31.5 C
Bogor
Tuesday, April 21, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 1311

Angka Kematian Tinggi, Dewan Soroti Surveilance Puskesmas

0

Endah Minta Pemkot Hilangkan Isolasi Mandiri

Bogor | Jurnal Inspirasi

Tingginya angka kematian akibat Covid-19 di Kota Bogor pada pekan lalu hingga Selasa (23/2), mendapat sorotan tajam dari Anggota Pansus III Penanganan dan Pencegahan Covid-19 DPRD, Endah Purwanti.

Menurutnya, pemerintah harus segera melakukan pengecekan by name by address terhadap mereka yang terkonfirmasi positif Covid-19. Sebab, kata Endah, salah satu faktor utama penyebab kematian karena corona adalah penyakit penyerta atau komorbid.

“Kemudian mesti dilihat juga sejauh mana efektifitas surveilance di puskesmas. Untuk mengetahui apakah pasien covid dirujuk dalam kondisi darurat atau tidak,” ujar Endah kepada wartawan, Rabu (24/2).

Sebab, kata dia, terkadang penyebab kematian akibat covid adalah adanya keterlambatan rumah sakit (rs) dalam hal penaganan. “Misalnya ketika ada pasien datang ke rs non rujukan covid, harusnya segera dirujuk ke rs rujukan. Tapi karena lambat akhirnya meninggal dunia,” ungkap politisi PKS itu.

Bahkan, kata dia, ada salah satu kasus yang terjadi, pasien baru dirujuk ke rs rujukan covid dalam kondisi darurat, sehingga meninggal dunia. “Harusnya saat pasien tidak dalam kondisi baik, mesti segera dirujuk,” ungkapnya.

Selain itu, kata Endah, untuk meminimalisir kematian akibat Covid-19, seharusnya pemkot mengikuti instruksi Gubernur Jawa Barat untuk meniadakan isolasi mandiri khusus Orang Tanpa Gejala (OTG). “Tujuannya supaya tidak unfall saat masuk rs,” katanya.

Lebih lanjut, kata dia, fungsi pengawasan pada puskesmas pun mesti diperketat. Misalnya, ketika ada notifikasi yang masuk soal adanya kasus positif, petugas mesti melakukan engecekan kondisi, dan merujuk pasien.

“Tingginya angka kematian pada pekan lalu juga mesti dilihat apa ada keterlambatan merujuk kareba surveilance nggak jalan atau karena pelayanan rs terlambat, atau ada komorbid,” katanya.

Hal itulah, kata Endah, yang menjadi alasan pansus menerbitkan rekomendasi kepada pemkot, agar penanganan corona bukan hanya melalui sisi medis, tetapi psikologis dan spiritual.

“Sebab orang yang sakit karena covid juga diserang mentalnya. Itu membuat mereka semakin drop dan unfall. Itu mesti diperhatikan pemkot,” tandasnya.

Jumlah kasus positif covid 19 di Kota Bogor terus alami penurunan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor pada 23 Februari, jumlah positif Covid 19 di Kota Bogor mengalami penurunan menjadi 74 orang, dari sebelumnya, yakni 82 kasus.

Namun angka mencengangkan terjadi dalam kasus meninggal. Dalam sepekan sebwlumnya terlaporkan 11 orang dan akumulatif tercatat 190 kasus. Bahkan, hingga Selasa (23/2) terdapat tambahan dua orang sehingga menjadi 195

 Berdasarkan laporan harian pada Selasa (22/2) terjadi penambahan 3 kasus pasien positif meninggal dunia. Sementara pada Selasa (23/2) terjadi penambahan dua orang meninggal. Sedangkan, dalam pekan kemarin, terlaporkan 8 kasus meninggal.

Kemudian, berdasarkan laporan data harian, Satgas Covid-19 Kota Bogor, Sabtu (20/2) juga terjadi penambahan 3 pasien positif meninggal. Sehari sebelumnya, Jumat (19/2) ada penambahan 4 kasus, dan Kamis (18/2) satu kasus.

Sementara pada Rabu (24/2), jumlah terkonfirmasi positif naik menjadi 78 orang. Namun, tidak ada tambahan untuk pasien meninggal. Sebelumnya, Juru Bicara Satgas Covid-19, Sri Nowo Retno dalam keterangannya menuturkan, dengan peningkatan pasien positif meninggal.

 “Pasien meninggal disebabkan pasien mempunyai riwayat penyakit penyerta yang menahun. Sehingga dalam perjalanan penyembuhan Covid, pasien meninggal,” tandasnya.

** Fredy Kristianto

Jadi Prioritas, Proyek Masjid Agung Belum Ditenderkan

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor telah menganggarkan Rp32 miliar untuk melanjutkan proyek Masjid Agung pada tahun ini. Dengan demikian, diharapkan pekerjaan akan pungkas 40 persen dari Detail Engineering Design (DED).

Wakil Wali Kota Bogor Dedie Rachim mengatakan, pada 2021 ini terdapat beberapa kegiatan strategis pembangunan infrastruktur di Kota Bogor seperti, penataan kawasan Suryakencana yang bersumber dari anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) pemerintah pusat.

Menurut dia, Pemkot Bogor merencanakan pembuatan DED perbaikan dan pelapisan ulang jalan di enam jalan protokol, sehingga pada 2022 takkan adalagi tambal sulam. “Jadi sekarang mempersiapkan teknis untuk 2022. Enam jalan protokol semuanya itu di kelupas dulu jalannya, aspalnya di lapis ulang dengan aspal dengan kualitas yang tinggi,” ujar Dedie kepada wartawan, Rabu (24/2).

Dalam kesempatan berbeda, Kepala Bagian Pengadaan Barang/Jasa (PBJ) Sekretariat Daerah (Setda) Kota Bogor Henny Nurliani menyatakan bahwa hingga kini pengajuan tender pekerjaan revitalisasi Masjid Agung belum masuk.

Sebab, kata dia, berkas masih berada di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) sebagai pengguna anggaran. “Dinas PUPR belun mengajukan untuk tender pekerjaan fisik Pembangunan Mesjid Agung,” ucapnya.

Namun, sambung dia, saat ini PBJ tengah melelangkan konsultan Pengawasan Pembangunan Masjid Agung Lanjutan dengan pagu anggaran Rp1,4 miliar dan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) senilai Rp837 juta.

“Sekarang masih tahapan Masa Sanggah Prakualifikasi dan ditarget selesai tender pada April mendatang,” tandasnya.

** Fredy Kristianto

Dishub Rekayasa Jalur Angkot

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor melalui Dinas Perhubungan (Dishub) memastikan bila angkutan kota (angkot) yang melintasi Jalan Paledang dan Pahlawan tetap akan beroperasi seperti biasa. Kendati, dua ruas jalan itu ditutup hingga enam bulan ke depan akibat pembangunan rel ganda.

Kepala Dishub, Eko Prabowo mengatakan, walaupun ada penutupan dan rekayasa lalu lintas dengan jembatan darurat atau jalur di samping jalan utama yang akan dibangun, angkot yang melintas pada dua jalan itu tetap beroperasi seperti biasa.

“Ya misalnya angkot 02 dan 14 jurusan Sukasari-Bubulak, atau angkot yang biasa melintasi Jalan Pahlawan-Empang, tetap bisa melintas seperti biasa. Begitu pula di Jalan Paledang, angkot yang biasa lewat pun tetap boleh melintas di jembatan darurat,” ujar Eko kepada wartawan, Rabu (24/2).

Eko menambahkan, rekayasan lalu lintas terhadap operasional angkot bisa saja terjadi, apabila terjadi kepadatan pada dua ruas jalan tersebut.

“Jadi insindetil saja di lapangan. Kita lihat volume lalu lintasnya. Kalau padat banget, ya akan ada rekayasa lalin. Dengan tujuan untuk memecah krodit dan arus lalu lintas,” tandasnya.

** Fredy Kristianto

Unhan Gelar Seminar Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi dalam Perspektif Keamananan

0

Bogor l Jurnal Inspirasi

Fakultas Keamanan Nasional Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) menggelar seminar umum dengan tema “Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi (Banjir dan Longsor) pada Masa Pandemi Covid-19 dalam Perspektif Keamanan Nasional” melalui daring Zoom Meeting, Rabu (24/02).

Seminar ini dibuka dengan opening remarks dari Rektor Unhan RI Laksamana Madya TNI Dr. Amarulla Octavian, S.T., M.Sc., DESD., CIQnR, CIQaR., IPU. Webinar menghadirkan beberapa narasumber diantaranya Ir. Dody Ruswandi, MSCE Deputi Penanganan Darurat BNPB, DR. Nelly Florida Riama, S.SI., M.SI Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG, Dr. Armi Susandi, MT Dosen Prodi Meteorologi Institut Teknologi Bandung yang juga sebagai Kapuslitbang BIN dan PROF DR. Edvin Aldrian, B.ENG., M.SC Pakar Meteorologi dan Klimatologi  BPPT serta moderator webinar Letkol Sus Adi Subiyanto,

Rektor Unhan RI menjelaskan pentingnya upaya penanggulangan bencana alam yang tidak pernah berhenti, serta pentingnya manajemen penanganan bencana yang cepat dan tepat, terlebih pada situasi pandemi Covid-19 yang terjadi dewasa ini.

Hal tersebut membuat permasalahan dalam penanganan bencana semakin  sulit dan kompleks. kegagalan dalam mengelola bencana  akan sangat berdampak pada berbagai aspek kehidupan dan penghidupan manusia, salah satunya aspek keamanan nasional. Sehingga melalui seminar diharapkan akan memberikan  pemahaman kepada seluruh peserta webinar, terkait penanggulangan bencana hidrometeorologi (banjir dan longsor) pada masa pandemi Covid-19  dalam perspektif keamanan nasional

Narasumber dari BNPB menerangkan mengenai problema dan tantangan penanggulangan bencana (banjir dan longsor)  di masa pandemi Covid-19 guna mendukung keamanan nasional. Selain itu narasumber dair BMKG  perubahan iklim dan potensi bencana hidrometeorologi di tahun 2021. Kemudian narasumber dari BPPT menyampaikan informasi mengenai teknologi mitigasi bencana hidrometeorologi di Indonesia. Sedangkan  ITB menyampaikan informasi mengenai sistem informasi multi hazard dalam mewujudkan Indonesia tangguh bencana.

Banjir, cuaca ekstrem dan tanah longsor mencakup lebih dari 50% kejadian bencana alam selama tahun 2020. Jumlah bencana alam di indonesia mengalami peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir dan didominasi oleh bencana hidrometeorologi. Konsep penanggulangan bencana di era society 5.0 permasalahannya akan meliputi penyediaan informasi evakuasi, penyelamatan korban dan pengiriman suplai bantuan dengan pengiriman yang optimal.

Tantangan yang dihadapi penanggulangan bencana di tengah pandemi Covid-19 yaitu adanya klaster baru yaitu klaster Covid-19, keterbatasan fasilitas pelayanan kesehatan bagi korban bencana, ketersediaan APD bagi pengungsi dan relawan terbatas serta munculnya penyakit lain pasca bencana menjadi komorbid jika terinfeksi Covid-19.

Pada sesi diskusi dan tanya jawab mendapatkan feedback berupa pertanyaan, saran dan masukan mengenai materi seminar yang disajikan oleh para narasumber dan berjalan dengan lancar. Acara ini melibatkan 270 partisipan yang dihadiri oleh beberapa pejabat eselon I, II dan III Unhan RI, para Dosen, Mahasiswa serta alumni Unhan RI dan beberapa peserta dari praktisi kebencanaan seperti BNPB, BMKG, MDMC Yogyakarta, BPBD Kabupaten Bogor, BPBD Kabupaten Pasaman, BPBD Provinsi Bali, BPBD Kabupaten Karangasem, BPBD Provinsi Sulawesi Utara dan BPBD Kabupaten/Kota lainnya.

Dengan dilaksanakannya seminar ini, diharapkan dapat berkontribusi bagi Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi (khususnya Bencana Banjir dan Longsor) yang sering  mendominasi kejadian bencana di Indonesia.

** Arip Ekon/Rilis BPBD Kabupateb Bogor

RSUD Leuwiliang Berharap Akreditasi Paripurna

0

HUT ke-6, Satukan Tekad Menuju RSUD Leuwiliang yang Sehat

Leuwiliang | Jurnal Inspirasi

RSUD Leuwiliang memperingati hari ulang tahunnya yang ke-6 saat pandemi Covid-19 sekarang ini. Acara pun dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Peringatan ulang tahun kali ini mengambil tema “Satukan Tekad Menuju RSUD Leuwiliang yang Sehat” yang puncaknya dilaksanakan pada Rabu, 23 Februari 2021.

Wakil Direktur Pelayanan RSUD Leuwiliang Vitrie Winastri yang juga Ketua Panitia HUT RSUD Leuwiliang mengatakan, acara peringatan dibuat untuk mempererat tali silaturahmi, baik internal maupun eksternal.

Kegiatan yang pertama dilakukan bakti sosial dengan memberikan santunan kepada kaum dhuafa warga sekitar dan anak yatim di beberapa RT dan RW. “Ada 50 anak yang kami santuni pada hari Jumat lalu,” jelasnya.

Kemudian kegiatan yang kedua memberikan bingkisan kepada pasien yang di rawat. Seluruh pasien diberikan bingkisan pada Senin, 22 Februari 2021. “Kami berikan seluruh pasien yang dirawat di RSUD Leuwiliang,” ujarnya.

Tidak hanya bakti sosial, kata Vitrie Winastri, kegiatan seminar ilmiah pun dilakukan untuk berbagai pengalaman tentang penanganan pasien Covid-19 ini dengan narasumber ada yang dari internal maupun eksternal RSUD Leuwiliang.

“Dari internal dokter spesialis paru ada perawat IGD, dari eksternal HIPTI (Himpunan Perawat untuk Inspeksi). Selain itu, kita juga ada lomba RS idol semua secara virtual, lomba dance 5M dan edukasi tentang protokol kesehatan dan terakhir ada lomba logo,” jelasnya.

Vitri juga mengaku, ada pemberian penghargaan kepada pegawai yang purnabakti sejak RSUD berdiri dan kepada perawat yang meninggal pun diberikan penghargaan. “Yang jelas ini semua rangkaian acara HUT RSUD ke-6, semoga kedepannya mampu lebih baik dengan fasilitas disini,” ucapnya.

Senada dikatakan Direktur RSUD Leuwiliang Hesti Iswandari, pada usia 6 tahun ini dia berharap RSUD Leuwiliang tetap paripurna untuk akreditasi. Karena masih banyak fasilitas yang perlu ditambahkan salah satunya dokter spesialis.

“Kita juga terus berusaha melakukan tambahan layanan baik spesiasilis dan sub spesialis, dan sarana, karena kita sudah tipe B,” tambahnya.

Bahkan, ia melihat untuk wilayah Bogor Barat sangat membutuhkan layanan tipe B, tapi memang kendalanya masih banyak sehingga butuh disuport karena masih banyak kekurangan. “Salah satunya kita belum mempunyai dokter spesialis patologi anatomi dan kita meminta ke pihak provinsi untuk bisa memenuhi permintaan dokter spesialis tersebut,” tegasnya.

Selain itu, ia menjelaskan, pengembangan rawat inap harus segera dioperasionalkan alias dihuni, tapi masih ada kendala karena pemerintah sedang fokus terhadap Covid-19 yang memang sudah dikondisikan tapi kepangkas lagi. “Tak hanya anggaran kesehatan saja tapi dana desa juga ikut di refocusing. Namun, untuk layanan yang ada dioptimalkan, beserta alat lain juga,” jelasnya.

Mantan Dirut RSUD Ciawi ini berharap ada pengembangan gedung intensif dimana nanti IGD, ICU, dan bedah bisa sentral karena dulu belum sepenuhnya standar, tetapi sekarang minimal sedikit demi sedikit sudah dilakukan renovasi. “Dengan berjalannya waktu pasti akan terus dilakukan kelengkapan lain. Karena, kebanyakan warga disini tidak mau dirujuk, saya harap kedepan bisa mengembangkan fasilitas yang ada,” harapnya

Sementara itu, Wakil Direktur Adminitrasi RSUD Leuwiliang Inlaurizen menambahkan, di era baru ini jelas sistem layanan diubah menjadi hal baru, seperti penggunaan masker diwajibkan bahkan ke pengunjung juga. “Bahkan kita juga membuat sarana pelindung, memaksimalkan proteksi kesehatan, kemudian bantuan makanan tambahan dan diawal tahun ini akan disiapkan kembali,” kata Iin.

Wanita yang disapa Iin tersebut mengungkapkan, perubahan lain seperti sistem layanan salah satunya karyawan semua divaksin dan diberikan penjelasan mengenai prokes. “Jadi disini ada dua rawat inap khusus Covid-19, dan rencananya membangun ruang ICU khusus serta membuat ruangan lain. Total ada 51 tempat tidur buat pasien Covid-19,” pungkasnya.

** Cepi Kurniawan

Bimtek Petani Penyuluh Kenalkan Hay dan Silase Pada Petani

0

Majalengka | Jurnal Inspirasi

Petani di Kabupaten Majalengka, Subang dan Sumedang diperkenalkan metode hay dan silase melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi Petani Penyuluh wilayah koordinasi Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) Ciawi-Bogor di Kabupaten Majalengka beberapa hari lalu.

“Dalam dunia peternakan dikenal istilah hay dan silase. Hay adalah rumput yang sengaja dikeringkan.  Sedangkan silase adalah hijauan segar yang difermentasi, dibuat dari tanaman yang dicacah disimpan dalam silo kemudian dipadatkan untuk menghilangkan oksigen (anaerob) dan ditambahi probiotik,“ ujar Rachmat Somanjaya, pakar pakan ternak ruminasia dan dosen peternakan di Universitas Majalengka yang jadi narasumber kegiatan tersebut.

Seperti diketahui Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) berkolaborasi dengan Komiisi IV DPR RI masa bakti 2019 – 2024 menyelenggarakan bimtek untuk berbagai persoalan yang dihadapi petani.

“Ada anggapan bahwa silase itu harus memakai probiotik sementara yang tanpa probiotik namanya fermentasi. Ini kekeliruan, bahwasannya produknya adalah silase, prosesnya fermentasi. Baik itu pake probiotik ataupun tidak kalau proses pengawetannya secara fermentasi itu outputnya adalah silase,“ jelasnya.

Pengawetan hijauan seperti hay dan silase menjadi solusi alternatif untuk mengatasi krisis pakan ternak saat musim tertentu/kemarau. Metode pengeringan rumput  atau hay sering digunakan oleh peternak kecil atau peternakan rakyat. Pengeringan dilakukan baik menggunakan teknologi menggunakan oven maupun rumah kaca atau konvensional menggunakan sinar matahari.

Dalam berusaha dibidang peternakan ruminansia, seringkali pelaku berhadapan dengan tidak tersedianya suplai pakan ternak dengan kualitas yang baik sepanjang tahun, terutama selama musim kemarau.

Padahal Kata Dia pengembangan peternakan apapun jenis komoditinya yang paling utama adalah ketersediaan pakan.  Untuk itu Ia mengajak petani untuk menggunakan metode penyimpan pakan ternak.

“Kalau kita mau beternak ruminansia atau apapun usahakan ketersediaan pakan terjamin. Bagaimana caranya? Yaitu dengan pengolahan pakan. Pakan yang ada kita olah, kita awetkan sehingga ketersediaannya tidak mengenal musim,“ ujarnya.

Jenis tanaman yang direkomendasikan adalah hijauan pakan sorgum dikombinasikan dengan indigofera yang sangat baik untuk ternak. Materi ini mendapat apresiasi dari sejumlah petani yang hadir baik dari wilayah Majalengka maupun Subang dan Sumedang. Seperti disampaikan Iyeng Alim peternak  dari Majalengka. Ia mengatakan materi silase memberikan pencerahan bahwa pakan tidak harus selalu segar, namun bisa dalam bentuk kering tanpa kehilangan nilai gizi untuk ternak.

Sementara Omo Karmana, petani padi dari Desa Ujung Jaya, Kabupaten Sumedang, menganggap bimtek sebagai ajang untuk silaturahmi dan bertukar informasi sesama petani. Mendapatkan materi membuat silase baginya merupakan pengetahuan baru. Jerami yang dihasilkan dari usaha padinya selain dapat dibuat pupuk juga dijadikan pakan ternak. Walau dirinya tak punya ternak namun disekitarnya banyak petani ternak. Hal ini bisa menjadi peluang untuk mendapatkan tambahan penghasilan.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan sistem pertanian yang maju, mandiri dan modern bersumber pada SDM pertaniannya. Untuk itu sangat diperlukan penguatan kapasitas SDM pertanian diantaranya melalui bimtek. “Pertanian yang maju, mandiri dan modern berarti kita bicara SDM. Maka perlu ada penguatan kapasitas SDM pertanian kita,” ujar Mentan SYL dalam arahannya.

Mengenai peningkatan produktivitas Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi menegaskan agen yang paling besar dalam peningkatan produktivitas adalah sumber daya manusianya. “Berbicara peningkatan produktivitas berarti peningkatan SDM-nya. Hal ini akan difokuskan pada penyuluhan pertanian dengan memperkuat Kostratani di kecamatan yang merupakan unsur utama dalam mendorong produktivitas pertanian,” ucapnya.

** Regi/PPMKP

BPP Sugio Gelar Program Sekolah Lapang IPDMIP

0

Malang | Jurnal Inspirasi

Kementerian Pertanian yang dikomandani Syahril Yasin Limpo (SYL) dengan programnya Kostratani tentunya memiliki niat yang besar untuk menyediakan pangan bagi 270 juta jiwa. Dan tentunya program ini tidak bisa dicapai begitu saja tanpa adanya berbagai upaya – upaya yang dilakukan dan keterlibatan semua pihak.

BPP Kostratani Sugio salah satunya Pos Komando Strategis yang berada di tingkat kecamatan mendukung program tersebut dengan menggelar Kegiatan Sekolah Lapang (SL) Program Integrated Participatory Development Manajemen of Irrigation Project (IPDMIP) pada Rabu, 24 Februari di Balai Desa Kedungdadi, Kecamatan Sugio.

Acara ini dibuka oleh Sumadi, SP yang juga Koordinator BPP Kostratani, dalam sambutanya dia menyampaikan bahwa penyuluh lapangan selalu mendukung sepenuhnya program Kementerian Pertanian salah satunya menciptakan petani – petani milenial sebagai generasi petani yang tangguh dan modern.

“Tentunya program  Sekolah Lapang ini menjadi momentum yang tepat dalam upaya mendukung program tersebut,” ungkapnya.

Program Sekolah Lapang kali ini dihadiri oleh KUPT Pelaksana Penyuluhan  Sukodadi, Kepala Desa Kedungdadi, Koordinator IPDMIP Kabupaten, PPL di wilayah Kecamatan  Sugio serta 25 peserta Sekolah Lapang yang merupakan petani di wilayah Desa Kedungdadi.

Kepala Desa Kedungdadi, Sukiman, S.Pd dan jajaranya sangat mendukung terlaksananya kegiatan Sekolah Lapang yang berada di daerahnya karena bisa menjadikan petani di desanya semakin maju dan kompeten di bidang pertanian.

“Kami sangat berharap kegiatan tersebut tidak hanya sekali saja namun kalau bisa diselenggarakan secara berkelanjutan, karena program ini sangat berpengaruh positif terhadap pembangunan pertanian di desa kami khusunya,” harapnya.

Menurut Sunarso selaku KUPT pelaksana penyuluhan pertanian Sukodadi, dengan adanya sekolah lapang ini akan banyak ilmu yang diserap oleh petani diantaranya tentang sistem tanam jajar legowo dan pengendalian hama dan penyakit yang tepat. Materi ini tentunya akan berdampk pada produksi tanaman pangan khususnya padi.

Sementara menurut Setyorini, Koordinator IPDMIP Kabupaten Lamongan, sekolah lapang ini untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan petani melakukan usaha tani yang benar mulai dari olah tanah hingga pascapanen sehingga mampu meningkatkan produksi dan pendapatan.

** Septi Angraini, SP/ BBPP BATU

Suka Manis, Gula Batu Gutera jadi Alternatif

0

Bogor  | Jurnal Inspirasi
Kota Bogor memang tidak pernah kehabisan produk khas buatan usaha rumah tangga dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Produk Gula Batu Gutera hadir sebagai alternatif pemanis pengganti gula pasir biasa bagi berbagai macam minuman, baik untuk kopi hingga teh. Usaha keluarga yang dimulai sejak 2017 itu kini fokus pemasaran secara online agar bisa berkembang menjadi produk ekspor dari Kota Bogor.

Direktur Gutera, M Rully Praditpa mengatakan, produk gula batu Gutera baru benar-benar dipasarkan sejak awal tahun 2021 setelah mengantongi izin BPOM pada Januari lalu. Menurutnya, produk gula batu Gutera jadi alternatif penggunaan gula pasir biasa karena lebih sehat. Sebab, proses pembuatan melalui proses yang lebih tradisional dan sederhana.

“Kita baru pasarin di tahun ini karena baru dapat BPOM-nya di awal tahun ini. Saya melihat ini peluang karena belum banyak yang pakai gula batu. Ditambah pengalaman pribadi, ini jadi alternatif pemanis selain gula pasir biasa,” katanya kepada media.

Meskipun berpusat di Tangerang, sambung dia, produk gula batu Gutera sudah tersebar di Jabodetabek dan wilayah lain. Sebab, masih mengandalkan pemasaran lewat online. Pemasaran langsung dengan target rumah tangga memang ia rintis bersama keluarga, dari mulut ke mulut atau antara teman dekat. Seiring berjalan waktu, produk pun dikenal luas dan makin banyak produksi.

“Proses buatnya juga sederhana. Lebih ke tradisional. Dari tebu, lalu jadi cair, kemudian dipanaskan dan didiamkan sampai bentuknya seperti ini. Ini mudah larut baik dicampur dengan kopi, teh atau lainnya,” ujar Rully.

Sementara itu, Bussiness Development Manager Gutera Cita Rianti didampingi Stockist Bogor, Siti Ayu Devianti berharap produk Gutera tidak hanya dipasarkan di Bogor atau Jabodetabek saja. Tapi juga bisa berkembang dan menjadi produk ekspor asli Bogor ke luar negeri.

“Ya minimal untuk tingkat Asia Tenggara dulu, negara tetangga seperti Singapura atau Malaysia. Kami berharap produk Gutera bisa diterima masyarakat, bukan cuma jadi produk Bogor yang laku di dalam negeri, tapi juga jadi produk gula batu dari Kota Bogor yang bisa diekspor. Jadi produk ekspor dari Bogor,” tuntasnya. 

** Handy Mehonk

Beratapkan Terpal, Mobil Pol PP Pamijahan tak Ubah Seperti Mobil Pedagang Tahu Bulat

0

Pamijahan l Jurnal Inspirasi

Kondisi mobil operasional milik Satpol PP Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor kini menjadi sorotan warga Kecamatan Pamijahan. Pasalnya terlihat bagian atap dan belakang kendaraan itu dipasang dengan terpal. Kondisi mobil seperti ini pun menjadi pertanyaan warga. 

“Ini mobil operasional Satpol PP, atau kendaraan tukang jualan tahu bulat digoreng dadakan,” kata salah satu warga Desa Cibitungwetan, Entis kepada wartawan, kemarin.

Sembari  memperhatikan kondisi mobil yang biasa digunakan petugas Pol-PP yang terparkir di depan Kantor Desa Cibitungwetan, menurutnya, pemerintah tega membiarkan kondisi mobil seperti itu,” paparnya. “Sampai gak kesampaian beli atap mobil, kasihan para anggota, takutnya malu apalagi kehujanan,” katanya.

Sementara, Kasi Trantib Kecamatan Pamijahan Agus mengatakan, bahwa perbaikan mobil itu terkendala waktu dan belum adanya anggaran. “Belum sempat dibawa ke bengkel, lagi pula anggarannya di kecamatan juga belum cair,” ungkap Agus. “Katanya anggarannya belum cair, akan tetapi yang penting kerjaannya beres,” guyon Agus.

Terpisah, Sekretaris Camat Pamijahan Yudi Hartono, mengaku anggaran untuk  perbaikan kendaraan operasional Satpol PP baru akan diusulkan. “Nanti kita usulkan anggaran untuk perbaikan kendaraan tersebut. Ya, idealnya harus ganti pake doble kabin,” kata Yudi.

Sebetulnya kata dia, kalau  untuk  pemeliharaan skala kecil sudah diarahkan agar mobil tersebit dibawa ke bengkel.  “Sudah diarahkan tapi sampe hari ini belum dibawa mungkin masih dipake,” tuturnya.

Ia berharap akan ada mobil operasional yang baru untuk di Pamijahan, khususnya kendaraan operasional Pol PP. Yudi Hartono yang merupakan mantan Ketua KNPI Kabupaten Bogor ini menyebutkan, anggaran di kecamatan untuk perbaikan kendaraan tersebut  itu tidak ada. “Gak ada anggaran untuk kaitan mobil mah,” imbuhnya.

“Mudah-mudahan bonus produksi (BP) bisa diarahkan salah satunya untuk alokasi kendaraan di kecamatan,” tukasnya.

** Arip Ekon

Agar tak Salah Langkah Gunakan Samisade, Pemdes Cibantok Satu Bakal Libatkan Masyarakat

0

Cibungbulang | Jurnal Inspirasi

Anggaran Samisade yaitu satu miliar satu desa yang digulirkan Bupati Ade Yasin untuk infrastruktur di masing-masing wilayah di Kabupaten Bogor terus menjadi pembahasan. Selain anggaran yang begitu besar juga penggunaan anggaran menjadi salah satu yang harus diwaspadai seluruh kepala desa.

Menanggapi hal itu, Kades Cibatok I Cecep Haerudin mengaku akan berhati-hati apalagi selaku kepala desa ia tidak ingin gegabah dalam merealisasikan bantuan Samisade untuk desa. “Kami pun sesuai aturan yang ada tidak akan menggunakan pihak ketiga dalam pelaksanaannya, padat karya yang akan kami kedepankan, melibatkan warga sekitar untuk mengurangi pengangguran dan tentunya melibatkan BPD, LPM, tokoh masyarakat RT dan RW ,” kata Cecep Haerudin,  Rabu  (24/2/2021).

Cecep mengatakan,  untuk Samisade di Desa Cibantok itu dalam usulan sebelumnya, satu miliar akan digunakan untuk pembangunan jalan lingkungan dengan betonisasi di Kampung Kalurahan RW 05. “Kami memilih jalan itu karena sekian tahun belum tersentuh pembangunan panjangnya 230 meter dengan lebar 2 meter,” kata Cecep.

Dia menjelaskan, dengan adanya bantuan Samisade ditengah pandemi Covid-19, maka pembangunan infrastruktur bantuan dari DD dibatasi karena untuk penanganan Covid. “Alhamdulillah dengan adanya Samisade ini cukup terbantu dan saya selaku kades baru menjabat banyak mengucapkan rasa syukur kepada Bupati Bogor,” pungkasnya.

** Cepi Kurniawan