Jakarta | Jurnal Inspirasi
Walikota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) telah meminta penerapan PSBB di Surabaya dibuka, kendati attack rate angka harian penambahan terkonfirmasi Covid 19 di Surabaya masih tinggi. Kebijakan Risma itu dipertanyakan host Indonesia Lawyers Club (ILC) Karni Ilyas, melalui telekonfrensi di ILC, Selasa malam (9/6).
Menurut
Risma, meskipun PSBB dibuka, Pemkot Surabaya membuat protokol ketat di semua
lini. Penegakan protokol aka dilakukan dengan tegas. Aktivis politik Hazreiza
Patters menilai, jawaban Risma di forum ILC itu kontradiktif, dan
membingungkan.
“Bu Risma,
kontradiktif pernyataannya Bu. PSBB minta dibuka karena dibuat protokol ketat
di semua lini dengan sosialisasi yang sangat berat selama 1 bulan. Bayangkan
Bu, sosialisasi saja berat, apalagi penegakan protokol Bu? Saya bingung. PSBB
itu minimal bisa membuat warga waspada Bu,” tulis Reiza di akun Twitter
@Reiza_Patters.
Tak hanya
itu, Reiza Patters juga mengkritisi pernyataan Risma lainnya yang juga
membingungkan. Soal karantina, Risma menyatakan, jika di satu kampung
berpenduduk padat ditemukan kasus positif Covid 19, baru dilakukan karantina.
Menurut
Reiza, langkah Pemkot Surabaya itu terlambat. “Bu Risma, kalo di satu
kampung padat ada yang positif, baru dilakukan karantina, menurut saya sudah
terlambat Bu. Karena ada masa inkubasi virus Bu. Kemungkinan sudah banyak yang
tertular sebelum satu org itu dinyatakan positif. Mestinya sejak gejala muncul.
#ILC,” tulis @Reiza_Patters.
Hal
kontradiktif lain dibeberkan Reiza. Yakni soal kesan Risma tidak memperdulikan
‘zonasi’ Covid 19, tetapi tetap menggunakan peta penularan. “Bu Risma ga
peduli zonasi, tapi tetap menggunakan peta penularan. Zona itu sebetulnya untuk
lebih memahami dan menguasai isi peta Bu…,” tulis @Reiza_Patters.
Yang tak
kalah ironis, Risma terkesan merasa bingung menentukan pilihan, warga kelaparan
karena PSBB dengan membiarkan warganya meninggal karena Covid 19. “Bu Risma
merasa bingung antara membiarkan warganya mati karena COVID atau karena
kelaparan. Menurut saya sebetulnya bukan pilihan sulit Bu. Lebih mudah
memberikan subsidi pangan daripada membiarkan warga Ibu berpotensi
tertular COVID bu. #ILC,” tulis @Reiza_Patters.
Sebelumnya,
Pangdam V/Brawijaya, Mayjen TNI Widodo Iryansyah menyebut kepala daerah tak
serius dalam menjalankan PSBB di Surabaya Raya dan lebih mengedepankan drama. Penegasan
Widodo Iryansyah itu disampaikan pada rapat koordinasi PSBB di Gedung
Negara Grahadi (08/06), yang juga dihadiri Tri Rismaharini. “Saya minta
untuk menyelesaikan masalah Covid ini jangan cuma pakai data, fakta atau drama
dan sebagainya. Mari kita real semuanya,” tegas Widodo.
Kritikan dari Pangdam itu membuat penampilan Tri Rismaharini saat menyampaikan pandangannya dalam rapat koordinasi PSBB di Gedung Negara Grahadi tak seperti biasanya. Suaranya terdengar lirih dan lemas. Padahal biasanya, jika berbicara dalam forum Risma lebih banyak bersuara lantang dan berapi-api.
Namun kali ini berbeda. Suara Risma terdengar lemas tak bertenaga. Suara itu bisa jadi mewakili suasana hati Risma yang sedih, jika PSBB Jilid 4 harus diterapkan lagi di Surabaya.”Mohon, saya khawatir di beberapa area, warga kondisinya sudah mulai banyak yang mengeluh. Terutama mereka sudah tak bisa mencari nafkah,” kata Risma memohon.
Oleh karena
itu, Risma menyebut sudah menyiapkan konsep aturan untuk masa transisi ataukah
New Normal. Yang jelas, Risma sudah menyiapkan konsepnya hingga lingkungan
terkecil. “Peraturan detail di tempat terkecil karena menurut kami sangat
efektif, di pasar, mal, industri warung kopi dan sebagainya,” kata Risma.
Risma juga
menyebut, aturannya ini nantinya bentuknya adalah Peraturan Walikota sehingga,
karena aturannya Perwali, tak ada sanksi yang bisa diterapkan jika ada warga
atau institusi yang melanggar.
Sedangkan
sanksi baru bisa diterapkan jika aturannya adalah Peraturan Daerah (Perda). Pernyataan
ini sekaligus menjadi jawaban atas kritik Pangdam V/Brawijaya, Mayor Jenderal
TNI Widodo Iryansyah yang menyebut kepala daerah tak serius dalam menjalankan
PSBB di Surabaya Raya.
Asep Saepudin Sayyev |*