26.3 C
Bogor
Wednesday, April 22, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 1579

Zona Hijau Bisa Buka Sekolah

0

Jakarta | Jurnal Inspirasi
Pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim memutuskan untuk membuka kembali kegiatan belajar mengajar di sekolah tahun ajaran 2020-2021. Hanya sekolah di zona hijau virus Corona (Covid-19) yang boleh membuka sekolah lagi. Namun, suatu wilayah harus memenuhi 15 kriteria untuk bisa disebut zona hijau dan boleh membuka kembali kegiatan tatap muka di sekolah.

Seluruh kriteria itu dirancang dan disampaikan Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Doni Monardo. “Ada persyaratan yang disetujui epidemiolog, pengamat dan kemenkes untuk menentukan zona hijau, ada 15 kriteria,” ujar Doni dalam video conference, Senin (15/6).

Bagi sekolah, ada 5 syarat lain yang harus dipenuhi jika ingin membuka kembali kegiatan belajar mengajar secara tatap muka di tengah pandemi virus Corona. Pertama, menyediakan fasilitas seperti tempat cuci tangan, ada akses menuju fasilitas pelayanan kesehatan di sekitar wilayah sekolah, kemudian mewajibkan penggunaan masker dan pengecekan suhu badan lewat thermal gun.
Kemudian, peserta didik dan pengajar harus berada dalam kondisi sehat. Syarat terakhir, peserta didik yang ingin belajar di sekolah memerlukan izin dari orang tua.

Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama Kemenko PMK, Agus Sartono menyatakan, prinsip pengaturan ini tetap mengutamakan kesehatan dan keselamatan bagi seluruh peserta didik. Ia menegaskan, sekolah yang ingin membuka pembelajaran tatap muka tetap lebih dulu meminta izin dari pemerintah daerah, gugus tugas dan instansi-instansi terkait. “Pembelajaran tatap muka diprioritaskan pada zona hijau. Dan dimulai dari jenjang SLTA sederajat, SLTP sederajat, dan kemudian disusul jenjang SD dan Paud,” kata dia.

Sebelumnya, proses pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2020 telah dimulai, artinya sistem pembelajaran akan segera masuk tahun ajaran baru 2020/2021. Namun, di tengah pandemi Corona, ada perbedaan antara dimulainya tahun ajaran baru dengan tanggal dimulainya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) untuk tatap muka.

Hal itu dikemukakan Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar, dan Menengah (Plt. Dirjen PAUD Dasmen) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Hamid Muhammad. “Tanggal 13 Juli adalah tahun pelajaran baru, tetapi bukan berarti kegiatan belajar mengajar tatap muka. Metode belajar akan tergantung perkembangan kondisi daerah masing-masing yang bisa saja dilakukan di rumah masing-masing siswa,” kata Hamid dalam keterangan tertulisnya.

15 Syarat Wilayah Bisa Buka Sekolah

  1. Penurunan jumlah kasus positif selama dua minggu terakhir dari puncak kasus.
  2. Penurunan jumlah kasus ODP dan PDP selama dua minggu terakhir.
  3. Penurunan jumlah kasus meninggal dari kasus positif selama dua minggu terakhir.
  4. Penurunan jumlah kasus meninggal dari ODP dan PDP selama dua minggu terakhir.
  5. Penurunan jumlah kasus positif yang dirawat di RS selama dua minggu terakhir.
  6. Penurunan jumlah kasus ODP dan PDP yang dirawat di RS selama dua minggu terakhir.
  7. Kenaikan jumlah sembuh dari kasus positif selama dua minggu terakhir.
  8. Kenaikan jumlah selesai pemantauan dan pengawasan dari ODP dan PDP selama dua minggu terakhir.
  9. Laju insidensi kasus positif per 100.000 penduduk.
  10. Angka kematian per 100.000 penduduk.
  11. Jumlah pemeriksaan spesimen meningkat selama dua minggu.
  12. Positivity rate lebih kecil dari 5 persen.
  13. Jumlah tempat tidur di ruang isolasi rumah sakit rujukan mampu menampung sampai lebih dari 20 persen jumlah pasien positif Covid-19.
  14. Jumlah tempat tidur di rumah sakit rujukan mampu menampung sampai lebih dari 20 persen jumlah PDP, ODP dan pasien positif Covid-19.
  15. Rt angka reproduksi efektif lebih kecil dari 1.

Asep Saepudin Sayyev |*

Baru Rp44 Miliar yang Terserap

0

Bogor | Jurnal Inspirasi
Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor rupanya hanya menyediakan anggaran penanganan Covid-19 senilai Rp213 miliar. Nominal tersebut lebih kecil dari anggaran yang sebelumnya digembar gemborkan yakni senilai Rp323 miliar. Kordinator Pansus I Covid-19 DPRD Kota Bogor, Jenal Mutaqin mengatakan bahwa ada sejumlah permasalahan yang menjadi sorotan terkait anggaran dalam penanganan Covid-19 di Kota Bogor. Di antaranya mengenai anggaran, telah terjadi pergeseran anggaran ke empat kali untuk kebutuhan Covid-19 maupun pergeseran anggaran yang bakal disahkan pada APBD Perubahan.

Menurutnya, total kebutuhan anggaran yang semula Rp323 miliar, untuk dana BTT sebesar Rp144 miliar pada pergeseran ketiga. Saat ini di pergeseran ke empat berubah menjadi Rp213 Miliar. Artinya terjadi kenaikan signifikan pada kebutuhan anggaran pos BTT untuk penanganan covid-19. Perubahan itu pertama hasil dari expose tidak terserapnya beberapa rencana anggaran di SKPD yang berkegiatan dengan penanganan covid salah satunya di RSUD soal pembelian alat kesehatan yang rencananya dianggarakan Rp6,2 miliar, dan hanya terserap Rp2,2 miliar.

“Kebutuhan Rp213 miliar itu angka yang tercantum dalam BTT. Artinya anggaran akan berkurang ketika dipergunakan, jadi bukan angka kebutuhan tetapi persiapan dalam penanganan covid di Kota Bogor. Pada saat perjalanannya dari beberapa realisasi ada yang sudah dicairkan seperti di Bidang Kesehatan Rp33,5 Miliar, dari Jaring Pengamanan Sosial atau Bansos Rp10,6 Miliar, sedangkan penanganan dampak ekonomi belum dikeluarkan anggarannya.

“Baru dua sektor yang dikeluarkan dengan total anggaran Rp44,1 miliar. Untuk bidang kesehatan dan jaring pengaman sosial. Sisanya belum ada anggaran yang dikeluarkan. DPRD juga mempertanyakan secara detail soal anggaran itu,” paparnya.

Kata dia, DPRD juga menyoroti soal anggaran yang sudah digunakan baik dari sisi bidang kesehatan dan jaring pengamanan sosial. Selama tiga kali rapat, di masing-masing SKPD tidak memberikan data terkait anggaran yang sudah dikeluarkan.

Ia menjelaskan bahwa rincian secara detail nya tidak ada, sehingga DPRD kesulitan dalam memeriksa kebutuhan kebutuhan anggaran yang sudah dipergunakan.

Sementara dalam Pasal 5 Permendagri Nomor 20 Tahun 2020 bahwa seluruh kepala perangkat daerah sebelum mengajukan pencairan anggaran belanja tidak terduga berkaitan dengan penanganan covid, mereka harus mengusulkan terlebih dahulu rencana kebutuhan barang terhadap bendahara umum atau BPKAD.

“Data itulah yang tidak didapatkan oleh DPRD hingga saat ini, sehingga sulit DPRD untuk mendapatkan informasi yang utuh tentang sasaran dari kebujakan covid yang dimaksud. Yang lebih khususnya masalah bantuan sosual terhadap masyarakat yang masih simpang siur penerima di lapangan,” tuturnya.

Ia menyataman bahwa pansus tersebut merupakan  representasi lembaga DPRD sekaligus menyuarakan aspirasi masyarakat. Kami mempunyai tanggung jawab moril dan juga peran fungsi pengawasan DPRD yang harus dimaksimalkan,” tambahnya.

Rencananya, sambung dia, DPRD akan melakukan rapat lanjutan termasuk sidak ke beberapa perangkat daerah yang mendapat atau menggunakan porsi anggaran BTT dalam penanganan covid 19. “Nanti hari Rabu (17/6) akan digelar rapat kembali bersama Gugus Tugas Pemkot Bogor, sekaligus kami sidak ke beberapa SKPD,” tandasnya.

** Fredy Kristianto

Fikri Siap Jaga Marwah Cabor Biliar

0

>Bidik Juara Umum Porda Jabar 2022  

Cibinong | Jurnal  Inspirasi
Untuk menguatkan visi dan misi kepengurusan baru pada Pangurus Cabang Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (Pobsi) Kabupaten Bogor, masa bakti 2020-2024, menggelar silaturahmi antara jajaran pengurus baru dengan para atlet-atlet eks Pekan Olahraga Daerah (Porda) XIII Jawa Barat 2018, di salah satu Resto di kawasan Stadion Pakansari, Cibinong, akhir pekan kemarin.

Ketua Pengcab Pobsi Kabupaten Bogor, Fikri Ikhsani mengatakan, pertemuan antara pengurus baru dengan atlet-atlet biliar eks Porda Kabupaten Bogor tahun 2018, tujuannya tidak lain hanya untuk saling mengenal satu sama lain. Karena dengan adanya pertemuan tersebut pengurus, maupun atlet bisa saling mengenal satu sama lainnya.

“Sehubungan telah terbentuknya kepengurusan Pengcab POBSI Kabupaten Bogor masa bakti 2020-2024. Saya selaku ketua yang baru, tentunya ingin lebih mengenal lebih dekat lagi para pengurus, maupun atlet-atlet biliar eks Porda 2018 lalu. Maka dari itu, saya menggelar pertemuan silaturahmi ini,” ujar Fikri Ikhsani, Senin (15/6).

Fikri menjelaskan, bahwa selain perkenalan dengan atlet, dirinya juga membahas beberapa hal penting terkait program Pengcab Pobsi Kabupaten Bogor kedepan. Salah satunya program pembinaan, serta ingin mempertahankan prestasi juara umum Porda 2018 pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XIV Jawa Barat 2022 mendatang, yang akan digelar di Kota Tasikmalaya, Kabupaten Subang, dan Kabupaten Bandung Barat.

“Ada beberapa poin penting yang kita bahas dalam pertemuan tersebut. Alhamdulillah jajaran pengurus dan atlet sepakat untuk mempertahankan gelar juara umum di ajang Porprov 2022 mendatang,” tegasnya.

Selain itu, tambah Camat Tajurhalang ini, pihaknya juga berencana akan menggelar Kejuaraan Biliar Bupati Cup Open Nasional di Cibinong. Akan tetapi, sambung Fikri, pelaksanaannya digelar setelah pandemi berakhir. “Kalau tidak ada halangan kejuaraan biliar Bupati Cup Open Nasional tersebut digelar setelah pandemi berakhir, antara tahun 2020, atau di tahun 2021 mendatang,” pungkasnya.

** Asep Syahmid

Sebelum Plafon Ambrol, KONI Sudah Surati Pihak Dispora

0

Cibinong | Jurnal  Inspirasi
Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Bogor, Junaidi Samsudin, sangat prihatin atas kejadian ambruknya plafon luar gedung KONI, yang disebabkan hujan angin yang terjadi pada Kamis (11/6) sekitar pukul 18:10 WIB lalu.

Namun, Ketua KONI Kabupaten Bogor, mengindikasikan, kejadian ambruknya plafon sebelah kanan gedung KONI tersebut, tidak hanya disebabkan hujan, dan angin saja. Tapi, juga berpengaruh dari buruknya kualitas pemasangan besi hollow yang dipasang pihak kontraktor terhadap plafon gedung KONI. 

“Saya tidak punya kapasitas untuk menjelaskan kualitas bangunan yang ambruk ini. Tapi setelah saya melihat kondisi bangunan seperti ini, sangat tidak layak. Karena belum dua tahun sudah roboh. Bahkan bukan itu saja, melainkan hampir seluruh bangunan sangat memprihatinkan, dan saya juga khawatir akan ada lagi yang roboh,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Junsam itu menjelaskan, jika semenjak kepengurusannya berkantor digedung KONI ini. Pihaknya sudah dua kali mengirim surat kepada Dispora, berkaitan dengan banyaknya titik-titik yang rusak. Bahkan terakhir KONI melayangkan surat permohonan perbaikan pada November 2019 lalu. Tapi tidak ada respon, hingga plafon ini ambruk.

“Saya sangat kecewa dengan kualitas pembangunan gedung KONI yang dilakukan pihak kontarktor. Terlebih dengan kualitas besi hollow yang terpasang diseluruh ruangan KONI,” pungkasnya.

** Asep Syahmid

Kontrakan di Balai Desa Hangus Dilalap Api

0

Bogor | Jurnal Inspirasi
Sebuah kontrakan 10 pintu yang berlokaso di Kampung Balai Desa RT 02/RW 05, Kekurahan Tajur, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, hangus dilalap api pada pukul 17.30 WIB, Senin (15/6). Salah seorang saksi mata, Ari Nur Cahyo (47) mengatakan bahwa sebelum terbakar, terdapat kepukan asap di sekitar tempat kejadian. Setelah ditelusuri ternyata sumber asap berasal dari kontrakan 10 pintu milik Hj. Tati.

“Saat sumber asap ditemukan, api masih kecil. Ketika saya coba padamkan itu tidak terjangkau karena api berada dibagian atas luar tembok rumah milik salah seorang warga, Eko. Saya sudah coba untuk memadamkan api tetapi tidak terjangkau,” ucapnya kepada wartawan.

Kemudian, ia berusaha memadamkan api merasa kesulitan dan segera menghubungi pemadam kebakaran. “Karena asapnya makin banyak, saya keluar dan sempat terjatuh juga karena ada reruntuhan bangunan. Setelah keluar terjadilah kebakaran total,” katanya.

Beruntung tak ada korban jiwa saat kejadian. Pasalnya, warga yang mengontrak di lokasi pun berhasil mengamankan diri termasuk menyelamatkan beberapa barang berharga miliknya. “Saat api mulai membesar orang yang ngontrak sudah mulai mengungsi dan membawa beberapa barang miliknya sambil menunggu pemadam kebakaran tiba,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pemadam Kebakaran pada Satpol PP, Marse Hendra Saputra menerangkan, pihaknya mendapat laporan dari warga sekitar pukul 18.32 WIB.

“Dugaan sementara penyebab karena ada korsleting listrik yang berasal di dua bangunan rumah kontrakan. Bangunan rumah memang sudah tua. Untuk korban jiwa tidak ada, hanya saja ada satu anggota yang terkena paku saat proses pemadaman,” jelasnya.

Api sendiri, sambungnya, baru dapat dipadamkan pada pukul 19.45 WIB, dengan mengerahkan lima unit kendaraan Damkar Kota Bogor.

** Fredy Kristianto

Pimpin Apel Pagi, Yusral Tahir Ajak Pegawai Tumbuhkan Sense Of Belonging Terhadap PPMKP

0

Ciawi | Jurnal Inspirasi
Kepala Pusat Pelatihan manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP)  Yusral Tahir mengajak Tim PPMKP untuk  menumbuhkan  rasa memiliki, sense of belonging terhadap PPMKP. Hal tersebut diungkapkan Yusral saat memimpin apel pagi bersama lingkup PPMKP, di Halaman Asrama Bumi Senin, (15/6). “Mari kita kerja bersama2, diawali dengan mindset/ fondasi bahwa PPMKP itu milik saya, dan saya ingin tingkatkan PPMKP ini, minimal di tingkat Asia Pasifik, “ serunya.

Ia ingin  PPMKP itu milik bersama, terpatri dalam pikiran. Yusral juga mengajak tim PPMKP untuk mempertahankan capaian yang sudah diraih dan sebisa mungkin  ditingkatkan. Kata Yusral setiap dinamika yang muncul di PPMKP haruslah yang positif mengarah pada tujuan dan target bersama karena inilah fungsi dari sebuah TIM PPMKP.

Iapun menegaskan bahwa dirinya sangat konsen dengan lingkungan, sehingga  lingkungan akan menjadi  perhatian dasar. Dan Yusral  mengajak seluruh pegawai untuk bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan sekitar PPMKP. “Misal ada puntung rokok, atau sampah secara inisiatif langsung pungut dan dibuang ketempat sampah,” himbaunya.

Dihadapan pegawai Yusral juga mengingatkan  pentingnya menjaga kesehatan saat pandemic menuju tatanan new normal diberlakukan. Dia menyarankan untuk mengurangi keluar rumah dan jika ke kantor ikuti protap Covid-19. “SOP masuk kantor, di cek digerbang pintu masuk yang dilakukan oleh satpam, jika diketahui suhu badan melebihi batas wajar, diharapkan kembali kerumah untuk di cek kesehatan lebih lanjut,” tandasnya.

Lebih jauh Yusral mengajak untuk selalu memberlakukan protokol kesehatan dalam  tatanan new normal, yakni wajib menggunakan masker, menjaga jarak, cuci tangan, rutin berolahraga, tidak melakukan kontak fisik. Sementara di tempat kerja, mengikuti pengaturan jam kerja yang tidak panjang, bila tidak sehat bekerja di rumah, area kerja higienis, sering cuci tangan, gunakan hand sanitizer, mengatur asupan nutrisi  makanan yang cukup dan jaga jarak.

Apel pagi bersama lingkup PPMKP ini merupakan yang pertama dilaksanakan setelah vakum beberapa waktu  sejak diberlakukan darurat Covid 19 Maret lalu. Apel yang dilaksanakan pada pukul 07.30 WIB dihadiri  Pejabat Administrator, Pejabat Pengawas dan perwakilan staf  dari setiap bagian dan sub. Bidang.

** RG/PPMKP

Warga Nanggung Keluhkan Jembatan Ciputih Amblas

0

> Puluhan Tahun Jembatan Belum Pernah Dibangun Lagi

Nanggung l Jurnal Inspirasi
Warga Kecamatan Nanggung meminta  jembatan Ciputih yang terletak di Kampung Blokparis, Desa Parakanmuncang yang merupakan akses vital warga untuk segera dibangun. Jembatan tersebut diatas bentarangan kali Ciputih sempat terjadi amblas pada awal tahun Januari 2020 lalu, namun hingga sekarang pihak terkait belum melakukan pembangunan.

“Kondisi jembatan ini semakin hari terlihat sangat parah, sebab bangunan sudah lapuk termakan usia. Saat ini pihak pemerintah hanya mengontrol saja tetapi belum dilakukan pembangunan jembatan,” kata salah satu warga sekitar,  Ida (40) kepada Jurnal Bogor, Senin (15/6).

Ida mengatakan, masyarakat sudah sangat menunggu perbaikan jembatan ini karena satu -satunya akses penghubung antardesa dan menuju  pasar rakyat Nanggung. Ida  memastikan seluruh warga wilayah Nanggung itu berharap perbaikan secepatnya. “Bahkan untuk pengerjaannya kami berkeinginan bisa segera disentuh pembangunan,” harapnya.

Tak hanya itu, Aktivis Bogor Barat Asep Kurnia mendesak Pemerintah Kaupaten Bogor, dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR)  agar segera memperbaiki jembatan. “Keberadaan jembatan itu menuju  Pasar Beber serta pasar rakyat Nanggung itu kan jalan vital yang dampaknya sangat luas terhadap perekonomian warga dan juga jalur angkot kalo misalkan ini terputus tentu menghambat jalur transfortasi,” uja Asep yang biasa dipanggil Askur.

“Kami sebagai pegiat sosial mendesak kepada PUPR Kabupaten Bogor dalam hal ini kadis atau kabid meninjau ke lokasi. Ketika jalur transfortasi terputus, apalagi sebagai jalur penghubung tentu juga sangat riskan,” ujar Aksur.

Kami meminta, kata Askur bangunan jembatan itu, segera diprioritaskan mengingat kejadian amblasnya jembatan itu terjadi sudah 6 bulan lalu. “Seandainya tidak adanya kejelasan  kami akan mendesak secara tegas pihak  PUPR Kabupaten bogor entah dengan gerakan aksi atau somasi ataukan  misalkan bisa kita gugat secara kebijakan,” beber Askur.

Sementara Pengamat Jalan dan Jembatan dari UPT PUPR wilayah V Cigudeg, Idris meyebutkan, jembatan Ciputih dengan ruas jalan Panjaungan Nanggung terletak di kampung Blokparis itu, sebelumnya telah dusulkan bahkan  Kadis PUPR juga sudah mengetahui disaat meninjau ke lokasi bencana yang terjadi di wilayah Kecamatan Nanggung. 

Menurut Idris, kondisi jembatan itu sudah diusulkan, rencananya tahun 2020 ini akan dibangun berbarengan dengan pengerjaan  jalan Cibeber Cisarua serta jalan Curugbitung Nirmala yang berbatasan dengan Sukabumi. “Usianya memang sudah puluhan tahun dan belum pernah dibangun total, hanya saja baru dilakukan perawatan berupa pengecatan,” jelasnya.

** Arip Ekon

OB Positif, Puskesmas Tajurhalang Dibatasi

0

Tajur Halang | Jurnal Bogor
Pelayanan Puskesmas Tajurhalang untuk sementara dibatasi setelah salah satu pegawainya yang berprofesi sebagai office boy (OB) dinyatakan positif Covid-19 dari hasil Swab pertama. “Benar yang positif cleaning service atau OB tapi untuk ponednya tetap pelayanan persalinan,” kata Kepala Puskesmas Tajurhalang dr Frans saat dikonfirmasi, baru -baru ini.

Ia juga menjelaskan, bahwa pegawai Puskesmas Tajur Halang sudah mengikuti rapid test dan hasilnya non reaktif (negatif). Tapi untuk satu pegawai dikirim ke rumah sakit darurat untuk dikarantina karena positif dari hasil Swab.

“Diisolasi di Kemang, dan pihak puskesmas akan melakukan Swab masal akan pada hari Selasa nanti. Karena pasien tersebut awalnya sehat saja tanpa keluhan. Jadi dia orang tanpa gejala (OTG) makanya tidak ada keluhan sama sekali,” ucapnya.

Sementara itu, Camat Tajurhalang Fikri Ihsani membenarkan bahwa ada satu staf Puskesmas Tajurhalang yang positif Covid-19 dan sudah dilakukan pemeriksaan serta evakuasi untuk dikarantina sementara. “Iya satu pegawai, pasien dikarantina dulu dan akan mengikuti Swab juga untuk melihat perkembangan kondisi tubuhnya,” tutupnya.

** Cepi Kurniawan

ABK Asal Ciampea Diperlakukan tak Manusiawi

0

Ciampea | Jurnal Inspirasi
Anak buah kapal (ABK) asal Kampung Cibodas RT 02, RW 06 Desa Bojong Rangkas, Kecamatan Ciampea, Teddy Aris Setiawan (20) yang bekerja di kapal penangkap ikan Cina mendapat tindak kekerasan. Bahkan, sejak awal bekerja dari November tahun lalu belum mendapat gaji sepeser pun dengan jam kerja selama 20 jam. Hal ini diungkapkan ibunda Teddy, Ratnasari (48) di kediamannya, kemarin.

“Yang jelas keluarga berdoa terus agar anak saya selamat, dan akan memeriksa kondisi fisiknya khawatir bekas luka kekerasan. Bahkan, ketika kembali lagi ke Indonesia dengan selamat dan tidak ada penyakit satu pun di badannya,” kata Ratnasari.

Ia menuturkan dari pengakuan putranya, sampai saat ini kondisi Teddy masih sehat. Meski terus berdoa dan menjadikan air keran menjadi obat pelindung dari rasa capek yang kerja dalam sehari 20 jam. “Istirahat hanya sebentar saja. Setiap harinya disiksa terus, ditendang pakai sepatu, dimasukan ke freezer selama dua jam buat menampung ikan besar, untuk minum pun anak saya harus pakai air keran,” keluhnya.

Lebih lanjut ia mengaku, penyiksaan yang diderita ABK asal Indonesia tak beralasan. Bekerja sudah benar tapi tetap disalahkan terus, dan keluarga sangat kesal serta kecewa dengan perlakuan mereka. “Baru nelpon pada hari Minggu kemarin itupun sedang mengisi bahan bakar di Singapura,” tuturnya.

Sementara itu untuk kontrak kerja sendiri, Teddy harusnya bekerja selama dua tahun, bahkan pihak keluarga sudah menghubungi penyalur pekerja yang memperkerjakan kedua anaknya dari PT Rafa Samudera Bahari General Trading-Manning Agency Fisheries untuk segera ditindaklanjuti perihal kasus penganiayaan tersebut.

Kades Bojong Rangkas Iding Habudin mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Camat, Polsek dan Koramil untuk membantu Teddy yang diduga mengalami penyiksaan. “Saya sudah mendatangi rumah orang tua korban dan melihat dokumen serta nama PT yang memberangkatkan. Saya pun telah berkoordinasi dengan Polsek. Rencananya akan berangkat ke Kantor Imigrasi namun mendengar dari pihak keluarga katanya dari kantor yang memberangkatkan akan mencoba memulangkan kita lihat saja nanti kalau gak ada tindakan baru kita akan ke Imigrasi,”pungkasnya.

** Cepi Kurniawan

Kisruh Persoalan Tanah Makam, Ini Kata Pemerintah Desa Sanja

0

Citeureup | Jurnal Inspirasi
Tanah makam di Desa Sanja kisruh jadi pembicaraan warga. Tanah makam tersebut disebut-sebut telah dijual oleh mantan Kades Sanja Solahudin. Namun rupanya tanah tersebut berstatus tanah milik pribadi Kades Solahudin dan paguyuban warga yang akan diwakafkan untuk pemakaman. Belakangan ini, tanah makam tersebut masuk plotingan untuk pembebasan lahan yang nantinya akan dibangun oleh PT. Adi Comutter Properti (ACP).

Pihak Pemdes Sanja pun akhrinya meluruskan perihal kekisruhan tersebut. Hadi, Sekretaris Desa Sanja saat ditemui Jurnal Bogor di ruangannya, Senin (15/6), mengatakan bahwa persolan tersebut merupakan kesalahpahaman yang harus diluruskan. Pasalnya, tanah makam yang letaknya masuk wilayah Desa Leuwinutug tersebut merupakan aset milik pribadi yang diperuntukan untuk pemakaman.

“Tanah tersebut yang saya sendiri belum tahu lokasi persisnya disebelah mana memang diperuntukan untuk makam, Tempat Pemakaman Desa (TPD). Namun status tanah tersebut adalah milik perorangan dan milik kelompok, adapun soal kekisruhan itu hanya salah pengertian saja, karena pada dasarnya tanah makam tersebut belum dijual hanya sudah masuk dalam plotingan untuk pembebasan lahan,” kata Hadi.

Ia menjelaskan, tanah tersebut masuk plotingan untuk pembebasan lahan, namun karena di sekitar tanah makam itu ada tanah milik Mantan Kades Sanja Solahudin dan tanah paguyuban warga, maka Solahudin menyarankan agar warga memindahkan makam yang ada diatas tanahnya ke pemakaman lain yang ada di Desa Sanja. “Pertimbangannya dari pada nanti saat pembebasan lahan harus memindahkan lagi makam, lebih baik sekarang dipindahkan supaya tidak dua kali kerja,” kata dia.

“Jadi diatas tanah Pak Solahudin itu ada satu makam baru, maka Pak Solahudin menyarankan agar makam tersebut dipindahkan ke pemakaman lain yang ada di Desa Sanja, nanti jika tanah itu sudah dibayarkan oleh pihak PT akan dibelikan di tempat lain untuk pemakaman warga Desa Sanja,”  jelas Hadi.

Sementara mantan kades Sanja Solahudin yang baru berakhir masa jabatannya April lalu menjelaskan saat dihubungi via telepon selular, tanah itu milik dirinya seluas 110 meter per segi yang memang akan diwakafkan untuk tanah pemakaman warga Desa Sanja mengingat tanah makam warga Desa Sanja sudah penuh.

“Saya baru tahu waktu tahun 2011 tanah tersebut ternyata masuk plotingan oleh PT. ACP, jadi tanah milik saya (Solahudin-red) seluar sekitar 110 mketer tersebut yang masuk plotingan PT. ACP memang akan saya hibahkan untuk tanah makam warga Desa Sanja, jadi bukan tanah aset desa yang masuk plotingan PT. tersebut melainkan tanah pribadi milik saya,” jelasnya.

“Namun karena ada satu makam baru diatas tanah saya tersebut saya sampaikan jika makam tersebut agar dipindahkan ke pemakaman lain, karena tanah saya masuk plotingan PT, nanti jika sudah dibayarkan uangnya akan saya belikan tanah kembali ditempat lain yang tidak masuk plotingan, supaya warga Desa Sanja punya tanah makam lain, mengingat tanah makam yang kita punya sudah penuh, jadi saya jelaskan jika yang masuk plotingan PT adalah tanah saya pribadi yang akan dihibahkan untuk pemakaman warga yang terletak di desa Leuwinutug bukan tanah milik aset desa,” ungkap Solahudin lagi.

Dirinya menambahkan, sebelumnya sudah dijelaskan bahwa belum ada transaksi apapun yang terjadi atas tanah wakaf makam tersebut, dan saat itu dihadiri oleh Paguyuban, RT/RW dia memberikan solusi agar satu makam tersebut dipindahkan supaya nanti saat kena pembebasan tidak perlu memindahkan lagi. Tanah sudah masuk plotingan dan kena pembebasan lahan sehingga hanya tinggal menunggu waktu saja.

“Belum ada pembayaran apapun atas tanah pribadi saya yang akan saya wakafkan untuk pemakaman tersebut, baru rencana jika itu sudah dibebaskan maka saat nanti sudah ada pembayaran, maka akan saya belikan tanah tersebut di tempat lain, jadi soal kabar yang beredar pemimpin menjual tanah makam itu terlalu dibesar-besaran karena tanah makam tersebut merupakan tanah saya pribadi bukan aset desa,” tandasnya.

** Nay Nur’ain