28.6 C
Bogor
Thursday, July 30, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 611

Makna Hari Ahad Diganti Minggu: Pertarungan Budaya

0

JURNALINSPIRASI.CO.ID – Adanya pergantian nama hari Ahad ke Minggu didalam kalender nasional, yang viral di medsos dari cerita latar belakang sejarahnya kita paham sekarang. Inilah salah satu fakta sejarah, bahwa ada pertarungan sistem budaya Arab/Melayu-Islam (Nusantara) versus budaya Eropa/Portugis-Kristen. Islam Nusantara terjajah, sedang Kristen Eropa menjajah.

Hingga kini hegomoni budaya Barat-Eropa terus menggeroti budaya Melayu Islam di Indonesia, yang tersebar di daerah-daerah, tanpa sadar dan seolah-olah bukan masalah.

Rialitanya warisan (herritages) Kerajaan-kerajaan Melayu Islam, yang tersebar di seluruh wilayah NKRI, berupa peninggalan bangunan dan pekarangan-taman istana kerajaan dan benda-benda peninggalan (artefak) tidaklah terawat, rusak, runtuh dan akhirnya punah ditelan bumi.

Saya sudah mengamati faktanya di lapangan, kehancuran budaya Islam Melayu ini seperti yang saya tinjau, seperti Istana Maimun di Medan Sumut, istana melayu Islam Pontianak Kalbar, istana kerajaan Islam di Ternate Maluku Utara, kerajaan Buton  Sultra, kerjaan Islam Pasai-Aceh, juga kerajaan Bima NTB, dll, tidaklah terawat, kayu-kayu bangunannya sudah lapuk, dan akhirnya roboh.

Hal ini akibat kelengahan dan ketidakpedulian (careless) dari para politisi muslim yang duduk di DPRD di daerah, mereka kurang bahkan tidak paham dengan pertarungan dan konflik budaya Islam vs nonIslam, terutama adanya agresifitas kristenisasi di Indonesia berjalan sejak lama di banyak sektor seperti perpolitikan, pertahanan-keamanan, pendidikan, kesehatan, perdagangan, industri dll.

Akibat negatifnya dari pertarungan budaya berbasis agama ini memunculkan kebijakan dan regulasi (public policy) yang diskrimatif, yang memarginalkan umat Islam dengan mengikis secara pelan dan pasti simbol-simbol bahasa Arab, termasuk istilah kalender Ahad diganti Minggu sebagaimana isi vedeo yang viral ini.

Sebenarnya sudah banyak yang berubah dan diubah secara sistematis simbol-simbol budaya Islam Nusantara oleh birokrasi Pemerintahan yang sekular, ateis dan fobia anti Islam, antara lain tampak berupa politik anggaran untuk membangun dan atau merenovasi bangunan istana Melayu Islam- Nusantara, baik di pusat maupun di daerah, tidak mendapat tempat, ada ketidak berpihakan (don’t affirmatif policy).

Konyolnya para politisi Muslim berasal dari Parpol Islam atau partai yang berbasis umat Islam Indonesia seperti PKS, PPP, PKB, PAN dll kurang bahkan tidak paham dan tak mengerti apa dan bagaimana memperjuangkan aspirasi umat Islam guna menjaga marwah dan melestarikan simbol-simbol budaya Melayu Islam se Nusantara. 

Salah satu caranya adalah adanya atau proaktif gerakan syiar dakwah Islam dan gelontorkan dana APBD untuk merenovasi bangunan peninggalan kerajaan-kerajaan Islam Melayu, yang doeloe megah dan berjasa dalam menyatukan berbagai etnis bangsa Nusantara membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kini bangunan kerajaan Melayu Islsm Nusantara banyak yang ditelantarkan dan terbengkalai, rusak, akhirnya roboh dan runtuh.

Padahal finalisasi perjuangan terbentuknya NKRI itu adalah mahakarya Pahnas Dr.Muhammad Natsir, Ketum Parpol Islam Masyumi yang menjadi Perdana Menteri RI, dengan mosi integral Natsir untuk kembali bersatu dalam wadah Indonesia Raya.

Akan tetapi sayang, para politisi Islam di parlemen, baik di pusat Senayan dan di daerah banyak lupa dan melupakan sejarah jasa para tokoh pahlawan Islam mengapa, apa dan bagaimana mereka berjuang membangun kebudayaan dan peradaban Islam di tanah air Indonesia, yang nampaknya kini lengah dan mengabaikan.

Mereka banyak disibukan dengan gaya hidup mewah (hedonist) dan tak punya arah yang jelas (disorientasi) yang kemudian mereka abai dan hilang marwahnya (dignity) untuk membela kepentingan umat Islam dengan berbagai program pembangunan dakwah Islamiyah, yang dibiayai Anggaran Pendapatan dan Biaya Daerah (APBD) dan negara (APBN).

Contoh kasus sebut saja Kota Bogor, dimana satu dasa warsa terakhir, Pemkot Bogor mempromosikan besar-besaran budaya Tiongkok-China (Klenteng-ibadah tapekong) dengan ajang acara ritual dan festival Cap Go Meh (CGM), yang semarak dan dibalut atau dibungkus mengatas-namakan budaya Nusantara.

Ini sangat jelas dan tegas menyimpang pemaknaannya, bahwa CGM bukan budaya Nusantara. CGM adalah budaya berasal dari dataran China-negeri Tiongkok sana.

Dengan perayaan CGM, mereka nampaknya ingin “menyalip dan menyingkirkan”, memarginalkan budaya Arab-Empang Bogor. Faktanya Kawasan Empang kurang mendapat perhatian pembangunan sarana-prasarananya, sehingga daerah ini dibiarkan  “kumuh” (slum area).

Hal ini sangat berbeda jauh dengan perlakuan program pembangunan lingkungan Kawasan Pecinaan Jln Surya Kencana (Surken) Kota Bogor, dimana dijadikan pusat-tempat vestifal CGM diselenggarakan setiap tahun, dalam rangka merayakan Tahun Baru Cina (Imlek).

Pembangunan dan penataan sarana-prasarana publiknya di kawasan Surken Bogor didukung dana yang besar dari bantuan anggaran APBD Kota Bogor, APBD Jabar, dan bahkan APBN.

Berdasarkan gejala sosial yang diskrimatif public policy, saya pun bertanya kepada para politisi muslim yang manggung di DPRD Kota Bogor sepeti PKS, PPP, PKB dan PAN, kemana saja mereka? Apa yg mereka perbuat untuk umat Islam Bogor. Sebagai soko guru bangsa Indonesia yang ikut serta membangun NKRI.

Oleh karena itu, adanya inisiatif untuk mengembalikan Bogor Dayeuh Ulama, sudah seharusnya kita dukung bersama.

Memang benar, Bogor dalam fakta sejarah dibangun dan dibesarkan atas jasa-jasa dan karya para ulama Bogor, sebut saja diantaranya KH Falaq Pagentongan, KH Abdullah bin Nuh, KH.Soleh Iskandar,  dll.

Mari kita marakan Kota Bogor setiap tahun Hijriah, tahun baru Islam dengan berbagai acara budaya Nusantara-Islam seperti festival Muharam- Istiqlal, talk show, pameran buku-buku Islam yang dulu sempat ada digelar di Masjid Raya Bogor, kini hilang, istikhosyah, dll.

Singkat kata “Kembalikan Bogor sebagai Dayeuh Ulama”, untuk menghindar atau mencegahkan umat Islam, terutama keturunan kita: anak, cucu dan cicit kita dari kemusrikan, kemunafikan, kefasikan dan kekafiran.

Kejadian yang menggerus kebudayaan dan peradaban Islam seperti perubahan nama hari Ahad ke Minggu didalam kalender nasional tidak terulang kembali di tanah air NKRI yang kita cintai ini.

Sekian dan terima kasih, semoga narasi singkat ini, hendaknya bisa memunculkan dan membangkitkan kesadaran baru untuk mempertahan marwah umat Islam Indonesia demi melestarikan jiwa dan semangat kebangsaan dalam wadah NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Syukron barakallah.
Wassalam

Penulis:
Dr.Ir H.Apendi Arsyad,MSi
(Pendiri dan Ketua Wanhat ICMI Orwil Khusus Bogor, Wasek.Wankar ICMI Pusat, Pendiri dan Dosen Universitas Djuanda Bogor, Konsultan K/L negara, Pegiat dan Pengamat Sosial)

Latih Keberanian, Bakat dan Minat Siswa-siswi MIN 1 Bogor Ditampilkan pada Acara Kenaikan Kelas

0

Leuwisadeng | Jurnal Bogor

Siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Bogor, Desa Sadeng, Leuwisadeng, Kabupaten Bogor unjuk kebolehannya pada acara kenaikan kelas. Berbagai bakat dan minat yang dimiliki anak-anak didik ditampilkan di hadapan wali murid.

“Tujuannya untuk menampilkan kemampuan  dan melatih keberanian anak untuk tampil di  depan umum baik dari segi ilmu pengetahuan maupun kesenian,” kata Kepala Sekolah MIN 1 Bogor Samsuri, Selasa  (20/06/2023).

Dia menjelaskan, acara tersebut selain untuk membuktikan bahwa anak yang bersekolah di MIN 1 Bogor perkembangannya cukup baik, juga ajang promosi.

“Ajang promosi kepada lembaga supaya masyarakat melihat perkembangan pendidikan di MIN 1 Bogor itu cukup baik keberadaannya,” jelasnya.

Dia membeberkan, dalam acara kenaikan kelas tahun ini cukup meriah. Setelah  dua tahun akibat pandemic Covid 19. Kini dapat menggelar acara kenaikan kelas dan berjalan meriah serta lancar dengan menampilkan kreasi siswa.

“Dalam kegiatan ini anak-anak menampilkan, pertama pembacaan Al-Qur’an melafalkan hadits terus kreasi seni dengan berpakaian tertutup. Walaupun menampilkan kreasi seni tapi dengan menunjukkan akhlak islami,” katanya.

Dia berharap, bahwa kemampuan anak meningkat dan yang masuk ke MIN ini salah satu anak yang memang sudah siap dan berkualitas.

“Saya ucapkan terima kasih kepada wali murid dan mohon dukungannya, baik cara belajar maupun pencapaian pendidikan orientasi akhiratnya juga diberikan motivasi agar anak tambah semangat mengikuti pembelajaran di sekolah ini,” pungkasnya.

** Andres

Pascalongsor Buanajaya, DPUPR Mulai Pasang Bronjong 

0

Tanjungsari | Jurnal Bogor

Pascalongsor yang menimpa warga Kp.Cibeureum, Desa Buanajaya, Tanjungsari, Kabupaten Bogor, masih menyisakan sejumlah pekerjaan. Salah satunya yang sampai saat ini masih sedang dikerjakan ialah pembuatan penahan tanah dari Bronjong dengan panjang yang dibutuhkan mencapai 300 meter dan tinggi 5-7 meter.

Pembuatan bronjong tersebut dikerjakan oleh warga sekitar dengan bantuan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Bogor.

Kades Buanajaya, Sudarjat menjelaskan meski dikerjakan oleh warga, namun tetap diawasi oleh DPUPR sebagai pelaksana yang mengatur pembuatan bronjong. Mengingat sifatnya darurat sehingga dibuat menyesuaikan lokasi.

“Karena tidak ada gambar, yang penting bisa menahan longsoran tanah dari atas. Untuk tahap pertama, informasi dari pengawas DPUPR, bantuan yang diturunkan sebanyak 500 kubik untuk pemasangan batu bronjong. Namun,  jika kita melihat di lokasi, kebutuhan lebih dari itu, dan bisa dilihat kondisi saat ini pohon-pohon sudah mulai miring, itu menandakan pergerakan tanah masih terjadi,” ungkap Sudarjat kepada Jurnal Bogor, Rabu (21/6/23).

Sudarjat meminta, pemasangan batu bronjong jangan dilakukan secara bertahap, karena bencana bisa kapan saja datang. Usahakan diselesaikan sesuai dengan kebutuhan yang diajukan, karena ini sifatnya darurat sehingga minta diutamakan.

“Kedepannya mungkin disini akan direlokasi ke tempat yang lebih aman, sampai saat ini kami masih sedang menunggu hasil tes lab tanah yang dilakukan ahli, jika hasilnya nanti keluar, itulah tindakan yang akan dilakukan,” tuturnya.

Keinginan pihak desa untuk saat ini, jelas Sudarjat, DPUPR menyelesaikan pemasangan bronjong sampai finis, dan jangan tahap bertahap, karena pergerakan tanah masih labil. Hal ini bisa dilihat dari jarak longsoran tanah ke rumah warga kurang dari 50 meter.

“Saya ucapkan terimakasih kepada DPUPR yang sudah cepat tanggap, BPBD yang membantu dari awal bencana, Dinsos yang sudah memberikan pasokan pangan, dan kepada semua tim relawan dan donatur yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Terkhusus saya ucapkan terimakasih juga kepada Dewan Ahmad Fathoni yang sudah mengawal kami dari awal sampai bantuan ini turun, karena dari sekian banyak dewan di dapil satu hanya beliau yang menginjakan kakinya ke Kp.Cibeureum untuk melihat kondisi warga kami,” bebernya.

Sementara, salah satu warga Cibeureum Usman (45) merasa bersyukur dengan dibuatkannya bronjong sebagai penahan tanah. Pasalnya, jarak longsoran dari rumahnya sangatlah dekat sekali, apalagi kondisi saat ini setiap sore sudah turun hujan.

“Bisa dilihat sendiri, pohonan sudah miring, mungkin akarnya sudah bergeser akibat longsoran. Untuk kedepannya jika memang ada relokasi kami sih siap aja, asal luas lahan yang kami miliki itu diganti sama luasnya sama pemerintah jika pindah nanti, untuk saat ini saja belum tau siapa yang akan mengganti sawah kami yang kena longsoran, sedangkan cuma itu lahan pencaharian kami untuk mencari nafkah,” keluhnya.

“Semoga pemerintah peka, dan dewan tidak hanya sibuk ngurusin warga saat mau kampanye saja, pas udah jadi lupa,” sambungnya.

** Nay Nurain

PKBM Satria Sakti Dinilai Warga tak Jelas

0

Sukajaya | Jurnal Bogor

Keberadaan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Satria Sakti yang terletak di Kampung Pasir Tugu, Desa Sukajaya, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor disesalkan oleh masyarakat.

Pasalnya, keberadaan pendidikan nonformal tersebut diduga tidak jelas dan hanya mengincar keuntungan pribadi pengelola Yayasan Satria Sakti.

“Saya sebagai masyarakat Sukajaya sangat kecewa keberadaan PKBM ini. Karena kegiatan belajar mengajar (KBM)-nya itu tidak  ada, ditambah ada dugaan pemalsuan tanah hibah,” kata warga Suleni.

Dia menjelaskan, banyak warga yang jadi korban dengan dugaan pemalsuan data. Selain itu, untuk keabsahan legalitas PKBM, seakan warga telah menghibahkan tanahnya untuk keperluan kegiatan PKBM itu untuk memanipulasi data legalitas saja.

“Setelah saya telusuri ternyata memanipulasi warga demi kepentingan pribadi, dan pastinya warga yang dikorbankan atas adanya Yayasan Satria Sakti saya duga pemalsuan data legalitas, karena si pemilik tanah tidak pernah menghibahkan,” katanya.

Dia mengaku, bahwa dirinya mengetahui sejak awal berdirinya PKBM itu banyak data yang dirinya masukan ke yayasan tersebut. Namun hingga kini tidak ada kelulusan bagi pelajar.

“Saya tahu persis pada waktu merintisnya yayasan itu, data siswa yang masuk PKBM Satria Sakti banyak dari saya. Tetapi hingga saat ini saya tidak mengetahui kapan ke lulusannya dan sampai saat ini juga pelajar itu selalu bertanya kepada saya,” katanya.

“Saya selaku orang tua siswa, mempertanyakan kapan siswa-siswi ini akan diluluskan sedangkan PKBM ini belum pernah ada kegiatan belajar dan mengajar, bahkan guru-gurunya juga siapa dan orang mana kami pun tidak tahu,”  tambahnya.

Dia menuturkan, adanya pemberitaan terkait dengan kunjungan kerja pihak kecamatan ke PKBM, Senin (19/06), dibantah oleh pihak aparat.

“Terkait itu, saya konfirmasi kepada Bhabinkamtibmas dan Babinsa Desa Sukajaya kemarin itu tidak ada kunjungan kerja yang ada cuma monitoring ke PKBM Satria Sakti bersama staf pendidikan dari kecamatan,” katanya.

Sementara dikonfirmasi perihal tersebut, Ketua PKBM Satria Sakti yang biasa akrab Seki hanya memberikan keterangan singkat. “Besok saya telepon kalau urusan saya sudah beres,” singkatnya.

** Andres

Inilah Kebanggan Doris Sundari Saat Menyaksikan Laga Timnas Indonesia Lawan Argentina

0

Cibinong | Jurnal Bogor

Laga FIFA Match Day Indonesia versus Argentina yang dilangsungkan di Stadion GBK, Jakarta, Senin, 19 Juni 2023 benar benar menjadi daya magis semua pecinta sepakbola di tanah air.

Doris Sundari

Doris Sundari ketua IODI Kabupaten Bogor dan sebagai salah satu masyarakat pecinta sspakbola Kabupaten Bogor sangat beruntung bisa menyaksikan laga Timnas Garuda kontra Tim Tango Argentina.

Saat menyaksikan laga Timnas Indonesia lawan Argentina, Doris mengenakan jersey yang sangat keren karena ada warna timnas argentina dan warna timnas garuda dalam jersey nya.

Bahkan, ia juga membentangkan atribut Indonesia dengan bangga.

” Alhamdulilah saya bisa berada ditengah tengah ribuan suporter yang menyaksiksan laga FIFA Matchday kali ini. Luar biasa ini jadi momentum yang sangat bersejarah bagi saya dan juga ribuan suporter lainnya yang melihat langsung juara dunia 2022 di Senayan,” tegas Doris Sundari, Selasa, 20 Juni 2023.

Baginya, Timnas Garuda sangat beruntung bisa melakoni laga melawan Juara dunia itu.

” Saya tidak melihat hasil akhir. Namun saya melihat semua pemain Indonesia bisa tampil percaya diri saat melawan Tim Tango Argentina,” papar Doris.

Doris berharap, event event FIFA Matchday ini melawan negara negara yang hebat sepakbolanya seperti Brazil, Jerman, Spanyol, Italia, Inggris bisa kembali digelar di Indonesia.

” Saya yakin dengan seringnya melawan negara negara yang pernah jadi juara dunia akan punya dampak positif bagi masa depan sepakbola Indonesia.” pungkasnya.

** asep syahmid

Begal di Jalan Raya Karanggan Tendang Korban Hingga Jatuh

0

Gunung Putri | Jurnal Bogor

Begal motor kembali beraksi, hal tersebut dialami seorang pria yang sedang mengendarai sepeda motor dan melintas di Jalan Raya Karanggan, Desa Karanggan, Gunung Putri, Kabupaten Bogor pada dini hari.

Pada rekaman CCTV yang beredar, seorang pria yang sedang mengendarai sepeda motor dibuntuti oleh 2 orang begal dari belakang.

Pada rekaman CCTV tersebut salah satu begal yang duduk dibelakang menendang sepeda motor yang sedang dikendarai pemuda tersebut. Hingga membuat korban terjatuh, dan pada kesempatan yang sama pelaku begal tersebut turun dari motor sambil mengacungkan senjata tajam, hingga membuat korban tak berdaya dan mengikhlaskan kendaraannya dibawa lari.

Salah satu warga di lokasi kejadian, Anto Sutrisna (43) mengatakan, di lokasi ini memang sepi, apalagi dari rekaman CCTB yang beredar kejadian terjadi pukul 02.30 WIb dini hari. Dimana, sudah pasti kondisi jalan sangat sepi dan juga minim penerangan.

“Disini kalo malem gelap, dan sepi. Jangankan jam 2 pagi, jam 11 lewat sini aja kendaraan yang lewat bisa dihitung pake jari,” ungkapnya kepada Jurnal Bogor, Selasa (20/6/23).

Dirinya menyebut, bukan hanya begal saja yang ada disana, tapi pernah juga ada wanita malam yang sempat berdiri saat itu. Hanya saja tidak berlangsung lama di usir sama warga.

“Pernah jadi tempat tongkrongan wanita panggilan, enggak tau cewe tau bencong, cuma emang pernah terjadi dan sempat ramai. Terus ilang gitu deh kabarnya,” pungkasnya.

Sementara, Kapolsek Gunung Putri Kompol Bayu Tri Nugraha mengaku belum ada laporan dari korban terkait kejadian pembegalan tersebut. Namun, polisi akan tetap turun ke lapangan untuk mencari informasi dari warga dan mencari korban begal tersebut.

“ Belum ada laporan, tapi kita akan survei ke lapangan. Kedepannya kami akan meningkatkan patroli malam, dan diharapkan untuk warga yang tidak ada kepentingan terlalu penting lebih baik jangan sampai keluar malam, “ imbuhnya.

Dirinya menyebut, kejahatan itu bisa terjadi kapan saja dan kepada siapa saja, maka dari itu kita sebisa mungkiin untuk waspada. Apalagi jalan tersebut sepi dan kejadian pada dini hari.

“Untungnya ada CCTV jalan yang bisa menjadi bekal kami untuk mencari pelaku pembegalan tersebut,” pungkasnya.

** Nay Nurain

Kades Buanajaya Minta Perusahaan Pemakaman Kuiling Berikan CSR Secara Rutin

0

Tanjungsari | Jurnal Bogor

Keberadaan pemakaman elite Heaven atau yang dikenal dengan sebutan Kuiling, dikeluhkan Kepala Desa Buana Jaya, Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Sudarjat. Dia meminta agar Pemakaman Kuiling lebih memperhatikan lingkungan sekitar dengan rutin menggelontorkan anggaran Corporate Social Responsibility (CSR).

“Saya ingin, jika ada nominal yang disebutkan oleh pihak Pemakaman Kuiling akan CSR yang digelontorkan setiap tahunnya. Agar kami pihak desa bisa mengalokasikan anggaran tersebut untuk pembangunan maupun untuk kebutuhan lainnya yang bersentuhan langsung dengan masyarakat,” ungkap Sudarjat kepada Jurnal Bogor, Selasa (20/6/23).

Memang, sambung Sudarjat, pernah ada bantuan berupa sembako yang diberikan oleh pihak Pemakaman Kuiling sebanyak 500 paket sembako untuk warga. Tapi, bukan hanya itu yang kami harapkan, kami menginkan adanya bantuan fisik dari pihak perusahaan untuk kebutuhan masyarakat desa.

“Disini masih minim MCK, sanitasi air bersih, dan jalan. Apalagi belum lama ini kami terkena musibah longsor, jika bukan karena menggedor dewan Achmad Fathoni untuk membantu mendorong ke DPUPR, mungkin saat ini kami masih dihantui longsor yang mungkin saja bisa tiba-tiba datang,” paparnya.

Lebih lanjut Sudarjat mengatakan, setiap perusahaan yang berdiri di suatu wilayah harus memberikan kontribusi untuk lingkungannya, dan yang saat ini dirasakan tidak ada bantuan paten yang rutin setiap tahunnya yang digelontorkan.

“Saya berharap, ada nilai pasti yang dikeluarkan oleh pihak Pemakaman Kuiling, dan itu pun harus di gelontorkan setiap tahunnya. Saya bahkan sudah melayangkan surat kepada pihak perusahaan, namun sampai saat ini belum ada jawabannya,” jelasnya.

“Saya ingin adanya duduk bersama, dengan pihak yang bisa memutuskan akan keluhan kami. Masa iya, sekelas pemakaman elite tidak bisa memberikan CSR secara rutin setiap tahunnya kepada wilayah setempat,” tambahnya.

Apalagi, lanjut Sudarjat, luas wilayah Pemakaman Kuiling sendiri mencapai 300 hektare di desa kami, dan  mereka menjual kavling pemakaman kepada konsumennya dengan harga yang cukup fantastis, “ Harga per meter di sana itu bisa mencapai 5 sampai 7 juta per meter, bisa dibayangkan dengan luasan 300 hektare yang sudah masuk plotingan,” paparnya.

Sementara, Ketua Koordinator Lapangan Pemakaman Kuiling, Atang mengatakan apa yang disampaikan oleh Kepala Desa Sudarjat tidak tepat. Pasalanya, pihak perusahaan selalu respons jika ada proposal yang masuk, dan pastinya selalu memberikan support untuk setiap kegiatan yang ada di desa.

“Kami pernah membangun Balai Desa Buanajaya pada masa jabatan lurah sebelumnya, kami juga membangun jembatan yang sempat longsor kala itu. Begitu pun, proposal-proposal yang masuk yang dibawa masyarakat pasti kami support,” kata Atang.

Memang, sambung Atang, pihaknya belum ada anggaran rutin yang digelontorkan sebagai anggaran CSR untuk desa binaan. Pihaknya hanya memberikan bantuan dari prosposal yang diajukan oleh Pemdes saja, dan di luar dari itu tidak ada anggran rutin.

“Kami akan rapatkan lagi dengan manajemen, semoga kami bisa memberikan CSR secara rutin kepada desa untuk dialokasikan sesuai dengan kebutuhan desa. Untuk saat ini kondisi sepi, dari 150 hektare yang kami siap kan, baru terisi sebanyak 40 hektare. Tapi untuk keinginan kades terkait CSR rutin ini akan kami bicarakan dan semoga bisa segera direalisasikan,” pungkasnya.

** Nay Nuráin

1 Miliar Pokir Dewan Achmad Fathoni untuk Kemajuan Kampung Ramah Lingkungan

0

Cileungsi | Jurnal Bogor

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor bersama dengan Anggota DPRD Kabupaten Bogor Achmad Fathoni mengadakan Sosialisasi Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang bersumber dari anggaran Pokir Dewan PKS. Kegiatan sosialisasi tersebut di adakan di KRL Perumahan Harmoni 6, Desa Situsari, Cileungsi, Kabupaten Bogor, Selasa (20/6/23).

Hadir dalam kegiatan sosialisasi tersebut, Subko kemitraan dan peran serta masyarakat DLH Kabupaten Bogor Dra.Surya Sumini, Anggota DPRD Kabupaten Bogor Achmad Fathoni, Sekretaris Desa Situsari, perwakilan Kecamatan Cileungi, para Kadus se- esa Situsari, Anggota KRL Harmoni 6, KWT Harmoni 6, serta para pegiat lingkungan.

Dalam kesempatan tersebut, Surya Sumini mengatakan kegiatan ini merupakan sosialisasi untuk para KRL yang tercatat di DLH Kabupaten Bogor. Mereka yang memang aktif dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan dari dinas, serta peduli terhadap kebersihan lingkungan sekitarnya akan disupport kebutuhannya agar kegiatan dalam ketahananan pangan dan kebersihan lingkungan bisa terus berjalan.

“Semua kegiatan ini bersumber dari anggaran Pokir dewan PKS. Selain untuk kegiatan sosialisasi, KRL Harmoni 6 juga kami berikan bantuan berupa 1 unit baktor, 1 unit mesin potong rumput dan 1 unit bor untuk biopori,” tandasnya.

Dirinya berharap, adanya bantuan dari Pokir Dewan ini agar dimanfaatkan dengan sebaik mungkin, karena memang tidak semua KRL beruntung mendapatkan bantuan seperti ini. Hal ini bisa terwujud karena adanya anggaran Pokir Dewan yang digelontorkan kepada DLH untuk kemajuan KRL.

“Saya ucapakan terimakasih juga kepada Dewan Achmad Fathoni yang sudah menggelontorkan anggaran pokirnya, sehingga apa yang di butuhkan KRL bisa terwujud,” ungkapnya.

Sementara, Anggota DPRD Kabupaten Bogor, Achmad Fathoni mengatakan jika dirinya merasa prihatin dengan kondisi KRL yang ada di wilayah Dapilnya. Mengingat, semangat mereka sudah tinggi tapi minimnya fasilitas penunjang kegiatan mereka yang membuat mereka para penggiat lingkungan ini malas sehingga tidak sedikit KRL yang terbentuk tapi kemudian bubar.

“Berdasarkan itulah saya menggelontorkan anggaran sebesar 1 miliar yang dikerjasamakan dengan DLH  untuk membantu kebutuhan KRL di Dapil saya khususnya, semoga dengan adanya bantuan-bantuan ini bisa menambah semangat mereka untuk tetap menjaga dan melestraikan lingkungan yang ada,” pungkas Politisi PKS tersebut mengakhiri.

Untuk diketahui, berikut nama-nama Kampung Ramah Lingkungan (KRL) yang mendapatkan bantuan Pokir dari Anggota DPRD Kabupaten Bogor Achmad Fathoni.

1.            KRL Harmoni 6, Desa Situsari
2.            KRL The Rosela Bukit Putra, Desa Situsari
3.            KRL Nusa Indah, Desa Mampir
4.            KRL Veneza Green, Desa Dayeuh
5.            KRL Metland, Desa Cipenjo
6.            KRL Bersinar RW 07, Desa Limus Nunggal
7.            KRL Berseri, Desa Bojong Nangka
8.            KRL Rinjani, Desa Bojong Nangka
9.            KRL Asri 27, Desa Tlajung Udik
10.          KRL Lidi, Desa Tlajung Udik
11.          KRL Cinta, Desa Ciangsana
12.          KRL Cantik, Desa Ciangsana
13.          KRL Komunitas Setu Citongtut, Desa Cicadas
14.          KRL Klapanunggal, Desa Klapanunggal
15.          KRL Paguyuban Situ Wanaherang, Desa Wanaherang
16.          KRL Harapan, Desa Cicadas
17.          KRL Pelangi, Desa Gunung Putri
18.          KRL Zalak, Desa Gunung Putri
19.          Bank Sampah Sukamakmur, Desa Sukamakmur
20.          KRL Cariu, Desa Cariu

** Nay Nurain

Adhi Nugraha Minta Pemprov Segera Setujui Operasional SMAN 3 Cileungsi

0

Cileungsi | Jurnal Bogor

Padatnya penduduk wilayah Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor berdampak kepada beberapa hal termasuk keberadaan sekolah negeri. Kekurangan sekolah negeri di CIleungsi menjadi pekerjaan yang serius untuk pemerintah. Pasalnya, tak jarang warga mengeluh karena anaknya tidak bisa bersekolah di sekolah negeri.

“Sekarang ini kami sedang mengusahakan di Cileungsi itu ada SMAN 3 Cileungsi. Untuk lahan sendiri sudah kita sediakan di Perumahan Grand Nusa Indah, dan untuk sekolah jauhnya akan dilakukan di SDN Mampir,” ungkap Camat Cileungsi Adhi Nugraha kepada Jurnal Bogor, Selasa (20/6/23).

Menurut Adhi Nugraha, walaupun sudah ada lahan dan lokasi  kelas jauhnya, tapi sampai saat ini masih menunggu persetujuan dari Provinsi Jawa Barat, serta menunggu untuk pihak perumahan menyerahkan fasos fasumnya kepada Pemprov untuk nantinya bisa dibangun SMAN 3.

“Saya berharap Pemerintah Provinsi segera mengabulkan permohonan kami, apalagi animo masyarakat saat ini terhadap sekolah negeri sangat tinggi, mereka cenderung menginginkan anaknya bersekolah di sekolah negeri,” cetusnya.

Saking tingginya keinginan dari masyarakat, sambung Adhi, tak jarang ada oknum yang memanfaatkan situasi ini, dengan dalih bisa memasukan anaknya ke sekolah negeri. Sampai-sampai ada uang sogokan yang dikeluarkan padahal anaknya juga tak bisa masuk ke sekolah tersebut.

“Maka dari itu, kami berharap Pemerintah Provinsi segera untuk memberikan persetujuan untuk dibukannya SMAN 3 Cileungsi. Jika sudah ada persetujuan kami akan langsunng melakukan PPDB,” tandasnya.

“Saya berharap Tahun Ajaran 2024 mendatang SMAN 3 Cileungsi sudah bisa launching, sehingga semua warga Cileungsi khususnya bisa merasakan sekolah di sekolah negeri,” tambahnya.

Sementara, Muslimin (40) salah satu warga Cileungsi mengatakan, jika ada tambahan sekolah negeri dia sangat senang, mengingat kedua anaknya tidak bisa merasakan sekolah di sekolah negeri. Padahal jarak rumahnya ke SMAN 2 Cileungsi sangat dekat, tapi faktanya anaknya tidak masuk sistem zonasi.

“Pernah ditawarin sama orang, tapi harus mengeluarkan uang 10 juta rupiah. Lah saya uang dari mana, justeru mau memasukan anak ke sekolah negeri supaya bisa gratis gak bayar sumbangan, tapi ini malah suruh bayar,” imbuhnya.

Dirinya berharap apa yang menjadi rencana Camat Cileungi bisa disegerakan, sehingga yang menikmati sekolah negeri ini bisa merata, apalagi dengan sistem yang sangat membingungkan. “Semoga Tahun depan sudah ada SMAN 3 Cileungsi, saya doakan niat baik pak camat bisa dimudahkan oleh Allah SWT,” harapnya.

** Nay Nuráin

PENAS Petani Nelayan XVI Jaya dan Sukses, KTNA dan HKTI Ucapkan Terima Kasih ke Mentan SYL

0

Jakarta | Jurnal Bogor

PENAS Petani Nelayan XVI Tahun 2023 telah usai dilaksanakan di Kota Padang Sumatera Barat, pada 10 hingga 15 Juni 2023. PENAS Petani Nelayan XVI memiliki peran yang sangat strategis menjadi bagian dari upaya konsolidasi bersama dalam menjaga ketahanan pangan nasional ditengah ancaman krisis pangan.

PENAS Petani Nelayan XVI merupakan ajang konsolidasi nasional bagi petani dan nelayan, sehingga dapat saling menginspirasi, memotivasi dan memanfaatkan jaringan yang dipunya untuk mensejahteraan petani dan nelayan.

Ketua Umum KTNA Nasional, M. Yadi Sofyan Noor menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) beserta jajarannya atas suksesnya pelaksanaan PENAS Petani Nelayan XVI Tahun 2023.

PENAS Petani Nelayan XVI seharusnya dilaksanakan pada 2020, namun karena pandemi Covid-19 baru terlaksana tahun ini. Hasil
Rembug Utama KTNA Nasional menetapkan bahwa tuan rumah PENAS berikutnya adalah Provinsi Gorontalo, ujar Sofyan.

Seluruh kegiatan yang berkaitan dengan PENAS Petani Nelayan XVI telah dilakukan sesuai rencana dan waktu yang sudah ditentukan.
Selain Rembug Utama, diadakan juga Workshop bersama Eselon 1 Kementerian Pertanian (Kementan) dan KTNA yang hasilnya akan menjadi nota kesepahaman antara KTNA dengan (Kementan). Komitmen tersebut dituangkan dalam bentuk tertulis yang disaksikan dan ditandatangani langsung oleh Mentan SYL.

Pada kesempatan tersebut KTNA memberikan penghargaan untuk para tokoh yang berdedikasi dan berpengaruh pada bidang pertanian Adibakti Petani Nelayan, sebanyak 15 orang yang diantaranya diberikan kepada Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah dan Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru.

Sedangkan menurut Ketua Harian DPD HKTI Jawa Barat, Entang Sastraatmadja mengatakan bahwa PENAS Petani Nelayan merupakan forum silaturahmi petani, nelayan petani hutan dengan Pemerintah.

PENAS Petani Nelayan XVI memberi hasil yang menggembirakan. Banyak hal menarik yang dapat kita catat, mulai dari kreativitas hingga inovasi yang dihasilkan petani, nelayan dan petani hutan.

Pertanian memang perkasa dan PENAS Petani Nelayan XVI merupakan momentum bagi petani, nelayan dan petani hutan untuk bangkit mengubah nasib, pungkasnya. (NF)