Bogor | Jurnal Inspirasi
Wakil Walikota Bogor Dedie A Rachim mendampingi Gubernur
Jawa Barat Ridwan Kamil beserta Kapolda Jabar Irjen Pol Rudy Sufahriadi dan
Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Nugroho Budi Wiryanto memantau hari pertama
penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah titik di Kota
Bogor, Rabu (15/4).
Titik pertama yang dipantau adalah Stasiun Bogor,
mengingat pada hari sebelumnya sempat terjadi kepadatan akibat masih banyaknya
warga yang belum membatasi aktivitasnya untuk berangkat ke Jakarta.
Dari pantauan, tidak nampak lagi
kepadatan antrean seperti hari sebelumnya. Bahkan, rombongan sempat
mengecek jalur dari Stasiun Bogor, Cilebut, Bojonggede dan Citayam. “Kami tadi
meninjau langsung memastikan bahwa di dalam gerbong itu ada social
distancing dan physical distancing. Tadi kami pantau Alhamdulillah
ada penurunan dari jumlah penumpang sudah signifikan, paling tidak sudah 50
persen. Biasanya 280 ribu (penumpang per hari). Meski masih tinggi tetapi sudah
ada langkah-langkah yang baik, koordinasi yang baik pula,” ungkap Dedie Rachim.
“Sebelumnya ada permintaan 5 Kepala daerah di Bodebek
(yang menerapkan PSBB), paling tidak ada perhatian untuk PT KCI , KAI termasuk
untuk Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkait bagaimana lebih mengetatkan
pelaksanaan PSBB ini. Jadi jangan sia-sia. Pak Gubernur Jabar sudah
menggelontorkan uang ratusan miliar, Pemkot Bogor puluhan miliar, Pak Jokowi
triliunan nanti sia-sia semua kalau ternyata PSBB tidak tercapai apa yang kita
harapkan. Diulang lagi, diulang lagi, keuangan negara saya pikir juga tidak
sekuat itu. Artinya, semua harus memperhatikan kedisiplinan, dukungan dan
kesabaran. termasuk juga kita ingin semuanya pengen merayakan Lebaran dengan
penuh suasana kemenangan, jadi harus disiplin,” tambahnya.
Sanksi Menanti
Sementara itu, Gubernur Ridwan Kamil juga menjelaskan
bahwa PSBB ini akan dilakukan selama 14 hari sembari dilakukan tes masif
secara bersamaan. “Karena kuncinya itu. Dengan kedisiplinan warga, dengan tes
yang masif ketemu peta di Kota Bogor khususnya dan Bodebek ini sehingga kita
bisa memblokir dean mengambil keputusan mana-mana yang PSBB-nya dikurangi,
mana-mana kecamatan atau daerah yang diperketat,” terangnya.
Bertepatan dengan diberlakukan PSBB, kata Emil, pada hari
pertama pelaksanaannya juga disebar bantuan Provinsi Jawa Barat berupa sembako
dan uang tunai melalui PT Pos Indonesia yang bekerjasama dengan ojek online dan
ojek pangkalan untuk mendistribusikan bantuan jaringan pengaman sosial.
“Mereka-mereka yang mendapatkan bantuan berada di 30-40
persen ekonomi terbawah. Kalau disebut semua terdampak, betul semua terdampak.
Tapi dengan keterbatasan tidak bisa semua mendapatkan bantuan sembako dan uang
tunai yang seadanya. Ini adalah untuk kelompok yang paling bawah menurut
survey,” ujar Emil.
Di Jawa Barat, khususnya Bodebek, ada tujuh pintu bantuan
sosial, mulai dari Program Keluarga Harapan, kartu sembako, Bansos Presiden,
kartu pra kerja untuk pengangguran dan PHK, di desa ada dana desa, dan kemudian
bantuan provinsi.
“Dan nanti kalau masih ada yang kurang, ada dana dari
Pemerintah Kota Bogor untuk mereka yang mungkin di jalanan yang tidak terdata
secara formil, ada gerakan nasi bungkus juga. Di kota bogor dilakukan di
kecamatan, kantor Kodim atau Koramil, itu bebas. Yang penting kuncinya satu,
tidak boleh ada yang kelaparan selama PSBB di Jawa Barat,” tandasnya.
“Terakhir bagi mereka yang merasa tidak terdata dan
merasa berhak, silahkan melaporkan melalui fitur aduan di aplikasi Pikobar.
Jadi ada aplikasi khusus Pusat informasi koordinasi covid di Jawa
Barat. Klik di fitur aduan sampaikan alasan kenapa anda merasa terlewat dan
berhak. Termasuk perantau yang ada di Kota Bogor dan Bodebek, yang KTP-nya
bukan Bodebek, tetap kita bantu seperti halnya kami membantu yang ber-KTP
Jabar. Jangan khawatir, tanyakan ke RT/RW, anda masuk ke kelompok mana, kalau
masih kelewat masih ada fitur aduan,” pungkasnya.
Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan Kota Bogor Eko Prabowo
menilai pelaksanaan PSBB di hari pertama berlangsung lancar. Meski tidak
lenggang 100 persen, volume kendaraan cukup berkurang. “Datanya nanti kami
update. Ada pengurangan (volume kendaraan). Dipantau di lapangan, masih ada
warga yang tidak mengikuti pedoman PSBB, seperti tidak menggunakan masker,
sarung tangan, atau duduk bersebelahan di dalam mobil. Namun, untuk Ojol
terpantau sudah tidak ada yang mengangkut penumpang,” terangnya.
Hari pertama pelaksanaan PSBB, lanjut Eko, masih
merupakan masa transisi dan petugas di lapangan hanya memberikan teguran lisan,
belum tertulis dengan blanko teguran bagi pelanggar PSBB.
“Tentunya teguran tertulis dan sanksi akan kami terapkan. Hari pertama masih sosialisasi. Ada 10 titik checkpoint yang akan dipantau petugas, seperti gerbang keluar Tol Baranangsiang, Simpang BORR, Pomad, Empang, Gunung Batu, RSUD, Ciawi, Yasmin, Batutulis dan Bubulak,” katanya.
Fredy Kristianto