34.1 C
Bogor
Thursday, July 23, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 485

Sekda Burhanudin Berpesan Agar Warga Tidak Menolak Pembangunan Pasar Gunung Putri

0

Gunung Putri | Jurnal Bogor
Menyikapi persoalan adanya penolakan Pasar Gunung Putri oleh warga Perumahan Griya Bukit Jaya, Desa Tlajung Udik, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor yang akan dibangun oleh Pemkab, Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor Burhanudin berpesan agar warga bisa berpikir dengan kepala dingin menyikapi persoalan itu.

“ Kita akan menunggu kajian nanti, dan apa yang menjadikan warga itu menolak. Sementara ini sudah saya perintahkan Disperidag, Inspektorat dan DPUPR untuk melakukan peninjauan ulang lokasi yang akan dijadikan pasar,” ungkap Burhan kepada Jurnal Bogor, Rabu (18/10/2023).

Burhan menyebut, sejauh ini penolakan itu baru disampaikan secara lisan saja, tidak ada surat tembusan ke Pemkab. Namun, dia mengharapkan jangan sampai peluang seperti ini disia-siakan oleh warga karena terpengaruh oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.

“ Saya minta warga jangan terprovokasi, niat pemerintah untuk membangun pasar disana karena memang untuk memajukan ekonomi warga sekitar,” jelasnya.

Sampai hari ini, sambung Burhan, dirinya masih menunggu hasil keputusan dari Disperindag yang akan sosialisasi kepada masyarakat. Dia menekankan, jangan sampai anggaran yang sudah disediakan oleh pemerintah menjadi silpa karena adanya provokasi dari segelintir orang.

“ Kami masih menunggu kajian, yang pasti jika sampai bulan Desember tahun ini tidak dikerjakan, maka anggaran tersebut akan menajadi silpa. Tapi saya harapkan jangan sampai itu terjadi, karena jika ingin mengajukan bantuan apapun nantinya bisa jadi akan dipertimbangkan karena khawatir ada lagi penolakan,” pungkasnya.

** Nay Nuráin

Beginilah Cerita Pulkam ke Cerenti Riau

0

Jurnalinspirasi.co.id – Bismillahir Rahmanir Rahiem. Sambil menunggu jadwal terbang, takeoff  pesawat Super Air Jet di bandara Sukarno-Hatta (Sutta) Jakarta, gatal juga tangan ini untuk menulis yang mungkin bisa menarik pembaca.

Anggaplah iseng-iseng penggunaan waktu untuk berkhayal hal-hal yang baik, mudah-mudahan postiif, yang bisa dipetik sebagai pembelajaran (lesson learned), insya Allah mudah-mudahan begitulah ceritanya.

Alhamdulillah, saya bersyukur kali ini, bisa pulang kampung (pulkam) lagi untuk kedua kali tahun ini (2023).

Pulkam halaman Cerenti, Riau tempat kelahiranku, dididik dan dibesarkan oleh kedua orangtuaku, yang pertama pada waktu hari Idul Adha 1444 H, pengganti Idul Firtri 1444 H saya ke Jepang sekeluarga, jenguk anak sulungku yang kini atau sedang melanjutkam  studi program doktornya di Kyoto Jepang.

Sekarang, pertengahan Oktober 2023 ini, saya harus pulkam lagi ke Rantau Kuansing karena sebulan lalu kakak Sulungku H.Baidar (85 thn) berpulang ke rahmatullah. 

Saya waktu itu, belum bisa pulang takziah melepas jenazahnya, sebab kesehatanku agak terganggu, batuk-flu dan pilek, juga salah seorang anak gadisku harus dioperasi akibat penyakit usus buntu yang dideritanya. Alhamdulillah, saya dan putriku sudah sehat dan pulih kesehatannya kembali. Seminggu, saya cek kesehatan ke dokter di RS BMC Bogor, berdasarkan hasil rongent, dokter menyatakan bahwa aku sehat walaffiat.

Makanya saya bergegas pulkam ke Cerenti, Kuansing Riau, untuk berziarah ke makam kakakku (ongaku) almarhum H.Baidar di TPU Wakaf Desa Kampung Baru Timur, sekalian juga ziarah (nyekar) ke pemakaman ayah dan ibuku, serta para Dunsanak yang duluan dipanggil Sang Khalik, Allah SWT.

Saya ada 10 bersaudara, 5 orang telah wafat, sedangkan 5 orang lagi masih hidup yakni 2 orang perempuan (kakakku Hj.Nurmi Arsyad dan adikku mantan Camat Cerenti Latifah Arsyad S.Sos) dan 3 org yang adalah saya AA (putra ke-8) onga Upri Arsyad (ke-6) dan adinda Arslan Arsysd (si bungsu, ke-10). Subhanallah, orangtuaku yang telah wafat, melahirkan anak, cucu dan cicit yang lumayan banyak. Saat ini mereka kebanyakan mukim di kampumg Cerenti, dan sebegian lagi ada yang merantau di beberapa negeri seperti di kawasan Jabodetabek dll.

Pengalaman setiap pulkam ke Cerenti, aku menikmati sekali bertemu dan bersilaturahmi dengan keluarga besar Arsyad  Family, yang member WAG-nya ada seratusan, lebih terdiri saudara kakak-adik, anak kemenakan, cucu-cucu dan para cicit yg masuk masa remaja. Jika aki berkumpul di rumah Tua warisan ayah dan ibuku, sungguh berbahagia rasanya hati ini, melihat wajah dan style para kemenakan dan cucu-cucu.

Apalagi ada kesempatan makan bersama (tradisi makan basamo) di rumah Soko Tua di Bukit Gidang Desa Kampung Baru Timur Kecamatan Cerenti dengan membawa “rantang” berisi aneka makanan yang dibawa dari rumah masing-masing di kampung. Berebut makanan dan masakanan kuliner asli kampung, sungguh nikmat. Biasnya ritual makan basamo Arsyad Family dilaksanakan buka puasa pada bulan Ramadhan di minggu akhir, kumpul keluarga besar disertai ibadah sholat berjemaah fardhu dan tarawih.

Kepulangan ke kampung saat ini, Kamis malam 19 Oktober 2023, saya sudah berencana dengan para kerabat, untuk melaksanakan kegiatan dan acara “makan basamo” Arsyad Family, diawali sholat maghrib berjemaah, kemudian tahlilan dan doa  dipimpin oleh abang iparku H Abbas Main, S.Ag, Ketua LAM Cerenti. Kami yang hadir nanti mendoakan memohon kepada Allah SWT agar arwah anggota keluarga kami yang telah berpulamg ke rahmatullah diberikan kelapangan di alam kuburnya. Apalagi kaka sulungku H.Baidae, sosok dan figur keluarga, yang dahulu mendidik dan membiayai sekolahku, hingga aku bisa menjadi begini. Adanya acara Tahlilan dan membaca surat Yasin, pada acara “makanan basamo” sangatlah bermakna. Artinya pulkam Cerenti yang kedua di bulan Oktober 2023 ini, sungguh melegakan hati.

Insya Allah, rencana Jumat sore esok harinya di halaman Sekretariat Yayasan Arsyada Cerenti Madani (ACM), aku bersama adik dan para anak dan kemenakan, mengundang 20-30 orang emak-emak kaum duafa sekitar rumah tuo orangtuaku untuk menerima sumbangan paket sembako, yang berasal dari donatur warga Arsyad Family dan simpatisan Yayasan ACM seperti ibu Dwi Gemina SE.MM, dosen FE UNIDA Bogor, beliau berlangganan menitipkan infaqnya melalui yayasan keluarga yang aku dirikan dan ketua pembinanya.

Untuk diketahui, nama Yayasan Arsyad diambil dari nama ayahku H.Arsyad Kahar dan ibu Hj.Darana Djamin. Kami gunakan simbol tersebut dalam rangka mengenang nama yang semasa hidupnya di era Revolusi Kemerdekaan RI menjadi aktivis dan pekerja sosial di Pengirus Cabang Muhammadyah dan Aisyiah  Muhammadyah Kecamatan Cerenti dengan mengembangkan amal usaha, berhikmat dan beramal sholeh di bidang pendidikan agama dengan berdirinya Sekolah Muallimin di Cerenti tahun 1930-an, giat juga penyaluran santunan paket untuk anak yatim dan peringatan Hari Besar Islam seperti Maulid Nabi dan Rasulullah Muhammad SAW dll.

Tradisi berbuat baik dan beramal sholeh yang pernah diperbuat oleh kedua orangtua tercintaku itu, kami ingin meneruskannya, dengan mengharapkan ridho Allah SWT dengan pahalanya melimpah sebagai bekal akhirat dan  rezeki yang barakallah. Aamiin.

Pulkam ke Cerenti, banyak hal yang menarik, antara lain bertemu kawan-kawan lama di kedai kopi, minum kopi dan makan mie ayam abang Aam, kuliner di pasar Cerenti, aneka masakan pical dan lontong yang rasanya lezat, sambil.berbual-bual, bercerita nostalgia bersama teman sambil tertawa membicarakan yang lucu-lucu, berkesan kehidupan tempo doeloe,  juga jalan-jalan menelusuri kampumg-kampung tua seperti Koto pulau Bayur, pulau Jambu kp Candi tempat aku membeli karet membantu kakakku H.Baidar saudagar karet yang sukses tempo doeloe, masuk ke Desa Sikakak, melalui jembatan Topian Komang, lokasi bangsal pembelian karet (ghotah, bahasa Cerenti) peninggalan ayahku H.Arsyad tempo doeloe tahun1940-an sebelum kemerdekaan RI.

Aku jalan-jalan sepanjang kampung, sambil berolahraga mencari keringat, juga menikmati kicauan burung-burung (watching birds) yang indah dan melihat hewan Tupai melompat-lompat dari pohon ke pohon, vegetasi Kelapa. Rambutan-Duku dan lain-lain.

Dahulu aneka fauna begitu banyak seperti burung Enggang, munsang, dll tetapi sekarang amat jarang ditemukan di sekitar kebun dan hutan, sebab sudah punah akibat penggundulan hutan (deforestry), hutan tropika kini telah diganti fungsi. Hamparan kebun Sawit yang dikuasai para oligargy aseng seperti boz PT Duta Palma, Surya Darmadi yang kini masuk penjara karena kasus penyalahgunaan perizinan lahan perkebunan, alias korupsi.

Satu dasa warsa yang lalu, jika saya pulkam ke Cerenti, aku bersama anak-anakku suka mandi di Sungai Kuantan, posisinya berada di belakang rumah Tua warisan otangtuaku di Desa Kp Baru. Akan tetapi sekarang aku tidak bisa lagi mandi “ceburan-ceburan” di kali, sungai Kuantan dan anak sungai Lingkaran, karena airnya keruh, tidak jernih lagi seperti dulu akibat maraknya kegiatan penambangan emas illegal, Peti yang beroperasi sepanjang DAS Kuantan  yang mencemari air sungai yang membahayakan kesehatan dan nyawa penduduk yang mandi di sungai.

Kuatnya pengaruh mafia tambang Peti di lapangan, sehingga aparat tak berdaya. Kegiatan Peti tetap marak dan tak kunjung berhenti beroperasi. Padhal penambangan Peti tersebut adalah perbuatan kriminal melanggar hukum dan merugikan kehidupan orang lain. Kawasan DAS Kuantan bukan milik pribadi seseorang atau kelompok, akan tetapi milik bersama para pemangku kepentingan (stakehollders) sebagai sumber kemakmuran bersama rakyat lainnya yang dijamin oleh UUD 1945 pasal 33.

Jadi tidak ada alasan lain, melegalkan usaha Peti di lingkungan masyarakat, yang merusak ekosistem dan jasa-jasa lingkungan.

 Seandaimya ada alasan atau pendapat lain, yang “aneh” bahwa kesulitan ekonomi lapangan kerja, usaha Peti adalah solusinya, maka itu pendapat dan pandangan yang salah, keliru, dan kurang tepat, karena Peti itu perbuatan kejahatan lingkungan hidup (kriminal).

Kita berharap permasalahan Peti terselesaikan oleh aparatur negara yang berwajib, sehingga kelestarian ekosistem perairan DAS Kuantan sehat kembali, airnya bersih dan jernih, sehingga saya mandi di Sungai dengan nikmatnya ketika berada di kampung. Mandi di Sungai Kuantan membawa kenikmatan tersendiri karena airnya dingin dan ikan-ikan kecil seperti ikan Pantau mematok-matok kaki dan anggota badan kita di dalam badan air, ada sensasi. Begitukah nikmatnya pulkam ke Cerenti kini cerita itu tinggal kenangan.

Insya Allah rezim yang berkuasa (the ruling party) mau dan berkemampuan menjaga dan melestarikan ekosistem alam dan lingkungan hidup. Aamiin.

Sekian dan terima kasih, semoga kehadiran tulisan ini bermanfaat, beginilah cerita pulang ke kampung, bahasa Cerenti Baliak Ka Kampuang (Pulkam) sungguh menyenangkan.
Wassalam

====✅✅✅

Penulis:
Dr.Ir.H Apendi Arsyad, M.Si
(Dosen dan Pendiri Universitas Djuanda Bogor, Konsultan, Pegiat  dan Pengamat Sosial)

** Ditulis di ruang tunggu Bandara Sutta Jakarta dan dilanjutkan diatas pesawat otw Jakarta to Pku City Riau, sambil mengisi waktu

Pencemaran Sungai Cileungsi Berdampak ke Bekasi

0

Cileungsi | Jurnal Bogor
Komunitas Pecinta Kali Bekasi (KPKB) menyatakan keprihatinannya atas kondisi Kali Bekasi yang tercemar hebat, diduga akibat buangan limbah industri yang hingga kini tak kunjung tertangani. Menurut Ketua KPKB, Fahmi Rozi, Kali Bekasi tercemar akibat limbah yang diduga berasal dari industri yang berlokasi di hulu sungai Cileungsi.

“ Sebagaimana diketahui, Kali Bekasi merupakan pertemuan dari dua sungai yang berada di hulu. Yakni, Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas. Pertemuan kedua sungai tersebut tepat berada di perbatasan Kota Bekasi (Kelurahan Jatirasa, Kecamatan Jatiasih) dan Kabupaten Bogor (Desa Bojongkulur, Kecamatan Gunung Putri), “ ungkapnya kepada Jurnal Bogor, Rabu (18/10/23).

Lebih lanjut Fahmi mengatakan, Sungai Cileungsi berhulu di Gunung Pancar, Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Sementara Sungai Cikeas berhulu di Gunung Geulis, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, dan pencemaran limbah yang terjadi di hulu sungai  berdampak negatif juga di Kali Bekasi yang berada di hilir.

” Kami berharap pemerintah daerah atau pun pemerintah pusat segera mengambil tindakan tegas kepada perusahaan yang limbahnya mencemari sungai,” tandas Fahmi.

Sebelumnya, kata dia, dugaan adanya pencemaran di Kali Bekasi sudah berlangsung sejak awal Agustus 2023 hingga saat ini. Pencemaran ditandai dengan air sungai berwarna hitam pekat, berbau menyengat, berbuih dan kerap didapati ikan bermunculan ke permukaan sungai, diduga akibat kekurangan oksigen.

“ Di hari tertentu bahkan didapati banyak ikan mati terapung. Namun begitu, alat pendeteksi keasaaman air (Ph) justru menunjukkan angka normal di kisaran 6-9. Sementara temperatur suhu air di kisaran 35 derajat Celcius,” jelasnya.

Sementara, salah satu warga Sri Pudjiastuti mengatakan,  bau dari sungai sangat mengganggu pernafasan dan membuat sesak. Dia menyebut, sejak pindah sekitar tahun 2015 di PGP, Kali Bekasi sepertinya sudah berbau, mungkin karena pencemaran limbah industri, khususnya di musim kemarau.

“ Selain gangguan pernafasan, dampak lainnya adalah mata perih, kulit gatal dan mual, juga rusaknya perabotan rumah tangga yang lengket oleh hawa limbah pencemaran, sebagaimana dikeluhkan beberapa warga lainnya,” keluhnya.

Terpisah, Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C), Puarman, mengatakan pencemaran Kali Bekasi, ataupun Sungai Cileungsi, semakin menghebat di musim kemarau. Hal ini karena volume air sungai menyusut signifikan.

“ Kondisi Kali Bekasi yang saat ini diduga kembali tercemar limbah sudah dalam pantauan Direktorat Jenderal Hak Azasi Manusia (HAM) Kementerian Hukum dan HAM. Dan akibat Kali Bekasi tercemar, produksi PDAM Kota Bekasi terganggu,” pungkasnya.

** Nay Nuráin

Kemenkum HAM Tinjau Sungai Cileungsi, Ini Permintaan KP2C

0

Cileungsi | Jurnal Bogor
Permasalahan pencemaran Sungai Cileungsi yang semakin parah mendapat atensi khusus dari Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM). Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C) Puarman menjelaskan, keluhan masyarakat kepada KP2C tentang hitam dan baunya sungai Cileungsi yang terjadi lebih dari dua bulan hingga saat ini diklarifikasi  Kemenkum HAM ke Pemkab Bogor.

“Kemenkum HAM menilai pemerintah harus melindungi hak asasi masyarakat untuk mendapatkan lingkungan yang baik dan bersih. Jadi pada hari Selasa (17/10/23) kemarin, Kabid HAM Kemenkum HAM Jawa Barat,  Hasbullah Fudail langsung ke lokasi sungai Cileungsi menyaksikan sendiri kondisi sungai yang hitam dan berbau,” ungkapnya kepada Jurnal Bogor.

Puarman menjelaskan, Hasbullah sempat meninjau Jembatan Canadian yang berlokasi di perumahan elit Kota Wisata, Cibubur,  Kabupaten Bogor dan diterima oleh DLH Kabupaten Bogor. Selain itu, Kabid Hasbullah pun menerima keluhan dari Ketua Perkumpulan Cluster Kota Wisata Cibubur (PCKC) Andri Wibowo.

“ Setelah itu, pak Kabid  berkunjung ke Curug Parigi, Perumahan Vila Nusa Indah 5, Ciangsana, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Di kesempatan itu juga salah satu warga yang diwakili oleh Ibu Khalisa menyampaikan penderitaannya sejak tahun 2019 di mana sungai Cileungsi sudah hitam dan bau ketika musim kemarau,” jelas Puarman.

Lebih lanjut Puarman mengatakan, dari pemantauan KP2C, sejak awal Agustus 2023 masyarakat kembali menderita akibat sungai Cileungsi berwarna hitam, bau menyengat, berbuih dan ribuan ikan mati. Sumber pencemaran diduga dari limbah industri yang mengalir ke sungai Cileungsi dan masyarakat sudah tidak bisa lagi berkegiatan di sungai, baik memancing, mandi bahkan mencuci.

“ Selain gangguan kesehatan seperti gangguan pernafasan, mata perih, kulit gatal dan mual, juga rusaknya perabotan rumah tangga yang lengket oleh hawa limbah pencemaran. Dan setiap hari masyarakat mencium bau menyengat, mata perih, sesak nafas dan mual,” tandasnya.

Menurut Puarman dalam kesempatan bertemu Kabid HAM tersebut, KP2C mengajukan beberapa permintaan, yakni melakukan percepatan penanganan pencemaran sungai Cileungsi oleh DLH Kabupaten Bogor, DLH Jawa Barat serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“ Lakukan pemulihan sungai Cileungsi dengan memperpanjang rencana normalisasi sungai oleh Kementerian PUPR yang tadinya hingga Curug Parigi, diteruskan hingga Jembatan Wika, Tlajung Udik, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor,” pintanya.

“  Saya meyakini dua langkah tersebut bisa mengembalikan sungai Cileungsi menjadi bersih kembali,” pungkasnya.

** Nay Nuráin

Meski Sudah Ada Jalan Baru, Para Pemotor Masih Saja Gunakan Jembatan Gantung yang Mulai Rusak

0

Dramaga | Jurnal Bogor
Puluhan pemotor dari berbagai arah, baik dari Jalan Raya Cihideung Ilir maupun dari Jalan Raya Cibanteng Ciampea dan sebaliknya, masih menggunakan jembatan gantung (rawayan) yang berada di Kampung Cihideung Kecil RT 03 RW 04, Desa Neglasari, Dramaga, Kabupaten Bogor meski kini kondisi jembatanya mulai mengalami kerusakan kecil.

Padahal, kedua pemerintah desa yang bertetangga yang hanya dipisahkan oleh sungai Cihideung tersebut, yaitu Desa Neglasari, Dramaga, maupun Desa Cihideung Ilir, Ciampea, sudah 7 bulan silam telah membangun jalan alternatif selebar 3 meter yang sudah dibetonisasi berikut jembatan barunya yang permanen.

“Tapi sayangnya, warga pemotor dari berbagai arah, masih saja kepergok melintas menggunakan jembatan gantung tersebut,” kata Kepala Desa Neglasari Yayan Mulyana kepada Jurnal Bogor.

Meskipun pihak desa tidak melarang para motor lewat di jembatan gantungnya sambung Yayan, namun disarankan mulai Kamis (19/10/2023) dan seterusnya, lebih baik menggunakan jalan baru saja yang lebih lebar dan aman.

“Karena melihat kondisi besi link jembatan gantungnya sudah mulai keropos rawan putus, kami dari pemerintah desa akan segera mengupayakan peningkatan program jembatan rawayannya, dan sudah mengajukan bantuan ke Pemkab Kabupaten Bogor, namun apabila nanyi tidak ada dananya, kami akan gunakan Dana Desa sebesar Rp300 juta untuk rehab pembangunanya,” tegasnya. 

Masih kata Kades Yayan, jembatan gantung rawayan yang melintang di atas sungai Cihideung di desanya itu, dibangun tahun 2011 dengan anggaran dibawah Rp200 juta.

“Selain itu, desa juga akan segera membangun jembatan baru di kawasan Kampung Semper RW 06, yang tujuannya agar semua para pemotor tidak lagi menggunakan jembatan gantung lama, karena berbahaya,” katanya.

“Agar diketahui, untuk rencana panjang jembatan baru di kampung Semper nantinya mencapai 42 meter dengan lebar lebar 1,2 meter yang anggarannya akan diambil dari Samisade 2024,” tukasnya.

Soleh, pemotor yang kepergok Jurnal Bogor kedapatan melintas menggunakan jembatan Gantung Kampung Cihideung kecil yang rawan rusak tersebut, mengaku lebih cepat sampai ke rumahnya yang berjarak 150 meter dari jembatan gantung, dibanding harus melalui jalan baru yang jaraknya bisa mencapai 1 kilometer.

** Bayup

Stunting, ODF Hingga Samisade jadi Pembahasan Minggon Kecamatan Dramaga

0

Dramaga l Jurnal Bogor
Pemerintah Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor mengelar rapat minggon di aula Kantor Desa Dramaga, Rabu (18/10/2023). Rapat tersebut membahas dan mengevaluasi kinerja desa yang ada di Kecamatan Dramaga.

Camat Dramaga Tenny Ramadhani mengungkapkan rapat minggon yang dihadiri kepala desa, UPT , Puskemas dan Muspida Kecamatan merupakan agenda rutin bulanan.

Saat ini rapat minggon, ada beberapa hal menjadi fokus pembahasan dari mulai jelang persiapan Pemilu di 2024.  Kemudian, persoalan Open Defecation Free (ODF) atau buang air besar sembarangan agar desa bebas dari buah air besar sembarangan dan yang menjadi catatan yakni bagi desa bisa mengiventarisir MCK yang memenuhi standar dan sanitasi .

Lalu, program Samisade. Kecamatan sebagai tim verifikasi faktual  mengingatkan desa agar bantuan keuangan desa dikerjakan dengan baik.  Sebab, hasil pengawasan secara teknis, hasil laporan kajian tenaga ahli dan berita acara menjadi tolak ukur pencairan Samisade tahap kedua

“Kita punya tim Monev yang turun langsung ke lapangan dan mengecek fisik dan LPJ Program Samisade. Tim tersebut sangat penting untuk mengawasi memonitoring kegiatan Samisade,” ujarnya

Lalu, persoalan stunting. Pada 2022 sudah difokuskan di Desa Sukadamai  dan Purwasari. Namun pada 2023 ada penambahan lokus stunting yakni Desa Dramaga, Sinarsari dan Desa Neglasari .

Untuk mengatasi hal tersebut pihaknya bersama puskesmas memberikan edukasi kepada para kader untuk bersama-sama menekan angka stunting. Selain itu, yang menjadi lokus stunting diberikan juga bantuan makanan untuk peningkatan gizi  dari Dinas Pemberdayaan Perempuan.

“Kita berpikir,  ketika sudah ada penetapan lokus stunting tidak ada lagi. Namun, setelah data stunting di update masih ada penambahan desa yang rawan stunting. Tentunya ini menjadi bahan evaluasi bersama dan bagiman kita bersama-sama menekan angka stunting dan tidak ada lagi kasus stunting di Kecamatan Dramaga,” jelasnya.

** Arip Ekon

Damkar Edukasi Anggota Penanganan Medical dan Hewan Berbahaya

0

Leuwiliang | Jurnal Bogor
Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Bogor mengedukasi anggota Damkar Sektor Leuwiliang terkait penanganan medical dan penanganan hewan berbahaya melalui kegiatan road show.

“Kita edukasi ke-10 sektor, hari ini kita edukasi ke sektor Leuwiliang, edukasi perihal penanganan medical dan penanganan ular,” kata Kasi Penyelamatan dan Kedaruratan Damkar Kabupaten Bogor Asan, Rabu (18/10/2023).

Asan menjelaskan edukasi penanganan tersebut sudah berjalan sekitar 4 sektor di Leuwiliang.

“Kita udah ke-4 sektor, Sektor Cileungsi, Gunung Putri, Cariu dan hari ini sektor Leuwiliang,” jelasnya.

Nantinya setiap sektor Damkar di Kabupaten Bogor akan diisi dengan tim rescue dengan beberapa anggota.

“Di sektor ini kita adakan anggota rescue, rencana per sektor 6 orang. 10 sektor di Kabupaten Bogor dan dari per sektor itu ada 6 anggota tim Rescue, cuman kita kirimkan 3 orang dulu,” terangnya.

Selanjutnya dia juga menerangkan, soal edukasi nantinya di lapangan itu dengan beberapa prosedur yang sudah tertuang di peraturan.

“Penanganan kecelakaan, saya berpesan ke teman-teman, penanganannya kita harus ada saksi. Bahwa kita sedang penanganan kecelakaan jadi jangan langsung penanganan sebelum ada saksi,” jelasnya.

“Selanjutnya penanganan hewan. Hewan lebih berbahaya agresif, kita sering ada kejadian di teman-teman kita juga masih sering digigit jadi kita lakukan edukasi,” sambungnya.

Dia juga menghimbau kepada masyarakat ketika ada hewan di rumah, maka yang dilakukan utama lebih pada pengawasan hewan tersebut.

“Kita awasi dulu aja sebelum tim Damkar datang, dan juga kepada masyarakat jangan menangani langsung karena berbahaya,” pungkasnya.

** Andres

IMAG 2023, 2 Ribu Atlet Beladiri Bakal Penuhi Kota Bogor

0

jurnalinspirasi.co.id – Kota Bogor akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Indonesia Martial Arts Games (IMAG) di GOR A dan B Pajajaran serta Hotel Green Forest pada 20 hingga 31 Oktober 2023.

Wakil Ketua Panitia PB IMAG, Benninu Argoebie mengatakan bahwa IMAG merupakan event pertama yang menjadi ajang Babak Kualifikasi PON Aceh-Sumut 2024, dan kedepannya akan menjadi agenda resmi dua tahunan selevel dengan PON.

“Kita siap. Persiapan sudah 90 persen, sebagian peserta sudah datang seperti kickboxing,” ujar Benninu, Rabu (18/10).

Menurut Benn, Kota Bogor sendiri akan menyelenggarakan pertandingan di empat cabang olahraga (cabor), yakni kickboxing, wushu, sambo, dan gulat. Sementara lima cabor lainnya dilaksanakan Kota Bekasi dan satu cabor di Cibubur.

“Jumlah atlet beladiri yang akan datang ke Kota Bogor ada sekitar 2.000 orang dari seluruh Indonesia. Jadi jelas perhelatan IMAG juga akan berkontribusi mendongkrak pendapatan daerah,” kata Benninu.

Benn juga menjelaskan mengapa Kota Bogor ditunjuk oleh KONI Pusat lantaran ‘Kota Hujan’ memiliki atlet beladiri yang prestasinya tertinggi di Jawa Barat (Jabar).

Selain itu, sambungnya, Bogor juga saat ini telah menjadi destinasi wisata di Indonesia, sehingga banyak dorongan dari luar agar IMAG diselenggarakan di Kota Bogor.

“Dengan segala keterbatasan, kami akan mencoba maksimal untuk menjadi tuan rumah,” katanya.

Lebih lanjut, kata Benninu, perhelatan IMAG juga bakal menjadi ajang persiapan Kota Bogor untuk menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jabar 2026 mendatang.* Fredy Kristianto

Soal Taman Ciawi, Konsultan Pengawas dan Pejabat Dinas Terkait Mesti Tanggungjawab

0

Ciawi|Jurnal Bogor
Keberadaan konsultan pengawas di proyek Taman Ciawi, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, menjadi sorotan kalangan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Sebab, proyek taman yang kondisi pembangunan nya diduga asal-asalan tersebut, tidak lepas dari lemahnya pengawasan konsultan.

Ketua LSM Jaringan Advokasi Masyarakat Pakuan Pajajaran (JPP), Saleh Nurangga mengatakan, baik buruknya pelaksanaan pembangunan Taman Ciawi, tidak bisa menyalahkan pihak ketiga sepenuhnya. Karena, dalam pelaksanaan pengerjaan proyek yang nilainya mencapai Rp310 juta lebih itu, melibatkan konsultan pengawas.

 “Buat apa ada konsultan pengawas. Tugas konsultan itu untuk melakukan pengawasan dalam setiap kegiatan proyek pembangunan yang bersumber dari anggaran pemerintah,” ungkapnya kepada Jurnal Bogor saat dihubungi melalui telepon selulernya, Rabu (18/10).

Konsultan pengawas, lanjutnya, bertugas mengawasi jalannya setiap kegiatan proyek yang dikerjakan pihak ketiga. Sehingga, melalui tugas nya konsultan itulah semua pengerjaan proyek sesuai dengan rencana.

 “Konsultan bisa melihat apakah dalam pengerjaannya itu sudah sesuai rencana anggaran belanja (RAB) dan gambar awal atau tidak,” jelas Saleh.

Apabila dalam pelaksanaan nya tidak sesuai RAB dan gambar, sambung Saleh, konsultan pengawas dapat melaporkan temuannya untuk dijadikan bahan laporan terhadap dinas terkait.

 “Kalau tidak sesuai rencana awal dan gambar, pihak pelaksana bisa dikenakan sanksi administrasi, yakni dibayar sesuai dengan pengerjaan,” tegasnya.

Selain itu, kata Saleh, proyek taman sangat mudah untuk dihitung dan diawasi pengerjaannya. Pasalnya, dalam pengerjaan proyek taman bisa terlihat secara kasat mata dan gamblang bentuk fisiknya.

 “Jadi kalau proyek taman itu mudah dilihat, selain tanaman juga ada fasilitas pendukung lainnya. Saya minta agar bidang pertamanan di dinas terkait bertanggungjawab terhadap kondisi Taman Ciawi yang pembangunannya asal jadi,” imbuhnya.

Sebelumnya, Sekretaris Aliansi Masyarakat Bogor Selatan (AMBS), Azet Basuni menyayangkan dengan kondisi Taman Ciawi yang sudah terlihat kumuh dan semrawut. Padahal, belum lama ini taman yang berada di lokasi strategis itu, sudah dilakukan pembangunan oleh pihak ketiga.

 “Kalau lihat kondisi taman seperti itu, saya kira pemerintah hanya buang-buang anggaran saja. Pengerjaan proyek taman ini seakan dilakukan secara asal-asalan,” katanya kepada Jurnal Bogor saat dihubungi melalui telepon selulernya, Senin (16/10).

Azet pun mempertanyakan pembangunan apa saja yang dilaksanakan pihak ketiga dalam proyek taman dengan nilai ratusan juta itu. Pasalnya, informasi dari masyarakat Ciawi, tidak banyak perubahan yang signifikan dalam pelaksanaan pembangunan proyek taman tersebut.

Dimana, sambungnya, pelaksana hanya membangun tempat duduk dan memplester taman yang sebelumnya tanah menjadi tembok. Akan tetapi, yang paling terlihat itu tidak adanya lampu penerang di sekeliling lokasi taman, sehingga keberadaan taman Ciawi menjadi gelap saat malam hari.

 “Terang itu karena ada lampu para pedagang, mulai dari pedagang kopi, gorengan, sate padang dan penjual makanan lainnya di area taman,” ujar Azet.

Azet menegaskan, pada dasarnya sebagai masyarakat yang ada di wilayah selatan Kabupaten Bogor, sangat berterima kasih kepada dinas terkait yang sudah mengusulkan dan mengalokasikan anggaran pembangunan untuk taman Ciawi.

 “Makanya saya minta dinas terkait kembali mengalokasikan anggaran pembangunan taman Ciawi yang bisa dijadikan ikon selatan. Tidak seperti sekarang masih banyak fasilitas taman yang belum ada. Malah depan taman trotoarnya saja sudah banyak yang bolong dan rusak,” tukasnya.

** Dede Suhendar

Pencurian Meteran Air Ledeng Kembali Marak, Pelaku Belum Juga Tertangkap

0

Ciampea | Jurnal Bogor
Kasus pencurian alat pengukur meteran air milik warga kini kembali marak. Terhitung sejak awal tahun 2022 hingga medio Oktober 2023 ini, tak kurang 55 unit meteran air milik pelanggan Perumda Tirta Kahuripan di Ciampea, Cibungbulang, hingga Leuwiliang, raib digondol maling.

Salah satu kasus pencurian alat meteran air ledeng yang baru saja terjadi yakni menimpa Hendra, warga Kampung Cemplang, Desa Cemplang, Kecamatan Cibungbulang yang sudah membuat dia dan keluarganya kesal.

“Kejadian pencurian meteran air ledeng ini sudah saya laporkan ke Polsek Cibungbulang. Namun sampai saat ini, pelakunya belum juga berhasil ditangkap,” kata Hendra korban pencurian kepada Jurnal Bogor, Rabu (18/10/2023).

Menurut Hendra kejadian pencurian alat meteran air ledengnya tersebut memang baru pertama kali terjadi yang dialaminya. Namun kejadian tersebut membuatnya merasa geli dan lucu.

“Mungkin alat meteran tersebut punya nilai jual mahal di pasar gelap. Tetapi atas kejadian ini, alhamdulilah, pihak Perumda Air Minum Tirta Kehirupan Leuwiliang sudah memberikan gantinya dengan yang baru”, tukasnya.

Kepala Cabang Perumda Tirta Kahuripan Leuwiliang Dany Prasetya membenarkan, kasus pencurian meteran air ledeng milik warga pelanggannya itu, kini kembali marak sejak tahun 2022 silam.

“Bahkan diawal tahun 2023 saja, sedikitnya sudah ada 15 laporan warga yang masuk ke kami yang mengadukan 15 unit alat meterannya hilang digondol pencuri,” ungkapnya.

Kasus pencurian ini sambungnya, sudah dalam proses penanganan kepolisian, sementara untuk identitas beberapa pelakunya sudah diketahui.

“Kasus pencurian alat meteran air ledeng ini bukan hanya menimpa warga pelanggan, tetapi juga menimpa salah satu masjid di Leuwiliang,”bebernya.

Kata Dany, sasaran pencuri yang menggondol alat meteran air ledeng tersebut, ia mengincar bahan kuningan yang ada didalamnya yang berfungsi sebagai anti magnet.

“Ya, kalau dijual di pasar gelap harganya bisa mencapai Rp 125 ribu,” pungkasnya.

** Bayup