30.4 C
Bogor
Monday, April 6, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 1183

Dadang Peringatkan Kontraktor Double Track

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

Terjadinya kecelakaan kerja berupa tergulingnya alat berat (crane) dalam pembangunan rel ganda Bogor – Sukabumi pada Minggu (6/6) mendapatkan sorotan dari Wakil Ketua II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bogor, Dadang Iskandar Danubrata.

Dadang pun meminta agar pihak pengembang proyek nasional itu lebih memperhatikan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) dalam mengerjakan proyek rel ganda.

“K3 itu sangat penting dan ini bisa terlihat dengan terjadinya kecelakaan kemarin berarti kurang diperhatikan,” kata Dadang.

Tak hanya itu, ia juga meminta agar dalam pengerjaan proyek rel ganda ini, pihak kontraktor memperhatikan kondisi sekitar dimana masih terdapat warga yang bertempat tinggal disekitaran lokasi pekerjaan.

Sebab berdasarkan catatannya, kejadian kecelakaan kerja dalam pembangunan rel ganda sudah terjadi beberapa kali, yaitu di tanah longosr di Empang, longsor di Parung Jambu, dan terakhir longsor di Batutulis.

“Jadi saya peringatkan agar kontraktor memperhatikan warga juga. Jangan sampai karena pekerjaan ini, tanah yang ada di sepanjang proyek rel ganda menjadi labil dan bisa menyebabkan longsor dan banjir sehingga berdampak kepada warga, terutama di wilayah Bogor Selatan karena daerahnya merupakan tebingan dan rawan longsor. Ini harus diperhatikan betul,” pungkasnya.

** Fredy Kristianto

Soal Pemindahan Pusat Pemerintahan, Dewan Pertanyakan PSU Bogor Raya

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor memindahkan pusat pemerintahan ke kawasan Bogor Raya, Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, kembali menuai kritikan. Kendati saat ini Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) hampir ‘gol’ di DPRD.

Anggota DPRD Fraksi PPP, Akhmad Saeful Bakhri (ASB) mempertanyakan apakah Pemkot Bogor sudah meng-clear-kan aset yang ada di Bogor Raya. “Sebenarnya itu yang menjadi pokok permasalahan. Kalau itu clear, RTRW diparipurnakan nggak masalah ,” ujarnya kepada wartawan, Senin (7/6).

Selain itu, kata ASB, titik mana saja di kawasan tersebut yang diubah menjadi area jasa. “Itu mesti dijelaskan, kan selama ini kedua poin itu belum ada. Ini harus jelas, jangan sampai jadi permasalahan hukum di kemudian hari,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti langkah Pemkot Bogor yang terkesan keukeuh memasukan trem ke dalam Raperda RTRW. “Terkait dengan kepres LRT sampai Terminal Baranangsiang bagaimana itu? Mau dikemanakan, tiba-tiba sudah ada urusan trem. Kalau bicara trem, sekarang kita tanya dari mana alokasi anggarannya. Oke, mau dari pusat, bukan isunya pusat nggak bisa bantu?,” ucapnya.

Lebih lanjut, ASB juga mempertanyakan mengenai nasib danau Bogor Raya yang merupakan Prasarana Sarana Utilitas Umum (PSU) yang belum diserahkan kepada Pemkot Bogor hingga saat ini. “Bagaimana apakah sudah diserahkan. Begitupun dengan PSU lain,” katanya.

Sebab, kata dia, dbangunnya danau Bogor Raya itu bertujuan tujuan mengendalikan banjir di wilayah Bogor Utara dan sekitarnya.

Sebelumnya, Anggota Bapemperda DPRD Kota Bogor, Endah Purwanti mengatakan bahwa dalam raperda tersebut terdapat poin bahwa Wilayah Pengembangan (WP) Samida, tetap mempertahankan fungsi perkantoran eksisting di Bogor Tengah.

“Di dalam peta warnanya pun jelas. Bahasa perdanya seperti itu. Jadi pusat pemerintahan tetap di Balai Kota. Kalau di Katulampa, ya paling kantor dinas saja, karena sekarang banyak yang tidak representatif,” ujar Endah.

Menurut Endah, apabila melihat poin tersebut, otomatis Pemkot Bogor hanya dapat menambah perkantoran untuk dinas saja. “Kalau pusat pemerintahan mau dipindah ke Katulampa, pemkot harus dari nol lagi. Rubah lagi RTRW-nya,” katanya.

Endah mengakui bahwa mengenai lokasi pusat pemerintahan baru sudah tertuang dalam rapat pembahasan panitia khusus (pansus) DPRD periode sebelumnya. “Itu memang sudah ada sebelumnya,” tegasnya.

Kata Endah, pasal per pasal serta struktur dalam raperda tersebut selama ini selalu berubah-ubah, termasuk kontennya. “Makanya kami berkali-kali meminta agar itu dirapihkan. Permintaan Banmus tiga hal, yang pertama hasil paripurna terakhir 2016, legalisasinya sudah diparipurnakan karena nggak ada karena proses pemindahannya. Kedua proses drafting hasil paripurna. Kemudian kami juga meminta runutan cerita karena ada satu pasal yang hilang dalam draft,” ucapnya.

Lebih lanjut, kata Endah, apabila nantinya kantor dinas dibangun di Katulampa, Pemkot Bogor harus memastikan bila aset-aset bangunan yang sebelumnya ditempati jangan sampai hilang.

** Fredy Kristianto

Kasus Positif Covid di Ponpes Total 65 Orang

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

Kasus terkonfirmasi positif pada Pondok Pesantren (Ponpes) Bina Mandiri di Kelurahan Harjasari, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor bertambah 33 orang. Alhasil, pada Senin (7/6) jumlahnya mencapai 65.

Tambahan sebanyak 33 orang itu diketahui usai test swab PCR massal yang dilakukan pada Minggu (6/6). Dari total 65 kasus positif saat ini pun, sudah ada 56 orang yang dirawat di BPKP Ciawi. Selain itu, delapan orang di isolasi di rumah serta satu orang masih di pesantren dan sedang dilakukan proses evakuasi.

“Hari ini kita mendapatkan update dari 454 orang yang sudah kita lakukan swab test PCR, ada 33 santri yang terkonfirmasi positif. Jadi menambah dari yang sebelumnya ada 32 santri. Dimana diantaranya sudah kita pindahkan ke pusat isolasi di BPKP Ciawi,” ujar Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim di Balai Kota Bogor.

Dedie merinci, dari 33 kasus penambahan tersebut, 20 merupakan santri putra. Dan sisanya adalah 13 santri wanita. Dengan bertambahnya kasus tersebut, Dedie ingin tetap memastikan kegiatan di ponpes tersebut ditutup dan ditiadakan sementara. Termasuk kegiatan peribadatan yang melibatkan warga itu dikurangi atau bahkan dibatasi.

“Kemudian juga kita sedang melakukan tracing lagi untuk mereka yang melakukan kontak erat kepada para santri. Terutama selama dalam proses perjalanan dari daerah asal masing – masing sampai ke Bogor,” sahut Dedie.

Diketahui sebelumnya, terdapat 453 orang penghuni Pondok Pesantren Bina Madani. Jumlahnya terdiri atas 176 orang santri putri, 222 orang santri putra, pengurus putri 34 orang, dan pengurus putra 21 orang.

Dedie juga menyinggung dengan adanya kasus ini, berpengaruh besar dengan proses uji coba Pembelajaran Tatap Muka (PTM) yang saat ini masih berlangsung. Hal itu yang kemudian menjadi kekhawatiran pula saat ini.

“Sekarang terbukti kalau kita tidak hati – hati, tidak ada prokes ketat, risikonya ada paparan. Baik di jalan, kendaraan umum, tempat asal, dan lain – lain,” jelas Dedie.

Untuk itu, sekarang ini Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor berupaya untuk meminimalisir potensi paparan dan penyebaran Covid -19 di Kota Bogor. Maka dari itu, Pemkot lakukan langkah – langkah yang komprehensif.

“Langkah – langkah yang cepat agar menghindarkan bertambahnya jumlah warga yang terkena Covid-19,” ujar Dedie.

Terpisah, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kota Bogor, Bima Arya menyatakan, 33 santri yang baru diketahui terkonfirmasi Covid-16 segera diisolasi dan pesantren segera ditutup sementara. Termasuk membatasi kegiatan dengan prokes untuk menghindari penularan. “Kita siapkan logistik, posko gabungan, vitaminnya dan sebagainya,” kata dia.

Dari dua klaster (Griya Melati dan Bina Madani) kata Wali Kota Bogor ini, maka dapat disimpulkan penularan itu terjadi akibat perjalanan dari luar kota.

Untuk itu, ia memerintahkan lurah dan camat mendata mana saja pesantren yang akan melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) bekerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag). “Diakukan tes PCR semua sebelum tatap muka,” tukasnya.

** Fredy Kristianto

Hakikat Santri

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

Sebelum kita mengetahui hakikat santri, kita harus mengetahui terlebih dahulu kata ”santri” itu sendiri. Santri diambil dari bahasa Sanskerta “Shastri” yang berarti orang suci. Sedangkan dalam bahasa Arab kata santri terdiri dari susunan huruf yaitu sin, nun, ta, ra, dan ya. Sin atau sabaaqul khoir yang artinya pelopor kebaikan, dimana pun ia berada apa pun kondisinya ia harus menjadi pelopor kebaikan.

Katakanlah yang benar walaupun itu pahit. Ia harus menegakkan kebenaran apabila ia mengetahui itu benar dan mengatakan itu salah apabila itu salah. Itulah mengapa ada slogan “Bersama Santri, Damailah NegeriI”.

Nun atau naaibul ‘ulama yang artinya penerus ulama. Ulama atau seseorang yang memiliki ilmu yang luas dan berakhlak mulia, santri yang di didik dengan kelembutan, kesabaran, dan kesidiplinan oleh para guru dan kyai harus berupaya menjadi penerus ulama. Menjadi ulama tidak harus selalu berdiri di atas mimbar, tak harus menjadi penceramah akan tetapi yang penting adalah ber akhlak mulia dan harus selalu istiqomah dalam menjaganya dengan ilmu yang dimilikinya.

Ta atau tarkul ma’ashi yang artinya meninggalkan maksiat. Santri tidak hanya di didik, di bina atau dibekali ilmu agama saja melainkan juga harus meninggalkan maksiat. Santri harus mengendalikan segala nafsu nya.

Ra atau ridhollahu yang artinya ridho Allah. Santri tidak hanya menuntut ilmu agama Allah, tetapi juga harus selalu dalam jalur ridho Allah. Karena ia harus mengaplikasikan ilmu nya dengan perkataan dan perbuatan agar Allah meridhoinya.

Ya atau yaqinun yang artinya keyakinan. Keyakinan adalah keharusan bagi seorang santri karena ia berada dalam ilmu yang tidak diragukan baik keberkahan mau pun manfaatnya.

Jika seseorang mendengar kata “santri” pasti yang ada dipikiran seseorang itu adalah orang yang menuntut ilmu agama di pondok pesantren, baik modern atau salafi. Bukan tentang peci sarung dan kerudung. Akan tetapi, santri adalah orang yang menuntut ilmu agama Allah dengan mencari keberkahan guru dan kiyainya.

Santri pun menjadi elemen terpenting bagi bangsa kita. Karena nasib negeri ini ada di tangan santri. Santri harus menjadi seorang pemimpin, jangan sampai meja pemerintahan jatuh ke tangan-tangan yang tidak pantas menerimanya.” Man jadda wa jada” yang artinya barang siapa yang bersungguh-sungguh maka dapatlah ia. Santri harus belajar menjadi orang yang percaya diri, karena banyak orang yang gagal karena merasa tidak percaya diri.

Mengutip perkataan kiyai saya ketika di Pondok “jangan lihat santri di dalam, tapi lihatlah dia setelah berkiprah di luar!”. Memang benar apa yang dikatakan kiyai saya ini, banyak alumni pondok pesantren yang di pondok biasa-biasa saja, namun ketika ia lulus dari pondok dan berkiprah di masyarakat menjadi orang yang dikenal.

Jika ada yang berpikir kalau santri itu setelah lulus hanya menjadi penceramah ataupun seorang guru itu tidak salah dan juga benar, karena sudah banyak alumni pondok yang berprofesi sebagai dokter, bidan, tentara, polisi dan lainnya.

Adab lebih mulia dibandingkan ilmu yang kau miliki. Sebanyak apa pun ilmu yang kau miliki akan tetapi kamu tidak beradab ilmu mu tidak akan barokah, karena santri itu menuntut ilmu agama harapannya untuk mendapatkan barokahnya guru atau kiyai. Jadi, seorang santri tidak boleh sombong akan ilmu yang dia miliki, justru harus berbagi. Karena ilmu yang tidak diamalkan bagaikan pohon yang tak berbuah (mahfudzot).

Sebenarnya santri itu bukan hanya orang yang menuntut ilmu agama di pondok pesantren saja. Seseorang yang menuntut ilmu agama dan berakhak mulia juga bisa dikatakan santri. Santri pun tidak hanya belajar, mengaji Al-Qur’an, mengaji kitab kuning dan menghapal, akan tetapi santri pun bisa mengembangkan bakatnya. Terutama seni, karena santri dituntut untuk tidak menggunakan bahan yang beli di luar pondok atau barang yang mewah jadi santri harus kreatif memutar otak agar apa yang ingin dia kreasi kan sesuai dengan apa yang ia mau namun , tidak mengeluarkan banyak biaya.

Santri pun diajarkan untuk berbicara di depan khalayak banyak, karena santri ketika ia lulus dari pondok dibutuhkan oleh masyarakat, salah satu nya untuk berceramah. “Law laa murobbi maa aroftu robbi” kalau bukan karena guru ku aku tidak akan mengetahui siapa Tuhanku.

Maksudnya adalah memang kita mengenal Allah diajarkan orangtua kita, akan tetapi guru yang mendidik kita dengan kesabarannya mengenalkan kita lebih jauh lagi mengenai siapa Tuhan kita yaitu Allah. Bukan sekedar mengajar tapi juga mendidik, ya mendidik bukan mengajar karena, kalau mengajar itu hanya datang ke kelas lalu memberikan pelajaran selesai. Akan tetapi jika mendidik tidak hanya memberikan ilmu akan tetapi mendoakan santrinya agar ilmu yang didapat menjadi sebuah keberkahan dan manfaat bagi orang banyak. Santri, berkhidmat kepada umat.

** Khoirun Nisa [MG/UIK-Jb]

7000 Vaksin Covid-19 Dibuang di Jepang

0

Depok | Jurnal Inspirasi

Tim petugas medis melakukan kesalahan dalam penyimpanan vaksin Covid-19, dan  mengakibatkan vaksin tersebut rusak dan tidak bisa digunakan lagi, akhirnya kurang lebih 7000 vaksin terpaksa dibuang di Jepang.

Pembuangan ribuan vaksin tersebut membuat Jepang harus lebih  ekstra lagi memproduksi vaksin. Menjelang olimpiade Tokyo yang akan berlangsung pada Juli nanti, jepang berusaha membuat vaksin untuk menambah jumlah warganya yang sudah tervaksin.

Hal ini bukanlah kasus yang pertama bagi Jepang, sebelumya Jepang pernah membuang ratusan vaksin karena jarum suntik yang digunakan tidak dapat menarik dosis dari botol vaksin.

Dari sekitar 126,3 penduduk Jepang, baru sekitar 9% warga yang sudah menerima vaksin. Pertumbuhan Covid-19% di Jepang tergolong naik turun. Sempat menyentuh angka tertinggi pada Mei lalu, namun sudah mulai turun kembali, dan terakhir ada 2.603 kasus pada akhir pekan kemarin.

** Salsabila Thifa [MG/UIK-Jb]

Duh, PDJT Merugi Rp2 M

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

Panitia Khusus (Pansus) Perubahan Nama Perusahaan Daerah Jasa Transportasi (PDJT) menyebut bahwa perusahaan pelat merah itu merugi kurang lebih sebesar Rp2 miliar. Hal itu terkuak berdasarkan hasil laporan dari Kantor Akuntan Publik (KAP).

Kendati demikian, Ketua Pansus Shendy Pratama mengatakan bahwa hal tersebut bukan menjadi kendala dalam pembahasan pansus. Sebab, saat ini pansusnya hanya membahas perubahan nama dari PDJT menjadi Perumda Trans Pakuan.

“Memang kita kembali lago kepada tupoksi kita di pansus bahwa perumda PDJT berubah nama sesuai amanat undang-undang 23 tahun 2014. Kita rubah dari BUMD menjadi perumda dengan ada pengembangan daripada beberapa bidang usaha yang ada di jasa transportasi ini,” ujar Shendy, Senin (7/6).

Dengan sudah diterimanya laporan KAP dan disetujuinya perubahan nama, Shendy mengungkapkan pihaknya akan melanjutkan pembahasan dengan membahas isi dari Raperda berdasarkan pasal per pasal pada pekan depan.

“Langkah selanjutnya, kita akan mulai di minggu depan bahas pasal per pasal karena kurang lebih ada 101 pasal dalam Raperda. Ada yang sifatnya pasal atau dari raperda sebelumnya, ada pula perubahan dari aturan diatasnya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Shendy pun berharap segala permasalahan PDJT mulai dari hutang karyawan hingga persoalan piutang lainnya dapay diselesaikan dengan perubahan nama ini.

“Harapannya dan disampaikan dalam business plan yang dikomandoi oleh bu Sekda sebagai ketua tim restrukturisasi PDJT ini bahwa tidak akan menggunakan PMP untuk menyelesaikan masalah ini.Jadi dengan adanya terobosan dari perumda ini mudah-mudahan bisa mendanai dan membayar hutang lama,” jelasnya.

Sebelumnya, Pejabat Sementara (PJS) Dewan Pengawas PDJT, Agus Suprapto mengatakan bahwa perubahan status PDJT lantaran adanya amanat Undang Undang 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 54 Tahun 2017 tentang BUMD.

“Jadi perubahan status PDJT bukan dalam rangka meminta PMP. Perda perubahan status ini hanya untuk penyelenggaraan perusahaan dan menunjukan jenis usaha,” ujar Agus.

Menurut dia, mengenai modal bagi PDJT sendiri, perdanya berbeda atau tidak disatukan dalam perda perubahan status. “Untuk PMP kajian investasinya sedang dibuat. Jadi nggak ada kaitannya dengan raperda perumda,” kata Agus.

Agus menjelaskan, mengenai PMP yang dipertanyakan dewan semuanya sudah selesai. “PMP sudah nol. Bahkan, di awal 2011-2015 barang (aset) kita berkurang. Di perda pertama kami dapat 30 bus dan satu truk derek. Sedangkan di perda kedua, lahan kami ditiadakan. Terakhir PMP yang Rp5 miliar itupun selesai. Makanya kami sampaikan ke dewan mengenai tahapan restrukturisasi,” tuturnya.

Lebih lanjut, Agus menjelaskan, restrukturisasi dilakukan untuk menyelamatkan PDJT, yang akan mencakup manajemen organisasi, modal dan aset. Pihaknya juga akan menelaah aset mana saja yang bisa dimaksimalkan dan yang tidak. Atas dasar itu, ada rencana untuk menghapus potensi aset yang tak bernilai.

Kemudian, ada restrukturisasi portofolio bisnis yang nantinya PDJT takkan sebatas mengelola Trans Pakuan saja, melainkan juga bengkel, advertising, wisata, SPBU, parkir dan lain-lain. “Tidak selamanya dalam menjalankan PDJT harus memakai PMP. Tapi bisa dengan cara memanfaatkan aset yang ada,” ucapnya.

Misalnya, sambung Agus, bila PDJT membangun bengkel bisa menggandeng pihak ketiga dengan cara sharing profit. “Tetapi kalau semua keuntungan mau diambil, otomatis mesti ada gelontoran dana dari pemerintah. Selain itu ada juga potensi memanfaatkan bantuan dari kementerian serta kerjasama,” katanya.

** Fredy Kristianto

Balai Perkeretaapian Sebut Insiden Crane Masih Diteliti Konsultan Pelaksana

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

Sebuah alat berat crane ambruk di lokasi pembangunan double track Batu tulis, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor terguling pada Minggu (6/6). Beruntung tidak ada korban jiwa dari peristiwa tersebut.

Kepada wartawan, Kepala Balai Besar Perkeretaapian Wilayah Jawa Bagian Barat, Erni Basri mengatakan bahwa peristiwa tergulingnya alat berat tersebut terjadi saat pengerjaan pengangkatan rangka atau gelagar jembatan eksisting.

Ketika pengerjaan, kata dia, cuaca sedang dalam kondisi hujan gerimis. “Untuk penyebab kejadian saat ini masih dalam penelitian konsultan pelaksana,” ujar Erni dalam keterangan tertulisnya, Senin (7/6).

Menurut dia, sebagai upaya penanganan, lokasi pekerjaan telah diamankan dan dilakukan sterilisasi. Termasuk pemasangan safety line dan pengamanan crane dengan ditutup terpal.

Erni mengatakan, pihaknya akan mendatangkan matrial sirtu untuk perkuatan jalan akses dan pembuatan platform atau landasan kerja untuk evakuasi crane.

** Fredy Kristianto

Kadiskominfo Kota Bogor Terpilih Aklamasi Jadi Ketua IKAPTK

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Bogor, Rahmat Hidayat terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Ikatan Alumni Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan (IKAPTK) ‘Kota Hujan’ periode 2021-2026 dalam konfrensi daerah di Hotel Padjajaran Suites BNR, Senin (7/6).

Rahmat yang merupakan alumni STPDN tahun 1995 menggantikan Asisten Daerah Bidang Perekonomian Kota Bogor, Dody Achdiat.

Dalam kesempatan itu, Rahmat mengatakan bahwa menjadi Ketua IKAPTK merupakan amanah yang cukup berat. Atas dasar itu, ia berjanji akan berupaya maksimal untuk membesarkan dan membuat organisasi yang memiliki 87 anggota itu, agar semakin bermanfaat bagi alumni dan masyarakat.

“Dalam waktu dekat, kamj akan menyusun pengurus dan mengajukan surat ke pengurus Jawa Barat,” ujar Rahmat kepada wartawan, Senin (7/6).

Selain itu, ia pun akan menggencarkan konsolidasi internal agar IKAPTK semakin kompak dan solid. “Ada beberapa program yang akan digaungkan seperri modernisasi organisasi, bantuan hukum, publikasi dan sosialisasi, litbang serta ekonomi dan kesejahteraan anggota,” ucap Rahmat.

Sedangkan program untuk masyarakat, sambung Rahmat, IKAPTK berencana membuat program bantuan hukum bagi warga miskin serta penyaluran bantuan sosial bagi mereka yang membutuhkan, khususnya warga terdampak pandemi Covid-19.

** Fredy Kristianto

Surabi Rasa: Legenda Kuliner, Rasa Milenial

0

Cibinong | Jurnal Inspirasi

Dari sekian banyak makanan yang sudah melegenda, akhirnya surabi hadir dan menyapa lidah masyarakat. Dari segi jenisnya pun surabi terbagi menjadi dua, yaitu ada surabi khas Jawa dan ada surabi khas Bandung.

Untuk saat ini, kita hampir sering menjumpai surabi Bandung, salah satunya adalah Surabi Rasa Delicious di Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor. “Disini kita menawarkan dua kategori rasa, ada yang manis dan ada yang asin. Macem-macem lah pokoknya,” ujar owner Surabi Rasa, Iwan Dirwan kepada Jurnal Bogor, Senin (07/6).

Iwan menerangkan, hal yang berbeda antara surabi khas Sunda dengan surabi khas Jawa terletak pada varian originalnya. Jika varian original pada surabi khas Jawa yaitu, surabi polos dengan tambahan gula merah, atau yang biasa disebut dengan surabi Kinca. Sedangkan surabi khas Sunda, varian originalnya benar-benar polos tanpa ada tambahan apapun.

“Dari kategori asin, yang paling dimininati itu rasa oncom. Karena di varian oncom ini, kan ada campuran rasa asin terus digabungkan dengan abon, sosis, telur dan ditambah saus itu jadi lebih nyampur dan cocok juga. Dan untuk kategori manis itu ada durian keju, soalnya kita pakai durian asli, dagingnya durianlah sebutannya,” ujarnya.

Harga yang ditawarkan oleh Surabi Rasa ini terbilang murah, dimulai dari kisaran Rp5.000, sampai Rp13.000 untuk varian yang paling mahal. Untuk kalangan pembeli pun, datang dari semua kalangan dan berbagai usia.

“Yang menarik dari Surabi Rasa ini sih, kan surabi ini makanan orang dulu ya, jadi bisa dibilang ini adalah makanan yang langka. Tapi dengan berkembangnya zaman, kita meghadirkan topping rasa kekinian. Jadi, biar ga keliatan makanan dulu banget,” tutupnya.

** Azizah [MG/UIK-Jb]

Hujan Deras Disertai Angin Kencang, 1 Rumah di Kalong Tonggoh Ambruk

0

Leuwisadeng l Jurnal Inspirasi

Satu rumah di Kampung Kalong Tonggoh RT 02 RW 05, Desa Kalong Dua, Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor ambruk diterpa hujan deras yang disertai angin kencang. Rumah yang ambruk berukuran 8×6 meter persegi itu, dihuni oleh Nenek Tasih bersusia 107 tahun bersama seorang cucunya Irfan (24).

Ketua RT setempat Emad mengatakan, kejadian rumah ambruk terjadi pada Senin (7/6), pukul 04: 00 WIB dini hari. Awal mula kejadian pada pukul 03: 30 WIB, namun waktu itu yang ambruk pada bagian dapur. Tak lama kemudian, bagian rumah kembali ambruk. “Kondisi parah,” kata Emad kepada Jurnal Bogor, Senin (7/6).

Ia menyebutkan, saat kejadian sejumlah warga sedang melakukan ronda malam, tiba -tiba rumah dengan keadaan sudah lapuk itu ambruk. “Usia rumah memang sekitar 30 tahunan maka rentan terjadi ambruk,” jelas Emad.

Pada waktu kejadian, kata dia,  keadaan rumah dalam keadaan kosong karena penghuni rumah Nenek Tasih  bersama cucunya, mengamankan diri ketempat yang lebih aman. Masyarakat bersama Pemerintah Desa, BPBD, Babinsa berinisiatif melakukan gotong royong untuk melakukan sisa material. Tak lama kemuadin pihak kecamatan datang ke lokasi untuk melakukan asesmen.

Sementara Kepala Desa Kalong Dua, Ulul Azmi saat ditemui di lokasi kejadian, tampak tanggap bahkan pihaknya  berjanji akan segera membangun rumah yang ambruk akibat bencana alam itu. “Karena kondusinya urgen, secepatnya rumah yang ambruk itu segera akan kita bangun,” pungkasnya.

** Arip Ekon