24.6 C
Bogor
Wednesday, April 29, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 614

Hibah dari PBB, Fasilitas Pengolahan Limbah PCBs Pertama di Indonesia Diresmikan

0

Bogor | Jurnal Bogor

Persoalan lingkungan khususnya terkait permasalah limbah di Indonesia, mendapatkan perhatian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), khususnya limbah berbahaya PCBs (Polychlorinated Biphenyls).

Sebagai informasi, PCBs, merupakan satu dari sekian jenis senyawa kimia yang sangat berbahaya, tak hanya bagi lingkungan, tapi juga nyawa manusia. Badan dunia yang bermarkas di New York, Amerika Serikat itu, melalui United Nation Industrial Development Organization (UNIDO), Rabu (17/05/2023) menghibahkan fasilitas pengolahan non thermal PCBs kepada Indonesia melalui kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Namun untuk  pengelolaannya, kementerian pimpinan Siti Nurbaya Bakar itu mempercayakan kepada PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI). Pasalnya, perusahaan asal negeri Sakura, Jepang itu memiliki pengalaman mempuni dalam mengelola limbah bahan berbahaya dan beracun.

Fasilitas hibah dari PBB yang berada di lingkungan PPLI itu, bagian dari upaya strategis menghapuskan PCBs di Indonesia. Fasilitas yang didanai oleh Global Environmental Fund tersebut saat ini sedang proses mendapatkan Surat Kelayakan Operasional (SLO) dari KLHK.

Persemian fasilitas berteknologi canggih itu dihadiri Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya dan Beracun (PSLB3), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,Rosa Vivien Ratnawati, , Perwakilan UNIDO Indonesia,  Salil Dutt dan Presiden Direktur PPLI Yoshiaki Chida serta beberapa perwakilan perusahaan yang menjadi klien PPLI.

Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya dan Beracun (PSLB3), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,Rosa Vivien Ratnawati menegaskan komitmen Indonesia dalam mendukung pencapaian target global pemusnahan PCBs pada akhir tahun 2028.

“Sejak  22 tahun pasca ditandatanganinya Konvensi Stockholm, Swedia,  atau 14 tahun sejak ratifikasi, Kementerian LHK menegaskan sikapnya yang tidak ada yang berubah dari komitmen tersebut. Bahkan komitmen tersebut semakin kuat dan akan segera diintegrasikan dan diimplementasikan melalui penguatan berbagai mekanisme nasional terkait pengawasan kinerja pengelolaan lingkungan, diantaranya melalui mekanisme PROPER,” kata Vivien, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (17/5/2023).

Disinggung soal ditunjuknya PPLI sebagai penerima fasilitas hibah tersebut, Vivien  mengatakan, PPLI dinilai mampuni dalam mengelola limbah B3 D. Penunjukan itu pun sudah berdasarkan kajian mendalam. “Berdasarkan kajian kita, kualifikasi PPLI sebagai industri pengolahan limbah B3 terintegrasi sangat tepat. PPLI sudah berpengalaman dalam pengelolaan limbah B3,” tegas Vivien.

Untuk diketahui PCBs adalah senyawa yang sangat berbahaya dan beracun yang saat ini masih terdapat pada trafo dan kapasitor listrik, terutama pada minyak dielektrik (oli) yang terkandung di dalam kedua peralatan tersebut.

PCBs telah terbukti menyebabkan berbagai jenis kanker (karsinogenik), kerusakan syaraf, gangguan sistem pencernaan, memicu kemandulan dan ketidakseimbangan hormon (termasuk kebancian). Dalam dosis yang tinggi, PCBs dapat menyebakan kematian dan keracunan massal sebagaimana yang terjadi di Jepang pada tahun 1968.

PCBs mampu mencemari tanah, air dan udara mulai dari puluhan tahun hingga waktu yang tidak diketahui karena tidak dapat terhancurkan secara alami. PCBs juga mencemari rantai makanan karena bersifat bioakumulatif dan biomagnifikasi.

Bahkan, penelitian yang dilakukan oleh sejumlah peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Kementerian LHK mengungkap cemaran PCBs di Sungai Citarum, Ciliwung dan Cisadane.  PCBs telah mencemari puluhan jenis ikan konsumsi di sungai dan pesisir laut Indonesia, bahkan telah terdeteksi pada Air Susu Ibu di beberapa kota di Jawa dan Sumatera.

Menteri LHK telah menerbitkan peraturan tentang Pengelolaan Polychlorinated Biphenyls (PCBs) yaitu Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 29 Tahun 2020 tentang Pengelolaan PCBs yang secara tegas mengatur batas waktu pemusnahan PCBs. Fasilitas Pengolah PCBs yang diresmikan pada Rabu (17/5) merupakan salah satu hasil (output) penting dari Proyek PCBs antara Kementerian LHK dengan UNIDO.

“Fasilitas ini merupakan yang pertama dan satu-satunya di Indonesia yang mengadopsi metoda pemusnahan non-combustion atau non pembakaran. Jika metoda pemusnahan pembakaran menghasilkan emisi CO2 dan berpotensi membentuk senyawa beracun Dioksin dan Furan, maka teknologi non pembakaran sama sekali tidak akan menghasilkan emisi gas-gas yang berbahaya,” ungkap Vivien.

Perwakilan UNIDO Indonesia, Salil Dutt mengungkapkan bahwa UNIDO secara global mempromosikan penggunaan metoda non pembakaran untuk pemusnahan PCBs karena lebih ramah lingkungan dan sesuai dengan rekomendasi Konvensi Stockholm.

“UNIDO berkomitmen mendukung negara pihak untuk memusnahkan PCBs merujuk kepada Best Available Technology (BAT) yang direkomendasikan oleh Konvensi Stockholm, terutama metoda non pembakaran. Hingga saat ini UNIDO telah mendukung pemusnahan PCBs di 32 negara di Asia, Afrika, Eropa dan Amerika melalui skema kerja sama dengan GE,” kata Salil.

Salil Dutt menerangkan, total dana hibah GEF yang telah dikelola adalah sebesar USD 80 juta dan didukung penyertaan anggaran dari para mitra sebesar lebih dari USD 360 juta. “Sementara ini, jumlah limbah PCBs yang telah dimusnahkan adalah lebih dari 24.000 ton dan akan terus bertambah hingga akhir tahun 2028,” ujar Salil.

Peta jalan dalam mencapai penghapusan PCBs dari bumi Indonesia cukup menantang. Saat ini diperkirakan terdapat minimal 1,2 juta unit trafo aktif yang dimiliki oleh industri tanah air, terutama dari sektor yang membutuhkan dan mengelola energi listrik besar seperti industri pembangkitan, minyak dan gas, kimia, pulp dan kertas, besi baja, pertambangan serta manufaktur.

Dari jumlah tersebut, hampir 10 persen diantaranya diduga terkontaminasi PCBs dengan total potensi limbah sebesar lebih dari 800.000 ton yang sebagian besar bersumber dari kontaminasi silang PCBs (yaitu ketika trafo bersih terjangkit PCBs dari trafo lain yang terkontaminasi). Pola kemitraan public-private partnership merupakan pendekatan yang dipilih KLHK dan UNIDO untuk pengelolaan limbah PCBs non thermal di Indonesia.

“Sinergi antara KLHK, UNIDO, GEF dan PPLI dalam pembangunan dan pengoperasian fasilitas pemusnahan PCBs ini diharapkan akan menjadi sebuah lessons learned tidak hanya bagi Indonesia, namun juga bagi negara lain khususnya di Kawasan Asia Pasifik. Sinergi ini merupakan dukungan dan solusi nyata bagi perusahaan-perusahaan pemilik PCBs yang terdapat di Indonesia, yang memiliki komitmen dalam menjaga dan melindungi lingkungan menuju pembagunan berkelanjutan yang mensejahterakan, berkeadilan, dan dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat,” kata Vivien.

Presiden Direktur PPLI Yoshiaki Chida mengucapkan terima kasih atas kepercayaan UNIDO dan KLHK untuk mengelola fasilitas Ini. Teknologi pengolahan PCBs non thermal  ini merupakan aset bangsa dan menjadi salahsatu solusi bagi negeri dalam pengolahan limbah B3

“PPLI sendiri sudah hampir 30 tahun konsisten pada pengelolaan limbah industri di Indonesia. Perusahaan yang 95 persen sahamnya dikuasai oleh Dowa Ecosystem Co.Ltd dari Jepang dan 5 persen lainnya dimiliki  Pemerintah Indonesia tersebut merupakan mitra strategis dalam hal pengolahan limbah B3 di tanah air. Dan ini bagian dari misi penyelamatan bumi dari limbah berbahaya,” tegas Chida menutupi.

** Mochamad Yusuf

Hadapi El Nino, Kementan Siap Latih Petani dan Penyuluh

0

Jakarta | Jurnal Bogor

Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) kembali menggelar Pelatihan Sejuta Petani dan Penyuluh Volume 6 Tahun 2023 dengan tema “Antisipasi Pertanian Menghadapi El Nino”.

Pelatihan ini akan berlangsung tiga hari, dan akan dibuka secara resmi oleh Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo pada tanggal 23 Mei 2023 mendatang di Balai Besar Pelatihan Pertanian Lembang (BBPP Lembang).

Sebelumnya, Mentan Syahrul meminta para penyuluh untuk menjadi pejuang dan garda terdepan dalam meningkatkan produktivitas di saat musim kemarau panjang atau El Nino 2023.

Saat ini, kata dia, Kementan menyiapkan berbagai langkah antisipasi dan mitigasi dalam menghadapi El Nino. Di antaranya program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) yang disiapkan untuk petani agar terhindar dari kerugian bila terjadi gagal panen.

“Kita juga siapkan pembangunan infrastruktur pengairan, seperti embung/waduk, rehabilitasi irigasi tersier, pipanisasi, pompanisasi, hingga hibah pompa air di daerah rawan kekeringan,” kata dia.

Kementan juga, lanjut dia, menyediakan akses permodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). “Kemudian memperkokoh produksi kita dengan benih unggul dan pengembangan pupuk organik,” ujar dia.

Sementara itu, Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi mengatakan, El Nino merupakan fenomena alam yang tidak bisa dicegah dan dihindari. Meski begitu, El Nino harus tetap dihadapi dengan tenang, sabar, dan penuh semangat agar produksi pertani tidak terlalu terdampak.

“Fenomena El Nino pasti akan berdampak signifikan terhadap sektor pertanian, apalagi kalau kita tidak antisipasi, apalagi kalau kita tidak ada upaya-upaya untuk melakukan mitigasi dan adaptasi,” kata Dedi di Jakarta, Rabu (17/5).

Dedi mengatakan, El Nino wajib hukumnya diantisipasi dan dimitigasi. Caranya adalah petani, para praktisi pertanian, dan seluruh stakeholder pertanian harus mengerti dan memahami apa itu El Nino dan apa dampaknya terhadap sektor pertanian.

Dengan mengerti dan memahami El Nino,  lanjut dia, sektor pertanian akan tetap berdiri tegar.

“Oleh karena itu, saya minta kepada seluruh UPT untuk betul-betul mensupport habis-habisan kegiatan ini. Karena kegiatan ini penting bagiamana petani dapa memahami dan mengerti apa yang harus dilakukan untuk menghadapi El Nino,” imbuh Dedi.

** ppmkp

Eksekusi Lahan di Sukajaya, 200 Personil Diturunkan

0

Jonggol | Jurnal Bogor

Pengadilan Negeri Cibinong Kelas 1A melakukan eksekusi pengosongan dan penyerahan lahan dan bangunan sesuai dengan Nomor: 15/Pen.Pdt/Eks/2022/PN Cbi Jo. Nomor 59/Pdt.G/2018/PN Cbi Jo.Nomor 189/PDT/2019/PT.Bdg Jo.Nomor 2285/PDT/2020, yang seluruhnya berlokasi di Blok Sodong RT 01 dan RT 02, RW 05, Desa Sukajaya, Jonggol, Kabupaten Bogor, Selasa (16/5/23).

Tanah yang bersengketa antara Syahrir Sandun dan H.Mas Binsar Hernayadi sebagai tergugat, dengan Handi Santo sebagai penggugat. Akhirnya finis dengan Hendi Santo sebagai pemenang.

Adapun tanah yang pernah diserobot oleh para tergugat dan pernah diterbitkan Sertifikat atas nama Syahrir Sandun dengan No:87/SUKAJAYA yang diterbitkan tanggal 18 November 2002, No Surat Ukur : 116/SUKAJAYA/2002, Tanggal 08 November 2002, NIB : 10.09.13.21.0013. Penunjuk : Bekas tanah milik adat Letter C No.1207 Persil 59 D.II dengan luas tanah 50.000 M3.

Dan tanah atas nama H.Mas Bonsar Hernayadi dengan Sertifikat No:86/SUKAJAYA yang diterbitkan tanggal 18 November 2002, No.Surat Ukur : 117/SUKAJAYA/2002, Tanggal 08 November 2002 , NIB : 10.09.13.21.00136, Penunjuk : Bekas tanah milik adat  Letter C No/1217 Persil 59 D.II dengan luas 65.000 M3.

Camat Jonggol, Andri Rahman menjelaskan kegiatan eksekusi kali ini sudah bagian dari amar putusan Pengadilan Negeri. Karena kedua sertifikat sudah di PTUN-kan, hasilnya pun sudah dibacakan oleh pihak Pengadilan Negeri Cibinong. Walaupun untuk pelaksanaan eksekusi tidak dilakukan karena kondisi tidak kondusif sekalipun alat berat sudah diturunkan ke lokasi.

“Kami Muspika berada ditengah,karena persoalan itu sudah diselesaikan di PTUN. Mengingat, banyaknya masyarakat yang datang ke lokasi eksekusi, sehingga eksekusi fisik lahan tidak dilakukan hari ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Sekalipun, hasil tinjauan kami di lapangan masyarakat yang hadir dari pihak termohon bukanlah warga sekitar Sukajaya, tapi lebih condong warga luar daerah Kabupaten Bogor,” jelas Andri kepada Jurnal Bogor.

Dirinya meminta kepada masyarakat untuk tidak menyelesaikan masalah dengan kepala panas, apalagi sampai ada bentrokan fisik yang akan berakhir menjadi pidana. Apalagi tadi, sambung Andri, sudah ada kesepakatan dari kedua belah pihak yang diwakili oleh lawyer masing-masing untuk dilakukan mediasi terlebih dahulu antara kedua belah pihak.

“Personil yang ada di lapangan ada sekitar 200 orang, itu menyangkut polisi, TNI , Pol PP yang akan mengawal jalannya eksekusi lahan agar tidak terjadi keributan antara kedua belah pihak. Saya berharap kedepannya, tidak ada lagi hal seperti ini, jika sudah putusan PTUN baiknya legowo sehingga saat dilakukannya eksekusi tidak perlu lagi ada pengawasan ratusan personil di lapangan,” pungkasnya.

“Pada intinya, kami Muspika ada disini hanya sekedar menyaksikan proses eksekusi untuk memastikan keadaan kondusif,” tambah Andri.

** Nay Nur’ain

Jalan Sukamakmur Siap Direvitalisasi, H. Mulyadi Tinjau Bareng Kementerian PUPR

0

Sukamakmur | Jurnal Bogor 

Kementerian PUPR bersama H.Mulyadi DPR RI Komisi V, dan juga didampingi oleh Camat Sukamakmur dan Anggota DPRD Kabupaten Bogor H.Beben Suhendar, melakukan tinjau lapangan bersama untuk melihat kondisi jalan yang berstatus milik Kabupaten Bogor untuk dilakukan revilatisasi dan akan diambil alih oleh Anggaran APBN. Tinjau lapangan tersebut dimulai dari keluar Tol Citeureup, lalu menuju Jalan Raya Citeureup – Sukamakmur – Cianjur.

“Dengan adanya revisi Undang-Undang PU atas instruksi Presiden jika Anggaran APBN bisa untuk membantu Infrastruktur jalan milik Kabupaten. Oleh karena itu saya ada disini untuk melakukan tinjau lapangan akses jalan Sukamakmur yang akan dilakukan revitalisasi,”ucap Mulyadi kepada Jurnal Bogor, Selasa (16/5/23).

Dari awal perjalanan keluar Tol Citeureup menuju jalan Tajur – Sukamakmur , Sambung Mulyadi, dirinya sudah disuguhkan dengan kondisi jalan yang sangat rusak. Kerusakan jalan sendiri didominasi dengan lubang yang cukup dalam, begitupun akses jalan cukup padat, tapi kondisi lebar jalan tidak memadai.

” Padahal jalur ini sangat padat, apalagi saat hari libur akan didominasi oleh wisatawan yang hendak berwisata ke Sukamakmur. Namun, lebar jalan memang perlu untuk difikirkan dan akan dikaji oleh Kementerian PUPR nantinya,” kata Mulyadi.

Lebih lanjut Mulyadi mengatakan, dengan dilakukannya revitalisasi jalan nantinya. Khususnya warga Sukamakmur bisa lebih mudah dalam menjalankan roda perekonomian. Mengingat, masyarakat di Sukamakmur didominasi petani, begitupun untuk wisatawan, jika jalur ini sudah mendapatkan sentuhan revitalisasi, pastinya akan lebih meningkat lagi kunjungan wisata ke Sukamakmur. 

” Tadi saya tegaskan kepada Kementerian PUPR. Dan semoga pada bulan Juni tahun 2023 ini jalan Sukamakmur bisa dilakukan revitalisasi yang akan dianggarkan oleh APBN. Selain itu, saya juga ingin ada icon di Sukamakmur. Yakni, adanya jembatan khas di setiap perbatasan antara Kabupaten Bogor dan Cianjur, ” pungkas Mulyadi mengakhiri. 

Sementara, Salah satu warga Sukamakmur Amin mengaku senang dengan adanya niat dari Pemerintah Pusat untuk melakukan revitalisasi jalan dan pelebaran jalan di Sukamakmur. Karena, saat hari libur itu kondisi jalan disini pasti padat.

” Jadi kalo mau dilebarin ya seneng banget, apalagi jalannya lumayan panjang sekitar 28 kilo lebih yang akan direvitalisasi, ” cetusnya. 

** Nay Nuráin

Curug jadi Andalan Wisata di Sukamakmur

0

Sukamakmur | Jurnal Bogor

Kabupaten Bogor memang menyimpan banyak destinasi wisata yang layak untuk dikunjungi. Pasalnya, destinasi wisata tersebut mengandalkan pemandangan alam yang natural dan menyejukan mata.

Seperti potensi curug di Kecamatan Sukamakmur yang menyimpan berbagai keindahan alam. Selain pemandangan yang indah, suasana alam yang sejuk juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.

Namun pengembangan sektor wisata yang dapat menyumbang PAD tersebut masih menyimpan banyak kendala. Seperti kondisi infrastruktur jalan yang kurang layak dan terlalu sempit.

“Sukamakmur memiliki potensi desa wisata dan punya pemandangan yang sangat bagus serta udara yang tak kalah jauh dengan kawasan Puncak. Semua potensi wisata tersebut merupakan potensi alam yang sangat indah,” kata Camat Sukamakmur, Bakrie Hasan kepada Jurnal Bogor, Selasa (16/5/23).

Menurut dia, selain curug dan pemandangan alam, saat ini di Sukamakmur juga sudah terdapat banyak wisata buatan berupa Camping Ground. Kecamatan Sukamakmur memiliki 10 desa dan rata rata punya keindahan alam yang bisa dijadikan destinasi wisata.

“Saat ini tingkat kunjungan wisatawan dari luar Kabupaten Bogor atau luar Jawa Barat ke kawasan wisata yang ada di Sukamakmur sudah sangat banyak. Kedepannya kami tengah merancang semua potensi desa wisata yang ada di Kecamatan Sukamakmur bisa menjadi destinasi wisata nasional, ” ungkap Bakri.

Dirinya berharap banyaknya potensi wisata alam di Sukamakmur ini bisa diimbangi dengan kualitas infrastruktur jalan raya yang menjadi akses ke kawasan semua desa wisata di Sukamakmur.

“Kekurangan kami disini hanya persoalan infrastruktur saja, harus ada pelebaran jalan seperti jalur puncak,” pungkasnya. 

Beberapa kawasan wisata di Sukamakmur yang sudah jadi magnet kunjungan wisatawan saat akhir pekan atau liburan diantaranya, Villa Khayangan, Nirvana Valley, Green Villas, Curug Cipamingkis, Curug Ciherang, Situ Rawa Gede, Curug Cidulang, Curug Cibeureum, Curug Pakuan, Curug Golek, Curug Tiga Bidadari, Curug Leuwi Hejo, dan Taman Sukawangi.

** Taufik/ Nay

Warga Klapanunggal Swadaya Bangun Tembok Penahan Tanah

0

Klapanunggal | Jurnal Bogor

Warga di Dusun 1 Desa Klapanunggal, Klapanunggal, Kabupaten Bogor menggelar kegiatan gotong royong membangun Tembok Penahan Tanah (TPT). Hal itu guna mengantisipasi tanah longsor di lokasi yang berdekatan dengan Tempat Pemakaman Umum (TPU). Terlebih saat ini curah hujan tidak bisa diprediksi dan sangat mungkin terjadi hujan deras yang berpotensi terjadinya longsor.

“ Pembangunan TPT ini kami laksanakan guna mengantisipasi terjadinya longsor di sekitar area TPU di Dusun 1 yang terdiri dari 1 RW dan 4 RT. Karena saat ini curah hujan sering tinggi dan lama dan sangat memungkinkan terjadinya longsor kalau tidak segera kami bangun TPT,” kata Kepala Desa Klapanunggal, Ade Endang kepada Jurnal Bogor, Selasa (16/5/23).

Menurut dia, pembangunan TPT tersebut merupakan salah satu program prioritas Desa Klapanunggal karena kondisi tebingan tanah yang sudah curam dan sangat memungkinkan terjadinya longsor.

“Ya ini merupakan salah satu program prioritas desa. Karena memang kondisinya sudah
sangat mendesak untuk dilakukan pembangunan TPT,” ujarnya.

Ade mengatakan, yang patut diapresiasi dalam proses pembangunan TPT ini adalah semangat dan kepedulian dari warga Dusun 1. Dimana seluruh proses pembangunan TPT dilaksanakan secara gotong royong dan menggunakan dana swadaya dari masyarakat.

“Semua anggaran dari swadaya masyarakat. Semua karena kesadaran masyarakat akan pentingnya pembangunan TPT ini untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” tukasnya.

Ade mengatakan, program-program pembangunan di Desa Klapanunggal memang kerap melibatkan partisipasi dari masyarakat. Karena dengan begitu maka masyarakat akan lebih peduli dan memiliki tanggung jawab untuk menjaga setiap pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah.

“Saya berharap kepedulian dan partisipasi warga klapanunggal terhadap program program
pembangunan di Desa Klapanunggal semakin maksimal,” pungkasnya.

** Taufik / Nay

Pemuda Dayeuh Tolak Pembangunan Tower Seluler

0

Cileungsi | Jurnal Bogor

Pemuda Desa Dayeuh yang bermukim di sekitar pembangunan tower seluler di RT 02/02 sepakat menolak pembangunan tower seluler di wilayahnya. Hal itu lantaran pihak pemilik tower maupun kontraktor belum melakukan sosialisasi dan komunikasi terkait rencana pembangunan tower tersebut. Terlebih pihak kontraktor tidak bisa menunjukan izin pembangunan tower tersebut kepada warga.

“Selama itu belum memiliki izin dari Pemda maka kami akan menolak pembangunan tower tersebut. Terlebih pembangunan tower tersebut berada di tengah pemukiman,” kata salah satu pemuda Desa Dayeuh, Arul kepada Jurnal Bogor, Selasa (16/5/23).

Menurut dia, pihak pemuda Desa Dayeuh tidak mengetahui sejauh mana komunikasi antara pihak kontraktor dengan aparatur desa, baik tingkat RT, RW, kepala dusun maupun dengan kepala desa. Namun yang jelas, dengan unsur pemuda di RT 02/02 pihak kontraktor belum melakukan komunikasi bahkan sosialisasi terkait rencana pembangunan tower tersebut.

“Kami bukan mau menghambat pembangunan atau program dari pemerintah. Kami hanya meminta komitmen dan kejelasan dari pihak kontraktor atau pemilik menara jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada masa yang akan datang,” tukasnya.

Arul meminta, agar aparatur pemerintah dalam hal ini Satpol PP dapat bertindak tegas jika
kontraktor bersikeras melakukan pengerjaan. Karena hal ini menyangkut kepentingan warga RT
02/02 yang tinggal di sekitar lokasi pembangunan tower.

“Selama belum jelas kesepakatan atau izinnya kami minta agar pembangunan tower ini dihentikan terlebih dahulu. Sebelum adanya komunikasi dan sosialisasi kepada warga,” tegasnya.

Terkait kisruh pembangunan tower tersebut, sebelumnya Kepala Desa Dayeuh, Jamhali belum mau banyak komentar. Menurut dia, proses pengajuan persetujuan pembangunan tower memang sudah
disampaikan kepada dirinya selaku kepala desa. Namun ia mengaku belum memberikan persetujuan dan memberikan tanda tangan selaku kepala desa. “Sudah di saya pengajuannya. Tapi belum saya tanda tangan,” singkatnya. 

Taufik / Nay

Penguni Huntara di Sukajaya tak Betah Kegerahan

0

Sukajaya | Jurnal Bogor

Puluhan warga korban bencana tahun 2020 pengungsi hunian sementara (Huntara) di Desa Kiara Pandak, Sukajaya, Kabupaten Bogor mengalami kepanasan yang berlebihan.

Kondisi ini, selain cuaca panas yang meningkat, juga kondisi bangunan Huntap yang terbuat dari seng sehingga menyebabkan penghuni tersebut tidak betah berada di Huntara.

Salah satu penghuni Huntara Dwiyanti mengaku tidak biasanya cuaca akhir-akhir ini panas yang berlebihan sehingga akibat yang dialami itu warga makin tidak betah tinggal di pengungsian.

“Kalau misalkan panas mah panas banget ini aja diluar panas apalagi didalem, makanya kita sering nongkrong diluar sini karena meneduh cari angin karena di dalem udah berasa kaya di dalem mesin oven,” katanya, Selasa (16/05/2023).

Jadi kata dia, selain cuaca panas puluhan warga Huntara selalu diberikan harapan palsu oleh Pemerintah Kabupaten Bogor soal relokasi yang dijanjikan, hingga sudah tiga kali lebaran belum juga terlihat adanya pembangunan untuk di wilayahnya.

“Kalau udah adzan Dzuhur aja dari jam 11 sampai Ashar itu panas banget pokoknya, tinggal di Huntara sudah tiga kali lebaran hampir 4 tahun. Informasi dari pemerintah dengarnya sebentar lagi ada yang janjinya setelah lebaran tapi ternyata belum juga ada kepastian sampai sekarang,” jelasnya.

Akibat cuaca panas saat ini, sejumlah warga pun banyak merasakan gatal kulit dan kekurangan air bahkan selain itu didalam ruangan penghuni harus selalu dibersihkan akibat selalu dimasuki debu.

“Sering dirasain sama yang lain gatel-gatel tinggal dihuntara ini, selain itu susah air juga kalau panas satu hari aja sudah susah kering apalagi debu, ditinggal berjam-jam aja diberesin juga langsung banyak lagi,” pungkasnya.

** Andres

Mangkraknya Huntap di Nanggung, Genpar:  DPKPP Kabupaten Bogor Harus Bertanggung Jawab

0

Nanggung | Jurnal Bogor

Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat LSM Genpar meminta Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman Dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Bogor bertanggung jawab terkait pembangunan hunian tetap (Huntap) di wilayah Desa Nanggung, Kecamatan Nanggung, yang mangkrak dan penuh dengan kejanggalan.

Pasalnya, anggaran yang sudah sepenuhnya disalurkan kepada Pokmas sebagai pelaksana dan kepada aplikator. Namun penunjuk dan pemberi rekomendasi kepada aplikator yang lamban menunaikan kewajiban pekerjaan adalah DPKPP Kabupaten Bogor.

“Kemarin saya sudah diskusi panjang lebar dengan salah satu sumber terpercaya, dimana pemberi rekomendasi dan yang menunjukkan aplikator itu DPKPP Kabupaten Bogor,” kata Ketua Umum Genpar Sambas Alamsyah, Selasa (16/05/2023).

“Itu artinya, ketika ada kendala pembangunan yang terhambat karena ulah aplikator, DPKPP Kabupaten Bogor wajib bertanggung jawab,” tambah Sambas Alamsyah.

Sambas mendesak DPKPP Bogor terjun langsung mengecek lokasi pembangunan Huntap di wilayah Desa Nanggung.

Dia menegaskan, bahwa sampai dengan saat ini DPKPP belum meninjau lokasi yang dimaksud, sedangkan banyak kejanggalan yang ditemukan di sana.

“Kami berharap DPKPP Kabupaten Bogor terima tantangan kami terjun langsung mengecek ke lokasi, kita bongkar semua kebobrokan yang ada pada beberapa Huntap,” jelasnya.

Dia menegaskan, dalam hal ini pihaknya meminta agar untuk diberi pelajaran terhadap aplikator yang  menghambat proses pembangunan tersebut. 

“Dan kami tantang DPKPP Kabupaten Bogor untuk memutuskan kontrak terhadap aplikator yang secara jelas menghambat proses pembangunan, sedangkan anggaran sudah semua dikucurkan,” pungkasnya.

** Andres

Desa Cigudeg Fokus Peternakan dalam Program Ketahanan Pangan

0

Cigudeg | Jurnal Bogor

Pemerintah Desa (Pemdes) Cigudeg, Cigudeg, Kabupaten Bogor  melaunching program ketahanan pangan melalui anggaran dana desa tahun 2023.

Kegiatan program setiap desa yang diwajibkan untuk mengalokasikan 20 persen dari bantuan yang ada untuk ketahanan pangan pada tahun kedua ini di Desa Cigudeg fokus di bidang peternakan dan telah mendapat predikat bagus dari pihak kecamatan.

“Program ini tahun kedua di Desa Cigudeg, mudah-mudahan apa yang sudah terealisasi di tahun pertama itu bisa terus dipertahankan. Karena untuk di Desa Cigudeg pengelolaan dana desa ini sangat bagus, sehingga program ketahanan pangan untuk tahun 2023 ini juga akan bisa berjalan dengan baik,” kata Camat Cigudeg Pardi, kepada wartawan seusai mengikuti kegiatan launching, Selasa (16/05/2023).

Pardi menjelaskan, dari 15 desa untuk tahap pertama ada 8 desa yang mengalokasikan program ketahanan pangan, sisanya di tahap kedua akan dilaunching.

“Desa Cigudeg adalah desa pertama melakukan launching di Kecamatan Cigudeg,” ucap Pardi.

Pardi tak menampik, bahwa dalam hal ini di wilayah Kecamatan Cigudeg terkait dengan hambatan, rintangan dan kendala itu sudah pasti ada tetapi secara garis besar para kepala desa sudah bisa merencanakan, mengelola dan memanfaatkan bantuan tersebut.

Untuk program pemberdayaan masyarakat dalam rangka penanganan pasca Covid-19 tentunya dengan mengelola bantuan pemerintah untuk berbagai macam sektor.

“Tujuannya adalah memberdayakan masyarakat dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat di lingkungan yang disesuaikan dengan keahlian atau kondisi masyarakat sekitar,” katanya.

Sementara, Kepala Desa Cigudeg Andi Supriadi menjelaskan, anggaran dana desa tahun 2023 sebesar 20 persen yaitu 3.8000.000 juta lebih dialokasikan untuk sektor peternakan.

Diantaranya kata dia, ternak kerbau, ternak ayam petelur dan budidaya belut. Pihaknya telah menyiapkan 1 jantan dan 4 betina kerbau yang diurus oleh satu kelompok yang sudah terbiasa dengan ternak kerbau tersebut.

“Begitu pun ternak yang lain sudah ahli dibidangnya, para kelompok ini sangat optimis budidayanya itu akan berhasil,” jelasnya.

Dalam hal peternakan itu, pihak Pemdes Cigudeg telah menggandeng UPT Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) dengan harapan program ketahanan pangan bisa berjalan dengan baik.

** Andres