28.4 C
Bogor
Wednesday, September 30, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 95

Sekolah Swasta Siap Menyukseskan SPMB 2026 Kota Bogor

0

Kota Bogor | Jurnal Bogor – Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) setiap tahun selalu menghadirkan dinamika tersendiri. Di berbagai daerah, momen ini kerap menjadi titik krusial, bahkan tak jarang memunculkan kegelisahan di tengah masyarakat. Antrean panjang, kekhawatiran orang tua, hingga perdebatan soal daya tampung dan zonasi/domisili menjadi cerita yang berulang. Namun di tengah dinamika tersebut, secercah optimisme muncul dari Kota Bogor.

Pada 25 Februari 2025, suasana Aula Dinas Pendidikan Kota Bogor tampak berbeda. Pengurus Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Kota Bogor menggelar sosialisasi regulasi SPMB Tahun 2026. Kegiatan ini bukan sekadar forum formal, melainkan ruang dialog yang hangat dan konstruktif antara pengelola sekolah swasta, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan pendidikan lainnya. Puluhan pengurus yayasan serta kepala sekolah swasta dari jenjang SD, SMP, SMA, hingga SMK hadir dengan semangat yang sama: ingin menjadi bagian dari solusi.

BMPS Kota Bogor menyadari bahwa pendidikan yang bermutu tidak bisa dibangun secara parsial. Diperlukan kemitraan yang kuat dan sinergis. Karena itu, dalam kegiatan tersebut BMPS menghadirkan narasumber dari Dinas Pendidikan Kota Bogor serta Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Barat. Kehadiran unsur pemerintah dan badan penjamin mutu pendidikan menunjukkan bahwa pelibatan sekolah swasta dalam SPMB bukan sekadar wacana, melainkan komitmen nyata.

Dalam paparannya, Dr. Ahmad Furqon, Kabid SMP Dinas Pendidikan Kota Bogor menegaskan bahwa pelaksanaan SPMB 2026 akan mengacu pada regulasi yang berlaku, termasuk dalam hal daya tampung dan pelibatan sekolah swasta. Lebih dari itu, Pemerintah Kota Bogor menyiapkan sekitar 2.000 beasiswa bagi murid yang bersekolah di SMP/MTs swasta dengan nilai bantuan sebesar Rp3.000.000 per tahun. Kebijakan ini menjadi angin segar bagi sekolah swasta sekaligus memberikan pesan kuat kepada masyarakat bahwa sekolah swasta adalah mitra strategis pemerintah. Narasumber dari BPMP Provinsi Jawa Barat, Nurbani menyampaikan terkait analisis daya tampung, sedangkan Idris Apandi menyampaikan pelibatan sekolah swasta pada SPMB.

Tak hanya soal bantuan finansial, Dinas Pendidikan juga telah menetapkan kriteria sekolah swasta yang dapat menjadi mitra dalam SPMB, misalnya memiliki akreditasi A atau B. Kebijakan ini memperlihatkan upaya menjaga mutu sekaligus membangun kepercayaan publik. Pemerintah Kota Bogor tampak ingin memastikan bahwa tidak ada anak yang tercecer dari layanan pendidikan hanya karena persoalan pilihan sekolah.

Namun di balik berbagai kebijakan progresif tersebut, tantangan kultural masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih memiliki pola pikir “negeri minded”. Sekolah negeri dianggap lebih bergengsi, sekaligus lebih terjangkau karena tidak memungut biaya. Paradigma “sekolah favorit” dan “nonfavorit” pun masih melekat kuat.

Akibatnya, sekolah negeri tertentu mengalami lonjakan pendaftar, sementara sekolah lain, termasuk sebagian sekolah swasta harus berjuang keras menarik minat calon murid. Padahal, pemerintah kini mengusung semangat “pendidikan bermutu untuk semua”. Artinya, setiap anak berhak memperoleh layanan pendidikan berkualitas di mana pun ia belajar. Label negeri atau swasta semestinya tidak lagi menjadi simbol disparitas mutu.

Di sisi lain, realitas sekolah swasta sendiri memang beragam. Ada sekolah swasta yang sudah mapan sering disebut sebagai sekolah “elit” yang bahkan jauh hari telah penuh pendaftar. Orang tua tidak ragu langsung mendaftarkan anaknya tanpa menunggu pengumuman SPMB di sekolah negeri. Sekolah-sekolah ini relatif stabil dan memiliki daya tarik kuat di mata masyarakat.

Namun ada pula sekolah swasta yang lebih kecil kerap disebut sekolah “alit” yang harus berjuang keras setiap tahun ajaran baru. Mereka menanti limpahan pendaftar dari sekolah negeri, berharap masih ada murid yang mempercayakan pendidikannya kepada mereka. Dalam beberapa kasus, jumlah murid yang minim berdampak serius: guru honorer terpaksa dirumahkan, bahkan sekolah harus tutup karena tidak mampu bertahan.

Kondisi ini sempat semakin berat ketika pada tahun 2025 sejumlah pemerintah daerah memberikan diskresi penambahan jumlah murid di sekolah negeri. Kebijakan tersebut, meski dimaksudkan untuk menampung lebih banyak peserta didik, secara tidak langsung membuat banyak sekolah swasta kekurangan murid. Inilah realitas yang tidak bisa diabaikan.

Namun, alih-alih memandang sekolah negeri sebagai kompetitor, sekolah swasta di Kota Bogor memilih perspektif yang lebih konstruktif. Mereka menegaskan bahwa sekolah swasta adalah mitra pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Bahkan secara historis, jauh sebelum Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, sekolah-sekolah swasta seperti Taman Siswa, Muhammadiyah, atau NU, atau yang lainnya telah lebih dahulu hadir dan berkontribusi membangun tradisi pendidikan di tanah air.

Spirit kemitraan inilah yang menguat dalam forum sosialisasi tersebut. Para pengelola sekolah swasta menyambut baik pelibatan mereka dalam SPMB 2026. Mereka merasa diakui sebagai bagian dari ekosistem pendidikan. Lebih dari sekadar pelengkap, sekolah swasta ingin diposisikan sebagai mitra sejajar yang memiliki tanggung jawab dan peran strategis.

Optimisme itu terasa nyata. Ada keyakinan bahwa melalui kolaborasi yang transparan dan berintegritas, SPMB 2026 di Kota Bogor dapat berjalan lebih adil dan manusiawi. Analisis daya tampung dilakukan secara cermat. Mekanisme pelaksanaan dirancang dengan mempertimbangkan semua pemangku kepentingan. Dan yang terpenting, orientasinya tetap pada kepentingan terbaik bagi anak.

Di tengah perubahan kebijakan dan dinamika sosial, satu hal yang perlu terus digaungkan adalah kepercayaan. Kepercayaan bahwa setiap sekolah, baik negeri maupun swasta memiliki komitmen memberikan layanan terbaik. Kepercayaan bahwa pemerintah hadir bukan untuk membeda-bedakan, tetapi untuk memastikan akses dan mutu pendidikan merata. Dan kepercayaan bahwa kolaborasi lebih kuat daripada kompetisi.

SPMB 2026 di Kota Bogor bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah momentum membangun paradigma baru: pendidikan sebagai tanggung jawab bersama. Ketika sekolah swasta dilibatkan secara bermakna, ketika pemerintah membuka ruang dialog dan dukungan konkret, serta ketika masyarakat mulai melihat mutu tanpa sekat label, maka cita-cita “pendidikan bermutu untuk semua” bukan lagi sekadar slogan.

Sekolah swasta Kota Bogor telah menyatakan kesiapan. Kini, dengan semangat kemitraan dan optimisme kolektif, SPMB 2026 diharapkan menjadi langkah maju menuju sistem penerimaan murid baru yang berintegritas, berkeadilan, dan benar-benar berpihak pada masa depan anak-anak bangsa.

Oleh Idris Apandi, Widyaprada BBPMP Jawa Barat

Kota Bogor Sabet Predikat Kota Menuju Bersih

0

Kota Bogor kembali menorehkan prestasi. Kali ini, berhasil menyabet predikat Kota Menuju Bersih dari Kementrian Lingkungan Hidup (KLH). Wilayah ini menjadi salah satu dari 12 kota se-Indonesia yang meraih predikat serupa.

Penghargaan predikat Kota Menuju Bersih diterima langsung Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim saat mengikuti Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengelolaan Sampah 2026 yang digelar Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Rabu (25/2/2026).

Rakornas ini bertujuan untuk mendorong akselerasi percepatan penyelesaian sampah secara masif dari hulu ke hilir. Mengusung tema ‘Kolaborasi untuk Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik dan Indah)’, kegiatan ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto dalam penanganan darurat sampah di Indonesia sekaligus untuk memperingati Hari Peduli Sampah Nasional 2026.

Selain itu, dalam rakornas ini juga penyerahan penghargaan kinerja pengelolaan sampah kepada Kabupaten/Kota. Dalam momentum ini, Kota Bogor berhasil meraih Predikat Kota Menuju Bersih dari Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq.

Dedie Rachim menuturkan bahwa Kota Bogor masuk kategori Kota Menuju Bersih bersama 12 Kota dan 22 Kabupaten se-Indonesia. Perubahan kategori pada Kota/Kabupaten Bersih atau Kotor Tahun 2026 disiapkan dalam rangka persiapan penilaian sejenis Adipura pada tahun berikutnya.

“Namun demikian, penilaian ini hampir setara dengan Piala Adipura yang sudah kita kenal sebelumnya. Hanya Kota Bogor bersama 12 Kota lain yang menerima penghargaan dari 98 Kota se-Indonesia,” ucap Dedie Rachim.

Dalam sambutannya, Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, mengatakan bahwa 34 persen Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di Indonesia yang telah meninggalkan praktik open dumping. Sementara itu, 66 persen TPA lainnya masih perlu bertransformasi menuju sistem pengelolaan yang lebih ramah lingkungan, yaitu controlled landfill bahkan sanitary landfill.

Transformasi menuju controlled landfill dan sanitary landfill dinilai sebagai langkah strategis dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan. Selain mengurangi pencemaran tanah, air, dan udara, sistem ini juga memungkinkan pengendalian lindi serta gas metana secara lebih aman dan terukur.

Sambut dan Doa Bersama

Usai menerima penghargaan, Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, bersama Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor, Denny Mulyadi, dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor, Denni Wismanto disambut oleh pasukan kuning dan jajaran perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor.

Dalam kesempatan tersebut mereka yang hadir melaksanakan doa bersama secara khidmat atas hasil penilaian kinerja pengelolaan sampah tahun 2025. Doa bersama ini dipimpin oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bogor, Dede Supriatna.

Dedie Rachim mengatakan bahwa hasil penilaian ini merupakan pekerjaan yang tidak mudah dan memerlukan perjuangan serta komitmen.

“Alhamdulillah, Kota Bogor masih dianugerahi sebuah penghargaan dalam bentuk predikat Bogor Menuju Kota Bersih. Ini adalah langkah yang telah diambil dengan penuh keringat, darah, dan air mata, dan Alhamdulillah sekarang bisa berhasil,” ujarnya di Plaza Balai Kota Bogor.

Dedie Rachim menyampaikan bahwa capaian ini bukanlah akhir dari pekerjaan, melainkan langkah awal menuju waste to energy melalui pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL).

Melalui PSEL ini, Kota Bogor tidak hanya melakukan penanganan di hilir melalui pengolahan sampah dari rumah tangga, perkantoran, horeka, industri, dan sektor lain yang menghasilkan timbulan sampah, tetapi juga melakukan penyiapan di hulu untuk membuang sisa hasil pemilahan yang akan dikelola melalui PSEL.

“Ini adalah pekerjaan rumah besar ke depan. Meski pekerjaan ini tidak mudah, saya sangat yakin seluruh warga Kota Bogor mendukung. Warga Kota Bogor ingin kotanya bersih. Oleh karena itu, mari kita bantu ke depan agar terus meraih penghargaan seperti ini. Kita mulai pemilahan dari rumah, kemudian kita bantu dengan TPS3R dan bank sampah,” ucapnya.

Ia menambahkan bahwa seluruh rangkaian proses pengelolaan sampah di Kota Bogor telah melalui proses panjang dan sejalan dengan arah kebijakan Pemkot Bogor dalam penanganan sampah.

Cleansheet Indonesia Raih Penghargaan Inovasi Dampak Sosial Terbaik 2026

0

Kota Bogor | Jurnal Bogor — Gerakan kebersihan berbasis partisipasi masyarakat yang digagas Cleansheet Indonesia (PT Cita Indonesia Bersih) meraih pengakuan nasional dalam ajang Indonesia Top Achievements of the Year 2026. Pada acara yang digelar di Grand Studio Metro TV, Selasa (25/2/2026), Cleansheet dianugerahi penghargaan “Excellence in Social Impact Innovation 2026”.

Penghargaan tersebut diterima langsung oleh Dihqon Nadaamist, Founder & CEO Cleansheet Indonesia, di hadapan para pemimpin perusahaan, tokoh nasional, serta perwakilan lembaga dan komunitas dari berbagai sektor.

Dewan juri menilai Cleansheet Indonesia berhasil membangun gerakan sosial yang konsisten dan berkelanjutan melalui pendekatan partisipatif, dengan melibatkan masyarakat secara langsung dalam aksi kebersihan dan pemberdayaan.

Berbeda dengan pendekatan jasa kebersihan konvensional, Cleansheet mengintegrasikan standar profesional dengan gerakan sosial berbasis komunitas, sehingga kebersihan menjadi pintu masuk bagi perubahan sosial yang lebih luas.

Cleansheet dinilai mampu menciptakan perubahan sosial melalui program kebersihan yang melibatkan masyarakat, relawan, serta kolaborasi lintas komunitas secara rutin dan terstruktur.

Adapun beberapa poin utama yang menjadi pertimbangan dewan juri, antara lain:

Konsistensi pelaksanaan program kebersihan berbasis partisipasi masyarakat.

Model pemberdayaan tenaga kerja mikro yang inklusif dan berkelanjutan.

Kolaborasi aktif dengan institusi pendidikan dan komunitas lokal.

Dampak sosial yang terukur, khususnya dalam peningkatan kesadaran kebersihan dan penciptaan lapangan kerja.

Pendekatan tersebut dinilai sebagai bentuk inovasi sosial yang konkret, karena tidak hanya menghasilkan lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga memperkuat ekosistem sosial dan ekonomi masyarakat.

Dalam sambutannya, Dihqon Nadaamist menyampaikan bahwa penghargaan ini bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.

“Cleansheet lahir dari keyakinan bahwa kebersihan adalah sebuah gerakan, bukan sekadar layanan. Berawal dari pengalaman pribadi membersihkan rumah dosen untuk memperoleh penghasilan tambahan, sekaligus membantu teman-teman yang membutuhkan, Cleansheet akan terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak guna membuka lebih banyak lapangan kerja serta menjaga keberlanjutan pendidikan bagi para rangers Cleansheet. Penghargaan ini kami dedikasikan untuk seluruh tim, relawan, dan mitra yang selama ini bergerak bersama kami,” ujarnya, Kamis (26/2/2026).

Penghargaan “Excellence in Social Impact Innovation 2026” dalam ajang Indonesia Top Achievements of the Year 2026 menjadi momentum strategis bagi Cleansheet untuk memperluas ekspansi nasional, sekaligus memperkuat komitmen sebagai operator kebersihan institusi pendidikan berbasis dampak sosial terdepan di Indonesia.

Ke depan, Cleansheet Indonesia berkomitmen untuk memperluas jangkauan gerakan kebersihan berbasis partisipasi masyarakat ke lebih banyak institusi pendidikan dan wilayah di Indonesia, dengan tetap menjaga standar profesional serta keberlanjutan dampak sosial. Yudi

Ketua DPRD Sastra Winara Tinjau Pasar Petani Garuda

0

Cibinong | Jurnal Bogor
Ketua DPRD Kabupaten Bogor, Sastra Winara, mengapresiasi peran Pasar Petani Garuda di Jalan Tegar Beriman, Cibinong, dalam mendukung ketahanan pangan daerah. Hal itu disampaikannya saat meninjau langsung aktivitas pemasaran hasil pertanian lokal di pasar tersebut, Kamis (26/2/2026).

Sastra menilai Pasar Petani Garuda menjadi salah satu sarana strategis dalam memperkuat akses petani terhadap konsumen. Melalui mekanisme penjualan langsung, petani dinilai dapat memperoleh nilai jual yang lebih baik sekaligus menjaga ketersediaan pangan bagi masyarakat.

“Pasar ini mempertemukan petani dan konsumen secara langsung. Selain menguntungkan petani, keberadaannya juga berkontribusi terhadap ketahanan pangan daerah,” kata Sastra.

Dalam peninjauan tersebut, Sastra berdialog dengan sejumlah petani yang memasarkan hasil panen mereka. Ia menyebut, pemangkasan rantai distribusi melalui pasar khusus petani dapat membantu menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan di tingkat lokal.

Sastra juga mengapresiasi inisiatif Pemerintah Kabupaten Bogor yang menyediakan fasilitas pasar bagi petani lokal. Menurutnya, dukungan infrastruktur dan kebijakan yang berpihak pada petani perlu terus diperkuat agar peran sektor pertanian dalam menjaga ketahanan pangan dapat berjalan optimal.

Pasar Petani Garuda dirancang sebagai ruang pemasaran produk pertanian lokal sekaligus mendorong masyarakat untuk mengonsumsi hasil bumi dari petani daerah. Dalam kesempatan itu, Sastra turut menyerap aspirasi petani terkait kebutuhan infrastruktur dan pengembangan sektor pertanian ke depan. (*)

RSUD R. Moh. Noh Nur Ramah Terhadap Penyandang Disabilitas

0

Leuwiliang | Jurnal Bogor
RSUD R. Moh. Noh Nur Leuwiliang, Kabupaten Bogor terus menunjukkan perhatian terhadap pelayanan kesehatan yang lebih ramah bagi penyandang disabilitas. Hal tersebut mengemuka dalam pertemuan silaturahmi bersama pengurus Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kabupaten Bogor pada Selasa (24/2/2026).

Salah satu contoh pelayanan yang dirasakan langsung oleh penyandang disabilitas adalah seorang atlet anggar berinisial A (21) asal Kecamatan Jasinga. A merupakan atlet disabilitas yang pernah menjalani tindakan amputasi di RSUD R. Moh. Noh Nur Leuwiliang dan hingga saat ini masih rutin menjalani terapi di rumah sakit tersebut setiap minggunya.

Melalui pelayanan yang berkelanjutan, A dapat terus menjalani proses pemulihan sekaligus mempertahankan aktivitasnya sebagai atlet. Pendampingan terapi yang dilakukan secara rutin menjadi bagian penting dalam mendukung kondisi kesehatan pasien agar tetap stabil dan produktif.

Selain itu, dalam pertemuan tersebut juga disampaikan pengalaman pelayanan terhadap atlet disabilitas lainnya berinisial K (25) asal Kecamatan Cigudeg. RSUD R. Moh. Noh Nur Leuwiliang sempat memberikan pelayanan mulai dari penjemputan ambulans hingga penanganan awal sebelum pasien dirujuk ke rumah sakit lanjutan sesuai kebutuhan medis.

Ketua DPC Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kabupaten Bogor, Erfandi, menyampaikan bahwa berbagai pengalaman pelayanan tersebut memberikan gambaran bahwa penyandang disabilitas dapat memperoleh pelayanan kesehatan yang baik di RSUD R. Moh. Noh Nur Leuwiliang.

“Kami melihat bagaimana pelayanan diberikan kepada teman-teman disabilitas dengan perhatian yang baik. Hal seperti ini membuat teman-teman disabilitas merasa lebih percaya diri untuk mendapatkan pelayanan kesehatan,” ujar Erfandi.

Direktur RSUD R. Moh. Noh Nur Leuwiliang dr. Vitrie Winastri, S.H., MARS menyampaikan bahwa rumah sakit terus berupaya menghadirkan pelayanan yang semakin memperhatikan kebutuhan penyandang disabilitas.

“Rumah sakit terus berupaya menghadirkan pelayanan yang lebih ramah bagi penyandang disabilitas. Kami juga terus memperkuat kolaborasi dengan PPDI agar pelayanan yang diberikan semakin sesuai dengan kebutuhan teman-teman disabilitas,” ujar dr. Vitrie.

Selama ini RSUD R. Moh. Noh Nur Leuwiliang telah beberapa kali berkolaborasi dengan Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kabupaten Bogor dalam berbagai kegiatan pelayanan kesehatan bagi penyandang disabilitas. Pertemuan ini menjadi langkah untuk memperkuat peran bersama dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih inklusif.

Melalui pelayanan yang berkesinambungan serta kolaborasi dengan komunitas disabilitas, RSUD R. Moh. Noh Nur Leuwiliang terus berupaya menghadirkan pelayanan kesehatan yang dapat diakses dengan lebih mudah dan nyaman oleh penyandang disabilitas.

** Yev/cc

Reses di Ciriung, Dede Chandra Sasmita Salurkan Bantuan PJU, Handy Talky dan Beras

0

Cibinong | Jurnal Bogor
Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi Demokrat, H. Dede Chandra Sasmita, melaksanakan kegiatan Reses II Masa Sidang 2025–2026 di Kp. Ciriung RT 001 RW 002, Kelurahan Ciriung, Kecamatan Cibinong, pada Rabu (25/2/2026).

Kegiatan reses ini menjadi bagian dari agenda konstitusional untuk menyerap aspirasi masyarakat secara langsung di daerah pemilihan. Dalam dialog terbuka bersama warga, berbagai usulan disampaikan, mulai dari peningkatan keamanan lingkungan, perbaikan infrastruktur, hingga kebutuhan sarana pendukung kegiatan masyarakat.

Dalam sambutannya, H. Dede Chandra Sasmita menegaskan bahwa reses merupakan jembatan komunikasi antara masyarakat dan pemerintah provinsi.

“Kami hadir untuk mendengar secara langsung kebutuhan warga. Setiap aspirasi yang disampaikan akan kami perjuangkan sesuai kewenangan di tingkat Provinsi Jawa Barat. Pembangunan harus dimulai dari apa yang benar-benar dibutuhkan masyarakat,” ungkapnya.

Sebagai bentuk tindak lanjut dan kepedulian nyata, pada Reses II di Kp. Ciriung ini diserahkan bantuan perbaikan sarana penerangan jalan guna meningkatkan keamanan dan kenyamanan lingkungan warga. Selain itu, diberikan pula bantuan 10 unit Handy Talky untuk mendukung koordinasi dan sistem keamanan lingkungan.

Tidak hanya itu, dalam kegiatan tersebut juga dibagikan bantuan beras kepada 100 peserta yang hadir. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban kebutuhan pokok masyarakat sekaligus menjadi wujud kepedulian terhadap kondisi sosial ekonomi warga.

Tokoh masyarakat setempat, H. Ali Ghozali, menyampaikan apresiasi atas perhatian dan kepedulian yang diberikan.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak H. Dede Chandra Sasmita atas kehadiran dan bantuan yang diberikan kepada warga Ciriung. Bantuan penerangan jalan dan Handy Talky ini sangat bermanfaat untuk keamanan lingkungan kami. Kami merasa diperhatikan dan didengar,” ujarnya.

Kegiatan reses berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan. Dialog interaktif antara warga dan anggota DPRD menjadi bukti bahwa komunikasi dua arah sangat penting dalam mewujudkan pembangunan yang tepat sasaran.

Melalui Reses II Masa Sidang 2025–2026 ini, diharapkan sinergi antara wakil rakyat dan masyarakat semakin kuat, sehingga setiap aspirasi yang berkembang di tengah warga dapat diperjuangkan dan direalisasikan demi kemajuan bersama.

**yev/cc

MBG di Nangggung Amburadul, Warga Teriak Wajib Demo

0

Nanggung l Jurnal Bogor
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor kini menuai aksi  protes  lantaran menu yang disajikan dinilai tak layak konsumsi. Keluhan terkait MBG tersebut terus berdatangan, kali ini datang dari Sekretaris  Desa Bantarkaret Sastra atau yang biasa dipanggil Bombom. Dia mengaku kecewa paket MBG yang diterima masyarakatnya itu tak sesuai harapan.

Sastra memperlihatkan menu MBG yang dinlai tak layak.

“Dari satu paket menu MBG misalnya, jenis buah pir tak bisa dikonsumsi karena sudah busuk,” jelas Bombom kepada Jurnal Bogor, Rabu (25/2/2026).

Bombom mempertanyakan bagaimana pertumbuhan anak bisa berkembang, kalau kualitas menu MBG-nya tidak diperhatikan. Baginya menu apapun tak masalah yang penting sesuai dengan standar kesehatan dan prinsip gizi seimbang.

“Apapun menu MBG-nya  tak masalah yang penting sesuai dan layak konsumsi, termasuk kualitas buahnya tolong diperhatikan,” jelasnya sambil memperlihatkan buah pir busuk itu.

“Masa buah yang sudah busuk ini masih dikirim juga?” tandasnya.

Bombom juga berharap MBG diberikan di sekolah SDN yang berada di pelosok seperti di Kampung Ciguha, Bantarkaret yang belum mendapatkan paket program MBG. “Segera ada realisasinya,” tambah Staf Desa Bantarkaret.

Untuk itu dia juga meminta pihak pengelola MBG  untuk berkoordinasi agar bisa mengetahui kelayakan sajian menu MBG yang akan disalurkan ke masyarakat Desa Bantarkaret.

Sebelumnya informasi yang dihimpun Jurnal Bogor, pengelola SPPG yang berlokasi  Kampung Pakapuran, Desa Parakanmuncang dinilai tak layak memberikan menu MBG ke empat sekolah yakni, SDN Bandasari, SDN Pasirsari, SDN Nanggung dan SMPN 1 Nanggung.

Telur dari paket menu MBG yang dikirim ke setiap sekolah  kondisinya setengah matang sehingga tak layak konsumsi karena telah menimbulkan bau tak sedap.

Termasuk program MBG di Desa Curugbitung sempat viral yang memperlihatkan kekecewaan penerimanya karena buah pir telah membusuk.

Kepala Desa  Curugbitung Maman Lukmanul Hakim ikut mengomentari, pengelola MBG agar jangan lepas tangan. “Jangan merasa nyaman, harus ada yang kontrol juga ke setiap dapur MBG,” kata Kades.

Termasuk keluarga penerima manfaat MBG lainnya memprotes,  Egi Naga asal Desa Parakanmuncang bahkan murka. “MBG parah, wajib didemo ini mah,” ungkapnya.

“Dengan kondisi MBG seperti ini, wali murid lainnya juga sudah geram,” pungkasnya.

Sebelumnya disebutkan, setelah banyak keluhan terkait menu MBG yang disajikan di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor lantaran dinilai tak mencerminkan prinsip nilai gizi seimbang, pemerhati kebijakan publik, Fikri Muhammad meminta pihak pengelola MBG atau SPPG menggelar audiensi.

“Audiensi ini mendesak dan harus melibatkan ahli gizi serta para pengelola dapur MBG. Jadi harus digelar audensi segera,” kata Fikri Muhammad kepada Jurnal Bogor, Rabu (25/2/2026).

** Arip Ekon

.

FK LPM Bogor Selatan Curhat ke Ketua DPRD

0

Bogor | Jurnal Bogor

Forum Komunikasi (FK) Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) se-Bogor Selatan mendatangi pimpinan DPRD Kota Bogor pada Selasa 24 Februari 2026.

Kedatangan mereka bertujuan untuk menyampaikan aspirasi dan keberatan terkait Peraturan Wali Kota (Perwali) Nomor 28 Tahun 2025 yang mengatur pembatasan usia dan syarat pendidikan bagi pengurus RT, RW, dan LPM.

​Audiensi yang berlangsung di Ruang Rapat Ketua DPRD, Lantai 2 ini diterima langsung oleh Ketua DPRD Kota Bogor, Dr. Adityawarman Adil, didampingi Wakil Ketua I DPRD, Rusli Prihatevy.

​Ketua FK LPM Bogor Selatan, Rudi Yuniardi, mengungkapkan bahwa Perwali 28 Tahun 2025 yang disosialisasikan akhir tahun lalu memicu keresahan di tingkat wilayah. Aturan tersebut membatasi usia pengurus maksimal 55 tahun dengan alasan regenerasi.

​Namun, Rudi menilai aturan ini justru berpotensi memangkas partisipasi tokoh masyarakat senior yang masih memiliki kapabilitas.

​”Ada permasalahan penting terkait pembatasan usia dan syarat pendidikan bagi ketua RT, RW, dan LPM. Kami menilai aturan ini mendiskriminasi warga berusia di atas 55 tahun yang secara fisik dan mental sebenarnya masih sangat mampu memimpin,” ujar Rudi Yuniardi.

​Selain soal usia, Rudi juga menyoroti pentingnya penguatan kelembagaan LPM yang dirasa masih lemah. Ia juga menyampaikan aspirasi terkait kepastian pensiun bagi pengurus LPM.

​Menanggapi keluhan tersebut, Ketua DPRD Kota Bogor, Adityawarman Adil, mengatakan bahwa Perwali Nomor 28 memang dinamika yang cukup tinggi di masyarakat.

​Politisi PKS ini berjanji akan membawa masukan dari FK LPM Bogor Selatan ke Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor untuk dievaluasi.

​”Insyaallah, DPRD mendukung adanya wacana penambahan batas usia atau perbaikan syarat pendidikan dalam Perwali tersebut. Masukan ini akan segera kami sampaikan ke Pemerintah Kota agar ada perbaikan kedepannya,” tegasnya.

​Di tempat yang sama, Wakil Ketua I DPRD Kota Bogor, Rusli Prihatevy, menekankan pentingnya peran LPM dalam membantu fungsi kelurahan. Menurutnya, LPM adalah pihak yang paling memahami peta permasalahan di wilayah masing-masing.

​”LPM adalah garda terdepan yang mengidentifikasi masalah di wilayah. Kami menerima masukan dan saran ini, yang nantinya akan ditindaklanjuti. Memang dalam aturan itu, sesuai Perwali 28 LPM RT dan RW serentak 2030 di laksanakan pemilihan bersama,” pungkas Rusli.

​Pertemuan ini diharapkan menjadi pembuka jalan bagi revisi aturan yang lebih inklusif, guna memastikan stabilitas dan keberlanjutan pembangunan di tingkat kelurahan se-Kota Bogor.

** Fredy Kristianto

Tegak Lurus Arahan DPD Jabar, DPC Permas Nusantara Kabupaten Bogor Dukung Polri Tetap di Bawah Presiden

0

Cibinong | Jurnal Bogor

Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Persatuan Masyarakat (Permas) Nusantara Kabupaten Bogor menyatakan sikap tegas mendukung penuh institusi Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Pernyataan ini merupakan bentuk loyalitas atas instruksi Ketua DPD Permas Nusantara Jawa Barat, Moch Ihsan, dalam memperkuat sinergitas organisasi dengan korps Bhayangkara.

​Ketua DPC Permas Nusantara Kabupaten Bogor, Depit Luki Piandi, menegaskan bahwa seluruh jajaran pengurus hingga tingkat akar rumput di Kabupaten Bogor berada dalam satu komando untuk mengawal marwah dan kinerja Polri.

Salah satu poin utama yang ditegaskan oleh DPC Permas Nusantara Kabupaten Bogor adalah dukungan agar institusi Polri tetap berada langsung di bawah komando Presiden Republik Indonesia. Hal ini dinilai penting untuk menjaga profesionalisme dan netralitas Polri dalam menjalankan tugas penegakan hukum serta menjaga keamanan nasional.

​”Kami sejalan dengan arahan Ketua DPD Jabar, Bapak Moch Ihsan. Kami secara tegas menyatakan bahwa Polri harus tetap berada di bawah Presiden langsung. Ini adalah kunci agar Polri tetap independen, profesional, dan tidak terkooptasi oleh kepentingan politik sektoral mana pun,” ujar Depit Luki Piandi dalam keterangan resminya, Selasa (24/2).

Sekretaris DPC Permas Nusantara Kabupaten Bogor, Topik Hidayat, menambahkan bahwa stabilitas di wilayah Kabupaten Bogor sangat bergantung pada soliditas antara elemen masyarakat dan kepolisian. Ia memastikan jajaran sekretariat akan mengawal instruksi ini hingga ke tingkat PAC (kecamatan).

​”Instruksi Bapak Moch Ihsan sudah sangat jelas. Saya, selaku Sekretaris DPC, akan memastikan seluruh kader Permas Nusantara di Kabupaten Bogor proaktif menjalin koordinasi dengan Polres Bogor maupun Polsek-polsek di wilayah masing-masing,” ungkap Topik Hidayat.

​Topik juga menekankan bahwa dukungan ini bukan sekadar retorika, melainkan wujud nyata pengabdian organisasi terhadap stabilitas negara. “Kami percaya Polri di bawah kepemimpinan Presiden adalah struktur terbaik untuk menjamin rasa aman bagi seluruh rakyat Indonesia,” tambahnya.

Langkah DPC Kabupaten Bogor ini menjadi bagian dari gelombang dukungan masif Permas Nusantara se-Jawa Barat di bawah kepemimpinan Moch Ihsan. Dengan solidnya barisan organisasi, diharapkan sinergi antara rakyat dan Polri semakin kuat demi mewujudkan Indonesia yang lebih tertib dan kondusif.

​”Harapan kami, hubungan harmonis antara Permas Nusantara dan Polri dapat terus ditingkatkan demi terwujudnya masyarakat Kabupaten Bogor yang aman, tertib, dan damai,” tutup Depit.nHerry S

Sinergi Ketahanan Pangan, Kapolsek Citeureup Pimpin Panen Raya Jagung Hibrida

0

Citeureup | Jurnal Bogor

Polsek Citeureup Polres Bogor terus menunjukkan komitmen nyata dalam menyukseskan program ketahanan pangan nasional. Pada Rabu (25/02/2026), Kapolsek Citeureup memimpin langsung aksi panen raya jagung hibrida yang berlokasi di Desa Tarikolot dan Desa Hambalang, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor.

Kegiatan ini merupakan langkah konkret kepolisian dalam mendampingi masyarakat petani sekaligus mengoptimalkan potensi lahan produktif di wilayah hukum Polsek Citeureup.

Kapolsek Citeureup, Kompol Eddy Santosa, S.Pd., M.H., menyatakan rasa syukurnya atas hasil panen yang dinilai sangat memuaskan dan berkualitas tinggi.

“Alhamdulillah, hari ini kami melaksanakan panen jagung hibrida di Tarikolot dan Hambalang. Luas lahan yang dipanen hari ini mencapai kurang lebih 1 hektar. Kami sangat senang melihat hasilnya yang maksimal,” ujar Kompol Eddy Santosa.

Beliau juga menambahkan bahwa kegiatan ini masih akan berlanjut karena masih ada area lahan yang menunggu masa panen tiba.

“Saat ini masih ada sekitar 1,5 hektar yang belum dipanen. Rencananya, panen tahap kedua akan kami laksanakan minggu depan, dengan tambahan lokasi di Desa Tajur. Kami ingin memastikan program ini berjalan tuntas untuk mendukung ketersediaan pangan warga,” tegasnya.

Keberhasilan Polsek Citeureup dalam mengelola sektor pertanian ini menarik perhatian berbagai elemen masyarakat. Topik Hidayat, atau yang lebih akrab disapa Bang Olid, selaku tokoh pemuda Citeureup sekaligus Sekretaris DPC Permas Nusantara, memberikan apresiasi tinggi setelah melihat masifnya pemberitaan mengenai keberhasilan panen tersebut di berbagai media.

Saat dihubungi secara terpisah, Bang Olid menyatakan kebanggaannya atas dedikasi Kapolsek Citeureup dan jajarannya.

“Melihat pemberitaan di media hari ini soal panen raya jagung oleh Polsek Citeureup, saya selaku bagian dari pemuda merasa bangga. Langkah Bapak Kapolsek Kompol Eddy Santosa adalah bukti nyata bahwa Polri hadir bukan hanya untuk pengamanan, tapi juga peduli pada urusan perut rakyat,” ungkap Bang Olid.

Ia berharap sinergi antara kepolisian dan masyarakat tani ini dapat terus dipublikasikan agar menjadi inspirasi bagi wilayah lain.

“Kami dari DPC Permas Nusantara mendukung penuh langkah-langkah produktif seperti ini. Ini adalah teladan luar biasa bagaimana kepolisian membangun kedekatan dengan masyarakat melalui sektor ketahanan pangan,” pungkasnya.n Herry S