Jurnal Bogor – Pemdes Tamansari, Kecamatan Tamansari, menggelar sosialisasi dan pembentukan satgas Desa Bersinar (Bersih dari Narkoba).
Sosialisasi dan pembentukan desa bersih dari narkoba akan membantu meningkatkan kesadaran masyarakat dan menciptakan lingkungan yang lebih aman dan sehat bagi semua orang.
“Semoga upaya tersebut berhasil dan memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi Desa Tamansari,” ungkap Kades Tamansari, Sunandar, Rabu (29/5/2024).
Kegiatan ini atas Partisipasi dari unsur Kesbangpol dan BNNK Kabupaten Bogor sebagai narasumber dalam kegiatan sosialisasi tersebut tentu sangat berharga.
Lebih lanjut, mereka bisa memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang bahaya narkoba dan upaya pencegahannya berdasarkan pengetahuan dan pengalaman mereka dalam bidang tersebut.
“Semoga dengan bantuan mereka, pesan anti-narkoba dapat disampaikan dengan lebih efektif kepada masyarakat Desa Tamansari,” jelas Sunandar.
Menciptakan desa yang bersih dari peredaran dan penggunaan narkoba adalah langkah yang sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan dan keamanan masyarakat.
“Dengan sosialisasi dan pembentukan kesadaran, diharapkan masyarakat dapat lebih waspada terhadap bahaya narkoba dan bersama-sama menjaga lingkungan dari pengaruh negatifnya. Semoga upaya ini memberikan hasil yang positif dan berkelanjutan bagi Desa Tamansari,” pungkasnya.
KIM (Komunitas Informasi Masyarakat) adalah komunitas yang dibentuk oleh masyarakat, dari masyarakat dan untuk masyarakat serta secara mandiri dan kreatif melakukan aktivitas pengelolaan informasi dan pemberdayaan guna memberikan nilai tambah bagi masyarakat itu sendiri.
KIM ini berdasarkan Permenkominfo Nomor 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Konkuren Bidang Komunikasi dan Informatika, bahwa Dinas melaksanakan kemitraan dengan pemangku kepentingan, salah satunya adalah Komunitas Informasi Masyarakat, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (2) huruf a. Di Kota Bogor, KIM ada di 68 kelurahan. Salah satu tugasnya adalah mendayagunakan informasi dan komunikasi guna meningkatkan potensi di wilayah.
Dodongkal Pak Godeg Muarasari
Dodongkal, salah satu kudapan tradisional yang kini jarang dijumpai tapi masih tetap ada. Dodongkal yang memiliki cita rasa manis ini terbuat dari bahan dasar tepung beras yang dicampur parutan kelapa, garam, daun pandan dan gula merah, kemudian dikukus.
Salah seorang produsen yang masih bertahan di Kota Bogor ialah Wawan Kusbianto atau yang dikenal Dodongkal Pak Godeg.
Usaha rumahan ini merupakan turun temurun dari keluarganya sejak 20 tahunan lalu. Lokasinya di RT 5, RW 4, Kelurahan Muarasari, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Baginya usaha ini mesti dipertahankan, sama halnya dengan seni tradisional.
“Alhamdulillah saya sudah punya NIB, sertifikat halal dan usaha ini sudah puluhan tahun. Saya juga sudah generasi ketiga sejak tahun 2014 meneruskan orang tua,” katanya.
Sehari ia mengaku bisa menghabiskan bahan baku beras sebanyak 30 liter yang dihaluskan dengan alat penggiling menjadi tepung beras. Yang menjadi ciri khas dari Dodongkal yaitu wadah atau tempat untuk mengukus yang berupa anyaman bambu berbentuk kerucut seperti tumpeng atau disebut Aseupan. Nantinya kukusan berbentuk kerucut tersebut dimasukkan ke dalam alat pengukus yang disebut seeng.
“Untuk daunnya kita menggunakan daun pisang batu. Kita benar-benar menggunakan bahan tradisional dan bebas bahan pengawet,” tuturnya.
Di daerahnya ada 30 pedagang dodongkal. Wawan secara pribadi memiliki 5 pedagang keliling yang menggunakan sepeda motor.
“Pemasarannya menggunakan motoris atau keliling, karena saat ini tidak ada tempat untuk berjualan dan memasarkannya,” katanya.
Untuk prosesnya pembuatannya mulai dari pukul 11.00 WIB hingga waktu subuh. Harganya bervariasi, tergantung ukuran dan pemesanan, mulai dari Rp 3.000 hingga Rp 100.000.
“Kalau yang motoris Rp 3.000 – Rp 5.000 satu porsinya,” katanya.
Wawan menginginkan adanya penelitian dari Pemkot Bogor atau IPB University mengenai tepung beras agar kuat lama dan kualitasnya tidak menurun, agar ke depan dodongkal bisa dibuat secara praktis dimanapun dan kapanpun. Sebab, saat ini belum ada tepung instan dodongkal di pasaran.
Menambahkan, Ketua KIM Muarasari, Aris Setyo Sudarmo menyampaikan, pasca Covid-19 belum ada pergerakan lagi dari dinas atau instansi terkait. Sebelumnya sering ada pelatihan, seperti pengemasan. Din berharap usaha ini bisa tetap eksis karena ini merupakan makanan tradisional tanpa bahan pengawet dan ada inovasi dodongkal instan.
Bagi yang ingin memesan Dodongkal Pak Godeg bisa langsung menghubungi pemiliknya, Wawan Kusbianto, 08568213244. Ada rasa original, Stroberi, coklat, nanas dan keju.
Cooxers, Brand Sepatu Lokal Produk Asli Mulyaharja
Kehadiran brand sepatu lokal semakin berkembang pesat dalam beberapa tahun belakang ini. Dari sekian banyak merek sepatu lokal yang ada di Kota Bogor, ada satu yang diciptakan oleh warga Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, yaitu sepatu merek Cooxers. Tepatnya di Pabuaran Pasir RT. 001/010.
Kata Cooxers sendiri diambil dari kata plesetan kaki dalam bahasa sunda kasar (cokor) yang dikemas dalam tulisan kebarat-baratan. Sepatu yang desain dan kualitasnya menawan ini kini makin banyak digunakan oleh banyak orang. Kualitasnya berani di adu dengan merek-merek ternama yang sudah malang melintang di pasar internasional.
“Yang membedakan sepatu Cooxers dengan brand lainnya adalah dalam segi desain, dimana Cooxers dapat menciptakan desain berupa corak dan gambar sesuai keinginan pemesan,” kata Ketua KIM Mulyaharja, Hedi Maulana.
Tardi, satu dari tiga orang pendiri sepatu merek Cooxers mengungkapkan bahwa asal muasal terciptanya Cooxers terinspirasi dari buka usaha jasa digital printing produk sepatu yang telah digelutinya jauh sebelum Pandemi Covid-19.
“Pandemi Covid-19 waktu itu cukup berdampak bagi usaha digital printing kami, sehingga harus memutar otak mencari jalan keluar agar usaha tidak bangkrut dan harus berinovasi,” kata Tardi.
Kehadiran Cooxers diharapkan mampu merespon dan menjawab keinginan pasar yang merasa bosan dengan desain sepatu yang itu-itu saja dan pastinya dengan harga yang terjangkau di konsumen.
“Selain kami telah menciptakan desain pada sepatu Cooxers, namun bisa juga lho memesan sepatu dengan corak atau gambar dari si pemesan, namun saat ini kami menerima pembuatannya minimal 20 pasang, “ kata Tardi
Saat ini Cooxers telah menampung pekerja lokal sebanyak 15 orang dan menghasilkan produk pesanan sekurangnya 2.000 pasang sepatu setiap bulannya yang dikirim ke berbagai kota/kabupaten yang ada di pelosok tanah air.
Nah, buat kalian yang merasa bosan dengan corak sepatu yang itu-itu saja dan ingin tampil lebih percaya diri dengan desain buatan sendiri, Cooxers-lah jawabannya atau mungkin mau tanya-tanya dahulu, silahkan menghubungi Tardi dengan nomor kontak 0813-8094-5219.
Jurnal Bogor – Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Kota Bogor bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Bogor, menyelenggarakan Pelatihan bagi guru Bimbingan dan Konseling (BK) sekolah swasta se-Kota Bogor.
Pelatihan dengan tema “Membangun Lingkungan Sekolah yang Aman dan Inklusif serta Strategi Efektif Melawan Bullyin.”
Kedua materi disampaikan oleh pakar di bidang pendidikan dan Psikologi, yakni Intony Yuswanto, MBA, CI dan Pusda Sari, M.Psi.
Peserta sangat antusias dan mengikuti pendidikan dengan sungguh-sungguh dari pukul 09.00 sampai dengan jam 15.00 WIB, Rabu (29/5/2024).
Ketua BMPS Ade Sarip dalam sambutannya menyampaikan, keberadaan BMPS harus dirasakan manfaatnya oleh seluruh anggota penyelenggara sekolah swasta.
“Untuk itu, dengan dukungan pihak sponsorship dari Diginusa Kompas Gramedia Group, BMPS Kota Bogor mampu menyelenggarakan pelatihan tanpa memungut biaya sepeserpun dari para peserta,” ujarnya.
Lanjut Ade, saat ini adalah waktunya untuk semua pihak berkolaborasi menjaga kualitas pendidikan di Kota Bogor, semua harus saling belajar berbagi hal-hal yang baik.
Sementara, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor, Irwan Riyanto, dalam sambutannya menyampaikan, guru BK adalah kunci keberhasilan dan kemajuan sekolah. Kadis menceritakan pengalamannya yang sering dinasihati saat sekolah oleh Guru BK.
“Saya bisa berdiri di depan Bapak dan Ibu, karena ada peran Guru BK saat saya menuntut ilmu,” tutupnya.
Jurnal Bogor – Kelompok Tani dan Peternak sapi perah tingkatkan program Ketahanan Pangan tahun 2023 yang berfokus pada sektor pertanian cabai dari Kelompok Tani (Poktan) Karya Tugu Mandiri dan dari Kelompok Peternak (Poknak) sapi perah Tirta Kencana.
Tema panen raya skala Desa digelar di area Kelompok Tani beralamat di Kampung Gandamanah, RT 03 RW 12, Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Rabu (29/5/2024).
Kepala Desa Tugu Selatan, M. Eko Widiana mengatakan, Kegiatan perdana tersebut tentu tidak hanya menjadi moment penting bagi warga Desa Tugu Selatan, tetapi juga bagi seluruh komunitas disekitarnya yang turut serta dalam upaya peningkatan ketahanan pangan.
Menurut Casroni, Koordinator BPP Wilayah 7 menyampaikan, bahwa Kelompok Tani Karya Tugu Mandiri dan peternak sapi perah merupakan salah satu kelompok organik yang ada di Kecamatan Cisarua.
“Sudah beberapa kali binaan kami ini di training, baik di Lembang Bandung maupun di Cianjur, bahkan organiknya sudah terverifikasi. Mudah-mudahan ini sebagai langkah awal yang baik untuk program ketahanan pangan kedepan khususnya di Tugu Selatan ini. Selain disini, kami juga mengembangkan pertanian paprica diwilayah Desa Citeko,” terang Casroni.
Ditempat yang sama, Ketua Kelompok Tani Karya Tugu Mandiri Kamal, mengucapkan rasa terima kasih atas dukungan atau support yang diberikan oleh Pemerintah Desa Tugu Selatan dan lembaga lainnya termasuk Pemerintah Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor.
“Program ketahanan pangan sejauh ini bukan hanya disalurkan kepada Kelompok Tani semata, akan tetapi kepada kelompok peternak yang ada diwilayah Desa Tugu Selatan,” jelasnya.
Disini disebutnya, kata dia, home base atau tempat titik kumpulnya para anggota Kelompok Tani dan ini lahan pertama di Poktan Karya Tugu Mandiri. ” Mengucapkan terima kasih kepada Pemdes dan lembaga lainnya atas kepercayaan serta penyertaan modal untuk kami kelola diarea ini,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua BPD Tugu Selatan M. Agus Fatoni, mendukung sekaligus mengapresiasi upaya yang dilakukan Pemerintah Desa dan kelembagaan lainnya termasuk kelompok tani dan peternak sapi perah yang ikut andil dalam program ketahanan pangan di Desanya.
Tiba-tiba ikut panen aja, sementara gak tau nanamnya kapan. “Saya apresiasi upaya Pemdes Tugu Selatan dan kita support para petani milenial serta peternak yang ada di Desa kita,” pungkasnya.
Jurnal Bogor – Warga bersihkan sampah di bantaran sungai di wilayah Jambuluwuk yang berbatasan dengan desa Bojongmurni, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor.
Antusiasme warga gotong royong yang dilakukan atas keinginan dan swadaya masyarakat sekitar.
“Bersyukur dan berterima kasih kepada warga disini yang mau peduli dengan lingkungan, dan support diberikan oleh Pemdes Jambuluwuk juga Bojongmurni. Bahkan anggaran perbaikan ini bukan dari Dana Desa ya tapi murni swadaya warga,” ucap H. Fahmi, Kadus I Desa Bojongmurni, Rabu (29/5/2024).
Pihaknya berharap kedepan warga masyarakat tidak ada lagi yang membuang sampah ke sungai, karena hal tersebut akan berdampak buruk, bahkan bisa menjadi bencana.
“Iya, sudah diusulkan ke Kades dan BPD terkait masalah sampah akan coba kita buatkan Perdesnya. Jika ada warga yang buang sampah sembarang ke sungai, maka kita akan kenakan sanksi sosial. Kita akan pajang fotonya disekitar sini buat efek jera juga,” tegas Fahmi.
Sementara itu, Kasi Kesra Desa Jambuluwuk Indra Fei, mengaku bangga dan mengapresiasi upaya yang digagas Kadus I Bojongmurni serta warga sekitar.
Bahkan kata Indra, sumber anggaran tersebut Ia ketahui bukan berasal dari Dana Desa, melainkan swadaya masyarakat.
“Ini patut saya apresiasi warga yang ikut kerja bakti dimana kegiatan itu digagas Kadus. Semoga kebersamaan ini bisa terus dijaga dan dipertahankan hingga kapanpun,” ungkapnya.
JURNAL Inspirasi – Unit Pelaksana Tugas (UPT) Infrastruktur Jalan dan Jembatan Kelas A Wilayah VI Cigudeg rampung melakukan pemasangan bronjong akibat amblesnya jalan di Ruas jalan Nanggung – Curugbitung tepatnya di wilayah Desa Curugbitung, Nanggung, Kabupaten Bogor.
Saat monitorong penanganan tanggap darurat, Kepala UPT Infrastruktur Jalan dan Jembatan Kelas A Wilayah VI Cigudeg Bobby Wahyudi menjelaskan, pelaksanaan tanggap darurat bencana jalan ambles dan longsor yang terjadi pada Februari 2023.
“Di lokasi jalan itu, mengalami kerusakan jalan serta ambles sekitar 45 cm. Termasuk terjadinya longsor di bahu jalan sepanjang 30 meter,” kata Bobby Wahyudi.
Diakuinya, akibat amblesnya jalan tersebut menjadi mempengaruhi terhambatnya para pengguna jalan, baik roda dua maupun roda empat.
Saat monitoring ke lokasi penanganan tanggap darurat dia didampingi para staf UPT Jalan, hadir pula petugas dari Kecamatan Nanggung. Bobby menerangkan kejadian tersebut telah dilaporkan ke Dinas PUPR Kabupaten Bogor.
“Sudah dilaporkan sebelumnya, mengingat beberapa waktu lalu pengadaan bahan matrerial dan bronjong dari dinas belum tersedia, jadi waktu itu kami masih menunggu material yang diperlukan. Setelah pengadaan bahan material tersedia, maka di bulai Mei ini, kami segera ke lapangan untuk melaksanakan perbaikan jalan yang terdampak akibat bencana alam tersebut,” jelasnya.
Sementara penanganan jalan tersebut hampir rampung dan sudah 8 hari berlangsung pengerjaan. Akan tetapi, diakui Bobby monitoring kali ini pihaknya merasa masih adanya kekurangan untuk pemasangan bronjong kurang lebih 15 meter dan tinggi kurang lebih 3 m. Hal ini untuk menahan dinding penahan tebing (DPT) di lokasi jalan tersebut.
Maka itu, menurutnya, masih belum tuntas dan masih ada lagi yang harus ditangani lantaran dilihat dari pasangan DPT di lokasi harus di tambah lagi pemasangan bronjong untuk menjaga DPT jalan agar tidak mudah terjadinya longsor,
“Dikhawatirkan terjadi ambruk, jadi harus adanya penambambahan kembali bronjong guna perkuatan,” paparnya.
Diharapkan hasil pelaksanaan perbaikan ini bisa bertahan cukup baik sampai nanti diperbaiki kembali melalui rekonstruksi jalan. “Kami upayakan semaksimal mungkin melaksanakan kegiatan pemeliharaan ini sesuai dengan kebutuhan anggaran yang ada,” tukasnya.
Jurnal Bogor – Ratusan Siswa-siswi SMPN 1 Tamansari, Kabupaten Bogor, ikuti pelepasan peserta didik tahun 2024. Pelepasan peserta didik angkatan 39 tahun 2023/2024, mengusung tema “Terus berjuang Menggapai Cita-cita, Walau Tak Lagi Bersama”.
Ketua panitia penyelenggara Deni Hamdani mengatakan, sebanyak 364 siswa yang mengikuti pelepasan tersebut. Pihaknya mengundang 380 tamu undangan diantaranya, purnabakti kepala sekolah, guru, unsur muspika dan kepala desa.
“Siswa-siswi yang telah lulus jangan sampai putus di SMP saja, tetapi harus melanjutkan ke jenjang SMA maupun SMK,” tutur Deni, Senin (27/5/2024).
Ia menjelaskan, di SMPN 1 Tamansari, juga ada beberapa siswa-siswi yang berprestasi dengan nilai tertinggi yaitu, Zanneta Vania Wiguna, Siti Hadawiyah Dan Ridha Amelia.
“Kita tetap memfasilitasi para siswa untuk membantu mendaftarkan jenjang SMA maupun SMK dan kami sudah membuat tim,” jelasnya.
Lebih lanjut, kata Deni, acara pelepasan tahun ini ada yang berbeda yaitu ada penamaan angka 39, yang di angkatan sebelumnya tidak ada nama maupun angka.
“Sudah kita kukuhkan ketua alumni angkatan 39. Saya berharap terus berkomunikasi dan menjalin silaturahmi,” pintanya.
Di tempat yang sama, Camat Tamansari Yudi Hartono yang hadir sebagai tamu undangan menjelaskan, kegiatan Ini adalah ajang silaturahmi yang positif dan pihaknya mengapresiasi kegiatan tersebut.
“Saya berharap seluruh siswa-siswi bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi,” ungkapnya.
Jurnal Bogor – Infrastruktur menjadi modal penting demi mendongkrak ekonomi di satu wilayah. Namun hal ini di rasakan warga Desa Sukajadi dan wisatawan. Pasalnya Akses jalan menuju kawasan wisata di Desa Sukajadi, Tamansari dalam kondisi rusak. Tampak material yang berlubang di sejumlah ruas jalan.
Apalagi saat diguyur hujan, lubang-lubang tersebut berubah menjadi kubangan air sehingga membahayakan pengguna jalan.
Salah satu pengguna jalan Rahman mengeluhkan kondisi jalan tersebut. Menurutnya, kondisi tersebut tentu membuat tidak nyaman pengguna jalan.
“Saya memang baru melintas di jalan ini, rasanya tidak nyaman dengan kondisi jalan berlubang, apalagi kita mau berwisata,” ungkapnya, Selasa (28/5/2024).
Warga Kota Bogor itu juga khawatir jalan tersebut mengakibatkan kecelakaan. Dia berharap, instansi terkait segera memperbaiki jalan tersebut.
“Kalau terus dibiarkan, jalan itu malah bikin rusak kendaraan yang melintas,” keluhnya.
Sementara itu, Kepala Desa Sukajadi, Ade Gunawan mengatakan, saat ini aktivitas pariwisata di wilayah desanya tengah berkembang. Namun hal itu belum didukung dengan akses jalan yang memadai.
“Memang setiap kali ada kerusakan, pihak pemerintah melalui instansi terkait selalu lakukan perbaikan. Tetapi kondisi ini sudah cukup lama dan belum diperbaiki kembali,” ucapnya.
Kendati demikian, peningkatan Jalan Sukajadi – Gunung Malang pada 2023 lalu pun belum juga rampung setelah mangkrak. Sehingga jalan tersebut acap kali terjadi kemacetan saat musim liburan.
“Dengan kondisi jalan rusak itu berimbas terhadap wisatawan yang hendak ke sini. Maka kami berharap pemerintah daerah segera memperbaiki melalui perawatan,” pungkasnya.
Jurnal Bogor – Sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam PMM (Pertukaran Mahasiswa Merdeka) angkatan 4 tahun 2024 perwakilan dari berbagai Provinsi menggelar silaturahmi sekaligus dialog interaktif dengan aktivis dan penggiat lingkungan hidup komunitas PEPELING Puncak, Kabupaten Bogor.
Dialog interaktif digelar secara out door di area lapangan tepat depan Kampus Universitas Djuanda, Kecamatan Ciawi beberapa waktu lalu, membahas isu yang berkenaan dengan permasalahan lingkungan hidup dan sampah termasuk penanganannya.
“Kami ucapkan terima kasih kepada Kang Taufik dan Kang Iwan Meichin dari Komunitas Pepeling yang sudah bersedia jadi narasumber terkait lingkungan hidup dan segala permasalahannya termasuk sampah. Kegiatan ini kami sebut dengan inspirasi dan temen-temen di PMM yang berjumlah 21 orang dari berbagai Provinsi cukup antusias saat mendengarkan pemaparan tadi,” kata Ira Riswanih salah seorang mahasiswi Fakultas Hukum mewakili Universitas Djuanda Ciawi Bogor, Selasa (28/5/2024).
Saat ini kata Ira, permasalahan sampah menjadi momok menakutkan juga di mata masyarakat.
“Betapa pentingnya bagi kita untuk menjaga kelestarian alam dan peduli dengan lingkungan hidup terutama masalah sampah yang hingga kini belum bisa terurai meskipun sudah beragam cara menyelesaikannya. Disini butuh kesadaran kita sebagai warga masyarakat tidak mengandalkan kepada intansi terkait,” bebernya.
Menurutnya, Kehadiran rekan dari komunitas Pepeling setidaknya bisa memotivasi rekan-rekan mahasiswa lainnya yang tergabung dalam kegiatan PMM untuk bisa berkontribusi nyata ikut andil membantu salah satu program Pemerintah dalam bidang lingkungan hidup.
“Apa yang disampaikan tadi oleh pembicara sedikit banyak kita jadi tau apa yang mesti kita perbuat dan tentu ini bermanfaat, agar kita pun lebih aware lagi dengan lingkungan tempat kita berpijak,” ujarnya.
Ditempat yang sama, Hilma Nabila salah seorang mahasiswi semester IV peserta PMM angkatan ke-4 tahun 2024 mewakili Universitas Malikussaleh Provinsi Aceh, menuturkan, bahwa dengan adanya kegiatan Pertukaran Mahasiswa Merdeka tersebut, setidaknya mampu mengenal perbedaan kultur, baik budaya dan adat istiadat atau unsur lainnya dari masing-masing perwakilan Kampus yang ada di Nusantara ini.
Kegiatan ini sebagai bagian dari program Pemerintah dan diadakan pertama kalinya di semester genap jadi biasanya PMM itu digelar pada semester ganjil ya. Soal kedepannya sih kita belum tau pasti ya tapi isu-nya bakal ada PMM angkatan kelima (5).
“Kami berada diwilayah Ciawi ini sudah 4 bulan lamanya, dan ternyata memang benar bahwa Bogor ini sesuai dengan julukan yakni Kota hujan dimana punya keunikan tersendiri ya kami merasakan itu,” pungkasnya.
Jurnal Bogor – Tiga orang yang diduga membawa senjata tajam ditangkap anggota Polsek Megamendung di Gang TK Melati, Kampung Ciratim, Desa Cipayung Girang, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor pada Senin (27/5/2024).
Informasi yang dihimpun, penangkapan bermula dari laporan masyarakat yang mencurigai adanya aktivitas mencurigakan di sekitar lokasi kejadian. Anggota Piket yang dipimpin Kanit Reskrim Iptu Rahman Nurjaman, segera menindaklanjuti laporan tersebut.
“Pada pukul 02.00 WIB, petugas berhasil mengamankan tiga orang yang kedapatan membawa senjata tajam,” ujar Akp Dedi Hermawan, Selasa, (28/5/2024).
Ketiga pelaku yang diamankan adalah Sdr MA (21), Sdr RA (23), dan Sdr MAM (19). Dari ketiganya, polisi menyita enam buah senjata tajam sebagai barang bukti.
“Ketiga pelaku dibawa ke Polsek Megamendung untuk pemeriksaan lebih lanjut. Tidak ada korban dalam kejadian ini. Polisi juga telah mengamankan barang bukti berupa enam buah senjata tajam,” ungkapnya.
Polsek Megamendung mengapresiasi kerjasama masyarakat dalam memberikan informasi yang membantu menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah tersebut.
“Kasus ini akan dilanjutkan dengan pemeriksaan mendalam untuk mengetahui motif di balik kepemilikan senjata tajam oleh ketiga pelaku, sampai dengan berita ini diturunkan para pelaku dalam proses tindakan hukum lebih lanjut,” tutup AKBP Dedi Hermawan.