Cegah Bank Emok, Desa Kalongliud Arahkan Warga ke Kopsyah BMI

0
Senoaji Purwanto

Nanggung | Jurnal Bogor

Maraknya keberadaan bank emok dan bank keliling di wilayah pedesaan yang menyasar kaum ibu-ibu itu menjadi konflik internal di masyarakat. Untuk mencegah praktik rentenir itu Pemerintah Desa Kalongliud, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, selain memberikan pemahaman dan edukasi agar masyarakat tidak bergantung pada bank keliling, pihaknya juga memberikan solusi lain yang juga melibatkan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) dan menggandeng Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) yang berkantor di wilayah desanya.

Kepala Desa Kalongliud Jani Nurjaman mengatakan, memang banyak yang mengeluhkan keberadaan bank emok yang fenomenal itu, terutama nasabah peminjam bank emok itu warga desa.

“Memang bank keliling maupun bank emok ini di tiap-tiap wilayah itu pasti ada, terutama di Desa Kalongliud, agar warga kami tidak bergantung pada bank keliling, maka kita turun langsung memberikan pemahaman dan edukasi,” ungkapnya, Kamis (19/5).

Jadi kata dia, nasabah dari bank emok ini diarahkan untuk ke koperasi yang terjamin dan lebih aman. Salah satunya Kopsyah BMI. Sebab, banyak sekali motivasi dan edukasinya untuk meningkatkan ekonomi masyarakat melalui koperasi tersebut.

“Berdasarkan hasil analisa kami dan sosial yang dilakukan oleh Kopsyah BMI itu sangat baik, diantaranya ada beberapa Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dilakukan pembangunan oleh koperasi ini  dan santunan kepada anak yatim piatu dan jompo itu difasilitasi oleh koperasi ini,” kata Jani.

Sementara Itu, Manajer Kopsyah BMI Cabang Nanggung Senoaji Purwanto menjelaskan, kehadiran pihaknya di wilayah Kecamatan Nanggung masih dalam perluasan wilayah pelayanan.

“Tentu kita membantu masyarakat tidak hanya dari segi ekonomi tapi dari segi pendidikan, kesehatan dan sosial untuk meningkatkan religius masyarakat. Syariah ini tidak riba,” jelasnya.

Seno mengatakan, formulanya berada di model BMI Syariah yang diusung BMI dalam setiap operasionalnya. BMI berusaha mempraktikan bagaimana masyarakat tidak hanya mengakses simpan pinjam dan pembiayaan, namun juga pemberdayaan dan kegiatan sosial.

”Kopsyah BMI mengelola usaha berdasarkan prinsip ekonomi Islam. Lewat model BMI Syariah, kami hadir dengan lima instrumen pemberdayaan,” pungkasnya.

** Andres

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here