Dolar Tembus Rp14.200

0
163
Perry Warjiyo

Jakarta, Jurnal Inspirasi

Pasar keuangan global termasuk Indonesia pada Jumat (28/2), jatuh tajam dan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah menembus Rp 14.200, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk 4%. Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, memberikan penjelasan soal kondisi yang terjadi pada pasar keuangan dunia saat ini. 
Saya update bahwa pasar keuangan global memang sedang mengalami radang, karena memang investor global dari seluruh negara tidak hanya Indonesia, memang mengira dampak dari corona memang menyebar tidak hanya di Asia, tapi sampai Amerika dan Eropa. Dalam kondisi ini, investor global kecenderungannya melepas investasi portofolionya di Korea Selatan, Thailand, Malaysia, Singapura, dan dari Indonesia. Untuk Indonesia memang terpengaruh terhadap nilai tukar rupiah dan harga saham.
Sebagai informasi, aliran modal asing secara netto bulan ini untuk SBN (Surat Berharga Negara) terjadi outflow Rp 26,2 triliun sampai 27 Februari 2020. Kemudian di saham Rp 4,1 triliun, secara total Rp 30,8 triliun. Year to date dari Januari sempat ada inflow, dan akhir Januari karena pengaruh corona terjadi outflow. Sejak awal tahun di SBN terjadi net outflow Rp 11 triliun, saham Rp 1,6 triliun, sisanya outflow korporasi total Rp 16 triliun. Karena investor global melepas kepemilikan investasi portofolionya di banyak negara.
Dampak terhadap harga saham, turun sejak akhir Januari kurang lebih 20%, IHSG jadi di kisaran 5.650. Pengaruh terhadap nilai tukar alami pelemahan year to date (sejak awal tahun) 1,08% sampai 27 Februari 2020 diperdagangkan sekitar Rp 14.000/US$. Bandingkan dengan negara lain, pelemahan rupiah relatif rendah dibandingkan dengan mata uang lain. 
Contohnya won Korea selama year to date alami pelemahan 5,07%, bath Thailand melemah 6,42%, dolar Singapura melemah 3,76%, ringgit Malaysia melemah 2,91%. Virus corona memang sekarang berdampak pada perilaku investor global terhadap kepemilikan investasi mereka di berbagai negara. Mereka saat ini cenderung jual dulu, nanti kemudian masuk lagi setelah kondisi membaik dan terus kita pantau.Pengaruh corona ke Indonesia relatif rendah dibandingkan pengaruh di negara lain di kawasan Asia.
Ketiga, sekali lagi kami tegaskan BI akan terus berada di pasar stabilkan nilai tukar rupiah untuk obligasi pemerintah, kita melakukan triple intervensi, satu di spot menjual valas untuk kendalikan nilai tukar rupiah. Kita juga intervensi melalui DNDF, dan kita intervensi melalui pembelian SBN yang dilepas investor asing. Mereka melepas, BI beli termasuk perbankan dalam negeri juga beli SBN yang dilepas asing. Yang sudah kita beli, tahun ini secara keseluruhan kita beli sampai 27 Februari 2020 adalah Rp 100 triliun kita beli dari pasar sekunder.
Dari Rp 100 triliun itu, kurang lebih Rp 78 triliun kami beli sejak akhir Januari sejak merebaknya Corona. Memang yield SBN 10 tahun meningkat dari 6,56% sebelum corona, jadi 6,95% untuk yield SBN 10 tahun. Pelemahan ini tidak sebesar negara lain sehingga, BI terus jaga komitmen stabilkan nilai tukar rupiah dan pasar keuangan khususnya SBN. Ini yang jelaskan pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan yield SBN 10 tahun lebih rendah dari negara lain.
Keempat, kami terus melakukan koordinasi dengan pemerintah untuk memitigasi pengaruh dari corona terhadap ekonomi. Bagaimana BI bersama Kementerian Keuangan kami koordinasi secara erat stabilkan makro ekonomi kita. Koordinasi dengan Presiden, Menko Perekonomian, Menkeu, mitigasi pengaruh corona. Dari BI, kami melakukan stimulasi bagi ekonomi kita. Penurunan suku bunga, kita relaksasi kebijakan makroprudensial khususnya rasio intermediasi makro prudensial. Kami percepat elektronifikasi bantuan sosial untuk transportasi, kemudian transaksi pemerintah ke daerah.
Event yang kami organisir baik seminar nasional dan internasional yang awalnya di semester II, kami majukan di triwulan I dan II. Ada kurang lebih 10 event nasional dan internasional kami lakukan untuk mendukung kebijakan pemerintah dorong pariwisata dalam negeri.Kami akan ke Bali lakukan kampanye QRIS, dan jadwalkan dengan pemerintah berbagai event untuk dorong pariwisata.
Kami terus kordinasi apalagi yang bisa kita lakukan untuk mitigasi dampak corona. Menkeu juga lakukan stimulasi fiskal, percepat penyaluran bansos, berikan insentif pesawat untuk dorong pariwisata dan mempercepat penyerapan anggaran dari Kementerian PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) dan insentif lain. Ini upaya kami koordinasi erat dengan pemerintah untuk mitigasi dampak corona.
Dampak corona kan ‘V shape’ memang pengaruhnya terbesar di Februari dan sebagian Maret, setelah itu April dan seterusnya ada pemulihan selama 6 bulan meskipun belum secara total. Koordinasi erat pemerintah dan BI untuk jaga stabilitas ekonomi dan dorong pertumbuhan ekonomi kita.”

Asep Saepudin Sayyev |*

0

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here