31.5 C
Bogor
Saturday, April 25, 2026

Buy now

spot_img
Home Blog Page 570

Del Pino Mulai Jalani Latihan Bersama Pangeran Biru

0

Yogjakarta | Jurnal Bogor

Tyronne Gustavo del Pino menjalani sesi latihan pertamanya bersama Persib, Rabu 21 Juni 2023.

Dilansir dari laman resmi klub, Rabu, 21 Juni 2023, Gelandang berkebangsaan Spanyol ini langsung menjalani fitness pada pagi hari dan bergabung dalam sesi latihan Pangeran Biru di Lapangan Universitas Islam Indonesia (UII) di sore harinya. 

Eks pemain klub Liga Thailand, Nakhon Ratchasima itu berlatih pemulihan kondisi bersama pelatih fisik, Carlos Grande Rodriguez.

Ia menjalani program latihan pemulihan bersama Marc Klok, Ciro Alves dan Achmad Jufriyanto.

Selanjutnya, ia pun bergabung dengan gim internal bersama pemain Persib lainnya, termasuk pemain Timnas seperti Rachmat Irianto, Edo Febriansyah dan Ricky Kambuaya.

Dalam gim internal kali ini tim pelatih memberikan durasi selama 2×40 menit. ( asep syahmid)

Percikan Api dari Tungku Akibatkan Pabrik Kerupuk di Ciampea Terbakar

0

Ciampea | Jurnal Bogor

Pabrik kerupuk di Kampung Pulekan RT 01 RW 02 Desa Tegalwaru, Ciampea, Kabupaten Bogor terbakar hebat, Rabu (21/06/2023) dini hari, sekitar pukul 00.21 WIB.

Komandan Regu (Danru) Damkar Leuwiliang Yulius mengatakan, bahwa kebakaran disebabkan oleh percikan dari tungku api di dalam pabrik kerupuk tersebut.

“Kita mendapatkan laporan dari pemilik pabrik Pak Agus Kurniadi, tiba di lokasi sekitar pukul 00.40 wib sekitar satu jam penanganan api yang berkobar ini,” katanya.

Terlihat dalam rekaman video yang didapat, api membumbung tinggi di atap pabrik tersebut.

Pihaknya dalam penanganan dibantu oleh aparat setempat dan warga, beruntung dalam peristiwa itu tidak ada korban jiwa.

Sebanyak empat mobil pemadam kebakaran diterjunkan dalam kebakaran tersebut. Dua unit sektor Leuwiliang dua unit dari sektor Ciawi dan Cibinong.

“Alhamdulillah dalam kejadian itu tidak ada korban luka maupun jiwa dan proses pemadaman berjalan dengan lancar, tanpa ada kendala,” pungkasnya.

** Andres

Sikap dan Dukungan Kajari Mengundang Rasa Haru Orang Tua Atlet

0

Cibinong | Jurnal Bogor

Totalitas dan dukungan penuh Kepala Kejaksaan Negeri ( Kajari ) Kabupaten Bogor, Sri Kuncoro kepada Tim Tenis Pelajar Kabupaten Bogor yang akan terjun pada Popda Jabar 2023 mendapatkan perhatian dan rasa bangga dari para orang tua atlet dan pengurus Pelti dan Dispora Kabupaten Bogor.

Apalagi, Kajari Kabupaten Bogor mengundang secara Khusus Tim Tenis Popda Kabupaten Bogor, orang tua atlet, pengurus Pelti dan Kadispora dalam pelepasan dan pemberian perlengkapan serta tambahan akomodasi bagi Tim Tenis Popda Kabupaten Bogor di Aula Kejaksaan Negeri Kabupaten Bogor, Rabu, 21 Juni 2023.

Muhammad Fahmi Firsana Rivandani orang tua dari Muhammad Yusuf Al Faris, salah satu atlet tenis Popda Kabupaten Bogor sangat kagum dengan perhatian Kajari Kabupaten Bogor pada olahraga tenis lapangan dan Tim Tenis Popda Kabupaten Bogor.

Menurutnya, baru kali ini ada sosok pejabat penting di Kabupaten Bogor yang mau total dan mau mengawal penuh tim tenis Kabupaten Bogor.

” Sebagai orang tua atlet sangat bangga dan terimakasih dengan apa yang dilakukan Pak Kajari bagi dunia tenis Kabupaten Bogor,” ujar Muhammad Fahmi Firsana Rivandani, Rabu, 21 Juni 2023.

Hal yang sama dikatakan, Astri Sapariah ibunda dari Muhammad Rasya yang juga atlet tenis Popda Kabupaten Bogor menegaskan, sangat terharu dengan perhatian yang total dari Pak Kajari Kabupaten Bogor kepada para atlet tenis pelajar Kabupaten Bogor yang akan berlaga pada ajang Popda Jabar 2023.

” Saya merasa bangga dan terharu dengan semua yang disampaikan Pak Kajari dalam kesempatan kali ini. Semoga ini jadi motivasi semua atlet tenis Kabupaten Bogor yang akan berlaga di Popda Jabar,” paparnya

Sementara itu, Omay Komara ( Binpres Pelti) yang menegaskan baru kali ini Tim Tenis Poda Kabupaten Bogor mendapatkan perhatian serius dan istimewa seperti yang dilakukan Kajari Kabupaten Bogor saat ini.

Apalagi, kata Omay, Kajari Kabupaten Bogor akan merealisasikan dan mewujudkan mimpi masyarakat tenis Kabupaten Bogor yang akan mendorong percepatan pembangunan venue lapangan tenis di Pakansari Sport Center.

” Kami berharap dengan dukungan total Kajari Kabupaten Bogor ini akan menjadi motivasi para atlet untuk meraih prestasi pada ajang Popda Jabar 2023,” pungkasnya ( asep syahmid)

Inilah Bukti Totalitas Kajari Kabupaten Bogor Support Cabor Tenis Lapangan

0

Cibinong | Jurnal Bogor

Gairah olahraga tenis lapangan di Kabupaten Bogor saat ini menunjukan tren positif dan membanggakan.

Kepala Kejaksaan Negeri ( Kajari) Kabupaten Bogor, Sri Kuncoro, SH, MH adalah sosok yang menggelorakan harapan nyata bagi prestasi olahraga tenis Kabupaten Bogor saat ini.

Bahkan, Kajari Kabupaten Bogor memberikan pesan pesan khusus kepada para atlet tenis Popda Kabupaten Bogor yang akan tampil pada ajang Popda Jabar 2023

Dalam pelepasan Tim Tenis Popda Kabupaten Bogor yang dilakukan di Aula Kejari Kabupaten Bogor, Rabu ( 21 Juni 2021), Sri Kuncoro mengundang semua atlet, orang tua, pengurus Pelti dan Kadispora Kabupaten Bogor.

” Kami akan mendukung total perjuangan para atlet tenis Kabupaten Bogor yang akan bertanding pada Popda Jabar 2023 di Kota Bandung,” ujar Sri Kuncoro dihadapan para atlet dan orang tua atlet, Rabu, 21 Juni 2023.

Tak hanya itu, Kajari Kabupaten Bogor juga memberikan perlengkapan sepatu tenis dan akomodasi bagi semua atlet tenis Kabupaten Bogor yang akan terjun di Popda Jabar 2023 .

Intinya, kata Sri Kuncoro, pihaknya akan terus memberikan dukungan secara total bagi generasi muda yang punya bakat pada olahraga khususnya cabor tenis lapangan hingga mampu meraih prestasi di kancah regional Jabar, Nasional dan Internasional.

” Saya minta semua atlet tenis Kabupaten Bogor bisa menjunjung tinggi sportifitas selama melakoni pertandingan Popda Jabar 2023. Kuatkan mental bertanding dan harus bisa mengatasi semua kendala di lapangan secara sportifitas,” ujarnya yang saat ini jadi Penasehat Pelti Kabupaten Bogor.

Dalam kesempatan yang sama, sosok nomor satu di Kejaksaan Negeri Kabupaten Bogor ini memberikan kabar gembira bagi semua insan tenis di Kabupaten Bogor terkait pembangunan lapangan tenis di Pakansari Sport Center.

” Saya sudah ngobrol dan minta sama Ketua DPRD Kabupaten Bogor, Rudy Susmanto untuk bisa mewujudkan mimpi insan tenis Kabupaten Bogor yang ingin memiliki venue lapangan tenis berstandar Internasional di Pakansari Sport Center.

” Alhamdulilah Pak Rudy Susmanto merespon dengan baik dan akan sama sama mewujudkan impian insan tenis Kabupaten Bogor itu dengan membuat 2 Lapangan Tenis Indoor dan 3 Lapangan Tenis Outdoor di Pakansari,” paparnya.

Sri Kuncoro menambahkan, pembangunan lapangan tenis di Pakansari diharapkan bisa action paling cepat pada awal tahun 2024.

Kajari juga berpesan dan minta Dinas Pendidikan di Kabupaten Bogor harus bisa membantu dan memberikan kemudahan bagi para atlet berprestasi untuk diterima di SMP, SMA atau SMK yang ada di Kabupaten Bogor. ( asep syahmid)

KORMI Kota Bogor Gelar Pelatihan Wasit dan Juri Olahraga Tradisional

0

Bogor | Jurnal Bogor

Komitmen Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kota Bogor untuk melestarikan, serta menyosialisasikan minat warga kepada olahraga tradisional terus dikembangkan.

Salah satunya dengan menggelar pelatihan wasit dan juri, di Institut Bisnis dan Informatika (IBIK) Kesatuan, Kota Bogor, Rabu (21/6/2023).

Pelatihan wasit dan juri ini diikuti 50 orang, terdiri atas tenaga pendidik dan guru olahraga serta pengurus KORMI Kota Bogor. Narasumber acara ini sendiri dari Persatuan Olahraga Tradisional (Portina) Kota Bogor.

Kegiatan dihadiri, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), Herry Karnadi, Ketua KORMI Kota Bogor, Zaenul Mutaqin, serta perwakilan dari pengurus KORMI Jawa Barat.

Zaenul Mutaqin mengatakan, olahraga tradisional merupakan salah satu kearifan lokal budaya asli bangsa Indonesia yang sudah ada sejak dulu. Sehingga perlu terus dilestarikan dan ditanamkan kepada generasi penerus.

“Pelatihan ini penting untuk melestarikan olahraga tradisional, yang merupakan aset budaya bangsa. Nantinya, peserta mendapatkan sertifikat, dan bisa melakukan sosialisasi kepada para murid, dan warga agar mereka meminati olahraga tradisional,” kata Zaenul Mutaqin.

Lebih lanjut, Zaenul Mutaqin meminta para wasit dan juri Kota Bogor ini, dapat terus meningkatkan kualitas dan keterampilan diri sehingga dapat bertugas secara optimal dan profesional di lapangan.

“Peran yang tak kalah penting bapak-ibu sekalian, juga sebagai penunjang peningkatan kualitas SDM dan kemajuan olahraga tradisional,” ungkapnya.

“Dengan adanya pelatihan ini, jadikan sebagai sarana pembelajaran bagi para wasit dan juri untuk memberikan efek positif dalam perkembangan serta peningkatan dunia keolahragaan tradisional di Kota Bogor,” sambung Zaenul Mutaqin.

Sementara itu, Kadispora Kota Bogor, Herry Karnadi mengapresiasi program KORMI yang mengadakan pelatihan wasit dan juri. Menurut dia, pelatihan ini penting dilakukan untuk memberi kesempata, dan menambah pengetahuan dan wawasan di bidang perwasitan dan penjurian.

“Melalui kegiatan ini, saya berharap dapat menumbuhkan dan memberikan semangat kepada masyarakat serta mendorong generasi muda untuk berperan aktif mengembangkan keberadaan olahraga tradisional khususnya yang ada di Kota Bogor, ” kata Herry Karnadi. ( asep syahmid)

Oknum Sopir Angkot Terobos Traffic Cone Ditilang

0

jurnalinspirasi.co.id – Sopir angkot yang viral di media sosial lantaran menerobos dan menyeret traffic cone pembatas lajur jalan serta melawan arah di Jalan Djuanda, Kecamatan Bogor Tengah, berujung mendapat tilang polisi.

Kapolresta Bogor Kota, Kombes Pol Bismo Teguh Prakoso mengatakan bahwa kejadian terjadi pada 17 Juni 2023 sekitar pukul 03.55 WIB. Terlihat di Kamera CCTV angkot menabrak traffic cone beserta tali penghubung sehingga menyebabkan rentetan tranffic cone itu terseret.

“Selanjutnya kita tindak lanjuti dengan memberikan penilangan terhadap pengemudi,” ucapnya kepada awak media pada Selasa, 20 Juni 2023 di mako Polresta Bogor Kota.

Atas perbuatannya, sopir angkot tersebut dijerat dengan pasal 287 ayat 1 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

“Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di jalan yang melanggar aturan perintah atau larangan yang dinyatakan dengan Rambu Lalu Lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (4) huruf a atau Marka Jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (4) huruf b dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp500 ribu,” ungkapnya.

Sementara itu, dalam video rekaman CCTV yang beredar dan viral di media sosial memperlihatkan aksi sopir angkot melaju dari arah Jalan Djuanda menuju Mall BTM, namun angkot tersebut menabrak tali penghubung antar-traffic cone yang digunakan untuk pembatas jalur.

Akibatnya, rentetan traffic cone sebagai pembatas jalur terseret hingga menyebabkan beberapa pengendara lain berhenti.* Fredy Kristianto

THM di Cileungsi Harus Ada Peran Serta Masyarakat

0

Cileungsi | Jurnal Bogor

Soal Tempat Hiburan Malam (THM) dan penjualan miras yang masih ada di wilayah Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor diminta Camat Adhi Nugraha agar warganya bisa menempatkan diri. Menurutnya, persoalan penertiban THM bukan hanya berurusan dengan pemerintah saja, melainkan juga harus ada peran aktif dari masyarakat.

“Sejauh ini kan, adanya tempat hiburan itu karena ada peminatnya. Jadi ada istilah tidak akan ada yang jual kalo gak ada yang beli,” tutur Camat Cileungsi, Adhi Nugraha kepada Jurnal Bogor, Rabu (21/6/23).

Adhi meminta, kepada lingkungan sekitar untuk aktif dalam memantau jika ada THM di lingkungannya. Jika hanya sekedar tempat karaoke keluarga itu di kota besar sekalipun ada, karena memang ada orang yang butuh hiburan tersebut.

“Yang salah itu jika izin panti pijat, izin karaoke jadi tempat prostitusi, plus+. Dan untuk mengawasi itu, lingkungan lebih punya kewenangan untuk menutup tempat jika ada hal yang seperti itu,” ungkapnya.

“Kalo sudah masyarakat yang bicara, itu udah harga mati, dan kami pun sebagai pemerintah akan menindak sesuai dengan laporan yang diberikan oleh masyarakat,” tambahnya.

Kanit Pol PP beserta jajarannya, sambung Adhi, sering kali menyisir lokasi yang diduga dijadikan prostitusi atau yang menjual miras. Tapi memang disaat penggerebekan itu, yang dicurigai itu selalu tidak ada. Jika pun ada, untuk wanita pekerja seksnya hanya bisa dibina, dan itu belum jadi solusi sampai saat ini.

“Dinsos masih kewalahan untuk menampung wanita malam, ditambah lagi pemerintah hanya membina, tapi belum bisa memberdayakan. Jadi tak beda seperti PKL, diusir disini, mungkin mereka berjualan disana,” jelasnya

Oleh karena itu, lanjut Adhi, semua lini harus ikut menertibkan penyakit masyarakat ini. Tidak semuanya diserahkan kepada pemerintah, karena lingkunganlah yang sangat merasakan dampak dari adanya tempat tempat hiburan tersebut.

“Kami akan berupaya sebisa kami, karena bukan hanya satu yang menjadi fokus kami. Melainkan semua hal yang ada di Kecamatan Cileungsi yang menjadi fokus kami, jadi kalo ditanya tingkat kepentingan, semua penting hanya saja anggaran yang terbatas,” ujarnya.

Sementara warga Limusnunggal, Wahidin (47) mengatakan, kawasan Limusnunggal terkenal dengan plat hitamnya. Dimana, dari mulai sajadah sampai haram jadah ada di sina. Tapi itulah, tidak bisa menyelesaikan semuanya seperti membalikkan telapak tangan.

“Menertibkan tapi tidak memberikan bekal untuk mereka, ya akan seperti itu. Sekarang nama jalan diganti dengan nama islami, itu bukan solusi, malah seolah kita mengejek, masa nama jalan islami tapi lokasinya tempat genderuwo mangkal,” cetusnya.

Yang dibutuhkan saat ini adalah, sambung Wahidin, kesadaran dan peran serius pemerintah dan warga. Pemerintah jangan hanya bisa menertibkan, tapi carikan solusi dan peluang kerja atau usaha untuk meraka (pekerja seks). Begitu pun masyarakat, sudah tahu itu tempat apa, tapi masih aja banyak peminatnya yang datang kesana.

“Semua punya masalah masing-masing, warga masalah ekonomi pemerintah masalah kebijakan yang tanggung-tanggung. Pernah gak pemerintah memikirkan anak, orang tua dari si pekerja seks ini. Kalo mereka di tanggung pendidikannya, kesehatannya oleh pemerintah mungkin gak sampe jual diri untuk mendapatkan nasi,” katanya.

“Mereka itu bukan kelas kakap, masih kelas teri, dengan bayaran cuma sekedar buat beli nasi. Boleh ditertibkan, dibina tapi diberdayakan, jangan dibiarkan. Kalo dibiarkan ya akan seperti ini lagi di lokasi yang lain,” tandasnya.

Begitu pun aparat setempat, selektif, pantau akan jadi apa tempat ini. Jangan cuma nerima kordinasi lingkungan, tanda tangan dibayar, pas tau mau jadi tempat mesum baru teriak.

“Duitnya mau, tapi tempatnya gak boleh ada disitu, ini pemikiran apa sebetulnya,” pungkasnya

** Nay Nur’ain

Makna Hari Ahad Diganti Minggu: Pertarungan Budaya

0

JURNALINSPIRASI.CO.ID – Adanya pergantian nama hari Ahad ke Minggu didalam kalender nasional, yang viral di medsos dari cerita latar belakang sejarahnya kita paham sekarang. Inilah salah satu fakta sejarah, bahwa ada pertarungan sistem budaya Arab/Melayu-Islam (Nusantara) versus budaya Eropa/Portugis-Kristen. Islam Nusantara terjajah, sedang Kristen Eropa menjajah.

Hingga kini hegomoni budaya Barat-Eropa terus menggeroti budaya Melayu Islam di Indonesia, yang tersebar di daerah-daerah, tanpa sadar dan seolah-olah bukan masalah.

Rialitanya warisan (herritages) Kerajaan-kerajaan Melayu Islam, yang tersebar di seluruh wilayah NKRI, berupa peninggalan bangunan dan pekarangan-taman istana kerajaan dan benda-benda peninggalan (artefak) tidaklah terawat, rusak, runtuh dan akhirnya punah ditelan bumi.

Saya sudah mengamati faktanya di lapangan, kehancuran budaya Islam Melayu ini seperti yang saya tinjau, seperti Istana Maimun di Medan Sumut, istana melayu Islam Pontianak Kalbar, istana kerajaan Islam di Ternate Maluku Utara, kerajaan Buton  Sultra, kerjaan Islam Pasai-Aceh, juga kerajaan Bima NTB, dll, tidaklah terawat, kayu-kayu bangunannya sudah lapuk, dan akhirnya roboh.

Hal ini akibat kelengahan dan ketidakpedulian (careless) dari para politisi muslim yang duduk di DPRD di daerah, mereka kurang bahkan tidak paham dengan pertarungan dan konflik budaya Islam vs nonIslam, terutama adanya agresifitas kristenisasi di Indonesia berjalan sejak lama di banyak sektor seperti perpolitikan, pertahanan-keamanan, pendidikan, kesehatan, perdagangan, industri dll.

Akibat negatifnya dari pertarungan budaya berbasis agama ini memunculkan kebijakan dan regulasi (public policy) yang diskrimatif, yang memarginalkan umat Islam dengan mengikis secara pelan dan pasti simbol-simbol bahasa Arab, termasuk istilah kalender Ahad diganti Minggu sebagaimana isi vedeo yang viral ini.

Sebenarnya sudah banyak yang berubah dan diubah secara sistematis simbol-simbol budaya Islam Nusantara oleh birokrasi Pemerintahan yang sekular, ateis dan fobia anti Islam, antara lain tampak berupa politik anggaran untuk membangun dan atau merenovasi bangunan istana Melayu Islam- Nusantara, baik di pusat maupun di daerah, tidak mendapat tempat, ada ketidak berpihakan (don’t affirmatif policy).

Konyolnya para politisi Muslim berasal dari Parpol Islam atau partai yang berbasis umat Islam Indonesia seperti PKS, PPP, PKB, PAN dll kurang bahkan tidak paham dan tak mengerti apa dan bagaimana memperjuangkan aspirasi umat Islam guna menjaga marwah dan melestarikan simbol-simbol budaya Melayu Islam se Nusantara. 

Salah satu caranya adalah adanya atau proaktif gerakan syiar dakwah Islam dan gelontorkan dana APBD untuk merenovasi bangunan peninggalan kerajaan-kerajaan Islam Melayu, yang doeloe megah dan berjasa dalam menyatukan berbagai etnis bangsa Nusantara membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kini bangunan kerajaan Melayu Islsm Nusantara banyak yang ditelantarkan dan terbengkalai, rusak, akhirnya roboh dan runtuh.

Padahal finalisasi perjuangan terbentuknya NKRI itu adalah mahakarya Pahnas Dr.Muhammad Natsir, Ketum Parpol Islam Masyumi yang menjadi Perdana Menteri RI, dengan mosi integral Natsir untuk kembali bersatu dalam wadah Indonesia Raya.

Akan tetapi sayang, para politisi Islam di parlemen, baik di pusat Senayan dan di daerah banyak lupa dan melupakan sejarah jasa para tokoh pahlawan Islam mengapa, apa dan bagaimana mereka berjuang membangun kebudayaan dan peradaban Islam di tanah air Indonesia, yang nampaknya kini lengah dan mengabaikan.

Mereka banyak disibukan dengan gaya hidup mewah (hedonist) dan tak punya arah yang jelas (disorientasi) yang kemudian mereka abai dan hilang marwahnya (dignity) untuk membela kepentingan umat Islam dengan berbagai program pembangunan dakwah Islamiyah, yang dibiayai Anggaran Pendapatan dan Biaya Daerah (APBD) dan negara (APBN).

Contoh kasus sebut saja Kota Bogor, dimana satu dasa warsa terakhir, Pemkot Bogor mempromosikan besar-besaran budaya Tiongkok-China (Klenteng-ibadah tapekong) dengan ajang acara ritual dan festival Cap Go Meh (CGM), yang semarak dan dibalut atau dibungkus mengatas-namakan budaya Nusantara.

Ini sangat jelas dan tegas menyimpang pemaknaannya, bahwa CGM bukan budaya Nusantara. CGM adalah budaya berasal dari dataran China-negeri Tiongkok sana.

Dengan perayaan CGM, mereka nampaknya ingin “menyalip dan menyingkirkan”, memarginalkan budaya Arab-Empang Bogor. Faktanya Kawasan Empang kurang mendapat perhatian pembangunan sarana-prasarananya, sehingga daerah ini dibiarkan  “kumuh” (slum area).

Hal ini sangat berbeda jauh dengan perlakuan program pembangunan lingkungan Kawasan Pecinaan Jln Surya Kencana (Surken) Kota Bogor, dimana dijadikan pusat-tempat vestifal CGM diselenggarakan setiap tahun, dalam rangka merayakan Tahun Baru Cina (Imlek).

Pembangunan dan penataan sarana-prasarana publiknya di kawasan Surken Bogor didukung dana yang besar dari bantuan anggaran APBD Kota Bogor, APBD Jabar, dan bahkan APBN.

Berdasarkan gejala sosial yang diskrimatif public policy, saya pun bertanya kepada para politisi muslim yang manggung di DPRD Kota Bogor sepeti PKS, PPP, PKB dan PAN, kemana saja mereka? Apa yg mereka perbuat untuk umat Islam Bogor. Sebagai soko guru bangsa Indonesia yang ikut serta membangun NKRI.

Oleh karena itu, adanya inisiatif untuk mengembalikan Bogor Dayeuh Ulama, sudah seharusnya kita dukung bersama.

Memang benar, Bogor dalam fakta sejarah dibangun dan dibesarkan atas jasa-jasa dan karya para ulama Bogor, sebut saja diantaranya KH Falaq Pagentongan, KH Abdullah bin Nuh, KH.Soleh Iskandar,  dll.

Mari kita marakan Kota Bogor setiap tahun Hijriah, tahun baru Islam dengan berbagai acara budaya Nusantara-Islam seperti festival Muharam- Istiqlal, talk show, pameran buku-buku Islam yang dulu sempat ada digelar di Masjid Raya Bogor, kini hilang, istikhosyah, dll.

Singkat kata “Kembalikan Bogor sebagai Dayeuh Ulama”, untuk menghindar atau mencegahkan umat Islam, terutama keturunan kita: anak, cucu dan cicit kita dari kemusrikan, kemunafikan, kefasikan dan kekafiran.

Kejadian yang menggerus kebudayaan dan peradaban Islam seperti perubahan nama hari Ahad ke Minggu didalam kalender nasional tidak terulang kembali di tanah air NKRI yang kita cintai ini.

Sekian dan terima kasih, semoga narasi singkat ini, hendaknya bisa memunculkan dan membangkitkan kesadaran baru untuk mempertahan marwah umat Islam Indonesia demi melestarikan jiwa dan semangat kebangsaan dalam wadah NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Syukron barakallah.
Wassalam

Penulis:
Dr.Ir H.Apendi Arsyad,MSi
(Pendiri dan Ketua Wanhat ICMI Orwil Khusus Bogor, Wasek.Wankar ICMI Pusat, Pendiri dan Dosen Universitas Djuanda Bogor, Konsultan K/L negara, Pegiat dan Pengamat Sosial)

Latih Keberanian, Bakat dan Minat Siswa-siswi MIN 1 Bogor Ditampilkan pada Acara Kenaikan Kelas

0

Leuwisadeng | Jurnal Bogor

Siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Bogor, Desa Sadeng, Leuwisadeng, Kabupaten Bogor unjuk kebolehannya pada acara kenaikan kelas. Berbagai bakat dan minat yang dimiliki anak-anak didik ditampilkan di hadapan wali murid.

“Tujuannya untuk menampilkan kemampuan  dan melatih keberanian anak untuk tampil di  depan umum baik dari segi ilmu pengetahuan maupun kesenian,” kata Kepala Sekolah MIN 1 Bogor Samsuri, Selasa  (20/06/2023).

Dia menjelaskan, acara tersebut selain untuk membuktikan bahwa anak yang bersekolah di MIN 1 Bogor perkembangannya cukup baik, juga ajang promosi.

“Ajang promosi kepada lembaga supaya masyarakat melihat perkembangan pendidikan di MIN 1 Bogor itu cukup baik keberadaannya,” jelasnya.

Dia membeberkan, dalam acara kenaikan kelas tahun ini cukup meriah. Setelah  dua tahun akibat pandemic Covid 19. Kini dapat menggelar acara kenaikan kelas dan berjalan meriah serta lancar dengan menampilkan kreasi siswa.

“Dalam kegiatan ini anak-anak menampilkan, pertama pembacaan Al-Qur’an melafalkan hadits terus kreasi seni dengan berpakaian tertutup. Walaupun menampilkan kreasi seni tapi dengan menunjukkan akhlak islami,” katanya.

Dia berharap, bahwa kemampuan anak meningkat dan yang masuk ke MIN ini salah satu anak yang memang sudah siap dan berkualitas.

“Saya ucapkan terima kasih kepada wali murid dan mohon dukungannya, baik cara belajar maupun pencapaian pendidikan orientasi akhiratnya juga diberikan motivasi agar anak tambah semangat mengikuti pembelajaran di sekolah ini,” pungkasnya.

** Andres

Pascalongsor Buanajaya, DPUPR Mulai Pasang Bronjong 

0

Tanjungsari | Jurnal Bogor

Pascalongsor yang menimpa warga Kp.Cibeureum, Desa Buanajaya, Tanjungsari, Kabupaten Bogor, masih menyisakan sejumlah pekerjaan. Salah satunya yang sampai saat ini masih sedang dikerjakan ialah pembuatan penahan tanah dari Bronjong dengan panjang yang dibutuhkan mencapai 300 meter dan tinggi 5-7 meter.

Pembuatan bronjong tersebut dikerjakan oleh warga sekitar dengan bantuan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Bogor.

Kades Buanajaya, Sudarjat menjelaskan meski dikerjakan oleh warga, namun tetap diawasi oleh DPUPR sebagai pelaksana yang mengatur pembuatan bronjong. Mengingat sifatnya darurat sehingga dibuat menyesuaikan lokasi.

“Karena tidak ada gambar, yang penting bisa menahan longsoran tanah dari atas. Untuk tahap pertama, informasi dari pengawas DPUPR, bantuan yang diturunkan sebanyak 500 kubik untuk pemasangan batu bronjong. Namun,  jika kita melihat di lokasi, kebutuhan lebih dari itu, dan bisa dilihat kondisi saat ini pohon-pohon sudah mulai miring, itu menandakan pergerakan tanah masih terjadi,” ungkap Sudarjat kepada Jurnal Bogor, Rabu (21/6/23).

Sudarjat meminta, pemasangan batu bronjong jangan dilakukan secara bertahap, karena bencana bisa kapan saja datang. Usahakan diselesaikan sesuai dengan kebutuhan yang diajukan, karena ini sifatnya darurat sehingga minta diutamakan.

“Kedepannya mungkin disini akan direlokasi ke tempat yang lebih aman, sampai saat ini kami masih sedang menunggu hasil tes lab tanah yang dilakukan ahli, jika hasilnya nanti keluar, itulah tindakan yang akan dilakukan,” tuturnya.

Keinginan pihak desa untuk saat ini, jelas Sudarjat, DPUPR menyelesaikan pemasangan bronjong sampai finis, dan jangan tahap bertahap, karena pergerakan tanah masih labil. Hal ini bisa dilihat dari jarak longsoran tanah ke rumah warga kurang dari 50 meter.

“Saya ucapkan terimakasih kepada DPUPR yang sudah cepat tanggap, BPBD yang membantu dari awal bencana, Dinsos yang sudah memberikan pasokan pangan, dan kepada semua tim relawan dan donatur yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Terkhusus saya ucapkan terimakasih juga kepada Dewan Ahmad Fathoni yang sudah mengawal kami dari awal sampai bantuan ini turun, karena dari sekian banyak dewan di dapil satu hanya beliau yang menginjakan kakinya ke Kp.Cibeureum untuk melihat kondisi warga kami,” bebernya.

Sementara, salah satu warga Cibeureum Usman (45) merasa bersyukur dengan dibuatkannya bronjong sebagai penahan tanah. Pasalnya, jarak longsoran dari rumahnya sangatlah dekat sekali, apalagi kondisi saat ini setiap sore sudah turun hujan.

“Bisa dilihat sendiri, pohonan sudah miring, mungkin akarnya sudah bergeser akibat longsoran. Untuk kedepannya jika memang ada relokasi kami sih siap aja, asal luas lahan yang kami miliki itu diganti sama luasnya sama pemerintah jika pindah nanti, untuk saat ini saja belum tau siapa yang akan mengganti sawah kami yang kena longsoran, sedangkan cuma itu lahan pencaharian kami untuk mencari nafkah,” keluhnya.

“Semoga pemerintah peka, dan dewan tidak hanya sibuk ngurusin warga saat mau kampanye saja, pas udah jadi lupa,” sambungnya.

** Nay Nurain