30.1 C
Bogor
Monday, May 4, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 665

Gasak Rp985 Juta, Komplotan Pembobol ATM Diciduk

0

Bogor | Jurnal Bogor

Satuan Reserse Kriminal Polresta Bogor Kota berhasil meringkus dua dari empat pelaku pembobol anjungan tunai mandiri (ATM) di salah minimarket di Kelurahan Curug, Kecamatan Bogor Barat pada 30 Januari lalu.

Dua dari empat pelaku tersebut yang diamankan berinisial AS (35) warga Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara dan Antoni (35) asal Lahat, Sumatera Selatan. Sementara dua tersangka lain H dan J berstatus DPO.

“Keberadaan dua tersangka sudah kami endus, diduga mereka melarikan diri ke Palembang,” ujar Kapolresta Bogor Kota, Kombes Pol Bismo Teguh Prakoso kepada wartawan, Rabu (1/3).

Menurut dia, peristiwa pembobolan terjadi pada Senin (30/1), dan baru diketahui pada pukul 06.00 WIB. Ketika itu, karyawan minimarket masuk ke dalam toko, dan kaget melihat kondisi plafon dan mesin ATM rusak.

“Di dekat ATM ditemukan alat las dan tabung oksigen yang diduga digunakan untuk membongkar mesin ATM,” tegas Bismo.

Dalam aksinya, para pelaku berhasil menggasak uang di dalam ATM sebesar Rp285.450.000. “Jadi berdasarkan pengakuan pelaku, mereka menggunakan uang itu untuk kebutuhan sehari-hari,” ucap Kapolresta.

Sebelum menjalankan aksinya, sambung Bismo, mereka terlebih dahulu melakukan pengamatan lokasi. “Ternyata mereka juga melakukan kejahatan serupa pada minimarket di Cibubur,” katanya.

Di Cibubur, kata dia, kawanan tersebut menggasak uang Rp700 juta usai membobol mesin ATM. “Jadi mereka ini spesialis pembobol ATM,” ucapnya.

Tak hanya mengamankan pelaku, polisi juga menyita barang bukti berupa satu unit mobil Toyota Inova, satu tabung oksigen, sepasang kabel las, satu linggi, satu obeng, sebuah kunci inggris, satu tang, dan satu unit sepeda motor Yamaha Aerox.

Kombes Pol Bismo menegaskan bahwa para pelaku dijerat Pasal 363 ayat 3, 4, dan 5 KUHP dengan ancaman hukuman paling lama sembilan tahun penjara.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Bogor Kota, Kompol Rizka Fadhila mengatakan bahwa para pelaku sengaja meninggalkan peralatan untuk kejahatan untuk mempermudah pelariannya.

Kata dia, dalam penangkapan polisi juga terpaksa menembak salah satu pelaku lantaran membawa senjata tajam.

“Kemudian pada saat melakukan itu kita lihat situasi yang bersangkutan berusaha melarikan diri menggunakan motor karena dia lihat kawannya tertangkap akhirnya dia kabur dan dilakukan pengejaran dan akhirnya dilakukan pelumpuhan di tempat,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa kedua orang yang dibekuk berperan sebagai eksekutor. Sedangkan dua tersangka lain yang masih buron bertugas sebagai pengawas dan driver.

“Tersangka AS merupakan residivis,” tandas Kompol Rizka.* Fredy Kristianto

7 Desa Rawan Bencana, Camat Nanggung Imbau Waspada

0

Nanggung | Jurnal Bogor 

Beberapa pekan ini wilayah Kabupaten Bogor bagian barat secara terus menerus diguyur hujan yang tak menentu. Kondisi seperti ini tentunya masyarakat harus mewaspadai potensi bencana alam yang terjadi sewaktu-waktu, baik banjir, longsor maupun angin kencang.

Di wilayah Kecamatan Nanggung misalnya, ada beberapa titik di 7 desa yang rawan bencana. Dalam hal  mengantisipasi, dan kesiapan menghadapi bencana Camat Nanggung, Ae Saepuloh menginstruksikan jajarannya termasuk para kepala desa dan warga agar meningkatkan kewaspadaan ditengah musim penghujan seperti sekarang ini.

Dia membenarkan apa yang disampaikan Pemerintah Kabupaten Bogor bahwa sekarang ini memasuki musim penghujan, sehingga dirinya pun melakukan imbauan kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana alam.

“Iya memang betul sekarang ini bulan-bulannya masuk musim penghujan,” katanya.

Selain imbau warga waspada bencana, Ae Saepuloh juga menyampaikan, pentingnya meningkatkan komunikasi dan sinergitas di wilayahnya.

“Dan kami pun sama melakukan imbauan kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana,” ucapnya.

Imbauan itu, kata Ae Saepuloh, disampaikan melalui rapat koordinasi bersama semua leading sektor di wilayah Kecamatan Nanggung termasuk dengan para kepala desa.

“Imbauan kami sampaikan kepada masyarakat melalui rapat koordinasi dengan kepala desa di wilayah,” katanya.

Ae Saepuloh mengatakan, dirinya menginstruksikan kepada para kepala desa di wilayah Kecamatan Nanggung agar mengimbau warga mewaspadai bencana-bencana alam yang berkaitan dengan curah hujan tinggi seperti tanah longsor, banjir dan juga pohon tumbang.

“Memerintahkan kepala desa agar menyampaikan kepada warga untuk meningkatkan kewaspadaan di lingkungannya masing-masing,” pungkasnya.

** Andres

Achmad Fathoni Tinjau Langsung Lokasi Bendungan

0

Tanjungsari | Jurnal Bogor

Setelah kedatangan Ketua GP3A dari Tanjungsari beberapa waktu lalu, anggota DPRD Kabupaten Bogor Achmad Fathoni, langsung meninjau kegiatan yang sedang dilaksanakan oleh petani, Selasa (28/02/23).

“Kemarin saya meninjau langsung lokasi bendungan Cibeet yang mengaliri air langsung ke irigasi Cikompeni,” ujar Fathoni kepada Jurnal Bogor, Rabu (01/03/23).

Saat kunjungan kemarin, lanjut Aleg PKS tersebut, dirinya juga turut didampingi oleh UPT Pengairan dan mengingatkan agar pihak dinas yang seharusnya lebih peka terhadap kondisi air dan bendungan yang mengalir ke sawah-sawah petani.

“Harusnya dinas yang lebih cepat tanggap, karena merekalah yang setiap hari melihat kondisi bendungan tersebut. Hingga bisa disampaikan apa saja yang menjadi kebutuhan agar air itu terjaga dan bisa mengalir ke sawah-sawah petani,” tuturnya.

Masih menurut Fathoni, yang harus diperbaiki dalam bendungan tersebut adalah peninggiannya. Dan saat ini sedang dalam normalisasi dengan alat berat hasil pinjaman dari DPUPR kemarin.

“Alat berat sedang bekerja untuk melakukan normalisasi, karena pendangkalan akibat endapan lumpur. Dan yang saya kunjungi kemarin adalah bagian hulu dari bendungan,” imbuhnya.

Sementara Ketua GP3A Sarip Hidayat, mengucapkan banyak terimakasih kepada Achmad Fathoni yang mana berkat dia yang langsung menyambungkan ke Kadis DPUPR hingga bisa dipinjamkan alat berat untuk melakukan normalisasi aliran air dihulu.

“Saya sangat apresiasi, karena hanya pak Fathoni yang merespons keluhan kami dan mau turun langsung ke lokasi untuk melihat apa yang menjadi keluhan kami,” cetus Sarip.

Selain itu, sambung Sarip, petani merasa diringankan karena alat berat yang sebelumnya harus menyewa ke DPUPR, tapi berkat campur tangan Fathoni akhirnya dipinjam secara gratis, walaupun untuk biaya lain-lainnya tetap ditanggung GP3A.

“Yang saya herankan, yang kami benahi ini adalah waduk aliran air yang notabene milik Pemda. Tapi harus petani yang membenahi itupun tanpa adanya bantuan dana dari Pemda. Padahal, setiap hari orang Pemda itu pantau lokasi dan berfoto untuk laporan, tapi malah petani yang membenahi, aneh” pungkasnya.

** Nay Nur’ain

Investor di Ligarmukti Terkendala Tata Ruang

0

Klapanunggal | Jurnal Bogor

Tata ruang wilayah Desa Ligarmukti, Klapanunggal, Kabupaten Bogor yang hampir seratus persen lahan basah membuat sejumlah investor gagal berinvestasi di Ligarmukti. Pasalnya, dengan plotingan tata ruang tersebut, Desa Ligamurkti hanya dikhususkan untuk pengembangan sektor pertanian, sementara banyak investor yang ingin berinvestasi di Desa Ligarmukti dalam bidang pemukiman, industri dan pergudangan.

“Kalau investornya ada, cuma tata ruangnya tidak memperbolehkan. Jadi mereka tidak jadi bangun perumahan atau gudang di Ligarmukti karena pasti terbentur masalah perizinan,” kata Kepala Desa Ligarmukti, Samin kepada Jurnal Bogor, Rabu (01/03/23).

Samin mengatakan, selama ini ploting tata ruang di Desa Ligamurmukti dapat dikatakan seratus persen lahan basah, sehingga tidak memungkinkan untuk dibangun kawasan pemukiman, pergudangan bahkan pabrik. Hal ini lah yang menurutnya menjadi kendala utama Desa Ligarmukti untuk maju dan bersaing dengan desa lain yang ada di Klapnunggal, karena sulit berkembang.

“Total lahan Desa Ligarmukti itu 1.200 hektare, dan itu semua lahan basah,” paparnya.

Menurut Samin, peruntukan tata ruang wilayah tersebut juga berdampak terhadap pendapatan asli daerah dari sektor pajak bumi dan bangunan. Selama ini, pajak yang dikenakan di Desa Ligarmukti baru berupa pajak bumi. Hal itu lantaran di Desa Ligarmukti tidak ada bangunan komersial yang dapat dikenakan pajak.

“Dampaknya juga PBB kita hanya baru tanah saja, karena memang tidak ada bangunan komersil atau usaha yang bisa dikenakan pajak. Karena memang tidak ada,” ujarnya.

Menurutnya, sudah dua tahun dirinya memperjuangkan perubahan tata ruang wilayah Desa Ligarmukti ke Pemerintah Kabupaten Bogor dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Bogor. Namun sampai saat ini, hal tersebut belum juga direalisasikan oleh Pemkab Bogor.

“Sudah dua tahun saya ajukan perubahan ini, mudah-mudahan tahun ini bisa terealisasi. Karena saya juga sudah sampaikan ke Sekda maupun DPRD Kabupaten Bogor,” pungkasnya.

** Taufik/Nay

Peringati HGN, GMC Beri Parenting Soal Gizi

0

Klapanunggal | Jurnal Bogor 

Peringati Hari Gizi Nasional (HGN) pendukung Ganjar Pranowo, Ganjar Milenial Center (GMC), melakukan pemeriksaan gratis untuk balita serta  pemberian paket gizi. Kegiatan berlangsung di Perum Primavera Residence Blok L RT01 RW11, Desa Bojong, Klapanunggal, Cileungsi, Kabupaten Bogor. 

Kegiatan tersebut dilakukan sebagai upaya pengentasan kurang gizi atau stunting bagi balita untuk generasi Indonesia lebih baik. Dalam kegiatan ini juga sekaligus untuk meresmikan kampung kolaborasi.

“Kegiatan ini selain meresmikan kampung kolaborasi dan memperingati hari gizi nasional. Juga kamu lakukan kegiatan seperti menimbang berat badan anak, mengukur tinggi badan, dan sosialisasi pencegahan stunting,” kata Koordinator Wilayah GMC Jabodetabek, Edy Faturahman, Rabu (01/03/23).

“Semoga ini menjadi langkah awal kami untuk kolaborasi dengan masyarakat. Karena ini salah satu bentuk bahwa GMC terjun langsung ke masyarakat,” ungkapnya.

Edy menambahkan titik kampung kolaborasi pun akan ditambah sebagai bentuk pengabdiannya ke masyarakat.

“Harapannya kami bisa terus mengadakan kegiatan positif dengan kolaborasi bersama kampung lain. Sekaligus mensosialisasikan Ayah Ganjar sampai beliau terpilih di 2024 nanti,” ucapnya.

Sementara warga sekitar, Jamilah mengatakan kegiatan pengetahuan soal gizi untuk anak ini sangat dibutuhkan sekali. Mengingat, sebagian dari kami kaum ibu minim pengetahuan akan standar gizi pada makanan untuk anak.

“Bagi kami sebagai ibu-ibu atau orang tua, ilmu parenting ini sangat diperlukan khususnya tentang gizi anak. Semoga ke depannya bisa dilakukan lagi secara rutin,” pungkasnya.

** Nay Nur’ain

Kunjungi Desa Bojong Kulur, H.Mulyadi Pastikan Soal Normalisasi Sungai Cileungsi – Cikeas

0

Gunung Putri | Jurnal Bogor 

Anggota Komisi V DPR RI H.Mulyadi melakukan kunjungan di Desa Bojongkulur, Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Rabu (01/3/23).

Dalam kegiatan reses masa persidangan III tersebut, H.Mulyadi gigih memperjuangkan normalisasi Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas. Dia memaparkan tentang awal mulanya konsen terhadap upaya tersebut. 

“Beberapa warga korban banjir pernah menemui saya, untuk meminta dukungan agar program normalisasi Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas segera diwujudkan pemerintah,” ujar H.Mulyadi kepada Jurnal Bogor.

Lebih lanjut Aleg dari Partai Gerindra itu mengatakan, dirinya akan menindaklanjuti keinginan masyarakat. Kemudian dia mengundang Kepala Desa Bojong Kulur, Firman Riansyah, dan Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C), Puarman untuk melakukan audiensi dengan Komisi V DPR RI. 

“Saat audiensi itu mereka saya minta  menyampaikan permintaan masyarakat korban banjir akibat meluapnya Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas. Dan untuk memastikan program normalisasi tersebut berjalan sesuai tahapan, saya menginisiasi kunjungan spesifik 13 anggota Komisi V DPR RI pada Kamis (9/2/2023) lalu,” papar H.Mulyadi.

Atas upaya tersebut, sambung H.Mulyadi, mulai 1 Maret 2023 hingga Juli 2023 dilaksanakan tahapan normalisasi berupa Studi LARAP (Land Acquisition and Resetlement Action Plan).

“LARAP pada intinya adalah  sebuah kegiatan kajian terhadap dampak sosial ekonomi dalam rangka penyiapan lahan yang dilakukan Kementerian PUPR. Penyiapan lahan itu sendiri merupakan kewajiban pemerintah daerah, ” ujarnya.

Sementara, Ketua KP2C Puarman memberikan peta Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas sebagai simbol adanya dukungan Komisi V  DPR RI terhadap program percepatan normalisasi Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas.

“Alhamdulillah, dalam pertemuan ini H.Mulyadi memberikan bantuan untuk KP2C. Bantuan ini nantinya akan dialokasikan untuk perbaikan CCTV yang rusak dan juga operasional, ” paparnya.

Turut hadir dalam kegiatan reses tersebut, perwakilan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) Ir.R.R.Bambang Heri Mulyono, M.Si, serta perwakilan dari Pemda Kabupaten Bogor.

** Nay Nur’ain

Perkuat Resonansi Petani Millenial, Kementan Perkuat Jejaring Usaha

0

Yogyakarta | Jurnal Bogor

Lebih dekat dengan milenial, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YOMA) menggelar Temuwicara Petani Milenial wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Selasa (28/02).

Kegiatan dihadiri oleh sekitar 40 petani milenial dari Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Gunung Kidul, dan Kabupaten Bantul serta ratusan mahasiswa Polbangtan YOMA.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mendorong petani milenial untuk tetap kreatif dan inovatif dalam menghadapi tantangan global yang mengancam ketahanan pangan nasional. Syahrul berharap, anak muda mampu menggagas ide besar dalam meciptakan peluang baru di masa yang akan datang.

“Petani milenial itu harus kreatif dan aktif, jangan mau kalah sama petani kolonial. Yang namanya petani milenial itu punya pergaulan dan bergaulan dengan orang-orang baik. Yang saya senang dari petani milenial itu tidak mau kalah. Inilah saatnya kita Gas Pol,” ujar Syahrul.

Temuwicara menghadirkan narasumber antara lain Dedi Nursyamsi selaku Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Gatot Supangkat selaku Ketua Perasatuan Agronomi Indonesia (PERAGI) KOMDA DIY serta  Rayndra Syahdan Mahmudin sosok Petani Milenial binaan Kementerian Pertanian yang sukses menggeluti bisnis peternakan.

Pada sesi pertama, Dedi Nursyamsi memaparkan pentingnya berjejaring antar petani milenial. Pasalnya jejaring bukan hanya memperluas skala usaha namun juga memperluas ilmu.

“Temuwicara ini selain sebagai wadah untuk menambah ilmu juga sebagai fasilitasi bagi Petani Milenial untuk membangun jejaring. Sehingga jika ada teknologi baru atau inovasi yang menguntungkan maka dapat diadopsi dengan cepat,” ujar Dedi.

Dedi pun menegaskan untuk mendukung regenerasi petani di Indonesia, perlu di lakukan resonansi melalui kiprah petani millenial.

Rayndra  pun berkesempatan berbagi pengalamannya selama ini menggeluti dunia pertanian sebagai agripreneur muda. Rayndra mengatakan bahwa milenial memiliki karakteristik yang unik dan berbeda dari generasi sebelumnya, sehingga punya pola dan pendekatan yang berbeda dalam mebangun bisnis.

“Bisnis model milenial itu mengedapankan efisiensi dan digitalisasi, seperti apa yang sudah dipaparkan Prof Dedi sebelumnya. Milenial selalu berpikir bagaiman menjalankan bisnis seefektif dan seefisiensi mungkin, dengan modal yang tidak terlalu besar namun efektif menghasilkan keuntungan yang sebenar-benarnya. Oleh karena itu digitalisasi menjadi salah satu kuncinya,” papar Rayndra.

Rayndra menambahkan, sifat milenial yang sangat adaptif, inovatif, dan akseleratif juga tercermin dalam menjalankan usahanya. Milenial cenderung berani mengambil resiko sehingga dapat menjaring peluang besar.

Poin selanjutnya yang disoroti Rayndra adalah bagaimana Petani Milenial cenderung membangun klaster bisnis sehingga ekosistem bisnisnya lebih stabil.

“Berjejaring menjadi pola petani milenial mengembangkan bisnisnya, baik berjejaring dengan sesama petani, dengan pemerintah, maupun dengan off taker,” papar Rayndra.

Penelis ketiga yang berkesempatan memaparkan materi yaitu Gatot Supangkat yang hadir dari kalangan akademisi sekaligus praktisi di bidang agronomi. Dalam paparannya Ia lebih menekankan pemanfaatan teknologi dan keilmuan.

“Milenial yang mempunyai sifat adaptif terhadap teknologi ini menjadi peluang besar juga untuk mengembangkan penelitian bidang pertanian” jelas Gatot.

“Milenial cenderung mau mengambil resiko tinggi, hal ini juga mendukung para teknokrat untuk menguji coba teknologi terkini seperti smartfarming yang arahnya juga mengedepankan efektivitas dan efisiensi. Sesuai dengan kecenderungan petani milenial,” jelasnya.

Temuwicara disambut antusias oleh peserta, dibuktikan dengan banyaknya petani milenial yang mengajukan pertanyaan dan diskusi dengan narasumber yang hadir. Direktur Polbangtan YOMA, Bambang Sudarmanto selaku tuan rumah berharap para peserta mendapatkan manfaat maksimal dari kegiatan ini.

**Kementan/ppmkp

Smart Farming, KUR, dan Milenial Amunisi Andalan Kementan Bangun Pertanian Indonesia

0

Yogyakarta | Jurnal Bogor

Pemanfaatan teknologi pertanian, akses permodalan yang memadai dan regenerasi petani merupakan kunci dalam pembangunan pertanian di masa depan. Smart Farming, KUR dan Milenial merupakan andalan Kementerian Pertanian dalam membangun pertanian Indonesia masa depan.

Hal ini terungkap dalam sesi Kuliah Umum didepan Mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YOMA) pada Selasa (28/02).

Hadir sebagai pembicara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi. Mengusung tema “Smartfarming Mendukung Peningkatan Produktivitas Pertanian”, Mahasiswa dimotivasi untuk menjadi enterpreneur di bidang pertanian yang tidak hanya berorientasi pada produksi namun juga pada bisnis.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mendorong petani milenial untuk tetap kreatif dan inovatif dalam menghadapi tantangan global yang mengancam ketahanan pangan nasional. Syahrul berharap, anak muda mampu menggagas ide besar dalam meciptakan peluang baru di masa yang akan datang.

“Petani milenial itu harus kreatif dan aktif, jangan mau kalah sama petani kolonial. Yang namanya petani milenial itu punya pergaulan dan bergaulan dengan orang-orang baik. Yang saya senang dari petani milenial itu tidak mau kalah. Inilah saatnya kita Gas Pol,” ujar Syahrul.

Pada kesempatan Kuliah Umum tersebut, Dedi mengawali dengan memaparkan pentingnya regenerasi pertanian sebagai jaminan kesinambungan pertanian Indonesia.

“Data statiska Indonesia menunjukkan bahwa jumlah petani saat ini mencapai 34 juta , namun sayangnya didominasi oleh usia lebih dari 45 tahun yang tingkat pendidikannya cenderung rendah. Bagaimana mungkin cita-cita pembangunan pertanian dibebankan pada petani generasi kolotnial, mau tidak mau, suka tidak suka regenerasi petani harus dilakukan sekarang juga,” ujar Dedi.

Namun, di waktu yang sama petani milenial harus siap menerima estafet tersebut, harus siap secara mental dan skill. “Sekali lagi, pembangunan pertanian kita ke depan ada digenggaman kalian. Milenial harus  berkemampuan dan berjiwa eterpreneurship yang tinggi, maka pertanian ada di genggaman tangan kita.

“Peran kalian itu sangat penting, yang menjamin kesinambungan pertanian kita, yang menjamin kesinambungan pangan kita, yang menjamin kesinambungan Indonesia adalah kalian para Petani Milenial,” jelas Dedi.

Dedi memotivasi peserta kuliah umum yang hadir bahwa pertanian itu ditujukkan untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Oleh karena itu, pertanian jangan sekedar kewajiban apalagi keterpaksaaan,

“Pertanian itu tugas dan Jalan Hidup kita untuk memdapatkan duit sebanyak-banyaknya. Pertanian itu harus melalui bisnis, itu jalan dan peluang besar untuk mendapat duit sebanyak-banyaknya.”

Untuk menjadi enterpreneur pertanian yang mampu membangun sistem agribisnis, Dedi mengatakan setidaknya ada 3 amunisi penting yaitu, Smartfarming, Kredit Usaha Rakyat (KUR), dan Kolaborasi. Menurutnya 3 aspek tersebut akan menjadi bahan bakar membangun agribisnis Indonesia.

“Smartfarming dengan pemanfaatan bioscience, teknologi, dan Internet of things. Ini ranah dari ilmuwan dan pakar, ranah para milenial.

Sementara KUR, diibaratkan Dedi sebagai bahan bakar, “Motor tanpa BBM tidak akan jalan, sama halnya dengan usaha, modal adalah BBM nya. Tanpa modal, usaha akan sulit berkembang. Pemerintah sudah memfasilitasi para pengusaha untuk dapat mengkases KUR sebagai suntikan dana usahanya,” jelas Dedi.

Amunisi ketiga, lanjut Dedi, yaitu Kolaborasi dan membangun jejaring,

“Sekarang saatnya Berkolaborasi bukan kompetisi, bersanding bukan bertanding, merangkul bukan saling pukul, karena membangun ekosistem agribisnis itu butuh kerjasama. Rugi jika kita hanya memikirkan diri sendiri,” pesannya.

Pada akhir sesi, Dedi berpesan kepada seluruh hadirin bahwa sejatinya membangun agribisnis harus melihat dan mengawinkan beberapa aspek.

“Yang kalian harus pikirkan itu adalah berbagai aspek. Lihat pasarnya, mau dibuang kemana, mau dijual kemana hasil produksi pertanian yang kalian usahakan agar tidak  merugi,” pungkasnya.

Sementara Direktur Polbangtan YOMA, Bambang Sudarmanto yang bertindak sebagai moderator juga berpesan kepada mahasiswa agar senantiasa semangat berkecimpung dalam dunia pertania.

“Pertanian itu keren, tanpa pertanian berarti tidak ada pangan, dan tanpa pangan maka tidak ada kehidupan. Maka anak-anakku semua, saudara-saudaraku Petani Milenial, kalian harus bangga menggeluti dunia pertanian,” jelas Bambang.

** kementan/ppmkp

Ada Pejuang Lingkungan yang Berjasa di Kota Bogor

0

Mereka yang Ikut Berjasa
Keberhasilan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor meraih penghargaan Adipura tentu didukung berbagai element masyarakat, yang tergabung dalam berbagai kelompok ataupun komunitas.
Inilah, mereka-mereka yang ikut terlibat dalam kesuksesan Wali Kota Bogor, Bima Arya dan Wakilnya, Dedie A Rachim mencatat sejarah baru untuk Kota Hujan, di akhir masa jabatannya.

Satgas Naturalisasi Ciliwung
SEJAK dibentuk Bima Arya pada Oktober 2018 silam, para personel Satgas Naturalisasi Ciliwung terus bergerak, mengabdikan diri mengawal kebersihan sungai tersebut.
Tim Satgas, Suparno Jumar menjelaskan, mereka selalu turun ke sungai, setiap Senin sampai Jumat, sejak pagi hingga petang.


Jumlahnya kini 42 personel. Awal dibentuk, terdiri dari unsur TNI, ASN, komunitas, masyarakat. “Kemudian dalam proses perjalanannya saat ini, satgas hanya beranggotakan tim komunitas dan tim lokal,” tutur pria yang akrab disapa Pakde Jumar.
Mereka sadar, membersihkan Ciliwung tidak cukup dengan memungut sampah dari sungai saja. Sebab, sampah akan terus datang terbawa aliran air. Oleh karena itu, mereka juga bergerak mengedukasi masyarakat, untuk berhenti membuang sampah ke sungai, dan mulai mengelolanya.
Masyarakat mulai dikenalkan soal pemilahan sampah, dan pengelolaannya sesuai dengan jenis sampah.
Dia melihat, torehan Adipura mesti menjadi tonggak awal masyarakat Kota Bogor, untuk lebih semangat mengelola sampah. Dia pun menekankan kepada masyarakat, agar tidak terlena dengan prestasi yang sudah dicapai saat ini.

Bank Sampah Kota Bogor
UPAYA Pemkot Bogor mengatasi persoalan sampah ditempuh dengan berbagai strategi. Salah satunya melalui pengelolaan bank sampah.
Jabatan Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor, Hadi Suryana mengatakan, bank sampah memiliki peran signifikan, dalam pengelolaan sampah anorganik di Kota Bogor.
Sejak 2015, mereka sudah berhasil mereduksi sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga, sebesar 20 persen. Karena setiap harinya, bank sampah dapat mengolah hingga 7 ton sampah.

Selain pengelolaan secara langsung, bank sampah juga ternyata berdampak pada perubahan perilaku masyarakat. Kehadiran bank sampah, memicu meningkatnya kepedulian masyarakat pada sampah dan lingkungan.
“Itu membuat mereka lebih terpacu dan semangat mengumpulkan sampah. Sampah yang awalnya takndipansang kini justru menjadi pundi-pundi rupiah tambahan,” terang Hadi.
Dia menyebut hingga saat ini, Kota Bogor memiliki 127 bank sampah. Jumlah itu terdiri dari Bank Sampah Induk Berbasis Aparatur (BASIBA), dan bank sampah unit yang tersebar di seluruh kecamatan.
DLH juga masih sangat terbuka pada warga, yang ingin membuka bank sampah. Pemkot justru akan memfasilitasinya dengan memberikan sosialisasi, pendampingan, dan fasilitas berupa kantong pemilah, buku tabungan, dan timbangan digital.
“Terpenting sudah terbentuk kepengurusan nanti akan diperkuat legalitas dari surat keputudan dari kelurahan,” imbuh dia.

TPST 3R Katulampa
WARGA Perumahan Mutiara Bogor Raya-Graha Pajajaran, Kelurahan Katulampa juga punya andil dalam kesuksesan Kota Bogor meraih Adipura.
Sebab, mereka sudah bisa mengolah sampah rumah tangga, menjadi berkah atau bernilai ekonomis. Itu diwujudkan dengan terbentuknya Tempat Pembuangan Sampah Terpadu 3R (TPST 3R).
Hebatnya, TPST 3R di sana selalu menjadi tempat studi banding, dari dalam hingga luar negeri.
Ketua TPST-3R Perumahan Mutiara Bogor Raya, Bandung Sahari mengatakan, TPST 3R Katulampa ini, menjadi salah satu yang terbaik di Kota Bogor. Mereka bekerja bukan saja membantu dalam pengelolaan sampah lebih dari 900 keluarga, tetapi juga memberdayakan masyarakat sekitar sebagai petugas operator TPST.

Menurut Bandung, butuh proses untuk membentuk sistem pengolahan sampah di perumahannya. Misalnya saja, dengan selalu memberikan  penghargaan kepada operator terbaik, sebagai salah satu upaya untuk memberikan apresiasi ini kepada warganya.
“Apresiasi untuk petugas operator TPST-3R MBR-GR dilakukan setiap bulan (operator of the month, red), dan grand prize untuk Operator terbaik dalam satu tahun (Operator of the Year, red),” kata Bandung Sahari.
Mereka dianggap telah berjasa dalam membantu proses pengelolaan sampah, agar lingkungan perumahan menjadi bersih, dan sampah rumah tangga juga dapat teratasi.
“Kriteria utama dari apresiasi ini adalah kedisiplinan, ketekunan, dan keseriusan bekerja. Agar sampah rumah tangga dapat dikelola dan diproses lebih lanjut untuk dimanfaatkan Kembali,” katanya.
Tahun kemarin, pemuda berusia 27 tahun dari Kampung Katulampa Segok, bernama Syaeful, operator sampah TPST, yang menjadi pemenang sebagai Operator of the year. (*/fat)

Kukuhkan Pengurus PERAGI Yogyakarta, Kementan Motivasi Millenial Genjot Produktivitas Melalui Inovasi dan Kepakaran Ilmu

0

Yogyakarta | Jurnal Bogor

Kementerian Pertanian Republik Indonesia senantiasa mengedapankan kolaborasi antar pihak dan kerja-kerja kolaboratif dalam mewujudkan cita-cita pembangunan pertanian nasional. Salah satu bentuk kerjasama yang dilakukan yaitu dengan menggandeng Perhimpunan Agronomi Indonesia (PERAGI).

PERAGI sendiri merupakan organisasi profesi ahli agronomi yang didirikan pada tanggal 9 Agustus 1977 di Bogor, memiliki jejaring luas di setiap provinsi dan kabupaten di Indonesia. Anggota PERAGI berasal dari para peneliti dari perguruan tinggi dan lembaga litbang, birokasi pusat dan daerah, pelaku bisnis swasta, dan juga pelaku wirausaha. Termasuk para pioner wirausaha industri Start Up yang didukung oleh generasi milenial.

Kolaborasi Kementan dan PERAGI diharapkan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, dapat memberikan input positif pada pembangunan pertanian Indonesia.

“PERAGI jangan berhenti pada tataran teori. Peran dan kontribusi PERAGI harus strategis dan implementatif. Kementan bagaimanapun membutuhkan input dan saran. Kita tidak bisa bekerja dan berjalan sendiri,” kata Syahrul.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertani (BPPSDMP) sekaligus Ketua II Nasional PERAGI, Dedi Nursyamsi pada Selasa (28/2) mengukuhkan 35 Pengurus Komisariat Daerah (KOMDA) PERAGI Yogyakarta yang bertempat di Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YOMA).

Pada kesempatan tersebut, Dedi Nursyamsyi berpesan kepada seluruh pengurus KOMDA yang sudah dilantik dan diberikan amanat untuk dapat menjalankan tugas penuh dengan tanggungjawab.

“Samudra pembangunan pertanian kita terbentang sangat luas dan itu memerlukan uluran tangan para ahli agronomi Indonesia terutama yang tergabung dalam PERAGI. Singsingkan lengan baju, kita harus benar-benar turun ke gelanggang untuk menggenjot produktivitas kita,” pesan Dedi.

Ciri-ciri pertanian maju, lanjut Dedi, adalah peningkatan produktivitas dan penerapan inovasi teknologi dan peran dari sarana, kebijakan, dan peran SDM. Ia berharap kepada PERAGI sebagai wadah SDM yang berlatarbelakang keilmuan dan kepakaran dapat memberikan kontribusi yang kongkrit.

“Peran agronomis tidak bisa diabaikan, oleh karena itu saya mengajak kepada seluruh pengurus dan anggota PERAGI untuk menunjukkan bahwa PERAGI dengan dasar keilmuan dan kepakarannya memberikan kontribusi yang kongkrit terhadap pembangunan pertanian kita. Harus ada kontribusi inovasi dan teknologi dari para agronomis,” tambah Dedi.

Ia juga berpesan agar seluruh anggota dan pengurus PERAGI dapat memanfaatkan seluruh sumberdaya dan peralatan yang ada di Yogyakarta ini.

“Pertanian bukan hanya on farm atau off farm. Tapi yang perlu kita garap adalah Sistem dari hulu hingga hilir, termasuk di dalamnya subsistem-subsitem kecil lainnya karena setiap subsitem saling berkaitan dan saling mendukung. Tidak mungkin pertanian akan maju jika sarana dan prasara, nursery, benih bermutu dan berkualitas tidak diurus dengan benar.”

Kolaborasi menjadi poin penting selanjutnya yang disoroti Dedi. Ia menekankan agar PERAGI tidak bersifat eksklusif dan dapat melebur dengan berbagai pihak,

”Saya yakin dari segi kepakaran tidak diragukan lagi, namun yang perlu kita garisbawahi adalah kolaborasi dengan pihak lain. PERAGI harus mempunyai hubungan yang mesra dengan petani, penyuluh, pemerintah daerah, dan pelaku usaha dari upstream, midstream, hingga downstream,” ujar Dedi.

Sementara pada kesempatan yang sama Ketua KOMDA PERAGI Yogyakarta, Gatot Supangkat menyatakan bahwa pihaknya sipa menjalankan tugas dan amanat yang sudah diberikab,

“Tiga kunci utama kita bekerja yaitu Kebersamaan, kesungguhan, dan Keikhlasan selain itu juga dalam bekerja kita perlu Akseleratif, Kreatif dan Inovatif,” ujar Gatot.

** Kementan/ppmkp