29.2 C
Bogor
Monday, August 10, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 865

Diduga Depresi, Wanita Muda Tewas Ceburkan Diri di Sungai Cikeas 

0

Gunung Putri | Jurnal Bogor 

Diduga depresi wanita muda warga Desa Bojong Kulur, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan di Bendungan Koja Bekasi, Rabu (30/08/22).

Kompol Bayu Tri Nugraha Hidayat Kapolsek Gunung Putri membeberkan kronologi kejadian. Menurutnya pada Rabu, 31 Agustus 2022 sekitar jam 11.00 WIB, Bhabinmas Desa Bojong Kulur Aipda Teten Kurnia mengecek Tempat Kejadian Perkara (TKP) penemuan satu unit sepeda motor Honda.

” Waktu kejadian itu pada hari Selasa tanggal 30 Agustus 2022 sekitar jam 14.00 WIB, lokasi di Perum Vila Nusa Indah 3 Blok KJ.4.Rt 005/039 Desa BojongkuluÅ• Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, korban atas nama Wardah Hamidah (20) merupakan warga Kp.Bubulak RT 001/005 Desa Bojongkulur, berstatus sebagai pelajar atau mahasiswa,” papar Kompol Bayu.

Menurutnya awal mula kejadian pada Selasa, 30 Agustus 2022 sekitar jam 14.30 wib, saksi yang merupakan keamanan perumahan setempat melihat seorang wanita turun dari motor Honda lalu duduk di tanggul Sungai Cikeas, tanpa memperhatikan lebih lanjut lalu saksi kembali ke pos jaga.

“Sampai malam motor tersebut masih ada di lokasi, sekitar jam 22.30 wib Satpam yang jaga lapor ke Ketua RT, lalu Ketua RT setempat berkomunikasi ke Bhabinmas dan kordinasi dengan FKPM kemudian motor tersebut diamankan ke Pos Polisi Bojongkulur,” ujar mantan Kapolsek Cibinong tersebut kepada Jurnal Bogor, Rabu (31/08/22).

Kemudian, Bhabinmas memberikan informasi  ke grup WA warga, mengumumkan jika ada satu unit motor yang diamankan di Pos Pol, dan sekitar pukul 08.00 wib datang ke Pos Pol mengaku orang tua korban. Lalu Bhabinmas menyarankan kepada keluarga untuk pencarian, kepada keluarga lain, dan temannya, serta mencari di seputaran Bendungan Koja Bekasi.

“Setelah melakukan pencarian ditemukan mayat yang mengambang di Bendungan Koja Bekasi. Setelah diliat dari dekat oleh keluarga dan orang tua  bahwa mayat itu betul anaknya, dengan ciri-ciri yang dimiliki korban, keluarga korban kemudian komunikasi ke Bhabinmas untuk kordinasi dengan Polsek Jatiasih untuk cek TKP karena TKP masuk Jatiasih Bekasi,” katanya.

Setelah cek TKP, korban kemudian dibawa ke RSUD Bekasi untuk autopsi, dan setelah autopsi korban dikembalikan ke pihak Ä·eluarga untuk dimakamkan karena keluarga sudah menerima itu sebagai musibah untuk selanjutnya korban dibawa ke rumah untuk  dimakamkan. Hasil runding dengan pihak keluarga korban mau dimakamkan di TPU Bubulak Desa Bojong Kulur.

” Hasil kesimpulan korban meninggal dunia menceburkan diri ke Sungai Cikeas diduga akibat depresi karena tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan dan barang yang hilang ” bebernya.

Lebih lanjut ia menjelaskan  langkah-langkah penyelidik yang telah dilakukan Polsek Gunung Putri ialah melakukan cèk TKP dan olah TKP,  mengamankan lokasi TKP, dokumentasi (foto lokasi dan barang bukti), mencari saksi di tempat kejadian, mengamankan barang bukti ke pos pol dan melaksanakan taziah ke rumah korban.

** Nay Nur’ain

Beauty Class, Potensi Pemberdayaan yang Masih Dipandang Sebelah Mata

0

Jasinga | Jurnal Bogor 

Kegiatan perlombaan Beauty Class atau keterampilan merias wajah diikuti sebanyak 41 peserta dari berbagai wilayah Jabodetabek di Gelanggang Olahraga Rakyat (GOR) Jasinga, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor. Namun Beauty Class rupanya masih dipandang sebelah mata oleh pemerintah.

Penggagas kegiatan Euis Nurlina menjelaskan, Beauty Class memiliki potensi pemberdayaan namun sayang masih belum dapat terakomodir. Euis sendiri mengaku aktif namun belum ada wadah mengembangkan potensi tersebut.

“Ini kita gelar secara mandiri tanpa melibatkan wadah atau pun support langsung dari pemerintah terkait, padahal saya sering bicara kesana kemari tapi tidak ada satupun yang menggubris potensi ini,” ungkap None sapaan akrabnya, Rabu (31/08/2022).

None menjelaskan, tidak hanya dari segi ekonomi yang dapat dikembangkan dalam dunia terkait keterampilan merias wajah diri. Namun, lanjut None, hal tersebut bisa juga menjadi bagian dari pemberdayaan kaum hawa.

“Terkait segi ekonomi itu ada, tapi itu kisa kesampingkan dulu, karena kegiatan ini lebih mengedepankan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam pemberdayaan kaum hawa (wanita),” ujarnya.

Meski demikian, dia mengaku tidak berkecil hati, dan tetap berharap agar pemerintah maupun lembaga-lembaga terkait lebih peka dan jeli dalam melihat setiap potensi yang ada agar setiap program pemberdayaan masyarakat yang ada bisa merata. “Ya, kita sih berharap tapi mau gimana kalau belum pada peka mah,” kata dia.

Selain itu kata None, serangkaian acara tersebut tidak hanya Beauty Class, namun juga ada Fashion Show busana pengantin ala Sunda yang bertujuan mengenalkan kepada masyarakat busana-busana pengantin ala daerah.

“Tidak hanya Beauty Class, kita juga adakan Fashion Show pengantin ala Sunda yang bertujuan mengenalkan kepada masyarakat terkait kearifan lokal dari daerahnya sendiri,” tukasnya.

** Andres

BKKBN dan Anton Paparkan Upaya Penurunan Stunting

0

Gunung Putri | Jurnal Bogor 

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bekerja sama dengan mitra kerja DPR-RI menyampaikan Program Kerja Percepatan Penurunan Stunting yang dilaksanakan di wilayah kerja Khusus Anton Sukartono Suratto di Kabupaten Bogor. Kegitan dilaksanakan di Pendopo Persaudaraan Setia Hati Desa Cikeas Udik Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Rabu (31/08/22).

Koordinator Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (KBKR) BKKBN Provinsi Jawa Barat Ir.Pintauli Romangasi Siregar, MM mengatakan saat ini di Kabupaten Bogor tercatat sebagai penurunan stunting diposisi ke 4 terbesar di Jawa Barat.

” Dengan penduduk terbesar di Jawa Barat memang ada sedikit kesulitan jika harus menyampiakan per wilayah, mengingat waktu dan wilayah lain juga yang harus kami berikan pemaparan tentang persoalan bahayanya stunting terhadap anak,” papar Pintauli biasa disapa kepada Jurnal Bogor, Rabu (31/08/22).

Menurutnya, dengan mengajak ibu-ibu yang masih produktif Srikandi-srikandi dari Partai Demokrat ini dia berharap bisa tersalurkan apa yang disampaikan dalam kegiatan tersebut tentang bagaimana cara mencegah terjadinya stunting, cara mengobati stunting bagi yang memang sudah terkena, karena anak merupakan aset negara yang harus dipelihara dan dibina serta diperhatikan pertumbuhannya sejak dalam kandungan ibu.

“Minimnya pengetahuan dikalangan masyarakat yang menjadi penyebab tingginya angka stunting, oleh karena itu kami dari BKKBN bekerja sama dengan mitra kerja akan gencar dalam mensosialisasikan persoalan stunting ini, agar sampai langsung kepada masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut Pintauli menjelaskan, masyarakat taunya mencegah staunting itu harus dengan biaya yang mahal, makanan yang mahal, pola hidup yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang menengah keatas, padahal sejatinya bukan seperti itu.

“Pola asuh yang baik terhadap anak adalah langsung diasuh oleh orang tuanya sendiri, begitupun lingkungan harus baik dan bersih, dan juga pola makanan yang sehat, makanan sehat bukan berarti harus mahal, tapi lebih ke memenuhi standar kebutuhan gizi terutama untuk ibu hamil dan anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan ” paparnya.

Di lokasi yang sama disampaikan oleh Anggota DPR RI H.Anton Sukartono Suratto dimana kegitan diikuti oleh ibu-ibu dari 4 kecamatan yang ada di Kabupaten Bogor, baik dari wilayah Barat maupun wilayah Timur.

“150 peserta hadir pada hari ini, harapannya apa yang di sampaikan pada hari ini menjadi bekal dan pemahaman untuk warga masyarakat karena Kabupaten Bogor memiliki jumlah penduduk terbesar di Jawa Barat, jika angka stunting bisa berkurang berarti akan berpengaruh juga dengan Jawa Barat menjadi lebih baik,” pungkasnya.

Kegiatan sosialisasi program bernama mitra kerja tentang program percepatan penurunan angka Stunting di wilayah tersebut turut dihadiri oleh Hj.Zuana Coran Gumanti, SH.MH ketua Srikandi Demokrat Kabuapaten Bogor, H.Anton Sukartono Suratto,MSi dan Ir.Pintauli Romangasi Siregar, MM mengisi sebagai pemateri serta diselingi oleh pembagian doorprice berupa setrika, megicom, TV dan sepeda gunung.

** Nay Nur’ain

Jalan Cigudeg-Jasinga Dilakukan Peningkatan, Coran tak Bagus Dibongkar

0

Cigudeg | Jurnal Bogor 

Jalan Raya Cigudeg-Jasinga saat ini tengah dilakukan peningkatan seperti yang dilaksanakan di wilayah Kecamatan Cigudeg. Di beberapa titik lokasi terpaksa dibongkar kembali oleh pihak pelaksana lantaran betonisasi pada proyek jalan tersebut dinilai kurang maksimal.

Diungkapkan Pelaksana dari PT. Sarana Konstruksi KSO, Ade Setiawan, bahwa beton jalan yang sempat dibongkar itu lantaran ada kerusakan. “Itu ex Hutama Prima ada kerusakan kami dibongkar saja daripada nanti kata orang selesai padahal itu rusak, sebelum pekerjaan habis saya bongkar,” ungkap Ade Setiawan kepada wartawan. kemarin.

Dia mengaku tidak mengetahui berapa anggaran yang digunakan untuk pembangunan jalan nasional tersebut. Dia menyebut bahwa papan proyek pembangunan jalan di Jalan Raya Cigudeg-Jasinga itu berada di wilayah Cigelung, Kecamatan Jasinga.

“Kalau anggaran gak tau itu papan proyek di Cigelung dari semua dari Cigelung cuman belum dikerjakan sampai wilayah Tajur,” katanya.

Dia menjabarkan kemacetan yang sering terjadi itu adalah hal biasa saat pembangunan jalan berlangsung, akan tetapi pihaknya mengaku sudah berkoordinasi dengan kepolisian dan pihak kecamatan setempat.

“Kalo selesainya ya akhir tahun kemacetan mah itu wajar, kami kan mengerjakan jalan kita open traffic buka tutup. Dengan pihak kecamatan semua koordinasi dulu cuma saya tidak berkoordinasi ada khusus slot bagiannya. Kalo kami bagiannya di lapangan, kalo bagiannya non teknik itu tidak saya,” tukasnya.

** Andres

Aspirasi PAN, Upah Kerja Pemenang BSPS di Caringin Dipotong 500 Ribu

0

Caringin | Jurnal Bogor
Warga Desa Caringin, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor yang mendapatkan perbaikan rumah dari pemerintah pusat melalui program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) tahun 2022, mengeluhkan dugaan pemotongan uang tunai sebesar 500 ribu oleh pelaksana pembangunan.

Salah seorang pemenang BSPS Desa Caringin yang namanya enggan disebutkan, merasa bersyukur rumahnya tahun ini mendapatkan bantuan perbaikan dari pemerintah.

“Kami dan keluarga juga berterimakasih kepada pemerintah desa, karena sudah memilih rumah kami yang mendapatkan bantuan perbaikan,” ujarnya kepada wartawan.

Namun bapak yang memiliki tiga anak itu pun mengeluhkan uang sebesar 2,5 juta untuk upah pekerja, dipotong pelaksana pembangunan sebesar 500 ribu.

“Dalihnya uang 500 ribu itu untuk Pemerintahan Desa (Pemdes) Caringin,” akunya.

Ia juga mendapatkan bantuan dari pemerintah itu, tidak berupa uang. Tetapi, diberikan bahan bangunan atau material yang secara langsung diberikan pihak pelaksana pembangunan.

“Kami mendapatkan bahan material saja sesuai yang diajukan,” paparnya.

Terkait besaran anggaran bantuan yang harus diterimanya, warga yang sehari-hari nya bekerja sebagai buruh kasar tersebut mengatakan, bantuan itu anggarannya sekitar 20 juta.

“Saat akan dimulai pembangunan, kami diberitahukan besaran anggaran nya. Tapi anggaran itu dikelola pihak pelaksana yang berasal dari pemdes,” jelasnya.

Ia berharap, bahan material yang diberikan pelaksana pembangunan, bisa mencukupi untuk memperbaiki rumahnya agar tidak lagi kebocoran saat hujan dan masuk tempat tinggal layak huni.

“Kalau tidak cukup, saya bingung harus cari uang kemana,” imbuhnya.

Informasi didapat, program BSPS yang diterima warga Desa Caringin itu, berasal dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (Kemen PUPR). Namun, saat program tersebut dilaksanakan, penyerapan anggarannya melalui aspirasi DPR RI Partai Amanat Nasional (PAN).

“BSPS yang masuk ke desa kami, berasal dari aspirasi dewan Partai Amanat Nasional (PAN) pusat,” aku Sekretaris Desa (Sekdes) Caringin, Faisal.

Untuk rumah yang dibangun dari program BSPS, lanjut sekdes, berjumlah 20 unit yang tersebar di setiap wilayah Caringin.

“Secara pastinya saya tidak tahu, karena tidak ikut langsung dalam pelaksanaan,” tegasnya.

Ditanya soal pemotongan uang upah pekerja, Faisal akan menanyakan hal itu kepada pelaksana pembangunan yang merupakan LPM dan salah satu kepala seksi (Kasi) di desa nya.

“Nanti saya tanyakan dulu ke LPM dan pelaksana lainnya,” tukasnya.

Hingga berita diterbitkan, baik dari Kepala Desa (Kades) Caringin maupun pihak pelaksana pembangunan, belum memberikan keterangan apa pun terkait adanya pemotongan upah tenaga kerja tersebut.

** Dede Suhendar

Matel di Leuwiliang Meresahkan Warga

0

Leuwiliang | Jurnal Bogor 

Keberadaan komplotan mata elang (matel) sebutan debtcollector yang suka mengambil paksa kendaraan di jalanan rupanya meresahkan warga di wilayah Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. 

Pasalnya, komplotan matel tersebut ingin merampas paksa kendaraan roda dua milik salah satu warga, padahal ada salah tangkap.

“Tadi pas pertigaan ke Cibeber Satu dipepet, dengan caranya juga kasar mereka 5 motor mepet sampe mau jatuh saya, tepatnya pas banget di pencucian mobil pertigaan yang mau ke kantor Desa Cibeber satu,” ucap Supriadi.

Supriadi yang juga berprofesi sebagai wartawan itu menjelaskan kronologi percakapan dengan komplotan debtcollector, akan tetapi komplotan itu tidak bisa menarik kendaraanya karena dengan keadaan surat-surat lengkap. 

“Dia bilangnya ijin ke pinggir pak, saya cek kendaraan bapak soalnya ini masuk dalam motor yang kami cari. Padahal saya lagi buru- buru mau liputan ke Desa Cibeber Satu,” tuturnya.

Menurut Supriyadi, kejadian serupa juga menimpa salah satu rekannya. bahkan kata dia sampai mengeluarkan kekerasan.

“Orangnya hitam jangkung ada yang gemuk hitam dan motor mereka Honda Beat, Aerox dan Vario mereka mencegat saya hampir celaka dan kejadian serupa menimpa temen saya hampir dirampas dan menggunakan kekerasan akhirnya terjadi keributan di jalan Cemplang,” tukasnya.

** Andres

Sidak Lapangan, Achmad Fathoni Pertanyakan Surat Rekomendasi Teknis Perumahan Andalusia

0

Gunung Putri | Jurnal Bogor

Anggota DPRD Kabupaten Bogor Achmad Fathoni mengunjungi Perumahan Griya Bukit Jaya 2 bersama dengan Muspika dan UPT Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Bogor, Selasa (30/08/22). Kunjungan ini guna memastikan penyebab ambruknya TPT milik Perumahan Andalusia yang mengakibatkan robohnya dinding arkon milik Perumahan GBJ 2.

Achmad Fathoni

“Saya ingin memastikan apakah pihak Perumahan Andalusia yang lokasinya masuk ke Desa Cicadas Kecamatan Gunung Putri ini sudah memiliki rekomendasi teknis atau belum dari dinas terkait mengingat kejadian ini bukan baru sekali terjadi dan menimpa warga GBJ 2,” papar Fathoni biasa disapa kepada Jurnal Bogor.

Menurutnya, dari siteplan yang nanti akan ditunjukan UPT DPKPP bisa diketahui berapa lebar saluran yang seharusnya dibuat oleh pihak pengembang Perumahan Andalusia. “Ternyata komunikasi yang dijalin oleh Perumahan Andalusia kepada Muspika bisa dibilang tidak aktif, dan saat saya menghubungi Pak Kades dan Pak Camat pun baru mengetahui hal ini,” ujar Aleg yang berasal dari Dapil 2 tersebut.

Dia bersyukur kejadian ini terjadi sebelum pembangunan selesai, sehingga masih bisa meminta pertanggungjawaban dari pihak pengembang.

“Disini kita lihat belum ada saluran yang dibuat oleh pihak pengembang dari Andalusia, padahal seharusnya itu infrastruktur terlebih dahulu yang diutamakan sebelum membangun unit rumah yang ada, tapi ini sudah 60% pembangunan belum dibuatkan saluran, dan tadi saya tanya kepada pengawas teknik bangunan dari Perumahan Andalusia dirinya mengakui tidak logis jika sebelah sini belum ditinggikan hanya sebelah sana saja,  itu sudah ada kesadaran sebetulnya hanya belum direalisasikan saja,” papar politisi yang berangkat dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut.

Oleh karena itu, dia meminta pengembang untuk membuat infrastruktur terlebih dahulu agar persoalan banjir dari Perumahan Andalusia tidak lagi menggangu warga Perumahan GBJ karena sebelum ada pembangunan tidak pernah ada kejadian banjir.

“Sampai menunggu pertemuan berikutnya, saya meminta kepada Pihak Pengembang untuk melakuakan upaya pembuatan saluran bayangan sementara rangka dahulu agar air tidak lagi tumpah, sampai kita menunggu dari dinas terkait apakah rekomendasi teknis itu sudah dibuat atau belum,” pungkasnya.

Di tempat yang sama Kepala UPT DPKPP Riza Jason mengatakan, untuk perijinan sudah ditempuh oleh Perumahan Andalusia dalam hal ini PT.Putra Medina dengan siteplan sudah pernah terbit nomor 591.3/40000 PPS/SP/DPUPR/2022 dan ini adalah revisi siteplan pertama artinya ada siteplan sebelumnya yang sudah pernah terbit.

“Disini saya lihat siteplan terakhir jumlah bangunan ialah 351 bangunan menurut informasi dari pengawas sudah terbangun sebanyak 60%. Namun untuk rekomendasi teknis ini bukan dibawah kewenangan kami  melainkan kewenangan Dinas PUPR,” ujar Riza.

Namun untuk mempercepat kinerja sampai menunggu pertemuan selanjutnya, Perumahan Andalusia diminta untuk menghentikan sementara pekerjaan pembanguan perumahan tersebut. “Sambil menunggu pertemuannya selanjutnya dan menunjukan apa yang dimiliki oleh pihak perusahaan dan tolong upayakan untuk buat saluran terlebih dahulu karena nanti dipertemuan selanjutnya akan kami pertanyakan upaya yang sudah dilakukan oleh pihak pengembang untuk menanggulangi persoalan banjir dan jebolnya tembok ini,” tegas Riza.

Sementara Pengawas Teknik Bangunan Perumahan Andalusia Indra dalam pertemuan itu akan disampaikan kepada Dirut PT.Putra Medina. “Akan kami sampaikan, dan kita upayakan mengikuti apa yang diinstruksikan hari ini, untuk saluran ada dalam siteplan namun memang belum terealisasi, karena saluran pasti berbarengan dengan jalan, untuk saluran yang saat ini itu memiliki lebar 0,80 meter, dan rencana ketinggian 2 meter, ini memang belum dibentuk sebagai saluran,” ucapnya.

Hadir dalam sidak tersebut Anggota DPRD Kabupaten Bogor Achmad Fathoni, Indra Pengawas perwakilan Perumahan Andalusia, warga GBJ 2, Camat Gunung Putri Didin Wahidin, Amir Arsyad Kades Bojong Nangka, Riza Jason Kepala UPT DPKPP dan jajaran, Suharto Kanit Pol PP Kecamatan Gunung Putri, dan perwakilan Desa Cicadas.

** Nay Nur’ain

Desa Cileuksa Cari Cara Bangun Ketahanan Pangan

0

Sukajaya | Jurnal Bogor

Pemerintahan Desa Cileuksa, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor tengah berupaya untuk mencari cara dalam membangun ketahanan pangan sesuai arahan pemerintah pusat, bahwa anggaran dana desa 20 persen wajib dialokasikan untuk ketahanan pangan.

“Kami juga perangkat desa membuat musyawarah dengan tahapan-tahapan dari Musrembang Desa sampai dengan kegiatan Musdes Perubahan, lebih mengarah ke program ketahanan pangan sesuai yang diinstruksikan pemerintah pusat, provinsi, maupun daerah,” ungkap Kepala Desa Cileuksa, Ujang Ruhyandi kepada wartawan, kemarin.

Apih Ujang sapaan akrab Ujang Ruhyandi mengatakan, adapun implementasi dari program ketahanan pangan tersebut, seperti pembuatan kolam budidaya ikan, kemudian sektor peternakan, dan pertanian.

“Hal tersebut (ketahanan pangan) dirasa perlu lantaran, usai dihantam bencana (awal Januari 2022 Lalu) yang mengakibatkan ribuan rumah terdampak hingga harus direlokasi,” ujarnya.

Apih Ujang mengatakan, tak hanya berfokus pada relokasi rumah warga saja, melainkan harus dipikirkan juga bagaimana kehidupan masyarakat disekitar untuk kedepannya. “Disamping itu, dengan tersedia lahan seluas 20 hektar, akan dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat dalam pemulihan ekonomi masyarakat,” katanya.

Seperti halnya membuat semacam agrowisata, yang di dalamnya terdapat sirkuit motor trail, disitu juga akan menyediakan lapak bagi pelaku UMKM. Selain itu, disekelilingnya pun akan ditanami pepohonan buah yang sesuai dengan kontur tanah di wilayah tersebut untuk mencegah terjadinya erosi.

Selama menunggu pepohonan tersebut tumbuh besar, akan diselingi dengan tanaman sayur mayur untuk mengisi kekosongan agar terus menghasilkan.

“Jadi dari 20 hektar tadi ada pemanfaatan lahan yang lainnya juga, rencananya akan bikin sirkuit, ada perkebunan berbentuk agrowisata lah, kenapa demikian? Karena tadi terlepas dari tanaman, kami membuat pemberdayaan umkm, disitu kami mendorong koordinasi dengan Bumdes untuk mengembangkan potensi lokasi tersebut,” terangnya.

Lebih lanjut, Apih Ujang mengatakan, nantinya secara otomatis warga sekitar pun akan terlibat di dalamnya. “Makanya kami mulai dari lingkup kecil dulu sekarang, nanti kami bentuk kelompok, jika tidak dicontohkan dan hanya melalui sosialisasi biasa sepertinya kurang greget, tapi dengan langsung dipraktekkan warga akan lebih memahami,” katanya.

Namun, agar seluruh program akan dijalankan berhasil, Ujang mengatakan membutuhkan dorongan dari berbagai pihak. “Yang jelas kami dari pemerintah desa butuh dorongan dari semua pihak, butuh pengawalan dan respon dari para pemangku kebijakan,” tukasnya.

** Andres

Waduh, Belum Dilintasi Beton Jalan Karanggan-Gunung Putri Sudah Patah 

0

Gunung Putri | Jurnal Bogor 

Peningkatan Jalan Karanggan- Gunung Putri yang berada di Desa Karanggan Kecamatan Gunung Putri Kabupaten Bogor sudah menimbulkan patahan pada beton yang belum sama sekali dilintasi kendaraan.

Peningkatan jalan yang dikerjakan oleh CV.Fasca yang beralamat di Jl.Raya Cibeureum KM.3 No.12 RT.04 RW.03 Kecamatan Sukajaya Kabupaten Bandung dan Konsultan Pengawas dari PT.Nasuma Prima dengan memakan anggaran sebesar Rp.2,9 miliar itu menjadi sorotan warga.

Agus (45) warga sekitar mengaku sangat senang dengan adanya pembenahan jalan Karanggan ini mengingat kondisi jalan disini sangat parah, apalagi jika habis diguyur hujan, lubang yang ada di tengah jalan dan tergenang air tidak terlihat oleh pengendara.

“Saya hampir setiap hari melintasi jalan ini, saat ada pembenahan jalan bahagia, akhirnya dibenahi juga. Namun ada hal yang kurang memuaskan di beberapa titik pekerjaan ini, kenapa coran beton yang berusia belum genap sebulan ini sudah ada yang retak sampai kebawah seperti patah,” ujarnya.

Dia mengaku selalu aktif melihat pekerjaan jalan tersebut walau hanya rakyat biasa tapi ingin melihat tata cara kerjanya. “Bagian pertama juga ada yang retak sampe bawah, itu dipoles atau ditutupi oleh pekerja seperti semen putih saya gak tau namanya apa, untuk menyamarkan patahan/retakan beton tersebut,” papar Agus.

Selain itu, kata dia, pada coran beton yang sekarang meskipun belum dilintasi oleh pengendara sudah ada patahan sampai bawah juga . “Udah patah kalo menurut saya harusnya jangan cuma dipoles menghilangkan patahan itu tapi dicor lagi (grouting) supaya patahannya gak lari,” paparnya.

Dia berharap kepada penyedia jasa untuk serius dalam mengerjakan jalan tersebut karena dirinya sebagai warga sangat merindukan jalan yang halus dan mulus. “Harapannya awet gak gampang retak, karena beton kalo retak-retak juga bahaya kepada pengendara jalan,” pungkasnya.

Terpisah disampaikan Yusuf sebagai penyedia jasa CV. Fasca yang mengatakan dia belum mengetahui adanya keretakan beton pada pekerjaannya. “Saya belum bisa menanggapi karena dilapangan belum ada laporan,” ujarnya saat dikonfirmasi via WhatApp, Selasa (30/08/22).

Saat ditanya soal keretakan yang harus di-grouting, dia mengatakan, kalau ada retak rambut dan lain-lain biasa langsung komplain ke batcingplant, dan langsung ditangani. “Benar itu harus di-grouting, makanya takutnya beda persepsi retaknya sampai segimana gitu loh,” pungkasnya.

Pemerhati Pembanguan dan Tataruang Heri KH menjelaskan, keretakan pada beton ada beberapa faktor, mulai dari kekurangan air, tidak adanya lantai kerja atau dari kualitas mutu beton itu sendiri.

“Beton itu idealnya setelah digelar besoknya disiram oleh air, hal itu dilakukan tidak oleh kontraktor, pemasangan plastik harus full, dan adanya lantai kerja yang sangat berpengaruh akan kualitas beton, apalagi jika kondisi jalan awalnya banyak lobang dan rusak parah, beskos yang digelar harus ketemu dengan lantai kerja dulu baru digelar beton,” urainya.

Jika tahapan tersebut  sudah dilakukan oleh penyedia jasa, berarti kualitas mutu dari beton itu sendiri yang merupakan pabrikasi batcing plant.

“Tapi biasanya, dari penglihatan saya sangat jarang sekali penyedia jasa melakukan penyiraman air pada beton yang sudah digelar tersebut, itu pun cukup berpengaruh pada kondisi beton dan bisa menimbulkan keretakan,” jelasnya.

Namun, kata dia, untuk beton yang retak rambut atau patah itu masih bisa di-grouting, cuma kebanyakan hanya disilen oleh aspal saja padahal lambat laun itu bisa melebar. “Kalo sudah retak harus segera di-grouting karena memang itu penangananya,”  pungkasnya.

** Nay Nur’ain

Setelah Cigudeg, UPT Dukcapil Bakal Sambangi Malasari

0

Leuwisadeng l Jurnal Bogor

Unit Pelaksana Teknis (UPT)  Dinas Kependudukan Catatan Sipil (Disdukcapil)vl wilayah IV setelah menyambangi warga Desa Tegallega, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor dalam program penyelenggaraan pelayanan keliling (pepeling)  pembuatan administrasi kependudukan (Adminduk) ketingkat desa, baru baru ini, akan menyambangi salah satu desa yang jauh dari pelayanan, yakni Desa Malasari di Kecamatan Nanggung.

Toni Topandi

Setelah itu, penyelenggaraan pelayanan keliling atau yang disebut pepeling yang merupakan program UPT Dukcapil Wilayah IV dengan cara jemput bola pembuatan administrasi kependudukan, menurut Kepala UPT Dukcapil Toni Topandi yang mendapat pelayanan langsung dari petugas Dukcapil, utamaya  wilayah desa yang jangkauannya jauh dari pusat pelayanan Kecamatan dan Administrasi kependudukan.

“Untuk itu kami berinisiatif, jemput bola (jembol) tingkat desa pembuatan akta lahir rencana akan digelar di Malasari,” ujar Toni Topandi kepada Jurnal Bogor, kemarin.

Namun kata dia, itupun tergantung kesiapan  Pemerintah Desanya sebab pelaksanaan pada Sabtu atau Minggu. “Karena jadwal hari Senin hingga Jumat kami biasa melayani di kantor,”terangnya.

Menurutnya, harus ada komunikasi dulu, sebab sebelum pada pelaksanaan Pepeling Adminduk, ada persiapan pendataan pemohon pembuatan akta lahir itu. Pembuatan akta lahir sehari selesai sepanjang yang menjadi persyaratannya itu lengkap.

Toni menjelaskan, yang menjadi syarat pembuatan akta lahir, yakni fotokopi KTP, buku nikah dan keterangan lahir dari bidan atau rumah sakit. Semisal, tidak adanya keterangan lahir dari bidan atau rumah sakit, pemohon bisa membuat pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM) yang ditandatangani langsung dukun beranak atau di perkampungan biasa disebut Mak Paraji.

Program Pepeling Adminduk ke tingkat desa selain pembuatan akta lahir juga bisa dilaksanakan pembuatan tentang  buku pokok kematian. Buku pokok kematian, tambah Toni datanya itu harus melalui desa kemudian progresnya akan dilaporkan hingga Kemendagri.

Tujuan  dibuatnya akta kematian, adapun data warga hingga tingkat nasional itu bisa update. Program Pepeling Adminduk dengan cara jemput bola yang rencana akan dilaksanakan di Malasari.

Kepala Desa Malasari Andi Zaelani Pirdaos menyambut program jemput bola yang dilakukan UPT Disdukcapil.  Karena ini kesempatan warga salah satu untuk membuatan  akta kelahiran secara langsung.

“Adapun jadwal hari pelaksanaan yang ditentukan petugas UPT Sabtu-Minggu, tentunya terlebih dulu harus komunikasi  dengan para RT dan RW. Diharapkan Sabtu atau Minggu sudah bisa pelaksanaan. Pastinya Kamis (1/9) akan disosialisasikan dengan para pengurus RT-nya,” tukasnya.

** Arip Ekon