27.9 C
Bogor
Thursday, June 25, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 10

Rektor UNM: Tak Ada Alasan Meragukan Indonesia Sudah Swasembada Pangan

0

Makassar | Jurnal Bogor
Rektor Universitas Negeri Makassar, Prof Farida Patittingi menegaskan bahwa tidak ada alasan untuk meragukan capaian Indonesia yang kini sudah swasembada pangan. Menurutnya, capaian yang diraih merupakan hasil kerja keras pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto serta berbagai langkah strategis yang dijalankan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

“Kami tidak meragukan swasembada pangan yang saat ini dicapai. Justru kami optimistis swasembada pangan dapat berkelanjutan. Tekad dan komitmen Menteri Pertanian selama ini sangat kuat. Berbagai program yang mengarah pada terwujudnya swasembada terus dijalankan secara konsisten,” ujar Farida, Kamis, 4 Juni 2026.

Ia menilai Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi negara yang mandiri dalam pemenuhan kebutuhan pangan. Sebagai negara agraris dengan sumber daya lahan yang luas, berbagai potensi yang dimiliki harus terus dioptimalkan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.

“Ke depan, program-program yang berjalan akan semakin baik. Indonesia adalah negara agraris yang memiliki potensi besar. Lahan-lahan yang ada harus terus dioptimalkan sehingga mampu memperkuat ketahanan pangan dan menjaga keberlanjutan swasembada,” katanya.

Rektor Farida juga memberikan apresiasi kepada Kementerian Pertanian yang dinilainya telah bekerja maksimal sebagai sektor utama dalam pembangunan pertanian nasional. Berbagai terobosan yang dilakukan dinilai berhasil mendorong peningkatan produksi dan memperkuat fondasi swasembada pangan Indonesia.

“Kami sangat mendukung program swasembada pangan dan ketahanan pangan nasional. Kementerian Pertanian sebagai leading sector patut diapresiasi karena telah menunjukkan kinerja yang luar biasa dalam merealisasikan swasembada pangan,” katanya.

Sebagai institusi pendidikan tinggi, UNM menegaskan komitmennya untuk terus mendukung berbagai program strategis pemerintah di sektor pertanian. Dukungan tersebut diwujudkan melalui keterlibatan dalam penelitian, pengembangan inovasi pertanian, pendampingan teknologi, hingga kolaborasi dalam program-program peningkatan produksi pangan.

“Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mendukung pembangunan pertanian. Karena itu, UNM siap terus berkolaborasi melalui riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat guna memperkuat ketahanan pangan dan mendukung terwujudnya swasembada pangan yang berkelanjutan,” tutupnya.

(Restu/BBPMKP)

Alhamdulillah, Rumah Zakat Kantor Layanan Bogor Diganjar Dua Penghargaan

0

Bogor | Jurnal Bogor
Dalam peringatan Hari Jadi ke-544th Kota Bogor, Rumah Zakat Kantor Layanan Bogor menerima dua penghargaan dari Pemerintah Kota Bogor atas kontribusi dan kolaborasi aktif dalam Program Percepatan Penurunan Stunting serta Pengentasan Kemiskinan di wilayah Kota Bogor.

Penghargaan diberikan secara langsung oleh Walikota Bogor dalam upacara peringatan Hari Jadi Kota Bogor yang berlangsung khidmat dan dihadiri oleh berbagai tokoh masyarakat, unsur pemerintahan, lembaga sosial, tokoh agama, komunitas, serta para pemangku kepentingan lainnya.

Penghargaan pertama diberikan atas dukungan Rumah Zakat dalam program Percepatan Penurunan Stunting diberikan sebagai bentuk apresiasi atas keterlibatan aktif dalam mendukung peningkatan kesehatan dan gizi masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan dan pendampingan keluarga.

Sementara penghargaan kedua diberikan atas kontribusi nyata Rumah Zakat dalam membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui program ekonomi, pendidikan, dan sosial kemanusiaan.

“Terima kasih kepada Pemerintah Kota Bogor atas kepercayaan dan apresiasinya. Penghargaan ini menjadi penyemangat bagi Rumah Zakat untuk terus menghadirkan program-program yang berdampak.

Dan Selamat Hari Jadi Kota Bogor ke-544th, semoga Kota Bogor terus tumbuh dengan semangat kebersamaan, gotong royong, dan tekad untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat,” ujar Siswanto, Kepala Kantor Layanan Rumah Zakat Bogor.

Dengan semangat kolaborasi dan kepedulian, Rumah Zakat berkomitmen untuk terus menjadi bagian dari solusi dan menghadirkan pemberdayaan yang berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia.

(Wawan Hermawanto)

ZEBUA MOTOR Resmikan 3-in-1: Bengkel, Kafe & Kantor Hukum, Grand Opening 3-7 Juni 2026

0

Rancabungur | Jurnal Bogor
Warga Bogor khususnya seputar Rancabungur kini punya tempat baru yang beda dari biasanya. Dalam satu lokasi, ada bengkel motor, kafe, sekaligus kantor kuasa hukum. Namanya Boitanoli Telambanua & Patner dan grand opening resmi mulai 3 Juni sampai 7 Juni 2026.

Konsepnya “Satu Atap, Semua Beres”. Motor rewel bisa diservis, sambil nunggu bisa ngopi cantik di Ini ZEB Cafe, dan kalau ada urusan hukum, langsung konsultasi ke kantor kuasa hukum yang ada di area yang sama.

Dengan 3 Layanan Utama di ZEBUA Motor

1. Bengkel Motor ZEBUA GODEC.RUN
Spesialis motor matic kecil & besar. Buat grand opening, ada PAKET KONSUMEN BENGKEL: 
– Service Full: Bonus voucher 2 menu makanan + 2 menu minuman, bebas pilih. Berlaku kelipatan untuk keluarga. 
– Ganti Oli Mesin + Gardan LUPROMAX: Free voucher 1 menu makanan + 1 menu minuman, bebas pilih. Berlaku semua tipe motor & kelipatan keluarga juga.

2. Ini ZEB Cafe 
Tempat nongkrong nyaman buat nemenin motor diservis. Menunya beragam, dari kopi sampai makanan berat. Suasananya hangat, cocok buat ngobrol komunitas, meeting santai, atau sekadar recharge tenaga.

3. Kantor Kuasa Hukum
Nggak cuma urusan mesin, urusan hukum juga dilayani. Konsultasi hukum jadi lebih mudah karena lokasinya nyatu sama bengkel & kafe. Konsepnya biar masyarakat nggak ribet kalau butuh pendampingan hukum.

“Visi kami sederhana. Orang datang ke bengkel pasti nunggu. Daripada gabut, mending ngopi. Kalau ada masalah hukum, nggak perlu cari tempat lain lagi. Semua ada di sini,” kata Andreas, pengelola saat grand opening.

“Promo grand opening berlaku 3-7 Juni 2026. Setelah itu balik harga normal,” ungkap Andreas saat di temui di lokasi Acara Grand Opening di Jalan Atang Senjaya No.2,Pasirgaok, Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor.

Dengan tagline “Motor Beres, Perut Kenyang, Urusan Hukum Aman”. Komplit banget buat kebutuhan masyarakat modern,” tandas Andreas.

(Wawan Hermawanto)

HJB ke-544, Momentum Evaluasi dan Transformasi Kabupaten Bogor

0

Nanggung | Jurnal Bogor – Kabupaten Bogor memasuki usia ke-544 tahun. Tanggal ini merujuk pada peristiwa bersejarah penobatan Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi) pada 3 Juni 1482 di Kerajaan Pajajaran, yang menjadi fondasi identitas dan semangat perjuangan masyarakat Bogor.

Pemerhati kebijakan publik, Fikri Muhamad, menilai tema Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 tahun 2026, yakni “Bergerak Serempak, Nyata Berdampak”, sangat relevan dengan kondisi Kabupaten Bogor saat ini. Namun menurutnya, tema tersebut tidak boleh berhenti sebagai slogan semata, melainkan harus menjadi panggilan aksi kolektif bagi pemerintah daerah, Aparatur Sipil Negara (ASN), dunia usaha, akademisi, dan seluruh elemen masyarakat untuk menghadirkan pembangunan yang terukur dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Fikri mengapresiasi dipusatkannya rangkaian kegiatan HJB tahun ini di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, kawasan kaki Gunung Halimun Salak. Menurutnya, langkah tersebut merupakan simbol komitmen pemerataan pembangunan ke wilayah selatan dan barat Kabupaten Bogor yang selama ini relatif tertinggal.

“Namun di balik kemeriahan perayaan dan berbagai kegiatan yang digelar sepanjang Mei hingga Juni 2026, kita harus berani melakukan refleksi mendalam terhadap berbagai persoalan yang masih dihadapi Kabupaten Bogor,” ujarnya melalui rilis yang diterima Jurnal Bogor, Selasa (2/6/2026).

Sebagai wilayah penyangga Ibu Kota Jakarta dengan luas wilayah yang besar, jumlah penduduk mencapai jutaan jiwa, serta sumber daya alam yang melimpah, Kabupaten Bogor masih menghadapi berbagai tantangan struktural yang berpotensi menghambat percepatan pembangunan.

Menurut Fikri, Kabupaten Bogor memiliki potensi besar di sektor pertanian, peternakan, kehutanan, hingga agrowisata. Produksi padi mencapai ratusan ribu ton per tahun, ditunjang lahan pertanian yang luas serta kedekatan dengan pasar Jakarta. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan capaian kesejahteraan masyarakat.

“Lahan sawah di Kabupaten Bogor mencapai lebih dari 38 ribu hektare dengan produksi padi yang luar biasa. Namun petani kecil masih menghadapi kendala akses bibit unggul, pupuk bersubsidi, teknologi pascapanen, hingga ancaman alih fungsi lahan yang terus terjadi,” katanya.

Di sektor peternakan, lanjut Fikri, peternak kecil masih kesulitan memperoleh pakan berkualitas dengan harga terjangkau, vaksin ternak, serta akses pasar yang memadai. Keterbatasan lahan tanaman pakan ternak dan belum optimalnya pemanfaatan limbah pertanian juga menjadi kendala.

Selain itu, perubahan iklim, serangan hama, dan fluktuasi harga komoditas semakin memperberat beban petani dan peternak. Akibatnya, tidak sedikit yang beralih profesi atau menjual lahan mereka.

Fikri juga menyoroti pelayanan publik yang dinilai belum merata. Meski digitalisasi mulai diterapkan di sejumlah dinas, masyarakat di wilayah pinggiran seperti Nanggung, Sukajaya, Cigudeg, dan Jasinga masih menghadapi berbagai kendala.

“Proses administrasi kependudukan, perizinan, hingga pelayanan kesehatan sering terkendala infrastruktur teknologi yang belum merata, jaringan internet yang lemah, serta budaya kerja yang belum sepenuhnya berorientasi pada pelayanan publik,” paparnya.

Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat di wilayah pelosok harus menempuh perjalanan jauh dan mengeluarkan biaya tambahan hanya untuk mengurus dokumen dasar.

Persoalan lain yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah infrastruktur. Meski pemerintah daerah telah mengalokasikan anggaran besar untuk pembangunan jalan, sejumlah ruas jalan penghubung kawasan pertanian dan peternakan masih rusak, terutama saat musim hujan.

Akses pasar, jaringan irigasi, air bersih, dan listrik di beberapa desa terpencil juga masih memerlukan perhatian serius. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap mobilitas ekonomi masyarakat serta akses pendidikan dan kesehatan.

Selain itu, kualitas dan kapasitas ASN juga dinilai perlu terus ditingkatkan. Fikri menilai masih terdapat kesenjangan kompetensi aparatur mulai dari tingkat desa hingga kabupaten.

“Di tingkat bawah masih ditemukan aparatur yang kurang responsif terhadap keluhan masyarakat atau belum memahami regulasi terkini. Sementara di tingkat atas, pengambilan keputusan terkadang belum sepenuhnya berbasis data dan partisipasi publik,” jelasnya.

Untuk mewujudkan tema “Bergerak Serempak, Nyata Berdampak”, Fikri menawarkan sejumlah langkah strategis. Di antaranya percepatan transformasi pelayanan publik berbasis digital hingga ke pelosok desa, penguatan kapasitas SDM aparatur melalui sistem merit dan pelatihan berkelanjutan, serta pembangunan infrastruktur yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Ia juga mendorong revitalisasi sektor pertanian dan peternakan melalui perlindungan lahan produktif, pengembangan klaster agribisnis terintegrasi, penerapan teknologi modern, penguatan koperasi petani, serta perluasan akses pembiayaan dan asuransi pertanian.

Menurutnya, Kabupaten Bogor harus mulai bertransformasi dari sekadar daerah penyangga Jakarta menjadi kabupaten yang mandiri, sejahtera, berdaya saing, dan berkelanjutan.

“Bergerak Serempak berarti tidak ada satu pun wilayah atau kelompok masyarakat yang ditinggalkan. Sementara Nyata Berdampak berarti setiap program harus memiliki indikator keberhasilan yang jelas, diaudit secara transparan, dan dievaluasi dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

Ia berharap peringatan Hari Jadi Bogor ke-544 menjadi momentum evaluasi menyeluruh yang melibatkan pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dunia usaha, dan masyarakat secara luas.

“Mari jadikan Hari Jadi ke-544 bukan hanya seremoni budaya dan perayaan semata, tetapi titik balik menuju Bogor yang lebih maju, sejahtera, berkeadilan sosial, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang,” pungkasnya. Arip ekon

Persiapan HJB ke-544 di Malasari Hampir Rampung

0

Nanggung | Jurnal Bogor – Persiapan menyambut peringatan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, hampir mencapai 100 persen. Berbagai ornamen dan penataan lingkungan telah selesai dilakukan, mulai dari pemasangan umbul-umbul dari gerbang masuk hingga kawasan eks Pendopo Bupati.

Tokoh masyarakat setempat, H. Muhamad Yusep Khadafi, mengatakan partisipasi masyarakat bersama pemerintah desa dalam menata lingkungan terus dilakukan selama 15 hari terakhir.

“Ini suatu kebanggaan. HJB Bogor baru pertama kali digelar di Malasari,” ujarnya, Selasa (2/6/2026).

Menurut pria yang akrab disapa H. Usep itu, penataan kawasan tidak hanya menonjolkan kemeriahan perayaan, tetapi juga tetap mempertahankan nilai sejarah, budaya, dan kearifan lokal yang menjadi identitas Desa Malasari.

Ia menjelaskan, Malasari memiliki kultur masyarakat agraris yang kuat. Hal itu tercermin dari keberadaan lumbung pangan atau padi, serta tradisi budaya yang masih terus dilestarikan, seperti Seren Taun.

Di sepanjang jalan menuju eks Pendopo Bupati, terlihat pagar-pagar bambu yang dipasang rapi. Berbagai perlengkapan tradisional seperti ikatan padi, boboko, ayakan, tampah, dan hihid turut menghiasi kawasan tersebut sebagai gambaran kehidupan masyarakat Malasari pada masa lalu.

“Semua itu mencerminkan warisan budaya yang diturunkan secara turun-temurun dan hingga kini masih tetap terjaga,” katanya.

H. Usep mengaku bersyukur dan menyampaikan apresiasi kepada Bupati Bogor Rudy Susmanto dan Wakil Bupati Bogor Jaro Ade Ruhandi yang telah memilih Malasari sebagai lokasi perhelatan HJB ke-544.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pak Bupati Rudy Susmanto dan Pak Wakil Bupati Jaro Ade Ruhandi. Tanpa Malasari mungkin sejarah Kabupaten Bogor tidak akan semegah hari ini. Malasari merupakan bagian dari cikal bakal Kabupaten Bogor,” ungkapnya.

Sebagai bentuk rasa syukur, masyarakat dan Pemerintah Desa Malasari menunjukkan antusiasme tinggi dalam menyemarakkan HJB ke-544. Warga bergotong royong melakukan aksi bersih-bersih lingkungan, mempercantik kawasan desa, hingga melakukan berbagai penataan yang kerap berlangsung sampai larut malam.

“Ini semua kami lakukan sebagai bentuk kecintaan kepada Kabupaten Bogor. Kami berupaya memberikan yang terbaik untuk menyambut HJB ke-544,” pungkasnya. Arip Ekon



Komisi IV DPR RI Soroti Distorsi Informasi Swasembada Pangan, Lihat Data dan Fakta

0

Jakarta | Jurnal Bogor
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Abdul Kharis Almasyhari menyoroti munculnya berbagai narasi yang dinilai berpotensi mendistorsi upaya swasembada pangan nasional yang saat ini tengah dijalankan pemerintah bersama petani dan seluruh pemangku kepentingan sektor pertanian.

Menurutnya, perbedaan pandangan dan kritik terhadap kebijakan merupakan bagian dari demokrasi. Namun kritik tersebut seharusnya dibangun di atas data dan fakta, bukan membentuk persepsi yang melemahkan kepercayaan publik terhadap kemampuan bangsa dalam memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.

“Ketika berbagai indikator pertanian menunjukkan perbaikan, kita perlu berhati-hati terhadap upaya-upaya yang menggiring opini seolah-olah swasembada pangan mustahil dicapai. Kritik tentu penting, tetapi jangan sampai berubah menjadi narasi yang mendistorsi kerja keras petani dan seluruh stakeholder yang sedang berjuang memperkuat kemandirian pangan nasional,” kata Abdul Kharis.

Ia menegaskan bahwa swasembada pangan bukan sekadar target sektor pertanian, melainkan agenda strategis nasional yang berkaitan langsung dengan ketahanan negara, stabilitas ekonomi, dan kesejahteraan rakyat.

“Pangan bukan sekadar urusan pemenuhan target produksi. Pangan adalah soal kedaulatan. Negara yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri akan memiliki daya tahan yang lebih kuat dalam menghadapi tekanan global, gejolak ekonomi, maupun ketidakpastian geopolitik,” ujarnya.

Abdul Kharis mengatakan berbagai tantangan seperti perubahan iklim, cuaca ekstrem, hingga dinamika ekonomi dunia memang harus diantisipasi. Namun tantangan tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk meragukan kemampuan petani Indonesia dalam memperkuat produksi pangan dalam negeri.

“Setiap negara menghadapi tantangan yang sama. Yang membedakan adalah bagaimana negara tersebut merespons tantangan itu. Saya melihat pemerintah bersama petani terus bekerja meningkatkan produksi, memperbaiki irigasi, memperkuat sarana produksi, dan meningkatkan produktivitas. Karena itu kita perlu membangun optimisme yang kuat berbasis data,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa narasi yang berlebihan terkait ancaman krisis pangan maupun fenomena iklim berpotensi menimbulkan keresahan di masyarakat apabila tidak disampaikan secara proporsional.

“Kita harus menyampaikan informasi secara objektif. Jangan sampai muncul kesan pesimis sementara data menunjukkan berbagai indikator justru bergerak ke arah yang positif. Masyarakat berhak mendapatkan informasi yang utuh dan berimbang,” ujarnya.

Menurut Abdul Kharis, keberhasilan meningkatkan produksi pangan nasional juga harus dibarengi dengan penguatan tata niaga dan pengawasan distribusi agar manfaatnya benar-benar dirasakan petani dan konsumen.

Karena itu, ia mendukung langkah pemerintah dalam memperkuat pengawasan sektor pangan untuk menekan berbagai praktik yang merugikan petani.

“Negara harus hadir melindungi petani sekaligus menjaga kepentingan konsumen,” tegasnya.

Pada 2025, produksi nasional mencapai 60,34 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), meningkat signifikan dibanding sekitar 53 juta ton GKG pada 2024. Kenaikan produksi tersebut mendorong produksi beras nasional mencapai 34,69 juta ton atau surplus lebih dari 3,5 juta ton dibanding kebutuhan konsumsi nasional yang berada di kisaran 31 juta ton.

Penguatan produksi tersebut turut berdampak pada berkurangnya ketergantungan terhadap pasokan luar negeri. Sepanjang 2025 Indonesia tidak melakukan impor beras medium, sementara Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog pada Mei 2026 mencapai 5,3 juta ton.

Capaian serupa juga terlihat pada sejumlah komoditas strategis lainnya. Produksi jagung nasional mampu memenuhi kebutuhan domestik sehingga impor jagung pakan dihentikan sejak 2025. Komoditas bawang merah, cabai, daging ayam ras, telur ayam ras, dan gula konsumsi juga diproyeksikan berada dalam kondisi yang mampu menopang kebutuhan nasional dari produksi dalam negeri.

Salah satu indikatornya terlihat dari Nilai Tukar Petani (NTP) yang pada Maret 2026 mencapai 125,35, tertinggi dalam 34 tahun terakhir. Kondisi ini mencerminkan bahwa penguatan sektor pertanian tidak hanya berdampak pada ketersediaan pangan nasional, tetapi juga meningkatkan posisi ekonomi petani sebagai pelaku utama pembangunan pangan.

Menutup pernyataannya, Abdul Kharis mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjaga optimisme dan memperkuat persatuan dalam mengawal agenda swasembada pangan nasional.

“Perjalanan menuju swasembada memang tidak selalu mudah. Namun bangsa ini memiliki modal yang besar, mulai dari sumber daya alam, petani yang tangguh, dukungan teknologi, hingga komitmen pemerintah. Yang dibutuhkan saat ini adalah kerja sama dan keyakinan bahwa Indonesia mampu berdiri di atas kekuatan sendiri dalam memenuhi kebutuhan pangannya,” pungkasnya.

(Restu /BBPMKP)

Presiden Prabowo: Indonesia Sudah Swasembada Pangan, Siap Hadapi Tantangan Global

0

Jakarta | Jurnal Bogor
Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia telah mencapai swasembada pangan dan memiliki kesiapan dalam menghadapi berbagai tantangan global dibandingkan banyak negara lain. Pernyataan tersebut disampaikan saat memimpin Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 di Gedung Pancasila, Jakarta Pusat, Senin (1/6/2026).

“Dan sekarang kita sudah swasembada pangan. Di mana banyak negara menghadapi kesulitan, kita sudah lebih siap,” ujar Presiden Prabowo.

Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa dan menjadi salah satu produsen berbagai komoditas strategis yang dibutuhkan dunia. Menurutnya, kekuatan tersebut harus menjadi modal untuk menghadirkan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Kita memiliki sumber daya alam yang luar biasa. Kita sudah mengerti kekayaan kita luar biasa. Kita adalah salah satu produsen terbesar komoditas-komoditas penting yang dibutuhkan dunia modern yang dibutuhkan oleh teknologi tinggi. Kita salah satu produsen terbesar mineral-mineral penting, tembaga, timah, emas, logam tanah jarang. Kita produsen kelapa sawit, batu bara, nikel, komoditas-komoditas pertanian lainnya yang sangat penting,” kata Presiden.

Meski demikian, Presiden Prabowo mengingatkan bahwa kekayaan yang dimiliki Indonesia harus terus dioptimalkan agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat. Pembangunan ekonomi, menurut Presiden Prabowo, harus berjalan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan berpihak pada kepentingan rakyat.

“Kita harus mengakui bahwa terlalu lama kekayaan kita tidak sepenuhnya bisa dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat. Terlalu lama sebagian nilai tambah atas sumber daya kita dinikmati di luar negeri. Terlalu lama rakyat kita hanya menjadi penonton di atas kekayaan bangsanya sendiri,” ujarnya.

Presiden Prabowo juga menegaskan bahwa pembangunan ekonomi harus mampu menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat, termasuk bagi petani yang menjadi ujung tombak dalam menjaga produksi dan pasokan pangan nasional.

“Petani kita harus memperoleh pupuk yang tepat waktu dan harga yang benar,” tegas Presiden.

Lebih lanjut, Presiden Prabowo menyampaikan bahwa penguatan ketahanan pangan nasional menjadi bagian penting dari strategi transformasi bangsa yang saat ini dijalankan pemerintah. Upaya tersebut dilakukan sejalan dengan penguatan hilirisasi sumber daya alam, koperasi, dan pembangunan ekonomi desa.

“Kita sedang dan akan menjalankan terus strategi transformasi bangsa. Strategi kita sejatinya adalah transformasi menjadi haluan yang sejalan dengan Pancasila. Kita memperkuat hilirisasi sumber daya alam. Kita membangun ketahanan pangan nasional. Kita memperkuat koperasi dan ekonomi desa,” kata Presiden.

Menurut Presiden Prabowo, pembangunan harus memastikan rakyat menjadi pelaku utama dan penerima manfaat dari kemajuan ekonomi nasional. Karena itu, penguatan sektor-sektor produktif, termasuk pertanian, menjadi bagian penting dalam mewujudkan pemerataan kesejahteraan dan kemandirian bangsa.

“Tidak ada negara yang merdeka tanpa kemakmuran. Kita tidak mau jadi bangsa yang tergantung oleh bangsa lain,” tegas Presiden Prabowo.

Sejalan dengan arahan Presiden Prabowo, Kementerian Pertanian di bawah kepemimpinan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman terus memperkuat sektor pertanian sebagai fondasi ketahanan dan kedaulatan pangan nasional. Melalui peningkatan produksi, optimalisasi lahan, modernisasi pertanian, serta penguatan kesejahteraan petani, Indonesia diharapkan mampu menjaga keberlanjutan swasembada pangan dan memperkuat ketahanan pangan nasional.

(Restu/ BBPMKP)

Turnamen Futsal Antar Sekolah Meriahkan Pekan Olahraga OSIS Bina Bangsa Mandiri

0

Gunung Putri | Jurnal Bogor – Yayasan Bina Bangsa Mandiri SMP, SMA, dan SMK menggelar turnamen futsal antar sekolah tingkat SD, MI, dan SMP se-Kecamatan Gunung Putri. Kegiatan yang berlangsung pada 1 hingga 5 Juni 2026 ini menjadi bagian dari Pekan Olahraga OSIS sekaligus ajang mempererat silaturahmi antar sekolah.

Pendiri Yayasan Bina Bangsa Mandiri, H. Rumanul Hidayat, mengatakan bahwa kegiatan tersebut bertujuan menjadi wadah pengembangan bakat dan kreativitas peserta didik, sekaligus memperkenalkan lingkungan sekolah kepada masyarakat dalam rangka mendukung Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026-2027 di SMP, SMA, dan SMK Bina Bangsa Mandiri

“Kegiatan ini diinisiasi oleh OSIS dengan menampilkan berbagai program hasil karya siswa. Salah satu yang paling diminati adalah turnamen futsal antar SD, MI, dan SMP se-Gunung Putri,” ujarnya, Selasa (2/6/2026).

Menurutnya, persiapan kegiatan dilakukan cukup matang dengan membentuk kepanitiaan yang melibatkan seluruh guru dan siswa. Pihak yayasan juga bekerja sama dengan berbagai sponsor untuk mendukung pelaksanaan acara.

“Untuk menjaga netralitas pertandingan, kami melibatkan wasit profesional. Selain itu, kami juga menyediakan berbagai program gratis dan potongan biaya pendidikan bagi calon peserta didik baru,” tambahnya.

Turnamen futsal ini diikuti oleh 32 sekolah tingkat SD dan MI serta 24 sekolah tingkat SMP. Seluruh peserta berasal dari wilayah Kecamatan Gunung Putri, dengan beberapa peserta SMP berasal dari luar wilayah, termasuk Kecamatan Cileungsi.

Ketua Umum kegiatan, Saefullah, mengatakan bahwa Pekan Olahraga OSIS ini bertujuan mempererat hubungan antar sekolah sekaligus menumbuhkan semangat sportivitas di kalangan pelajar.

“Alhamdulillah kegiatan ini dibuka langsung oleh pendiri yayasan. Mudah-mudahan kegiatan ini dapat terus menjadi sarana silaturahmi dan pembinaan prestasi olahraga bagi para pelajar,” katanya.

Sementara itu, Ketua OSIS sekaligus Ketua Pelaksana Turnamen Futsal OSIS 2026, Alvi Amaguira, siswa kelas XI Bisnis Manajemen, mengaku bangga dapat terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut.

“Kegiatan ini sangat berkesan karena kami bisa belajar bekerja sama, mempererat silaturahmi, dan menjunjung tinggi sportivitas. Semoga ke depannya panitia OSIS semakin kompak dan mampu menghadirkan kegiatan yang lebih baik lagi,” ungkapnya.

Selain pertandingan futsal, rangkaian Pekan Olahraga OSIS juga akan ditutup dengan kegiatan pelepasan siswa yang dikemas secara sederhana namun penuh makna. Yudi

Kebebasan Cuma Omon-Omon”

0

Jakarta | Jurnal Bogor

Penyelenggara acara Halal Bi Halal Pengamat, yang membuat Saiful Mujani, Feri Amsari dan Islah Bahrawi dipanggil kepolisian, bertekad akan membela sampai titik darah penghabisan atas pemanggilan 3 pengamat itu, atas dasar delik aduan penghasutan.

Menurut Ahmad Wakil Kamal selaku penyenggara acara, pihaknya sebagai inisiator Halal Bihalal pada tanggal 31 Maret 2026 yang merasa mempunyai kewajiban moral untuk terus mengawal proses hukum atas dipanggilnya beberapa pengamat yang menyampaikan orasi ilmiah dalam acara tersebut oleh Polda Metro Jaya dalam kasus penghasutan.

“Sebelum dituduh makar kemudian berubah menjadi kasus penghasutan, hal mana jelas perkara ini sangat dipaksakan karena tidak ada unsur tindak pidana penghasutan,” ujarnya.

Menurut Ahmad, nampak jelas hukum sebagai alat politik untuk membungkam kelompok-kelompok yg kritis terhadap kekuasaan.

“Dengan demikian kebebasan berpendapat pada era Prabowo merupakan kebebasan yang cuma omon-omon, pelan tapi pasti kembali pada zaman kelam orde baru,” tegas pria yang akrab disapa Wakil Kamal.

Adapun Direktur Eksekutif Lingkar Madani (Lima) Indonesia, Ray Rangkuti, melontarkan kritik keras terhadap kinerja DPR RI yang dinilainya semakin kehilangan peran sebagai lembaga pengawas pemerintah.

Dalam diskusi yang diselenggarakan Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) di Jakarta Timur, Senin (1/6/2026), Ray menilai sebagian anggota parlemen kini lebih sering tampil sebagai pembela kebijakan pemerintah dibanding menjalankan fungsi pengawasan yang menjadi mandat konstitusional mereka.

Menurut Ray, kondisi tersebut mengingatkannya pada istilah populer pada era Orde Baru yang menggambarkan perilaku anggota DPR melalui singkatan “5D”, yakni datang, duduk, diam, dengar, dan duit.

Namun, kata dia, situasi saat ini bahkan telah berkembang menjadi “5D plus 1H”.

“Sekarang ada tambahan satu huruf lagi, yaitu H, humas presiden,” ujar Ray dalam forum diskusi tersebut.

Pernyataan itu disampaikan sebagai kritik terhadap fenomena yang menurutnya semakin sering terlihat di parlemen, yakni anggota DPR yang lebih aktif menjelaskan atau membela pernyataan pemerintah kepada publik daripada melakukan evaluasi terhadap substansi kebijakan yang disampaikan.

Ray mencontohkan respons sejumlah anggota DPR terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap masyarakat desa.

Menurutnya, ketika muncul perdebatan publik terkait pernyataan tersebut, DPR semestinya menjalankan fungsi pengawasan dengan meminta penjelasan pemerintah atau menggelar rapat bersama kementerian terkait.

Namun yang terjadi, kata Ray, justru sejumlah anggota DPR tampil memberikan interpretasi dan klarifikasi atas pernyataan Presiden.

Ia secara khusus menyinggung sikap Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun yang memberikan penjelasan kepada publik mengenai maksud pernyataan Presiden.

“Padahal tugas DPR adalah mengawasi dan meminta penjelasan kepada pemerintah, bukan menjadi pihak yang menjelaskan pernyataan pemerintah,” katanya.

Selain itu, Ray juga menyoroti polemik bantuan sapi kurban Presiden yang sempat menjadi perbincangan publik.

Ia menilai pernyataan Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman yang menjelaskan bahwa program bantuan hewan kurban Presiden tidak bertentangan dengan hukum maupun syariat semakin memperkuat kesan bahwa sebagian anggota DPR lebih banyak berperan sebagai pembela pemerintah.

Menurut Ray, kecenderungan tersebut berpotensi melemahkan sistem checks and balances yang menjadi salah satu fondasi utama demokrasi.

“Kalau parlemen sibuk menjadi juru bicara pemerintah, siapa yang menjalankan fungsi kontrol terhadap kekuasaan?” ujarnya. n Herry Setiawan

Kisah 34 Tahun Tak Bertemu: Silaturahmi Alumni SMPN 1 Cikeusal Serang Pecah Haru

0

Serang | Jurnal Bogor
Setelah 34 tahun berpisah sejak lulus tahun 1992, alumni SMPN 1 Cikeusal, Kabupaten Serang, akhirnya kembali berkumpul dalam acara silaturahmi yang penuh haru, Sabtu (30/05/2026).

Dulu mereka berpisah sebagai anak sekolah berseragam putih biru. Kini, mereka datang sebagai bapak, ibu, dengan cerita hidup masing-masing. Ada yang datang dari Jakarta, Bogor, Bandung, bahkan luar Jawa.

“Rasanya kayak kemarin pisah di lapangan upacara. Begitu ketemu, langsung inget masa nakal-nakalan dulu,” kata salah satu alumni yang hadir, Entis Haryadi yang juga ketua panitia reuni.

Momen paling mengharukan terjadi saat guru mereka, Pak Agus Cantrik, guru kesenian hadir di tengah acara. Meski sudah sepuh, beliau masih mengingat nama satu per satu mantan muridnya.

Acara yang awalnya hanya dimulai dari grup WhatsApp kecil kini berkembang menjadi pertemuan satu angkatan 92. Tanpa seremoni mewah, yang ada hanya cerita lama, tawa, dan pelukan panjang yang tertunda 34 tahun.

Bagi mereka, reuni ini bukan soal siapa yang paling sukses. Tapi tentang menjaga ikatan yang pernah dibangun di bangku SMPN 1 Cikeusal.

“Silaturahmi ini semoga jadi awal, bukan akhir,” harap Entis Haryadi.

(Wawan Hermawanto)