Banjir Terjang Ponpes Arriyadul Mutafakirin

0

>> Pemdes Parakanmuncang Bakal Lakukan Pengerukan Kali Cimuleuit

Nanggung l Jurnal Inspirasi
Hujan deras dari pukul 21 hingga pukul 02 WIB dini hari, mengakibatkan bangunan pondok pesantren Arriyadul Mutafaqirin yang berlokasi di Kampung Lukut, Desa Parakanmuncang, Kecamatan Nanggung terendam banjir setinggi lutut orang dewasa.

Pengasuh pondok pesantren Ariiyadul Mutafaqirin  H. Jajang mengaku kaget ketika banjir melanda disaat ia dan sejumlah santri sedang tertidur pulas. “Banjir terjadi disebabkan hujan yang begitu deras selama 5 jam,” kata Jajang kepada Jurnal Bogor, Kamis (11/6).

Menurut Jajang, kejadian tersebut dari pukul  10 malam dan Sungai Cimuleuit meluap menggenangi areal pondok pesantren.” Musibah banjir disebabkan aliran kali dari Cimuleuit dan hampir seluruh bagian wilayah pondok pesantren tergenang sedalaman 30 centimeter,” ujarnya.

Ia menerangkan,  luapan kali Cimuleuit seringkali terjadi namun tidak  separah  seperti sekarang ini. Biasanya air hanya melintas dan cepat surut. Namun kali ini, air menggenang cukup lama hingga masuk ke rumah warga dan asrama di pondok pesantren,” terangnya.

Paling parah, kata dia, genangan air terjadi di rumah  guru yang ada di bagian pesantren. Di lokasi kali sangat berdekatan dengan bangunan pondok pesantren dan pemukiman warga.” Tolonglah diperhatikan baik Itu dari pemerintah desa maupun pihak lainnya karena kejadian ini bukan satu atau duakali, setiap hujan pesantren ini pasti tergenang air,” paparnya

Sementara, Kepala Desa Parakanmuncang Mauludin, menyebutkan bahwa banjir tersebut yang menggenangi pondok pesantren dan rumah warga dari kali Cihoream dan kali kecil Cimuleuit dari hulu hingga hilir kali Cihoream dengan Cimuleuit  menyatu akhirnya meluap sehingga terjadi banjir,” jelasnya.

Menurut Mauludin, kalau dibiarkan musibah banjir kemungkinan bisa kembali terjadi dan mengganggu kenyamanan warga. “Kalau kali itu dilebarkan yang terkena dampak bangunan rumah-rumah didekat bantaran kali itu,” kata Kades.

Memang bangunan sodetan waktu itu pernah ada tetapi populasi bangunan rumah bertambah sehingga berdampak penyempitan sehingga ketika hujan meluap dan mengakibatkan banjir.” Solusinya adalah 500 meter kali tersebut harus dilakukan pengerukan yang nantinya bakal masuk di program padat karya,” pungkas dia.

** Arip Ekon

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here