23 C
Bogor
Friday, March 27, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 23

Ada Ketakutan di SPPG

0

Cibinong | Jurnal Bogor

Stasiun Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dikelola Badan Gizi Nasional masih dilanda ketakutan dalam memberikan informasi pelayanan publik. Jangankan memberi informasi terkait sajian menu dan perputaran uang, didatangi sejumlah wartawan, SPPG sudah panik dan berkilah tidak ada di tempat. Jurnal Bogor menyempatkan mengunjungi dua SPPG. SPPG di Kota Depok dan SPPG di Kabupaten Bogor. Kedua SPPG ini melalui para pekerjanya hanya bisa berbincang santai di luar pekerjaan utama di dapur SPPG.

“Situ aja yang ke sini duduknya,” kata wanita yang mengaku bernama Reno berusia 35 tahun dengan nada ketus saat berbincang dengan Jurnal Bogor di SPPG Kampung Cipayung Kelurahan Tengah, Cibinong, Kamis (12/2/2026). Wanita bertubuh agak gemuk berkerudung agak kusut itu disebut pekerja SPPG lainnya sebagai Asisten Lapangan, 2 tingkat di  bawah Kepala Dapur dan Ahli Gizi, meskipun saat dicek tidak ada yang disebut Asisten Lapangan dalam struktur organisasi SPPG.

Berbeda dengan Willy, pria 28 tahun ini bertugas mengantar MBG menggunakan mobil elf ke SDN Cipayung 1 dan 2, Madrasah Al Hidayah, TK Nurul Abror dan menu bagi ibu hamil dan anak balita ke Posyandu yang dititip melalui kelurahan Tengah setiap hari.

“Beda-beda bang jalurnya, kalau saya ke SDN Cipayung 1 dan 2, Al Hidayah, Nurul Abror dan Posyandu. Kalau mobil satu lagi beda lagi tempatnya,” kata Willy dengan santai yang bahkan bersedia difoto setelah bincang santai dengan Jurnal Bogor.

SPPG di Kampung Cipayung Kelurahan Tengah ini tidak diketahui di mana dipasang struktur organisasi yang dapat menerangkan Yayasan dan kepala dapur serta jajaran nama pekerja yang ada. SPPG yang berlokasi di bekas restoran sunda berukuran sangat luas itu, kini sudah disulap jadi SPPG. Nampak jelas bahwa SPPG itu bermodal sangat besar dan dikelola bukan warga biasa yang punya kemampuan ekonomi menengah bawah.

Terpisah, perlakuan berbeda terhadap jurnalis yang datang meliput aktivitas SPPG di wilayah Kota Depok. Salah satunya adalah SPPG yang berlokasi di Gragas Resto and Coffee. Ditemui Wanita yang mengaku bernama Mei mengatakan bahwa kepala SPPG tidak ada di lokasi dan harus membuat surat pengantar seperti layaknya permohonan pembuatan KTP dari ketua RT ke ketua RW untuk disampaikan ke kelurahan.

“Arahan dari BGN lewat zoom meeting, harus ada surat permohonan dulu dari media ke kami baru bisa kami terima dan layani,” kata Wanita itu yang didamping 2 wanita muda lainnya yang juga berkerudung. Namun saat ditanya mana surat dari BGN, wanita itu tidak dapat menunjukannya dan berkukuh harus ada surat untuk berupaya melindungi diri dari cecaran pertanyaan wartawan.

Di struktur organisasi SPPG Cilodong milik Yayasan Yasspira Indonesia Maju ini tidak terdapat nama Mei. Sementara di dapur, nampak sejumlah pekerja sedang sibuk mencuci alat makan yang baru turun dari mobil SPPG. Tak lama kemudian datang satu mobil SPPG membawa alat makan untuk dibersihkan. Kepala SPPG tertulis Bernama M Sholehuddin AA.

Dari dua lokasi SPPG di Kota Depok dan Kabupaten Bogor dapat ditangkap ada nuansa ketakutan saat dikunjungi wartawan. Tak diketahui penyebabnya apa, namun yang pasti para pekerja SPPG rerata berada di usia di bawah 40 tahun bahkan didominasi berusia di bawah 30 tahun. Mereka hanya ingin bekerja dan memiliki penghasilan bulanan meski berstatus relawan.

Saat ditanya akan dapat THR atau tidak dari Yayasan, pria yang mengaku bernama Bois 27 tahun dan mengaku bertugas sebagai petugas keamanan berkata,”Dapat pak, dapat kali?” lalu berseloroh sambil tersenyum perih karena statusnya yang bukan PPPK BGN.n Herry Setiawan

Bencana Banjir dan Angin Ribut Hanya Terjadi Dekat Pusat Kekuasaan

0

Cibinong | Jurnal Bogor
Bencana banjir dan angin ribut menerjang wilayah Kabupaten Bogor. Petaka tersebut seperti petanda bahwa alam sedang marah. Sebab, peristiwa dahsyat ini hanya terjadi dekat pusat kekuasaan negara dan daerah.

Musibah banjir terjadi di Bojong Koneng, Babakan Madang, tak jauh dari kediaman Presiden Indonesia, Prabowo Subianto. Derasnya arus banjir membawa bebatuan hingga membuat mobil hanyut.Peristiwa itu terjadi pada Rabu (11/2) pukul 16.06 WIB.

Sehari kemudian, pada Kamis (12/2/2026) siang, hujan deras disertai angin puting beliung memporak-porandakan kawasan Stadion Gelora Pakansari, Cibinong. Area ini berada di pusat Ibukota Kabupaten Bogor, yang dekat dengan kediaman Bupati Rudy Susmanto.

Menurut Kyai Haji Nurul Atiq Tadjudin, peristiwa yang terjadi di Kabupaten Bogor itu bukan klenik, tetapi fakta alam yang sudah bersuara dan menunjukan kekuasaannya. Kata dia, harmoni antara manusia dengan alam ada yang terganggu ,karena keserakahan dan keras kepalanya pejabat dalam menggunakan kewenangan memerintah dan menerbitkan kebijakan.

“Rangkaian bencana alam itu bukan terjadi tanpa sebab, jelas ada yang membuat alam di Bogor murka. Padahal Desa Cijayanti adalah pintu masuk ke kediaman Presiden Prabowo di Desa Bojong Koneng Kecamatan Babakan Madang. Sementara angin puting beliung yang hanya ada di sekitar Stadion Gelora Pakansari juga jadi petanda alam ke Bupati dan Wakil Bupati Bogor,” kata Kyai Nurul Atiq yang menelepon Jurnal Bogor sesaat setelah terjadi angin puting beliung di Pakansari, Kamis siang (12/2/2026).

Pengasuh Pondok Pesantren At Taqwa Bekasi ini menceritakan, ada yang salah dalam mengelola kekuasaan di Bogor dan mungkin juga termasuk pemimpin nasional. Padahal, lanjutnya, paku-paku bumi secara spiritual ada di Bogor.

“Orang-orang soleh yang tidak masyhur banyak di Bogor, tapi para penguasanya justru mengundang orang yang dianggap soleh namun punya popularitas dan masyhur di kalangan pejabat dan masyarakat,” ujar Kyai Atiq.

Kyai Atiq mengingatkan bahwa dalam sejarahnya, kekuasaan militer selalu merangkul para pemuka agama dari pendatang sementara para spiritualis dan pemuka agama yang sudah menjaga berdirinya kondusivitas, keamanan dan kenyamanan alam Nusantara justru diabaikan dan ditinggalkan.

“Padahal para pemuka agama dan spiritualis Nusantara itu tidak pernah mendatangi kemasyhuran, popularitas apalagi kegilaan menumpuk harta termasuk memamerkan kekayaan. Para kyai dan alim ulama itu justru hanya duduk tekun di ruang-ruang kecil dan tersembunyi, namun doanya mampu menembus langit dan langsung dikabul Allah SWT. Para pemuka agama yang datang ke penguasa hanya akan membawa malu bagi dirinya sendiri dan orang di sekitarnya,” kata Kyai Atiq.

Selain itu, Kyai Atiq membaca bahwa saat ini perputaran uang hanya ada di segelintir orang yang dekat dan sedang berkuasa. Sementara kebijakan yang dihasilkan mereka justru merugikan masyarakat kecil, termasuk orang-orang soleh yang mencari uang demi sesuap makan namun tak pernah melepas tasbih dan berzikir dalam setiap aktivitas mereka.

“Kebijakan MBG ini juga merugikan pedagang kecil di sekitar sekolah. Pedagang cilok, cilor di sekitar sekolah itu jangan dianggap sekedar pedagang biasa. Justru sebagian di antara mereka ada yang tidak pernah lepas berzikir dan bertasbih. Doa-doa mereka langsung tembus langit. Pendapatan mereka sekarang sangat menurun. Siapa yang perhatikan mereka?” kata Kyai yang punya sejarah perang melawan Sekutu Belanda dan kemudian dijadikan puisi terkenal Chairil Anwar berjudul Karawang Bekasi.

Peristiwa banjir yang masuk ke dalam Istana Merdeka di tahun 2006 di saat Presiden SBY berkuasa jadi bukti bahwa para orang soleh Nusantara saat itu kecewa dengan kepemimpinan Presiden SBY. Saat ini, banjir sudah melanda halaman depan kediaman Presiden Prabowo di Desa Bojong Koneng. Termasuk wilayah kebanggaan Bupati Bogor Rudy Susmanto, Stadion Pakansari yang menjadi sentrum pembangunan bersumber APBD bernilai ratusan miliar.

“Jangan sampai kejadian yang dialami Presiden SBY dengan banjir masuk ke halaman Istana Merdeka terjadi lagi. Sekarang sudah dikasih tanda. Mereka bekerja sebelum kejadian. BMKG tugasnya membaca apa yang sudah dan akan terjadi. Tapi Orang-orang soleh itu bekerja agar tidak terjadi,” tandasnya.

Seperti diketahui, angin ribut menerjang kawasan Stadion Gelora Pakansari. Angin itu merusak atap Stadion Internasional Pakansari, meporak-porandakan para pedagang di sekitar stadion.

Warga yang sedang beraktivitas di Laga Tangkas, Kantor Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Bogor, dan warga yang sedang berolahraga memutari stadion, kaget kedatangan embusan angin dan air hujan yang sangat deras turun membanjiri Kawasan itu. Anehnya, keluar dari wilayah Stadion, cuaca hanya hujan ringan.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, kerugian material diperkirakan cukup besar mengingat banyaknya fasilitas bangunan dan tiang-tiang di sekitar Stadion Gelora Pakansari yang mengalami kerusakan parah.

Sebelumnya, bencana banjir terjadi di Desa Bojong Koneng dan Cijayanti , Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Arus deras sungai membawa bebatuan hingga membuat mobil hanyut. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap pemicu banjir tersebut.

“Kejadian ini disebabkan oleh hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung cukup lama, sehingga mengakibatkan air dari anak kali di kawasan perumahan meluap dan membawa material lumpur serta bebatuan ke area permukiman dan akses jalan,” kata Kapusdatinkom Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Kamis (12/2/2026).
Banjir tersebut mengakibatkan tertutupnya satu titik ruas jalan oleh material lumpur dan batu. Selain itu, satu unit kendaraan roda empat sempat terbawa arus banjir. n-Herry Setiawan

Hutan Kota Diresmikan, Megamendung Targetkan Sentra Alpukat Micky

0

Megamendung | Jurnal Bogor
Pemerintah Kecamatan Megamendung meresmikan hutan kota seluas 2,5 hektar, Kamis, 12 Februari 2026. Hutan kota sesuai instruksi Bupati Bogor ini berlokasi di Kampung Arca, Desa Sukaresmi.

“Hari ini kami meresmikan Hutan Kota sesuai instruksi Bupati Bogor dalam program Satu Kecamatan Satu Hektar Hutan Kota. Untuk Kecamatan Megamendung luas Hutan Kota 2,5 hektar,” kata Camat Megamendung, Ridwan, S.Sos.

Hutan Kota Kecamatan Megamendung cukup berbeda dari kecamatan lain. Dari 2.000 bibit pohon yang ditanam semuanya berjenis Alpukat Micky.

“Target kami, Kecamatan Megamendung menjadi sentra Alpukat Micky. Sehingga orientasinya ke masa depan, ada nilai ekonomis bagi masyarakat. Tiga tahun ke depan buah alpukatnya bisa dipanen dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Di lahan hutan kota, masyarakat juga bisa memanfaatkannya untuk melakukan tumpang sari,” ungkapnya.

Agar Hutan Kota terawat dengan baik, lanjut Ridwan, pengelolaan dilakukan oleh masyarakat melalui kelompok tani berkerjasama dengan RSUD Idham Chalid Ciawi.

Sementara itu, Kepala Desa Sukaresmi, Iip Ibrahim, menjelaskan, bahwa selain berlokasi di Hutan Kota seluas 2,5 hektar, penanaman Alpukat Micky ini juga ditanam di total lahan seluas 20 hektar hasil kerja sama dengan PTPN 1 Regional 2 dalam program Pemberdayaan Masyarakat Dalam Kebun (PMDK).

“Di lokasi Hutan Kota dan di lahan 20 hektar ini kami berdayakan penanaman pohon Alpukat Micky yang terintegrasi dengan pertanian dan peternakan 400 kambing. Sedangkan yang mengelola adalah lima kelompok tani bekerjasama dengan BUMDes dan Koperasi Merah Putih,” pungkasnya.

** Dadang Supriatna

Pemdes Cileungsi Sampaikan LPPD Secara Transparan

0

Ciawi | Jurnal Bogor
Pemerintah Desa Cileungsi menggelar kegiatan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa (LPPD) Tahun Anggaran 2025 di aula desa, Kamis (12/2/2026). Kegiatan tersebut dihadiri unsur Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh masyarakat, RT/RW, lembaga desa, serta perwakilan warga dari seluruh wilayah desa.

Kepala Desa Cileungsi, Baban Subandi, A.Md., menegaskan bahwa penyampaian laporan tersebut merupakan bentuk pertanggungjawaban kepala desa sebagaimana diamanatkan peraturan perundang-undangan.

Sudah menjadi kewajiban kepala desa untuk melaporkan realisasi kinerja dan pengelolaan anggaran setiap tahun. Laporan ini disampaikan kepada masyarakat melalui BPD dan juga kepada Bupati melalui Camat,” ujar Baban.

Dalam paparannya, Baban menjelaskan bahwa pada Tahun Anggaran 2025 Pemerintah Desa Cileungsi menerima dana dari lima sumber utama, yakni Alokasi Dana Desa (ADD) dari Pemerintah Kabupaten Bogor, Bagi Hasil Pajak dan Retribusi Daerah (BHPRD), bantuan keuangan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, program bantuan keuangan satu miliar satu desa, serta Dana Desa dari Pemerintah Pusat.

Total anggaran yang dikelola Desa Cileungsi sepanjang tahun 2025 mencapai sekitar Rp3,8 miliar.
Namun demikian, ia mengakui bahwa nilai BHPRD yang diterima Desa Cileungsi masih tergolong kecil dibandingkan desa lain, yakni sekitar Rp460 juta per tahun.

“Idealnya bisa mencapai Rp800 juta agar program pemberdayaan dan kegiatan sosial bisa lebih maksimal. Saat ini, kami harus menyesuaikan dengan kemampuan anggaran yang ada,” jelasnya.

Keterbatasan anggaran tersebut berdampak pada beberapa program, termasuk bantuan bagi guru ngaji dan kegiatan TP PKK. Dari total lebih dari 40 guru ngaji di desa, baru sekitar 20 orang yang dapat menerima bantuan. Sementara itu, anggaran untuk TP PKK dinilai masih terbatas dibandingkan banyaknya kegiatan yang dijalankan.

Menurut Baban, salah satu faktor rendahnya pendapatan desa dari sektor BHPRD adalah keterbatasan aktivitas ekonomi dan pembangunan di wilayah Desa Cileungsi. Ia menilai regulasi tata ruang yang berlaku membuat desa belum dapat mengembangkan sektor perumahan maupun usaha skala besar yang berpotensi meningkatkan pendapatan asli desa.

“Di beberapa desa lain terdapat kawasan industri, perumahan besar, atau fasilitas komersial yang berdampak langsung pada peningkatan pajak dan retribusi. Di Cileungsi, hal itu belum memungkinkan sesuai aturan tata ruang yang ada,” ungkapnya.

Ia berharap ke depan ada kajian ulang terhadap kebijakan tata ruang agar pembangunan yang terkontrol dan sesuai aturan dapat membuka peluang peningkatan pendapatan desa tanpa mengabaikan aspek lingkungan.

Dalam kegiatan tersebut, sekitar 120 peserta hadir dan mengikuti pemaparan laporan secara langsung. Pemerintah desa juga menyampaikan rincian kegiatan secara lebih detail dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, termasuk lokasi pembangunan, jenis kegiatan, serta besaran anggaran yang digunakan.
“Sekarang tidak lagi disampaikan secara global. Kami tampilkan titik kegiatannya, besaran anggaran, dan realisasinya. Ini bagian dari komitmen transparansi kepada masyarakat,” pungkas Baban.

** Dadang Supriatna

Melalui Program SeHATI, RSUD R. Moh. Noh Nur Edukasi Deteksi Dini Kanker

0

Leuwiliang | Jurnal Bogor
RSUD R. Moh. Noh Nur Leuwiliang, Kabupaten Bogor kembali mengambil peran dalam edukasi kesehatan masyarakat melalui siaran “SEHATI: Sehat Tiap Hari” bersama Teman FM, Selasa (10/2/2026).

Pada kesempatan ini, dr. Tutik Nur’ Ayni, Sp.P.A., Dokter Spesialis Patologi Anatomik RSUD R. Moh. Noh Nur, hadir sebagai narasumber dengan tema “Sayangi Diri, Tangani Kanker Sejak Dini” dalam rangka memperingati Hari Kanker Sedunia 2026.

Siaran yang berlangsung pukul 09.00 hingga 10.00 WIB tersebut dipandu oleh host Teman FM, Inggar Prilda, dan disimak oleh pendengar dari Bogor serta wilayah sekitarnya.

Dalam dialog yang interaktif, dr. Tutik menjelaskan pentingnya mengenali tanda awal kanker, langkah deteksi dini, serta peran pemeriksaan patologi anatomik untuk memastikan diagnosis secara tepat dan terarah.

“Banyak orang datang ke fasilitas kesehatan saat kondisi sudah lanjut. Padahal, jika kanker ditemukan lebih awal, peluang sembuhnya jauh lebih besar,” ujar dr. Tutik dalam siaran tersebut.

Ia juga menambahkan bahwa deteksi dini tidak selalu harus menunggu keluhan berat, tetapi bisa dimulai dari kebiasaan memeriksa diri sendiri dan melakukan kontrol kesehatan berkala. Secara tidak langsung dr. Tutik mengingatkan masyarakat agar lebih peka terhadap setiap perubahan pada tubuh dan tidak menunda pemeriksaan kesehatan.

Menurutnya, banyak kasus kanker dapat ditangani dengan hasil lebih baik apabila ditemukan pada tahap awal. Kesadaran inilah yang perlu terus dibangun di tengah masyarakat. Dalam pesannya, ia menyampaikan ajakan yang menyentuh, “Sayangilah diri kita sendiri, karena tubuh ini adalah amanah dari Tuhan yang harus dijaga.”

Ia menegaskan bahwa setiap individu merupakan orang pertama yang paling mengenal tubuhnya, sehingga perubahan sekecil apa pun sebaiknya tidak diabaikan. dr. Tutik juga menekankan pentingnya kepercayaan pasien terhadap tenaga medis.

Ia mengatakan, “Hubungan saling percaya antara dokter dan pasien akan sangat menentukan keberhasilan terapi. Jangan ragu bertanya dan berdiskusi dengan tenaga kesehatan.” Pernyataan tersebut sekaligus menjadi dorongan agar masyarakat tidak takut mencari pertolongan medis.

Manajemen RSUD R. Moh. Noh Nur menyambut baik kegiatan edukasi seperti ini dan menilai program SeHATI efektif sebagai media penyampaian informasi kesehatan yang ringan namun tetap berbobot.

Rumah sakit berkomitmen untuk terus terlibat dalam kegiatan promotif dan preventif guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, khususnya dalam upaya pencegahan dan penanganan kanker.

(yev/cc)

Jalanan di Cisarua Dipenuhi Lumpur Bak Kubangan Kerbau

0

Nanggung l Jurnal Bogor
Jalan berlubang seperti kubangan kerbau yang dipenuhi lumpur memicu kemarahan warga di Desa Cisarua, Nanggung, Kabupaten Bogor.

Ruas jalan di Desa Cisarua yang dipenuhi lumpur yang belum dibangun permanen itu, memantik banyaknya protes warga terutama pengendara karena sering terjadi kecelakaan karena licinnya jalan tersebut.

Protes jalanan licin berlumpur itu datang dari Ubuy, salah seorang tokoh masyarakat. Ia mengaku geram melihat kondisi jalan tak layak itu.

Aksi protes jalan rusak tepatnya di Kampung Babakan Sawah Cisarua hingga viral sejak 4 bulan terakhir.

“Jalan pemukiman di Babakan Sawah ini seperti tidak diakui. Padahal ini mobilitas warga setiap hari,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (12/2/2026).

“Jalan itu menggantung, belum juga dibangun permanen. Terkesan, kami merasa dianaktirikan,” ungkap dia lagi.

Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan, menurutnya, sejak akhir Oktober 2025, kawasan yang berdekatan dengan Babakan Baru ini sempat menjadi sorotan publik setelah warga turun ke jalan mendemo kondisi infrastruktur yang dinilai membahayakan pengendara, terutama kendaraan roda dua.

Namun hingga Februari 2026, tak ada kejelasan jadwal perbaikan. Warga pun mendesak Pemerintah Kabupaten Bogor segera turun tangan.

“Kami ingin jalan ini segera ditangani sebelum jatuh korban atau kerusakan kendaraan makin parah. Jangan sampai baru bergerak setelah ada korban,” tegas Ubuy.

** Rahman Ependi

Pramuka SMAN 1 Cijeruk Tanam Pohon Bersama Kwarran dan Aparat Kecamatan

0

Cijeruk | Jurnal Bogor
Pramuka Penegak Pangkalan SMAN 1 Cijeruk menggelar kegiatan peduli lingkungan melalui aksi penanaman pohon yang dilaksanakan pada 12 Februari 2006 di daerah Cihideung bersama Kwartir Ranting (Kwarran) Cijeruk dan aparat Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor.

Kegiatan ini berlangsung dengan penuh semangat kebersamaan sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian alam.

Puluhan anggota Pramuka terlibat langsung dalam penanaman bibit pohon di beberapa titik wilayah Cijeruk. Dengan mengenakan seragam Pramuka, para siswa tampak antusias menyiapkan lahan, menggali tanah, hingga menanam bibit pohon secara gotong royong.

Aksi nyata ini merupakan bagian dari pendidikan karakter dan kepedulian lingkungan yang ditanamkan kepada generasi muda.

Pembina Pramuka SMAN 1 Cijeruk kak Angga Pamungkas dan kak Fitriyani menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran siswa akan pentingnya menjaga alam sejak dini.

“Melalui kegiatan ini kami ingin mengajarkan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.

Kolaborasi antara Pramuka, Kwarran Cijeruk, dan aparat kecamatan diharapkan dapat menjadi contoh positif bagi masyarakat. Penanaman pohon ini juga menjadi langkah kecil namun berarti dalam menjaga keseimbangan ekosistem serta mencegah kerusakan lingkungan.

Dengan semangat bahu-membahu, para peserta berharap pohon-pohon yang ditanam dapat tumbuh subur dan memberi manfaat bagi generasi mendatang. Kegiatan ini sekaligus membuktikan bahwa Pramuka tidak hanya belajar baris-berbaris, tetapi juga berperan aktif dalam aksi sosial dan pelestarian alam.

(Wawan Hermawanto)

Kwarcab dan Kwarran Bogor Barat Salurkan Bantuan Korban Longsor di Bandung Barat

0

Bandung | Jurnal Bogor
Pengurus Kwartir Cabang (Kwarcab) Kota Bogor bersama Kwartir Ranting (Kwarran) Gerakan Pramuka Bogor Barat mengunjungi lokasi bencana longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat pada Minggu, 8 Februari 2026 lalu.

Dalam kunjungannya itu, Kwarcab dan Kwarran Gerakan Pramuka Bogor Barat memberikan bantuan berupa uang kepada para korban, khususnya yang ada di SDN Karyabakti.

Perwakilan Kwarcab Gerakan Pramuka Kota Bogor Bidang Pengabdian Masyarakat, Aldilah Rahman mengatakan, bantuan ini merupakan amanat dari anak-anak sekolah yang dititipkan kepada Kwarcab dan Kwarran Bogor Barat untuk diberikan kepada korban bencana longsor di Kecamatan Cisarua Bandung Barat.

“Lokasi yang kami kunjungi itu, SDN Karyabakti yang merupakan salah satu sekolah terdampak bencana longsor yang terjadi di Desa Pasirlangu, Cisarua Bandung Barat beberapa waktu lalu,” kata Aldilah Rahman, Rabu (11/2/2026).

Aldi menjelaskan, berdasarkan informasi yang diterimanya bahwa di lokasi tersebut ada beberapa siswa ikut menjadi korban. Bahkan, dua orang siswa meninggal dunia. Kemudian, satu orang siswa lainnya rumahnya rata dan ada juga yang kehilangan salah satu orang tuanya lantaran tertimbun.

Selain itu, tercatat ada 8 orang siswa mengalami luka-luka akibat bencana tersebut. Atas dasar itulah, pihaknya datang ke lokasi untuk memberikan bantuan sebagai bentuk kepedulian dan keprihatinan anak-anak Kota Bogor untuk para korban bencana.

“Ini juga sesuai dengan Dasadarma Pramuka, dimana kami cinta alam dan kasih sayang sesama manusia, kami merasakan empati terhadap korban, khususnya anak-anak kecil, anak-anak sekolah di SD Karyabakti yang menjadi korban. Mudah-mudahan apa yang kita berikan ini bisa bermanfaat,” ujar Aldi.

Sementara itu, Ketua Kwarran Gerakan Pramuka Bogor Barat Sugeng Malikul Bahri menyampaikan, selain bantuan uang, pihaknya juga memberikan edukasi berupa trauma healing kepada anak-anak yang terdampak bencana longsor.

“Trauma healing ini kita berikan agar anak-anak terdampak bencana dapat terhibur, kembali kuat serta dapat memahami bagaimana ketika menghadapi situasi bencana seperti itu,” kata Sugeng.

Dia berharap dengan apa yang diberikan oleh Kwarcab dan juga Kwarran ini dapat bermanfaat untuk kebutuhan sehari-hari, serta bisa dibelikan untuk kebutuhan kelengkapan sekolah mereka nantinya.

(Wawan Hermawanto)

Warga Warung Limus Kompak Kerja Bakti Bersihkan Lingkungan

0

Bogor Selatan | Jurnal Bogor – Warga Warung Limus RT 005/009, Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, menunjukkan kekompakan dengan menggelar kegiatan kerja bakti membersihkan lingkungan di sepanjang jalan permukiman.

Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut diikuti oleh pengurus RT serta warga setempat sebagai bentuk kepedulian terhadap kebersihan dan kenyamanan lingkungan.

Ketua RT 005, Ismail Idrus, mengatakan bahwa kerja bakti rutin dilakukan untuk menjaga kebersihan sekaligus mempererat silaturahmi antarwarga.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menumbuhkan kembali semangat gotong royong di tengah masyarakat. Lingkungan yang bersih tentu akan membuat warga lebih nyaman dan sehat,” ujar Ismali, Kamis (12/2/2026).

Ia juga mengapresiasi partisipasi warga yang hadir dan terlibat langsung dalam kegiatan bersih-bersih lingkungan.

Sementara itu, salah satu warga, Gandi, menambahkan bahwa kerja bakti menjadi sarana kebersamaan sekaligus bentuk kepedulian warga terhadap lingkungan tempat tinggalnya.

“Selain lingkungan menjadi lebih bersih, kegiatan ini juga mempererat hubungan antarwarga. Harapannya kegiatan seperti ini terus rutin dilaksanakan,” kata Gandi. Yudi

Pembangunan SMAN 11 Kota Bogor Dimulai Tahun Ini

0

Bogor | Jurnal Bogor

Kabar baik bagi warga Kota Bogor, khususnya di wilayah Tanah Sareal. Pembangunan gedung SMA Negeri 11 Bogor dipastikan akan dimulai pada tahun 2024 ini. Proyek strategis ini merupakan hasil koordinasi intensif antara Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor melalui Bapperida dengan Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Wilayah II Jawa Barat.

Kepala Bapperida Kota Bogor, Rudy Mashudi, mengungkapkan bahwa pembangunan tahap pertama ini telah dialokasikan anggaran sebesar Rp7,5 miliar dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Penerimaan Siswa Baru Tetap Berjalan
Meski gedung fisik baru mulai dibangun, Rudy memastikan bahwa penerimaan peserta didik baru untuk SMAN 11 akan tetap dibuka pada tahun ajaran ini. Untuk sementara, para siswa akan “dititipkan” di sekolah terdekat.

“Penerimaan siswanya sudah akan dimulai di tahun ajaran ini. Rencananya akan ditempatkan dahulu di SMA Negeri 2 Bogor. Sehingga nanti ketika bangunan tahap pertama selesai, sekolah sudah ada penghuninya dan tidak kosong,” ujar Rudy.

Terkait pengaturan jadwal belajar, Rudy menjelaskan bahwa di SMA Negeri 2 saat ini sedang ada pembangunan 3 hingga 4 Ruang Kelas Baru (RKB) dari internal provinsi yang nantinya bisa digunakan oleh siswa SMAN 11, sehingga diharapkan tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar yang ada.

Lokasi pembangunan SMAN 11 berada di Kelurahan Kayu Manis, tepatnya di belakang pusat layanan kesehatan (Yankes) seberang kantor kelurahan. Lahan seluas kurang lebih 5.000 meter persegi tersebut merupakan aset milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Hingga saat ini, proses administrasi terus dikebut agar pembangunan fisik bisa segera dilaksanakan dalam waktu dekat.

Selain SMAN 11, Pemkot Bogor juga tengah mengupayakan berdirinya SMAN 12 di wilayah Kertamaya, Bogor Selatan. Berbeda dengan SMAN 11, lahan untuk SMAN 12 merupakan milik Pemkot Bogor yang berlokasi di sebelah GOM Bogor Selatan.

“Mekanismenya, lahan milik kita (Pemkot) akan dihibahkan ke Provinsi karena kewenangan SMA ada di sana. Kita butuh SMA untuk warga kita di wilayah tersebut,” jelas Rudy.

Saat ini, progres SMAN 12 memasuki tahap penyusunan Detail Engineering Design (DED) yang dianggarkan pada APBD Perubahan. Jika berjalan lancar, pembangunan fisik SMAN 12 diproyeksikan baru akan dimulai pada tahun 2027.

Rudy menambahkan bahwa sebenarnya Pemkot mengajukan tiga lokasi sekolah baru. Namun, untuk usulan di Kampung Sawah, saat ini masih tertunda karena kendala aksesibilitas.

“Untuk Kampung Sawah masih ditolak karena akses jalannya hanya bisa dilalui motor. Perlu ada pembebasan 3 sampai 4 rumah agar mobil bisa masuk ke lokasi. Jadi kita fokus selesaikan yang di Kayu Manis dan Kertamaya dulu,” pungkasnya.

** Fredy Kristianto