31.5 C
Bogor
Sunday, April 12, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 486

Program Sedekah Darah Kolaborasi Komunitas JALUR dan Katar Dusun 5

0

Gunung Putri | Jurnal Bogor
Komunitas Jalan Lurus (JALUR) menggandeng Karang Taruna Dusun 5 mengadakan donor darah di Gedung SDN Kedep, Kp. Kedep, Desa Tlajung Udik, Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Minggu (10/9/23).

Ketua JALUR Hendra mengatakan, kegiatan donor darah ini merupakan bagian dari program rutin JALUR. Donor darah kali ini adalah kegiatan yang ke-8 yang dilaksanakan JALUR.

Dengan program donor darah masuk kampung, pihaknya mengutamakan wilayah Desa Tlajung Udik. JALUR sendiri merupakan komunitas yang ada di Tlajung Udik, walaupun ada kegiatan yang dilakukan diluar desa tersebut.

“Jika ditanya maksud dan tujuan, hanya ingin berguna untuk masyarakat banyak. Saya mengajak untuk warga Desa Tlajung Udik khususnya kebiasaan gotong-royong dalam membantu sesama. Maka dari itu, untuk mendukung program-program JALUR,  kami menyebar 100 kaleng yang dibagikan kepada masyarakat untuk membantu sesama,” ungkap Hendra kepada Jurnal Bogor.

Hendra menyebut, untuk saat ini JALUR sendiri sudah memiliki armada ambulance yang bisa digunakan oleh siapa pun secara gratis. Dana diambil dari kaleng sedekah digunakan untuk operasional mengantar pasien dan perawatan kendaraan.

Sedangkan untuk kegiatan donor darah, jelas Hendra, ada sekitar 85 warga Kp. Kedep yang mengikuti kegiatan donor darah. Pasalnya, hanya sebagian saja yang bisa diambil darahnya, karena sebagian lagi tidak masuk kriteria atau dalam keadaan yang tidak fit, sehingga tidak diperkenankan untuk donor darah.

“ Alhamdulilah untuk Kp. Kedep terkumpul 48 kantong darah. Saya berharap, kegiatan-kegiatan sosial seperti ini terus bisa ditanamkan, terutama untuk kalangan pemuda yang akan jadi penerus nantinya,” cetus Hendra.

Sementara Kepala Desa Tlajung Udik Yusuf Ibrahim mensupport kegiatan-kegiatan yang positif, apalagi jika rutin donor darah karena bisa meningkatkan kesehatan.

“ Saya support terus untuk katar Dusun 5 dan Komunitas JALUR yang sudah mengadakan kegiatan donor darah ini, karena tanpa kita sadari kita sudah melakukan sedekah darah kepada sesama, walaupun kita tidak tau nantinya digunakan oleh siapa, tapi itu jadi amal yang mengalir,” tandasnya.

“ Semangat terus, lakukan kegiatan-kegiatan yang positif, dan berguna untuk masyarakat khusnya warga Desa Tlajung Udik,” tambah Dede sapaan akrab Kepala Desa Tlajung Udik.

** Nay Nuráin

Pembangunan Irigasi Cimanggu Disoal Hanya Pakai Teras

0

Leuwisadeng l Jurnal Bogor
Proyek Pembangunan Rehabilitasi Fungsi Jaringan Irigasi di Kampung Cimanggu, Desa Sadengkolot, Leuwisadeng, Kabupaten Bogor diduga hanya menggunakan material tanah menyerupai pasir (teras). Tak hanya itu, proyek pembangunan irigasi itu juga menggunakan bebatuan yang ada di lokasi kegiatan.

Salah satu pelaksana pembangunan irigasi, Fahru tak menampik kalau material untuk berlangsungnya pembangunan irigasi tersebut menggunakan material batu yang berasal dari lokasi sungai tersebut.

“Ya benar bahan material pasir dan batu  yang digunakan berasal dari sungai dekat lokasi kegiatan,” kata Fahru tak menampik, Minggu (10/9).

Begitu juga, ketika ditanya terlihat sejumlah pekerja pembangunan irigasi tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD). “Para pekerja tidak betah menggunakan APD, tetapi kalau perihal pasir atau batu silahkan tanya pak Ajis dan pak RT Herman,” ringkas Fahru.

Sementara pembangunan itu menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah kabupaten Bogor sebesar Rp 448.390.000,00. Namun Fahru yang mengaku sebagai pihak kedua hanya mengawasi jalannya pembangunan irigasi tersebut.

“Saya disini hanya mengawasi pekerjaan,” dalihnya.

Adapun, kata Fahru, yang ambil pasir dan batu, disini dia hanya orang kedua dan Ajis sebagai ketua kelompok pemberdayaan masyarakat (KPM) yang membeli material pasir dan batu dari masyarakat.

** Arip Ekon

Tanah Warga Terploting, Ratusan Warga Dua Desa di Nanggung Desak BPN Batalkan

0

Agar Hak Itu Bisa Kembali ke Masyarakat, Dewan:  Kami Sangat Mendukung Sekali

Nanggung l Jurnal Bogor

Ratusan warga warga di dua desa, yakni Desa Batutulis dan Parakanmuncang, Nanggung, Kabupaten Bogor menuntut Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Bogor segera membatalkan tanah warga yang terkena ploting yang diduga oleh ex PT Sadeng Jambu.

Tuntutan pembatalan ploting tersebut disampaikan beberapa anggota DPRD Dapil 5 pada reses di GOR  Kecamatan Nanggung pekan kemarin. Endang, warga Desa Batutulis membenarkan sekrang ini masyarakat menuntut kejelasan soal kepemilikan lahan yang diklaim oleh ex HGU PT Sadeng Jambu itu.

“Kami menanyakan status tanah yang diploting masuk dalam tanah ex HGU  PT Sadeng Jambu. Seluas 54 hektare, itu hanya satu desa, Kita minta plotingan itu dibatalkan karena itu tanah masyarakat,” kata Endang.

“Kalau (tanah) itu hak milik masyarakat kami minta itu dikembalikan lagi kepada masyarakat bila perlu masyarakat diberikan sertifikat satu satu semua,” paparnya.

Meski sudah menduga adanya oknum yang bermain, Endang menegaskan keinginanya hanya status tanah itu dikembalikan.

“Warga juga menduga ada oknum yang bermain, akan tetapi kami tidak mengarah kesituyang terpenting tanah masyarakat sesuai haknya dikembalikan kepada yang berhak termasuk tanah di wilayah  Desa Parakanmuncang juga terbawa (terploting),” harapnya.

Staf Desa Parakanmuncang Dede Pirdaus juga meminta BPN untuk segera memberikan klarifikasi perihal tanah warga yang terploting oleh ex PT Sadeng Jambu. Dia mengaku beberapa bulan lalu, Desa Parakanmuncang sudah bersurat meminta ke BPN untuk tanah warga terploting ke ex HGU PT Sadeng Jambu segera dilakukan plotingan ulang.

“Pada 25 Januari kami sudah bersurat ke BPN, namun hingga kini tak ada informasi lanjutan. Mestinya BPN segera lakukan ploting ulang, kemudian tanah adat milik masyarakat yang masuk PT Sadeng Jambu untuk segera dibatalkan,” ujarnya.

Sepengetahuannya, tanah  warga yang terploting, baik di Batutulis maupun di Parakanmuncang itu merupakan tanah adat dan Letter C-nya ada. Salah satunya di Desa Batutulis tanah adat Sawah Minggu itu ada Letter C-nya di Parakanmuncang.

“Letter C-nya ada di Desa Parakanmuncang. Sebab Desa Batutulis merupakan Desa Pemekaran dari Desa Parakanmuncang,” bebernya.

Sementara itu anggota DPRD Kabupaten Bogor Yuyud Wahyudi, Permadi Dalung serta Nurodin merespons aspirasi warga perihal tanah warga yang terploting oleh pihak perusahaan itu. Ia akan memanggil sejumlah pihak terkait konflik agraria yang menyangkut permasalahan tersebut.

“Kami minta kepada Kepala Desa segera melakukan pengiriman surat untuk melakukan audensi pada rapat komisi I,” kata Dalung.

Jadi kata dia, perihal ini akan ada rapat lanjutan dengan komisi I dan Komisi 3. “Kita menunggu dari berbagai pihak terlebih Kepala Desa untuk bersurat kepada Ketua DPRD Kabupaten Bogor,” tandasnya.

“Nanti Ketua yang mendisposisikan kepada komisi I. Nanti mereka (Komisi I) undang kami sebagai DPRD Dapil V untuk rapat bersama,” jelasnya lagi.

Menurutnya  pihak terkait yang akan diundang  diantaranya Kementerian Agraria Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor hingga Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Bogor .

“DPRD mendukung sekali apa yang disampaikan masyarakat agar hak itu kembali lagi kepada masyarakat. Tinggal menunggu surat dari Kepala Desa, DPKPP dan ATR/BPN juga akan dilibatkan,” tadasnya. Arip Ekon

Dua Tokoh Tenis Lapangan Raih Haornas Award 2023

0

Cibinong | Jurnal Bogor
Momentum Haornas ke-40 Tahun 2023 tingkat Kabupaten Bogor terasa sangat spesial bagi insan tenis lapangan Kabupaten Bogor.

Karena pada Haornas 2023 ini ada dua tokoh tenis lapangan Kabupaten Bogor yang mendapatkan Haornas Award 2023 yakni Sri Kuncoro selaku Penasehat Pelti Kabupaten Bogor dan Susmono salah satu sesepuh dan pengurus Pelti Kabupaten Bogor serta Ktenzpo.

Haornas Award 2023 tingkat Kabupaten Bogor dilakukan di Lapangan Parkir VVIP Stadion Pakansari, Cibinong, Jumat, 8 September 2023 bertepatan dengan Launhing Senam Bogor Bugar.

Pemberian Haornas Award 2023 tingkat Kabupaten Bogor ini diberikan secara langsung oleh Bupati Bogor Iwan Setiawan, SE.

Sri Kuncoro yang juga sebagai Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kabupaten Bogor mendapatkan Haornas Award dari Kategori Badan/ Lembaga Kejaksaan Negeri Kabupaten Bogor yang telah membangkitkan gairah dan animo olahraga tenis lapangan Kabupaten Bogor selama ini.

Selain itu, Kajari Kabupaten Bogor juga sangat perhatian dan peduli pada pembinaan atlet tenis usia muda yang dibuktikan dengan event Kajari Cup ke-1 beberapa bulan lalu.

Kajari Kabupaten Bogor juga rencananya akan menggelar Kejurnas Tenis antar Kelompok Usia (KU) pada akhir tahun nanti.

Sedangkan Susmono menyabet kategori sebagai penggiat olahraga dan selama karirnya dalam bidang olahraga Susmono yang akrab disapa Kakung tercatat sebagai mantan atlet sepakbola, pengurus sepakbola dan pengurus tenis lapangan.

Beragam komentar positif dan rasa bangga datang dari semua elemen tenis lapangan di Kabupaten Bogor dengan raihan Haornas Award 2023 yang diberikan kepada Sri Kuncoro dan Susmono.

Kepala Dispora Kabupaten Bogor Asnan AP menjelaskan, penghargaan diberikan kepada 22 insan olahraga dalam rangka mengapresiasi prestasi yang telah diraih oleh para insan olahraga Kabupaten Bogor.

“Kebetulan hari ini adalah Haornas, kita berikan apresiasi pada insan-insan olahraga yang berdedikasi dan berprestasi di Kabupaten Bogor, terima kasih atas semua insan olahraga dan masyarakat yang selama ini telah bersama-sama kita semua dalam upaya memajukan olahraga di Kabupaten Bogor,” jelas Asnan.

** asep syahmid

Peradmi Gelar Munas I 2023 Pilih Ketum Baru

0

Bogor | Jurnal Bogor
Dewan Pimpinan Pusat Perkumpulan Advocate Moeslim Indonesia (Peradmi) menggelar Musyawarah Nasional I Peradmi 2023 di Hotel Green Forest Bogor, 8-10 September 2023. Acara Munas I tersebut akan melakukan pembahasan AD/ART organisasi, kaderisasi advokat, LPJ pengurus 2018-2023, dan pemilihan ketua umum periode 2023-2028.

Sekretaris Panitia OC, Suhendar, SH.,MM yang juga Ketua DPD Peradmi Bogor berharap acara Munas I ini bisa menghasilkan ketua umum terpilih, struktur pengurus yang refresentatif dan mengakomodir para advokat Peradmi dari berbagai wilayah se-Indonesia.

“Munas per lima tahun sekali ini menjadi ajang silaturahmi dan mempererat para advokat Peradmi tentunya. Dan saat ini ketua umum incumbent Prof. H. Suhendar, SH.LLM pun ikut bersaing kembali untuk memimpin Peradmi lima tahun ke depan,” jelas Suhendar dalam keterangannya, Jumat (8/9/2023).

Sementara kegiatan Munas 1 mengusung tema Melalui Musyawarah Nasional Peradmi, kita tingkatkan Peran Advokat dalam Membangun  Semangat Kebangsaan Demi Terwujudnya Keadilan Yang Merata Bagi Seluruh Rakyat.

Acara rencananya akan dibuka secara resmi oleh Pj Gubernur Jawa Barat, Bey Triadi Machmudin, SE, MT dan dihadiri 20 DPW Peradmi se-Indonesia, serta tamu undangan dari berbagai organisasi advokat dan tokoh nasional serta dari berbagai kalangan.

** Asep S.Sayyev

Wujudkan Sinergisitas dan Kolaborasi Dukung Ketahanan Pangan, Peserta PKN II Kementan Kunjungi Kabupaten Lebak.

0

Lebak | Jurnal Bogor

Banten. Guna mewujudkan sinergisitas dan kolaborasi dalam mendukung ketahanan pangan, peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II melakukan kunjungan atau visitasi ke Kabupaten Lebak, beberapa hari lalu.

Kunjungan tersebut merupakan rangkaian agenda aktualisasi untuk membekali para peserta kemampuan mengaktualisasikan kapasitas kepemimpinan strategisnya berdasarkan tema penyelenggaraan pelatihan. Di Kabupaten Lebak, para peserta mempelajari peran teknologi dan digitalisasi dalam meningkatkan produktivitas pertanian untuk mendukung ketahanan pangan lokal. Seperti diketahui, Kabupaten Lebak merupakan salah satu sentra penghasil aren terbesar di Indonesia dengan banyak permintaan ekspor keluar negeri.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo menyampaikan bahwa negara akan bermasalah apabila ketahanan pangannya bermasalah.

“Kekuatan apapun yang kita miliki tidak bisa menjaga negara dengan baik kalau ketahanan pangan kita bersoal,” ujar Mentan Syahrul.

“Bicara ketahanan pangan adalah bicara kekuatan negara dan bangsa,” lanjutnya

Menurut Mentan Syahrul, kekuatan lain akan memiliki peran dan fungsi yang kuat jika ketahanan pangannya berjalan dengan baik. Oleh karena itu, sangat penting peranan ketahanan pangan dan kekuatan negara dalam menyiapkan makanan rakyat Indonesia.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Dedi Nursyamsi menjelaskan bahwa ketahanan pangan masih akan menjadi isu serius pada 2024

“Kita melihat ancaman yang bisa mengganggu pangan masih akan berlanjut tahun depan. Oleh sebab itu, kita mengajak insan pertanian untuk mengambil peran dalam menjaga ketahanan pangan”, jelas Dedi.

Sinergisitas dan kolabarasi dalam menjaga ketahanan pangan sangat diperlukan sebagai bentuk penguatan kerjasama dalam menghadapi krisis dan tantangan yang cukup masif terhadap isu ketahanan pangan. Selain itu, dapat melahirkan potensi-potensi komoditas unggulan pertanian daerah.

Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya dalam kesempatan menerima kunjungan visitasi menyampaikan ucapan terima kasih atas kesediaan peserta pelatihan berkunjung ke wilayahnya. Ia pun menjelaskan bahwa saat ini Kabupaten Lebak ditetapkan sebagai daerah konservasi dan tengah merancang pembangunan ke arah pertanian melalui konsep pariwisata dengan visi dan misi Lebak sebagai destinasi wisata unggulan nasional berbasis potensi lokal.

“Semoga dengan kehadiran Bapak dan Ibu sekalian bisa memotivasi kami untuk terus berjuang bersama bagaimana mewujudkan ketahanan pangan di indonesia, dan moga-moga ada sinergisitas kolaborasi kita bersama bagaimana sektor pertanian dapat menjadi sektor unggulan di wilayah kita masing-masing”, ungkap Iti.

Kepala Balai Besar Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (BBPMKP) Kementerian Pertanian, Yusral Tahir mengungkapkan harapan besarnya setelah melakukan visitasi, para peserta dapat mengidentifikasi keunggulan kompetitif yang menjadi lokus visitasi dan dapat memberikan rekomendasi dan strategi peningkatannya.

** Nita/BBPMKP

Sekilas Narasi Tergusurnya Masyarakat Pribumi Rempang di Barelang Kepulauan Riau

0

Jurnalinspirasi.co.id – Bismillahir Rahmanir Rahiem. Betul Abangku Prof.Teuku Abdul Sani, Dosen ITB, Waketum MPP ICMI, bahwa di pulau Penyengat, lokasi di seberang Kota Tanjung Pinang, ibu kota Prov.Kepulauan Riau, terdapat istana Raja Melayu, dan makam para Raja, dan termasuk makam sastrawan Melayu “Gurindam.12” yang terkenal Raja Ali Haji.

Beliau, Allah yarham adalah tercatat sebagai Pahlawan Nasional, dengan karya sastranya merupakan mega-kontributor Bahasa Indonesia. Disana ada Masjid Penyengat, cukup megah, menurut legendanya terbuat dari salah satu materialnya “kuning telur’.

Masjid Kunjng telur ini, arsitekturnya begitu indah dan merefleksikan kemajuan peradaban Melayu, dimasa itu. Saya bersama istriku berdarma wisata ke Pulau Penyengat, terakhir kali akhir Desember 2022, karena kakakku, mantan Ketua Hakim dan Ketua PN Tanjung Pinang, pensiun pengacara (lawyer) bermukim di Kota Tanjung Pinang.

Saya ada pengetahuan sedikit tentang kawasan Batam, Rempang dan Galang, disingkat Barelang Kepulauan Riau. Saya banyak berkeliling juga di daerah ini, dari dulu hingga sekarang. Sebab skripsi S1 sarjana pada prodi Sosek Faperikan IPB tahun 1984, tesis S2 msgister sains tahun 1998 dan disertasi S3 Doktor tahun 2006, saya semua lokasinya berada di kawasan Barelang.

Juga beberapa judul projek studi dan riset untuk menyusun dokumen perencanaan pengembangan potensi Sumberdaya Alam, pesisir, laut dan pulau-pulau kecil di daerah Provinsi Kep Riau, beberapa pesanan Kementerian Perikanan dan Kelautan RI di Jakarta dan Pemprov Kep Riau, alhamdulillah pernah saya kerjakan dengan baik dan profesional,  baik saya AA sebagai anggota maupun team leader project.

Jadi evolusi dan suksesi ekologi potensi SDA kawasan Kepulauan Riau, terutama kawasan Batam sekitarnya, dan kondisi ekososial, sosio-antropologi masyarakat-etnis Melayu Islam yang hidup bermukim sebagai local community, juga saya tahu dan mendalaminya.

Mereka hidupnya termarginalkan, tragis dan tergusur oleh kekuatan daksatnya investasi dan bisnis para oligarki, negara tetangga Singapura. Saya amati hampir semua sektor, terutama problem agraria, perebutan sumberdaya alam (SDA) dll. Magnitude power ekonomi negara kecil Singapura begitu kuat.

Permasalahan struktural dan kulturalnya begitu komplek dan sistemik. Jika kita ingin berbicara mengenai kondisi eksisting perkembangan pembangunan daerah di kawasan perbatasan (hinter land) negara ini Barelang, ditinjau dari berbagai perspektif sains, sungguh menarik, sangat tampak adanya kegagalan pemerintahan (governament failure), dalam membangun di kawasan ini.

Saya  agak “gatal” juga mau menulis, bernarasi tentang problem sosial ekonomi dan budaya serta politik masyarakat pribumi, etnis Melayu mukim di kawasan Barelang ini,  yang kini kian terpinggirkan dan mereka maaf, tertindas menjadi kaum mustaafin di daerahnya sendiri.  Hal ini berlangsung akibat dan dampak derasnya gerakan investasi dan bisnis, arus kapital yang masuk dengan epicentrumnya di Kota Batam, dan menjalar ke daerah pulau-pulau kecil di sekitarnya.

Saya sudah lama mencermati, dan meneliti bahkan pernah bersuara di mass media lokal Batam, bahwa pembangunan di kawasan Barelang tidak menjalankan, atau tidak sesuai dengan prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah (code of conduct) Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development/SD), dan kini lebih populer disebut Sustainable Development Goals (SDGs).

Komitmen para pemimpin dunia di forum-forum World Summit 1976, 1996 dan 2002, yang telah menegaskan untuk melaksanakan dan mewujudkan pembangunan SDGs tersebut, dengan 18 tujuan, dua ratusan lebih indikator dan parameter  keberhasilan SD, dimana pembangunannya bercirikan harmoni dalam 3 dimensi, ekonomi-ekologi dan ekososial.

Akan tetapi sayang, dalam praktiknya, komitmen Governament of  Indonesia (GoI) sampai saat ini sangat rendah dan bahkan lemah sekali. Mereka abai dengan aspek pelestarian lingkungan dan sumberdaya alam (ecologi, conservation) dan abai juga pada aspek keadilan sosial (ekosocial), dimana rakyat lokal tergusur dengan adanya investasi, dan mengatas nama mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi (higt economic growth),

Mereka mudah berkata, dan berpidato, beretorika yang indah-indah, enak didengar, akan tetapi dalam rialita dan kenyataan serta faktanya di lapangan, kondisi eksistingnya bertolak belakang (paradoks) dan membuat warga tempatan (local community) tergusur dan teraleniasi (anomali).

Jika dianalisis secara public policy of science, inilah salah satu dampak negatif atau buah dari buah kepemimpinan yang lemah dan berwatak munafik. Jargonnya pro wong cilik-pribumi, praktiknya pro-oligarki-wong asing based aseng.

 Salah satu faktanya dilihat kasat mata, adalah kasus Rempang yang lagi hangat saat ini, terhadi konflik sosial vertikal. Untuk kawasan Barelang, pergeseran kepemilikan lahannya bergeser dari “communal property rigts” (penduduk lokal etnis Melayu pribumi) berpindah kepemilikan lahan-agrarianya kepada land “biggest coorporate/private property rigts”, sudah lama terjadi, sejak era Orla, meningkat di zaman Orba dan hingga era OrReformasi agak mereda, rakyat lokal agak bernapas, kemudian kini post OrReformasi eskalasinya semakin meninggi lagi, sehingga dimana-mana terjadi benturan kepentingan rakyat versus investor yang difasilitasi rezim berkuasa.

Penduduk pribumi, asli atnis Melayu Islam, semakin tergusur dan menjadi sasaran penindasan (mustaafin) yang tak terelakan. Hal ini terjadi, akibat kuatnya arus investasi dan bisnis, usaha industri serta perdagangan dikendalikan para mafia oligarki di lapangan, dan mereka berhasil dekat dengan elite politik lokal dan nasional, sehingga mereka menguasai public policy negara, melalui kekuasaan Pemerintah Pusat dan juga para pemimpin di birokrasi Pemda seperti Pemko Batam yang tidak lagi pro membela rakyatnya dilihat dari gesturenya bpk.Walkot Batam selaku Ketua Otorita/BPP Batam  (simak berita HU Kompas, beberapa waktu lalu),

Mereka para elite politik lokal, sudah berpindah haluannya mendukung gerak langkah para investor, pebisnis besar (oligarky) dengan mengatas namakan pembangunan, mengejar omset investasi sebesar-besarnya dan pertumbuhan ekonomi setinggi-tingginya.

Menurut pendapat saya pertumbuhan itu semu, karena pertumbuhan ekonomi tidak disertai pemerataan sosial (social equity) dan distribusi hasilnya untuk kemamuran rakyat sebesar-besarnya sebagaimana amanat konstitusi pasal 33 UUD 1945. Buktinya ditinjau aspek ketenagakerjaan dan pengupahan pada level UMR, fasos dan fasum yang minim etc.

Kondisi eksisting Indonesia satu dasa terakhir, semua ilmuwan dan para pakar sangat paham berdasarkan data resmi BPS RI bahwa angka indeks gini ratio masih sangat tinggi berkisar 0.38 sd 0.42, lampu merah, ketimpangan sosial ekonomi dari aspek kepemilikan sangatlah timpang.

Mereka kaum kaya oligarky (borjuis) hanya segelintir orang yang netabene etnis Asing based Aseng (China Tiongkok) menguasai aset negara-bangsa berupa tanah (agraria), air dan udara yang melimpah.

Sementara rakyat pribumi tergusur dan termarginalkan, yang berlindung atas nama realokasi penduduk asli (endeginous peoples). Fenomena sosial yang dinarasikan ini, sekarang terjadi, dan tengah berjalan konflik sosial di pulau Rempang, posisnya bagian tengah antara pulau Batam dan pulau Galang di kawasan Barelang, Kepulauan Riau..

Drama yang memilukan hati kita, dan mengganggu pikiran waras kita, kita tonton di medsos Youtube. Bahwa telah terjadi tindakan penzholiman tengah berlangsung terhadap rakyat, penduduk setempat oleh aparat kepolisian RI dan pihak keamanan lainnya.

Kita sungguh prihatin dan pilu hati ini, dimana aparat keamanan RI yang digaji dan difasilitasi segala peralatan senjata dari pajak rakyat, sekarang berbuat naif, mencelakan dan mencitrai rakyat (penduduk asli lokal-tradisional) yang tengah berjuang membela hak-hak kepemilikan agraria dan habitat mereka hidup sejak lama, kini akan digusur, beralih fungsi dan kepemilikan lahannya ke koorporasi untuk pengembangan kawasan industri dan perdagangan, serta wisata modern, yang telah dibuat dokumen perencanaannya (siteplan, master plan dan DED-nya) secara diam-diam tanpa sepengetahuan rakyat tempatan, keterlibatan masyarakat asli lokal (endigenous peoples) dinihilkan atau diabaikan. 

Artinya pendekatan planningnya bersifat topdown, yang anti demokrasi, tidak buttom-up planning, dan dengan tata kelola pemerintahan yang amat buruk (very bad governance) yakni rencana pembangunan seperti kawasan industri Rempang Kep.Riau, tidak melaksanakan prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah hukum tata pemerintahan yang partisipatif, transfaran dan akuntabel.

Karena prinsip dan kaidah tersebut oleh para penguasa (the ruling party) yang berselingkuh (kolusi) dengan para oligarky, makanya konflik sosial vertikal antara rakyat lokal versus aparat keamanan yang mempresentasikan kekuasaan Pemerintahan Pusat dan Daerah, tak terelakan dan terjadi benturan fisik yang berlumuran “darah”, pingsan yang berpotensi menghilangkan nyawa penduduk lokal, demontran yang tak berdaya (powerless) menghadapi serbuan aparat yang bersenjata lengkap.

Jika menonton video di Youtube, ada gambar visual dan narasi konflik sosial berdarah di pulau Rempang di kawasan Barelang, dilihat dari perspektif falsafah dan ideologi Pancasila, serta konstitusi negara/NKRI pasal-pasal dan ayat di dalam UUD 1945, semua orang yang waras akan berkata, itu peristiwa pelanggaran Hak-hak Azasi Manusia (HAM) dan sangat pantas diselidiki Komnas HAM RI. Jika perbuatan pelanggaran HAM dibiarkan, maka negara gagal dalam melindungi rakyatnya atau bahkan negara bisa dituduh berbuat zholim terhadap rakyatnya.

Demikian narasi mengenai latar belakang terjadinya konflik sosial penggusuran rakyat asli pribumi etnis Melayu Islam, berhadapan demgan kekuatan investasi dan bisnis berskala besar milik segelintir oligarki yang tengah bermesraan, berkolusi dengan para penguasa the ruling party, elite politik negeri ini, yang lupa akan jati dirinya, bahwa mereka adalah pemimpin dan negarawan yang wajib membela kepentingan dan hak-hak rakyatnya.

Terutama kepemilikan agraria dan habitat pemukiman bagi penduduk aslinya. Itu adalah tugas dan kewajiban mereka untuk menyediakan dan memfasilitasinya, karena itu adalah HAM rakyat Indonesia seperti diamanatkan UUD 1945, bukan penggusuran penduduk lokal dari perkampungan tradsional yang dimiliki dan dicintai mereka (sense of local community) sebagai tanah leluhur, warisan nenek moyangnya.

Mereka kini berjuang demi tegaknya keadilan sosial dan harkat-martabat (marwqh, dignity) etnis Melayu Islam di tanah Bunda Melayu, Kepulauan Riau, pusat peradaban, khususnya perdagangan dan kebudayaan sastra Melayu, sebagai bahasa Lingua Prapanca, Nusantara yang menjelma menjadi bahasa persatuan yaitu Bahasa Indonesia.

Begitu besar kontribusi para leluhur Bunda Melayu Islam terhadap negara-bangsa Indonesia, yang sekarang puing-puing kerajaan Melayu yang berjaya tempo doeloe seperti istana Pulau Penyengat dan istana beserta makam para raja dan bangsawan Melayu di pulau Dabo-Singkep, Kabupaten Lingga dan sekitar, masih tampak jelas peninggalannya (Melayu Herritage).

Saya sudah beberapa kali kunjungan survei lapangan kesana dalam rsngka riset dan kajian prnyusunan dokumen RPJM Provinsi Kep.Riau, RPJMD dan Studi Komoditas Unggulan Kab.Lingga. Jadi saya agak tahu mengenai potensi SDA, dinamika sejarah ranah Bunda Melayu Islam, kini mereka akan digusur oleh kekuatan Asing based on Aseng, etnis China-Tiongkok sana.

Ya masuk diakal kiranya demi marwah Melayu, mereka pemuka etnis Melayu, memprotes, berdemontrasi, melawan dan menuntut keadilan sosial. Kita hanya dapat berdoa, semoga Allah SWT melondingi dan menolong hamba-hamba-Nya yang menuntut keadilan, dan Allah SWT mengalahkan, menghancurkan kezholiman. Sebagaimana firman Allah dalam Al Quran, ..”yang hak pasti datang dan menang, sedangkan kebatilan pasti hancur dan binasa-hilang”, itu janji Allah SWT.
Selamat berjuang.dan berjihad di jalan Allah. Syukron barakallah, Aamiin
Wassalam

=====✅✅✅

Penulis:
Dr.Ir.H.Apendi Arsyad, M.Si
(Pendiri dan Dosen Senior (Assiate Profesor) Universitas Djuanda Bogor, Pendiri dan Wasek Wankar ICMI Pusat merangkap Ketua Wanhat ICMI Orwil Khusus Bogor, Konsultan K/L negara, Pegiat dan Pengamat Sosial)

Bank BRI Cabang Cibubur Salurkan CSR Melalui Program BRI Menanam

0

Gunung Putri | Jurnal Bogor
Bank BRI Cabang Cibubur yang membawahi unit wilayah Bogor Timur, lakukan penanaman pohon produktif di Setu Gunung Putri, Jum’at (8/9/23).

Pimpinan Cabang Unit Cibubur, Yulizar Verda Febrianto mengatakan jika kegiatan penanaman pohon yang di lakukan di Setu Gunung Putri ini merupakan bagian dari program CSR Bank BRI yang bertujuan untuk mengurangi emisi karbon, dan diutamakan untuk menanam pohon-pohon yang produktif.

” Yang BRI harapkan pohon-pohon ini ditanam di halaman rumah warga, karena yang kita sediakan ini adalah jenis pohon yang produktif, dimana dalam jangka waktu satu tahun bisa membuahkan hasil,” ungkap Yulizar.

Yulizar menyebut, program BRI menaman ini akan dilakukan secara bergilir kedesa lain, kenapa Desa Gunung Putri menjadi desa yang pertama kami berikan program. Karena banyak fortopolio kami juga di wilayah Gunung Putri ini.

” Harapan saya, warga bisa memanfaatkan sebaik mungkin bantuan pohon produktif ini. Jika dirawat dengan baik kami punya keyakinan program penanaman pohon produktif ini akan bermanfaat untuk masyarakat Desa Gunung Putri kedepannya,” jelasnya.

Sementara, Kepala Desa Gunung Putri Damanhuri mengucapkan terimakasih kepada Bank BRI yang merupakan bagian dari BUMN, yang sudah menyalurkan bantuan CSR nya ke desa berupa pohon produktif yang akan dibagikan kepada warga.

” Hari ini kami mendapat 110 bibit pohon produktif yang akan dibagikan kepada 14 KRL yang ada di Desa Gunung Putri. Saya berpesan untuk para pegiat lingkungan agar menjaga pohon produktif ini dengan baik, sehingga satu tahun kedepan kita sudah bisa menikmati hasilnya,” tutur A Heri sapaan akrabnya.

A Heri menyebut, semoga kerjasama dengan BRI ini awal dari pembuka untuk kegiatan-kegiatan lain yang ada di Desa Gunung Putri.

” Saya berharap dengan BRI kerjasama ini bisa berkelanjutan dengan program desa yang lain, dimana untuk saat ini desa masih konsen dalam bidang penataan lingkungan terutama sampah,” pungkasnya.

** Nay Nur’ain

Kementan Kuatkan Core Values “ASN BerAKHLAK”Bagi Pejabat Eselon II Lewat Training ESQ

0

Bogor | Jurnal Bogor

Sebanyak 50 peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II mengikuti Training Emotional Spititual Quotient (ESQ) yang diselenggarakan oleh Balai Besar Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (BBPMKP) Kementerian Pertanian, Kamis (07/09). Training ESQ tersebut bertujuan menginternalisasi dan kembali menguatkan nilai dasar atau Core Values ASN BerAKHLAK bagi pejabat Eselon II yang merupakan peserta pelatihan.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) menyebutkan tantangan dunia yang semakin canggih, ditambah dengan adanya millennial disruption diperlukan pengawalan moralitas bagi ASN agar mereka dapat bekerja dengan baik salah satunya melalui Core Values ASN BerAKHLAK

“Dari tantangan yang terjadi saat ini maka seorang ASN atau pejabat pemerintah harus dikawal dengan moralitas melalui Pendekatan Core Values BerAkhlak agar kita tetap bisa bekerja dengan baik, “

Menurut Mentan SYL pula pemerintahan yang baik adalah yang berpihak pada kepentingan negara, bangsa dan rakyat. Selain itu sebagai instansi pemerintah yang baik harus dapat memenuhi harapan dan kebutuhan negara.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Dedi Nursyamsi mengatakan adanya core value ASN BerAKHLAK menuntut ASN agar bekerja semaksimal mungkin.

“Untuk melaksanakan tugas ASN, perlu didukung oleh aparatur yang tidak hanya sekedar melaksanakan tugas namun juga profesional, kompeten, mandiri dan berdaya saing”, ujar Dedi.

Hadir sebagai motivator training, Ary Ginanjar, menjelaskan bahwa seorang ASN harus memiliki setidaknya tiga niat atau orientasi dalam bekerja, yaitu strong way (materi), big way (emosi), dan grand way (spiritul)

“Dari tiga niat yang ada di dalam diri ASN ini, yang harus dikuatkan adalah grand way (spritual), artinya ASN harus memberikan kontribusi pada masyarakat karena hidupnya “dibeli” oleh negara”, tegas Ary.

Ary pun melanjutkan launching core values ASN BerAKHLAK oleh Presiden Jokowi merupakan momentum yang sangat luhur untuk kembali menguatkan pondasi negara

“Mudah2an langkah Bapak Presiden untuk memperkuat bangsa dapat terimplementasi dengan baik melalui Core Values ASN BerAKHLAK ini. Indonesia akan bangkit jika pondasinya diperkuat”, sambung Ary.

Core values ASN BerAKHLAK merupakan titik tonggak budaya kerja ASN dalam menjalankan tugas dan fungsinya untuk melayani masyarakat, terdiri atas nilai-nilai Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif.

Melalui training ESQ, peserta diberikan coaching, motivasi, dan pelatihan leadership agar mereka siap menjadi ASN BerAKHLAK yang mampu memberikan kontribusi positif untuk masyarakat dan negara.

** Nita/BBPMKP

Pasar Klapanunggal Berubah Fungsi Jadi Tempat Freestyle

0

Klapanunggal | Jurnal Bogor
Lama tak difungsikan pascapembangunan Pasar Rakyat Klapanunggal yang berada di Desa Kembang Kuning, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor beralih fungsi jadi ajang “freestyle” anak remaja.

Hal tersebut terlihat, sekumpulan remaja muda mudi yang berkumpul dengan memamerkan aksi freestylenya. Hal tersebut mendapatkan sorotan dari warga sekitar Iwan Setiawan. Dia merasa khawatir dengan adanya sekumpulan anak remaja yang sering sekali melakukan aksi motor di area Pasar Rakyat Klapanunggal tersebut.

” Saya khawatir, jika dibiarkan terus ini akan jadi basecame mereka (anak motor). Yang kita tidak pernah tau tingkah seperti apa nanti kedepannya yang lakukan oleh mereka, ” ungkap Iwan kepada Jurnal Bogor, Kamis (7/9).

Apalagi usia mereka ini, sambung Iwan, merupakan usia labil yang sedang mencari jati diri. Sedang dalam masa uji coba dan memiliki rasa penasaran yang tinggi, serta mudah terprovokasi dan terjerumus.

” Yang membuat saya heran ialah, pasar itu sudah dibangun lama, kenapa tidak buru-buru dioperasikan. Saya pikir, setelah dipasang paving blok untuk parkiran langsung dibuka, tapi nyatanya sampe sekarang masih begitu saja, ” tandasnya.

Lebih lanjut Iwan mengatakan, jika dibiarkan terus begitu, lambat laun pasar yang seharusnya menjadi tempat transaksi jual beli akan jadi tempat mesum.

” Tolong kepada pemangku kebijakan, ini pasar jangan cuma dibangun tapi difungsikan, jangan sampe namanya pasar justeru jadi ajang mojok dan berbuat tidak senonoh anak muda,” katanya.

” Jangan nunggu kejadian, lebih baik dicegah dari sekarang,” tambahnya.

** Nay Nur’ain