29.6 C
Bogor
Thursday, May 7, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 721

Akibat PT Nitya Nandha Nunggak Bayar BPJS, Nasib Karyawan Telantar

0

Cileungsi | Jurnal Bogor 

Tindakan PT Nitya Nandha yang menunggak pembayaran BPJS Ketenagakerjaan membuat nasib karyawan yang membutuhkan pelayanan kesehatan menjadi telantar. Hal itu dialami, Entin yang sudah bekerja puluhan tahun di PT Nitya Nanda. 

Entin yang saat ini tengah mendapat perawatan dari RSUD Cileungsi terpaksa harus menanggung biaya perawatan secara mandiri, lantaran kartu BPJS miliknya bermasalah karena premi iuran belum dibayarkan oleh pihak perusahaan.

“Sebelumnya ibu saya dirawat di RS Swasta, walau belum sembuh total terpaksa saya bawa pulang karena memang tidak ada biaya. Tapi setelah sehari dirumah ternyata penyakit di lambungnya kambuh, jadi saya bawa lagi ke RSUD Cileungsi,” kata Samsul yang merupakan anak Entin kepada Jurnal Bogor, Senin (26/12).

Samsul mengaku bingung dengan sikap perusahaan yang terkesan abai dan tidak mau peduli terhadap nasib karyawan yang tengah sakit dan mendapat perawatan. Padahal, ibunya tersebut sudah bekerja selama puluhan tahun.

“Kemarin pada saat dirawat di RS swasta memang ada bahasa dari perusahaan akan membantu biaya perawatan, tapi yang dikeluarkan oleh perusahaan tidak cukup untuk menutup biaya rumah sakit. Jadi kami harus nyari uang sendiri untuk membiayai seluruh biaya perobatan,” ujarnya.

Samsul juga mengatakan, dirinya juga baru mengetahui jika ternyata kartu BPJS milik ibunya bermasalah pada saat melakukan pendaftaran di rumah sakit. Saat itu, pihak rumah sakit mengatakan jika kartu BPJS milik ibunya sudah tidak aktif lantaran preminya belum dibayar oleh perusahaan.

“ Saya sampaikan hal itu ke perusahaan, perwakilan perusahaan cuma mengatakan akan membayar premi BPJS karyawan tapi tidak tahu kepastian kapan akan dibayarkan. Kalau nunggu premi dibayar saya gak tahu kapan mau dibayar itu pun kalau tidak molor lagi. Sementara, ibu saya harus segera mendapat perawatan,” ujarnya.

Menurut Samsul, pihaknya akan menuntut perusahaan agar menjalankan tanggungjawab terhadap karyawan dimana hal tersebut memang merupakan tanggungjawab perusahaan sesuai dengan undang-undang.

“Saya juga sudah sampaikan hal ini kepada anggota DPRD Kabupaten Bogor agar menjadi perhatian dan membantu menyelesaikan permasalahan ini,” kata dia. Nas/Fik/Nay

Ngeri, Bak Setahun Sampah di Pasar Cileungsi Makin Menggunung

0

Cileungsi | Jurnal Bogor

Pelayanan kebersihan PD Pasar Tohaga, khususnya Pasar Cileungsi dalam pengangkutan sampah menjadi sorotan berbagai pihak. Keluhan dari pedagang yang berjualan di Pasar Cileungsi juga diabaikan oleh pengelola pasar.

Hal ini terlihat dari terus menumpuknya sampah di area parkir Pasar Cileungsi yang sebenarnya bukan tempat penampungan sampah. PD Pasar Tohaga juga terkesan menutup mata terhadap masalah sampah tersebut dan tidak memberikan solusi terkait semakin banyaknya tumpukan sampah pasar.

“ Selain semakin menumpuk, pihak pengelola pasar juga tidak memiliki tempat penampungan sementara. Karena lokasi penampungan yang dulu ada yang beli dan dibuat tempat jualan pisang dan kelapa parut. Makanya sekarang sampah numpuk di lokasi parkir,” kata salah satu tokoh pemuda Cileungsi, Yuyung kepada Jurnal Bogor, Senin (26/12)

Menurutnya, hal tersebut sudah menjadi bukti, jika pengelola Pasar Cileungsi tidak bisa melakukan pengelolaan sampah pasar dengan baik. Sehingga berdampak pada tumpukan sampah yang tiap hari semakin menggunung dan mengeluarkan bau busuk.

“Jangan kan pengunjung, para pedagang juga terganggu dengan banyaknya sampah ini. Meski sudah banyak yang ngeluh dan lapor ke pengelola Pasar Cileungsi. Tapi tetap saja tidak ditanggapi, karena sampah makin menumpuk dan tidak diangkut,” ujarnya.

Secara pribadi, Yuyung mempertanyakan sistem pengelolaan sampah Pasar Cileungsi yang tidak profesional. Padahal, sekelas Pasar Cileungsi seharusnya sudah memiliki rekanan pengelolaan sampah yang memiliki komitmen dan bertanggungjawab.

“Ini menyangkut nasib ratusan pedagang Pasar Cileungsi. Akibat tumpukan sampah dimana-mana, pedagang sepi pembeli siapa yang mau tanggungjawab. Sementara retribusi tetap dipungut oleh pengelola pasar,” tegasnya.

Yuyung menegaskan, jika memang rekanan pengelolaan sampah Pasar Cileungsi sudah tidak mampu, seharusnya PD Pasar mengambil tindakan tegas dan mencari rekanan yang benar-benar mampu mengatasi persoalan sampah di pasar.

“Dari informasi yang saya dapat sampah pasar sekarang diangkut oleh pihak UPT. Tapi realitasnya, jarang diangkut dan sampah menumpuk. Ini kan namanya sudah tidak profesional,” tandasnya. 

Sampai diturunkannya berita ini, belum ada penjelasan resmi dari pihak pengelola Pasar Cileungsi.

** Taufik / Nay

Kerusakan GOM Gunung Putri, Achmad Fathoni Tegur Kadispora 

0

Gunung Putri | Jurnal Bogor  

Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Bogor Achmad Fathoni, menyayangkan adanya kerusakan pada GOM Gunung Putri yang belum diresmikan tapi sudah mengalami kerusakan. Menurutnya, begitu mendapat informasi kerusakan GOM, dirinya langsung meminta Kadispora untuk melakukan kroscek lapangan dan segera melakukan perbaikan.

“Pak Kadis janji segera minta pihak ketiga untuk memperbaiki, walaupun sudah bukan menjadi tanggungjawabnya. Karena memang masa pemeliharaan sudah habis,” jelas Fathoni sapaan akrabnya, kepada Jurnal Bogor, Senin (26/12).

Terkait penyebab kerusakan, sambung Aleg PKS tersebut, dirinya berharap Dispora Kabupaten Bogor bisa segera melakukan investigasi yang harus melibatkan para ahli.

“Hari Sabtu kemarin Kadispora kirim foto sedang diperbaiki yang sekaligus melakukan investigasi. Sehingga bisa ketahuan apa penyebab sebenarnya dan itu jadi bahan perbaikan kedepannya,” cetus Fathoni.

Sementara, Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kecamatan Gunung Putri, Fadliyansah menilai ada kejanggalan terkait robohnya jendela, plafon dan beberapa material pada gedung GOM Kecamatan Gunung Putri.

Menurutnya, dengan nilai proyek sekitar Rp 13 miliar itu, seharusnya sudah diperhitungkan dengan matang oleh konsultan perencana sebelumnya. Apalagi hanya terkena angin yang membuat beberapa bagian material hancur.

“Terkait Gedung GOM Kecamatan Gunung Putri yang terkena angin dan mengakibatkan jendelanya dan material lainnya roboh, terkesan janggal kalau dibilang rusak karena angin,” kata Fadli kepada Jurnal Bogor.

Mengingat sambung dia, pembangunan GOM Gunung Putri itu masih akan ditambah untuk pemagarannya di tahun anggaran 2023. Sehingga, belum diserahterimakan  oleh Pemerintah Kabupaten Bogor, tapi sayang kondisinya saat ini sudah rusak.

” Aneh dan menimbulkan banyak pertanyaan, yang mengakibatkan kualitas  gedungnya pun jadi diragukan,” tegasnya.

Dengan adanya kejanggalan tersebut, tegas Fadli, pihaknya akan bersurat kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) bahkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk melakukan audit ulang.

“Itu saya rasa harus diaudit kembali oleh BPK karena dengan nilai Rp 13 miliar dengan rancangan dan kekuatan pasti sudah diperhitungkan dengan matang. Saya sebagai ketua KNPI Kecamatan Gunung Putri akan bersurat kepada BPK dan KPK akan berkirim susat meminta diaudit ulang karena ini ada kejanggalan,” pungkasnya.

** Nay Nur’ain

10 Desa Dapat Predikat Desa Mandiri, Ini Pesan Ketua Apdesi Kecamatan Gunung Putri 

0

Gunung Putri | Jurnal Bogor 

Dalam acara penganugerahan lomba video profil desa dan penghargaan Desa Mandiri tahun 2022 di Hotel Darmawan Park, Babakan Madang, Kabupaten Bogor, ada 10 desa se-Kecamatan Gunung Putri meraih penghargaan Desa Mandiri. 

Ketua Apdesi Kecamatan Gunung Putri Udin  Saputra mengapresiasi apa yang sudah dicapai oleh kepala desa se-Kecamatan Gunung Putri.

” Alhamdulillah 10 desa yang ada di Kecamatan Gunung Putri, meraih penghargaan sebagai Desa Mandiri, semoga semua desa ini bisa lebih meningkatkan lagi kinerjanya, dan pelayanan bagi masyarakat,” ucap Udin Saputra kepada Jurnal Bogor, Selasa (26/12). 

Dirinya meminta kepada seluruh kepala desa se-Kecamatan Gunung Putri agar tetap bersinergi dengan lembaga desa, perangkat desa, dan seluruh elemen masyarakat, agar kedepannya tetap solid. 

“Saya sangat berharap agar kedepannya semua kepala desa di Kecamatan Gunung Putri tetap kompak, dan bisa menjalin hubungan baik terhadap lembaga, dan perangkat desa, serta yang paling utama pelayanan di masyarakat,” ujarnya. 

Selain itu dirinya juga berharap, kepada seluruh desa agar bisa memajukan Kecamatan Gunung Putri kedepannya, menjadi kecamatan terbaik, dan termaju di Kabupaten Bogor. 

“Dengan kekompakan kita sebagai kepala desa, saya yakin kedepannya Kecamatan Gunung Putri akan menjadi lebih baik lagi,” cetus Ketua Apdesi Gunung Udin Saputra sekaligus Kepala Desa Ciangsana. 

Ia juga menyampaikan terimakasih atas penganugerahan yang diberikan dinas terkait kepada 10 desa di Kecamatan Gunung Putri yang mendapatkan predikat Desa Mandiri. 

“Kami optimis bisa mengelola pemerintahan desa yang lebih baik, dan maju, serta menjaga nama baik Kecamatan Gunung Putri. Saya juga mengucapkan terimakasih atas penghargaan yang diberikan ini,” cetusnya.

** Nay Nur’ain

Sang Istri Menghilang, Arief Minta Bantuan Warga Bogor

0

Bogor | Jurnal Bogor

Warga perumahan Tamansari Persada, Tanah Sareal, Kota Bogor, Retno Wulandari (38) menghilang sejak Sabtu (24/12/2022). Sang suami, Arief dan pihak keluarga hingga Senin (26/12) belum menemukan keberadaan istrinya. “Kami sudah membuat laporan ke polisi sejak hari Minggu. Pencarian juga dilakukan melalui jejaring pertemanan dan sosial media,” katanya.

Arief berharap, warga Bogor dapat turut membantu memberikan informasi jika melihat keberadaan istrinya.  “Ciri-cirinya kulit sawo matang, tinggi 155 centimeter, terakhir pakai baju piyama dan celana warna pink, serta kerudung bermotif warna pink. Bagi yang menemukan tolong kabari keberadaannya sembari menghubungi kami di nomor 0811119876,” tuturnya.

Arief menceritakan, istrinya hilang setelah meninggalkan rumah untuk mencuci baju di rumah kakaknya yang berada satu komplek dengannya. Keduanya memang baru saja pindah ke Perumahan Tamansari Persada pada Selasa (20/12/2022). Di hari Sabtu (24/12/2022) Arief dan Retno berencana mencuci pakaian kotor keluarganya. Karena tidak ada mesin cuci, Retno berniat mencuci pakaiannya di rumah sang kakak.

“Rumah kakaknya satu komplek hanya beda cluster. Saya sempat larang dia, karena sebentar lagi mesin cuci datang. Tapi dia bersikeras mencuci di sana dengan alasan agar lebih cepat,” tutur Arief kepada Radar Bogor.

Retno pun pergi dari rumah dengan menenteng dua tas jinjing berisi pakaian kotor. Belakangan, keberadaannya terpantau dari CCTV rumah tetangga yang dilalui.

Ia melintas pada pukul 06.26 WIB. Tak berselang lama, Retno berjalan kembali di depan rumah tersebut pada pukul 06.33 WIB tanpa kedua tas yang sempat dibawanya.

“Jam 8.00 WIB kakaknya datang ke rumah. Kemudian saya bertanya istri saya dimana, tapi kami masih berpikir positif mungkin beda arah jalan. Jam 8.30 saya harus berangkat, kerja tapi ternyata dia belum pulang dan saat saya susul ternyata tidak ada di rumah kakaknya,” terang Arief.

Sejak saat itu, perempuan yang berprofesi sebagai arsitek dan guru bahasa ini, belum juga pulang dan tidak diketahui keberadaannya. “Dari CCTV itu, terlihat dia ketika berangkat masih energik. Sedangkan saat pulang terlihat depresi dan linglung,” ucap Arief.

Dia mengungkapkan, saat itu istrinya sedang dalam kondisi gangguan kecemasan (anxiety disorder). Berdasarkan pemeriksaan dokter sebelumnya, kondisi tersebut sudah dialami Retno sejak 1 bulan lalu.

Upaya pencarian pun dilakukan pihak keluarga di daerah Tamansari Persada Bogor dan Cilebut. Pada Minggu (25/12/2022) upaya pencarian kembali dilakukan.

Keluarga sempat mendapatkan informasi dari warga yang sempat melihat perempuan dengan ciri-ciri sama. Sehingga pencarian diperluas hingga ke wilayah Bojonggede dan Citayam, namun belum menemukan hasil.

**ass

Kuatkan Budaya Kerja ASN, Jajaran PPMKP Kementan Tandatangani Komitmen Implementasi Core Values ASN BerAKHLAK

0

Ciawi | Jurnal Bogor

Sebagai langkah menguatkan budaya kerja ASN di lingkungan Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP), segenap jajaran menandatangani Komitmen Implementasi Core Values ASN BerAKHLAK di lingkungan PPMKP beberapa hari lalu.

Komitmen yang berisi janji penerapan nilai-nilai dasar ASN meliputi Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif merupakan tonggak penguatan kinerja ASN PPMKP melalui budaya kerja sehingga mereka dapat memahami dan menginternalisasikannya dalam melaksanakan tugas sehari-hari.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan seorang ASN atau pejabat pemerintah harus dikawal dengan moralitas melalui pendekatan Core Values BerAKHLAK agar tetap bisa bekerja dengan baik.

“Ditengah tantangan dunia yang semakin canggih, ditambah dengan adanya millennial disruption, ASN perlu meningkatkan kapasitas dan kompetensinya, serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan,” kata dia.

Menurut Mentan Syahrul melalui pendekatan moralitas Core Values ASN BerAKHLAK, pejabat pemerintah dapat bekerja dengan baik ditengan tantangan dunia

“Dari tantangan yang terjadi saat ini maka seorang ASN atau pejabat pemerintah harus dikawal dengan moralitas melalui pendekatan Core Values BerAkhlak agar kita tetap bisa bekerja dengan baik,” sambungnya

Senada dengan yang disampaikan oleh Mentan Syahrul, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi menyebutkan adanya Core Value ASN berAKHLAK  menuntut pegawai lingkup BPPSDMP untuk bekerja lebih  maksimal.

“Adanya Core Value ASN berAKHLAK ini menuntut ASN agar bekerja semaksimal mungkin. Apalagi di BPPSDMP yang mempunyai tugas mencetak petani pengusaha milenial, mendampingi penyuluh dan petani serta meningkatkan kapasitas penyuluh dan petani,” katanya.

Oleh karenanya, lanjut Dedi, diperlukan pegawai BPPSDMP yang tidak hanya dapat melaksanakan tugas tersebut

“Untuk melaksanakan tugas itu perlu didukung oleh aparatur yang tidak hanya sekedar melaksanakan tugas namun juga profesional, kompeten, mandiri dan berdaya saing,” pungkasnya

Yusral Tahir, Kepala PPMKP menyebutkan harapannya agar para ASN lembaganya dapat benar-benar mengimplementasikan nilai-nilai dasar tersebut dalam melakasanakan tugas pekerjaan sehari-hari

“Semoga kedepannya teman-teman dapat memahami dan menyelaraskan perilaku dalam pelaksanaan tugas sehari-hari sesuai dengan panduan perilaku budaya kerja kita, yaitu ASN berAKHLAK”, kata Yusral.

Adapun panduan perilaku dalam ASN BerAKHLAK yaitu Berorientasi pelayanan menunjukkan komitmen memberikan pelayanan prima demi kepuasan masyarakat. Akuntabel yaitu bertanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan. Kompeten artinya ASN akan terus belajar dan mengembangkan kapabilitas. Harmonis menunjukkan adanya saling peduli dan menghargai perbedaan. Loyal mencerminkan dedikasi dan mengutamakan kepentingan bangsa dan negara. Adaptif berarti sikap yang terus berinovasi dan antusias dalam menggerakan ataupun menghadapi perubahan, serta kolaboratif yang artinya ASN harus dapat membangun kerjasama yang sinergis.

** Nita/PPMKP

Gegara Ada Plang Lahan Milik PT BSS, Penggarap di Kaki Gunung Salak Resah

0

Cijeruk | Jurnal Bogor

Penggarap lahan di kaki Gunung Salak, Desa Cijeruk, Kecamatan Cijeruk, saat ini sedang dilanda keresahan, gegara lahan negara yang digarap mereka selama puluhan tahun diakui milik perusahaan swasta atas nama PT Bahana Sukma Sejahtera (BSS). Klaim perusahaan terkait lahan yang dijadikan petani untuk bercocok tanam itu ditandai dengan pemasangan plang.

Ade Saparudin, salah seorang penggarap di lereng Gunung Salak mengaku, kaget dengan pemasangan plang PT BSS di lokasi lahan garapannya sudah puluhan tahun dimanfaatkannya untuk menanam sayuran.

“Saya menggarap lahan ini sudah 22 tahun, selama digarap belum pernah ada klaim milik perusahaan. Lahan yang saya garap dimanfaatkan untuk menanam berbagai jenis sayur mayur,”kata Ade, kepada wartawan di lokasi lahan garapannya, Sabtu (24/12).

Ade mengungkapkan, lahan yang digarap sebelumnya itu dikelola PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI dengan sertifikat Hak Guna Usaha (HGU). Namun sejak 22 tahun silam, ketika Ade menggarap, tak pernah ada pihak PTPN XI yang menegur.

“Nah, PT BSS sama sekali tidak memberitahukan kepada para penggarap lahan yang dulunya milik PTPN XI ini. Sehingga pemasangan plang tersebut menjadi pertanyaan semua penggarap. PT BSS melalui sekelompok orang yang mendampingi kuasa hukumnya, PT BSS memasang plang di lahan yang selama ini kami garap,” jelas Ade.

Ade mempertanyakan, legalitas PT BSS, mulai dari akte pendirian beserta perubahannya, tanggal dan tahun pendirian serta notaris dari mana yang memprosesnya. Sebab, saat pemasangan plang oleh sekelompok orang suruhan pihak PT BSS, tidak disertai bukti kuat legalitas perusahaan tersebut.

“Harusnya sebelum pemasangan plang, kuasa hukum PT BSS memperlihatkan legalitas perusahannya. Termasuk ditulis juga di plang akte pendirian dan perubahannya PT BSS serta tanggal maupun tahun,” paparnya.

Adanya permasalahan ini, Ade pun akan meminta perlindungan hukum kepada pihak kepolisian. Terlebih, saat pemasangan plang di lahan garapannya, dilakukan banyak orang yang tidak dikenal.

“Kedatangan sekelompok orang suruhan PT BSS sangat meresahkan kami. Takut terjadi apa-apa, kami dan para penggarap akan meminta perlindungan hukum. Kami juga akan memberikan surat kuasa kepada advokat untuk menyelesaikan persoalan ini,” tegasnya.

Nonot, warga Desa Cijeruk mengaku prihatin terhadap nasib para penggarap lahan eks PTPN XI yang saat ini dipasang plang PT BSS. Pasalnya, para penggarap yang menggarap lahan di wilayah Desa Cijeruk itu sudah puluhan tahun.

“Setahu saya warga yang menggarap lahan ex PTPN XI itu antara 20-25. Ini kok ujug-ujug ada klaim dari PT BSS, apa dasar perusahaan itu mengklaim kalau lahan yang digarap warga miliknya,”ujarnya.

Sementara, Kepala Desa (Kades) Cijeruk, Asep Saepulrohman saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya, tidak bersedia mengangkat panggilan masuk meski kondisi handphone dalam keadaan aktif. Bahkan, pesan singkat melalui WhatsApp pun terkait pemasangan plang PT BSS di lahan garapan yang ada di wilayahnya itu, sama sekali tidak membalasnya.

Kuasa hukum PT BSS, Kasmudi mengklaim sebelum melaksanakan pemasangan plang di lokasi lahan garapan di lereng Gunung Salak Desa Cijeruk, pihaknya terlebih dulu sudah melaporkan kepada pihak Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Cijeruk.

“Setelah melaporkan ke pihak Forkopimcam Cijeruk, kami langsung pasang plang di lahan seluas 393.242 meter persegi itu,” tukasnya saat di konfirmasi melalui pesan whatsapp, Minggu (25/12).

** Dede Suhendar 

Polemik Pengelolaan Parkir Berbayar, Petinggi RSUD Ciawi Bungkam

0

Ciawi | Jurnal Bogor

Petinggi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ciawi, terkait polemic hilangnya barang milik konsumen di lokasi parkir berbayar di lingkungan rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Bogor itu, memilih tutup mulut alias bungkam.

Bungkamnya petinggi RSUD Ciawi itu, sangat disesalkan sejumlah elemen masyarakat yang tergabung di  Presidium Masyarakat Bogor Selatan (PMBS) dan tokoh masyarakat Kecamatan Ciawi. Padahal sebagai pihak yang mendapatkan profit dari pengelolaan parkir berbayar petinggi RSUD Ciawi, seharusnya bersuara minimal meminta maaf pada konsumen yang kehilangan barang diareal parkir rumah sakit.

Keengganan pihak rumah sakit yang kerap mendapatkan bantuan keuangan (Bankeu) dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, untuk membangun sejumlah gedung penunjang fasilitas itu ditunjukan Kepala Bagian Umum RSUD Ciawi, Mardani.

Ketika dikonfirmasi,  terkait hilangnya barang milik konsumen di areal parkiran rumah sakit malam mengarahkan Jurnal Bogor berkomunikasi dengan Century Parking selaku pengelola.

“Kalau barang hilang di parkiran. Itu bukan tanggungjawab kami (rumah sakit), namun ranahnya ada di pengelola Century Parking,”ujar Mardani.

Sementara, Ketua Umum (Ketum) PMBS, M Muhsin mengaku, prihatin dengan kejadian yang dialami warga saat mengunjungi RSUD Ciawi di lokasi parkir. Karena, kehilangan barang pengunjung tidak diganti oleh pihak pengelola parkir. “Persoalan ini sudah merugikan masyarakat, pihak rumah sakit jangan hanya bisanya lempar tanggungjawab,” kata Muhsin menutupi.

** Dede Suhendar

Lelah Nunggu Usulan Direspon, Warga Curugbitung Swadaya Perbaiki Jalan

0

Nanggung | Jurnal Bogor

Puluhan warga, Kampung Pasir Ater RT 03/05, Desa Curug Bitung, Kecamatan Nanggung, berswadaya memperbaiki jalan desa yang kondisinya rusak. Inisiatif warga ini dikarenakan mereka lelah menunggu kebaikan para pemangku kebijakan di Pemerintahan Kabupaten Bogor.

“Jalan yang ada di Kampung Pasir Ater ini merupakan akses vital menggerakan ekonomi warga, makanya dari pada menunggu kabar baik dari pemerintah daerah, kami berusaha dengan kekuatan yang ada memperbaiki jalan ini,” kata Baster, tokoh masyarakat Desa Curug Bitung, Minggu (25/12).

Baster mengungkapkan, warga dan pengurus RT/RW, dalam setiap kesempatan, semisal musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) dari mulai tingkat desa sampai kecamatan selalu mengusulkan agar jalan di Kampung Pasir Ater itu diperbaiki.

Namun sambung Baster, usulan warga dan pengurus RT/RW selalu kandas di tengah jalan “Kami sudah lelah karena setiap musyawarah selalu diusulkan. Jalan ini tak mungkin juga diperbaiki pemerintah desa melalui dana Satu Miliar Satu Desa (SamiSade), karena dari informasi yang didapatkan warga, jalan Kampung Pasir Ater, tidak masuk, dan tak mungkin masuk apalagi tahun anggaran 2022 ini akan segera berakhir,” ungkapnya.

Menurut Baster, perbaikan jalan dengan cara dibeton sudah dua pekan, masyarakat antusias bahu membahu gotong royong melakukan pengerasan di titik jalan rusak sepanjang 300 meter.

“Jadi kami bekerja sama dengan masyarakat melakukan gotong royong, alhamdulillah ini baru dua minggu dengan target keseluruhan sepanjang 400 meter akan kami selesaikan. Alhamdulillah ada bantuan juga dari Anggota DPRD Kabupaten Bogor dari PKB Pak Nurodin,” tutupnya. 

** Andres

Katagori Desa Mandiri dan Inovatif, Desa Cigudeg Raih Dua Penghargaan

0

Cigudeg | Jurnal Bogor

Di penghujung tahun 2022 Pemerintah desa (Pemdes) Cigudeg, Kecamatan Cigudeg, mendapatkan hadian tahun baru berupa dua penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Bogor. Dua penghargaan tersebut, diantaranya juara satu lomba video profil desa tingkat Kabupaten Bogor dan penghargaan kedua sebagai desa mandiri.

Kepala Desa Cigudeg Andi Supriadi mengatakan, penganugerahan penghargaan dilaksanakan Kamis (22/12) di Hotel Darmawan Park, Kecamatan Babakan Madang.

“Dua penghargaan yang diterima dari Pemerintah Kabupaten Bogor ini menjadi penyemangat saya dan rekan-rekan untuk menjadikan Cigudeg, sebagai desa terbaik di Jawa Barat,” kata Andi, Minggu (25/12).

Orang nomor wahid di Desa Cigudeg yang akrab dipanggil Bram itu lebih lanjut mengatakan, selama kepempimpinannya semua pembangunan yang dilaksanakan berdasarkan usulan dari bawah atau masyarakat.

“Pembangunan itu tak akan berhasil, kalau masyarakat tidak dilibatkan, makanya setiap akan merencanakan program pembangunan untuk dimasukan ke Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes). Saya selalu mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat untuk diminta masukannya,” ujar Andi.

RPJMDes ini kata Andi, pedoman untuk melaksanakan pembangunan desa, siapa pun orang yang akan memimpin Desa Cigudeg, program yang akan dijalankan tak boleh melenceng dari RPJMDes.

“Ini penting diperhatikan calon pemimpin Desa Cigudeg kedepan, agar tujuan pembangunan menuai hasil dan sesuai dengan harapan masyarakat,” katanya.

Disinggung soal video profil desa yang mendapatkan predikat juara, Andi menyatakan, bahwa penghargaan tersebut tak terlepas dari keterlibatan  seluruh perangkat desa.

“Video itu semua hasil karya kerja seluruh elemen masyarakat Desa Cigudeg, dari bawah, seperti RT/RW kepala dusun dan seluruh staf desa kita bekerja secara tim,” ungkap Kades yang baru menjabat tiga tahun itu.

Andi berharap, keberhasilan desanya meraih dua penghargaan dijadikan penyemangat desa-desa lainnya di Kabupaten Bogor, khususnya di wilayah Bogor Barat. “Saya akan terus-menerus bukan hanya lomba ini harus jadi nomor satu, kedepannya saya ingin di bidang lain juga. Saya optimis saya bisa,” tutupnya. 

** Andres.