada Jurnal Bogor, Kamis (18/9/2025).

Herdi menegaskan penolakan bukan ditujukan pada figur tertentu melainkan dorongan agar MUI Kabupaten Bogor bisa melakukan penyegaran kepemimpinan.

“Apalagi sudah ada kaderisasi ulama yang sudah berjalan  berjalan dengan optimal sehingga semakin dipercaya umat dan menjadi mitra strategis pemerintah daerah. Jangan sampai MUI terjebak pada status quo,” tegas Herdi.

Herdi menambahkan penolakan adalah ikhtiar ormas-ormas Islam agar MUI kembali pada ruh syura dan amanah. “Dengan perubahan kepemimpinan, insya Allah MUI akan lebih kuat, independen, dan mampu memberi teladan bagi umat,” tandas Herdi.

(Herry Setiawan)

Prof Ricky Avenzora: Perkembangan Pariwisata Indonesia Belum Optimal

0

jurnalinspirasi.co.id – Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan mega biodiversitas dan budaya terbesar di dunia. Dari potensi hayati, geologi, budaya, hingga bahari dan pesisir, negeri ini menyimpan peluang ekowisata yang sangat berlimpah.

Meski demikian, Prof. Ricky Avenzora, Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, menilai perkembangan pariwisata Indonesia selama beberapa dekade terakhir masih belum optimal dan tertinggal dibandingkan negara tetangga.

“Kita memiliki ratusan gunung berapi, garis pantai panjang, satwa endemik seperti gajah, harimau, dan badak, hingga ribuan spesies burung. Semua ini adalah potensi besar, tetapi yang muncul justru konflik antara satwa liar dan manusia,” ujarnya dalam Konferensi Pers Pra-Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University, 18 September lalu.

Dalam paparannya berjudul “Retrospeksi Akademis 35 Tahun Pembangunan Ekowisata di Indonesia”, Prof. Ricky, yang akrab disapa Prof. Ara, juga menyoroti kekayaan budaya Nusantara. Lebih dari 1.300 etnis, ratusan seni bela diri, permainan tradisional, hingga ribuan folklor masih belum tergarap secara serius.

“Penelitian mahasiswa saya di satu kabupaten saja menemukan lebih dari 300 folklor. Bayangkan jika dikalikan dengan 457 kabupaten/kota di Indonesia. Ini bisa menjadi kekuatan besar industri kreatif kita, bahkan menandingi drama Korea,” ungkapnya.

Prof. Ara menilai ada tiga masalah utama dalam pembangunan pariwisata Indonesia:

1. Devisa dan jumlah wisatawan masih kalah dari negara tetangga.
2. Potensi alam dan budaya justru banyak yang mengalami kerusakan.
3. Distribusi manfaat pariwisata yang timpang, di mana kelompok menengah ke atas lebih banyak menikmati keuntungan, sementara masyarakat kecil hanya memperoleh “recehan”.

“Rekreasi dan pariwisata tidak boleh hanya dimaknai sebagai kebebasan perjalanan. Harus diubah menjadi perjalanan berkesadaran ilahiah untuk mencari jati diri sekaligus memberi manfaat bagi semesta. Itulah yang disebut ekowisata,” tegasnya.

Di bidang pendidikan, Prof. Ara menilai pengembangan pariwisata di Indonesia selama ini terlalu terjebak pada skema vokasional. Akibatnya, kompetensi keilmuan tidak komprehensif, yang berimbas pada lemahnya perencanaan dan buruknya kinerja birokrasi.

Sebagai solusi, ia menawarkan sejumlah langkah, antara lain: Academic reengineering di bidang kepariwisataan, Pergeseran paradigma pembangunan pariwisata, dari sekadar membangun fasilitas untuk turis menjadi pembangunan yang berpihak pada masyarakat lokal, dan Penguatan peran sektor swasta sebagai inkubator bisnis komunal.

Terkait peranan sektor swasta, dalam sesi Pra-Orasi Ilmiah tersebut, Prof. Ara juga menegaskan pentingnya peningkatan peran dan kepastian ekosistem berusaha. Ia menyoroti kasus penyegelan dan pembongkaran terhadap puluhan lokasi wisata di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor.

Menurutnya, langkah pemerintah yang menyegel dan mencabut izin usaha wisata belakangan ini cenderung dimaknai sebagai individual over acting (aksi berlebihan secara individual) serta position abuse of power (penyalahgunaan jabatan dan kekuasaan).

“Intinya tidak dilakukan dengan prosedur yang tepat. Hal itu sungguh tidak bijak dan sangat merugikan semua pihak secara signifikan. Menurut saya, praktik semacam ini harus segera dihentikan dan tidak boleh diulang oleh siapa pun,” tegasnya.

Ia menambahkan, hak usaha para pengusaha wisata seharusnya dikembalikan, bahkan didukung dan difasilitasi oleh pemerintah daerah maupun pusat. Prof. Ricky menyebut EIGER Adventure Land sebagai salah satu contoh pengusaha yang patut didukung.

“Perlu kita sadari, Indonesia hanya memiliki sedikit sekali pengusaha wisata yang masuk kategori menengah-atas dan konsisten mengembangkan ekowisata. EIGER adalah salah satunya,” kata Prof. Ricky.

Karena itu, menurutnya, pemerintah semestinya memberi dukungan penuh dalam segala hal. Jika ada kekeliruan atau kekurangan dari pihak swasta, maka sebaiknya diarahkan dan dibimbing dengan bijak.

“Pola hentikan dan bongkar adalah bentuk arogansi jabatan yang secara hukum tidak dibenarkan, serta secara sosial-ekonomi sangat merugikan masyarakat luas dan juga negara,” pungkasnya.

(MH.Arinta)

Yusfitriadi Kritisi PKPU 731 Abaikan Prinsip Transparansi

0

jurnalinspirasi.co.id – Diskusi media digelar oleh Gerakan untuk Indonesia Adil dan Demokratis (GIAD) bersama Vinus Forum di Cibinong pada Jumat (19/9/2025).

Pengamat Politik dan Kebijakan Publik, Yusfitriadi, yang juga menjabat sebagai Direktur Vinus, mengungkapkan kritik tajam terhadap Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 731 Tahun 2025.

Ia menilai bahwa regulasi tersebut sangat politis dan mengabaikan prinsip penyelenggaraan pemilu yang seharusnya transparan.

Yusfitriadi menyatakan bahwa pembatasan akses terhadap 16 dokumen persyaratan calon presiden dan wakil presiden justru menimbulkan kecurigaan di kalangan publik. PKPU yang ditetapkan pada 21 Agustus 2025 ini diambil setelah Pemilu 2024, menimbulkan pertanyaan mengenai urgensinya.

“Pertanyaannya, PKPU itu untuk apa? Apalagi keluarnya bertepatan dengan isu dugaan ijazah wakil presiden yang tidak memenuhi standar nasional, bahkan ada yang menyebut ijazah itu palsu. Sangat wajar jika publik melihat aturan ini untuk melindungi wakil presiden,” tegas Yusfitriadi.

Ia menekankan bahwa seharusnya PKPU diterbitkan sebelum penetapan pasangan calon presiden dan wakil presiden pada Pemilu 2024. Dengan demikian, spekulasi yang dapat merusak kepercayaan publik tidak akan muncul.

Yusfitriadi juga menyoroti bahwa PKPU tersebut bertentangan dengan prinsip profesionalitas dan transparansi yang seharusnya dijunjung tinggi oleh KPU. Menurutnya, ketika isu dugaan ijazah wakil presiden belum muncul, publik mungkin tidak mempermasalahkan. Namun, setelah isu itu ramai, kebutuhan masyarakat untuk melihat keabsahan dokumen semakin mendesak.

“Sayangnya, akses langsung dikunci oleh PKPU Nomor 731. Ini bisa menjadi bola salju yang makin membesar dan menambah krisis legitimasi publik terhadap lembaga negara. Saya minta KPU segera profesional dan terbuka, agar kelengkapan serta keabsahan dokumen bisa terang-benderang di mata publik,” ujarnya.

Lebih lanjut, Yusfitriadi mendesak DPR RI, khususnya Komisi II, untuk segera memanggil KPU guna meminta penjelasan terkait dugaan ketidakprofesionalan dalam penerbitan PKPU tersebut. Ia juga meminta Komisi Informasi Publik untuk memberikan respons terkait posisi hukum aturan tersebut.

“Kalau dibiarkan, kondisi ini bisa memicu hal-hal yang tidak diinginkan. Transparansi adalah kunci untuk menjaga demokrasi tetap sehat,” pungkasnya. Belakangan ini, PKPU 731 itu dibatalkan KPU.

(MH.Arinta)

Polres Bogor Amankan 2 Lansia yang Lakukan Pencabulan

0

jurnalinspirasi.co.id – Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Bogor telah mengamankan dua laki-laki lanjut usia yang diduga sebagai pelaku pencabulan. Kedua pelaku berinisial WS (65 tahun) dan MR (68 tahun) yang tinggal berdekatan dengan seorang anak perempuan yang menjadi korban.

Kasat Reskrim Polres Bogor, AKP Teguh Kumara, menyampaikan bahwa kedua terduga pelaku diciduk di rumahnya yang terletak di Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor.

“Kami telah mengamankan dua terduga pelaku pencabulan, WS dan MR,” ujarnya, Minggu (21/9).

Dari informasi yang diterima, terdapat dua anak perempuan yang menjadi korban pencabulan. Untuk memperlancar aksinya, kedua pelaku memberikan uang sebesar Rp5.000 kepada masing-masing anak sebelum melakukan tindakan cabul.

Aksi pencabulan ini terbongkar setelah salah satu korban melaporkan kejadian tersebut kepada tantenya, yang kemudian meneruskan aduan itu kepada ibu korban.

“Kejadian pencabulan dilaporkan terjadi pada 21 Juli. Setelah dilakukan penyelidikan, pada 12 dan 19 Agustus, kedua korban telah menjalani visum di RSUD Bhakti Pajajaran untuk melengkapi barang bukti,” tegasnya.

Setelah mendapatkan keterangan dari tujuh orang saksi, serta hasil visum fisik dan psikologi, kepolisian menetapkan WS dan MR sebagai tersangka.

“Sabtu kemarin, kami pun melakukan penahanan terhadap kedua tersangka. Mereka dikenakan Pasal 82 juncto 76E UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman penjara minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun, serta denda maksimal Rp5 miliar,” tutup AKP Teguh Kumara.

(MH.Arinta)

Kantor Imigrasi Sosialisasi TPPO di Kelurahan Naggewer Mekar

0

jurnalinspirasi.co.id – Kelurahan Nanggewer Mekar, Cibinong, Kabupaten Bogor bekerja sama dengan Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Bogor menyelenggarakan Sosialisasi Keimigrasian tentang Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan Tindak Pidana Penyelundupan Manusia (TPPM).

Kegiatan ini dihadiri perangkat kelurahan, tokoh masyarakat, serta warga setempat, dengan tujuan meningkatkan pemahaman sekaligus kewaspadaan masyarakat terhadap bahaya kejahatan transnasional tersebut.

Dalam paparannya, Kepala Subseksi Intelijen Keimigrasian Kantor Imigrasi Bogor, Rizki Ari Kurniawan Ramadhan, menekankan pentingnya peran masyarakat dalam pencegahan TPPO dan TPPM.

“Kejahatan ini seringkali melibatkan iming-iming pekerjaan atau perjalanan keluar negeri dengan cara ilegal. Oleh karena itu, masyarakat perlu waspada dan memastikan prosedur keimigrasian dilakukan sesuai aturan. Imigrasi siap memberikan pendampingan agar masyarakat terhindar dari jeratan sindikat perdagangan orang maupun penyelundupan manusia,” tegasnya.

Selain pemaparan materi, peserta juga diberikan contoh kasus dan langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan di tingkat keluarga maupun lingkungan sekitar. Menurut Rizki, edukasi ini penting agar masyarakat mampu mengenali modus operasi sindikat yang semakin beragam.

“Kunci utama adalah pengetahuan. Dengan memahami ciri-ciri dan pola perekrutan ilegal, kita bisa mencegah korban baru bermunculan,” tambahnya.

Lurah Nanggewer Mekar Kabupaten Bogor, Hanny Septianie, SH, dalam kesempatan tersebut, menyampaikan apresiasi atas dukungan Imigrasi Bogor. Ia berharap kegiatan ini mampu memperkuat sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam upaya mencegah TPPO dan TPPM.

“Dengan adanya sosialisasi ini, saya harapkan masyarakat lebih berdaya, terlindungi, dan mampu menjadi garda terdepan dalam melawan kejahatan perdagangan orang maupun penyelundupan manusia,” pungkas Hanny Septianie.

(MH.Arinta)

Bersih-bersih Sampah di Panjaungan Menginspirasi Masyarakat

0

jurnalinspirasi.co.id – Aksi sosial dengan membersihkan lingkungan di Kampung Panjaungan, Desa Batutulis belum lama ini dilakukan jajaran Pemerintah Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor.

Momentum menjaga lingkungan sekitar dengan menggelar bersih- bersih bertepatan pada peringatan Hari Bersih Sedunia (Word Cleanup Day).

“Kegiatan aksi bersih-bersih tentu untuk menginspirasi masyarakat agar peduli dan menjaga terutama di lingkungan  sekitar,” ujar Camat Nanggung Ae Saepuloh, baru baru ini.

“Kami mendorong agar masyarakat terbiasa memilah dan mengelola sampah menjadi nilai ekonomis,” pungkasnya.

Ia menyampaikan lokasi yang ia kunjungi ke Kampung Panjaungan tepatnya di Bank Sampah Berlian sebagai bentuk apresiasi dirinya kepada pihak pengelola.

Ae menilai, gebrakan yang dimotori Neneng Julaeha perlu dicontoh dan ini menjadi wadah edukasi sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Apa yang dilakukannya, salah upaya meminimalisir sampah agar tidak dibuang sembarangan, dengan ini masyarakat terbiasa, lingkungan bersih dan ada nilai ekonomisnya,” tukasnya.

(Arip Ekon)

Warning Buat Pencinta Wisata Offroad: Jangan Buang Sampah di Alam Puncak!

0

Jangan Langgar SOP

jurnalinspirasi.co.id – Sejak lama para pencinta offroad yang memasuki di kawasan Puncak, Cisarua dan Megamendung, Kabupaten Bogor kerap dikeluhkan oleh warga sekitar, khususnya para petani yang berada di wilayah itu.

Hal ini karena rombongan kendaraan offroad yang disewa oleh para tamu tamu di hotel atau dari tempat wisata kerap meninggalkan jejak kerusakan dan lingkungan kotor oleh sampah bekas makanan dan minuman.

Seperti yang terpantau di akhir pekan ini, sejumlah kendaraan offroad mulai dari jenis landrover hingga ke jenis kendaraan lainnya memasuki beberapa rute pinggiran desa atau dibawah kaki Gunung Pangrango.

Rombongan itu mengangkut para penumpang memasuki kawasan  yang dinilainya cukup menantang. Disaat memasuki medan yang berat, gelak tawa yang sesekali diikuti teriak tanda gembira ini ada yang terlupakan, mereka membuang sampah seenaknya.

” Tuh lihat ini fakta, mereka tidak memperhatikan lingkungan. Jejaknya sampah bekas makanan dan minuman mereka buang di tepi kebun, dan kami selaku warga sekaligus petani melakukan pembersihan terhadap sampahnya, ” ujar Samsudin, seorang petani di Cisarua.

Ditempat terpisah, bukan hanya sampah yang ditinggalkan oleh pencinta offroad itu  melainkan pralon instalasi air milik petani juga kerap mengalami kerusakan.

“Kadang kami merasa kesal dengan kondisi itu, saluran air terhenti akibat pralonnya terlindas oleh kendaraan offroad. Dengan sabar, kita perbaiki kembali, karena air itu sangat dibutuhkan untuk pertanian dan aktivitas kehidupan sehari hari, ” kata Jujun.

Menyikapi hal ini demi menjaga kelestarian di wilayah Puncak, sejumlah elemen masyarakat menghimbau kepada para pencinta offroad supaya mematuhi SOP offroad yang sudah diterapkan oleh komunitas.

SOP bagi Offroader IOF ketika akan melakukan expedisi ke alam bebas.

Kesatu, sediakan trash bag: Bawa kantong sampah yang cukup, idealnya bisa dipisah untuk sampah organik dan non-organik.

Kedua, kumpulkan semua sampah: Selama pendakian atau offroad, kumpulkan semua sampah yang dihasilkan, seperti bungkus makanan, kaleng, tisu, atau puntung rokok, ke dalam kantong sampah.

Ketiga, pisahkan sampah (jika memungkinkan) pisahkan sampah organik dan non-organik. Sampah organik (sisa makanan, dll) bisa dikubur di dalam tanah, namun sampah non-organik (plastik, kaleng, batu baterai) wajib dibawa turun.

Keempat, bawa turun semua sampah: Pastikan membawa kembali semua sampah, termasuk sisa makanan dan sampah organik, untuk menjaga kelestarian alam gunung. Jangan membuang di sembarang tempat.

Kelima, hindari membuang sampah di sungai, mata air, atau sembarang tempat yang dapat mencemari lingkungan.

(Dadang Supriatna)

PT BAP Bagikan Ribuan Bibit Pohon ke Warga

0

jurnalinspirasi.co.id – Ribuan bibit pohon produktif seperti mangga, alpukat, durian, jambu, dan berbagai jenis lainnya ludes dibagikan secara cuma-cuma oleh PT Banyu Agung Perkasa (BAP) kepada masyarakat Puncak, Kabupaten Bogor, Sabtu (20/9/2025).

Aksi ini digelar dalam rangka memperingati World Clean Up Day 2025 sekaligus mengajak masyarakat berpartisipasi aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Antusiasme warga terlihat tinggi. Mereka rela antre demi mendapatkan bibit, bahkan ada yang membawa pulang dua hingga tiga jenis sekaligus untuk ditanam di halaman rumah maupun kebun masing-masing.

Direktur Utama PT BAP, Sandi Adam, S.H., menjelaskan bahwa aksi ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk terus hadir dalam upaya penghijauan dan pelestarian alam di kawasan Puncak.

“Memberikan bibit pohon hanyalah langkah awal. Yang lebih penting adalah menanam, merawat, dan menjadikan penghijauan sebagai budaya masyarakat. Dengan cara itu, manfaatnya bisa dirasakan jangka panjang, baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi,” ujar Sandi.

Selain pembagian bibit, PT BAP juga secara konsisten melaksanakan program penghijauan massal, edukasi pengelolaan sampah, hingga kolaborasi dengan komunitas lokal dan pemerintah daerah.

Warga pun menyambut baik kegiatan ini. Selain memperindah lingkungan, bibit pohon produktif yang dibagikan diyakini akan memberikan manfaat ekonomi di masa depan ketika pohon-pohon tersebut mulai berbuah.

PT BAP menegaskan bahwa kegiatan ini akan terus digalakkan sebagai bagian dari rangkaian program sosial dan lingkungan perusahaan sepanjang tahun 2025. Edukasi, keterlibatan generasi muda, serta dukungan penuh terhadap kebijakan pemerintah terkait penataan kawasan Puncak menjadi fokus utama dalam gerakan hijau ini.

Dengan semangat kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat, aksi sederhana membagikan bibit pohon diharapkan dapat menjadi langkah nyata menuju Puncak yang lebih hijau, lestari dan berkelanjutan.

(Dadang Supriatna)

Taruh Harapan, Pemkot Sambut Baik SMSI Bogor Raya

0

Jurnal Inspirasi – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor menyambut baik kehadiran Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Bogor Raya. Sebagai organisasi perusahaan media SMSI Bogor Raya memberikan energi baru bagi dunia kewartawanan di Kota Bogor.

“Bukan hanya pemerintah, mungkin masyarakat pun menaruh harapan besar kepada SMSI Bogor Raya ini, karena ditangan para pemilik media ini menentukan arah masa depan generasi anak bangsa,” ujar Walikota Bogor, Dedie A. Rachim saat ngobrol santai bersama pengurus SMSI Bogor Raya di Balaikota Bogor, Jumat (19/9/2025).

Menurut Walikota Bogor Dedie, sebagai pilar keempat Demokrasi, media juga memiliki peran penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pemberitaan positif yang menginspirasi dan memberi solusi.

“Saya pribadi sampai saat ini lebih suka membaca berita melalui media massa baik online maupun media konvensional, karena saya percaya informasi atau berita yang diterbitkan media massa bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya,” tutur Dedie.

Dedie berharap SMSI Bogor Raya menjadi wadah perusahaan pers yang menjunjung tinggi profesionalisme sebagai pengusaha media dan tetap menjaga marwah pers sebagai kontrol sosial yang tidak mengesampingkan kaidah jurnalistik.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua SMSI Bogor Raya, Iman Rahman Hakim mengatakan bahwa, kehadiran SMSI Bogor Raya harus memberikan perubahan terhadap perkembangan dunia informasi yang semakin mudah diakses hanya dalam satu genggaman.

“Saya selalu menyampaikan kepada teman-teman di SMSI Bogor Raya, berhati-hati dalam mengeluarkan produk berita, jangan suguhkan infomasi yang menyesatkan, jangan sajikan informasi yang membuat gejolak di masyarakat,” tuturnya.

Informasi sekecil apapun, lanjut dia, yang diterima masyarakat baik melalui media sosial maupun portal berita, itu sangat berpengaruh terhadap cara pandang masyarakat yang membaca informasi tersebut.

“Karena tidak semua masyarakat tahu mana produk jurnalis dan mana produk media sosial. Tentunya Ini menjadi tugas kita bersama bukan hanya para pelaku media tapi juga para pegiat media sosial. Jangan jadikan masyarakat sebagai objek adu domba, tapi siapkan generasi muda sebagai pemilik masa depan yang sejahtera,” pungkasnya.

(say-rls)

IPB Sorot Penyegelan Obyek Wisata Puncak

0

jurnalinspirasi.co.id -Aksi penyegelan terhadap puluhan lokasi obyek wisata di kawasan Puncak, Bogor mendapat sorotan keras dari pakar Ekowisata Prof. Ricky Avenzora, yang merupakan Guru Besar Tetap Manajemen Ekowisata Fakultas Kehutanan & Lingkungan IPB University.

Menurutnya, aksi pemerintah menyegel dan mencabut izin usaha wisata belakangan dimaknai sebagai suatu individual over acting (aksi yang dilakukan secara individual) serta position abuse of power (penyalahgunaan jabatan dan kekuasaan).

“Intinya tidak dilakukan dengan prosedur yang pas. Hal itu sungguh tidak bijak dan sangat merugikan semua pihak secara signifikan, hal itu menurut saya harus segera dihentikan dan tidak boleh diulang oleh siapapun,” ujar dia saat Konferensi Pers, Kamis (18/09/2025).

Menurut dia, mengenai proses dan hak usaha harus segera diberikan kembali kepada mereka para pengusaha. Bahkan, seharusnya perlu didukung serta difasilitasi oleh pemda dan tingkat pusat.

“Perihal puncak kebijakan Menteri Lingkungan Hidup saya kategorikan salah satu bentuk individual over acting dan juga bentuk dari abuse of power. Karena terlihat grasak grusuk untuk cawe-cawe secara tidak bijaksana,” katanya.

Sebagai contoh, sambungnya, kasus EIGER Adventure Land yang berlokasi di areal Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dirinya kategorikan bukan hanya individual over acting dan abuse of power dari pejabat terkait, melainkan juga misleading political mindset and crowd (pola pikir politik yang menyesatkan).

Ia mengatakan, coba lihat semua pemberitaan yang ada saat itu, siapa saja menteri dan tokoh politik yang tidak ada juntrungannya malah rame-rame datang ke areal Eiger dan bicara di depan kamera, mau cari panggung politik atau ada agenda persaingan ekonomi kelompok politik?

“Perlu kita sadari, Indonesia hanya memiliki sedikit sekali pengusaha wisata yang masuk dalam kategori menengah-atas dan konsisten untuk mengembangkan ekowisata di Indonesia dimana Eiger salah satunya,” kata Ricky.

Disini harusnya pemerintah suport dalam segala hal, jika ada khilaf, salah dan kekurangan dari mereka maka arahkan dan tuntunlah dengan baik dan efisien.

Menurutnya pola hentikan dan bongkar adalah arogansi jabatan yang secara hukum tidak benar, serta dalam aspek sosial-ekonomi juga sangat merugikan masyarakat luas dan juga negara.

Diketahui soal perizinan, Kepala UPT Penataan Bangunan Wilayah II Ciawi, Agung Tarmedi mengatakan, terkait bangunan-bangunan yang ada di Eiger, perizinannya sudah lengkap.

Sejauh ini, kata dia, EAL telah mengantongi dokumen perizinan di antaranya Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (PKKPR), siteplan dan juga Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) atas nama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) sebagai pemilik lahan.

** Fredy Kristianto