26.8 C
Bogor
Thursday, September 24, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 10

EIGER Nature Usung Konsep Ekowisata Berkelanjutan

0

Bogor | Jural Bogor

EIGER memperkenalkan EIGER Nature sebagai wajah baru pengembangan destinasi ekowisata di Bogor, Jawa Barat. Destinasi yang sebelumnya bernama EIGER Adventure Land ini dijadwalkan mulai dibuka untuk publik pada September 2026.

Perubahan nama tersebut bukan sekadar pergantian identitas. EIGER Nature membawa komitmen baru untuk menghadirkan destinasi yang tidak hanya menawarkan pengalaman berpetualang di alam, tetapi juga memberikan edukasi, manfaat sosial, serta dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.

Direktur EIGER Nature, Imanuel Wirajaya, mengatakan EIGER Nature merupakan bagian dari perjalanan panjang EIGER yang tumbuh dari kecintaan terhadap alam dan petualangan.

“EIGER Nature merupakan bagian dari perjalanan panjang EIGER untuk terus belajar dari alam, budaya, dan manusia. Perubahan ini bukan sekadar tentang nama, tetapi tentang komitmen kami untuk membangun ekowisata yang dapat menjadi berkat bagi pengunjung, alam, budaya, dan masyarakat,” ujar Imanuel.

Dalam pengembangannya, EIGER Nature mengusung pendekatan 3E Ekowisata, yakni Ekologi, Etnologi, dan Ekonomi. Konsep tersebut kemudian dikembangkan menjadi kerangka 7E, yang mencakup Ekologi, Etnologi, Ekonomi, Edukasi, Estetika, Etika, dan Entertainment.

Kerangka tersebut menjadi landasan dalam merancang kawasan, program, hingga pengalaman pengunjung agar aktivitas pariwisata dapat berjalan berdampingan dengan konservasi alam, pelestarian budaya, edukasi, serta pemberdayaan masyarakat.

“Bagi kami, ekowisata bukan sekadar membawa orang ke alam. Ekowisata harus mampu membangun hubungan yang lebih baik antara manusia, alam, budaya, dan masyarakat, sekaligus memberikan manfaat yang berkelanjutan,” katanya.

Tanam 120 Ribu Pohon

Komitmen terhadap keberlanjutan juga dilakukan sejak tahap pengembangan kawasan. EIGER Nature mencatat telah melakukan penghijauan melalui penanaman lebih dari 120.000 pohon serta sekitar 8 juta semak dan tanaman penutup tanah.

Selain penghijauan, upaya lain mencakup pemulihan lahan, pendataan keanekaragaman hayati, pengelolaan air dan hidrologi, serta pengembangan sistem pengelolaan sampah.

Dari sisi sosial dan ekonomi, pengembangan EIGER Nature telah melibatkan lebih dari 500 tenaga kerja, termasuk sekitar 300 orang dari masyarakat sekitar.

Saat beroperasi, destinasi ini diproyeksikan dapat membuka lebih dari 1.200 lapangan pekerjaan.

EIGER Nature juga mengalokasikan 5 persen dari laba bersih untuk mendukung program pelestarian alam, pelestarian budaya, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Program tersebut mencakup berbagai inisiatif konservasi, pengelolaan limbah, hingga program 1 Ticket 1 Tree.

Hadirkan Beragam Aktivitas Alam

EIGER Nature dirancang sebagai destinasi yang menggabungkan alam, petualangan, budaya, konservasi, dan hospitality.

Sejumlah aktivitas yang disiapkan antara lain Suspension Bridge, Tree House & Net Adventure, Cultural Walk, Playscape, Nature Walk, Forest Adventure, hingga pengalaman menginap di Forest Camp yang terdiri dari Camping Ground, Glamping, dan Cabin.

Untuk menunjang pengalaman pengunjung, EIGER Nature juga memanfaatkan teknologi melalui konsep paperless dan integrated experience. Sistem tersebut mencakup integrasi aplikasi, wristband, sistem akses, informasi, hingga transaksi digital menggunakan EIGER Coins.

Meski demikian, teknologi ditempatkan sebagai pendukung agar pengunjung dapat menikmati kawasan dengan lebih mudah tanpa menghilangkan interaksi langsung dengan alam.

“Pada akhirnya, kami ingin orang tidak hanya datang untuk menikmati alam, tetapi juga pulang membawa pengalaman, pemahaman, dan makna yang baru. Itulah perjalanan yang ingin kami bangun bersama EIGER Nature,” kata Imanuel.

EIGER Nature dijadwalkan membuka akses untuk publik pada September 2026. Destinasi ini diharapkan menjadi bagian dari pengembangan ekowisata yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus menciptakan dampak positif bagi lingkungan secara berkelanjutan.

** Fredy Kristianto

Kurangi Pencemaran Lingkungan, Layanan Penerimaan Limbah Elektronik Dibuka di Ciomas

0

Ciomas | Jurnal Bogor
Upaya pengurangan volume sampah dan pencemaran lingkungan terus dilakukan. Salah satunya melalui pengelolaan limbah elektronik atau e-waste. Di wilayah Ciomas, Kabupaten Bogor, kini tersedia layanan yang menerima berbagai jenis limbah elektronik dari masyarakat.

Sejumlah barang elektronik bekas dengan kondisi rusak atau mati dapat disalurkan ke tempat tersebut. Jenis barang yang diterima meliputi telepon seluler android, komputer, playStation 2, papan sirkuit atau PCB dari berbagai perangkat elektronik, baterai telepon seluler, LCD, tembaga, kuningan, dan jenis limbah elektronik lainnya.

Selain menerima barang eceran dari masyarakat, layanan ini juga menyediakan skema lelang atau pembelian borongan untuk aset kantor dan instansi yang sudah tidak terpakai.

Pengelola lapak barang bekas, Septrianu menyampaikan bahwa tujuan utama pembukaan layanan ini adalah untuk memfasilitasi masyarakat agar tidak membuang limbah elektronik secara sembarangan.

“Limbah elektronik mengandung zat berbahaya yang dapat mencemari tanah dan air apabila tidak dikelola dengan benar. Dengan adanya layanan ini, kami berharap masyarakat lebih sadar untuk menyalurkan barang bekas elektronik ke tempat yang tepat,” ujarnya Septrianu ditemui di tempat usahanya di Jalan Raya Kreteg Ciomas, Kabupaten Bogor RT 01 RW 03, Selasa (19/8/2026).

Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Dinas Lingkungan Hidup sebelumnya telah mengimbau masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah, termasuk sampah elektronik. Pengelolaan yang baik terhadap e-waste juga sejalan dengan program ekonomi sirkular dan pengurangan beban Tempat Pembuangan Akhir atau TPA.

Masyarakat yang ingin menjual barang-barang bekasnya bisa menghubungi WhatsApp 0895 3854 26655.

Diharapkan dengan adanya usaha serupa di berbagai wilayah, penanganan sampah elektronik di Kabupaten Bogor dapat berjalan lebih optimal dan memberikan manfaat ganda, baik bagi lingkungan maupun perekonomian masyarakat.

(Wawan Hermawanto)

‎Semarak HUT RI ke-81 di Kecamatan Cigudeg Momentum Jaga Semangat Persatuan

0

‎Cigudeg | Jurnal Bogor
Serangkaian kegiatan positif  dalam menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan ke- 81 2026, Pemerintah Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor seperti turnamen Catur, senam massal, gerak jalan hingga upacara pengibaran bendera merah putih dengan keterlibatan pasukan pengibar bendera yang merupakan  hasil selektif tingkat pelajar SMA/SMK lingkup Kecamatan Cigudeg.‎

Camat Cigudeg Ade Zul Fahmi

‎Gerak jalan dan senam massal menjadi ajang kebugaran jasmani sekaligus  mempererat hubungan antarwarga  dan unsur ASN di lingkungan Kecamatan Cigudeg.‎

‎‎Camat Cigudeg Ade Zul Fahmi mengatakan, memperingati kemerdekaan ini tidak semata-mata seremoni dengan semaraknya bermacam kegiatan. Dari itu, sejarah kemerdekaan 17 Agustus 1945 jadikan momentum sebagai pengingat, utamanya  semangat  persatuan  merupakan wujud tonggak perjuangan dalam  pembangunan bangsa Indonesia.‎‎

‎Untuk itu, mengisi  kemerdekaan tentu harus dimaknai dengan khidmat serta hal-hal positif dalam memberikan karya terbaik bagi Indonesia.‎

‎”‎Melalui kegiatan positif di HUT Kemerdekaan RI sebagai bentuk rasa syukur atas perjuangan para pahlawan,” ujar Camat Cigudeg Ade Zul Fahmi, Rabu (19/8/2026).‎

‎Perjalanan panjang sejarah bangsa ini, lanjut Ade Zul Fahmi, harus menghargai jasa pahlawan,  setiap anak bangsa harus mensyukurinya dalam memberikan sebuah karya melalui kegiatan-kegiatan positif.‎

‎‎Bentuk rasa syukur dengan mengisi kemerdekaan melalui hal-hal positif dan memberikan kontribusi terbaik bagi Indonesia,” pungkasnya.

(Arip Ekon)

ECOTANI Hadir Sebagai Inovasi Pengelolaan Sampah Organik: Mahasiswa Kimia Universitas Pakuan Dorong Pertanian Berkelanjutan Melalui Teknologi ECOTRIX

0

Bogor | Jurnal Bogor
Himpunan Mahasiswa Kimia (HIMASKA) Universitas Pakuan melaksanakan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Tahun 2026 di Desa Kota Batu, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor melalui program ECOTANI (Eco Organic Farming Initiative) dan ECOTRIX. Program ini menjadi upaya pemberdayaan masyarakat dalam mewujudkan pengelolaan sampah organik yang berkelanjutan sekaligus mendukung pertanian ramah lingkungan.

Program ECOTANI didukung inovasi teknologi ECOTRIX, yaitu mesin pencacah sampah organik yang dirancang untuk mempermudah dan mempercepat proses pengolahan sampah menjadi Pupuk Organik Padat atau kompos. Pelaksanaan program ini mendapat dukungan dari berbagai elemen masyarakat, di antaranya Ketua RW 15, Ketua RT 03, perwakilan Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN), serta Koordinator Penyuluh Pertanian. Melalui program ini, masyarakat didorong untuk mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus memperoleh keterampilan dalam mengolah sampah organik menjadi produk yang bermanfaat bagi sektor pertanian.

Permasalahan sampah organik masih menjadi tantangan di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Desa Kota Batu. Sebagian sampah organik rumah tangga dan limbah pertanian masih dibuang tanpa pengolahan yang tepat sehingga belum memberikan manfaat secara optimal. Di sisi lain, sebagian masyarakat masih bergantung pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal dan penggunaannya secara terus-menerus dapat berdampak pada kualitas tanah serta meningkatkan biaya produksi pertanian. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya solusi yang mampu mengatasi permasalahan lingkungan dan pertanian secara bersamaan.

Melihat kondisi tersebut, Tim PPK Ormawa HIMASKA menghadirkan ECOTANI sebagai solusi inovatif dengan mengolah sampah organik menjadi Pupuk Organik Padat atau kompos yang akan dipasarkan dengan brand EcoGrow. Untuk mendukung proses produksi, tim juga mengembangkan ECOTRIX sebagai alat pencacah sampah organik. Alat ini berfungsi mempercepat dan menyeragamkan proses pencacahan sebelum sampah difermentasi menjadi kompos.

Proses fermentasi menggunakan dua perbandingan larutan, larutan pertama yaitu menggunakan EM4, molase dan air. Sedangkan larutan kedua menggunakan larutan M21, molase dan air. Dengan bantuan ECOTRIX, sampah organik dicacah menjadi ukuran yang lebih kecil dan homogen sehingga proses fermentasi menggunakan larutan EM4 dan molase dapat berlangsung lebih efisien. Hasil pengolahan tersebut diharapkan menghasilkan pupuk organik padat yang berkualitas dan dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pertanian masyarakat.

Selain memberikan manfaat bagi lingkungan dan sektor pertanian, ECOTANI juga dirancang memiliki nilai ekonomis. Produk EcoGrow berpotensi dikembangkan sebagai peluang usaha bagi masyarakat, khususnya kelompok tani dan warga setempat. Dalam kegiatan sosialisasi program tersebut yang telah dilaksanakan pada hari Jumat 24 Juli 2026, masyarakat diperkenalkan dengan tujuan dan manfaat program, cara kerja ECOTRIX, tahapan pembuatan pupuk organik padat, hingga peluang pengembangan usaha berbasis produk EcoGrow.

Ketua Program ECOTANI & ECOTRIX, Aldiel Fadlillah, mengatakan, “Melalui ECOTANI, kami ingin menunjukkan bahwa sampah organik dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat untuk pertanian dan bernilai ekonomi. Dengan ECOTRIX, proses pengomposan menjadi lebih mudah, cepat, dan efisien, sekaligus membuka peluang usaha berkelanjutan berbasis produk EcoGrow.

Program ini juga menekankan pentingnya perubahan pola pikir masyarakat dalam memandang sampah organik. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat melalui penerapan teknologi tepat guna seperti ECOTRIX. Masyarakat diharapkan mampu menerapkan pengolahan sampah organik secara mandiri dan berkelanjutan, sehingga tercipta lingkungan yang lebih bersih sekaligus memberikan nilai tambah bagi sektor pertanian dan perekonomian desa.

Program ECOTANI & ECOTRIX menjadi salah satu bentuk komitmen HIMASKA Universitas Pakuan dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, mitra, dan masyarakat, program ini diharapkan dapat memberikan manfaat berkelanjutan, menjadikan sampah sebagai sumber daya bernilai ekonomis, serta mendukung terwujudnya Desa Kota Batu yang mandiri, produktif, dan peduli terhadap kelestarian lingkungan.

**

Satpol PP Tertibkan 86 Lapak PKL Cifor

0

Bogor | Jurnal Bogor

Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bogor menertibkan puluhan pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di sepanjang Jalan Raya Cifor, Kelurahan Bubulak, Kecamatan Bogor Barat, Rabu (19/8/2026).

Penertiban dilakukan sebagai upaya penegakan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1 Tahun 2021 tentang Ketertiban Umum.

Kepala Bidang Pengendalian dan Operasional (Dalops) Satpol PP Kota Bogor, Andry Sinar, mengatakan, terdapat sekitar 86 lapak PKL yang menjadi sasaran penertiban.

“Dari total 86 lapak, sekitar 60 persen dibongkar secara mandiri oleh para pedagang. Sementara 40 persen lainnya yang sudah dalam kondisi kosong dilakukan pembongkaran oleh personel gabungan,” ujar Andry.

Ia menjelaskan, proses penertiban berlangsung dengan melibatkan sejumlah unsur dari perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kota Bogor.

Setelah pembongkaran selesai dilakukan, sisa material bangunan langsung diangkut menggunakan kendaraan operasional milik Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperumkim) serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor.

Menurut Andry, penertiban tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam menjaga ketertiban, kenyamanan, dan fungsi ruang publik agar dapat dimanfaatkan sesuai dengan peruntukannya.

Satpol PP Kota Bogor juga mengimbau masyarakat, khususnya para pedagang, untuk mematuhi aturan yang berlaku dan tidak menggunakan fasilitas umum sebagai tempat berjualan.

“Pemerintah Kota Bogor akan terus melakukan pengawasan dan penegakan aturan guna menciptakan ketertiban umum di seluruh wilayah Kota Bogor,” tutupnya.

** Fredy Kristianto

Pasien dan Keluarga oleh RSUD R.Moh.Noh Nur Diberikan Sosialisasi Pencegahan Tuberkolosis Resistan Obat

0

Leuwiliang | Jurnal Bogor
Sebagai bagian dari komitmen berkelanjutan dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan preventif, RSUD R. Moh. Noh Nur Leuwiliang kembali menggelar kegiatan sosialisasi kesehatan mengenai pencegahan Tuberkulosis Resistan Obat (TB RO). Kegiatan edukasi ini dilaksanakan di Ruang Rawat Inap Bougenville 02, Rabu (19/8/2026).

Kegiatan sosialisasi ini menyasar langsung para pasien serta keluarga yang mendampingi di ruang rawat inap. Melalui pendekatan komunikasi yang interaktif, tenaga kesehatan rumah sakit menyampaikan pentingnya pemahaman mendalam mengenai bahaya TB RO serta cara efektif dalam pencegahannya.

“Kegiatan ini menjadi salah satu upaya edukasi esensial untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pasien serta keluarga mengenai pentingnya pencegahan TB RO, kepatuhan terhadap pengobatan, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam kehidupan sehari-hari.”

Peran Aktif Keluarga dalam Memutus Rantai Penularan

Penanganan Tuberkulosis Resistan Obat memerlukan perhatian khusus dan kedisiplinan tinggi, baik dari sisi medis maupun dukungan lingkungan sosial terdekat pasien. Dalam pemaparannya, tim penyuluh menekankan bahwa keberhasilan terapi pengobatan TB RO sangat bergantung pada kepatuhan minum obat secara tuntas tanpa terputus.

Poin Penting Edukasi TB RO: Melalui edukasi kesehatan yang diberikan, diharapkan pasien dan keluarga dapat lebih memahami langkah-langkah pencegahan TB RO serta turut berperan aktif dalam memutus rantai penularan tuberkulosis di tengah masyarakat.

Keluarga pasien menyambut baik kegiatan sosialisasi ini karena memberikan wawasan baru dan menghilangkan stigma seputar penanganan TB RO, sekaligus memperkuat mental pasien untuk menjalani proses penyembuhan hingga tuntas.

Komitmen Rumah Sakit untuk Layanan Berkualitas

Manajemen RSUD R. Moh. Noh Nur Leuwiliang menegaskan bahwa edukasi kesehatan langsung seperti ini akan terus rutin dilaksanakan di berbagai unit rawat inap. Sinergi antara tenaga medis, pasien, dan keluarga diharapkan mampu menciptakan lingkungan rumah sakit yang suportif dan responsif terhadap kesehatan masyarakat Kabupaten Bogor.

(yev/cc)

Asonik: Mengalirkan Air Sama dengan Mengalirkan Rezeki

0

Nanggung l Jurnal Bogor
‎‎Asonik (29) warga Desa Kalongliud, Nanggung, Kabupaten Bogor  sebagai pengurus bendung Cibongas sejak 2019 memiliki pandangan tersendiri perihal kiprahnya mengurus bendung Cibongas. Mengalirkan air sama dengan mengalirkan rezeki.

‎Bapak 1 anak ini bersama para petani lainnya menceritakan menjadi pengurus dilakukan turun temurun dari sang ayah, yakni almarhum Barnas yang meninggal dunia pada 2018 lalu.‎

‎”Kala itu, semasa ayah masih ada dan pernah berpesan mengalirkan air itu sama dengan mengalirkan rezeki,” kata Asoni seraya menirukan ucapan alm Barnas kepada Jurnal Bogor, Senin (17/8/2026).‎

‎Kini, pengurus bendungan menghadapi kendala seperti laju air menuju menuju lahan persawahan milik warga petani tak berjalan normal, atau menyusutnya saluran air akibat bendungan itu jebol.

Namun karena memang sudah melekat dan bagian dari perjalanannya ya  mau tidak mau harus turun langsung berjibaku  melakukan upaya perbaikan dengan menggelar aksi gotong-royong.

‎‎Semisal, ketika saluran air keadaan mengering  akibat adanya kerusakan pada bagian bangunan bendungan itu, kalau memang bisa diatasi dengan bergotong royong sesuai dengan kemampuan mereka lakukan.‎

‎”Sesuai kemampuan kami lakukan, namun tak lepas berkoordinasi dengan pihak UPT Pengairan Jasinga maupun Pemerintah Desa setempat,” jelasnya.‎

‎Panggilan sebagai pengurus bendungan baginya menyenangkan, meski materi tidak didapat namun keberkahan berharap hanya kepada Allah semoga dimudahkan segala urusan.

(Arip Ekon)

Hiasan Dongdang, Pordes Hingga Wayang  Golek Semarakkan HUT RI di Sadengkolot

0

Leuwisadeng l Jurnal Bogor
‎‎Puluhan dongdang dengan berbagai bentuk dekorasi kreatif masyarakat bernuansa Merah Putih menghiasi jalan di Desa Sadengkolot, Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor, Selasa (18/8/2/2026).‎

‎Pesta rakyat dalam menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan ke-81 yang digelar Pemerintah Desa Sadengkolot beragam kreasi masyarakat ditampilkan, baik dekorasi dongdang, kesenian jaipong hingga kesenian wayang golek yang dikemas bernuansa momen kemerdekaan.‎

‎”Peringatan HUT ke-81 RI dirancang tidak hanya sebagai agenda seremonial, tetapi juga menjadi momentum untuk menumbuhkan semangat kebersamaan sekaligus menghidupkan kembali tradisi kebudayaan lokal,” kata Kepala Desa Sadengkolot Rahmat kepada Jurnal Bogor.‎‎

‎Masing -masing di 10 RW  ambil bagian dengan membawa hasil kreasi dongdang lengkap dengan dekorasi Merah Putih.

” Hal ini menunjukan bahwa animo masyarakat begitu antusias dalam menyemarakkan HUT kemerdekaan,” kata dia.‎

‎‎Terlihat hadir para  mantan Kades Sadengkolot,  tokoh agama dan masyarakat berikut jajaran dari Kecamatan Leuwisadeng juga hadir.‎

‎”Semangat kebersamaan itu harus dibangun,” kata dia lagi.‎

‎Kedepan kegiatan tersebut akan menjadi agenda rutin tahunan dengan menampilkan sesuai kreasi seni masyarakat.‎

‎Diakuinya d itengah perkembangan zaman ini kegiatan tersebut guna menghidupkan  adat budaya dengan akselerasi seperti Dayeuh sesuai instruksi Gubernur Jawa Barat.‎

‎Akselerasi dalam menghidupkan kembali kebudayaan menjadikan keseimbangan di tengah modernisasi ini,” timpal Sekretaris Desa Sadengkolot Sudiman.‎

‎”Kita peduli dengan HUT Kemerdekaan tentunya menghargai jasa para pahlawan. ‎Jangan sampai generasi mendatang tidak mengerti dengan peninggalan sejarah yang menjadi warisan bangsa Indonesia,” pungkasnya.‎

 (Arip Ekon)

Pengelola Pamsimas: Sumber Air dari Berantas Tidak Maksimal

0

Nanggung l Jurnal Bogor
‎‎Pengelola Pamsimas Ahyani membantah sumber air Berantas yang dialirkan ke setiap warga di Desa Bantarkaret, Nanggung, Kabupaten Bogor dalam kondisi normal. Pada musim kemarau ini kata dia, kondisi aliran air kecil.‎

‎”Sumber air dari sananya memang kecil mau dialirkan bagaimana. Pagi dialirkan siang ditutup, terus  jam lima  baru dialirkan lagi,” kata dia saat dihubungi Jurnal Bogor, Selasa (18/8/2026).‎

‎Semua juga tahu di seluruh Indonesia lagi musim kemarau seperti di Bogor ini dilanda  kekeringan. “Silahkan cek aja aliran air dari sumber Berantas sekarang ini lagi gak maksimal,” jelasnya.‎

‎Adapun sumber air Berantas dialirkan keluar desa Bantarkaret, diakuinya, memang  ada cuma hanya  beberapa rumah saja.‎‎

‎Hanya lima rumah di Kampung Budin, Desa Cisarua  dan kondisinya sama aliran airnya tidak maksimal.‎

‎Sebelumnya diberitakan, Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat (Kasi Kesra) Desa Bantarkaret Makmur membenarkan, progam Sanitasi Pamsimas yang berada di wilayah desanya dikeluhkan warga yang menjadi konsumen Pamsimas karena debit air yang mulai mengecil. Tak sedikit warga yang datang ke desa mengeluhkan saluran air dari Pamsimas itu.

‎Meski pengguna air Pamsimas setiap bulannya bayar, namun debit  air yang disalurkan ke masing- masing rumahnya itu tetap saja kecil.‎

‎“Kondisi ini karena masyarakat merasa kesulitan karena krisis air bersih. Buat mandi juga susah, karena masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih,” kata Makmur kepada Jurnal Bogor, Senin (17/8/2026).‎

‎Makmur atau biasa dipanggil Chemeonk berpendapat, seharusnya masyarakat tidak lagi kesulitan untuk mendapatkan pasokan air bersih, sebab, pengelolaan Pamsimas yang sumber airnya dari perbukitan Berantas itu keadaannya masih normal dan masih mencukupi untuk dialirkan.‎

‎”Masih mencukupi, asal penyaluran air itu tidak keluar dari Desa Bantarkaret. Difokuskan, karena warga Desa Bantarkaret masih banyak yang membutuhkan pasokan sumber air bersih,” paparnya.‎

‎Masyarakat setiap bulan kena iuran dan harus membayar, dia berharap pengelola Pamsimas untuk mengevaluasi dan melakukan perbaikan agar saluran air yang diterima masyarakat berjalan maksimal.‎

‎Sementara, Dede Piter yang merupakan mantan Sekretaris Desa Bantarkaret dimana  pembangunan  Pamsimas 2020 lalu itu mengaku, tidak begitu mengetahui perihal program sanitasi air bersih yang kini banyak dikeluhkan masyarakat.‎

‎”Waktu itu  tahu, cuman hanya sebatas  perencanaan awal, setelah itu sampai Pamsimas itu dibangun  kami sudah tidak mengikuti lagi karena  sudah risen dan tidak bekerja di desa lagi,” tandasnya.‎

‎Adapun masyarakat mengeluhkan  saluran air Pamsimas mengecil, menurutnya, pengelola Pamsimas harus memperbaikinya.‎

‎”Jangan jadi alasan dengan kemarau panjang ini, sebabnya debit air dari sumber Berantas itu keadaanya masih normal dan masih cukup untuk dialirkan. Buktinya saluran air yang dimanfaatkan untuk kolam ikan Kawaci itu jelas sumbernya dari Berantas.‎

Saluran air untuk kolam ikan termasuk stem mobil, itu  masyarakat menggunakan air sisa dari sumber Berantas sepanjang 3 kiloan,” pungkasnya.‎

‎(Arip Ekon)

Ribuan Warga Tumpah Ruah di Jamuan Rakyat Istana Bogor

0

Dari halaman Istana Kepresidenan Bogor, Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, bersama Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, dan ribuan masyarakat mengikuti Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi dan penaikan bendera pada HUT ke-81 Republik Indonesia yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Halaman Istana Merdeka, pukul 10.00 WIB, Senin (17/8/2026).

Tanpa sekat pembatas, para pejabat dan masyarakat berbaur dalam satu barisan mengikuti upacara dengan khidmat. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan jamuan rakyat di Istana Kepresidenan Bogor.

Sebelum jamuan rakyat dibuka, ribuan masyarakat Kota Bogor terlebih dahulu melaksanakan doa bersama untuk masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Sumatera Utara atas peristiwa bencana gempa bumi yang dipimpin oleh Habib Hasan.

Atas terselenggaranya jamuan rakyat, masyarakat bersama Dedie Rachim, Jenal Mutaqin, dan Forkopimda menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto yang telah menggelar kegiatan tersebut.

“Mari kita pekikkan salam kebangsaan, Merdeka, Merdeka, Merdeka! Dari Istana Bogor kami mengucapkan terima kasih kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto,” ucap Dedie Rachim yang diikuti ribuan masyarakat.

Di dalam Istana Kepresidenan Bogor, terlihat tawa riang anak-anak yang bermain di playground yang disediakan. Selain itu, masyarakat juga menikmati berbagai jamuan kuliner.

Di depan gedung utama Istana Kepresidenan Bogor, masyarakat mengikuti berbagai lomba. Sementara itu, di halaman samping, masyarakat menyaksikan berbagai hiburan dan pembagian doorprize. Ada juga masyarakat yang berkeliling hingga bersantai di beberapa area.

“Bogor merasa sangat bersyukur atas jamuan rakyat dari Presiden Prabowo Subianto, sehingga Kepala Istana Kepresidenan Bogor bekerja sama dengan Pemkot Bogor dan Forkopimda mengundang perwakilan dari 68 kelurahan di Kota Bogor untuk ikut dalam jamuan rakyat. Kita juga melaksanakan doa bersama atas peristiwa bencana gempa,” ujarnya.

Kehadiran ribuan masyarakat Bogor dalam mengikuti jamuan rakyat ini menjadi momen langka yang dirindukan masyarakat untuk dapat masuk dan melihat langsung suasana di dalam Istana Kepresidenan Bogor.

“Mudah-mudahan ini menjadi sebuah tradisi di mana antara masyarakat dan pemerintah itu tidak ada jarak. Sehingga masyarakat bukan hanya melihat dari sisi luar pagar saja, tapi bisa melihat langsung sebuah aset yang dimiliki bangsa kita yang sangat indah berada di tengah Kota Bogor,” kata Dedie.

Dengan demikian, jamuan rakyat ini diharapkan dapat diikuti seluruh masyarakat secara bergantian setiap tahun.

Pada jamuan rakyat ini, masyarakat yang hadir berasal dari desil satu atau masyarakat prasejahtera yang berasal dari 68 kelurahan. Usai jamuan rakyat, masyarakat membawa pulang bingkisan yang diberikan.

Senyum lebar terpancar dari raut wajah Sumiati, seorang penyandang disabilitas netra, saat menginjakkan kaki untuk pertama kali di dalam Istana Kepresidenan Bogor.

Dituntun oleh anaknya dan rekannya, Sumiati tak menyangka bisa masuk ke area Istana Kepresidenan Bogor.

Sebab, menurutnya, selama ini ia hanya bisa berada di luar pagar Istana Kepresidenan Bogor saat sedang berjalan di Sistem Satu Arah (SSA). Namun, pada Jamuan Rakyat Istana Kepresidenan dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia Tahun 2026, ia bisa datang atas undangan.

“Senang sekali. Kan saya disabilitas, karena jangankan yang disabilitas, yang umum saja tidak bisa masuk begitu saja. Tapi dengan undangan ini Alhamdulillah saya masuk. Bisa bawa anak juga dan pas di lokasi Alhamdulillah ketemu teman juga dari wilayah lain,” ujar Sumiati yang menjadi bagian Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Kota Bogor.

Warga Kecamatan Bogor Utara ini pun menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto, jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor, serta semua pihak yang telah mengingat dan peduli terhadap penyandang disabilitas.