26.3 C
Bogor
Wednesday, April 22, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 529

Digempur Kunjungan Tamu dari Luar Pulau, Daman Huri Terus Berbenah

0

Gunung Putri | Jurnal Bogor

Terus menerus tanpa henti mendapatkan kunjungan dari luar Pulau Jawa. Pemerintahan Desa Gunung Putri, Kabupaten Bogor terus maju dan berbenah guna memberikan tampilan yang terbaiknya, baik dalam segi wajah kantor desa maupun inivasi-inovasi terbaru yang terus di tonjolkan. Seperti halnya pada Rabu (25/7/23), Pemdes Gunung Putri kembali menerima tamu sebanyak 70 orang dari Kabupaten Sinjay, Provinsi Sulawesi Selatan. Yang terdiri dari, kepala dinas, inspektorat, dan kepala desa.

Kunjungan studi tiru dari luar pulau yang bisa dibilang selalu ada di setiap bulannya tersebut, adalah bukti nyata jika prestasi yang diraih Desa Gunung Putri bukan kaleng-kaleng. Mengingat, Program desa digital yang menjadi andalannya dilirik sampai keluar pulau.

Kepala Desa Gunung Putri, Daman Huri mengatakan, ditengah gempuran kunjungan tamu yang ingin studi tiru ke Desa Gunung Putri membuat dirinya harus lebih berpikir keras untuk membuat manuver dan inovasi-inovasi terbaru. Sehingga, saat ada yang datang untuk studi tiru selalu ada tampilan baru dari desa.

“ Saat ini saya sedang membenahi tampilan wajah Kantor Desa Gunung Putri dengan menambah taman, insya Allah kedepannya akan menjadi desa wisata. Jadi, yang datang itu bisa sambil berswa foto dengan kita sediakan taman-taman,” ungkap A Heri sapaan akrabnya kepada Jurnal Bogor, Kamis (27/7/23).

A Heri menyebut, pihaknya juga sedang menyiapkan terobosan lain. Yang pasti apa yang sedang Pemdes sediakan semata-mata untuk kemajuan masyarakat Desa Gunung Putri. Dirinya punya keyakinan, jika saat ini selalu digeber untuk berinovasi dari anggaran-anggaran yang sudah disediakan pemerintah, kedepannya jika pun nanti dana-dana itu ditarik oleh pemerintah, Desa Gunung Putri sudah siap karena sudah memiliki PAD sendiri, dari inovasi bisnis yang menghasilkan cuan.

“ Kita tidak pernah tau regulasi bantuan dana ke desa ini akan berjalan sampai kapan, maka dari itu saya tidak mau terlena dengan bantuan-bantuan anggaran dari pemerintah. Apalagi saat ini, sistem itu semakin sulit. Jadi, jika kita tidak belajar untuk mandiri saat masih mendapat bantuan, kapan lagi, “ tandasnya.

“ Yang pasti, untuk saat ini Pemdes Gunung Putri akan terus berinovasi dan mencari peluang-peluang bantuan yang bisa diberdayakan untuk pembangunan kantor maupun pemberdayaan masyarakat desanya. Ide saya masih banyak, hanya saja terkendala dana yang terbatas, untungnya selalu ada jalan dan uluran tangan-tangan donatur hingga bisa terus berjalan walaupun pelan-pelan,” tambahnya.

** Nay Nur’ain

Lagi, Sungai Cileungsi Tercemar Limbah Berbahaya

0

Cileungsi | Jurnal Bogor

Kasus pencemaran di Sungai Cileungsi seperti persoalan yang tidak kunjung selesai. Dari waktu ke waktu pencemaran sungai yang berasal dari limbah industri kerap terjadi dan terus berulang. Minimnya pengawasan dari pemerintah dan tidak adanya tindakan tegas dari penegak hukum, membuat pihak perusahaan kerap memilih untuk membuang limbah ke sungai tanpa memikirkan dampak lingkungan.

Keberadaan perusahaan yang dibangun di dekat sepadan Sungai Cileungsi membuat Sungai Cileungsi menjadi lokasi ideal untuk membuang limbah dari perusahaan.

Seperti yang terjadi di wilayah Citeureup sebagai salahsatu daerah lintasan Sungai Cileungsi. Aliran sungai tersebut diduga tercemar limbah dari pabrik yang mengakibatkan ribuan ikan milik warga banyak yang mati.

“Ini ikan saya pada mati pasti karena terkena limbah berbahaya dari pabrik. Tapi kami belum tahu pabrik mana yang membuang limbahnya ke sungai Cileungsi ini,” kata Adul, salah satu warga Citeureup kepada wartawan, Kamis (27/7/2023).

Menurut dia, selama ini tidak ada upaya yang sistematis dari Pemerintah Kabupaten Bogor dalam menangani persoalan pembuangan limbah berbahaya yang dilakukan oleh perusahaan. Hal itu dibuktikan dengan sering terulangnya masalah yang sama dari waktu ke waktu.

“Belum lama aliran sungai Cileugnsi yang melintas di wilayah Gunung Putri yang tercemar dan ribuan ikan juga mati. Ini kan bukti bahwa penanganan pencemaran lingkungan ini belum tertangani secara baik,” ujarnya.

Adul mengatakan, peristiwa pencemaran diketahui warga pada Rabu (26/07) malam, hal itu terlihat dari banyaknya ikan milik warga yang mengambang dan mati. Warga yang mengetahui informasi tersebut langsung melaporkannya kepada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor.

“Kita langsung laporkan ini ke Gakum DLH Kabupaten Bogor agar segera ditindaklanjuti. Dan sampai Kamis, kondisi ikan juga masih banyak yang mati,” tukasnya.

Menanggapi hal itu, Anggota DPRD Kabupaten Bogor, Achmad Fathoni mengatakan, persoalan pencemaran sungai Cileungsi harus menjadi prioritas Pemkab Bogor untuk segera diselesaikan. Pasalnya, kejadian ini kerap terjadi dan terus berulang dan belum ada solusi yang paten.

“Saya pikir banyak pihak yang harus dilibatkan untuk menyelesaikan persoalan pencemaran ini secara tuntas. Baik pemerintah, asosisasi pengusaha, perusahaan, warga, pihak kepolisian maupun penggiat lingkungan hidup. Sehingga solusi yang dikeluarkan nantinya benar-benar dapat menyelesaikan permasalahan ini secara tuntas,” singkatnya.

** Taufik/Nay

Soal Labs School Kaizen, Ini Penjelasaan BPKAD

0

Cibinong | Jurnal Bogor

Sekolah Labs School Kaizen yang berada di Desa Bojong Kulur, Gunung Putri, Kabupaten Bogor, sempat menjadi bahan pembicaraan warga Perumahan Bumi Mutiara. Pasalnya, selain letak sekolah tersebut yang menggunakan lahan fasos fasum, pihak sekolah pun dianggap kurang komunikatif terhadap lingkungan.

Mendapati hal itu, Kepala Seksi Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Bidang Aset, Eko membenarkan Labs School Kaizen memang menggunakan lahan aset milik Pemda, dan keberadaan sudah lama sekali. Adapun luasan yang digunakan oleh sekolah tersbut ialah sekitar 5000 meter lebih, dengan nilai kerjasama sebesar Rp90 jutaan per tahun.

“Sekolah tersebut sudah lama sekali berdirinya, kenapa baru dipersoalkan sekarang oleh warga. Adapun hal-hal yang menurut warga itu idak komunikatif baiknya dibicarakan secara kekeluargaan, tidak dengan saling menyalahkan apalagi memojokkan,” ungkap Eko kepada Jurnal Bogor, Kamis (27/7/23).

Eko menyebut, untuk saat ini pihaknya memang sedang dikejar target untuk mencatat aset-aset milik Pemda yang pernah atau masih dipinjam pakai oleh pihak ketiga, begitupun untuk aset Pemda dari fasos fasum perumahan yang banyak digunakan oleh sekolah swasta sudah disurati untuk segera ditinggalkan per tahun 2027 mendatang.

“Sudah ada aturan dari Kemendikbud ya, untuk yayasan pendidikan harus menggunakan lahan sendiri, tidak lagi diperbolehkan untuk menggunakan lahan Pemda, sejauh ini kami sudah bersurat kepada semua sekolah pihak swasta untuk meninggalkan lahan Pemda yang dipakai sekolah swasta, dan kami beri waktu sampai tahun 2027 mendatang,” bebernya.

“ Jadi, jika mengikuti aturan, sudah tidak boleh lagi ada sekolah swasta atau yayasan yang menggunakan lahan milik Pemda per tahun 2027 mendatang. Mereka harus meninggalkan lahan tersebut dan memberikan gedung yang mereka bangun kepada Pemda, tanpa terkecuali,” tandasnya.

** Nay Nur’ain

Masuki Musim Kemarau, Sungai dan Sawah di Sukamakmur Mulai Kering

0

Sukamakmur | Jurnal Bogor

Sungai Ciherang yang melintas di Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor kini mulai surut imbas musim kemarau dan kurangnya curah hujan di wilayah tersebut. Hal itu terlihat dari kondisi badan sungai yang kini telah kering dan menyisakan bebatuan. Selain, sungai puluhan hektar lahan pertanian padi juga terkena dampak kekeringan. Pasalnya, dengan tidak adanya pengairan maka lahan tersebut sudah tidak bisa lagi difungsikan untuk pertanian.

“Kalau masih hujan air sungai biasanya deras, ini karena mulai kemarau jadi kecil,”  kata salah satu warga Sukamakmur, Hasan kepada wartawan, Kamis (27/7/23).

Menurut dia, untuk pasokan air ke pemukiman dan persawahan sementara ini masih aman. Namun jika hujan tak kunjung turun dalam waktu lama, warga dan lahan pertanian dipastikan akan mengalami kesulitan pasokan air.

“Kalau kemarau lama ini sungai surut, dari sananya dari gunungnya gak ada airnya. Dulu pernah sampai tujuh bulan,” kata Hasan.

Jika sungai benar-benar kering, sambung Hasan, warga biasanya menggali lubang di area sungai mencari air bersih seadanya. Sedangkan di Desa Pabuaran dampak kekeringan membuat puluhan hektare lahan pertanian sudah tidak bisa lagi difungsikan.

Sementara, Kepala Desa Pabuaran, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, Deden Aden mengatakan bahwa saat ini pihaknya tengah berkoordinasi dengan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (Distanhorbun) Kabupaten Bogor untuk memfungsikan kembali area pertanian tersebut.

“Jadi sudah 3 tahun lebih lahan sawah seluas 40 hektare ini beralih fungsi, bahkan ada sebagian sawah yang sudah mati atau tidak lagi digunakan karena tidak memiliki pasokan air,” ujarnya.

Sementara itu Plt Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Bogor, Tatang Mulyadi membenarkan bahwa saat ini pihaknya tengah meninjau lokasi lahan sawah yang beralih fungsi.

“Sebelumnya kita sudah menerima laporan adanya lahan sawah di Desa Pabuaran dengan luas 40 hektare kondisinya mati karena tidak mendapatkan pasokan air. Setelah kita cek rupanya terdapat irigasi yang hancur karena tertimpa reruntuhan longsor,” katanya.

Bahkan ia pun akan berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Bogor agar irigasi di Desa Pabuaran tersebut kembali dibangun. “Nanti kita berkoordinasi dengan PUPR agar irigasi menuju lahan persawahan ini segera diperbaiki,” tukasnya.

Taufik / Nay

Komitmen Perbaiki Kualitas Lingkungan, Kementan Gelar Pelatihan Pertanian Ramah Lingkungan

0

Malang | Jurnal Bogor

Saat ini dunia menghadapi tantangan yang luar biasa dampaknya. Seluruh masyarakat dunia baru saja bisa dikatakan lolos dari Pandemi Covid-19.

Namun dampak utamanya terkait kecukupan pangan masih harus diatasi. Dalam satu dekade terakhir ini, masalah perubahan iklim, pemanasan global dan penurunan kualitas lingkungan hidup juga menjadi isu yang sering diperbincangkan.

Penurunan kualitas lingkungan ini berpotensi mengganggu keberlangsungan kehidupan dan kesejahteraan manusia.

Hal ini seperti dikatakan oleh Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) saat membuka pelatihan sejuta petani dan penyuluh volume 7 dengan tema pertanian ramah lingkungan secara virtual.

“Pertanian ramah lingkungan merupakan sistem pertanian berkelanjutan yang bertujuan untuk meningkatkan dan mempertahankan produktivitas tinggi dengan memperhatikan pasokan hara dari penggunaan bahan organik, minimalisasi ketergantungan pada pupuk anorganik, perbaikan biota tanah, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) berdasarkan kondisi ekologi, dan diversifikasi tanaman,”kata Mentan.

Pemahaman tentang pertanian ramah lingkungan akan diharapkan dapat menumbuhkan “sense of crisis” yang memotivasi untuk merapatkan barisan menghadapi tantangan pertanian saat ini.

“Smart farming dan pengembangan Smart Green House (SGH) berbasis pemanfaatan Internet of Thing (IoT) adalah salah satu solusi yang berperan penting dalam membangun pertanian yang maju, mandiri, dan modern. Hal ini seperti yang tengah dikembangkan oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian bekerjasama dengan Pemerintah Korea Selatan,”lanjut SYL.

Menteri Pertanian, SYL, sangat mengapresiasi upaya kerjasama dari Pemerintah Korea dan BPPSDMP, yang memberikan hibah pengembangan smart farming dalam proyek “Enhanching Millenials Farmers Income by Adopting K-Smart Farm in Indonesia”.

Melalui Program tersebut pertanian tidak lagi dilakukan di lahan dengan skala kecil dan sulit dikontrol. Oleh karena itu, agenda intelektual Saudara harus meningkat dalam mengadopsi dan meniru teknologi modern tersebut sehingga akan berdampak pada meningkatnya minat petani millenial di dunia pertanian yang bermuara pada peningkatan produksi dan pendapatan usaha tani,”tegas Mentan.

Sementara itu, dalam sambutan Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi, mengatakan, Kelestarian sumberdaya lahan pertanian dan mutu lingkungan serta keberlanjutan sistem produksi merupakan hal yang kritikal bagi usaha pertanian di negara tropis, termasuk Indonesia.

“Pertanian ramah lingkungan merupakan sistem pertanian yang mengelola seluruh sumber daya pertanian dan input usaha tani secara bijak, berbasis inovasi teknologi untuk mencapai produktivitas berkelanjutan dan secara ekonomi menguntungkan dan berisiko rendah,”kata Dedi.

Pembangunan pertanian diarahkan   pada   pencapaian   ketahanan pangan    sekaligus    juga    memperhatikan keamanan    pangan.    Konsep    pertanian ramah  lingkungan  tersebut  bermuara  pada kualitas  tanah   yang  mempengaruhi: produktivitas   tanah   untuk   meningkatkan produktivitas   tanaman   dan   aspek   hayati lainnya; memperbaiki kualitas lingkungan dalam menetralisasi kontaminan-kontaminan  dalam  tanah  dan produk    pertanian dan kesehatan manusia    yang    mengkonsumsi    produk pertanian.

Dedi menjelaskan, petani seringkali menggunakan pestisida maupun  pupuk kimiawi yang ugal-ugalan, sehingga berakibat buruk pada pertanian dan lingkungan. Pestisida bukan hanya mematikan hama serta penyakit tanaman, tetapi juga sekaligus mematikan mikroorganisme yang bermanfaat bagi kesuburan tanah. Dan akibat penggunaan yang diambang batas bisa menghancurkan lingkungan

“Pengelolaan pertanian secara berlebihan dan ugal ugalan menyebabkan tanah kita hancur, udara hancur, air hancur dan lingkungan kita hancur, ” tegas Dedi.

Pelatihan ini dilaksanakan secara serentak di UPT Pelatihan Pertanian, Kantor Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten/kota, dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di seluruh Indonesia ataupun lokasi titik kumpul lainnya selama 3 hari sejak tanggal 26 – 28 Juli 2023 secara online dan diikuti oleh 1.837.371 orang dari target 1.800.000 peserta dengan persentase mencapai 102,08% yang terdiri dari petani, penyuluh, dan insan pertanian lainnya.

Narasumber Pelatihan Sejuta Petani dan Penyuluh berasal dari BPPSDMP, BSIP; Yayasan Inisiatif Indonesia Biru Lestari (WAIBI) didukung praktisi berkompten di bidangnya.

** bbpmkp

4 Warga Kiarasari Terjebak di Tambang Emas Rakyat Banyumas

0

Sukajaya | Jurnal Bogor

Sebanyak 8 orang warga Kabupaten Bogor dikabarkan terjebak di dalam Tambang Emas Rakyat, Banyumas, Jawa Tengah, Selasa (25/07) pukul 23.00 Wib. Dari 8 orang tersebut, 4 orang diantaranya merupakan warga Desa Kiarasari, Sukajaya.

Saat dikonfirmasi, Kepala Desa Kiarasari, Jaro Ahyar Suryadi membenarkan warganya yang disampaikan di beberapa media. “Kalau datanya warga yang disebutkan itu benar dan sudah dicek bahwa mereka merupakan warga Desa Kiarasari,” Jaro Ahyar dijumpai di ruang kerjanya, Rabu 26/07/2023 malam.

Jaro Ahyar mengatakan, bahwa setelah mendapatkan informasi terkait hal tersebut, dirinya langsung memastikan ke jajarannya untuk melakukan pengecekan kepada keluarga yang bersangkutan.

“Saya sudah mencoba menghubungi salahsatu warga kami yang ada disana (Banyumas) untuk mengetahui perkembangan kejadian tersebut,”ujarnya.

Meski begitu, Jaro Ahyar mengaku sampai saat ini dirinya belum menerima laporan secara remi dari pihak terkait dari wilayah Banyumas.

“Saat ini kami masih menunggu kabar dari pihak berwenang disana, karena sampai saat ini kami sempat berkomunikasi saja dengan warga yang ada disana,” Bebernya.

Dia berharap 4 orang warga Desa Kiarasari yang dikabarkan terjebak didalam Tambang Emas Rakyat itu dapat segera ditemukan.

“Kami selaku Pemerintah Desa masih menenangkan pihak keluarga dan kami berharap warga kami ditemukan dalam kondisi selamat dan sampai saat ini kami masih menunggu perkembangan selanjutnya, dan harapan kami warga kami ditemukan dalam kondisi selamat,” katanya.

Menurut informasi yang didapat 8 orang penambang dinyatakan terjebak di dalam Tambang Emas Rakyat di wilayah Banyumas.

Dari informasi yang dihimpun Identitas 8 orang warga Kabupaten Bogor yang terjebak di dalam tambang emas itu itu adalah 1 orang warga Desa Cisarua, Kecamatan Nanggung bernama Muhammad Rama Abd Rohman (38), 2 orang warga Desa Cisarua, Kecamatan Sukajaya atas nama Jumadi (33) dan Cecep Suryana (29th), serta 1 orang warga Desa Kiarapandak, Kecamatan Sukajaya atas nama Mad Kholis (32).

Serta 4 orang merupakan warga Desa Kiarasari, Kecamatan Sukajaya yaitu Marmumin (32) Muhidin (44), Mulyadi (40 th), Ajat (29).

Dari pantauan di Desa Kiarasari, tampak Kepala Desa dan jajarannya hingga Rabu malam masih berada di kantor desa dan dari informasi yang didapat tetap mereka berjaga di kantor desa guna menunggu perkembangan terkait 4 orang warganya yang dikabarkan terjebak di Pertambangan Emas Rakyat di wilayah Banyumas tersebut.

** Andres

Pemerintah Desa Kiarasari Bakal Datangkan Persib Legend

0

Sukajaya | Jurnal Bogor

Pemerintah Desa Kiarasari, Sukajaya, Kabupaten Bogor akan kedatangan tim sepak bola dari Bandung yakni Persib Legend pada 18 Agustus 2023 mendatang. Para pemain Persib Legend akan berlaga kontra Kiarasari FC di lapangan Perjuangan Pasben Kampung Pasir Bendera, Kiarasari.

“Iya betul nanti kita akan kedatangan Persib Legend melawan tim kesebelasan Kiarasari FC,” kata Kepala Desa Kiarasari Jaro Ahyar, Rabu (26/07/2020).

Dia mengatakan, kedatangan Persin Legend tersebut untuk memeriahkan rangkaian HUT RI ke-78 dan ajang silaturahmi. Dia menegaskan, bahwa pertandingan Persib Legend bukan cari juara melainkan sebagai bentuk hiburan dan silaturahmi masyarakat Desa Kiarasari.

“Ini bukan untuk ajang cari juara tetapi kita ajang hiburan dalam rangkaian merayakan 17 Agustus 2023,” katanya.

Pihaknya juga telah mempersiapkan dan menyeleksi pemain dari kalangan anak-anak muda yang memiliki hobi sepak bola.

“Dalam hal ini kita juga membuktikan bahwa Kiarasari ini anak-anak muda terhadap sepak bola cukup banyaknya yang hobi,”  jelasnya.

Ahyar menjelaskan, bahwa masyarakat Desa Kiarasari cukup antusias dalam kegiatan berbagai hal, terlebih untuk merayakan hari kemerdekaan yang sakral tersebut.

Bahkan, ini adalah bentuk kekompakan dengan para tokoh baik pemuda maupun masyarakat

“Desa kita ini paling ujung, tetapi di puncak 17 Agustus akan merayakan upacara bendera di desa kita sendiri dan perlombaan dengan kekompakan masyarakat seperti menunjukkan hasil pertanian dan kegiatan keagamaan dari semua kalangan mendukung,” jelasnya.

Sementara manager Tim Kiarasari Ruyung Permana mengapresiasi Pemerintah Desa Kiarasari yang turut mendukung penuh kegiatan tersebut. Menurut Ruyung selain untuk menjalin tali silaturahmi antarmasyarakat Kiarasari juga untuk memberikan semangat terhadap anak-anak mudanya.

“Nanti akan semua satu tim dari Persib Legend tentu ini untuk meningkatkan silaturahmi warga Desa Kiarasari supaya bersatu,” katanya.

Sebelumnya pihaknya juga mengadakan turnamen di tingkat dusun yang mana masyarakat sangat kompak dan mendukung.

“Ini untuk memberikan semangat lagi kepada anak-anak muda dan mudah-mudahan sepakbola di Desa Kiarasari lebih maju,” pungkasnya.

** Andres

Perbaikan Jalan ke Malasari Sedang Tender Ulang

0

Nanggung | Jurnal Bogor

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bogor, Nurodin memberikan penjelasan mengenai akses jalan menuju Desa Malasari, Nanggung, Kabupaten Bogor sedang dilakukan tender ulang. Menurut dia, ruas jalan raya Curugbitung – Sukabumi itu memiliki panjang sekitar 28 kilometer.

“Alhamdulillah kita perjuangkan bersama dengan teman-teman dan juga memang usulan dari musrenbang tingkat desa maupun kecamatan dan kami juga kawal akhirnya nembus angkanya di 7,9 miliar,” kata Nurhodin saat dihubungi wartawan, Rabu (26/07/2023).

Pria yang akrab disapa Jaro Peloy itu mengatakan bahwa rancangan APBD itu awalnya Rp 9 miliar tetapi ada rasionalisasi akhirnya menjadi angka Rp 7,9 miliar.

“Kalau nggak salah ini dalam tahap lelang memang lelang ini mungkin harus betul-betul hati-hati, di samping memang nominal terlalu besar karena kadang-kadang misalkan pemenang tender yang tidak melihat eksisting lapangan. Karena melihat ini besar akhirnya dia akan menawar dengan jauh gitu, nah ini kan akhirnya suka pekerjaan di bawah akhirnya jomplang mungkin saja. Tapi ini hanya  pemikiran saya dari beberapa kali pengalaman saya melihat kegiatan-kegiatan infrastruktur yang kadang-kadang akhirnya jadi dari kualitas,” katanya.

Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Bogor itu menyampaikan, medan jalan di ruas Jalan Curugbitung – Sukabumi kondisinya memiliki tanjakan dan turunan yang curam.

“Karena kadang-kadang memang penawar penawar itu kegiatan kalau melihat medan kan luar biasa kan naik turun gunung perusahaan itu harus betul-betul dilihat. Kadang juga ada perusahaan-perusahaan yang kemudian tidak melihat itu,” katanya.

Lebih lanjut, Jaro Peloy mengatakan, pemenang lelang pada rencana proyek pekerjaan infrastruktur jalan itu dapat dimenangkan oleh prusahaan yang kredibel agar pelaksanaan pembangunan jalan itu nantinya dapat berjalan dengan baik dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

“Jadi, mungkin saja PUPR menselektif, menseleksi itu lebih selektif untuk bisa mengecek terlebih dahulu sebelum mereka memenangkan tender itu untuk mengajak langsung ke lapangan,” pungkasnya.

** Andres

Cileungsi Masih Rawan Banjir

0

Cileungsi | Jurnal Bogor

Banjir merupakan salah satu persoalan yang kerap terjadi di kawasan permukiman seperti Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor. Banjir kerap menjadi ancaman yang ditakuti warga ketika hujan deras turun. Umumnya, banjir terjadi karena luapan saluran air yang tidak menampung kapasitas air, dan hal itu ditambah dengan kondisi drainase perumahan yang buruk dan terjadi pendangkalan.

Seperti yang terjadi di Kampung Karet, Desa Situsari, Cileungsi, Kabupaten Bogor. Dimana pada saat hujan deras, kawasan tersebut mengalami kebanjiran lantaran penyempitan kali. Hal tersebut disampaikan Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, Aris Nurjatmiko, mengatakan, banjir mulai naik ke permukiman warga saat hujan deras mengguyur wilayah Cileungsi dan sedikitnya ada sekitar 120 rumah yang terendam banjir.

“Diperkirakan ada 120 rumah berisi 300 jiwa dari 80 kepala keluarga (KK). Banjir karena derasnya curah hujan dan penyempitan sungai sehingga air meluap ke permukiman warga,” jelas Aris.

Dia menjelaskan, banjir terjadi ketika hujan deras dengan intensitas tinggi melanda kawasan tersebut dalam waktu yang cukup lama. Di samping itu, terdapat penyempitan anak Kali Binong yang bermuara di Sungai Cibarengkok.

“Akibatnya, terjadi banjir di wilayah tersebut dengan ketinggian air bervariatif antara 10 sentimeter hingga 120 Sentimeter,” ujar Aris.

Berdasarkan analisis anggota di lapangan, sambung Aris, banjir di wilayah tersebut sering terjadi selama kurang lebih empat tahun ke belakang. Sehingga butuh penanganan segera dari instansi terkait. Menurut dia saat ini Tim Rescue Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Bogor telah melakukan koordinasi dengan aparatur setempat. Serta telah melakukan tindakan sesuai standar operasional prosedur (SOP) kebencanaan pada saat terjadi banjir.

“Setelah melakukan kajian dan menganalisis, kami juga memberikan edukasi kebencanaan dan imbauan kepada warga setempat,” kata Aris.

** Taufik / Nay