jurnalinspirasi.co.id – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Provinsi Kalimantan Timur melalui Dinas Pertanian dan Peternakan mendatangi para petani yang berada di Kabupaten Bogor baru baru ini. Mendatangi lokasi pertanian, rombongan pejabat Pemkab Kukar tersebut bertujuan untuk menggelar studi tiru dengan kelompok tani di lingkup Kecamatan Nanggung.
Para petani di Forum Komunitas Petani Terkonsolidasi (FKPT) Tunas Mandiri binaan Prof Muladno dari IPB Bogor yang merupakan pendiri komunitas koperasi usaha rakyat sebelumnya telah disambangi dari Dinas Pertanian dan Peternakan Papua Barat.
Humas FKPT Tunas Mandiri, Fikri Muhammad, menjelaskan bahwa komunitas ini beranggotakan sembilan petani yang tersebar di tiga desa, yakni Desa Parakan Muncang, Pangkal Jaya, dan Sukaraksa.
“Awalnya kami hanya sembilan orang, lalu berkembang menjadi beberapa kelompok tani di tiap desa. Misalnya, ada Kelompok Tani Rahayu di Desa Pangkal Jaya dan Kelompok Tani Tanah Emas di Desa Parakan Muncang,” ujar Fikri, Minggu (9/11/2025).
Di bawah bimbingan Prof Muladno, para petani mengembangkan tanaman katuk sebagai komoditas unggulan. Hingga November lalu, mereka telah memproduksi lebih dari 3 ton daun katuk segar dan hampir 3 kuintal katuk kering yang dipasarkan ke wilayah Bogor, Tangerang, dan Jakarta.
Selain itu, mereka juga memproduksi puluhan ribu stek katuk yang dijual ke petani sekitar. “Katuk kering kami bahkan dibeli oleh salah satu profesor IPB untuk dikembangkan menjadi suplemen pakan ternak seperti sapi, domba, dan ayam,” bebernya.
Tak berhenti di tanaman katuk, FKPT Tunas Mandiri juga mengembangkan komoditas cabai rawit merah dalam program ketahanan pangan. Dari sembilan petani binaan, tercatat sudah ada lebih dari 8.000 pohon cabai yang ditanam.
“Kenapa kami pilih katuk dan cabai? Karena pasarnya jelas. Jadi sebelum menanam, kami cari dulu pasarnya,” katanya.
Yang menarik perhatian rombongan dari Kutai Kartanegara dan Papua Barat bukan hanya hasil pertaniannya, melainkan juga model bisnis berjamaah yang diterapkan komunitas ini.
“Selama ini kan petani biasanya bekerja sendiri-sendiri. Tapi sejak kami membentuk organisasi, banyak perubahan yang terjadi mulai dari pola pikir, kedisiplinan, sampai kesadaran kolektif untuk membangun bersama,” jelasnya.
Model kolaboratif inilah yang membuat FKPT Tunas Mandiri menjadi rujukan bagi banyak daerah.
Melalui pendekatan komunitas dan pendampingan akademisi, petani Nanggung kini mampu menunjukkan bahwa pertanian tak hanya soal hasil panen, tapi juga tentang kemandirian dan kebersamaan.
“Alhamdulillah, mereka yang datang bersyukur bisa melihat langsung apa yang kami kerjakan di sini. Harapannya, pola seperti ini bisa diimplementasikan juga di daerah lain,” pungkasnya.
Kelompok tani ini juga berkolaborasi dengan Bumdes Tunas Mandiri Desa Pangkaljaya.
(Arip Ekon)



