24.9 C
Bogor
Tuesday, May 5, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 673

Dewan Tolak Komersialisasi GOM

0

Bogor | Jurnal Bogor

Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mengkomersilkan Lapangan Taman Manunggal serta Gelanggang Olahraga Masyarakat (GOM) Kecamatan Bogor Utara dan Selatan, terus mendapat sorotan DPRD ‘Kota Hujan’.

Hal itu lantaran pemkot berencana mempihakketigakan pengelolaan sarana prasarana tersebut, serta mematok biaya sewa yang dinilai memberatkan, yakni Rp500 ribu per jam.

Wakil Ketua Komisi II DPRD Kota Bogor, Jatirin mengatakan bahwa legislatif menolak apabila fasilitas olahraga tersebut dipihakketigakan. Terutama untuk Lapangan Taman Manunggal. “Lapangan Manunggal sebelumnya memang lapangan bola, lagipula fungsinya kan taman jadi jangan dipungut biaya, mesti dikembalikan ke fungsi awal,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (22/2).

Menurut dia, berdasarkan hasil rapat dengan Dinas Perumahan dan Pemukiman (Disperumkim), apabila tidak dipungut biaya otomatis Pemkot Bogor harus menyiapkan anggaran Rp500 juta per tahun untuk biaya pemeliharaan.

“Kami di DPRD tak masalah, kita siap mendorong anggaran Rp500 juta untuk pemeliharaan. Kalau dijadikan sumber PAD salah besar, sebab kita tak punya fasilitas olahraga yang mumpuni,” jelas Jatirin.

Politisi PKB ini juga meminta agar area parkir di Taman Manunggal dan pedagang dikenakan retribusi dan ditata. “Jadi itu untuk membantu biaya pemeliharaan,” ucapnya.

Sementara mengenai komersialisasi GOM, Jatirin menegaskan bahwa Komisi II bersepakat bila pengelolaan dua GOM dilakukan secara swakelola oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora). “GOM itu bukan sarana mencari PAD, tetapi merupakan kewajiban pemerintah menyediakan fasilitas olahraga kepada warga,” katanya.

Jatirin menuturkan, berdasarkan hasil rapat dengan Dispora terdapat opsi biaya sewa GOM, yakni sebesar Rp350 ribu per dua jam. Dengan biaya pemeliharaan Rp390 juta per tahun, sementara profit yang didapat dengan opsi tersebut adalah Rp420 juta.

“Artinya Kota Bogor masih mendapatkan Rp30 juta per tahun dari penyewaan itu. Sehingga dewan mendorong agar pengelolaan kedua GOM dilakukan secara swakelola,” ucapnya.

Jatirin menegaskan, opsi swakelola dan tarif Rp350 ribu per dua jam sudah sangat tepat. Sebab, lapangan yang dibangun menggunakan APBD bertujuan untuk menyediakan fasilitas olahraga bagi masyarakat. “Lapangan sepakbola yang representatif sudah tidak ada di Kota Bogor. Jadi kalau pemerintah menjadikan GOM ajang mencari PAD ya salah,” tandasnya.

Sebelumnya, Kepala Dispora Kota Bogor Herry Karnadi mengatakan bahwa pihaknya sedang membuat kuiesioner mengenai kemampuan klub sepakbola lokal menyewa lapangan.

“Kami menambah variabel kemampuan klub lokal di menyewa lapangan, kita bakal lihat hasil analisanya,” ujarnya kepada wartawan, Senin (20/2).

Menurut dia, kuesioner yang dibuat merupakan usulan dari Wali Kota Bogor Bima Arya untuk menambah variabel dalam penentuan tarif sewa lapangan bola.

“Waktu itu baru dua variabel yang sudah kami analisis. Variabel pemeliharaan dan variabel perbandingan dengan stadion lain. Jadi kami tambah kajiannya,” ungkapnya.

Menurut Herry, usai dilaksanakan kajian penambahan satu variabel, pihaknya tengah menghitung besaran tarif ideal. Tarif itu, nantinya hanya berlaku untuk penggunaan lapangan bola menggunakan rumput sintetis.

“Waktu itu disampaikan Rp500 ribu, dan itu dilihat dari dua variabel. Memang kalau dilihat lapangan sejenis lain memang harga Rp500 ribu itu lebih murah. Lapangan Asiop Sentul, atau di Pancoram Soccer Field saja sampai Rp2 juta setiap dua jamnya,” jelasnya.

Herry menyatakan bahwa usulan tarif Rp500 ribu yang dibuka publik menimbulkan pro kontra. “Karena itu kajiannya ditambah variabel untuk kita teliti lagi,” tegasnya.

Kata dia, tarif yang dibebankan tersebut sebenarnya dilakukan agar memberikan rasa tanggungjawab kepada penyewa, dan saat ada pendapatan yang yang dihasilkan tentunya akan dimanfaatkan untuk pemeliharaan lapangan.

“Lapangan memang tahun pertama kondisinya bagus. Tapi, tahun kedua dan ketiga itu kalau revenuenya nggak balik yang rugi masyarakatnya,” ucapnya.

Kendati demikian, usulan besaran tarif sewa hingga hasil analisa dan kajian termasuk kuesioner yang telah dilakukannya tersebut disampaikan ke DPRD.

Lebih lanjut, sambung dia, kebijakan sewa lapangan harus dilakukan agar berkelanjutan dalam melakukan pengelolaan lapangan. “Kalau digratiskan dengan halnya Jakarta. Kan kalau digratiskan kita coba hitung aja. Pemeliharaan lapangan itu Rp400 juta per tahun. Lapangan besar dan ada foodcourtnya,” imbuhnya.n Fredy Kristianto

Fatimah Azzahro Butuh Perhatian Pemkab Bogor

0

Cileungsi | Jurnal Bogor

Fatimah Azzahro (16), warga Desa Dayeuh, Cileungsi, Kabupaten Bogor sampai saat ini masih terbaring menerima perawatan dari dokter RSUD Cileungsi. Sudah hampir dua minggu dirawat, kesehatan anak yatim piatu tersebut belum juga menunjukan perubahan.

Bahkan, Fatimah harus menjalani operasi untuk mengeluarkan cairan yang ada di paru-parunya. Dari hasil pemeriksaan dokter, Fatimah diklaim menderita penyakit pada bagian jantung, paru dan liver.

“Kata dokter penyakitnya itu, jantung, paru dan liver jadi sudah komplikasi. Bahkan harus dioperasi juga untuk mengeluarkan cairan di paru-parunya,” kata Ujang yang merupakan paman Fatimah.

Menurut Ujang, sebelum dioperasi, selama dirawat di RSUD Cileungsi, Fatimah harus melakukan terus transfusi darah dan perawatan intensif di ruang ICU. Namun, meski sudah hampir dua minggu dirawat, kesehatannya belum juga menunjukan perkembangan.

“Ya mudah-mudahan habis operasi kesehatannya bisa lebih baik. Karena selama transfusi darah dan dua minggu perawatan ini belum ada perubahan yang signifikan,” ujarnya.

Selain mengkhawatirkan kondisi keponakannya, Ujang juga was-was karena belum mendapat solusi terkait biaya perawatan dan operasi Fatimah selama dirawat di RSUD Cileungsi. Pasalnya, dua bulan sebelumnya, Fatimah juga sempat dirawat di RSUD Cileungsi selama satu minggu. 

“Sebelumnya kan pernah dirawat di RSUD Cileungsi juga hampir 10 hari. Tetapi waktu itu gak sampai operasi, jadi perawatan biasa. Itu pun kami tidak ada biaya dan harus menggunakan Jamkesda,” ujarnya.

Untuk saat ini, Ujang mengaku bingung memikirkan pembiayaan rumah sakit, karena kartu BPJS belum bisa digunakan lantaran baru dibuat dan belum aktif. Karena kalau mengandalkan keluarga, Fatimah sudah tidak memiliki keluarga lain yang dapat membantu.

“Saya sebagai pamannya juga tidak punya apa-apa, saudara hanya ada adik dan kakaknya Fatimah karena mereka memang sudah yatim piatu. Jadi benar-benar bingung. Apalagi kemarin pihak RSUD menyampaikan jika biaya selama masa perawatan sebelum operasi sudah habis Rp 13 juta,” tukasnya.

Ujang saat ini hanya bisa berharap adanya bantuan dari Pemerintah Desa Dayeuh atau Pemkab Bogor untuk membantu atau membebaskan biaya perawatan Fatimah selama di RSUD termasuk biaya operasi. Karena jika dibebankan kepada pihak keluarga, maka keluarga tidak akan mampu membayar semua biaya tersebut.

“Jangan kan untuk membayar biaya segitu banyak sampai puluhan juta. Untuk sehari-hari juga pas-pasan. Makanya saya sangat berharap adanya bantuan dari desa atau Pemkab Bogor,” tandasnya. \

** Taufik / Nay 

Gurandil Cariu Pindah ke Tanjungsari

0

Tanjungsari | Jurnal Bogor 

Aktivitas galian tanah di wilayah Bogor Timur seakan tidak ada hentinya. Jika beberapa waktu lalu fokus para penambang liar (Gurandil) berada di wilayah Cariu, kini para penambang tersebut bergeser ke Kecamatan Tanjungsari. Salah satunya adalah aktivitas galian tanah di Desa Sirnarasa, Tanjungsari, Kabupaten Bogor.

Meski kerap mendapat keluhan dari warga karena aktivitas galian yang menyebabkan jalan menjadi licin dan rusak, namun hal itu sepertinya tidak digubris oleh para pengusaha galian. Pasalnya, aktivitas kerap beroperasi meskipun kondisi cuaca hujan.

“Lumayan sudah lama galian ini buka. Ya begini kondisinya, apalagi kalau hujan jalan jadi kotor dan licin jadi kalau bawa motor harus pelan-pelan,” kata Umar, salah satu warga Sirnarasa kepada Jurnal Bogor, Rabu (22/02/23).

Menurut dia, keberadaan galian tanah clay tersebut mungkin bermanfaat bagi sekelompok orang. Namun bagi warga umumnya keberadaan galian tersebut justeru malah membuat persoalan baru. Selain kondisi jalan yang dipenuhi tanah dan membahayakan para pengguna jalan. Kondisi jalan juga akan mengalami kerusakan. Karena setiap hari dilintasi truk dengan muatan berat.

“Kondisi jalan ini kan kecil dan ngepas kalau truk lewat. Jadi kalau ada mobil papasan jadi gak bisa lewat. Belum lagi jalannya nanti jadi rusak karena setiap hari dilewati puluhan kendaraan tronton,” ujarnya.

Umar berharap, ada tindakan tegas dari pemerintah setempat atau Pemerintah Kabupaten Bogor agar melakukan tindakan tegas dan segera menghentikan aktivitas galian tanah tersebut. Karena, warga merasa sangat dirugikan akibat keberadaan galian tersebut.

“Mending ditutup aja. Manfaat sama kerugian lebih banyak kerugian yang dirasakan warga. Yang merasakan manfaat paling sekelompok orang aja,” cetusnya.

Menurutnya, galian tersebut merupakan lokasi baru yang merupakan perpindahan dari lokasi lama yang berada di cariu. “Mungkin di sana sudah tidak boleh gali lagi maka pindah ke sini,” tandasnya.

Sementara itu, Camat Tanjungsari, Totok Supriyadi yang dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp belum memberikan tanggapan terkait keberadaan lokasi galian di Desa Sirnarasa tersebut.

** Taufik/Nay 

Jelang 2024, Polda Jabar Optimalkan Kinerja Bhabinkamtibmas

0

Gunung Putri | Jurnal Bogor

Menyambut perhelatan politik 2024, Polda Jabar melalui Subdit Bhabinkamtibmas menggelar pilot project optimalisasi kinerja Bhabinkamtibmas di wilayah Bogor. Untuk wilayah Bogor kegiatan pertama digelar di Aula Desa Gunung Putri yang dihadiri oleh seluruh Kepala Desa dan Bhabinkamtibmas se – Kecamatan Gunung Putri. Melalui asistensi tim supervisi tersebut diharapkan adanya sinergitas antara Babinsa, Bhabinkamtibmas dan kepala desa dalam menciptakan kondusifitas wilayah jelang Pemilu 2024.

“Kegiatan ini merupakan pilot project Direktrorat Bimas Polda Jabar dimana kami akan menilai wilayah mana yang diunggulkan dalam mendongkrak ekonomi masyarakat, mendukung Harkamtibmas menjelang Pemilu 2024,” kata Kasubdit Babinmas Polda Jabar, AKBP Wawan Hermansyah kepada wartawan.

Menurutnya, tiga pilar yakni Babinsa, Bhabinkamtibmas dan Kepala Desa merupakan tiga unsur yang tidak bisa dipisahkan dan saling bersinergi dalam mewujudkan keamanan, ketertiban di masyarakat. Oleh karena itu diperlukannya komunikasi dan sinergitas diantara ketiga pilar tersebut termasuk dengan Muspika agar keamanan dan ketertiban dapat benar-benar terwujud.

“Kegiatan ini juga merupakan salahsatu bagian dari program Polda Jabar untuk menyambut pelaksanaan Pemilu 2024,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Wawan, pihaknya akan mengunjugi beberapa lokasi untuk melihat produk unggulan masyarakat, baik ibu-ibu PKK atau komunitas yang nantinya dapat dijadikan contoh bagi pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia.

“Nanti akan kami sampaikan kepada pimpinan jika ada produk unggulan yang bisa dibawa ke tingkat provinsi atau nasional yang merupakan program kreativitas masyarakat,” jelasnya.

Terkait kendala dalam program keamanan dan ketertiban di masyarakat, Wawan menilai sejauh ini tidak ada kendala yang krusial. Dari laporan sejumlah kepala desa, ia melihat kendala hanya pada aspek sarana dan pra sarana.

“Kendala hanya di sarana dan prasarana pendukung saja. Kalau untuk kerjasama saya melihat sudah sangat baik,” tandasnya.

** Taufik / Nay 

Penangan Sampah di Botim Butuh Sinergitas

0

Cileungsi | Jurnal Bogor

Sampah merupakan salah satu persoalan yang kerap menjadi polemik dalam setiap wilayah berkembang, termasuk di Bogor Timur. Pasalnya, kerap terjadi tarik ulur terkait penangan sampah tersebut. Dimana masing-masing pihak melempar tanggung jawab terkait penangan sampah, belum lagi rendahnya kesadaran masyarakat yang masih rendah dalam menjaga kebersihan lingkungan yang membuat keberadaan sampah liar semakin menumpuk.

Salah satunya dapat dilihat dipinggir Jalan Raya Narogong dimana tumpukan sampah semakin banyak dan tidak mendapat penanganan dari instansi terkait.

“Seharusnya masalah sampah menjadi tanggung jawab bersama walaupun ada instansi yang bertanggung jawab penuh terkait penangan sampah yakni di UPT Kebersihan. Namun, menjadi tidak etis jika persoalan sampah sepenuhnya diserahkan kepada UPT tanpa adanya upaya dari Pemerintah Desa atau Kecamatan berpartisipasi dalam mewujudkan lingkungan yang bersih,” kata Ketua Umum DPP Presidium Bogor Timur, Alhafiz Rana kepada Jurnal Bogor, Rabu (22/02/23).

Menurut dia, sinergi dalam penanganan sampah antara sesame instansi pemerintah menjadi sangat penting. Khususnya dalam hal penanganan sampah liar. Karena dengan adanya sinergi tersebut maka berbagai hal yang menjadi kendala dapat diselesaikan.

“Pihak desa yang memiliki wilayah dan pihak UPT yang memiliki armada dan petugas kebersihan. Kalau semua sinergi maka keberadaan sampah-sampah liar yang sangat mengganggu itu pasti dapat diselesaikan,” ujarnya.

Hafiz menegaskan, sejauh ini permasalahan sampah di Bogor Timur adalah jauhnya lokasi pembuangan yakni ke TPS Galuga. Hal itu membuat penanganan sampah menjadi kurang maksimal. Namun, jika nanti TPPAS Nambo sudah beroperasi, tentunya penanganan sampah di Bogor Timur dapat lebih baik. 

“Inilah pentingnya komunikasi dan kordinasi dalam mempersiapkan program-program di Bogor Timur ke depan termasuk masalah sampah,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala UPT Kebersihan II Jonggol, Heri mengatakan jika pihaknya sudah sering melakukan pengangkutan sampah liar yang ada di pinggir jalan. Namun ia juga berharap adanya upaya dari pemerintah desa untuk menjaga kebersihan lingkungan dengan melakukan antisipasi terhadap para pembuang sampah di tempat yang tidak semestinya.

“Kami juga berharap pemerintah desa dengan elemen di tingkat RT dan RW bersama-sama berpartisipasi untuk menjaga kebersihan lingkungan,” singkatnya.

** Taufik/ Nay 

IPSM Leuwisadeng Tawarkan Bantuan kepada Keluarga Shalma

0

Leuwisadeng | Jurnal Bogor 

Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM)  Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor menyatakan telah memberikan offering help atau menawarkan bantuan kepada keluarga Shalma, bayi berusia empat bulan yang didiagnosis hidrosefalus.

“Begitu saya dengar, saya sudah mengupayakan dan sempat  menawarkan jasa serta asesmen, kita laporkan juga kepada pihak dinas dan kecamatan,” kata Pendamping Disabilitas Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor Titin saat dihubungi Jurnal Bogor, Rabu (22/2).

Titin mengaku, pihaknya telah berupaya mengalihkan BPJS dari Mandiri ke PBI yang saat ini masih dalam proses. 

“BPJS-nya saat ini masih proses dari awal kita dampingi buatkan BPJS, sebab anaknya itu mengalami hidrosefalus akhirnya kita sarankan untuk bayi tersebut dimasukan ke kartu keluarga (KK) karena pembiayaan itu tidak sedikit,” ucap Titin. 

Titin mengaku prihatin dan siap membantu jika pihak keluarga meminta bantuan.

“Intinya kami dan rekan-rekan IPSM siap membantu jika pihak keluarga meminta bantuan ke kita. Kita sempat tawarkan dalam pendampingan namun pihak keluarga menolak pada saat itu,” paparnya.

Dengan begitu, pihaknya lepas tanggung jawab dengan alasan pihak keluarga menolak tawaran tersebut.

“Jadi kita lepas tanggung jawab karena mungkin mereka merasa bisa sendiri, namun saat ini kami belum sempat nengok kembali. Saya juga sering nanya kepada keluarga dengan jawaban mereka baik-baik aja gitu,” cetusnya.

Sebelumnya diberitakan, bayi perempuan anak kedua dari pasangan Siti Istianah (28) dan Burhanuddin, warga Kampung  Babakan Sirna RT 02 RW 01 Desa Sadeng, Leuwisadeng, Kabupaten Bogor tengah berjuang untuk kesembuhannya. 

Siti Istianah mengatakan, Shalma yang baru berusia empat bulan ini harus rutin ke rumah sakit untuk pengecekan kondisi sang anak dengan biaya yang tidak sedikit.

“Ini harus rutin seminggu sekali ke rumah sakit. Dalam sekali periksa harus ada uang 500.000. Karena keterbatasan biaya dilakukan sebulan sekali,” kata Siti Istianah di kediamannya kepada wartawan, Selasa (21/02).

Dia menjelaskan, awalnya Shalma lahir dengan normal, namun di usia 7 hari anaknya mengalami kejang-kejang tanpa demam dan menguning. Berselang tak lama sekitar diusia 20 hari Shalma memiliki benjolan di ubun-ubun kepalanya.

“Waktu itu sudah kepikiran tapi masih berpikir positif gitu, makin kesini kok kepalanya makin membesar. Baru kami rujuk ke dokter anak dan didiagnosa hidrosefalus oleh dokter,” katanya.

Di umur 2 bulan, Shalma sempat dioperasi, tetapi  perjuangannya belum selesai. Masih ada lagi rangkaian pengobatan yang harus dijalani Shalma untuk operasi semua kebutuhan  mencapai Rp80 juta.

Saat ini pihak keluarga mengaku belum melaporkan kondisi Shalma kepada pemerintah desa setempat.

“Mudah-mudahan para dermawan dan pemerintah bisa membantu dari segi apapun, karena untuk ngumpulin uang 80 juta, sehari penghasilan suami hanya 100.000 itu pun kotor dan kerjanya nggak ful,” pungkasnya.

** Andres

Jalan Raya Dramaga Kerap Macet Parah, Pertigaan Duta Berlian, Babakan, JLD dan Brabas Harus Dilarang Belok

0

Dramaga | Jurnal Bogor 

Setiap pagi dan sore sepanjang Jalan Raya Dramaga hingga Jalan Raya Ciampea  padat merayap dipenuhi kendaraan dan kerap macet parah. 

Penumpukan kendaraan disebabkan padatnya volume kendaraan dan tidak adanya rambu-rambu larangan masuk di pertigaan Duta Berlian.

Kanit Lantas Polsek Dramaga Iptu Herlis mengungkapkan, titik kemacetan yang kerap terjadi di Jalan Raya Dramaga disebabkan penumpukan volume kendaraan di setiap pertigaan.

Disepanjang Jalan Raya Dramaga terdampat tiga titik pertigaan yakni pertigaan Babakan, pertigaan Jalan Lingkar Dramaga (JLD), dan pertigaan Drabas.

Untuk mengurangi kemacetan, setiap jam padat yakni pagi dan sore ditempatkan petugas jaga di setiap pertigaan.

“Walaupun ada petugas yang jaga, belum efektif mengurangi kemacetan dan di setiap pertigaan, jalannya perlu dilebarkan dan dipasang rambu lalulintas larangan belok,” ujarnya.

Menurut Iptu Herlis, adanya pemasangan rambu lalulintas larangan belok di pertigaan Duta Berlian sangat penting sehingga meminimalisasi terjadi penumpukan kendaraan.

Selain itu, setiap hari jumlah penduduk bertambah dan kendaraan juga bertambah. Imbasnya, volume kendaraan bertambah, tak berbanding lurus dengan infrastruktur jalan. Alhasil, ruas jalan yang kecil tidak bisa menampung kepadatan volume kendaraan .

“Solusinya, pertama setiap pertigaan jalan dilebarkan, kedua dipasang rambu larangan belok di pertigaan setiap jam-jam tertentu dan rencananya pembangunan JLD dilanjutkan,” tukasnya. 

** Andres

Masih Saudara, ARD Tega Embat Motor Warga Tamansari Persada

0

Bogor | Jurnal Bogor

Satu sepeda motor Honda Spacy warna putih bernopol F 4463 CH, laptop dan dua handphone raib diembat ARD, warga Bantarjati Kaum, Bantarjati, Bogor Utara, Kota Bogor yang berpura-pura main ke rumah saudaranya, US di Perumahan Tamansari Persada, Tanah Sareal, Rabu (22/2/2023).

Sementara yang membuat US kesal, sepeda motor tersebut baru dia pinjam dari temannya. “Itu motor temen ilang sama laptop dan 2 hape,” ujarnya.

Kepastian yang mengambil barang-barang itu adalah ARD setelah pos jaga mengetahui sepeda motor tersebut dibawa keluar ARD pada pukul 01.15 dinihari. Petugas security tidak menaruh curiga karena mengetahui ARD adalah saudaranya US.

“Semalam jam 21.30 datang ke rumah ngobrol keadaan, kerja dimana sekarng katanya sambil merefleksi (memijat-mijat). Gak disuruh langsung pegang kaki saya dan sampai kurang lebih 30 menit. Setelah selesai saya pamit tidur naik ke atas. Dia saya kasih tidur di tengah rumah,” ungkapnya US.

Dia menceritakan mengetahui sepeda motor hilang pukul 04.00 saat bangun ibunya menanyakan ARD kemana karena sudah tidak ada di ruang tengah. US sendiri menjawab tidak tahu.

“Ibu saya tanya motor kemana dan ada berapa, saya bilang ada 2, dengan replek saya lihat kedepan rumah motornya sudah gak ada,” ujarnya.

US langsung bergegas ke pos satpam dan menanyakan ARD. “Satpam membenarkan ARD keluar jam 01.15 dan pakai motor saya. Barang yang ikut diambil tas berkas saya diambil, berkas disimpan dikursi, 2 jam tangan, 2 hape kondisi rusak dan 1 unit laptop merek Asus,” jelasnya.

ARD dari keterangan keluarganya di Bantarjati, sudah lama tidak tinggal di Bogor. ”Semalam sempat saya tanya dari mana. Dia bilang dari Cianjur,” tandas US.

**ass

UIKA Siapkan Ratusan Beasiswa Tahfiz Al Quran

0

Bogor | Jurnal Bogor

Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor mulai membuka pendaftaran bagi calon mahasiswa baru tahun ajaran 2023-2024.

Kepada wartawan, Rektor UIKA Bogor, Prof. Dr. H. E. Mujahidin M.Si mengatakan bahwa pada tahun ajaran baru ini pihaknya menargetkan 2.000 mahasiswa baru.

“Semoga di tahun ajaran baru ini kami bisa mendapatkan 2.000 mahasiswa baru,” ujar E. Mujahidin, Selasa (21/2).

Menurut dia, Untuk pendaftaran gelombang pertama dimulai sejak 1 Januari 2023 hingga 31 Mei 2023. Sementara gelombang kedua dimulai 1 Juni hingga 31 Juli 2023.

“Untuk gelombang ketiga kami mulai dari 1 Agustus hingga 31 Agustus 2023. Pendaftaran bisa dilakukan secara online di spmb.uika-bogor.ac.id,” katanya

Selain itu, UIKA juga menyiapkan sejumlah jalur beasiswa bagi calon mahasiswa baru, baik untuk calon mahasiswa berprestasi maupun yang kurang mampu.

“Ada beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) kuliah, beasiswa Tahfiz Al-Qur’an dan beasiswa bagi siswa berprestasi,” jelasnya.

Untuk pendaftaran beasiswa KIP Kuliah tahap pertama sudah dibuka sejak 4 Januari hingga 11 Maret 2023. Sementara tahap dua, akan dibuka pada 12 Maret hingga 16 Juni 2023.

“Untuk syaratnya ijazah SMA/MA/SMK/sederajat, lulusan 2021, 2022, 2023. Kemudian transkrip nilai, KTP, Kartu Keluarga, pas foto, Kartu KIP/KKS/Surat KeteranganTidak Mampu dari Kelurahan atau Desa, sertifikat prestasi,” paparnya.

Kata dia, Bagi calon mahasiswa baru yang sudah melengkapi berkas, cukup melakukan pendaftaran secara online.

“Kemudian melakukan pembayaran pendaftaran, registrasi akun KIP Kuliah di https://kip-kuliah.kemdikbud.go.id/ kemudian melengkapi berkas pesyaratan di web SPMB UIKA dan web KIP kuliah Kemdikbud,” bebernya.

Sementara bagi calon yang mahasiswa baru yang hendak mendaftar beasiswa Tahfiz Al-Qur’an, pendaftaran sudah dibuka sejak 4 Januari hingga 20 Mei 2023 untuk tahap pertama, dan 21 Mei hingga 19 Agustus 2023 untuk tahap kedua.

“Selain syarat formal lain, mereka juga wajib melampirkan Sertifikat Penghafal Al-Qur’an 30 Juz (sertifikat dikeluarkan minimal 2 tahun terakhir), dan diwawancara
Tim Seleksi Penerimaan Beasiswa Hafiz 30 Juz,” katanya.

Bahas Sistem Pemilu Hingga Koalisi Perubahan, AHY Akan Terima Kunjungan Surya Paloh

0

Bogor | Jurnal Bogor

Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) akan menerima silaturahmi dan kunjungan Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh, beserta rombongan pengurus teras Partai Nasdem, di kantor DPP Partai Demokrat, Rabu, (22/2/2023).

“Rencananya Bapak Surya Paloh beserta rombongan akan tiba di kantor DPP Partai Demokrat sekitar pk.10.00 WIB. Ketum AHY didampingi Sekjen Teuku Riefky dan pengurus teras lainnya, akan menyambut langsung Pak Surya Paloh,” kata Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP/Koordinator Juru Bicara DPP Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra dalam keterangannya, Selasa (21/2/2023)

AHY akan didampingi Sekjen Teuku Riefky, Bendahara Renville Antonio, Waketum Benny K Harman, Wasekjen Renanda Bachtar, Ka BPOKK Herman Khaeron, Ka Bappilu Andi Arief, Ka Bakomstra Herzaky, dan beberapa pengurus teras lainnya.

Menurut Herzaky Mahendra Putra, kedua tokoh nasional ini akan membicarakan isu-isu kebangsaan dan kerakyatan terkini, termasuk judicial review sistem pemilu proporsional terbuka, upaya penundaan pemilu, maupun upaya-upaya perubahan dan perbaikan yang harus dilakukan ke depannya.

“Pembentukan Sekretariat Perubahan, persiapan penandatangan MoU, dan deklarasi Koalisi Perubahan juga akan menjadi pokok bahasan di antara kedua tokoh ini,” jelasnya.

** Asep Saepudin Sayyev